Annyyeoongg \^^/
Enjoy!
Sorry for typo-
The 2nd Meeting
Chapter 16
.
.
Pesta perusahaan Sehun akan berlangsung malam ini. Sesuai permintaan Sehun, Luhan akan datang. Oleh karena itu, saat ini Luhan tengah sibuk memantaskan dirinya. Gaun hitam berlengan panjang yang sukses mencetak tubuh langsingnya itu menjadi pilihannya malam ini. Dengan panjang gaun diatas lutut, Luhan memadukannya dengan heels yang membuat kakinya nampak jenjang. Setelah menata rambutnya, ia siap untuk pergi.
Luhan memegang dadanya, "astaga… kenapa aku segugup ini." Gumamnya. Benar, meskipun Luhan sudah memutuskan untuk menemani Sehun, ia tetap merasa gugup. Jika dibilang, hari ini adalah yang paling mendebarkan dibanding saat ia bertemu orangtua Sehun dahulu.
Panggilan telepon dari Sehun masuk, ia segera mengangkatnya. "Ne?"
"Kau sudah siap?"
"Hm, sebentar lagi aku berangkat."
"Tunggu, aku sudah mengirimkan seseorang untuk menjemputmu."
"Ne?! Tidak perlu, a-aku bisa naik taksi."
"Jangan, seharusnya aku yang menjemputmu, tapi aku tidak bisa. Mian… Jadi, ikut saja dengan orang kirimanku, araseo?"
Luhan berpikir sejenak, "hm, araseo."
"Mungkin sebentar lagi dia sampai."
"Hm."
"Sampai bertemu, saranghae…"
"…" Luhan memandangi layar ponselnya saat teleponnya berakhir. Setelah memastikan penampilannya sekali lagi, Luhan mendapatkan panggilan masuk dari nomor tak dikenal.
"Yeoboseyo."
"Hai Cantik! Sudah siap? Aku di depan apartemenmu!"
Mata Luhan membulat, ia mengenal suara ini. "K-Kim Jongin-ssi?!"
Terdengar suara tawa di ujung sana. "Sudah kubilang, panggil aku oppa. Sudah siap?"
"N-ne… aku ke bawah." Setelah itu Luhan dengan cepat keluar apartemennya. Di depan ia berpapasan dengan Kyungsoo dengan pakaian rapinya.
"Eoh, Kyungi-ya? Kau mau pergi?"
Kyungsoo terlihat terkejut melihat Luhan di sana, "eh…" wajahnya seperti orang kebingungan, "…y-ya, ada acara. Kau juga?"
Luhan mengangguk, "Sehun memintaku menemaninya di pesta perusahaan."
"M-wo?!"
Luhan mengerutkan keningnya, "wae? Ada yang salah?"
"Berarti kau juga ke sana…"
Gumaman Kyungsoo masih terdengar oleh Luhan. Tiba-tiba Luhan mengerti situasinya. Jangan-jangan Jongin yang menjemputnya karena sekalian menjemput Kyungsoo. "Kyungsoo! Jangan-jangan kau pergi bersama… Kim Jongin-ssi?!" heboh Luhan.
Kyungsoo memejamkan matanya, "i-itu karena aku kalah taruhan!"
Luhan tersenyum geli, "geurae?"
Akhirnya kedua wanita itu keluar bersama. "Tapi kenapa kau bisa tahu aku pergi dengan dia?" tanya Kyungsoo yang penasaran.
"Aku hanya menebak, karena Jongin-ssi menjemputku."
"Mwo?!" Kyungsoo berhenti melangkah. Ia tidak tahu prihal Jongin yang akan menjemput Luhan.
"Kau tidak tahu?"
"Te-tentu saja…" jawab Kyungsoo. Rasa kesal tiba-tiba memenuhi dadanya. Bagaimana bisa si Jongin itu mengajaknya, tapi tiba-tiba menjemput wanita lain? Kyungsoo tidak masalah karena Luhan adalah sahabatnya, tapi apakah pria itu akan begitu dengan wanita lain? Kyungsoo merasa bodoh karena sedikit memercayainya.
Sesampainya di luar, Jongin sudah berdiri di samping mobilnya sambil tersenyum lebar. "Hai nona-nona, siap untuk berangkat?" tanyanya. Hanya Luhan yang meresponnya dengan anggukkan.
Jongin membukakan pintu depan, tapi Kyungsoo dengan cepat membuka pintu kursi belakang dan masuk tanpa mengatakan apapun. Jongin hanya bisa terkejut melihat perubahan sikap Kyungsoo.
Luhan merasakan aura di sekitarnya tidak baik. Ia bisa merasa bahwa kehadirannya menyebabkan masalah. Luhan mendekat pada Jongin, "kalian ada masalah?"
"Tidak, aku juga tidak tahu kenapa dia bersikap begitu."
