Author's note: Selamat natal dan tahun baru, semuanya! Penulis sengaja lama update karena menikmati tahun baru. Super sibuk! Melayani tamu, membuat kue, memasak ini dan itu. Kalau sedang lelah, sempatkan diri main PS3. Hahaha! Tak apa, 'kan? Anggap saja hari libur. Oh, tentu saja Penulis mengucapkan terima kasih pada seluruh pembaca setia yang mau meninggalkan komentar, khususnya untuk pembaca baru. Semoga kalian tetap mau mengikuti fanfic ini sampai akhir.

Jangan sungkan mengatakan kesalahan Penulis dalam pengetikan, ya. Supaya fanfic ini semakin bagus tentunya. Untuk Cherrylate, arigatou. Sebenarnya itu bagus juga. Maksudnya, Penulis sedang banyak melakukan persiapan untuk mengambil beasiswa luar negeri (kalau lulus, GAHAHAHA!!). Memang Penulis tak memperhatikan grammar karena teman Penulis yang dulu tinggal di AS juga bicara begitu. But, it's ok. Thank you very much!

Tak lupa untuk Kaburi kun, Callysta, Chamoarl, Latte, Hikaruuuu011002, Lan, Honneypoems, dan AbielFiscoJ. Hiks, penulis terharu. Ternyata kalian juga suka dengan insiden kaset tertukar dan pesan cinta Armin dari anak-anak Ghana. Dan untuk informasi soal militer, sebisa mungkin Penulis memang ingin menambah informasi biar ada sedikit ilmunya. Love you!

Untuk Lan, atas request penjelasan tentang perang yang diikuti Annie 7 tahun lalu, Penulis memang ingin membahasnya dari dulu. Tapi ya belum ketemu chapter yang tepat untuk membahasnya. Mungkin di chapter depan atau dua chapter lagi? Entahlah. Namun terus ikuti, ya. Terima kasih komentarnya juga.

.

.

Disclaimer : Isayama Hajime

BENANG TAK TERLIHAT

Halaman Tiga Belas: Usil Tingkat Tinggi

By Josephine Rose99

.

.

.

.

.

BENANG TAK TERLIHAT

HALAMAN TIGA BELAS

USIL TINGKAT TINGGI

By Josephine Rose99

.

.

.

Apa ini? Ada apa ini? Di pagi hari seindah ini, kenapa harus terjadi hal ini?

Hari ini, jam setengah 8 di desa Sighir yang terletak di pinggiran hutan hujan Ghana, seluruh anggota survey hutan berkumpul di ruang rapat desa untuk membahas rencana mereka sebelum berangkat satu setengah jam lagi. Sebagai salah satu pemimpin survey, Armin tentu berada disana. Mengatakan pendapatnya tentang kelangsungan hidup hutan sekaligus pentingnya arti hutan itu bagi penduduk sekitar. Tak peduli perusahaan lokal berusaha menghalangi, tujuan Armin tidak berubah. Hutan itu tak boleh dijamah rencana kotor.

Ah, bicara soal rencana kotor, Armin tak menyadari dirinya telah menjadi bagian dari rencana kotor sekelompok orang. Dia tak menyadari maksud tersembunyi dari lima pesan masuk di ponselnya di sela-sela rapat. Merutuki penyakit pikunnya karena lupa mematikan ponsel, dia mengambil kesempatan untuk melirik ponsel ketika anggota lain sedang berdiskusi. Disaat itulah, matanya terbelalak sempurna karena isi dan makna kelima pesan tersebut sama.

Kelima pesan dikirim oleh lima orang berbeda. Dan mereka mengirim pesan sekaligus dokumen beserta foto. Tangan Armin bergetar tatkala membaca semua pesan itu.

.


Pesan Eren


.

From: Eren

Time: 07:21 A.M

Subject: EMERGENCY!!

Armin, maaf mengganggu waktumu, tapi kurasa kau perlu tahu. Semalam Annie masuk rumah sakit. Dia ada di dalam ruang ICU sekarang. Aku kurang tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi perutnya bersimbah darah. Sampai batuk darah pula. Kudengar dari Hitch, calon istrimu itu punya luka tembak. Ini kukirimkan padamu hasil pemeriksaan Annie sebelumnya. Lihatlah.

.


Pesan Mikasa


.

From: Mikasa

Time: 07:20 A.M

Subject: Soal Istrimu

Ymir dan Hitch menghubungi kami semalam karena Annie tiba-tiba pingsan. Dia bersimbah darah, kau tahu? Mereka membicarakan soal luka tembak, dan aku tidak mengerti sama sekali. Sekarang istrimu ada di dalam ruang ICU. Kami sedang menemaninya disini.

P.S: Aku mengirim dokumen padamu. Itu dokumen pemeriksaan Annie. Tampaknya dia menyembunyikan ini darimu.

.


Pesan Ymir


.

From: Ymir

Time: 07:25 A.M

Subject: WOI, ILMUWAN BRENGSEK! BACA INI!!

ARMIIIIIIIIIIINNN!! ANNIE... ANNIE... ANNIIIEEEEEE!!!

