"Makasih, ya!"

Tsukishima menaikkan kaca mobilnya selepas dadah-dadah dengan Shibayama begitu gadis itu melenggang masuk rumah. Kageyama duduk di jok depan, sudah separuh tidur. Kalau ia diam begitu sebetulnya lumayan damai, tapi Tsukishima malah justru tidak kerasan. Suasananya canggung sekali.

"Oi, ou-sama..."

Kageyama tidak membalas.

Tsukishima mendengus. "Kageyama!"

Pemuda jangkung itu terlonjak bangun. "Haah?!"

"Oh, masih ada orangnya toh. Kupikir udah turun duluan tadi."

"Diam. Aku laper soalnya."

"Kan tadi makan sebelum pulang."

"Paket bento sekecil itu cuma ngotor-ngotorin gigiku doang. Mana ganjel?"

"Ceking-ceking begitu makanmu banyak juga."

"Kau juga ceking gepeng kayak talenan." Kageyama merutuk.

"Kalau aku seksi kayak Akaashi-san, mending debut jadi artis bokep, kali."

"Jangan salah. Artis bokep cewek yang tepos lebih laris, lho. Sensasinya beda gitu."

Tsukishima melirik dengan tatapan tidak percaya. "Kupikir kau ini cowok bodoh yang nggak tahu apa-apa."

"A... a... aku kan cowok normal." Kageyama bersemu, membuang muka saat sadar apa yang baru saja diucapkannya. "Emangnya nggak boleh?!"

Tsukishima tiba-tiba tertawa keras. "Jujur banget, sih. Dasar bodoh."

Hening. Kageyama melirik Tsukishima yang tengah mengganti perseneling mobil. Jarang ada anak kelas 1 yang bawa mobil ke sekolah. Biasanya anak-anak cowok, dan belagunya luar biasanya. Tapi Tsukishima tampaknya tidak demikian. Sombongnya si cewek pirang jangkung itu ada di bidang lain sepertinya. Cara mengemudinya sudah luwes. Mungkin ia sudah lumayan mahir juga.

"Apa lihat-lihat?" Desisnya kesal. "Mau kucongkel matamu?"

Kageyama kembali membuang muka. Tsukishima meminggirkan mobilnya di salah satu cafe kecil yang tampaknya tidak begitu ramai.

"Heh, kita belum sampai. Kalau nganterin yang niat, dong!" Omel Kageyama.

"Dikira nyetir itu nggak capek, apa?" Tsukishima balas mengomel. "Aku mau ngemil dulu sebentar. Ikut, nggak?"

"Kan tadi makan sebelum pulang." Gumam Kageyama.

"Yaudah kalau nggak mau ikut. Pulang sendiri sana."

Kageyama tidak bisa mengelak. Ia menuruti Tsukishima memasuki cafe tersebut. Seorang pelayan laki-laki menyambut mereka sambil menyodorkan dua buku menu.

"Shortcake 2, minumnya iced caramel latte." Tsukishima menjatuhkan pesanannya.

Kageyama tampak membalik-balik buku menu dengan semangat. Mata sipitnya yang biasanya sangar kini berbinar-binar. Raut wajah garangnya melunak, tampak senang seperti bocah diajak main ke taman ria. Tsukishima cukup tercengang mengetahui bahwa Kageyama bisa berwajah seperti itu juga.

"Tonkatsu kare." Ucapnya.

"Sudah sepaket dengan es teh, ya." Si pelayan mencatat pesanannya. "Ada lagi?"

Tsukishima menggeleng. Si pelayan melenggang pergi membawa buku menu yang dipresentasikan sebelumnya. Tidak ada obrolan diantara keduanya. Tsukishima pun enggan mengajak 'sang raja' berbasa-basi busuk. Begitu pesanan mereka datang, Tsukishima cukup terkesan dengan presentasinya. Ia bahkan menangkap tangan Kageyama yang sudah pegang sendok, siap untuk menghajar makanannya.

"Nanti dulu!" Tsukishima mencegah. "Foto dulu."

"Ah, elah! Laper nih!" Rengek Kageyama.

"Bentar doang. Tahan lapar sedikit nggak bikin mati, kok."

Tsukishima merogoh ponselnya, memotret kue pesanannya. Kemudian ia menggeser objeknya ke tonkatsu kare milik Kageyama. Dalam piring besar itu nasinya sedikit, dicetak berbentuk oval. Ada gundukan salad warna-warni yang ditata cantik. Tonkatsu garing yang sudah diiris diguyur saus kare berkilauan. Dari pantulan kamera ponselnya, Tsukishima bisa lihat Kageyama bertopang dagu dan memperbaiki lesung senyumannya. Gadis tinggi berkacamata itu tertegun beberapa saat.

Apa-apaan mukanya itu?

"Ou-sama, yang kufoto cuma kare-mu kok. Jangan kepedean gitu, dong." Celetuk Tsukishima dengan senyum menghina. Padahal ia menangkap dua kali pose si kawan menyebalkan dalam pose senyum lembut itu. Bahan meme untuk disebar di grup mukre kalau-kalau Kageyama membuatnya kesal.

Kageyama mengumpat dan menarik piringnya, makan sesuap sambil memberengut. Ekspresinya berubah perlahan dalam setiap kunyahan. Ia menatap piringnya lekat-lekat sambil mengulum sendok.

