MAELSTROM CHRONICLE : THE BURNING MAZE

When the sun shines so bright, the darkness will fade…

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Percy Jackson and The Olympians, The Heroes of Olympus, The Trials of Apollo © Rick Riordan

.

.

Summary : Seorang putra matahari telah tiba di Manhattan, misinya adalah untuk menggantikan tugas ayahnya untuk menyelamatkan ketiga Oracle kuno yang masih berada dalam cengkraman Triumvirate Holdings. Kali ini, ia ditugaskan untuk mencari seorang Penutur teka-teki silang dalam sebuah labirin yang terbakar. Sanggupkah ia untuk menuntaskan misinya?


.

.

XI

Dikejar oleh Automaton yang ternyata bisa meledak? Wah … asyik sekali!

.

.


KEBANYAKAN SATIR jago melarikan diri.

Namun, Gleeson Hedge lain dengan kebanyakan satir. Dia menyambar sikat moncong senjata dari keranjang belanja, berteriak "MATI!" dan menyerbu manajer seberat satu setengah kuintal.

Sasuke langsung menyambar pedangnya dan mengacungkannya ke arah kedua automaton milik sang manajer. Tapi kedua automaton sekalipun terlampau terkejut sehingga tidak bereaksi dan mungkin karena itulah Pak Pelatih tidak kehilangan nyawanya. Aku menyambar kerah baju sang satir dan menyeretnya ke belakang sementara kedua karyawan itu akhirnya meluncurkan tembakan pertama nan membabi buta, memelesatkan stiker-stiker diskon jingga cerah ke atas kepala kami.

Aku menarik Hedge ke lorong sementara dia menendang kuat-kuat sehingga keranjang belanjanya terbalik di kaki musuh kami. Sasuke menangkis beberapa stiker yang melayang ke arah kami. Stiker diskon menggesek lenganku, dan aku bisa merasakan tekanan kuat yang ditimbulkan stiker-stiker itu.

"Hati-hati!" Macro berteriak kepada anak buahnya. "Aku butuh Apollo dalam keadaan utuh bukan tinggal separuh!"

Pak Pelatih Hedge mencakar-cakar rak, menggapai sebuah Koktail Molotov Menyala Otomatis MacroTM (BELI SATU, GRATIS DUA!), kemudian melemparkannya kepada karyawan toko sambil menyerukan pekikan perang "Makan surplus ini!"

Macro menjerit saat koktail Molotov mendarat di kotak-kotak amunisi Hedge yang berserakan dan, persis seperti yang diiklankan, bom itu tersulut sendiri dan meledak.

"Naik!" Hedge meraih pinggangku dan Sasuke, lalu menjegal kami. Sang satir lantas menyampirkan kami ke bahunya seperti sekarung bola sepak dan memanjat rak dengan heroik layaknya kambing gunung, melompat ke lorong sebelah sementara berpeti-peti amunisi meledak di belakang kami.

Kami mendarat di tumpukan kantong tidur yang digulung.

"Maju terus!" teriak Pak Pelatih, seolah tidak terpikirkan oleh kami untuk berbuat begitu tanpa disuruh.

Dengan telinga berdenging, kami berdua buru-buru mengejarnya. Dari lorong yang baru kami tinggalkan, aku mendengar letusan dan teriakan seolah Macro sedang menginjak wajan panas berisi berondong jagung.

Aku tidak melihat tanda-tanda keberadaan Grover.

Setibanya kami di ujung lorong, seorang pegawai toko mengitari pojokan sambil kembali menodongkan pistol penempel label.

"Hi-YA!" Pak Pelatih Hedge menghadiahinya dengan tendangan putar.

Jurus ini terkenal sukar. Aku sudah berkali-kali melatih gerakan ini semasa sekolah menengah awal, ketika ada ekstrakulikuler karate. Tapi berkali-kali juga aku terjatuh ketika melatih jurus itu.

