CROWMASTER : BIRD AMONG DRAGON


Disclaimer :

Naruto Punyanya Om Masashi Kishimoto

High School DxD Punyanya Om Ichiei Isshibumi


Di antara ramainya jalanan kota Paris, terdapat sebuah kios kecil milik seorang gadis pirang untuk berjualan bunga yang ia tanam sendiri. Beberapa orang yang lewat berhenti sejenak untuk membeli atau sekedar melihat-lihat indahnya bunga yang ia jual.

Violet.

Nama gadis itu adalah Violet. Ia ditemukan oleh seorang pria di depan pintu saat masih bayi bersama secarik kertas bertuliskan Violet di dalam kardusnya. Merasa tak tega, ia akhirnya merawat bayi yang ada di hadapannya. Pria baik itu adalah Gilbert Bougainvillea, seorang duda tak beranak yang sedang menganggur. Ia bercerai lantaran didiagnosa tidak bisa menghasilkan keturunan, jadi melihat seorang bayi yang ditelantarkan membuat hatinya tersentuh.

Violet kecil tumbuh seperti anak perempuan pada umumnya. Hanya saja, ia memiliki cacat berupa bisu. Suara yang ia hasilkan hanya terdengar sengau dan kecil, jadi ia tidak bisa berkomunikasi dengan anak seumurannya.

Hal itu jugalah yang membuat ia dijauhi dan dikucilkan oleh mereka. Violet kecil pun menjadi penyendiri dan lebih sering duduk merenung. Gilbert yang tak tega pun memasukkannya ke sekolah orang berkebutuhan khusus. Disana Violet bertemu dengan orang-orang yang sama dengannya. Ia belajar membaca, menulis, dan berkomunikasi menggunakan isyarat. Ia terlihat bahagia saat berada di sekolah, tapi ketika di rumah, Violet akan kembali menyendiri dan merenung.

Saat itulah ia diajarkan berkebun dan bercocok tanam oleh ayahnya di halaman belakang rumah mereka. Memang tidak luas, tapi cukup untuk Violet kecil menanam bunga. Sejak itu, ia tidak lagi menyendiri dan senyuman di wajahnya akan bertahan sepanjang hari. Dan ketika malam telah datang, Gilbert akan menceritakan padanya kisah Putri tidur dan Pangeran berkuda putih, mengantarkan Violet tidur dengan senyum di wajahnya.

Sampai ketika ia berumur 15 tahun. Gilbert, ayahnya, harus dirawat di rumah sakit karena penyakit Pneumonia. Biaya perawatan yang begitu mahal membuat mereka ditolak di rumah sakit dan Gilbert terpaksa dirawat di rumah oleh sang anak. Violet berhenti sekolah dan memutuskan untuk bekerja untuk mengumpulkan uang perawatan ayahnya. Ia melamar bekerja di berbagai tempat, tapi mereka menolak karena kekurangan Violet. Gadis yang hampir putus asa itu akhirnya diterima di salah satu kafe sebagai pelayan. Ia hanya perlu tersenyum sepanjang waktu.

Tapi pekerjaannya sebagai pelayan tak berlangsung lama karena suatu kejadian. Salah seorang pelanggan dengan sengaja menampar bokongnya saat bekerja. Violet yang marah membalas dengan menampar wajah pelanggan tadi. Mengetahui hal ini, sang pemilik kafe marah dan memecat Violet walau ia telah membela diri.

Ia kembali putus asa. Satu-satunya mata pencaharian yang ia punya kini sudah hilang. Violet menangis di kamarnya malam itu, sampai ia melihat indahnya bunga yang ia tanam. Sebuah ide muncul di otaknya. Ia memetik semua bunga yang ada di halaman belakang rumahnya dan menjualnya di toko bunga terdekat.

Setelah beberapa waktu, ia tersadar kalau akan lebih menguntungkan jika ia menjual sendiri bunga yang ia tanam. Violet pun membuat sebuah meja kecil dari kayu-kayu bekas yang ia temukan di sekitar toko meubel, lalu berjualan di pinggir trotoar dekat asrama salah satu perguruan tinggi. Ia memilih tempat tersebut karena pasti banyak anak muda yang membeli bunga baik sebagai hadiah atau sekedar hiasan kamar.

Gilbert tak tega melihat putrinya membanting tulang demi pengobatannya. Ia merasa menjadi beban untuk putrinya tersayang. Hatinya terasa remuk saat melihat Violet yang pulang dimalam hari dengan baju kotor dan kelelahan.