"Nggak seenak penampilannya, ya?" Terka Tsukishima.

Kageyama menggeleng. Ia makan semakin lahap. "Henyak. Henyak bhanged!"

Tsukishima tidak suka makanan berat dengan lauk gorengan. Makanan bertipe begitu bisa membuat perutnya mual. Namun cara makan Kageyama membuatnya penasaran. Tsukishima yang tadinya tengah menyantap kue mengulurkan garpunya untuk mencicipi makanan Kageyama.

"Dame!" Omelnya.

"Pelit banget." Tsukishima mendecih.

"Garpumu kan bekas kue. Nanti kare-ku manis nggak karuan rasanya!" Kageyama mengoper garpu yang tadinya ia gunakan. "Nih, pake garpu yang ini aja."

Tanpa protes, Tsukishima menurutinya. Kageyama benar, rasa tonkatsu kare-nya enak sekali. Tsukishima mengambil suapan kedua dan ketiga, lalu meletakkan garpunya di pinggir piring Kageyama.

"Pesan aja kalau mau." Gumamnya tanpa menoleh.

"Aku nggak akan sanggup makan sebanyak itu." Tsukishima menggeleng.

Kageyama mengoper piringnya mendekati Tsukishima.

"Tidak usah, makasih." Tsukishima menggeleng. "Itu kan milikmu."

"Makan sebanyak yang kau sanggup. Aku habiskan sisanya."

"Nggak masalah makan bekasku?" Tanya Tsukishima dengan alis terangkat sebelah.

"Aku sering makan sepiring berdua Hinata. Kadang aku langsung gigit saja jajanannya." Jawab Kageyama polos.

"Nggak jijik?"

"Kalo sesama teman kita nggak boleh jijikan, kan?" Ujar Kageyama.

Tsukishima menaikkan kedua alisnya dengan ekspresi yang seakan mengatakan 'orang sepertimu bisa berkata begitu juga?'

"Kupikir kau ini bocah songong sok tampan yang nggak ngerti tata krama." Ujar Tsukishima sambil menyantap beberapa suap kare lagi.

Kageyama kembali mencebik. Ia menarik pelan-pelan piring kare-nya menjauhi Tsukishima dan kembali makan sambil setengah merajuk. Tsukishima tertawa terpingkal-pingkal melihat perubahan mood Kageyama. Sikap kekanakannya lucu juga. Pantas saja kadangkala Hinata, Sugawara, Shibayama, Oikawa atau Atsumu selalu menjahili Kageyama saat latihan mukre. Bahkan Atsumu dan Oikawa selalu menggoda dan mengusili cowok muram berambut legam itu sampai ia menjaga jarak sejauh mungkin dari dua kakak kelas laknat itu. Pasalnya mereka tidak akan puas kalau wajah Kageyama belum kusut—campuran antara malu, marah dan menahan tangis. Kalau saja Tsukishima tidak lihat sifat aslinya duluan, mungkin ia bisa ikutan bergabung sebagai tim sukses menjahili Kageyama.

"Gitu doang ngambek..." Sergahnya sambil meredakan tawa. "Kau pasti anak bungsu, ya."

"Sok tau." Jawabnya cepat.

"Benar, kan?" Alis Tsukishima meliuk-liuk jahil. "Hayo ngaku."

Kageyama mengangguk kaku. "Nee-san umurnya jauh denganku. Jadi sampai sekarang aku selalu dijahili. Kami hampir setiap hari berkelahi."

"Kalian nggak akur?"

Kageyama menggeleng. "Bukan gitu. Dia pasti marah kalau aku nggak mau tidur dengannya."

"Memangnya kenapa kau nggak mau tidur dengan kakakmu? Bukannya enak tidur pelukan sama cewek?" Balas Tsukishima.

"Nee-san kalau malam suka kebangun tiba-tiba gitu. Dan nggak akan bisa tidur lagi sebelum dipeluk dan dielus-elus kepalanya."

"Dan dia akan terus membangunkanmu untuk kelonan kalau dia terbangun malam-malam?"

Kageyama mengangguk.

"Sulit juga kalau kakakmu needy gitu. Gimana nanti kalau dia kerja atau kuliah?"

"Dia kan nggak tinggal terpisah dengan kami." Balas Kageyama. "Kadang aku capek banget dan ngantuk banget, tapi dia selalu begitu."

Tsukishima tidak membalas. Ia menghabiskan kue pertamanya, lalu kue keduanya. Kageyama sudah selesai makan, cuma menyesap es tehnya sambil setengah melamun.

"Oi..." Kageyama menggumam. "... makasih."

"Buat apa?" Tanya Tsukishima.

"Sudah diajak jajan. Dikasih tumpangan pulang juga." Kageyama menunduk.

Tidak ada balasan dari Tsukishima. Mereka membayar tagihan masing-masing dan berkendara dalam diam. Kepala Tsukishima kosong, ia tidak memikirkan hal-hal selain petunjuk arah rumah Kageyama yang didapatnya dari maps. Rintik-rintik hujan dan gerakan wiper cukup membuat cowok bongsor muram itu tertarik. Mata steel blue-nya mengikuti goyangan wiper ke kanan dan ke kiri. Tsukishima meminggirkan mobilnya tepat di depan Lawson di daerah Tsubakihara.