Yang mengejutkan, Pak Pelatih Hedge melancarkan jurus tersebut dengan sempurna. Kuku belahnya menghajar wajah sang pegawai sehingga terlepaslah kepalanya. Tubuh automaton jatuh berlutut dan ambruk ke depan, kabel-kabel memercikkan listrik dari lehernya.

"Wow." Gleeson mengamati kuku belahnya. "Lilin kondisioner Kambing Super ternyata betul-betul mujarab!"

Well … aku tidak pernah mengetahui kalau dalam mitologi Yunani ada ramuan seperti itu. Semoga saja ramuan itu tidak diedarkan secara masal di dunia fana, aku tidak bisa membayangkan ketika tengah menyembelih kambing, aku ditendang dengan begitu keras dengan kaki kuku belah yang diolesi lilin itu.

Di belakang kami, Macro berseru, "Aduh, apa yang sekarang kalian lakukan?"

Sang manajer berdiri di ujung lorong, pakaiannya bernoda jelaga, rompi kuningnya berlubang di sana-sini hingga menyerupai keju Swiss berasap. Namun, entah bagaimana—terkutuklah Dewi Fortuna—dia tampak tidak terluka. Karyawan kedua berdiri di belakang Macro, sepertinya tidak peduli sekalipun kepala robotnya terbakar.

"Apollo," tegur Macro, "tidak ada gunanya melawan automaton saya. Ini toko barang surplus militer. Saya punya lima puluh lagi yang seperti ini di gudang."

Kulirik Hedge dan Sasuke. "Keluar, yuk."

"Iya." Hedge menyambar tongkat croquet dari rak di dekat kami. "Lima puluh mungkin terlalu banyak, bahkan untukku."

Kami mengitari stan kemah-kemah, kemudian berzig-zag melalui Surga Hoki dalam rangka mencapai pintu masuk toko. Selang beberapa lorong dari kami, Macro meneriakkan perintah: "Tangkap mereka! Aku tidak mau dipaksa bunuh diri lagi!"

"Lagi?" gerutu Hedge sambil menunduk ke bawah lengan manikin hoki.

"Dia bekerja untuk Kaisar." Sasuke terengah-engah, berusaha tidak ketinggalan. "Teman lama Kaisar. Tapi—hah hah—sang Kaisar tidak memercayainya. Memerintahkan agar dia ditahan—hah hah—untuk dieksekusi."

Kami berhenti di ujung rak. Gleeson menengok ke balik rak untuk mengintai, kalau-kalau musuh menunjukkan tanda-tanda pergerakan.

"Jadi, Macro justru bunuh diri?" tanya Hedge. "Bodoh amat. Kenapa ia mau bekerja untuk si Kaisar lagi kalau pria itu ingin dia dibunuh?"

Aku mengusap peluh dari mataku. "Kutebak sang Kaisar menghidupkannya kembali, memberinya kesempatan kedua. Sepertinya Bangsa Romawi memegang prinsip yang aneh mengenai loyalitas."

Hedge menggerung. "Omong-omong, di mana Grover?"

"Sudah dalam perjalanan ke Reservoir, kalau dia pintar."

Hedge mengerutkan kening. "Tidak akan. Mustahil dia kabur sendiri. Yah …." Dia menunjuk ke depan, ke pintu kaca geser yang terbuka ke lapangan parkir, Pinto kuning sang pelatih terparkir dekat sekali, tampak demikian menggoda—dan baru kali ini pulalah Pinto, kuning, dan menggoda digunakan dalam satu kalimat. "Kalian siap?"

Kami bertiga langsung menerjang pintu.

Akan tetapi, pintu itu tidak mau bekerja sama. Aku menabrak panel kaca dan terpental. Gleeson menggedor kaca dengan tongkat croquet, kemudian mencoba beberapa tendangan ala Chuck Norris, tetapi kuku belahnya yang sudah diolesi lilin Kambing Super ternyata tidak membekaskan goresan barang sedikit pun.

