Ninja and Ice Queen Arendelle.
Disclaimer : Naruto dan Frozen bukan milik saya.
Summary : Naruto sedang melakukan eksperimen dengan jurus miliknya, tapi itu malah membuat dirinya terlempar ke dimensi lain dan membuat tubuhnya menjadi kecil kembali dan dia bertemu seseorang yang mirip masa kecilnya. sebuah Cerita yang dibuat hanya untuk kepuasan Author.
Warning!! Sebuah cerita yang dibuat hanya untuk kepuasan Author.
Rate : T semi M
Shiraki
Hari terus berlalu, bulan-bulan terlewati hingga 8 tahun sudah berlalu, Naruto dan Elsa juga memiliki kehidupan yang indah dan sederhana, tapi tidak jarang mereka harus ke kota.
Terlihat Naruto dan Elsa yang bersantai di padang rumput hijau, Naruto tidur di pangkuan Elsa dengan wanita itu yang mengelus rambut kuning Naruto dengan lembut.
"Hei Elsa, apakah kau sadar satu hal tentang kita?"
"Apanya?"
"Kita sudah sangat berubah sejak pertemuan awal kita, dimana pertama kali aku hanya bertemu dengan gadis yang memiliki kekuatan indah tapi ketakutan akan keindahan itu." kata Naruto dengan nada yang dibuat-buat, lalu Naruto melirik Elsa yang tampak kesal tapi masih tetap membelai lembut kepalanya. "Ya meskipun begitu, tapi dia sekarang sudah berubah." lanjut Naruto menerawang langit biru.
"Hooh begitu? jika aku malah lebih buruk kau tau? aku bertemu pria yang aneh dan bodoh, dia hanya bisa menjahili ku saja." kata Elsa dengan nada kesal, ia mengembungkan pipinya tanda kesal, tapi bagi Naruto itu malah terlihat lucu. "Tapi aku bersyukur bertemu dengannya, karena jika tidak maka aku mungkin masih akan terus ketakutan sampai sekarang." lanjut Elsa dengan tersenyum kecil, rambut putih panjangnya yang digerai tertiup angin hingga membuat Naruto terpana.
Naruto terbangun dari tiduranya, lalu ia duduk dan melihat kearah Elsa dengan ekpresi serius.
"Naruto??" tanya Elsa dengan wajah gugup, pasalnya Naruto yang terus mendekati wajahnya.
"Maaf Elsa, tapi kau sangat cantik!"
Elsa yang mendengar kalimat itu merona pipinya, perlahan wajah Naruto pun semakin mendekat hingga akhirnya kedua bibir mereka pun saling menyatu.
Cup!
Tidak ada nafsu sedikit pun di dalam ciuman tersebut, hanya ciuman lembut dan kasih sayang terhadap pasangan mereka.
Namun perlahan, ciuman itu tiba-tiba berubah menjadi panas di mana mereka saling melumat bibir pasangan mereka.
Naruto mengigit bawah bibir Elsa dengan lembut meminta akses untuk memasukkan lidahnya, Elsa yang tahu itu pun membuka bibirnya memberi Naruto akses untuk memasukkan lidahnya.
Ciuman itu pun semakin panas di mana mereka mulai saling bersilat lidah dan melupakan bahwa mereka bisa saja di lihat oleh seseorang.
Tangan Naruto yang awalnya hanya diam pun beralih ke pinggang Elsa dan memeluknya dengan erat untuk memperdalam ciuman panas mereka.
Elsa yang tidak tahan pun mendorong Naruto hingga berbaring kembali, dan semakin memperdalam ciumannya sambil sesekali tangannya meremas rambut kuning Naruto.
Puahh!
Ciuman panas itu terhenti karena pasokan udara yang menipis, terlihat benang saliva yang terbentang dari mulut mereka.
"Kau cukup ganas ya?" Tanya Naruto dengan tersenyum jahil.
"Itu salahmu sendiri!" Balas Elsa yang wajahnya sudah memerah, lalu Elsa kembali mendekatkan wajahnya.
