Seharusnya Sanji tolak saja ajakan makan oleh Zoro itu, dia seharusnya tahu ini yang akan dia dapatkan. Astaga, apakah otaknya juga sudak menciut karena terinfeksi dengan spora-spora lumut hijau dari marimo itu?

Tempat makan enak di benak Zoro = KaEpCi

Sumpah Sanji serasa ingin salto lalu menendang kepala Zoro sampai dia gegar otak. Siapa tahu dia bisa tiba-tiba pintar setelah gegar otak.

"Oh, disini ya njing?"

"Muka lo napa sampe begitu?"

"Tauk! Lo pikir sendiri njing."

Zoro menghela nafas dan menggaruk tengkuk lehernya, dia sendiri bingung kenapa alis keriting tiba-tiba bersikap seperti itu. Salah apa dia memangnya?

Dia sudah membawa lebih banyak box untuk dipindahkan ke ruang tata boga, sudah menatanya rapi juga seperti apa yang alis keriting perintahkan tadi, sekarang dia bahkan mengajaknya untuk makan dan berniat untuk mentraktirnya.

Kurang apa coba?

Inikah yang Perona bilang kalau cewe itu susah dipahami? Tapi si alis aneh itu kan laki-laki, ia tidak perlu mengkhawatirkan hal-hal seperti ini kan?

Sebagai sesama lelaki seharusnya dia tahu apa yang ada di benak Sanji. Memang apa mau alis keriting itu?

"Yodah masuk aja ayok" Zoro yang tak mau berpikir panjang menarik tangan Sanji.

Sanji memendam keinginannya untuk menendang Zoro sampai ke Timbuktu karena orang-orang di sekitarnya mulai memperhatikan mereka yang sepertinya sedang berdebat di pintu masuk.

"Lo duduk aja dulu gue yang ngantriin, lo mau apa?"

Sanji menghela nafas lagi, Marimo itu memang benar-benar tidak tahu kesalahannya. "Terserah, apa aja dah, samain aja sama lo gapapa," jawab Sanji, menyerah mencoba memberi kode pada Zoro bahwa ia sedang kesal karena hanya diajak ke restoran fastfood. Orang goblok ga bisa diapa-apain batinnya.

"Yaudah lo cari tempat duduk sono." Zoro menunjuk salah satu bangku kosong di kedai fastfood itu.

Sanji mengangguk dan segera menempati tempat duduk kosong itu. Dibukanya hpnya dan secara otomatis dia membuka Instagram.

Jarinya segera mengetuk lingkaran di kiri atas layar hpnya dan story Instagram seorang bocah bernama Luffy terbuka.

"Les sama Nami dompetku kosong" Begitu captionnya.

Jadi urusan Nami-san itu ngajarin Luffy? Kasihan Nami-san harus jadi guru les perut karet itu, yang masuk makanan aja, pelajaran engga.

Sanji mengetuk layar hpnya lagi dan kali ini story perempuan tercantik seantero sekolah yang terbuka.

"LUFFYYY! AKU LES-IN AJA"

Sialan, kenapa yang ngejar Luffy banyak banget?

Story berikutnya

Ah, Usopp update lagi tentang kencannya dengan Kaya.

Next.

Akh!

Ro-Robin-chwan dan Franky??!!

Sialann! Sementara teman-temannya bisa ngedate dengan bidadari-bidadari kahyangan Sanji malah berada di KaEpCi dengan Marimo buta arah berotak lumut.

"Oi alis keriting, lo suka yang pedes apa gak pedes?" Zoro bertanya sambil menaruh nampan makanan mereka di meja.

"Serah" Sanji hanya melihat Zoro sekilas dan kembali menyibukkan dirinya dengan hpnya.

Ia kembali menyibukkan dirinya dengan story teman-teman lainnya.

Gah!

Vivi-chwan dan Kohza...

"Arggghhh!!!! Napa juga hari Sabtu kek gini harus ketemu eloo?!!" Keluh Sanji frustrasi.