"Araseo," angguk Luhan lalu ikut masuk ke kursi belakang bersama Kyungsoo.
Jongin menutup pintu mobilnya dengan hampa, "bagus sekali kalian memperlakukanku seperti supir," kekehnya miris.
Perjalanan mereka terasa begitu lama karena tidak ada satupun yang membuka pembicaraan. Ketiganya sibuk dengan pikiran masing-masing sambil memandangi jalan malam. Padahal waktu yang dibutuhkan untuk sampai hanya 20 menit.
Setelah sampai, Luhan pamit untuk pergi terlebih dahulu karena orang suruhan Sehun (lagi) sudah menjemputnya. Jongin keluar dari mobil lalu membukakan pintu untuk Kyungsoo, tak lupa ia menyodorkan tangannya pada Kyungsoo. Namun, wanita itu tak menyambutnya.
"Kyungsoo-ssi, apa aku melakukan kesalahan?" tanya Jongin yang tak tahan didiamkan. Kyungsoo menatap tak acuh pada Jongin, ia tak menjawab apapun. "Apa kau terpaksa menemaniku?"
"Karena aku kalah taruhan, katakan saja begitu…" jawab Kyungsoo datar.
Jongin menggeram dalam hati. "Lalu kenapa kau harus repot-repot menyetujui ini? Kau bisa menolaknya dengan angkuh seperti biasanya."
Kyungsoo terdiam sejenak, ia pun tidak tahu kenapa menerima undangn pria itu. Ia bahkan sampai memberikan penampilan terbaiknya–sampai harus merengek pada Baekhyun untuk mendandaninya– malam ini.
Jongin menarik Kyungsoo agar menghadapnya dengan tidak sabar. "Kau tidak mau menjawabnya?"
Kyungsoo menatap pria di hadapannya tajam, "apa kau memang begini, Jongin-ssi? Menjemput wanita lain setelah membuat janji denganku?"
Akhirnya Jongin menyadari kesalahannya, sepertinya ada kesalahpahaman di sini. Jongin baru akan membuka mulutnya untuk menjelaskan semuanya, tapi Kyungsoo lebih dulu menyelanya.
"–tidak masalah jika itu Luhan, tapi apa kau akan terus begini? Tidak cukup membuat janji dengan satu wanita saja?"
Jongin merogoh saku jasnya lalu mengeluarkan ponselnya. "Kyungsoo-ssi, aku bersumpah tidak membuat janji dengan wanita manapun selain dirimu…" ia memperlihatkan pesan yang Sehun kirimkan untuk menjemput Luhan. "…si maknae kurang ajar ini tahu aku akan menjemputmu, jadi dia sekalian meminta Luhan agar berangkat bersama kita."
Kyungsoo bungkam setelah membaca pesan yang ditunjukkan. Pikiran negatifnya membuat posisinya sulit saat ini. Haruskah ia meminta maaf, atau tidak? Kyungsoo tidak bisa memutuskannya.
"Apa ini, kau cemburu?" tanya Jongin, tangannya terlipat di dada sambil bersandar di mobil. Senyumnya begitu menyebalkan di mata Kyungsoo.
Mata Kyungsoo membulat, "siapa– terserah kau mau menilainya bagaimana!" Kyungsoo berbalik dengan cepat lalu hendak pergi. Lebih baik ia menghindar jauh-jauh dari pria itu. Belum ada dua langkah, Kyungsoo dikejutkan dengan genggaman di tangannya.
"Kau mau ke mana? Kau pasanganku malam ini, kan?" Wajah Jongin muncul dari samping membuat Kyungsoo menolehkan kepalanya. Kedua wajah mereka yang hanya berjarak beberapa senti membuat Kyungsoo terkejut.
"A-apa harus meletakkan tanganmu di situ?" tanya Kyungsoo, ia mengumpat dalam hati karena suaranya terdengar gugup.
Jongin membawa tangan Kyungsoo ke lengannya. "Seharusnya tanganmu yang di sini, kau pilih yang mana?"
Kyungsoo meremas lengan Jongin dengan kuat, "diamlah! Ayo cepat masuk!"
.
.
Jika sesuai jadwal, 15 menit lagi pesta akan dimulai. Setelah memastikan Luhan berada di ruangannya, Sehun gerera keluar dari ruang tunggunya dan bergegas ke ruangan di sebelahnya. Ia mengetuk pintu dan membukanya setelah terdengar suara dari dalam. Di dalam ruangan tersebut, Tuan Bae beserta anak dan istrinya sedang menunggu.
"Oh Sehun? Ada apa kemari?" tanya Tuan Bae.
Joohyun bangkit dari kursinya, ia berlari kecil menghampiri Sehun lalu memeluk lengan pria itu dengan manja. "Sehun-ah! Apa kau menghampiri untuk menjemputku?"