Sasuke berusaha untuk memecahkan kaca pintu itu menggunakan pedangnya, tapi pedang itu juga tidak meninggalkan satu goresan sedikit pun pada kaca.

Di belakang kami, Macro berkata, "Ya ampun."

Aku menoleh sambil berusaha menahan erangan, Sang manajer berdiri enam meter dari kami, di bawah arung jeram yang digantung ke langit-langit beserta plang melintang di haluannya yang berbunyi: PERAHU MURAH! Aku mulai maklum apa sebabnya sang Kaisar memerintahkan agar Macro ditahan dan dieksekusi. Untuk ukuran pria sebesar itu, dia terlalu lihai mengendap-endap dan mengagetkan orang.

"Pintu kaca itu tahan bom," ujar Macro. "Seksi material bunker kami mengadakan obral pekan ini, tapi Anda barangkali tidak tertarik."

Dari berbagai lorong, muncullah karyawan-karyawan berompi kuning—belasan automaton identik, sebagian masih terbungkus plastik bergelembung yang seolah baru dikeluarkan dari gudang. Mereka berjajar kurang lebih setengah lingkaran di belakang Macro.

Kuambil koin dari kantong celanaku, lalu kulemparkan ke atas. Koin itu langsung berubah menjadi busur panah berwarna emas cerah dengan ukiran matahari di sana-sini. Kutarik tali busurku. Aku membidikkan tembakan kepada Macro, tetapi tanganku gemetar hebat sehingga panah meleset dan justru menancap ke kening salah satu automaton yang terbungkus plastik gelembung, menghasilkan bunyi pop! Singkat. Si robot tidak menggubris sama sekali.

"Hmm." Macro meringis. "Anda benar-benar hanya manusia fana, ya? Ternyata benar kata orang: 'Jangan pernah bertatap muka dengan idolamu. Dia hanya akan mengecewakanmu.' Mudah-mudahan masih cukup sisa esensi dewata Anda, supaya dapat dimanfaatkan oleh kawan sakti Kaisar."

Sebenarnya aku ingin berteriak kalau aku bukanlah Apollo, tapi mendengar perkataan Macro, sontak aku terkejut. "Sisa esensi d-dewata?" aku terbata-bata. "K-kawan sakti?"

Aku menanti Gleeson Hedge bertindak pintar dan heroik. Tentu dia memiliki bazoka portabel dalam saku celana pendeknya. Atau barangkali peluit pelatihnya ternyata seperti peluit milik Percy yang bisa memanggil anjing neraka. Namun, Hedge tampak seterpojok dan seputus asa aku. Aku menanti gebrakan dari Sasuke, tapi ternyata ia juga sama saja.

Macro menggertakkan buku-buku jarinya. "Sungguh sangat disayangkan. Saya jauh lebih loyal daripada perempuan itu, tapi saya tidak boleh mengeluh. Begitu saya mengantarkan Anda kepada Kaisar, saya akan diberi hadiah! Automaton-automaton saya akan diberi kesempatan kedua untuk menjadi pengawal pribadi Kaisar! Setelah itu, apa peduli saya? Si penenung boleh membawa Anda ke dalam labirinnya dan mengerjakan sihirnya."

"S-sihir?"

Hedge mengangkat tongkat croquet-nya. "Akan kutumbangkan sebanyak-banyaknya," gumam sang satir kepadaku dan Sasuke. "Kalian cari jalan keluar lain."

Aku mengapresiasi niat Pak Pelatih Hedge. Nahasnya, menurutku sang satir tidak akan bisa mengulur-ulur banyak waktu untukku. Lagipula, aku tidak suka membayangkan harus mendatangi sang peri awan baik hati yang kurang tidur, Millie, dan menginformasikan bahwa suaminya dibunuh oleh sepasukan robot yang dibungkus plastik bergelembung. Terlebih informasi mengenai pemuda Uchiha yang disampaikan Millie dan Macro masih mengusik pikiranku.