Terkadang, ia merutuki dirinya yang tidak berguna. Ia adalah ayahnya, tapi ia tak bisa membantu meringankan beban putrinya. Stress yang berlebihan membuat kondisinya memburuk. Obat yang selama ini ia makan tidak menyembuhkan penyakitnya, tapi hanya menahan rasa sakit yang ia rasakan untuk sementara.

Hari demi hari, penyakit yang ia derita semakin parah. Nafasnya tersengal-sengal dan batuknya selalu berdarah. Ia tahu waktunya sudah tak lama lagi. Dengan sabar ia menanti Violet pulang dan berbicara dari hati ke hati dengannya. Tak perlu menunggu lama, Violet pun pulang dengan kelelahan. Ia segera menghampiri ayahnya yang terbaring dan menyandarkan dirinya di pinggiran kasur.

Gilbert memaksakan dirinya bangkit dan duduk dibantu oleh Violet. Di pandangnya putrinya dengan lekat-lekat. Dirinya adalah pria yang tak bisa punya anak, tapi Tuhan tetap memberkatinya dengan mengirimkan Violet. Putrinya yang cantik, yang rela membuang pendidikan dan masa mudanya demi dirinya. Putrinya yang terpaksa bekerja banting tulang demi pengobatan dan menyambung hidup mereka.

Perlahan, diusapnya pucuk kepala putrinya dan menarik Violet kedalam pelukannya

" Kau pasti kelelahan kan, putriku? Aku paham."

" Aku minta maaf karena sudah membebanimu..."

Violet mendongak menatap ayahnya. Ia membentuk serangkaian isyarat, membentuk sebuah kalimat.

" Kau bukanlah beban, Ayah."

" Maafkan aku..."

Gilbert lalu terbatuk batuk, memaksanya untuk kembali berbaring.

" Violet... Kelak kau akan menemukan pangeranmu sendiri. Kuharap, aku bisa melihatnya nanti..."

Dihapusnya airmata yang mengalir di wajah putrinya yang sudah dewasa. Ia memandangi wajah Violet sekali lagi seolah ingin mengingat setiap detail wajah putrinya selamanya.

Dan malam itu, Gilbert pun wafat dengan tenang, diiringi isak tangis Violet. Hari-harinya terasa kosong sejak saat itu. Tidak ada lagi sambutan hangat saat ia pulang. Tidak ada lagi suara pria yang bisa menenangkan hatinya.

Sampai suatu ketika, ia bertemu dengan seorang lelaki muda berambut hitam panjang yang membeli bunganya sekitar satu setengah tahun lalu. Ia bahkan masih ingat semua momen itu, seolah semuanya baru terjadi kemarin.

Satu setengah tahun lalu, seorang pemuda berambut hitam panjang yang memakai jaket biru terlihat menghampiri kios bunganya dengan wajah kusut. Ia tampak sedang stress.

" Permisi, boleh aku minta dua tangkai bunga Lily putih?" tanyanya dengan sopan. Senyum tipis di wajahnya terlihat dipaksakan di mata Violet.

Violet mengangguk dan membungkus dua tangkai bunga Lily putih pesanan pemuda tadi. Violet mengacungkan 1 jari tangannya saat ditanyai harga bunga. Pria tersebut memberikan selembar uang bernilai 5 Euro. Saat Violet ingin memberikan kembaliannya, ia malah menolaknya.

" Ambil saja."

Pemuda tadi kemudian pergi dan menghilang, tertelan oleh ramainya orang yang berlalu-lalang.

Dua minggu kemudian, pemuda tadi datang lagi, tapi kali ini wajahnya tidak sekusut kemarin.

" Tolong, dua tangkai Lily putih."

Violet dengan sigap membungkus pesanan pemuda tadi dan memberikannya. Si pemuda kembali memberikan 5 Euro dan menghilang di antara orang-orang yang lewat. Violet mulai berpikir apa yang dipikirkan pemuda itu. Apa ia kasihan dengan Violet? Atau memang dia terlalu dermawan?

Lalu, dua minggu setelahnya ia kembali untuk membeli bunga yang sama. Dan lagi, ia memberi 5 Euro tanpa meminta kembalian. Violet menarik lengan jaket pemuda itu dan memberinya 4 Euro sisa uang miliknya tadi.

" Hn? Simpan saja kembaliannya, nona."