Sehun dengan perlahan menyingkirkan tangan Joohyun lalu membungkuk kecil pada Tuan Bae. "Selamat malam, sebenarnya saya kemari untuk memberi jawaban atas pertanyaan kemarin."
"Pertanyaan kemarin?" Tanya Joohyun, "…pertanyaan apa itu?"
Sehun sebisa mungkin tak mengacuhkan rasa penasaran Joohyun. Ia benar-benar tidak sabar untuk terlepas dari wanita di sebelahnya itu.
"Ah, ya tentu saja Oh Sehun. Jadi bagaimana?"
"Sebelumnya saya ingin minta maaf karena tidak jujur sejak awal. Sebenarnya saya sedang menjalin hubungan dengan seorang wanita."
"Mworago?!" pekik Joohyun.
"Bae Joohyun!" ayahnya mengingatkan. "Apa kau berusaha mencari wanita lain karena tidak tertarik dengan putriku?" tanyanya pada Sehun.
Sehun menggeleng, "aniyo, bukan seperti itu, Tuan. Nona Bae tidak memiliki celah apapun dari segi penampilannya, saya tidak seberani itu untuk menolaknya. Sayangnya, hubungan saya dengan wanita itu sudah terjalin cukup lama. Bahkan orangtua saya juga mengetahuinya." Jelas Sehun dengan raut menyesalnya.
Tuan Bae terlihat terkejut, "ah, jadi sudah sejauh itu hubungan kalian?"
"Ne, saya benar-benar minta maaf."
Joohyun menggamit lengan Sehun dan menggoyangkannya ribut. "Jika kau menyesal, tinggalkan saja wanita itu! Kau bisa bersamaku–" ucapannya terputus karena Sehun menoleh padanya dengan tatapan merendahkan. Tentu saja orangtua yang bersama mereka tidak bisa melihatnya. Refleks, Joohyun melepaskan tangannya dari Sehun karena merasakan pertanda bahaya.
Sehun kembali beralih pada Tuan Bae, ia tersenyum dengan banyak arti. "Saya memang menyesal, tapi tidak terlalu disayangkan karena saya lebih mementingkan karakter diatas apapun."
Tuan Bae berdehem, "begitu? Baiklah, aku mengerti. Aku bukan orang yang tidak profesional. Masalah pribadi ini tidak akan mengganggu urusan bisnis kita." Sehun membungkuk sebelum akhirnya keluar dari ruangan.
Sehun tidak langsung pergi, ia berhenti sebentar di depan pintu untuk memastikan sesuatu.
"Appa! Apa maksudnya? Bukannya appa sudah berjanji bahwa Sehun akan menjadi tunanganku?"
"Itu sebelum kau melakukan hal tidak baik pada seserang."
"M-mwo?! Memangnya apa yang aku lakukan?"
"Bae Joohyun! Sejak kapan kau menjadi tidak terkendali seperti ini? Kau mengacau di tempat milik kekasih Sehun, kan?"
"A-appa, kau mendengar dari mana? Aku tidak pernah–"
"Sehun sendiri yang memberitahuku. Karena ulahmu aku harus menanggung malu."
Sehun tersenyum penuh kemenangan. Rencananya benar-benar berjalan dengan mulus. Sebenarnya apa yang sudah Sehun lakukan hingga dengan mudahnya menolak perjodohan dan tetap mendapat investornya?
..
..
[Flashback on]
"Kalau begitu, dua hari lagi akan diadakan pesta perusahaan. Maukah kau datang bersamaku?" tanya Sehun.
Luhan sedikit terkejut dengan permintaan Sehun, tapi ia tetap mengangguk. "Hm, akan aku lakukan." Jawabnya.
Setelah pembicaraan, keduanya kembali. Sehun mengecek ponselnya, sebelum pembicaraan, Joohyun menghubunginya. Ia hanya ingin tahu apakah rencananya bisa dijalankan atau tidak.
(Joohyun) Sehun-ah, eodi? Ayo makan siang bersama! (*12.28)
(Sehun) Aku sibuk. Aku di butik Lu&B (*12.40)
(Joohyun) Ah! Kalau begitu aku akan ke sana! (*new 12.42)
(Joohyun) Aku hampir sampai (*new 13.10)
Sebenarnya, Sehun mendapatkan ide secara tiba-tiba. Ketika Joohyun menghubunginya, saat itu sebuah ide muncul.
"Luhan…" panggil Sehun. Luhan menghentikan langkahnya lalu menoleh pada pria yang sedaritadi diam sambil menggenggam tangannya. "Aku pergi, apa kau akan baik-baik saja?"
Luhan mengerutkan dahinya, "pertanyaan macam apa itu? Tentu saja aku akan baik-baik saja. Pulanglah…"
"Bisa antar aku ke depan?"
Luhan mengangguk, "tentu."