"Mau kuantar sampai depan rumah? Masih gerimis." Tanya Tsukishima. "Yang mulia raja kan nggak boleh sakit. Utuk utuk utuk~"

"Aku nggak bakalan sakit karena kena hujan, jerapah brengsek." Rutuk Kageyama. "Aku dari kecil selalu main hujan-hujanan."

"Nggak demam?"

Kageyama mengggeleng.

"Bukan manusia." Tsukishima membuka lock mobilnya. "Ya sudah kalau begitu."

Kageyama mengangguk. Ia mengecek barang bawaannya sebelum turun dari mobil Tsukishima. Ia melangkah dengan santai menembus gerimis dan hilang di salah satu belokan gang. Tsukishima memutar balik dan melajukan mobilnya pulang ke rumah.


DRRRT DRRTT

Hinata yang baru saja membantu ibunya membersihkan rumah dikagetkan dengan suara getar ponsel Atsumu di meja dekat televisi. Hinata menaruhnya disana, mengisi daya baterainya juga karena kebetulan si kakak kelas membawa charger di tasnya. Si pemilik ponsel masih mendengkur pulas di balik timbunan duvet di atas sofa. Natsu pergi dengan ayahnya ke pasar.

DRRT DRRRT

Hinata mengetuk layar ponsel tersebut. Di kontaknya tertulis nama SAMU, lalu panggilan terputus. Notifikasi menunjukkan ada 30 panggilan tak terjawab dari nomor tersebut. Tidak lama, nomor tersebut menelpon lagi. Hinata menggeser layar dan memutuskan mengangkatnya.

"Tsumu bajingan kau dimana?! Ayah murka karena kau tidak pulang semalam dan aku nggak bisa buat alasan karena aku nggak tahu kau kemana! Sudah tahu badai besar, sampai pagi malah kelayapan!"

Hinata cukup terkejut mendengar ucapan si adik kembar kakak kelasnya.

"Ha..halo..." jawab Hinata. "I...ini kakak pacarnya Akaashi-san, ya? A... Atsumu-san ketiduran di rumahku selepas mengantarku."

"Hah, ini siapa?!" Suara itu masih menghardik. Lalu terdengar suara tarikan nafas. "Oh, kau anak Karasuno, ya."

"Iya." Jawab Hinata takut-takut. "A... Atsumu-san kena demam. Semalaman batuk-batuk, meriang, ingusan dan suara dengkurnya aneh. Orangtuaku memintaku untuk tidak membangunkannya."

"Dia sudah bangun, belum?"

"Belum."

"Coba cari di tasnya. Tsumu selalu bawa dompet obat, warna hijau pastel. Bangunkan dia, terus kasih obat itu."

"Oke." Jawab Hinata.

"Kirimkan lokasimu. Aku akan menjemputnya disana setengah jam lagi."

"Baik, terima kasih."

Hinata mencari dimana ibunya menyimpan tas Atsumu. Pemuda pirang itu bawa ransel kecil tahan air yang isinya charger, parfum, botol minum, dompet, dua batang coklat dan sebuah pouch kecil berwarna hijau pastel. Hinata membukanya dan melihat strip-strip obat beraneka macam. Ada juga botol semprot panjang aneh dan botol lain dengan pipet. Aneka obat-obatan itu membuatnya ngeri. Entah Atsumu punya penyakit khusus atau dia terlihat seperti pecandu. Hinata lalu memutuskan membangunkan si kakak kelas.

"Atsumu-san..." Hinata mengguncang pelan tubuh jangkung itu. "Ohayou..."

Mata chesnut itu mengerjap pelan, lalu terbuka sayu. Hinata tersenyum lembut begitu Atsumu beringsut di dalam duvet.

"Jam berapa?" Tanyanya lesu.

"Jam setengah 7."

"Malam?"

"Pagi."

"Yaba—!" Atsumu terlonjak bangun. Duvet menggelincir turun dari dadanya. Ia menoleh ke segala arah dan melihat Hinata yang duduk di lantai menungguinya bangun. "... aku nginep disini?"

"He'eh." Hinata mengangguk. "Atsumu-san sakit soalnya. Ayahku bilang jangan dibangunkan."

"... sou..." Atsumu membungkuk, mengurut pangkal hidungnya; celah tipis diantara hidung dan matanya.

"Kembaranmu menelpon. Dia bakalan jemput kesini." Ujar Hinata sambil memberikan dompet obat Atsumu. "Katanya aku disuruh memberikan obatmu."

Atsumu menyambarnya dengan panik, mencari-cari sampai akhirnya mengambil botol semprot panjang. Ujungnya ia jejalkan ke lubang hidung, disemprotkan beriring bunyi sedotan kasar. Atsumu mendongak dan pelan-pelan merebahkan dirinya lagi, ada suara tercekat sumbang dan batuk-batuk pedih sebelum desahan nafas lega.

"Atsumu-san sakit apa?" Tanya Hinata khawatir. "Padahal kelihatannya sehat."

"Mmmm..." Atsumu melambai lemah, mematahkan argumen Hinata. "Sinusitis kronis dan alergi dingin ekstrim."

"Ayahku sempat berpikir begitu juga." Hinata menggumam. Ia meraih tangan Atsumu dan mengembalikan botol yang tadi digunakannya. "Ayahku bilang mungkin Atsumu-san nggak tahan dingin."

Atsumu berbaring miring. Ia mencolek lembut dagu Hinata. "Tapi aku senang. Bangun tidur liat bidadari."