Naruto yang melihat itu menutup matanya bersiap untuk menerimanya.
"Mama? Kenapa mama menindih papa?" kata seorang gadis kecil berambut putih bermata biru menginterupsi kegiatan panas mereka, Naruto dan Elsa yang masih dalam keadaan
Gadis kecil itu adalah anak Naruto dan Elsa, mereka menamainya Serena Uzumaki.
"Kau tahu nak? Mereka itu sedang bermain kuda-kudaan." Kata Kurama yang membuat Serena melihat kearahnya.
"Kuda-kudaan?" beo sang anak. "Yap, dan aku tidak menyangka bahwa dalam permainan itu kau di dominasi olehnya, Naruto," ucap Kurama tanpa dosa.
Naruto dan Elsa cepat-cepat memisahkan diri, Serena langsung berlari ke ayah dan ibunya, gadis kecil itu memeluk Elsa dengan senyuman bahagia.
"Nee? apa yang mama dan papa lakukan tadi? apa Serena boleh ikut?" tanya gadis kecil itu dengan polosnya, Elsa yang mendengar itu tersenyum kecil lalu menyentuh hidung Serena pelan.
"Kau harus lupakan tadi ya? kau masih kecil dan belum waktunya tau..." balas Elsa dengan lembut, gadis itu terlihat kecewa dengan jawaban ibunya.
Naruto yang melihat itu langsung mengelus kepala kecil itu, ia melirik Kurama yang hanya diam memperhatikan mereka.
"Serena, bagaimana kalo sekarang kita pergi ke bibi Anna dan paman Kristoff?" ajak Naruto sambil melirik Kurama, sedangkan Kurama merasakan firasat buruk dari lirikan Naruto. "Bukankah kau ingin menaiki Kur-chan?" lanjut Naruto dengan nada tenang. Kurama langsung melotot mendengar ucapan Naruto.
"Cih dendam, mirip Uchiha saja." celetuk Kurama dengan nada mengejek, tapi sayangnya Naruto tidak terlalu menganggap itu.
"Baiklah, mari kita bereskan ini dulu, lalu baru kita bisa ke Arandelle," ucap Elsa yang sedang membereskan tempat piknik mereka, Naruto dan
Serena membantunya, sungguh keharmonisan yang sangat indah.
Naruto dan keluarganya sudah berada di Arandelle, mereka disambut dengan baik oleh semua orang.
"Nee Papa, apa boleh aku bermain dengan Garland?" tanya Serena yang berada di gendongan ayahnya, posisinya adalah Serena duduk di bahu Naruto dengan kepala Naruto sebagai pegangan.
"Tentu saja, asalkan kalian tidak bermain hal yang berbahaya, atau Mamamu akan marah." balas Naruto dengan santai, Elsa yang melihat percakapan kedua orang yang paling disayanginya hanya tersenyum kecil.
"Yosh! artinya aku bisa bermain dengan Olaf." ucap Serena bersemangat, Naruto dan Elsa yang mendengar itu saling memandang satu sama lain sebelum tertawa kecil karena tingkah laku Serena.
Elsa mengenggam tangan Naruto dan dibalas oleh pria pirang itu, Naruto menoleh kearah Elsa dengan senyuman khasnya.
Setelah beberapa kejadian itu, akhirnya mereka sudah sampai di dalam kerajaan dan mereka disambut dengan ramah oleh semua orang.
"Papa? Bibi dan paman dimana?" tanya Serena kepada Naruto.
"Hmm? sepertinya mereka berada di dalam, bagaimana jika kita berikan mereka kejutan?" tanya Naruto kepada Serena sambil tersenyum jahil, sedangkan sang anak yang memang mewarisi sifat ayahnya juga tersenyum, sementara Elsa hanya memegang keningnya atas kelakuan anak dan suaminya itu.
"Jangan berlebihan Oke?" peringat Elsa kepada mereka, Naruto dan Serena hanya tersenyum lebar menampilkan gigi putih mereka.