Sebenarnya Sehun merasa Luhan terlalu dingin dalam meresposnya, tapi ia tidak ingin memusingkan hal itu. Ia sedang bertaruh pada rencana dadakannya.
Sehun dan Luhan kembali ke butik. Sudah ada beberapa pelanggan yang datang dan sedang dibantu oleh karyawan di sana. Sehun mengedarkan pandangannya, mencari wanita yang katanya hampir tiba. Tak lama, matanya menangkap Joohyun yang baru saja masuk. Seorang karyawan menghampirinya, tapi sepertinya Joohyun menolaknya karena karyawan tersebut akhirnya pergi.
Sehun sengaja mengikuti arah pergerakkan Joohyun, ia ingin wanita itu merasa diperhatikan hingga menoleh padanya. Tapi hal itu tidak juga terjadi. Sehun melihat Joohyun seperti menghubungi seseorang. Ponselnya berbunyi disaat yang bersamaan. Karena ponselnya ada di tangan, Luhan sepertinya tahu siapa yang menghubunginya.
"Kau pergi karena ingin bertemu dengannya?" tanya Luhan.
Sehun memosisikan dirinya di hadapan Luhan dan membiarkan ponselnya terus berbunyi. "Tidak, aku tidak akan menemuinya." Jawab Sehun. Ia memang tidak berniat bertemu Joohyun, tapi ia ingin mempertemukan Joohyun dengan Luhan.
"Pergilah–"
Sehun membawa Luhan ke pelukannya karena panik. Seharusnya ia memperlihatkan adegan memeluk Luhan pada Joohyun, tapi ia tidak terlalu peduli Joohyun melihat atau tidak. Ia hanya tidak ingin Luhan kembali salah paham padanya. "Aku serius tidak akan bertemu dengannya, Luhan. Kau percaya?" bisik Sehun.
"Ya! Kau memintaku mengantarmu agar kau bisa melakukan ini di depan umum?! Banyak yang bisa melihat kita!" desis Luhan.
Sehun semakin mengeratkan pelukkannya. Jika semua menatap mereka, itu lebih baik. Pikir Sehun. "Kau harus menjawabku terlebih dahulu."
Luhan menghela napasnya, "aku akan mencoba percaya padamu."
Sehun melepas pelukkannya lalu menatap Luhan dengan lembut. Ia tersenyum, "aku tidak akan mengecewakanmu, lagi…" ucapnya sambil mengusap lembut pipi Luhan.
Luhan menyentuh tangan Sehun di pipinya. "Pergilah." Ucap Luhan. Sehun mengangguk, tapi lagi-lagi Sehun melakukan hal tidak terduga. Ia mencium Luhan, bukan sekedar kecupan singkat, namun ciuman lembut dengan sedikit lumatan.
"Aku pergi…" ucap Sehun sambil melambaikan tangannya. Senyumannya terlihat begitu lebar. Luhan hanya mengangguk, ia terlalu malu untuk membalasnya karena semua mata seperti mengarah padanya.
Setelah keluar dari butik, Sehun mengirimkan pesan pada Joohyun untuk bertemu di kafe dekat butik. Namun, ia tidak langsung pergi. Sehun mengintip dari jendela. Pesan yang ia kirimkan pada Joohyun tak perlu dikhawatirkan. Wanita itu tidak akan datang karena saat ini Joohyun sedang menghampiri Luhan.
Kejadian selanjutnya sesuai dengan perkiraan Sehun meski ada beberapa hal yang berlebihan. Joohyun benar melabrak Luhan, tapi Sehun tidak pernah menyangka bahwa Joohyun akan menampar Luhan. Sebenarnya Sehun ingin masuk dan melerai, tapi demi berjalannya rencana, Sehun tetap di tempatnya.
Joohyun pergi setelah membuat kekacauan. Para pelanggan akhirnya diminta agar kembali besok karena butik terpaksa tutup untuk hari ini. Sedangkan itu, Sehun kembali menghampiri Luhan dan berpura-pura terkejut dengan apa yang terjadi. Kemudian ia membantu kekacauan di butik.
Meski Sehun harus mendapat sasaran kemurkaan Baekhyun dan Kyungsoo karena ulah Joohyun, tidak masalah baginya. Ini artinya rencananya sudah berjalan. Setelah kekacauan dibenahi, Sehun pamit untuk melanjutkan rencana keduanya. Menemui Tuan Bae dan memprotes perbuatan putrinya.
[Flashback off]
..
..
Saat ini Luhan sedang menunggu di sebuah ruangan. Seseorang suruhan Sehun sebelumnya mengatakan bahwa ia harus menunggu di sini. Sedaritadi Luhan tidak bisa tenang, jantungnya terus berdetak tak karuan. Ia terus memegang ponselnya, berencana menghubungi Sehun, tapi ia tidak melakukannya. Pikirannya terasa kosong.