"Tsumu-san nggak sakit, berarti. Masih bisa ngegombal." Hinata mencebik meski pipinya memerah.

"Beneran sakit." Atsumu membalas dengan suara sengau. "Aku bahkan nggak bisa bangun... "

"Kubuatkan teh panas, ya. Mau sarapan bubur biar hangat?" Tanya Hinata lembut. "Atau mau sup miso aja biar mudah makannya?"

"Apa saja boleh, terserah." Atsumu mengulum senyum. "... sankyuu."

Ayahnya dan Natsu pulang tak lama kemudian. Atsumu berusaha bangkit dan merapikan duvet yang dihamparkan untuknya semalam. Ibunya Hinata menggelar makan pagi di ruang tengah agar mereka bisa makan sama-sama. Natsu naik ke sofa dan memeluk lengan Atsumu.

"Otou-san, kalau Natsu kasih chuu kakaknya sembuh, nggak?" Tanya si bungsu Hinata. "Sho-chan kalau sakit Natsu chuu chuu terus langsung sembuh~"

"Makan pagi dan minum obat yang membuat Atsumu-san sembuh. Tidak sopan. Minta maaf, Natsu." Omel Hinata.

"Daijobu." Atsumu tertawa sumbang karena tenggorokannya bengkak dan hidungnya tersumbat. "Natsu mau chuu? Sini."

Atsumu mendekatkan pipinya ke wajah Natsu dan membiarkan gadis kecil itu menciumnya.

"Uwaaaaa!" Natsu terperanjat. "Pipinya Atsu-nii dingin kayak lantai!"

"Heh, makan sarapanmu! Jangan ganggu Atsumu-san." Hinata menggendong adiknya menjauhi Atsumu dan mengembalikannya ke posisi semula. "Maafkan dia, Atsumu-san. Silahkan makan sarapanmu."

"Tidak usah terlalu formal. Aku yang harusnya minta maaf karena sudah menyusahkan kalian." Atsumu turun duduk di lantai, mengucap ittadakimasu sebelum menyesap sup miso yang gurih dan panas.

"Kau pasti kerepotan kalau pergantian musim ya, nak Atsumu?" Tanya ayahnya Hinata. "Tapi bergantung dengan tablet dan nasal spray tidak baik untuk jangka panjang, lho."

Atsumu mengerjap bingung dan memandang Hinata. Tentu saja ia terkejut dengan ucapan barusan.

"Ayahku ini dokter THT, Atsumu-san." Terang Hinata.

"Kami tidak tahu kalau kau bekal obat. Kami tidak pernah stok obat keras. Cuma vitamin, obat penurun panas, sirup obat batuk dan tablet lambung." Ayahnya Hinata menambahkan.

"Eh? Semua obatnya Atsumu-san itu obat keras?" Hinata terkesiap.

Ayahnya Hinata mengangguk. "Setidaknya, harus dengan resep dokter."

"Ah, badanku kadang-kadang rewel." Atsumu tersenyum getir. "Obat-obatan itu buat jaga-jaga aja."

"Atsumu-kun kakkoi, naa..." ibunya Hinata menggumam. "Rela menembus badai deras naik motor biar Shoyo nggak pulang kemaleman. Padahal dia tahu dia pasti sakit kalau kehujanan."

"Lagian mau neduh juga kami sudah keburu basah." Jawab Hinata diplomatis, meski dadanya bergemuruh tak karuan mendengar kalimat itu dari ibunya. Kalau tahu akibatnya begini, Hinata berpikir mending minta diantar Tsukishima saja. Tidak masalah jika cuma sampai sekolah, orangtuanya bisa menjemputnya lagi nanti. Ia merasa bersalah karena penyebab Atsumu sakit adalah karena pemuda pirang itu memaksakan diri mengantarnya.

"Kakkoi!" Natsu mengacungkan jempolnya. "Kayak pangeran!"

"Maji?" Atsumu terkekeh mendengar ucapan Natsu. "Kalau Atsu-nii pangerannya, Natsu jadi tuan putrinya, ya?"

"Iia da!" Natsu menggeleng keras. "Natsu itu Athena,Sho-chan itu naga! Tsuwabuki jadi angsa. Toshi jadi pegasus. Watacchi jadi phoenix!

Atsumu melongo, menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Kalian main roleplay apa kalau lagi dirumah, sih?"

"Saint Seiya." Jawab Hinata kalem. "Teman sebayanya Natsu di komplek ini cowok semua. Jadi dia mainnya begitu."

"Natsu nggak suka shirayuki hime, rapunzel atau frozen?" Tanya Atsumu bingung.

"Natsu juara mendongeng waktu TK, Atsu-nii! Natsu suka baca shirayuki hime, tiga babi kecil, pangeran kodok, putri duyung, Momotaro, dan macam-macam~"

Atsumu terenyuh dengan semangat dan sikap aktif Natsu. Ia mencuil-cuil pipi gadis itu dengan gemas.

"Shoyo, adikmu kubungkus untuk dibawa pulang, ya." Atsumu menarik Natsu dalam pelukannya. "Barter sama adikku yang udah nggak lucu lagi."

"Adikku bukan yakisoba, enak aja bungkus-bungkus." Hinata tertawa.