Violet menggerakkan jari-jari tangannya, membuat sebuah kalimat isyarat. Mata birunya menatap tajam pemuda itu.

" Apa kau mengasihaniku? Harganya hanya 1 Euro, jadi ambil uang kembalianmu!"

Si pemuda menautkan alisnya. Sedetik kemudian ia tersadar akan sesuatu dan mengepalkan tangan Violet agar menggenggam sisa uangnya.

" Maaf jika kau tersinggung, tapi kumohon terima saja, nona." ia sedikit membungkuk sembari meminta maaf.

Violet memiringkan kepalanya karena bingung. Ia baru kali ini melihat orang yang meminta maaf dengan membungkuk. Tebakan pertama Violet adalah pemuda ini pasti bukan penduduk lokal. Ditambah dengan wajahnya yang jauh berbeda dengan kebanyakan pria yang ia temui membuat Violet semakin yakin.

Pemuda itu bangkit dan tersenyum pada Violet. Senyum yang entah kenapa membuat rasa lelahnya dari pagi menghilang seketika. Ia kemudian pamit dan pergi lagi. Kali ini, Violet bisa melihat pemuda itu masuk ke dalam asrama perguruan tinggi.

Salah satu Mahasiswa? pikir Violet.

Kebiasaan itu terus terulang. Setiap dua minggu pemuda itu akan kembali dan membeli bunga yang sama dan membayar dengan harga yang sama. Itachi, Violet tahu nama pemuda itu saat ia datang bersama salah satu temannya yang berbadan tinggi. Setelah membayar pesanannya, ia akan tersenyum dan kembali pergi.

Sampai suatu waktu, Itachi datang dengan wajah masam dan atanya terlihat sedikit menghitam, seperti orang yang kurang tidur.

" Tolong, dua tangkai Lily putih."

Setelah beberapa saat menunggu, ia menerima bunga pesanannya dan membayar harganya. Tapi ia tidak pergi dari sana. Matanya hanya menatap kosong sudut jalan kota Paris.

Violet mengambil secarik kertas pembungkus dan menuliskan sesuatu di sana. Ia lalu mencolek bahu Itachi, membuat pemuda itu menoleh.

Ada yang mengganggu pikiranmu?

Itachi melihat kertas itu sejenak, lalu beralih pada Violet. Ia terlihat tak yakin ingin berbicara, namun akhirnya ia menghela nafas dan bersandar pada dinding di sebelah kios milik Violet.

" Aku baik-baik saja, hanya kurang tidur." ujarnya. Ia lalu menoleh dan tersenyum lembut pada Violet.

" Namaku Itachi Uchiha. Mahasiswa S2 Jurusan Ilmu Fisika."

Itachi berdiri dan mengulurkan tangannya. Sejenak Violet terpaku, menatap tangan Itachi. Pemuda asing di depannya itu mengulurkan tangan padanya? Untuk pertama kali dalam beberapa tahun belakangan, ada orang yang berkenalan dengannya.

Biasanya, mereka hanya akan menatap Violet kasihan karena penampilannya yang terlihat lusuh dan kotor, tapi ia tidak melihat tatapan itu di mata pemuda ini. Senyumannya terlihat tulus dan begitu hangat hingga membuat Violet menerima uluran tangan Itachi secara tak sadar.

Jarinya bergerak membentuk isyarat.

" Violet Bougainvillea."

Ia lupa kalau Itachi tidak mengerti bahasa isyarat, jadi Violet menulis namanya di kertas tadi.

" Violet Bougainvillea? Nona Bougainvillea terasa sulit untuk diucapkan, jadi kau keberatan jika aku memanggilmu Violet saja?"

Dengan cepat ia menggelengkan kepalanya. Ia balas tersenyum pada Itachi. Dan itulah saat dimana ia mulai mengenal Itachi Uchiha.

Hari demi hari berlalu. Itachi sedikit demi sedikit semakin sering mampir ke kiosnya, baik itu membeli bunga, atau sekedar menyapa. Violet juga mulai mengajarkan Itachi bahasa isyarat agar mereka lebih mudah berkomunikasi. Hari-hari Violet tidak lagi suram, karena ia sudah menemukan sosok mataharinya sendiri.