P.S: Aku tak mengerti dengan pesanku ini. Tapi kau pasti mengerti maksudnya, 'kan? Maksudku, kau 'kan tahu sendiri seperti apa tingkat kewarasanku.

.


Pesan Hitch

.

From: Hitch

Time: 07:23 A.M

Subject: DANGER, ARMIN! DANGER!

Armin! Annie... Annie masuk rumah sakit! HUWEEEEE!! Luka tembaknya terbuka lagi! Aku benar-benar minta maaf karena tak memperhatikannya. Darahnya keluar banyak sekali. Aku benar-benar panik! Makanya semalam kami membawanya ke rumah sakit militer.

P.S: Aku hanya ingin kau tahu. Sebelum dia tak sadarkan diri, dia terus menyebut namamu T_T! Itu membuatku makin jengkel, kau tahu!? Kenapa dia malah menyebut namamu yang berada di ratusan kilometer jauhnya, sementara aku berdiri 20 cm darinya tidak disebut!!??

.


Pesan Connie


.

From: Connie

Time: 07:27 A.M

Subject: Sangat Penting

Armin, aku langsung menyingkat apa yang ingin kukatakan padamu. Ini memang tiba-tiba, tapi Annie-mu dirawat di rumah sakit militer sekarang. Aku mengatakan ini padamu karena aku adalah kepala pengawas pemeriksaan rutin prajurit disini sekaligus temanmu. Terutama aku dengar dari Eren dan yang lainnya kalau kalian akan menikah.

Sampai sekarang Annie belum sadar. Sepertinya luka tembaknya lebih parah dari yang kuduga. Tapi kalau kau tak percaya, kau bisa melihat foto rontgen Annie sekaligus dokumen hasil pemeriksaan dia sepuluh hari lalu yang kukirim ini.

.

"Ada apa, tuan Arlert?" celetuk asisten pribadi Armin yang menyadari perubahan raut wajah Armin. Seorang wanita berompi hijau yang memakai topi bundar ala pensurvey bernama Petra ini heran dengan tingkah laku atasannya yang lebih memilih membaca pesan masuk dibandingkan fokus pada rapat.

Bukan hanya Petra, Historia yang duduk disamping Armin juga kebingungan. Apalagi suasana rapat tiba-tiba hening karena mereka semua sedang menatap Armin. Mereka tahu betul bahwa Armin bukan tipikal orang brengsek yang tak mau mendengar pendapat orang lain sementara pendapatnya sendiri harus didengar.

"Apa terjadi sesuatu, Armin? Kau tahu, wajahmu..." tanya Historia khawatir sambil menerka apa yang terjadi.

Menghiraukan pertanyaan orang-orang, Armin spontan berdiri dari kursinya, menimbulkan bunyi berisik yang makin membuat semua anggota survey menautkan alis, "Maaf! Aku ingin menghubungi beberapa orang dulu! Lanjutkan saja rapat tanpaku!" ucapnya sambil buru-buru keluar ruang rapat.

"A-Armin!" teriakan Historia saja digubris. Gadis ini hanya bisa melongo melihat pemimpin survey telah meninggalkan ruangan.

Sekarang bagaimana?

Kepala desa Sighir mengerjap-kerjapkan mata, masih memproses alasan tindakan si ilmuwan muda yang main pergi tanpa menjelaskan apapun. Dia celingukan seolah meminta seorang dari mereka di ruangan itu untuk setidaknya bicara padanya dalam bahasa inggris. Beruntung Petra langsung sigap mengambil alih sebelum nama atasannya jatuh karena dianggap tidak sopan.

"Looks like my boss has business to deal with. I hope you understand, sir. I've never seen my boss panic like that either. Maybe something bad happened."

"Well, seeing his scared expression earlier, I guess so too. No problem, Miss Petra. We just continue this meeting."

.

.

Entah sudah berapa kali Armin memanggil nama Annie dalam hatinya. Dia benar-benar tak mengerti apa yang terjadi. Kelima temannya mengirim pesan yang sama di waktu hampir bersamaan pula. Dan itu semua tentang kondisi wanita yang dia cintai. Padahal Armin masih mengingat suara gadis itu ketika menghubunginya empat hari lalu. Tapi kenapa tiba-tiba—? Wajar saja baginya untuk panik seperti ini karena dia sangat yakin gadis sekuat Annie pasti baik-baik saja.

Annie bukan wanita sembarangan. Pemimpin batalion! Pemimpin resimen! Seorang Kolonel termuda di angkatan darat Eldia! Tidak, itu salah. Armin bodoh sekali untuk menyadari bahwa inilah risiko menjadi seorang tentara. Sama seperti dia kehilangan Pamannya, adik angkat Ayahnya dulu. Dia tak membiarkan ini terjadi dua kali. Armin belum dan takkan pernah siap kehilangan Annie!

Maka disinilah dia. Di halaman kantor desa Sighir, si ilmuwan muda ini mencoba menelepon sahabat dekatnya. Dia hanya ingin mendengar penjelasan langsung. Namun cukup lama telepon itu berdering tanpa siapapun yang mengangkat. Itu berhasil membuat Armin semakin panik.