"Tante," gumam Atsumu. "Kalau nggak boleh bungkus Natsu, boleh kakaknya aja yang kubungkus untuk dibawa pulang? Ibuku bilang kalo pulang kerumah bawa oleh-oleh, gitu. Misalkan menantu yang model-modelnya kayak Shoyo."

Ayah dan ibunya Hinata terbahak-bahak mendengar ucapan Atsumu. Hinata mendadak manyun dengan wajah memanas. Ia mencubiti lengan Atsumu yang masih tertawa guna menutupi salah tingkah.

"Boleh juga kau nak Atsumu!" Ayahnya Hinata tergelak.

"Biasanya cowok ganteng yang mulutnya licin begini pacarnya banyak, nih." Timpal ibunya Hinata.

"Emang!" Balas Hinata sengit.

"Habis Shoyo belum mau sama Tsumu, sih." Atsumu memasang pose menangis palsu. "Padahal kalau sama Tsumu, apapun maumu aku ladeni..."

TOK TOK TOK!

Suara gedoran pintu terdengar membelah canda tawa pagi mereka. Ibunya Hinata beranjak bangun dan membukakan pintu. Miya Osamu datang dengan nafas terengah-engah dan raut wajah putus asa.

"Permisi. Maaf mengganggu." Ujarnya terbata-bata. "Aku Miya Osamu. Aku mau menjemput saudaraku. Dia bilang dia menginap disini."

"..." ibunya Hinata mengerjap sejenak. "...wah, Atsumu-kun ada dua!"

Osamu membuka bibir hendak menjawab tetapi ibunya Hinata mempersilahkannya masuk. Osamu digiring menuju ruang tengah dimana si adik kembar langsung menerjang Atsumu, memberinya pelukan erat dengan pundak bergetar.

"...aku sudah berpikir yang tidak-tidak..." katanya. "Kupikir kau ketabrak atau apa...kalau kau kumat mendadak dan nggak ketolong gimana..."

"Cup. Cup..." Atsumu menimang adiknya dan melepaskan pelukan.

"Pusing, sesak, mimisan?" Osamu memeriksa wajah kembarannya. Ia membelai kening Atsumu. "Sempat pingsan?"

"Ih, over protective banget jadi adik. Aku jadi cinta..." Atsumu menyeringai.

Osamu mencengkram kuat-kuat pipi kembarannya. "Refund kekhawatiranku tiga menit yang lalu, dasar kembaran tidak tahu diri."

"Bwoh bwoh bwwooohhh!" Atsumu mengelak panik dari cengkraman adik kembarnya.

"Maafkan saudaraku yang sudah menyusahkan kalian." Osamu menunduk dan menundukkan kepala Atsumu juga.

"Apa kau juga punya kondisi yang sama dengan kembaranmu?" Tanya ayahnya Hinata.

Osamu menggeleng. "Tadinya kami berpikir jangan-jangan Tsumu itu mengidap asma. Tapi keluarga kami tidak punya riwayat asma."

"Asma tidak harus selalu dari keturunan, meski itu faktor utamanya." Balas ayah Hinata. "Sejak kapan kau tahu kalau kau itu sinusitis, nak Atsumu?"

"Waktu masuk SMP." Ujarnya. "Aku di opname di musim dingin kala itu."

"Iya, waktu itu kau bilang pada ayah dan ibu karena kedinginan, ingusmu beku di dalam, kan?" Osamu tertawa. Ia mengucapkan terima kasih ketika ibunya Hinata menyodorkan segelas teh panas.

"Masa, sih?" Hinata terperangah.

Osamu mengangguk. "Tidak lama setelah dia bilang begitu, Tsumu tersungkur jatuh. Wajahnya ungu dan hidungnya berdarah. Dia tidak bangun hampir 2 hari saat di opname."

"Makanya Osamu-san langsung datang menjemput?" Hinata menerka.

"Bocah semaput begini mana kuat bawa motor?" Osamu menoyor kepala Atsumu yang merebah manja di pundaknya. "Kalau nabrak orang dan kami harus ganti rugi bagaimana?"

"Kau tidak khawatir padaku, kau khawatir pada motorku, dasar sialan!" Rutuk Atsumu.

"Nah, adiknya Atsumu sudah susah-susah kesini. Makan dulu sebelum kalian pulang, ya?"


"Sst, sst..."

Hinata menoleh, mencari sumber suara diantara kerumunan.

"Sunshine..."

Gadis berambut ginger itu menoleh, melihat Hoshiumi yang tersenyum jahil padanya. Kelas Hinata baru kembali dari laboratorium kimia dan berpapasan dengan kelasnya Hoshiumi yang hendak memulai kelas olahraga. Hinata tersenyum manis dan balas melambai. Namun senyumnya memudar ketika yang membalas lambaiannya malah Atsumu dan Futakuchi ditambah tanda hati, kissbye dan kedip-kedip genit. Oh, iya. Mereka bertiga kan satu kelas. Hinata mengerenyit canggung dan memilih langsung balik kanan. Berbekas di benaknya senyum jahil Hoshiumi yang terlihat begitu manis. Ah, sialan. Kalau tidak ada dua senpai itu Hinata sudah memotret ekspresi si Patrick tadi.