Itachi akan datang dengan dua cangkir Cappucino dan kantong berisi roti untuk mereka makan, lalu keduanya akan mengobrol ringan diselingi candaan. Pemuda itu bahkan membantunya membuat lapak kayu yang lebih bagus di suatu kesempatan. Saat saat seperti itulah yang membuat Violet siap menanti hari esok. Ia kini lebih ceria dan wajahnya terlihat lebih cerah ketika keduanya bertemu. Penampilannya tidak lagi sekotor dan selusuh biasanya. Itachi sudah membawa efek positif pada Violet.

Sebagai balasannya, Violet akan menaruh beberapa bunga Daisy merah di pesanan Itachi. Berharap kalau pemuda itu akan paham suatu hari nanti tentang perasaanya.

Tapi, momen momen itu seketika terhenti saat Itachi menyelesaikan kuliahnya. Ia menemui Violet beberapa bulan lalu untuk berpamitan dan akan kembali ke Jepang. Semua rasa sedih di hati Violet membuncah dan keluar seketika. Ia mencoba untuk tersenyum, tapi airmatanya sudah menggenang. Tubuhnya hilang kendali dan memeluk Itachi tanpa sadar. Ia menumpahkan semua airmatanya saat itu.

Tidak. Ia tidak ingin kembali sendirian...

Hangat pelukan dan usapan di kepalanya membuat Violet semakin berat melepas pemuda ini. Tapi ia sadar akan posisinya. Ia tidak punya hak untuk mengekang Itachi disini, walau sebesar apapun keinginannya. Ia melepas Itachi hari itu setelah membuat pemuda itu berjanji untuk kembali nanti.

Dan setelah itu, hari harinya kembali suram. Ia tidak lagi menantikan secangkir Cappucino di sore hari yang biasa dibawakan Itachi. Violet kembali menjadi gadis berjiwa hampa tanpa emosi, yang hanya memasang senyum palsu ketika mendapat pelanggan.

Hari ini pun sama seperti sebelumnya. Ia berdiri dibelakang kios di bunganya di pinggiran trotoar jalan kota Paris. Menjajakan bunganya hanya demi menyambung hidup. Ia melamun membayangkan kapan Itachi akan kembali.

" Tolong, dua tangkai Lily putih."

Sebuah suara membuyarkan lamunannya. Tanpa melihat pelanggannya, ia membungkus dua tangkai bunga Lily berwarna putih. Violet lalu menerima selembar uang 5 Euro dan berniat mengembalikan 4 Euro.

" Ambil saja kembaliannya, Nona."

Tunggu, ia kenal momen ini. Ia kenal suara ini! Violet melihat siapa pelanggannya, dan ia menutup mulutnya seketika. Ia baru menyadari akan siapa yang berdiri di depannya sekarang.

Pria dengan Trench Coat hitam sepaha dan kemeja putih di dalamnya itu tersenyum lembut pada Violet. Ya, ia kenal senyuman itu. Ia kenal rambut hitam panjang itu. Ia kenal mata hitam itu.

Secara tak sadar ia bergerak menghampiri Itachi dan menyentuh pipi pria itu. Violet bisa merasakan kulitnya. Orang di depannya ini nyata.

Itachi menaruh tangannya di atas tangan Violet. Ia bisa melihat jelas airmata yang menggenang di sudut mata biru indah itu. Tubuhnya tiba-tiba dipeluk erat. Ia mengabaikan dadanya yang sedikit basah dan mengusap pucuk kepala gadis pirang itu. Pandangan bingung orang-orang yang lewat seolah tak menjadi halangan bagi keduanya.

Setelah beberapa saat, Violet melepaskan pelukannya dan menatap Itachi. Ia memberikan isyarat lewat gerakan jarinya.

" Kau kembali."

" Hn." Itachi mengangguk dengan senyum lembut yang masih tercetak di wajahnya.

" Apa yang membuatmu kemari?"

" Pertemuan antar para ilmuwan nanti malam, tapi tidak usah dipikirkan."

Itachi menyerahkan kantung plastik yang ia bawa. Dua cangkir Cappucino dan roti adalah hal yang selalu ia bawa kemari. Lagipula, Violet juga terlihat menyukai makanan ini, jadi Itachi tidak akan merubah kebiasaannya. Bunyi handphone milik Itachi mengalihkan mereka berdua.

Dua orang Exorcist datang ke Kuoh untuk mencari Pedang Suci yang dicuri. Sepertinya memang Malaikat Jatuh yang membantu Freed. Kiba bertindak gegabah lagi, dan aku punya firasat buruk tentang hal ini.