"Angkat, Eren! Angkat!" gumamnya frustasi. Armin sampai mengacak-acak rambutnya, luar biasa kesal pada sang sahabat yang lama mengangkat. Meski kemudian, panggilan darinya diangkat juga sehingga Armin langsung menyerbu bicara, "Ah, Eren!"

"Armin?"

Singkirkan semua basa-basi dan segera ke inti, itulah yang dipikirkan Armin, "Pesanmu tadi—apa itu benar? Ta-tapi seminggu lalu dia masih baik-baik saja ketika aku menghubunginya terakhir kali! Sungguh! Kenapa sekarang—"

"Hei hei, tenang dulu, kawan. Jangan menggebu-gebu begitu,"

"Siapa yang bisa tenang dalam situasi seperti ini!? Sudah, jelaskan padaku kenapa Annie bisa masuk rumah sakit dan di ICU pula!?"

"Sesuai pesan yang kukirim padamu, Armin. Apa Annie tak menceritakan soal luka yang dia alami padamu?"

"...Luka?" ah, benar juga. Teman-temannya memang mengatakan soal luka tembak di pesan mereka. Tapi Armin yang tak pernah mendengar itu langsung dari Annie tentu tambah tak mengerti, "Ck, luka tembak itu maksudmu? Ada apa dengan itu!?"

"Tujuh tahun lalu, calon istrimu itu pernah kena tembak di bagian dada dan perutnya. Meski sudah dirawat oleh Kakekmu, tampaknya bekas luka itu belum sembuh sempurna. Jadi saat perang terakhir kali, luka itu terbuka lagi. Aku tidak tahu apakah dia kena tembak di bagian sama atau apa, tapi kemarin Ymir dan Hitch menghubungiku untuk ikut membawanya ke rumah sakit."

Armin menepuk dahinya.

Bodoh sekali! Seharusnya selama ini dia menanyakan perkara luka tembak itu pada Kakeknya! Apanya yang memperhatikan? Apanya yang peduli? Berkali-kali Armin menyalahkan dirinya sendiri atas 'sesuatu' yang sedang menimpa sang calon istri.

"Eren, dimana kau sekarang?"

"Di rumah sakit menemani Annie,"

"Dia belum sadar?"

Eren cukup lama terdiam seperti sedang memikirkan kata-kata yang tepat, "...Belum. Tapi Armin, kurasa kondisinya gawat juga. Maksudku, kami sempat mendengar dokter meminta menyiapkan defribilator," perkataan Eren ini seketika membuat Armin terkesiap shock.

Defribilator katanya? Stimulator detak jantung itu? Menggunakan listrik bertegangan tinggi untuk memompa jantung, itu artinya hanya satu. Otak jenius miliknya sudah tahu alasan dibalik mengapa dokter repot-repot meminta alat itu.

"Jantungnya tak berdetak!?" aura ketakutan telah menyelubungi hati Armin. Jantungnya berdetak terlalu kencang, deru napasnya tak stabil. Armin pun mencengkeram dadanya, mencoba menahan sakit yang dia rasakan. Meski mati-matian menahan panas di matanya, namun pada akhirnya dia meloloskan tetesan tangisan dalam diam.

Takut. Armin takut.

Kenapa di saat seperti ini dia tak ada disampingnya? Seharusnya dia tak pergi ke Ghana. Seharusnya dia dengarkan perkataan asistennya untuk tetap tinggal di Eldia. Berbagai konsekuensi terburuk membayangi pikiran Armin. Dia tak bisa berpikir jernih.

"Tolong berikan ponselmu pada Ymir atau Hitch! Aku ingin bicara!"

"Oh, oke... Hei, Armin ingin bicara dengan salah satu dari kalian," tak ingin membuat sang sahabat tambah panik, Eren segera menyerahkan ponselnya.

"Keduanya juga tak masalah. Sini!" Armin sangat mengenal suara wanita ini. Ini suara Ymir yang terdengar dari seberang. Kemudian, tak lama setelah Eren memberikan ponselnya, Ymir langsung berteriak kencang, "ARMIIIIIIINNNN!!!!"

"Y-Ymir?"

"ARMIN! Annie... Annie... hiks hiks..."

Ymir sampai menangis? Seburuk apakah keadaan calon istrinya itu sampai dedemit lautan pasifik sepertinya meneteskan air mata? Tak heran Armin semakin khawatir, "A-ada apa?"

"Ma-maafkan kami, Armin. Kami tak bisa menjaganya. Kami benar-benar menyesal..." bukan Ymir. Kali ini Hitch yang menyahut, membiarkan Ymir masih sesenggukan di sampingnya. Nada bersalah bisa Armin tangkap dari perkataannya.

"Ti-tidak, tidak apa. Ini bukan salah kalian..." sebagai seorang gentleman, Armin tak mungkin menyalahkan kedua wanita yang mau menemani Annie selama dia pergi. Selain itu, jika semua kiriman pesan itu benar, sudah pasti ini adalah salah Armin sendiri, "Jadi apa yang sebenarnya terjadi? Ceritakan padaku dengan detail!" ujar Armin lagi.