Pintu ruangan terbuka, Luhan dengan cepat menoleh, tapi ia menemukan bukan Sehun yang datang. "Nona, acara akan dimulai. Anda bisa ke aula sekarang, mari saya tunjukkan."
Luhan mengikuti pria yang menjemputnya itu. Ia meremas tangannya, kegugupannya bertambah seratus persen. Kepalanya serasa ingin pecah karena jantungnya memompa terlalu cepat. Kaki Luhan sampai tersandung kakinya sendiri. Untungnya pria di sampingnya itu dengan sigap membantunya. "Anda baik-baik saja, Nona?"
Luhan buru-buru membenarkan posisinya, "n-ne… gamsahamnida."
Saat mereka sampai, tiba-tiba saja lampu dia aula pesta mati. Banyak orang yang terdengar panik, tapi tak lama lampu kembali hidup, tapi tidak begitu terang. Sebuah lampu sorot menyoroti tempat Luhan berada membuat para tamu mulai menaruh perhatian pada Luhan. Hal itu membuat Luhan menolehkan kepalanya kebingungan. Apa yang terjadi? Pikirnya. Betapa terkejutnya Luhan saat lampu sorot lainnya memperlihatkan Sehun di depan sana tengah menatapnya dari atas panggung.
'Jangan bilang…' Luhan bergumam dalam hatinya. Prasangkanya membuat jantungnya berdebar dengan cepat. Ia mulai panik.
"Terima kasih kepada Tuan dan Nyonya yang menyempatkan hadir di pesta perusahaan kali ini. Sebelumnya saya ingin meminta maaf sekaligus meminta izin untuk menyampaikan sesuatu. Maaf jika kiranya saya terkesan menyampurkan urusan pribadi dengan pekerjaan, tapi saya ingin memberitahu bahwa wanita yang ada di depan sana merupakan kekasih saya…"
Suara bisik-bisik terdengar, mulai dari yang bertanya-tanya, tidak percaya, dan ikut turut berbahagia.
Di sudut lain, Kyungsoo dan Jongin hanya bisa ternganga melihat tindakan gila Sehun. "Apa Luhan tahu jika Sehun-ssi akan melakukan ini?" tanya Kyungsoo.
"Aku rasa tidak, lihat betapa paniknya sahabatmu itu." Jawab Jongin. "Apa Sehun berencana ingin ditolak lagi?"
Kyungsoo menyikut perut Jongin, "memangnya Sehun-ssi akan melamar Luhan?"
Jongin manatap tidak percaya pada pasangan pestanya itu, "bukannya sudah jelas?"
Ditengah perdebatan Jongin dan Kyungsoo, terdengar bisik-bisik dari orang di depan mereka.
"Wanita itu dari kalangan mana? Aku tidak pernah melihatnya…"
"Entahlah, tapi tidak mungkin Presdir Oh mencari wanita sembarangan, kan?"
"Benar, lihat penampilannya begitu elegan. Mungkin dari kelas atas juga?"
"Mungkin saja."
"…" Kyungsoo hanya bisa mendengus mendengar percakapan di depannya. Memangnya pasangan itu harus dari kelas atau kasta yang sama? Kesalnya. "Menyebalkan sekali."
Jongin lebih santai mendengarkan percakapan itu. Ia lantas berbisik pada Kyungsoo. "Tenang, apaun yang dikatakan orang lain itu tidak berpengaruh bagi Sehun. Lagipula… mereka terlihat serasi. Sehun bukanlah dari keluarga yang akan mempermasalahkan kelas."
Kyungsoo menoleh pada Jongin, lalu pria itu mengangguk meyakinkan. Ya, memang benar jika Kyungsoo belum tahu bahwa Sehun tidak terlahir dengan sendok perak di mulutnya. Suara Sehun kembali menjadi fokus mereka.
"…bagaimanapun, dia adalah segalanya. Dahulu saya memang tidak tahu betapa pentingnya dia, tapi saat ini, untuk mengalihkan pandangan saja saya tidak bisa. Bahkan di sini, saat ini saya rela mengatakan hal yang mungkin cukup memalukan mengingat betapa sifat saya yang selama ini bertentangan."
"Saya hanya ingin mengatakan bahwa saya mencintainya dan berencana untuk melamarnya." Lanjut Sehun yang disambut seruan dan tepuk tangan dari para koleganya.
Luhan hanya bisa mematung ditempatnya, apakah ini maksud Sehun mengajaknya untuk hadir di peseta perusahaan? Ada rasa malu karena Sehun membuatnya menjadi pusat perhatian, tapi ketika matanya tak sengaja menangkap sosok yang mengacau di tempatnya, Luhan merasa cukup lega. Ia tidak melihat tanda-tanda wanita itu mengacau meski raut wajahnya terlihat ingin meledak.