Pesan dari Rias terpampang di layar Itachi. Ia mengerutkan dahinya. Hanya ada satu nama yang terlintas di kepalanya.

Kokabiel.

Teruslah waspada pada Exorcist itu. Aku percaya pada keputusanmu dan Sona untuk menghadapi situasi ini. Hati-hati, Rias. Tetap berfikir tenang dan jangan gegabah!

Itachi menekan tombol kirim, lalu menyimoan kembali HPnya. Ia bisa melihat Violet memberinya isyarat.

" Temanmu?"

" Tidak. Hanya..." ia menggantungkan kalimatnya. Siapa Rias baginya? Adik? Istri? Atau hanya teman masa kecil? Itachi pun masih bingung dengan perasaannya sendiri.

" Bukan hal penting. Selain itu, kenapa kau belim menghabiskan rotimu?"

Itachi mengalihkan pembicaraan mereka. Violet hanya tersenyum dan memakan roti yang dibeli Itachi. Ya, Violet rindu momen momen seperti ini. Hanya mereka berdua, saling berbicara tanpa memperdulikan orang-orang di sekitar mereka.


Sementara itu di tempat lain, Rias memperhatikan Issei, Kiba dan Koneko yang bertemu dengan kedua Exorcist tadi siang. Dan jangan lupakan Saji, pawn milik Sona yang baru saja bergabung.

" Apa yang kalian lakukan...?" ia berbicara sendiri dari atas langit malam sembari menyembunyikan energinya.

Tadi siang kelompok mereka didatangi oleh dua orang gadis Exorcist yang mencari pedang suci yang telah dicuri. Mereka bernama Xenovia Quarta dan Irina Shidou. Irina ternyata adalah teman masa kecil Issei yang ada di foto waktu itu.

Singkat cerita, Kiba dan Issei pun bertarung dengan kedua Exorcist tersebut karena Kiba terpancing emosinya oleh omongan Xenovia dan Issei yang marah karena Asia ingin dibunuh oleh Irina. Pertarungan itu dihentikan di tengah jalan oleh Rias dan Sona untuk mencegah jatuhnya korban. Sudah cukup buruk mereka bertarung, jika sampai jatuh korban jiwa maka insiden ini bisa memancing perang ketiga fraksi yang ada.

Kiba pun memutuskan untuk keluar dari Peerage Rias dan pergi seorang diri mencari dalang dibalik pencurian pedang suci. Issei pun menyusulnya bersama Koneko untuk menghentikan Kiba, namun Rias yang masih tak yakin akhirnya menyusul mereka.

Tapi, ia melihat kalau mereka semua sedang merencanakan sesuatu. Hatinya berfirasat buruk, jadi ia mengirim pesan pada Itachi. Membaca balasan dari Itachi berhasil mengusir sedikit kecemasan yang ia rasakan. Ia akan memberitahu Sona tentang ini.


" Dan begitulah... Kau tidak tahu stressnya menjadi pengajar."

Violet tertawa kecil mendengar keluh kesah dan suka duka Itachi selama mengajar di Kuoh Academy. Sejujurnya ia tak akan menyangka pria pendiam dan jenius seperti Itachi akan menjadi guru. Ia membayangkan Itachi mengajar di depan kelas dengan wajah datar. Hal itu membuatnya tertawa lagi.

" Apa yang lucu?"

" Tidak ada."Memilih mengabaikannya, Itachi melihat jam tangannya. Dua jam lagi, ia akan pergi ke Konvensi Imuwan. Ia tak sadar sudah duduk dan mengobrol selama beberapa jam bersama Violet. Waktu terasa begitu cepat berlalu jika ia bersama gadis ini.

Ia beranjak dari duduknya dan menoleh kearah Violet.

" Kurasa waktunya aku pergi. Aku tidak ingin membuat Mr.Beufort kerepotan nanti."

" Secepat ini?"

" Maafkan aku, Violet. Lain waktu aku akan kemari lagi."

Sebuah ide terlintas di kepalanya saat ia melangak pergi.

" Ah, Bagaiamana kalau besok?",

Ucapan Itachi mengembalikan semangat yang tadi sempay hilang di mata Violet. Ia mengangguk dan tersenyum lembut. Dirinya akan tidur cepat dan bangun pagi-pagi agar bisa membersihkan dirinya. Wajar saja, ia akan bertemu dengan Itachi esok, jadi ia harus tampak rapi dan bersih.