"I-itu... hiks hiks... kemarin sore, Annie mengeluhkan rasa sakit di perut dan dadanya. Dan sebagai... hiks hiks... tentara di angkatan yang sama dengannya, aku tahu soal luka tembaknya tujuh tahun lalu. Jadi...hiks... aku memintanya memeriksakan luka itu di RS militer, namun dia tak mendengarkanku... hiks hiks... La-lalu malamnya... A-Annie... Annie pingsan..." Armin pun menganga. Seolah menolak percaya pada runtutan kejadian yang dijelaskan Ymir.

Belum sempat dia berkomentar, Hitch segera menyambung, "Tiba-tiba dia batuk darah, Armin. Darahnya banyak sekali. Maka aku dan Ymir pun membawanya ke RS militer. Kemudian aku langsung menghubungi Eren untuk datang ke RS bersama Mikasa... dan sampai sekarang Annie belum bangun..."

Tangis Armin semakin menjadi-jadi. Entah seberapa kusut rambutnya sekarang karena dia terus mencengkeramnya. Berkali-kali dia mondar-mandir seperti orang linglung. Ingin sekali dia berteriak memanggil Annie saat ini juga. Memanggil nama gadis yang dia cintai. Setelah dia mondar-mandir begitu, Armin pun berjongkok, masih mencengkeram kuat rambutnya. Tak peduli rasa sakit yang dia rasakan, air matanya masih terus menetes.

"Lagipula, Armin, bukankah Connie juga menghubungimu soal ini?" celetuk Hitch.

Benar juga. Connie memang juga mengiriminya pesan, "I-iya, memang. Barusan dia mengirim pesan padaku."

"Oi, Armin! Aku tak peduli sepenting apa proyekmu itu, tapi kalau kau tak muncul disini dalam seminggu, kau tak mau muncul menemani sobatku melewati masa sulit, aku akan membunuhmu! Kau dengar aku!? Aku akan membunuhmu, dasar ilmuwan pengecut!!"

"Hitch, yang benar saja proyekku lebih penting dari Annie! Kau tak perlu khawatir! Aku akan berangkat hari ini juga!"

"Ha-hari ini? Serius?"

"Ya! Aku akan memesan tiket pesawat sekarang juga! Tunggulah!"

"O-oke..."

Armin langsung mematikan ponselnya kemudian berlari menuju ruang rapat desa. Dihiraukan pandangan aneh para staf desa yang diberikan padanya. Pikirannya saat ini hanya tertuju pada sang calon istri. Dia harus segera menyampaikan perubahan rencana untuk kembali ke Eldia. Persetan dengan proyek. Persetan dengan survey. Annie jauh lebih penting!

Sembari berlari, suara batin Armin menggema dalam pikirannya. Dia seka air matanya sambil menahan isak tangis. Takut bahwa hari terakhir dimana dia melihat Annie adalah kepergiannya di bandara. Armin sangat tak mau itu terjadi. Dia masih ingin menghabiskan waktu bersamanya,

"Kumohon, Annie! Aku akan kembali! Aku akan pulang padamu! Tunggulah! Aku takkan meninggalkanmu selama ini lagi! Aku janji! Karena itu jangan pergi!"

Si ilmuwan muda ini lalu membuka pintu ruang rapat dengan kasar. Dan tanpa komando, tentu semua orang di dalam ruangan itu menoleh padanya. Rapat pun sejenak terhenti. Jangan salahkan mereka yang menatapnya heran akan perubahan sikapnya yang keluar dari ruang rapat tak sampai 15 menit. Khususnya Historia. Gadis itu jadi sedikit takut melihat raut wajah ketakutan pada diri pimpinan proyek yang dia ikuti.

Sebelum dia diberi kesempatan untuk menanyakan 'ada apa?', Armin sudah meluncurkan kata-katanya.

"Maaf, semuanya! Aku harus kembali ke Eldia sekarang juga!" begini teriaknya, berhasil membuat semua orang melongo.

Seketika anggota rapat saling menoleh satu sama lain. Lupakan mereka yang tak berbahasa sama dengan Armin, namun anggota survey lainnya tak memahami apa maksud dari perkataan ketua mereka. Kembali ke Eldia sekarang? Setelah semua persiapan matang? Hei, hei. Ada apa ini?

"Apa yang terjadi, tuan?" Petra mewakili pertanyaan pikiran rekan-rekannya.

"Tunanganku masuk rumah sakit! Luka tembaknya terbuka lagi! Teman-temanku sedang menemaninya di rumah sakit militer sekarang! Jantungnya sempat berhenti dan.. dan..." argh, sial! Sangat sulit menjelaskan apa yang dialami Annie sekarang. Armin panik level 10 sampai-sampai otak jeniusnya tak mampu mengatakan kondisi Annie lebih rinci, "Intinya nyawanya sekarang dalam bahaya! Aku harus pulang sekarang juga!"

Petra spontan terkesiap tak percaya. Tiba-tiba mendengar kabar buruk di tengah rapat berbahagia ini bukanlah hal baik, "Nona Leonhart?!"