"Jadi… Luhan…"
Luhan tersentak ketika namanya dipanggil. Tatapannya tidak bisa lepas dari sosok pria di depan sana. Ia gugup sekaligus penasaran apa yang akan Sehun katakan padanya.
"…maukah kau menikah denganku?" tanya Sehun tegas. Ruangan aula mulai riuh bersamaan dengan Sehun yang berlari kecil menghampiri Luhan di sisi lain. Seorang pelayan menghampiri mereka dengan membawa nampan. Di sana terdapat sebuah kotak beludru kecil yang sebelumnya pernah Luhan lihat. Tentu ia melihatnya saat Sehun melamarnya saat pertama kali.
Sehun mengambil kotak itu lalu membukanya. Sebuah cincin terlihat berkilau. Sehun menanti jawaban Luhan dengan jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Ada rasa sedikit takut di hatinya ketika mengingat lamaran pertamanya ditolak.
Luhan tersenyum lalu mengangguk, "…aku mau."
Suara siulan, tepuk tangan, dan seruan memenuhi ruangan. Sehun tersenyum bahagia, rasanya sebuah batu baru saja diangkat dari dadanya, begitu melegakan sampai-sampai seperti bunga tumbuh di hatinya. Ia segera mengambil cincinnya dan memakaikannya pada jari manis Luhan.
Pesta dilanjutkan, kini Sehun menyapa para tamu dengan Luhan yang berada di sisinya. Para tamu juga mengucapkan selamat untuk keduanya.
..
..
Begitu acara selesai, Sehun berencana mengantar Luhan pulang. Mereka kini masih di mobil. Sudah hampir setengah jam mereka belum berangkat dan masih merenung. Wajah keduanya terlihat lesu.
"Michoseo… rasanya aku ingin tenggelam saja." Ucap Sehun.
Luhan mengangguk mengiyakan, "kalau begitu aku akan ikut. Aku tidak tahu bagaimana harus bersikap setelah momen memalukan itu."
"Aku setuju, aku tidak akan marah kau mengatakan itu. Aku baru menyesalinya…" respons Sehun.
Keduanya saling menoleh dan menatap satu sama lain. Tak lama, tawa keduanya pecah. "Oh Sehun bodoh! Apa jin yang merasukimu sudah keluar? Aku merasa kau bisa mati karena malu saat ini." ucap Luhan disela tawanya.
Sehun meratapi perbuatannya, "aku tidak siap menghadapi rapat besok, apa yang harus kulakukan?"
"Lalu kenapa kau melakukan itu?" tanya Luhan.
Sehun menggeleng, "aku hanya ingin kau percaya bahwa aku benar-benar serius padamu. Aku hanya berpikir hal gila itu mungkin akan membuatmu percaya."
Luhan tersenyum, segala keraguan yang bersemayam di hatinya kini sudah sirna. Bukan karena kegilaan Sehun malam ini, tapi ia menyadari bahwa Sehun bukanlah pria yang bisa diragukan setelah melihat beberapa perubahannya. Jika sebelumnya Luhan mengatakan bahwa Sehun masih tidak berubah karena menomor satukan perusahaannya, hal itu tidak bisa dibandingkan dengannya. Tentu saja pekerjaan dan hati itu tidak bisa disetarakan. Ia baru menyadarinya setelah banyak berpikir. Terutama saat kejadian kekasih setting-an Sehun yang mengacau di butiknya. Wanita itu melakukan kekacauan karena putus asa tidak bisa mendapatkan Sehun. Luhan jadi tahu bahwa Sehun benar-benar tulus padanya.
Luhan meraih tangan Sehun dan menggenggamnya, "maaf karena meragukanmu."
Sehun terlihat terkejut, "…kau–"
Luhan mengangguk, "mianhae."
Sehun mengusap kepala Luhan lembut, "tidak perlu memasalahkan itu. Sudah cukup bagiku jika kau sekarang memercayaiku." Kemudian Sehun meletakkan tangannya di atas tangan Luhan yang menggenggamnya. Di sana tersemat cincin yang ia pakaian pada Luhan. Sehun tersenyum melihatnya.
"Wae?" tanya Luhan.
Sehun menggeleng, "hanya tidak menyangka bahwa cincin ini telah menciptakan sebuah hubungan untuk kita. Kau suka?"
Luhan mengangguk, "um, cantik sekali. Bagaimana kau tahu ukuranku?" tanya Luhan mulai penasaran.
Sehun tersenyum penuh rahasia, "aku tahu semua tentangmu."
Luhan tertawa, "gombal!"
"…tapi aku serius." Ucap Sehun, wajahnya terlihat tidak sedang menggoda ataupun bermain-main.
"Be-benarkah?"
Sehun mengangguk lalu mencium punggung tangan Luhan yang tersemat cincin dengan lembut. "Terima kasih karena sudah menerimaku…"
Luhan tersentuh melihat sikap Sehun yang begitu lembut padanya. Ia merasa beruntung karena diberikan kesempatan untuk kembali bertemu dengan pria yang ternyata masih dicintainya.