"... Maaf, tapi besok gue ada latihan turnamen." Zoro yang mendengar keluhan Sanji mulai merasa bersalah. Ia seharusnya tak perlu mengadakan "kencan" ini sama sekali. Ia seharusnya tak perlu mengubah jadwal belanjanya dengan Nami. Dari awal dia sudah tahu Sanji akan kesal dengan hal ini, tapi ia berharap Sanji bisa menikmati "kencan" ini seiring waktu. Tapi melihat raut muka Sanji ketika dia masuk tempat ini dan sekarang keluhan verbal membuat Zoro merasa dia sudah merampas waktu yang dimiliki Sanji.

"Nggak nggak! Masalahnya bukan di hari apa! Masalahnya kenapa gue mesti perginya sama elo? Yang lain juga Sabtu-Sabtu adanya janjian sama perempuan jalan-jalan!"

Ah...

Benar, Perona bilang Sanji menyembah wanita dan menginjak-injak lelaki.

Dia... tidak punya kesempatan sama sekali.

"Ya maaf, lo mesti belanja keperluan klub sama gue." Balas Zoro pelan tanpa ada nada sarkasme dalam kalimatnya, yang biasanya hadir di tiap kalimat yang dilontarkan kepada Sanji. "... Lo kalo mau pulang sekarang gapapa. Maaf malah ngajak makan segala."

"Eh?" Sanji tak siap dengan balasan yang diberikan Zoro. Dia fikir Zoro akan membalasnya dengan makian atau nalah mengejeknya untuk nasibnya saja yang buruk. Sanji benar-benar tidak menyangka ini. "A-anu, bu-bukan gitu maksudnya... cu-cuma..." Sanji tak tahu alasan apa yang harus ia berikan. "Maaf... gue gak maksud gitu. Makasih... udah ngajak makan." Sanji menggaruk tengkuknya.

Zoro tak membalasnya lagi. Ia malah mulai makan, tanpa menatap Sanji sama sekali.

Sanji merasa dadanya dicengkeram erat hingga rasa sakit mulai menyeruak ke seluruh dadanya. Sialan, dia tidak bermasud akhirnya menjadi seperti ini.

Sanji kembali memandang Zoro dengan tatapan meminta maaf, namun pandangan Zoro hanya tertuju pada piringnya.

Zoro menyelesaikan makanannya dengan cepat dan segera mengambil nampannya untuk dikembalikan.

"Zoro... Maaf..." ucap Sanji lirih menarik sudut lengan baju Zoro ketika Zoro hendak pergi meninggalkannya. Sanji mendongak, berusaha supaya Zoro mau menatapnya. Dan sepertinya, tarikan itu juga menarik sudut hati Zoro.

"Ngapain minta maaf? Kalo lo beneran lebih mending jalan sama cewe daripada sama gue." Balas Zoro

"Ngga... ngga gitu." Sanji menatap lurus Zoro.

"Gue ngga maksud gitu..." Tetapi Sanji lalu mengalihkan pandangannya, ia tak mampu menatap Zoro tepat dimatanya. Sanji menggigit bibir bawahnya, alisnya sedikit bertaut dan menundukkan kepalanya kemudian.

Zoro tiba-tiba menarik lengan Sanji dan mereka keluar dari restoran tersebut tanpa mempedulikan tatapan mata pengunjung-pengunjung di situ.

"Njing! Lo ngapain buat ekspresi kayak gitu tadi?!" Zoro menghempaskan Sanji ke tembok sebelah KaEpCi dan menguncinya di antara kedua tangannya.

"Hah?" Sanji tak tahu apa yang membuat Zoro menjadi seperti ini. Sanji mengernyitkan alisnya.

"Anjing! Lo manis banget kalo kek gini!"

"HHaaaaaahh??!!" Sanji tak tahu apa yang baru saja Marimo hijau itu katakan. Tapi ia bisa merasakan telinganya memanas beberapa derajat setelah mendengar kalimat itu.

"Gue kayaknya suka sama elo njing"

"..."

"..."

"EVOLUSI KLOROPLAS SIALAN!" Entah bagaimana Sanji, dengan tubuh lenturnya, berhasil menendang dagu Zoro padahal ia sendiri sedang terhimpit di tempat kecil.