Bukan hanya Petra, para anggota survey yang mengetahui perjodohan Armin juga terkejut. Mereka bisa merasakan ketegangan Armin sekarang. Gumaman-gumaman shock menghiasi ruang rapat. Historia sendiri membeku disana. Tak lama dia menunduk, memikirkan soal luka tembak yang dikatakan pria itu. Benar bahwa dia tak pernah mendengar ini dari Ymir, tapi sepertinya dia perlu menanyakan ini nanti. Mungkin Ymir tahu sesuatu, begitulah pikirnya.

Ck ck ck. Sayang sekali, Historia. Kau tak tahu kalau keusilan teman dekatmu itu benar-benar level Dewa.

Armin segera menatap wajah kepala desa Sighir yang masih melongo padanya, "I am sorry, Sir. But I have to go! My fiance needs me! Excuse me!" tak mau menghabiskan waktu lebih banyak di ruangan itu, Armin berlari meninggalkan mereka hingga lupa menutup pintu kembali.

"Wa-wait!" percuma, tuan kepala desa. Armin tak bisa mendengarmu lagi. Menahannya untuk penjelasan lebih itu tidak memungkinkan. Terpaksa dia menoleh pada sang asisten pria itu, nona Petra yang matanya berkedut-kedut tak jelas, "What the--? What happened?" tanyanya.

"Umm... Well, my boss—"

"Nona Petra, aku permisi juga! Aku akan membantu Armin mempersiapkan barang-barangnya," tak mau menunggu Petra membalas, Historia sudah lebih dulu berlari menyusul Armin.

Hah? Apa-apaan ini? Sekarang gadis itu pun ikut panik? Petra berusaha mencegah dengan meneriakinya, "Eh eh eh, tunggu dulu, Historia!"

Useless. Dia sudah kabur.

Tinggal lah Petra sang asisten bengong seperti keledai dungu.

.

Sementara itu di apartemen Eren.

Blok 5 nomor 25 Distrik Shiganshina.

.

Eren masih memegangi ponselnya selagi dikelilingi tiga wanita yang terus bungkam dan berdiri di tengah-tengah ruang tamu miliknya. Membiarkan suara detak jam dinding menjadi suara latar dalam keheningan. Kemudian, Eren kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku jeansnya, tentunya tanpa mengatakan apapun. Tak sampai lima detik, tiba-tiba tubuh keempat orang tersebut bergetar layaknya ponsel berdering tanda panggilan masuk. Alis serta sudut bibir mereka berkedut mati-matian menahan hasrat yang ingin sekali dikeluarkan.

Ya, sebuah hasrat dimana berhasil dirasakan ketika selesai menghubungi Armin.

"Pfft!"

"Pfft!"

Dan akhirnya meledak dalam satu serangan.

"HAHAHAHAHAHA!!"

"HAHAHAHA!!"

"GYAAAHAHAHA!!"

Suara tawa laknat tersebut menggema ke seluruh isi ruangan. Eren, Ymir, Mikasa dan Hitch tertawa sambil memegangi perut mereka. Sangat sakit saking lucunya. Bahkan Hitch sampai berguling-guling dan memukuli lantai. Mikasa sendiri juga masih tertawa keras hingga air matanya menggenang di pelupuk matanya. Mengikuti jejak kedua gadis itu yang tak berusaha menjaga imej, Eren dan Ymir langsung melemparkan diri ke sofa. Tertawa terbahak-bahak pada rencana mereka yang berhasil menipu orang terjenius di dunia.

Wajah Ymir memerah karena terlalu lama tertawa. Masih mengingat serta membayangkan ekspresi Armin begitu menyampaikan info palsu soal Annie, dia berkata begini kepada mereka, "GYAAAHAHAHAHA!! HUMOR MACAM APA INI!? BODOH SEKALI ILMUWAN ITU!!"

"Kau dengar nada panik dari perkataannya, Mikasa?" Eren menoleh pada Mikasa yang sedang setengah mati menghentikan tawanya, "Aku yakin dia pasti sedang membereskan barang-barangnya sekarang. Ahahaha! Si bodoh itu!" benar-benar teman kurang ajar. Inilah kenapa istilah persahabatan itu serapuh gelembung benar adanya.

Mikasa melirik Ymir serta Hitch, melihat mereka berdua sudah saling bertos-ria mengingat misi mereka mendekati akhir. Tanpa sungkan Mikasa memberikan pujian tulus, "Kalian hebat sekali tadi—kau tahu, soal berakting. Sepertinya Jennifer Lawrence harus merelakan piala Oscar untuk kalian."

Piala Oscar katanya? Sudah jelas, bukan? Ymir langsung menepuk dadanya dengan bangga, "Oh, tentu saja~! Siapa dulu? Nona Ymir daaan—"

"Nona Hitch Dreyse! Berikan tepuk tangan!" sambung Hitch mengangkat tangannya tinggi-tinggi lalu bertepuk tangan keras-keras bersama mereka.

Sumpah, jahat.

Syebel!

Mereka tidak sadar sepanik apakah Armin tadi? Sampai menangis pula! Nyawa mereka benar-benar takkan selamat jika dua sejoli itu tahu rencana setan mereka ini. Tapi kalau tidak begitu, Armin takkan cepat pulang. Sepertinya mau tak mau kita juga harus ikut dalam rencana ini eh, pembaca?