Sejujurnya, belum ada kemajuan yang berarti dari hubungan Hinata dan Hoshiumi. Sudah dua minggu Hoshiumi tidak menghubunginya, dan chat terakhirnya juga cuma balas-balasan perang stiker dan Hinata yang tidak membalasnya. Ia sibuk dengan persiapan ujian tengah semester. Dan juga keasyikan main sama Natsu sepulang sekolah. Akhir pekan lalu begitu melelahkan sampai ia tidak lagi melirik partitur barunya. Apalagi kemarin Atsumu terkapar sakit dan terpaksa bermalam di rumah Hinata.

Bicara soal Atsumu, Hinata lagi-lagi dititipi amplop merah muda untuk si sulung Miya dari teman sekelasnya. Kharismanya nggak main-main memang. Fakta kalau Atsumu itu tukang gonta-ganti pacar memang sudah terbukti dan aneh mengetahui bahwa fansnya tidak kunjung surut, malahan bertambah. Awalnya Hinata berpikir Atsumu adalah cowok pendiam misterius yang penuh muslihat. Meskipun dia memang penuh muslihat, nyatanya Atsumu cuma sekedar temperamental dan agak kolokan. Hinata bahkan tidak memikirkan apa-apa ketika menyelipkan amplop itu ke dalam loker si kakak kelas. Toh statusnya dia kan cuma kurir.

Tunggu dulu.

Bukankah Hinata juga bisa melakukan hal yang sama pada Hoshiumi? Tipe cowok sepertinya pasti bisa kejang-kejang kegirangan kalau dapat surat cinta. Tapi apa yang harus Hinata tulis di sana? Apakah saling modus minta diajari bernyanyi tidak cukup untuk membuat mereka jadi dekat dan akrab? Dari beberapa respon Hoshiumi, tampaknya ia juga punya perasaan yang sama dengan Hinata.

Haruskah dia menulis surat cinta juga untuk Hoshiumi?


TRING!

[kageyama]: oi bokke kau dimana? Ayo bikin lagu angkatan. Langsung ke parkiran aja.

Hinata berjalan menuju area parkiran begitu mendapat chat langsung dari Kageyama. Disana, semua anak kelas 1 berkumpul di depan mobilnya Tsukishima. Yachi melambai-lambai dan Hinata menghambur memeluknya. Shibayama dan Sakunami juga dapat peluk. Lev menangkap Hinata dan memeluknya dengan paksa sambil tertawa. Tetapi Hinata langsung beringsut menjauh ketika Tsukishima memelototinya dengan tatapan jijik.

"Kita mau latihan di rumahnya Yuuki. Ayo, ikut." ajak Yachi. "Rumahnya toko kue tradisional, lho!"

"Apa hubungannya toko kue dan lagu angkatan?" tanya Tsukishima bingung.

"Rumahnya Yuuki paling dekat." ujar Lev lagi. "Yuuki, punya yomogi mochi nggak?"

"Ada, tapi tidak banyak stok soalnya sebentar lagi musimnya habis." Shibayama tertawa. "Lagian, jarang ada anak muda yang doyan yomogi mochi."

"Ya sudah kalau mau latihan, ngobrolnya di mobil aja." Tsukishima melenggang masuk ke dalam mobil dan duduk dengan nyaman.

Koganegawa dan Sakunami berboncengan mesra naik motor. Hinata duduk di jok belakang bersama Yachi, Shibayama dan Lev. Kageyama sudah dengan angkuhnya duduk di depan seakan-akan Tsukishima adalah supir pribadinya.

"Minggu depan sudah latihan gabungan lagi." Lev mengeluh. "Capek banget nggak sih, latihan yang kemarin?"

"Banget!" Hinata, Yachi dan Shibayama menjawab serempak.

"Kalian harus terbiasa. Kalau kita ikut lomba paduan suara, tingkat stressnya bisa lebih gila lagi." gumam Kageyama.

"Kakiku mau lepas rasanya terus-terusan berdiri waktu latihan." keluh Lev lagi. "Sepanjang jalan pulang, Hoshiumi-senpai masih kuat karaokean!"

"Idih." Tsukishima mengerenyit ngeri.

"Ih, tapi seru banget sih Hoshiumi-senpai nyanyinya. Bokuto-senpai juga ikutan nyanyi tapi suaranya udah nggak karuan." gumam Lev. "Aku sampe nggak jadi tidur, tapi mau ikutan nggak ada tenaga."

"Iya, iya. Aku lihat di instastory-nya Iwaizumi-san!" sambung Hinata. "Pengen nggak sih, bikin carpool karaoke gitu?"

"Ayo, ayo!" Yachi, Shibayama dan Lev menyahut bersamaan.

"Gimana mau bikin carpool karaoke? Rumahnya Shibayama habis belokan simpang lima itu, tahu." sanggah Tsukishima.

"Ayolah, Tsukki. Nanti ambil belokan ke kanan, lurus dan ambil kiri di lampu merah kedua. Itu jalan putar balik sebetulnya." Shibayama terkikik. Ia mencondongkan badannya dan mencolek Kageyama. "Kageyama ikutan ya, ya ya?"

Kageyama mengangguk kaku, tidak sanggup menolak. Tsukishima hanya menggeleng-geleng, tetapi ia tetap menuruti Shibayama mencari jalan memutar dan melajukan mobilnya lebih pelan. Ia juga menyalakan radio di mobilnya dan mencari playlist lagu secara acak.

"Ih, itu! Itu aja!" Lev menuding-nuding radio. "Lagu yang tadi!"

"Yang mana?" tanya Tsukishima malas.