Mereka langsung masuk menuju tempat biasanya mereka berkumpul, Serena langsung membuka pintu itu terlebih dahulu meninggalkan ayah dan ibunya di belakang.
"Bibi Anna!" teriak Serena dengan keras, Naruto dan Elsa hanya tersenyum kecil melihat kelakuan anaknya.
Di dalam ruangan itu terdapat Anna, Kristoff dan seorang bocah laki-laki yang seumuran dengan Serena sedang melihat sebuah buku, sedangkan di sisi lain ruangan ada Olaf dan Sven yang sedang melakukan sesuatu.
Serena tersenyum, "Bibi Anna!" ucap Serena sambil berlari kearah Anna dan langsung memeluknya, Anna sendiri terkejut karena teriakan Serena yang tiba-tiba memeluknya.
"Serena! ohh keponakan manisku!" ucap Anna yang langsung memeluk Serena dengan kencang, tapi sepertinya ada yang tidak suka akan hal itu karena bocah laki-laki yang tadi nampak menatap Serena dengan pandangan kesal.
"Hei! lepaskan ibuku! kau tidak lihat kami sedang sibuk?!" kata anak itu yang adalah Putra dari Anna dan Kristoff yang bernama Garland, sedangkan Serena hanya menjulurkan lidahnya mengejek.
Elsa langsung menghampiri Anna untuk sekedar berbincang-bincang sebagai saudari, Naruto juga kearah Kristoff yang langsung dihampiri oleh Olaf dan Sven.
Mereka semua berbicara untuk melepaskan rindu, tapi tak jarang juga ada sedikit pertengkaran antara Serena dan Garland yang akhirnya bisa ditengahi oleh Olaf.
"Ah aku harus ke kamar kecil," gumam Naruto sambil bangkit dari duduknya, ia melangkah keluar dari ruangan.
Naruto berjalan dengan santai, ia sesekali menyapa semua maid yang bekerja, tentu saja mereka membalas sapaan Naruto dengan senyuman.
"Tempat ini sudah berubah, aku tidak merasakan kesedihan lagi." ucap Naruto dalam jalannya, ia juga melihat kearah jendela.
"Ya, semuanya sudah sangat berbeda," balas Kuram, Naruto hanya tersenyum sebagai jawabannya, Kurama sendiri juga hanya menyeringai kecil.
Setelah urusannya, Naruto kembali ke ruangan, tapi kini dengan Kurama yang mengikutinya dalam wujud kecilnya.
Begitu Naruto masuk kedalam ruangan, ia melihat semua orang tersenyum dan tertawa dengan riang, lalu tak lama kemudian Elsa menghampirinya.
"Naruto! apa kita bisa bicara?" tanya Elsa yang langsung menarik tangan suaminya itu keluar, Naruto yang tidak sempat merespon hanya bisa terdiam ditarik Elsa.
Naruto menundukkan kepalanya melihat Elsa, karena perbandingan tinggi mereka yang cukup jauh dimana saat dulu tinggi Elsa mencapai dagu Naruto, kini tinggi Elsa hanya sampai dada Naruto.
"Ada apa?"
"Sebenarnya, Anna menyuruh kita untuk disini sampai akhir tahun, aku belum menerimanya dan menanyakan persetujuanmu."
"Ohh? begitu? kurasa tak apa," balas Naruto dengan santai, lalu ia memegang pinggang kecil itu dan mengangkat Elsa.
Elsa yang diangkat seperti itu hanya bisa memerah malu, "Lagipula kita juga harus sering berkumpul sebagai keluarga besar bukan?" Elsa hanya terkikik geli mendengar ucapan Naruto, karena memang benar jika mereka harus tampak seperti keluarga besar. 'Nampaknya dia benar-benar lupa...'
"Kurasa kau benar,"
Di Malam Hari
Naruto dan Elsa kini berada dikamar Elsa yang masih sama, mereka hanya berdua karena Serena tidur di sebelah bersama dengan Kurama. Elsa sendiri bingung, biasanya putrinya selalu tidur bersama mereka, jadi dia sedikit kebingungan.