"Terima kasih juga karena peduli padaku ketika kita bertemu lagi waktu itu." Ucap Luhan.
Sehun menggeleng, "aku tidak mengerti kenapa aku bersikap begitu. Aku hanya merasa benar-benar takut terjadi sesuatu padamu. Berkatmu aku mulai penasaran dengan perasaanku terima–"
Luhan meletakkan jari telunjuknya pada bibir Sehun, hal itu membuat si pria bungkam. "Aku rasa ini bukan pidato setelah memenangkan penghargaan, kan?" kekehnya. "Aku rasa kita tidak akan pernah berhenti mengatakan terima kasih."
Sehun tertawa, "itu karena aku sangat bersyukur dipertemukan lagi denganmu."
"Nado…"
Keduanya saling berpandangan, Sehun meraih tangan Luhan dan mengusapnya lembut. "Apa kau ingin makan malam?" tanya Sehun.
Luhan menatap aneh pada Sehun, "aku sudah banyak makan di pesta, Oh Sehun. Kau mau membuatku gendut?"
"Mau gendut atau tidak, kau tetaplah Luhan. Tidak masalah." Jawab Sehun enteng.
Luhan dibuat merona, "ya! Kenapa kau jadi suka menggombal!"
"…atau kau mau makan yang ringan-ringan saja?" tawar Sehun.
"Kau ini memang berencana membuatku gendut ya?"
"Ani… sebenarnya aku masih ingin bersamamu, tapi tidak ada alasan." Jawaban Sehun yang begitu jujur membuat Luhan bertambar malu.
"Memangnya harus ada alasan?"
Sehun bergumam, "lalu bagaimana caranya?"
"Padahal kau tinggal bilang jika masih ingin bersamaku." Luhan menunjukkan jarinya yang tersemat cincin. "…lagipula aku sudah terikat denganmu."
"Kalau begitu… kau mau ke apartemenku? Ani, menginap saja, eotte?"
"Ya!" Luhan mempoutkan bibirnya. Hal itu membuat Sehun kebingungan. "Kau kan harus rapat pagi-pagi. Jika aku menginap pasti kita tidak bisa bangun pagi."
"Apa maksudmu?" tanya Sehun heran.
"Ya, kau tahu… dulu sering terjadi. Setiap kita berlibur bersama, ketika besoknya kau ada rapat, pasti kau akan hampir terlambat. Kau lupa? Setelah melakukannya di malam hari, paginya kau–" Luhan menutup mulutnya rapat-rapat saat sadar bahwa ia mengungkit sesuatu yang sensitif.
"Paginya, aku…?" tanya Sehun yang mengerti ke mana arah pembicaraan ini.
"Y-yah… maksudku, paginya kau malas bangun–" Luhan menahan napasnya saat tiba-tiba Sehun mendekat padanya. Luhan beringsut mundur ketika wajah Sehun semakin mendekat padanya. "S-Sehun…" Luhan memejamkan matanya, ia tidak bisa lagi bergerak saat kepalanya menabrak jendela mobil.
"…S-Sehun, ini masih di mobil!" pekik Luhan.
Sehun yang ternyata hendak menarik sabuk pengaman untuk Luhan terhenti, "ini memang di mobil, memang kenapa?"
Luhan membuka matanya, saat ini wajah Sehun tepat berada di depannya. "Eoh?"
Sehun menarik sabuk pengaman dan memasangkannya untuk Luhan. "Ini di mobil, maka itu kau harus memakai sabuk pengamanmu, sayang. Apa yang kau pikirkan, eoh?"
Wajah Luhan merah padam. Senyuman Sehun menyadarkan Luhan bahwa pria itu tengah menggodanya. Wanita itu mengalihkan pandangannya. 'Sial! Otakku ke mana, sih?!' rutuknya.
"Lu…" panggil Sehun.
Luhan sama sekali tidak berniat untuk menanggapinya. Ia sudah terlanjur malu.
"Lu, lihat ini sebentar..." rupanya Sehun masih belum menyerah.
"Wae–" mata Luhan membulat saat sebuah kecupan ringan mendarat di bibirnya. Sehun tersenyum saat berhasil mencuri kesempatan. Terlalu terkejut, Luhan hanya bisa memegangi bibirnya yang masih terasa seperti tersengat listrik.
"Kita pergi?" tanya Sehun sambil bersiap di kemudinya.
"Eo-eodi?"
Sehun tersenyum penuh rahasia. "Ikut saja, kau pasti suka."
Setelah beberapa menit berkendara, akhirnya mereka sampai di tujuan. Ternyata Sehun membawa Luhan ke sebuah hotel. Eits! Jangan berpikiran liar dahulu. Hotel tersebut adalah salah satu bangunan dengan pemandangan paling menakjubkan di Seoul. Sehun memesan kamar yang memiliki view terbaik. Sehun hanya ingin memperlihatkan itu.