"Siapa penenung itu?" pancingku. "Apa—aku hendak dia apakan?"

Senyum Macro dingin dan tidak tulus. "Anda akan segera bertemu dengannya," Macro berjanji. "Saya tidak percaya dia mengatakan Anda akan digantikan oleh putra Anda dan ia akan masuk perangkap kami, tapi ternyata Anda sendiri di sini. Dia meramalkan Anda tidak akan sanggup menampik kekuatan Labirin Api. Ah, sudahlah. Mau bagaiamana lagi? Tim Megadiskon Militer, bunuh si satir dan demigod lalu tangkap si mantan dewa!"

Para automaton terseok-seok ke depan.

Pada saat bersamaan, mataku menangkap sekelebat warna hijau, merah, cokelat di langit-langit—bentuknya mirip satir yang melompat dari atas rak terdekat, berayun dari lampu fluoresens, dan mendarat di rakit arung jeram di atas kepala Macro.

Sebelum aku sempat meneriakkan Grover Underwood!, rakit itu keburu menimpa Macro dan antek-anteknya, menindih mereka di balik perahu murah. Grover meloncat dari rakit dengan dayung di tangan, kemudian berteriak, "Ayo!"

Kekisruhan memberi kami waktu untuk kabur, tetapi karena pintu keluar terkunci, kami hanya bisa melarikan diri ke dalam toko.

"Kerja bagus, Underwood!" Hedge menepuk punggung Grover sementara kami melaju ke seksi kamuflase. "Aku tahu kau tidak akan meninggalkan kami!"

"Ya, tapi di sini sama sekali tidak ada yang alami," keluh Grover. "Tidak ada tumbuhan. Tidak ada tanah. Tidak ada cahaya alami. Bagaimana bisa kita bertarung dalam kondisi begini?"

"Senjata api!" Hedge menyarankan.

"Bukannya bagian itu sudah terbakar ya?" tanya Sasuke.

"Betul," balas Grover, "berkat koktail Molotov dan sejumlah peti amunisi."

"Terkutuk!" kata Pak Pelatih.

Kami melewati pajangan berupa senjata-senjata bela diri tradisional dan berbinar-binarlah mata Hedge. Dia buru-buru mengganti tongkat croquet dengan nunchaku. "Nah, ini baru asyik! Kalian mau shuriken atau kusarigama?"

Aku tergoda untuk menjawab pertanyaan itu, akan tetapi seseorang sudah menjawab terlebih dahulu.

"Aku mau kabur," kata Grover sambil menggoyang-goyangkan dayung. "Pak Pelatih, anda haru urung melakukan serangan frontal! Anda punya keluarga!"

"Kau pikir aku tidak tahu?" geram Pak Pelatih. "Kami mencoba menetap bersama Keluarga McLean di LA. Lihat bagaimana jadinya."

Kutebak ada cerita di baliknya—mengapa mereka meninggalkan LA, mengapa Pak Pelatih Hedge kedengaran getir sekali karenanya—tetapi sekarang mungkin bukan saat yang tepat untuk menceritakannya, apalagi kami sedang melarikan diri dari musuh di toko barang surplus.

"Aku usul agar kita mencari jalan keluar lain," ujarku. "Kita bisa lari sekaligus memperdebatkan senjata ninja mana yang paling pas."

Sasuke mengangguk. "Betul itu. Mungkin kau bisa menceritakan keadaan keluarga Piper ketika kita bisa keluar dengan selamat dari sini."

Kompromi ini tampaknya memuaskan kedua belah pihak.

Kami memelesat melewati pajangan berupa kolam renang tiup (barang surplus militer di sebelah mananya ya?), kemudian mengitari pojokan dan melihat di depan kami, di sudut jauh bangunan, pintu ganda berlabel 'KHUSUS KARYAWAN'.