"Oh ya, kalian sudah membereskan ponsel Annie, 'kan? Tak lucu dia bisa menerima telepon selama di ICU," cerdas sekali, Eren. Kemampuan pencegahan bencana yang bagus.

Hitch menggoyangkan jari telunjuknya, bersikap seperti tak ada yang perlu ditakutkan, "Semua terkendali, Eren. Kami sudah mengatasi masalah itu meski kepalaku menjadi korban."

"Hah? Maksudmu?"

Ymir ambil alih, mengungkapkan sedikit flashback, "Dua hari lalu, si bodoh ini sengaja menubruk punggung Annie yang asyik memegangi ponselnya di depan bak mandi. Kebetulan saja ponsel si Kolonel itu bukan tipe anti air, jadi tentu saja ponselnya rusak," setelah berkata begini, Hitch menyengir dengan wajah tanpa dosa.

Apa boleh buat. Tak ada rencana yang terpikirkan sejak Connie menghubungi mereka tiga hari lalu bahwa hasil pemeriksaan Annie sudah keluar. Kita hiraukan sejenak kekecewaan mereka tentang bagian perut Annie yang dikatakan Connie baik-baik saja. Tak ada yang mengisi seperti yang pikiran kotor mereka harapkan. Meski Connie tak mengerti ketika mereka berdua menghela napas kecewa, namun sang Letnan Satu tersebut meminta mereka untuk menyabotase ponsel Annie secepatnya.

Beruntung Hitch melihat Annie sedang mengisi bak mandi sembari bersenandung melihat pesan sang suami. Tanpa pikir panjang, nona Letnan Dua ini menubruk punggung Annie persis banteng dalam permainan matador. Yup, dia menubruknya sambil berteriak 'ARGH, KAKIKU TERPELESET!'. Walhasil tubuh Annie terdorong dan ponselnya lepas dari genggaman, masuk ke dalam bak mandi. Sungguh rencana mengundang maut, saudara-saudara.

Ymir pun melanjutkan, "Si brengsek itu malah mengomel ala Ibu tiri karena tak bisa menghubungi Armin untuk sementara. Jadi dia menendang Hitch sampai kepalanya terjeduk ke dasar bak. Untung saja Hitch tidak mati."

"O-oohh..." Eren dan Mikasa kompak sweatdrop.

Benar-benar prajurit sejati dirimu, Hitch. Rela mempertaruhkan nyawa demi menyatukan sahabatmu dengan pria yang dia cintai. Dua jempol kaki untukmu. Hiks!

"Dia tidak membeli ponsel baru atau memperbaikinya?" tanya Mikasa bingung. Mengingat Annie sangat berprestasi di medan perang, membeli ponsel baru bukan hal sulit baginya. Apalagi jika dia tipikal wanita yang butuh info kabar kekasih setiap hari secara mutlak.

"Dia bilang ingin beli baru, tapi karena kejadian itu terjadi lusa lalu, jadi sampai sekarang dia belum sempat beli," jawab Hitch yang disambut Mikasa dengan membentuk bibirnya menjadi 'O'.

Belum selesai. Masih ada satu masalah lagi yang Eren takutkan, "Orangtua Annie bagaimana? Kakek Armin juga. Armin pasti minta kepastian dari mere—"

"Jangan khawatirkan soal itu. Pihak keluarga dari dua idiot soal cinta itu mau bekerja sama dengan rencanaku ini. Singkatnya, mereka akan mengeluarkan kemampuan akting mereka sama seperti kami."

Baiklah, itu cukup. Hitch berhasil menangani seluruh keluarga korban perjodohan insting dengan baik. Ternyata bukan hanya soal perang hidup dan mati, dia ahli juga soal perang cinta. Lihatlah senyum sombongnya itu yang disertai tawa jahat Ymir. Sungguh ekspresi minta ditimpuk kerikil, saudara-saudara. Setelah membuat seseorang menangis di ujung dunia sana, mereka masih bisa tertawa lepas? Hei, omong-omong Annie bagaimana?

Sang Kolonel muda ditinggal sendirian di rumah Armin. Menggunakan alibi ingin jalan-jalan sebentar, Annie percaya saja dan membiarkan mereka pergi. Tentu saja dia tak menyadari bahwa dirinya dijadikan kambing hitam. Jika dia tahu, sepertinya pelindung kepala itu takkan berguna bagi Hitch dan Ymir. Mari berdo'a semoga tak ada pertumpahan darah.

...

~invisible string chapter thirteen~

...

.

Sekitar enam belas jam setelah percakapan Armin dan duo setan di telepon.

Di Eldia.

.

.

"Annie, bisakah aku memintamu untuk menemaniku ke RS militer?"

Annie menghentikan aktivitas menonton TV-nya, memberikan tatapan bingung pada Hitch.

Ke RS militer jam 10 malam? Well, Hitch bukanlah manusia kalong yang tahan begadang. Dan tumben sekali dia ke rumah sakit. Bukankah dia sedang cuti sepertinya? Berbagai spekulasi memenuhi kepala Annie, namun dia hanya bertanya singkat.