Naruto yang melihat istrinya baru keluar dari kamar mandinya hanya bisa meneguk ludahnya, pasalnya kini Elsa mengenakan piyama tidur dengan rambut basah.
"Apa kau memang Dewi?" tanya Naruto spontan.
"Apa yang kau katakan?" tanya Elsa kepada Naruto yang memandangnya.
"Ahh! Lupakan,"
Elsa yang melihat itu menaikan alisnya bingung, ia memutuskan untuk tidak ambil pusing dengan itu dan lebih mengeringkan rambutnya yang masih agak basah.
Naruto lalu teringat sesuatu, ia melihat jam yang yang menunjukkan sudah hampir tengah malam, Naruto diam-diam mengambil sesuatu dan mengendap-endap kebelakang Elsa.
Begitu sampai dibelakang Elsa, Naruto langsung memeluk tubuh kecil itu dengan erat. Elsa yang dipeluk dari belakang oleh Naruto sedikit terkejut, tapi ia membiarkan saja karena mungkin Naruto ingin bermanja-manja padanya.
"Nee Elsa, ada yang ingin kukatakan."
"Apa?"
"Sebentar lagi Natal bukan?"
"Yaa?"
"Lalu tanggal kapan Natal dirayakan?"
"25 Desember bukan? itu 4 hari lagi."
"Berarti sekarang tanggal 21 ya?"
"Tentu?"
"Ohh...,"
"Hmm? kenapa? tumben kau bertanya tanggal?"
Elsa yang merasakan ada yang aneh tentang Naruto berusaha untuk melepaskan pelukan Naruto, tapi sayangnya pria pirang itu memeluknya dengan erat tanpa keinginan melepasnya.
"Naruto? lepaskan aku tidak bisa bergerak."
"Tunggu sebentar,"
Naruto tetap memeluk Elsa lalu ia melihat jam yang sudah menandakan bahwa hari telah berganti.
"Kenapa?"
"Aku hanya ingin jadi yang pertama...,"
Naruto melonggarkan pelukannya, lalu ia memutar tubuh Elsa agar menghadap dirinya.
"Mengucapkan, Selamat Ulang Tahun, Elsa." sambung kalimat Naruto yang sempat terputus tadi, Elsa yang mendengar itu tidak langsung paham dan hanya bisa bingung menatap Naruto.
Elsa melihat jam dan lalu melihat Naruto, ia melakukan itu beberapa kali hingga akhirnya ia sadar.
"Ahhh, ini hari ulang tahun ku." kata Elsa dengan nada yang terkejut, Naruto yang melihat Elsa baru sadar itu hanya tersenyum kecil.
"Sungguh? berarti kita impas bukan?" kata Naruto dengan senyuman, Elsa yang paham maksud Naruto hanya tersenyum kecil melihat kelakuan suami pirangnya ini.
"Ya kita impas," balas Elsa yang langsung memeluk tubuh Naruto, "Terima kasih, Naruto." lanjut Elsa dengan wajahnya yang terkubur didalam dada bidang Naruto.
Naruto membalas pelukan Elsa, ia juga mencium lembut surai putih Elsa. Mereka menikmati momen itu hingga beberapa saat, Naruto langsung melirik pintu kamar mereka.
"Kalian bisa masuk sekarang," kata Naruto yang langsung tiba-tiba pintu kayu kamar mereka terbuka, terdapat sosok Anna yang memegang Kue ulang tahun bersama Kristoff dan Garland, Serena juga berada disamping mereka, tapi langsung berlari kearah Elsa dan Naruto. Dibelakang mereka ada Olaf dan Sven yang membawa beberapa barang aneh.
Naruto melihat Serena yang memeluk ia dan Elsa langsung menggendong putrinya.
"Selamat ulang tahun Mama!" teriak Serena dengan semangat, Elsa langsung mencium anak perempuannya.
"Terima kasih sayang," balas Elsa.