Grover, Sasuke dan Hedge melaju duluan, meninggalkanku yang tersengal-sengal di belakang mereka. Tidak jauh dari tempat kami berada, suara Macro berseru, "Anda tidak boleh kabur, Apollo! Saya sudah memanggil Kuda. Dia akan tiba sebentar lagi!"

Kuda?

Kenapa panggilan itu membuat bulu kudukku merinding? Ada apa dengan hal itu sebenarnya? Aku mencoba untuk mencari-cari sesuatu dalam sejarah Kekaisaran Romawi yang pernah kudiskusikan dengan Annabeth dan Sasuke, tapi hasilnya nihil.

Yang pertama terpikirkan olehku: Mungkin 'Kuda' adalah nama alias. Barangkali sang Kaisar mempekerjakan seorang pegulat jahat berjubah satin hitam, bercelana pendek ketat mengilap, dan memakai helm kepala kuda.

Hal kedua yang terpikirkan olehku: mengapa Macro bisa memanggil bala bantuan, padahal aku tidak? Komunikasi demigod telah berbulan-bulan disabotase secara magis. Telepon korslet. Internet macet. Pesan Iris dan gulungan pesan magis tidak sampai. Sebaliknya, musuh-musuh kami tampaknya tak kesulitan unutk berkirim pesan pendek seperti Hei, Putra Apollo di tempatku. Kau di mana? Bantu aku bunuh dia, dong!

Tapi untung saja manajer bodoh ini masih menganggapku sebagai Apollo, entah apa yang terjadi ketika ia tahu kalau aku bukan Apollo. Apakah pihak Kaisar belum mengetahui tentang perubahan ramalan? Atau memang Para Moirae dan Oracle tersisa berusaha untuk membungkam tindakan ketiga Kaisar? Atau memang Kaisar ketiga ini mengharapkan Macro untuk dihukum pancung?

Entahlah siapa yang peduli.

Kami menghambur melalui pintu KHUSUS KARYAWAN. Ruangan itu berupa gudang/garasi bongkar muat berisi banyak automaton yang dibungkus plastik bergelembung, semua berdiri mematung seperti patung di museum patung lilin Madam Tussaud.

Gleeson dan Grover berlari melewati robot-robot dan mulai menggeser pintu logam yang menutup garasi bongkar muat ke atas.

"Dikunci." Pak Pelatih menghantam pintu dengan nunchaku.

Aku memicingkan mata lewat jendela plastik kecil di pintu karyawan. Macro dan antek-anteknya tengah menyerbu ke arah kami. "Lari atau bertahan di sini?" tanyaku. "Kita akan terpojokkan lagi."

"Naruto … Sasuke, apa yang kalian punya?" tagih Hedge.

"Apa maksudmu?" tanyaku

"Senjata rahasia apa yang kalian simpan? Aku sudah melemparkan bom Molotov. Grover menjatuhkan perahu. Sekarang giliran kalian. Apa kalian memiliki senjata rahasia di balik saku kalian?"

"Sepertinya aku tidak memiliki hal itu."

"Aku juga tidak memili—eh tunggu, sepertinya aku tahu sesuatu," kata Sasuke setelah memandang ke sekeliling kami.

"Apa itu? Apa?" tanya Pak Pelatih dengan antusias.

Sasuke tidak menjawab pertanyaan Hedge, ia malah melirik Grover. "Kau memikirkan apa yang kupikirkan bukan?" tanyanya.

"Sepertinya begitu …" Grover melemparkan dayung ke arahku. "Kita akan bertahan di sini. Naruto, kau palang pintu itu!"

"Tapi—"

"Pokoknya, jangan sampai Macro masuk!" Grover pasti sudah meneladani sifat Meg yang suka ngotot. Aku melompat untuk menuruti perintahnya.

"Pak Pelatih," lanjut Grover, "bisa Anda memainkan lagu untuk membuka pintu garasi bongkat muat?"

Hedge mendengus. "Sudah bertahun-tahun aku tidak melakukannya, tapi akan kucoba. Kalian hendak melakukan apa?"