"INI BENERAN WOI ALIS KERITING!"

"Gue suka elo..." ujar Zoro sambil kembali memojokkan Sanji ke dinding. Tangan kanannya sedikit memainkan helai pirang milik Sanji.

Sanji tak tahu bagaimana mau merespons. Dirinya tak pernah berada di situasi seperti ini. Inikah saat dimana dia harus menolak seseorang dengan perkataan, "Kita temen aja ya?" Apa yang harus dia lakukan?!

Sementara pikirannya mengelana jauh, Sanji tak menyadari Zoro yang membawa wajahnya makin dekat dengan wajahnya.

Sebenarnya ini bukan situasi yang tak biasa. Saat mereka bertarung atau berkelahi wajah mereka sudah sering berada dalam jarak "terlalu dekat" dan tidak jarang juga wajah mereka menghantam satu sama lain. Tapi entah kenapa situasi ini memiliki perasaan yang berbeda!

Nafas Zoro begitu memburu. Sanji bisa merasakannya. Rona wajah Zoro berubah beberapa warna lebih gelap, bulir-bulir keringat membasahi seluruh wajahnya (atau tubuh mungkin), dan matanya menajam seperti dia sedang memburu sesuatu.

"Zo-zoro..."

"Gue boleh cium elo ngga?" Tanya Zoro tiba-tiba.

"Hah?!" Hati Sanji langsung berdetak kencang membuatnya merasa hatinya bisa kapan-kapan saja melompat keluar dari tubuhnya...

"Sanji, boleh ngga?" Waaaaaaaaaaaaaaaaaa! Kenapa pula marimo itu tiba-tiba memanggil namanya?!

Sanji hanya memejamkan matanya dan mendorong maju kepalanya hanya beberapa milimeter ke depan. Ia pikir, terserah apa yang mau dilakukan Marimo itu.

Ia lalu merasakan jari-jemari kasar yang memegang dagunya membawa wajahnya untuk semakin mendekat ke wajah Zoro.

"Mmmnmmhhhhh!" Dalam sepersekian detik, lidah Zoro berhasil menerobos pertahanan Sanji.

Kejadian ini sama seperti di kantin lagi, Sanji sekali lagi tak berdaya saat Zoro mulai menciumnya. Seluruh energi dari tubuhnya seperti dihisap keluar seketika dan ia hanya bisa bergantung pada sanggaan alga hijau di pinggangnya.

"Ahn... Zoro..." desah Sanji ketika Zoro melepaskan ciumannya untuk sesaat.

"Mmmmmnnnn! Ahn." Namun Zoro tak menyia-nyiakan banyak waktu dan kembali menempelkan bibirnya pada bibir Sanji.

Zoro mengistirahatkan tangan kanannya di kepala Sanji untuk beberapa saat. Tapi tak berapa lama, dia menggunakannya untuk mendorong kepala Sanji kepadanya, makin memperdalan ciuman mereka.

"Mmpphh... hah... hah... Zorrhooh" Zoro malah meperdalam ciumannya dan Sanji merasa ia tidak bisa bernafas sama sekali. Memang siapa yang suruh untuk mendesah sepert itu?

Namu akhirnya, Zoro memisahkan pagutan itu dan ia menatap Sanji. Ranbut Sanji yang tadi tertata rapi sekarang acak-acakkan, bibir tipisnya kini merah dan sedikit membengkak, dan matanya yang kini setengah tertutup membuat Zoro ingin kembali mencium Sanji. Sialan, kenapa juga dia perlu oksigen?

Zoro kembali memperpendek jaraknya dengan Sanji tetapi usahanya itu dihalangi sebuah tangan.

"Marimo... udaah... gua mesti pulang..." Sanji mencoba mengatur nafasnya.

"Jadi pacar gue dulu. Entar gue bolehin pulang." Balas Zoro menyeringai.

"NGELUNJAK LU GANGGANG PURBA!" Sekali lagi, Sanji menendang dagu Zoro lalu lari, dia perlu menenangkan hatinya.