"Apa Mama terkejut?" tanya Serena polos, Elsa yang melihat itu tersenyum.
"Tentu saja, Mama terkejut sekali." balas Elsa yang membuat raut wajah Serena makin bahagia.
"Papa! kita berhasil mengejutkan Mama!" kata Serena kepada Naruto dengan semangat
"Tentu saja! rencana yang Serena buat sangat hebat! hehe." balas Naruto kepada putri kecilnya.
"Selamat ulang tahun untukmu, Elsa!" ucap Anna yang langsung memeluk Elsa, tentu saja Elsa membalas pelukan saudarinya itu.
"Terima kasih, Anna." ucap Elsa.
"Selamat ulang tahun, Bibi Elsa." ucap Garland dengan nada sok acuhnya, Elsa yang melihat tingkah keponakannya itu malah lucu sendiri.
"Terima kasih, Garland." balas Elsa sambil mencium pipi Garland dan mengelus rambutnya, sedangkan Garland malah tampak malu.
"Heh~ Garland bisa malu juga?" celetuk Serena tiba-tiba, apalagi ia juga menggunakan nada mengejek.
"Apa-apaan itu!? aku tidak malu!" teriak Garland tidak terima, sedangkan Serena tampak tak percaya.
"Lalu? kenapa wajahmu memerah?" tanya Serena dengan nada dibuat-buat, Garland masih berusaha untuk membantahnya.
"Aku memerah hanya karena dingin!" elak Garland, tapi tampaknya Serena tidak terlalu peduli, karena terlihat ia kini sedang asik memainkan rambut Naruto. Tentu saja kelakuan Serena semakin membuat Garland marah.
"Tenanglah, kau tidak ingin mengacaukan acara ulang tahun Bibi mu bukan?" kata Kristoff yang menahan Garland, sedangkan bocah itu tampak masih kesal.
Semua yang melihat itu langsung tertawa, karena melihat pertengkaran Garland dan Serena mengingatkan mereka tentang masa-masa indah.
Kini kamar Naruto dan Elsa sudah sepi, meskipun sedikit berantakan karena tadi.
Anna, Kristoff, Olaf dan Sven sudah kembali ke kamar mereka, karena Garland yang sudah tertidur, sedangkan di kamar Naruto terdapat Serena yang tidur dengan pulas di kasur.
Naruto dan Elsa yang melihat itu hanya tersenyum, lalu mereka juga berbaring dengan Serena yang berada di tengah-tengah mereka.
"Apa ini rencananya?" tanya Elsa sambil mengelus rambut putri kecilnya itu, Naruto menoleh kearah Elsa.
"Ya, sedikit buruk bukan?" balas Naruto dengan pelan, karena sebenarnya pesta ini juga adalah keinginan dari Serena.
"Ya, cukup buruk, tapi aku senang melihatnya bahagia." balas Elsa dengan pandangan sendu.
Keheningan terasa selama beberapa detik, Naruto dan Elsa sama-sama tidak ingin membuka suaranya dan lebih memilih untuk melihat Serena yang tertidur dengan pulas.
Lalu Naruto seakan teringat sesuatu, ia merogoh sesuatu di sakunya.
"Elsa! karena kurasa aku bukan pria yang romantis, jadi aku hanya bisa memberikanmu ini." kata Naruto sambil memperlihatkan sebuah kalung dengan bentuk rubah berekor sembilan yang hampir mirip Kurama, tapi berbeda karena warnanya yang putih bukan oranye seperti Kurama.
"Ini?"
"Sebenarnya aku membeli sepasang," kata Naruto sambil memperlihatkan kalung yang sama, tapi berwarna oranye yang lebih tampak mirip Kurama, "Aku hanya sedikit berpikir, bagaimana jika kita memiliki barang yang sama." lanjut Naruto sambil menggosok belakang kepalanya, sedangkan Elsa yang melihat tingkah Naruto hanya tersenyum kecil.