Sesampainya di rumah Beufort, Itachi pun duduk di ruang tamu setelah memberikan bunga yang ia beri kepada istri dosennya. Beufort sedang mandi dan bersiap untuk pergi, jadi Itachi menunggunya untuk pergi bersama. Beufort Jr. melihat Itachi dengan tatapan heran. Mungkin ia baru melihat orang dari negara lain.

" Kak, kenapa rambutmu panjang seperti perempuan?"

Itachi menoleh. Ia menggeser posisi duduknya agar si anak bisa duduk disampingnya.

" Ibuku ingin anak perempuan dulu, jadi aku memanjangkan rambut untuk menyenangkan hatinya. Ditambah, bukankah terlihat keren?"

Si anak tadi melihat rambut Itachi dengan seksama lalu mengacungkan jempolnya, diiringi senyuman lebar. Tak lama berselang, Beufort pun keluar dan mereka pergi bersama-sam ke konvensi dengan menaiki mobil.

Perjalanannya hanya memakan waktu sekitar 15 menit dan mereka sudah sampai di tempat parkir. Terlihat banyak mobil-mobil dan motor sport berjejer rapi, milik para fisikawan-fisikawan cerdas dan ahli di bidangnya.

Mereka kemudian masuk menuju Aula dan mengambil salah satu tempat duduk yang disediakan. Tak terlalu dekat dengan panggung, tapi tak terlalu jauh juga.

Itachi melihat sekelilingnya. Mayoritas yang hadir terlihat sudah berumur, hanya beberapa anak muda yang hadir. Ia rasa Fisika bukankah bidang yang populer di kalangan anak muda. Tapi ia menemukan kejanggalan disana. Matanya menangkap sosok pria yang ia lihat di depan kafe tadi siang. Seakan tahu sedang diawasi, pria tadi menoleh dan balas menatap Itachi.

Acara yang dimulai mengalihkan perhatian Itachi sebentar. Saat ia menoleh kembali, pria tersebut sudah tak ada ditempatnya. Konvensi dimulai dengan sambutan beberapa fisikawan terkenal, lalu dilanjutkan dengan sesi diskusi masalah bertema Fisika Partikel. Mereka akan dihadapkan dengan beberapa masalah dan teori, lalu berdiskusi tentangnya. Sesi tanya jawab adalah yang paling menegangkan. Mendengar berbagai pendapat dan argumen orang-orang adalah hal yang disukai Itachi. Dengan begini, ia bisa paham cara pandang mereka dalam memecahkan suatu masalah. Itachi juga beberapa kali berargumen dengan para ilmuwan lain yang jauh lebih tua darinya. Terlihat sebagian besar memandang Itachi dengan kagum saat ia berbicara.

Masalah terakhir yang dihadapi oleh mereka pun berhasil dipecahkan. Mereka pun mengakhiri acara tersebut dengan wajah lelah dan lesu setelah memeras otak mereka. Begitupun dengan Itachi, ia ingin segera kembali dan tertidur karena lelah berpikir dan berdebat.

Saat ia sudah terkapar di kasur, matanya langsung terpejam, tapi pikirannya masih tetap berkeliaran. Ia masih memikirkan siapa kemungkinan sosok yang sudah dua kali ia lihat hari ini. Instingnya mengatakan ada hal yang tidak beres.

Mengesampingkan semua hal yang terjadi, Itachi memaksakan otaknya untuk beristirahat dan tidur. Ya, tidur, kembali ke dalam mimpi yang selalu terputar berulang-ulang selama ini, menghantui Itachi kemanapun ia pergi.


Author's Note :

Ahahahaha! Watashi ga Kita!!!!

Hmm... kira kira siapa kah sosok pria yang dilihat Itachi?

Mungkinkah itu Mbah Madara yang iseng ngawasin keturunannya di dunia lain?

Atau Gilbert yang bangkit dari kubur untuk ngecek kandidat calon menantunya?

Atau salah satu kandidat love Interest kang Itachi dan merubah cerita ini menjadi Yaoi?Tidak tidak tidak, coret kemungkinan terakhir itu!!! CORET!!!

" Harem atau Single Pair?"

Hmm... Masih abu-abu. Belum pasti entah bakal jadi Harem atau Single Pair. Single pair emang menarik sih, ku akui itu... Tapi Harem kayaknya lebih asik.

Pokoknya, ikutin aja dan liat sendiri perkembangan hubungan antar karakter dan ceritanya.

So, Mind to Review?

Silvermane Kudan, Out.