Sasuke mengamati automaton-automaton yang dorman. "Sesuatu yang pernah diajarkan oleh temanku Annabeth. Cepat!"

Aku menyelipkan dayung ke gagang pintu, kemudian menyeret tiang samsak dan menyandarkannya ke pintu. Pak Pelatih Hedge mulai meniupkan melodi dengan peluit pelatihnya—aku baru tahu kalau peluit bisa menghasilkan sebuah lagu. Entah apa yang akan dipikirkan oleh Apollo ketika melihat ini.

Sementara itu, Grover dan Sasuke mencabut plastik pembungkus automaton terdekat. Sasuke mengetuk dahi robot dengan buku-buku jari, alhasil menghasilkan dentang hampa.

"Betul, dari perunggu langit," Sasuke menyimpulkan. Ia melirik ke arah Grover. "Barangkali kita bisa melakukannya!"

"Aku setuju," balas Grover.

"Apa yang akan kalian lakukan?" tanyaku. "Melelehkan automaton untuk dijadikan senjata?"

"Bukan, mengaktifkan mereka supaya bekerja untuk kita," balas Sasuke.

"Mereka tidak akan membantu kita! Mereka milik Macro!"

Omong-omong soal si mantan pengawal: Macro mendorong pintu, alhasil menggoyangkan dayung dan tiang samsak yang menahannya. "Ah, ayolah, Apollo! Jangan menyusahkan!"

Grover mengelupas plastik bergelembung dari satu lagi automaton. "Pada Pertempuran Manhattan," katanya, "ketika kami bertarung melawan Kronos, Raja bangsa Titan, Annabeth memberitahukan kode untuk mengakali perintah bawaan dalam perangkat lunak automaton."

"Apa itu bisa berguna?" tanyaku. "Kudengar hal itu hanya berguna untuk patung-patung umum di Manhattan? Mana mungkin benda-benda ini menanggapi 'rangkaian perintah: Daedalus dua-tiga'?"

Secara serta-merta, automaton-automaton yang terbungkus plastik berdiri siaga dan menggerakkan tubuh hingga menghadapku.

"Sip!" teriak Grover kesenangan.

"Sudah kuduga hal itu akan berhasil," kata Sasuke sambil menyeringai senang.

Aku tidak merasa sesenang itu. Aku baru saja mengaktifkan seruangan penuh karyawan logam paruh waktu yang lebih besar kemungkinannya membunuhku alih-alih mematuhiku. Annabeth pernah berkata kepadaku kalau automaton-automaton yang diaktifkan dengan perintah itu terkadang sedikit liar. Entah dari mana Annabeth tahu bahwa perintah Daedalus dapat dipergunakan untuk automaton mana pun. Tapi aku tidak menyangkal kalau gadis itu memang sangat cerdas.

Pak Pelatih Hedge terus meniupkan lagu entah-apa-judul-dan-penyanyinya. Pintu garasi bongkar muat terus bergeming. Macro dan anak buahnya mulai menggedor-gedor pintu karyawan, menyebabkan peganganku pada tongkat samsak nyaris terlepas.

"Naruto, bicaralah kepada automaton-automaton itu!" kata Grover. "Mereka sekarang menunggu perintahmu. Suruh mereka mulai Rencana Thermopylae!"

Well … aku tidak suka ketika diingatkan akan peristiwa Thermopylae. Ratusan prajurit Sparta yang pemberani harus meninggal di medan tempur demi melindungi bangsa Yunani dari serbuan Persia. Namun, kulakukan yang disuruh. "Mulai Rencana Thermopylae!"

Tepat pada saat itu, Macro dan kedua belas pelayannya mendobrak pintu—mematahkan dayung, menjungkalkan tiang samsak, dan memelantingkanku ke tengah-tengah kenalan baruku yang terbuat dari logam.