"Ada apa? Kau sakit?"

"Hn. Kepalaku sakit sekali. Mungkin ini karena aku dipukul dengan pemukul besi ketika di perang terakhir kali. Aku takut jika ini memburuk, makanya tolong temani aku," balas Hitch dengan wajah memelas.

Jangan percaya, para pembaca! Itu semua hanya akting! Si bodoh ini tahu bahwa ini sudah waktunya Armin tiba di bandara Angel Aaltonen. Makanya dia berusaha membawa Annie ke RS militer supaya bisa mempertemukannya dengan Armin disana. Tak lucu jika Annie yang seharusnya di ruang ICU malah menghabiskan malam menonton film sambil ditemani cemilan kacang.

Mari bersyukur Annie tidak curiga. Berkat akting layaknya sedang syuting film Hitch, Annie hanya bisa berkomentar seperti berikut, "Hhhh... sudah kuduga. Aku sebenarnya tak terkejut kau mengeluh soal sakit di kepalamu. Otakmu memang dari dulu bermasalah. Karena itu tolong sesekali bersikap waras."

Empat persimpangan merah akhirnya timbul di dahi sang Letnan Dua. Merasa tersinggung, dia pun melirik Annie jengkel, "Terima kasih atas saran sekaligus penghinaannya, atasan. Jadi bisakah kau menemaniku ke rumah sakit untuk mengatasi OTAKKU YANG BERMASALAH INI?"

Annie menghela napas berat. Kemudian dia bangkit dari sofa, berjalan menuju kamarnya, "Baiklah, tak masalah. Biar aku siap-siap dulu."

BERHASIL! AND THE CROWD GOES WILD!

Second Lieutenant Hitch Dreyse's on fire!!

Mati-matian Hitch menahan tawa sekaligus rasa senangnya karena—ayolah, Annie mudah sekali ditipu! Tapi dia harus tetap fokus! Misi ini akan menemui tahap akhir! Sampai saat itu tiba, dia akan menjaga profesionalitasnya sebagai aktris ulung!

"Oke," target diamankan! Hitch pun mengacungkan jempol pada Ymir yang melongok dari balik pintu kamarnya. Ya, gadis ini dari tadi menguping pembicaraan.

Hitch sudah mengirimkan kode untuk masuk ke tahap selanjutnya. Sekarang gilirannya ambil bagian!

"Sip! Ini saatnya!" Ymir langsung menekan icon tombol 'memanggil' pada kontak seorang pria yang sudah diajak bekerja sama sebelumnya. Yup, pria itu sangat tidak asing sekali. Pria yang dulu ikut meledek Armin soal perjodohannya bersama Ymir di rumah pohon.

"Yo, Reiner. Sesuai rencana, jemput Armin ke bandara dan bawa dia pada kami,"

Tepat sekali. Reiner orangnya!

Entah bagaimana gadis ini bisa membujuk Reiner ikut dalam rencananya, tapi sekarang Reiner sudah berubah fungsi dari karyawan swasta jadi supir pribadi. Ini pasti karena bualan Ymir yang menjanjikan sesuatu makanya Reiner mau ikut, saudara-saudara.

"Kalian sudah pergi?"

"Belum. Kami masih menunggu Annie siap-siap dulu," Ymir kembali melongok keluar, memastikan Annie masih di dalam kamarnya. Namun melihat kiriman jempol dari Hitch lagi, dia pun melanjutkan, "Sudahlah, pergi saja sekarang. Seharusnya tak sampai setengah jam lagi dia akan tiba."

"Laksanakan!"

Wah, entah kenapa rencana jitu ini membuat kita semakin gemas saja, ya.

Tapi...

Benarkah semudah itu?

.

Time Flies

.

.

Ini dia! Rumah sakit Militer angkatan darat Eldia! Sudah lama mereka tidak kemari sejak pemeriksaan palsu Annie.

Annie memakirkan mobilnya di bagian depan rumah sakit. Dan ketika dia akan mematikan mesin mobilnya, Hitch dan Ymir keburu keluar, sangat tergesa-gesa. Tentu sang Kolonel kebingungan melihat kedua temannya sekarang menariknya keluar dari kursi pengemudi. Hei, ada apa ini sebenarnya? Terpaksa dia cepat-cepat menarik kunci mobilnya sembari membiarkan dirinya ditarik bak tali tambang.

"Ayo, cepat! Cepat!" ujar Hitch menarik lengan Annie yang nyaris terjatuh karena ulahnya.

"Berhentilah bersikap seolah rumah sakit adalah taman bermain, Letnan Dua," sergah Annie kesal.

"Aku tak butuh kata-kata bijakmu sekarang, Kolonel. Lagipula memangnya kenapa? Aku 'kan kemari supaya nyeri di kepalaku bisa sem...buh?" tinggal sedikit lagi mereka masuk ke dalam gedung berbau obat itu, langkah Hitch yang kecepatannya seperti gerak cepat memergoki kekasih selingkuh seketika terhenti.