"Itu yang ada one less one less-nya!" Lev masih bersikeras.

"Kageyama, taruh ponselku di dasbor!" Hinata menyerahkan ponselnya yang sudah siap merekam aksi mereka nantinya.

Tsukishima menyetel lagu yang diinginkan Lev. Kageyama menekan tombol play begitu intro lagunya berputar.

[Shibayama, Yachi]:

Hey, baby even though I hate ya
I wanna love ya
I want you, uh uuh
And even though I can't forgive ya
I really want to

[Hinata]: I want you, uh uuuh

[Lev, Kageyama, Hinata]:

Tell me, tell me, baby
Why can't you leave me
'Cause even though I shouldn't want it
I gotta have it

[Hinata]: I want you, uh uuuh

[Shibayama, Yachi, Lev, Kageyama]:

Head in the clouds
Got no weight on my shoulders
I should be wiser
And realize that I've got

[Lev]:

One less problem without ya
I got one less problem without ya
I got one less problem without ya
I got one less, one less problem
One less problem without ya

Hinata, Yachi, Shibayama dan Lev bersorak kagum sekaligus bertepuk tangan bangga karena Kageyama bisa mencapai nada tinggi pada bagian reff dengan tajam dan tepat sasaran, not suaranya persis sama dengan yang dinyanyikan Yachi dan Shibayama. Mereka tertinggal di bagian verse kedua karena keasyikan bercanda. Tsukishima sebagai pengemudi cuma bisa mengangguk-angguk pelan menikmati alunan musik.

"Lagi, lagi!" Cewek-cewek barisan jok belakang menyemangati Kageyama. "Coba sekali lagi, Kageyama-kun!"

[Kageyama]:

Head in the clouds
Got no weight on my shoulders
I should be wiser
And realize that I've got

[Lev]:

One less problem without ya
I got one less problem without ya
I got one less problem without ya
I got one less, one less problem
One less problem without ya

[Lev]: Smart money bettin', I'll be better off without you
In no time, I'll be forgettin' all about you...

Lev terseok-seok dalam bagian rap-nya, namun Tsukishima menyelesaikannya dengan lugas dan bersih. Semua penumpang cuma menoleh pada gadis pirang berkacamata yang tidak tampak berusaha ekstra seperti teman-temannya. Mobil mereka sampai di depan sebuah toko kue dengan papan SHIBAYAMA-YA, SPESIALIS WAGASHI. Tombol stop ditekan Tsukishima pada layar ponsel Hinata tanpa ia sempat melihat ekspresi tercengang teman-temannya mendengar caranya nge-rap tadi.

"Kirain Tsukki itu anak indie yang suka gitaran akustikan..." gumam Lev dengan wajah shock.

"He'eh." anak-anak yang lain mengamini.

"Memangnya, anak yang suka hiphop atau EDM harus bisa beatbox, tatoan, tindikan atau jago mabok, apa?" Tsukishima mendengus sambil membuka lock mobilnya, lalu melangkah keluar dengan santai.


[hoshiumi korai]: sunshine!

[hoshiumi korai sent an audio record]

Hinata menekan tombol play, mendengarkan suara Patrick-nya yang selalu sukses membuatnya meleleh. Ia menyanyikan lirik shine bright like a diamond, yang diputar berulang-ulang oleh Hinata.

[sunshine]: Patrick, aku kangen latihan nyanyi bareng lewat voice note.

[hoshiumi korai]: hahaha sama. Makanya aku mulai duluan.

[hoshiumi korai]: tapi takutnya sunshine masih capek. Kemarin waktu pulang aja wajahnya udah pucat.

[hoshiumi korai]: ayo coba nyanyi lagu yang kemarin belajar di kampusnya Semi-san.

[hoshiumi korai]: tapi jangan sampai larut malam, ya. Sunshine juga butuh bobo biar seger.

Rangkaian balasan bertubi-tubi itu membuat Hinata mengulum senyum menahan gemas. Memberi jeda dalam berinteraksi ternyata memberikan letupan-letupan rasa senang yang lebih menggembirakan ketimbang menunggu balasan setiap hari. Hinata mendekatkan bibirnya ke speaker, hendak berseru dengan lantang 'Patrick ayo pacaran aja!' namun kalimat itu tidak keluar. Hanya lima detik penuh kekosongan yang tidak sengaja terkirim.

[hoshiumi korai]: sunshine kenapa? Kepencet?

Hinata menggeleng. Tidak, tidak boleh segamblang itu. Nanti ia dikira main-main dengan perasaan Hoshiumi. Hinata akhirnya menarik selembar kertas dan memutuskan menulis surat saja. Perasaannya bisa terlampiaskan dengan benar. Dan juga, sebagai laki-laki Hoshiumi pasti bisa sangat bangga karena bisa punya seseorang yang memberinya ungkapan cinta—semacam gelora masa muda yang tercapai. Tapi kalimat macam apa yang tidak terlalu menggelikan, tidak terlalu terus terang namun memberi makna yang sangat membekas di hati?

Lalu Hinata mencari kontak kakak kelas yang lain. Dokter cinta Sugawara pasti ahli dalam hal-hal seperti ini. Hinata mengungkapkan semua unek-uneknya dalam voice note yang dengan cepat langsung dibaca si senpai manis berambut kelabu itu. Hinata sudah berdebar-debar melihat tulisan typing di bawah nama kontak LINE milik Sugawara.