Macro terhenti mendadak, sedangkan para centengnya menyebar, enam di kanan dan enam di kirinya. "Apa-apaan ini? Apollo, Anda tidak boleh mengaktifkan automaton saya! Anda belum membayar! Anggota Megadiskon Militer, tangkap Apollo! Cabik-cabik kedua satir dan seorang demigod itu! Hentikan siulan terkutuk itu!"

Dua hal menyelematkan kami dari kematian mendadak. Pertama, Macro membuat kekeliruan dengan menyampaikan terlalu banyak perintah sekaligus. Sebagaimana yang bisa disampaikan oleh maestro mana saja, seorang konduktor tidak boleh berbarengan memerintahkan biola untuk mempercepat tempo, timpani untuk melembutkan pukulan, dan alat musik tiup untuk mencapai kresendo. Jika demikian, hasilnya adalah simfoni kacau balau. (Sepertinya keahlian musik Apollo tiba-tiba merasuki diriku, maafkan aku ya Pembaca Sekalian!)

Prajurit-prajurit Macro yang malang mesti memutuskan sendiri apakah pertama-tama harus menahan aku, mencabik-cabik kedua satir plus demigod, atau menghentikan tiupan peluit. (Aku pribadi akan menyerang si peniup peluit tanpa ampun.)

Hal kedua yang menyelamatkan kami? Alih-alih menuruti perintah Macro, teman baru kami para karyawan paruh waktu mulai menjalankan Rencana Thermopylae. Mereka terseok-seok ke depan sambil bergandengan untuk mengelilingi Macro dan rekan-rekannya, yang engan canggung berusaha mengitari kolega mereka sesama robot dan alhasil saling tabrak karena kebingungan.

"Hentikan!" jerit Macro. "Kuperintahkan kalian berhenti!"

Titah ini semakin menambah kebingungan. Antek-antek Macro yang setia diam di tempat, memungkinkan robot-robot yang dioperasikan perintah Daedalus untuk mengepung kelompok Macro.

"Tidak, bukan kalian!" teriak Macro kepada antek-anteknya. "Kalian semua tidak boleh berhenti! Kalian terus bertarung saja!" Klarifikasi ini sama sekali tidak menjernihkan keruwetan.

Robot-robot Daedalus mengepung rekan-rekan mereka, mengelilingi mereka seolah hendak memberikan pelukan massal. Walaupun Macro besar dan kuat, dia terjebak di tengah sambil menggeliang-geliut dan main sikut tanpa daya.

"Tidak! Aku tidak boleh—!" Dia meludahkan plastik bergelembung dari mulutnya. "Tolong! Jangan sampai Kuda melihatku seperti ini!"

"Oh ya, sebelumnya aku mau mengaku." Mataku bersinar-sinar jahil ke arahnya. "Sebenarnya aku bukanlah Apollo, aku adalah putranya. Memang kami sedikit mirip, tapi tidak kusangka kau dengan mudahnya dibodohi seperti itu."

"Kau!" Macro meraung murka. "Kau dengan beraninya menipuku! Awas kau demigod! Jika aku bisa lolos dari sini, akan kucincang kau dan kupersembahkan kepada Kaisar!"

Dari dalam dada robot-robot Daedalus itu, keluarlah suara dengungan, seperti mesin macet. Asap membubung dari sambungan di leher mereka.

Aku menjauh, sebagaimana yang memang lumrah dilakukan ketika sekelompok robot mulai berasap. "Grover, Rencana Thermopylae itu apa tepatnya?"

Sang satir menelan ludah. "Anu, mereka mesti bertahan supaya kita sempat mundur."

"Kalau begitu, kenapa mereka berasap?" tanyaku. "Selain itu, kenapa mereka berpendar merah?"

"Aduh." Grover menggigit bibir bawahnya. "Mereka sepertinya salah tangkap. Rencana Thermopylae tertukar dengan Rencana Petersburg."

"Artinya—?"

"Mereka mungkin hendak mengorbankan diri dengan meledak."