Ymir yang juga ikut menarik lengan Annie ikut berhenti. Dia kemudian menoleh pada gadis hoodie kuning yang lebih mirip tokoh Jadoo daripada manusia tersebut, "Oi, ada apa? Kenapa kau berhenti?" Ymir tambah heran pada perubahan mendadak sikap Hitch ini.

Kenapa dia gemetar? Bukankah Hitch adalah tipikal wanita yang terus maju mencapai tujuan? Dan bicara soal gemetar, sikapnya berubah sejak melihat seorang pria bertubuh pendek bersandar pada tiang depan gedung rumah sakit. Ymir tentu menyadari itu karena hanya pria itulah satu-satunya yang bisa dikatakan menyambut mereka secara tidak langsung. Pria berpakaian tentara itu dihiraukan Ymir karena dia sama sekali tidak mengenalnya. Tapi melihat reaksi Hitch, tampaknya pria itu bukan tentara sembarangan.

"...Gawat..." inilah gumaman Hitch dengan raut wajah takut. Dia masih berdiri mematung disana, tidak menarik lengan Annie lagi.

Disisi lain, orang yang dari tadi ditarik juga ikut menyadari identitas pria itu. Annie menyipitkan pandangan. Memerhatikan baik-baik supaya tidak salah mengenali. Tidak, dia yakin sekali siapa orang itu!

"Ah, Mayjen Ackerman."

Spontan Ymir melirik Annie, "Mayjen Ackerman?"

Siapa lagi itu? Salahkan kenapa Ymir bukan tentara, para pembaca. Tapi bukankah Ackerman nama belakang Mikasa? Apa jangan-jangan pria pendek ini punya hubungan dengan kekasih si bagong dari perusahaan keamanan itu?

Mendengar namanya disebut, pria yang dipanggil Mayjen Ackerman itu menoleh pada mereka bertiga. Dia mengangkat kedua alisnya, mengalihkan perhatiannya dari ponsel pada ketiga wanita yang menatapnya balik. Yup, tepatnya satu menatap biasa saja, satu menatap masa bodoh, dan satu lagi menatapnya persis orang berhutang banyak pada rentenir.

"Apa yang kalian lakukan di malam selarut ini, kuso gaki domo?"

Tanpa disangka, Hitch melepaskan pegangannya dari Annie lalu segera membungkuk hormat padanya. Ymir yang disebelahnya sampai kaget, "Se-selamat malam, Jenderal Levi! Saya, Letnan Dua Hitch Dreyse datang untuk memeriksa nyeri di kepala saya!"

Jenderal Levi? Itu nama depannya?

Pantas saja Hitch membungkuk hormat padanya sampai seperti itu. Ternyata pria pendek ini atasannya, eh? Berarti atasan Annie juga. Namun ada yang diragukan oleh Ymir. Dan itu adalah tentang tinggi badan pria ini. Benarkah dia masuk angkatan darat dengan jujur? Sungguh, dengan tinggi badan begitu? Ini pasti kasus sogok! Dia nyaris menyangkanya sebagai bocah SMP tadi!

Biarkan Ymir dan keraguannya. Kita alihkan perhatian kita pada Hitch yang sudah berdiri tegak kembali, "Umm... Jenderal sendiri sedang apa?" tanyanya penasaran ada apa gerangan atasannya ada di rumah sakit malam-malam begini. Masa' sih Ymir mengajaknya bekerja sama juga? Ahahaha, tak mungkin.

"Erwin, aku dan Hange membawa seluruh pasukan batalion untuk pemeriksaan disini. Besok, pagi-pagi sekali, kami akan menuju perbatasan demi menyingkirkan sekelompok pemberontak negara. Makanya malam ini kami bermalam disini sambil menyiapkan stok makanan dan obat," oop, nama-nama sensitif disebutkan oleh Mayjen Levi tanpa sungkan. Ya, dia mengatakannya dengan gamblang karena melihat Annie disini. Dia mempercayai sepenuhnya mulut penjaga rahasia sang Kolonel hingga mau mengatakan misi rahasia mereka.

Disisi lain, Annie mengerutkan dahi. Dia tak menyangka atasan yang paling dia hormati itu berkumpul pula di malam selarut ini di rumah sakit, "Letjen Erwin dan Mayjen Hange juga disini?"

"Begitulah..." jawab Mayjen Levi singkat.

Oke, arwah Hitch nyaris meninggalkan tubuhnya mendengar fakta barusan.

Kenapa pula harus sekarang!? Levi adalah atasan Connie yang rela memalsukan dokumen pemeriksaan Annie, sementara Erwin adalah nama yang digunakan dokter Mina untuk mendatangkan Annie. Kenapa dua orang itu berkumpul di tempat ini dan disaat ini!?

Ini danger!

SANGAT DANGER!

"GYAAAA, MATI AKU! BAGAIMANA INI!?"

Semoga Dewi fortuna bersamamu, Hitch.

.

.

TO BE CONTINUED

.

.


Author's note : Hahahaha, mampus sudah! Rasakan! Makanya jangan usil pada Armin!

Jadi, kalian penasaran bagaimana selanjutnya, 'kan? Tunggulah kejutannya di halaman selanjutnya. Jangan lupa tinggalkan komentar.

THANKS A LOT, MINNA-SAN!