Dance of Love

Karya : Miyuki Kobayashi

Re-Write : JAS

.

.

.

.

.

Selamat Membaca Semoga Suka

.

.

.

.

.

Dance Of Love

Disclaimer : Miyuki Kobayashi, Pt Elex Media Komputindo.

Rate : T (For Teen)

Genre : Romance, Friend Ship, Family

Warning : Typo's

.

Bab 11 : Don't Forget Me

Kami berangkat ke Tohoku pada hari Minggu di awal bulan Desember. Di peron shinkansen, angin dingin bertiup kencang. Teman-teman sekelasku, kenalan Papa dan Mama pada datang untuk mengucapkan salam perpisahan. Ai dan Tomoya juga datang.

"Mebae, jaga kesehatan, ya!" pesan Ai.

"Ai dan Tomoya, jangan lupa hari-hari kita di Karuizawa!"

"Kamu juga, ya," kata Tomoya.

"Kami pasti datang berkunjung," tambah Ai.

"Eh… Tatsuya mana?" Aku bertanya sambil menoleh ke kanan kiri.

"Katanya sih, pasti datang. Kenapa belum kelihatan?"

"Oh!" teriakku pelan.

Pengumuman keberangkatan kereta sudah terdengar. Aku segera masih ke shinkansen. Perpisahan ini membuatku terharu. Ketika aku berbalik, ku dengar seseorang berteriak memanggilku. "Mebae!" Tatsuya tampak berlari dengan terengak-engah, menuju tangga.

Priiit! Peluit berbunyi.

"Kak Tatsuya!" seru Ai dan Tomoya.

"Cepat! Keretanya sudah mau jalan!"

Aku segera turun dari shinkansen. Senangnya! Akhirnya Tatsuya datang!

"Tatsuya!"

Bahkan Papa dan Mama juga ikut turun.

Karena takut terlambat, Tatsuya berlari sekuat tenaga. Dengan napas memburu, dia menyerahkan sebuah bungkusan perpita hijau.

"Ini kenang-kenangan untuk Mebae!"

"Terima kasih!"

"Ehm…," muka Tatsuya memerah.

Dan tetap sebelum pintu shinkansen tertutup, tiba-tiba Tatsuya berkata, "Om, Tante, berikan Mebae padaku!"

"Apa!?" kami bertiga berteriak kaget.

Syuuut! Pintu tertutup.

"Ah… Tatsuya!?"

Di depan pintu shinkansen, kulihat wajah Tatsuya memerah. Oh, jantungku seperti mau meledak. Apa katanya barusan?

Shinkansen mulai bergerak. Kaca jendela berembun karena panas. Aku menyekanya dengan tangan lalu kutempelkan dahiku ke kaca dan memandang ke luar.

Cowok itu berlari mengikuti shinkansen yang semakin menjauh. Di tengah jalan, Tatsuya melompat sampil melambaikan tanganya.

"Mebae, jaga kesehatan, ya!"

Aku ingin berteriak membalasnya, tapi suaraku tercekat di tenggorokan. Akhirnya sosok Tatsuya kian mengecil. Itulah terakhir kali aku melihatnya.

"Kamu dilamar, Mebae!" Mama mengguncang bahuku penuh semangat.

"Kayaknya begitu," tampah Papa sambil tersenyum.

Kenapa tiba-tiba Tatsuya melamarku? Bilangnya langsung ke Papa dan Mama lagi!

Aneh! Aku tertawa sambil menangis.

Ah, iya ya, kenang-kenangan! Apa isinya? Ku buka bungkusan berpita hijau itu. Aku terkejut sekali. Di dalamnya ada sebuah tiara yang besinar cemerlang. Oh, ini kan mahkota yang biasa dipakai saat menari balet. Tiara impianku! Tatsuya mengingat impianku. Terima kasih, Tatsuya.

Air mataku terus bercucuran. Walaupun jarak yang jauh memisahkan kita, ingatlah aku selalu. Don't forget me…

.

.

.

.

.

Bersambung

Wah teryata langsung dilamar.

Bagaimanakah kelajutan hubungan Mebae dan Tatsuya?

Nantikan kelanjutanya di chapter selajutnya!