"Pak Pelatih!" teriakku. "Tiup peluit dengan lebih merdu!"

Aku terjun ke depan pintu garasi bongkar muat, menyelipkan jari-jariku ke bawah, dan mendorong dengan seluruh tenagaku yang pas-pasan. Aku bersiul mencoba untuk mengiringi melodi Hedge yang kalut. Aku bahkan ber-tap dancing sedikit, sebab tarian itu diketahui bisa mempercepat dampak mantra musik (berterimakasihlah kepada Apollo tentang kiat-kiat musiknya yang terkadang tidak berguna).

Di belakang kami, Macro menjerit, "Panas! Panas!"

Pakaianku terasa kelewat panas, seolah aku sedang duduk di pinggir api unggun, Selepas pengalaman kami nyaris tersembur api di Labirin, aku tidak mau menantikan pelukan massal/ledakan di dalam ruangan ini.

"Angkat!" teriakku. "Angkat!"

Sasuke langsung menghampiriku dan ikut mendorong dengan sekuat tenaganya. Grover juga ikut menyertai kami sambil melantunkan lagu dengan gila-gilaan. Akhirnya, pintu garasi mulai bergerak, berderit protes sementara kami mengangkatnya beberapa inci dari lantai.

Jeritan Macro menjadi tidak jelas. Asap dan hawa panas semakin memenuhi ruangan itu. Suara dengungan yang dihasilkan oleh robot-robot itu makin lama kian nyaring seperti alarm darurat.

"Sana!" teriakku kepada rekan-rekanku. "Kalian bertiga, bergulinglah ke luar!"

Alangkah heroiknya aku—meski sejujurnya, aku sempat berharap mereka bakal bersikeras Oh, tidak, jangan! Kau duluan saja!

Tidak ada basa-basi macam itu. Kedua satir menggeliang-geliut ke bawah pintu, kemudian menahannya dari seberang sementara aku berusaha untuk menyempil melalui celah. Malang nian, celah yang terbuka itu masih terlalu kecil untuk kulalui. Singkat kata, aku tersangkut.

"Naruto, ayo!" teriak Grover.

"Sedang kucoba!"

"Bantu aku angkat ini lebih tinggi lagi!" perintah Sasuke.

Mereka bertiga mulai mengangkat pintu garasi itu lebih tinggi. Grover dan Pak Pelatih kembali melantunkan lagu yang telah mereka gunakan tadi. Tak lama kemudian, pintu itu kembali terangkat hingga aku bisa kembali berguling.

Begitu aku berdiri, Grover berteriak, "Tiarap!"

Kami melompat ke pinggir garasi bongkar muat sementara pintu baja—yang rupanya tidak tahan bom—meledak di belakang kami.


.

Bersambung

.


Hai semuanya, kembali lagi bersama saya FI. Antonio no Emperor. Kali ini kisah Naruto dan kawan-kawan kembali berlanjut. Mereka kini sudah bisa berhasil keluar dari toko surplus militer milik Naevius Sutorius Macro, mantan pengawal dari Kaisar Gaius Julius Caesar Augustus Germanicus dan juga pembunuh dari Kaisar Tiberius.

Pada chapter ini, hal yang pernah terjadi di novel Percy Jackson and The Olympians kembali dihadirkan di sini, yaitu Rangkaian perintah : Daedalus dua-tiga. Perintah yang digunakan untuk menggerakkan automaton magis yang terbuat dari logam-logam magis seperti Perunggu langit.

Lalu menjelang akhir chapter, Macro menyebut tentang 'Kuda'. Apakah itu adalah kuda beneran atau hanya julukan saja? Silahkan tunggu di chapter depan.

Mungkin itu saja dari saya, semoga para readers sekalian masih terhibur dengan fic ini. Kalian bisa meninggalkan komentar di kolom review agar saya bisa mengembangkan fic ini menjadi lebih baik lagi.

Akhir kata, sampai jumpa lagi.