[suga]: coba kasih dia teka-teki, dan suruh ia mengirim jawabannya lewat chat. Buat teka-teki yang mengarah pada kata 'aku menyukaimu'.

[sunshine]: mana bisa aku bikin hal-hal serumit itu? Apa yang harus kutulis dalam suratku?

[suga]: kau tahu tidak, Hinata? Dulu aku yang mengejar dan menembak Shinsuke-san. Aku memberinya sekotak fortune cookies buatan sendiri yang di dalamnya terdapat potongan kertas yang kalau digabungkan semua menjadi Shinsuke-san aku suka padamu.

[sunshine]: bagaimana caramu membuatnya makan semua kue itu?

[suga]: kuenya kecil-kecil. Dan sisanya mungkin faktor hoki aja hehehehehe.

[sunshine]: terus, terus?

[suga]: Shinsuke-san merekatkan semua potongan kertasnya menjadi surat yang utuh lalu menunjukkannya kepadaku. Lalu ia balas memberiku setoples kecil redondo yang di dalamnya ada surat gulung. Ia membalas: kau membuatku tersentuh. Jika kau berkenan, aku bersedia jadi pacarmu.

[suga]: caranya tidak harus sama persis, tapi kau dapat idenya, kan?

[sunshine]: bagaimana kalau aksi modusku tidak tepat sasaran?

[suga]: coba saja dulu. Kalau gagal kita ganti strategi.

Hinata mengabaikan chat terakhir dari Hoshiumi dan mulai mencari-cari banyak cerita cinta di situs publishing online. Mana tahu, ada ide gila yang bisa ia curi guna mendapatkan Hoshiumi Korai si Patrick yang sudah membuat hatinya jumpalitan tersebut.


A/N:

-Sinusitis: peradangan yang terjadi di saluran sinus. Sinus merupakan rongga kecil yang saling terhubung melalui saluran udara di dalam tulang tengkorak. Sinus terletak di bagian belakang tulang dahi, bagian dalam struktur tulang pipi, kedua sisi batang hidung, dan belakang mata. Sinus menghasilkan lendir atau mukus yang berfungsi untuk menyaring dan membersihkan bakteri atau partikel lain dalam udara yang dihirup. Selain itu, sinus juga berfungsi untuk membantu mengendalikan suhu dan kelembapan udara yang masuk ke paru. Tergantung tingkat kerusakannya, orang yang mengidap sinusitis bisa sering sakit kepala, gampang atau selalu ingusan dan mudah sesak. Bisa pingsan juga karena pasokan oksigen ke otak mendadak drop karena hidung tersumbat lendir.

*Kondisinya Atsumu di fanfic ini based on author true story—sinusitis kronis ditambah alergi dingin ekstrim. Jadinya kayak pilek seumur hidup, kena udara dingin sedikit atau kecapekan langsung ingusan, kadang sesak kayak asma dan gampang mimisan juga. Kalo kebanyakan ngomong atau nyanyi juga suka sakit kepala dan lebih gampang serak. Orang yang punya sinusitis kronis juga dilarang minum/makan es. Kalau suhu badan sama suhu lingkungannya agak jomplang (semisal minum es pas cuaca lagi panas-panasnya) author bisa tiba-tiba ambruk pingsan. Mendadak gelap gitu. Author sengaja mencantumkan ada kelainan ini pada Atsumu biar dia nggak perfect-perfect amat, gitu. Sama abis nonton episode 20 seasons 4 yang dia udah pilek ingusan bersin-bersin aja masih main voli.

-fortune cookies: bukan judul lagunya JKT48, ya! Fortune cookies itu kue yang bentuknya piramid terus di dalemnya bisa dimasukkin surat kecil gitu. Googling deh kalo mau tau lebih lanjut. Fortune cookies juga biasa jadi hadiah valentine buat aksi modus-modusan gitu.

-redondo: merk astor yang kalengnya lucu-lucu itu lho. Author suka yang cookies and cream, cheese sama matcha.

-yomogi mochi: mochi yang warnanya hijau karena campuran daun mugwort, biasanya dijual pada musim semi saat yomogi sedang musim.


-Playlist:

Problem—Ariana Grande.


BANGSAT (Bacotan ngegas tapi santuy dari author):

yuhuuu khalayak readers! Akhirnya aku bisa update, duh aku syenang. Nggak tahu mau ngebacot apa di kolom ini, tapi tampaknya pendukung kapal osaaka lebih ramai dibanding bokuakaa. Udah bosan ya kaliaaan hahahaha. Yak seperti yang sudah terpantau sodara-sodari kagetsukki dua-duanya tsundere. Akankah mereka jadian ataukah ada orang ketiga keempat kelima keenam dan sebagainyaaa? Atau jangan-jangan tsuki udah punya orang lain lagi? /plak

Spoiler? ADA DONG TENANG AJA.

Bakalan ada 2 lagi kandidat untuk mengisi slot harem hinata. 2 ORANG LAGI SODARA SODARI! MANA PASUKAN PEMBELA HINATA HAREM SUPREMACY! Nyoh, nyoh! Kukasih hint, ya! Kalo di manganya, dua cowok ini sama-sama middle blocker tangguh. Yok silahkan berkonspirasi sendiri tapi tetap ditunggu aja update chapter selanjutnya! Jangan lupa review, fave dan follow, ya! See you in the next chapter!