"Woah…" ucapan yang keluar dari mulut Luhan setelah mereka berdiri di balkon membuat Sehun tersenyum puas. "Cantik sekali!" Pemandangan dengan lampu yang bertabur bagai bintang membuat malam itu terasa begitu indah.
"Huahh! Di sini juga menyegarkan!" seru Luhan.
Sehun tersenyum, "kau suka?" tanyanya yang langsung dianggukki antusias oleh Luhan.
"Tenang sekali di sini…" Luhan memejamkan matanya sambil merentangkan tangannya. Ia benar-benar menikmati malamnya. "Sehun-ah! Lakukan yang sama sepertiku!" seru Luhan.
Tidak ada sahutan dari Sehun. Saat Luhan ingin berbalik, tangan Sehun menyamakan posisinya yang sedang merentangkan tangan. Tangan hangat Sehun menyentuhnya dengan lembut. Luhan juga bisa merasakan tubuh pria itu menempel di punggungnya. Perlahan Sehun meletakkan kepalanya di bahu kecil Luhan.
"Ini tidak tenang sama sekali, bagaimana ini…" gumam Sehun. Luhan mengerti maksud ucapan Sehun. Ia pun bisa merasakan bagaimana ributnya detak jantung Sehun, ditambah detak jantungnya juga mengikuti irama yang Sehun buat.
Sehun menggenggam kedua tangan Luhan lalu membawanya hingga tangan Sehun melingkari tubuh wanitanya. "Aku tidak tahu jika di sini seindah ini…" ucap Sehun. Luhan tidak meresponnya, ia menunggu. "…selama ini aku kemari jika sedang banyak pikiran karena pekerjaan, tapi tetap saja pikiranku tak pernah santai. Beberapa kali kemari aku pun tidak menyadari bahwa tempat ini sangat indah. Apa karena aku bersamamu?"
Luhan hampir tersedak air liurnya sendiri. Sejak kapan Sehun suka mengucapkan kata-kata memalukan begitu?! Pikirnya. "Sehun-ah…"
"Hm?"
Luhan berusaha melonggarkan pelukan Sehun lalu memutar balik tubuhnya. "Gwaenchanha?"
"Em, lebih dari baik."
"Siapa yang mengajarimu kata-kata murahan begitu?"
"Mwo?! Murahan?" Sehun mengerutkan dahinya.
Luhan memegang kedua pundak Sehun yang tinggi darinya, "aniya, kau jadi terlihat lebih imut."
"Imut?!" Sehun merasa terkejut dan ngeri mendengarnya. Tiba-tiba Sehun menarik Luhan mendekat padanya, kini wajah mereka hanya terpisahkan beberapa senti saja. "Karena kau berkata begitu, apa sekarang kau tetap bisa mengatakan kalau aku imut?"
Setelah mengatakan itu, Sehun dengan cepat meraih bibir Luhan dan membawanya dalam ciuman panas. Bibir keduanya saling bergulat, berlomba untuk menunjukkan seberapa besar cinta mereka. Angin yang berembus pun mereka abaikan. Panas ditubuh mereka tidak cukup dipadamkan hanya dengan terpaan angin malam. Bersamaan dengan bintang jatuh di langit, mari rapalkan permohonan agar pasangan ini bisa menemukan kebahagiaan mereka bersama.
.
.
to be continued-
.
.
Hellooooo~ jadi, sekian untuk chapter 15 ini ^^ gimana-gimana? Hahaha. Aku si seneng banget akhirnya mereka mau nikah TT asik Sehun gak jomblo lagi kkkk. Jangan lupa tulis pendapat kalian setelah baca ini hihi.
Ah ya, sebelumnya, makasi ternyata kalian masih nungguin cerita ini ^^ muah muah. Gak kerasa ya udah 16 chapter aja, aku udah buat planning sampai dimana cerita ini... jadi... masih rahasia! Ikutin ajaya :p hehe
..
Balasan review
#sisisima: karena ada yg kayak kamu selalu nunggu, jadi gak sabar buat selalu update kkk
#nanima999: Taehyung belum beraksi lagi nih, ups-! hahaha! Kaisoo lagi nunggu angin nih buat berlayar *si Jongin kaya doang, berlayar masih pake angin!
#xxizy: samasama ^^ luv too! Pas banget si, kamu minta disaat memang udah jadwalnya HUNHAN, seneng kan, kan? hihihi
#chan22: cewekbutuhpenjelasan, good! Siapp! Chanyeol langsung tancap gas! Hihi
..
Oke semua, sampai jumpa Kamis depan. Seeyoouu~
Gamsahamnida
*loveforHUNHAN yeayy!