Elsa mengambil kalung itu, lalu duduk dan melihat kalung itu dengan seksama, ia merasa bahwa desainnya cukup lucu, hingga ia matanya terarah pada cincin yang pernah Naruto berikan padanya.
"Aku menyukainya, jadi bisa kau tolong aku mengenakan ini?" tanya Elsa, Naruto langsung bangkit, Naruto langsung memasangkan kalung itu ke leher putih Elsa.
"Kau suka?" tanya Naruto kepada Elsa, posisi mereka masih dimana Elsa membelakangi Naruto dengan rambut yang di arahkan kesamping hingga memperlihatkan leher putih itu.
"Tentu, terima kasih, Naruto." balas Elsa yang langsung menyenderkan tubuhnya, Naruto langsung memeluk tubuh kecil itu dengan senang.
Mereka tetap dalam posisi itu hingga beberapa saat, tapi tiba-tiba Naruto mencium leher putih Elsa dan dengan sengaja meninggalkan bekas merah di leher putih itu.
Elsa yang merasakan Naruto memberinya tanda, langsung melepaskan dirinya dari Naruto.
"Apa yang kau lakukan!"
"Apa? aku hanya ingin mengambil hadiah ku saja." balas Naruto santai, Elsa langsung membalikkan badannya hingga ia kini berhadap-hadapan dengan Naruto yang sedang tersenyum rubah.
"Kau bisa membuat Serena bangun bodoh!"
"Dia tidak akan bangun, jika kau tidak membuat suara yang keras...," jawab Naruto.
"Ap-!!" apapun yang ingin Elsa katakan, sepertinya ia harus menelan kembali ucapannya itu.
Karena kini Naruto mencium dirinya tepat di bibirnya, awalnya hanya ciuman biasa tapi lama kelamaan Naruto mulai bermain dengan lidahnya, bahkan Naruto mengigit bibir bawah Elsa untuk meminta akses untuk masuk.
Elsa awalnya tidak mau membuka mulutnya, tapi karena sempat lengah Naruto berhasil memasukkan lidahnya dan mengajak lidah Elsa untuk ikut bermain, lidah mereka saling menjilati satu sama lain, bahkan ada lelehan liur di sudut bibir Elsa yang menunjukkan kebrutalan Naruto dalam menciumnya.
Tak berhenti disitu Naruto menjelajahi mulut Elsa, ia mengabsen deretan gigi putih Elsa dan sesekali menggoda lidah Elsa untuk ikut berdansa dengan lidahnya. Ciuman itu terus berlanjut dengan Naruto yang mendominasi, tapi jika ada awal maka ada akhir.
Ciuman panas itu akhirnya terhenti karena keduanya butuh pasokan udara atau Elsa yang sudah tidak kuat, terlihat sebelum benar-benar berpisah Naruto lidah Naruto masih sempat menggoda lidah Elsa yang terjulur keluar dan menyisakan benang saliva, Elsa yang merasakan itu hanya bisa diam dengan wajah memerah karena meskipun sudah menikah dengan Naruto ia masih sedikit kesulitan untuk mengimbangi Naruto.
"Lihat? Serena tidak akan bangun jika kau tidak membuat suara." kata Naruto dengan nada menggoda.
Elsa yang masih memerah itu merasakan nafsunya masih menggebu-gebu, tanpa pikir panjang Elsa langsung menerjang Naruto dan menindih perut keras Naruto, raut wajah Elsa terlihat masih merah dan bernafsu.
"Heh? bukankah kau tidak ingin Serena bangun? lalu sekarang kau mau apa? hmm?" tanya Naruto dengan nada menggoda.
"Persetan!" balas Elsa yang langsung mencium Naruto kembali dengan ganas.
End :v
Author Note : Yoo bagaimana kabar kalian? oke disini saya hadir karena kebetulan tanggal 22 atau 21 itu ulang tahun Elsa, jadi saya membuat ini dan semoga kalian suka.
Lemon? kalian bisa menggunakan bayangan kalian sendiri untuk adegan diatas :v
Oke See You Next Time!
Adiue!!
