Maaf banget kalau lama update, aku lagi gak bisa bener-bener nulis akhir-akhir ini karena waktu yang sempit, plus inspirasi mulai berkurang dan minatku sama au ini sebenarnya mulau pudar-bahkan ke drarry karena udah kelamaan dan ship minor zaman marauders mulai mencuri perhatianku :)
Jadi dengan berat hati aku revisi chapter ini agar dua atau tiga chapter sesudah ini bisa end. Maaf banget kalau memang kalian gak puas sama ceritaku. Kalau aku ada waktu, aku bakal secepatnya revisi biar lebih barealbe. Makasih.
Itu aja, sih, selamat membaca!
Itu aja, sih, selamat membaca!
Tirai sewarna malam membentang menutup tiap-tiap jendela, menahan semua jenis cahaya dari luar ruangan. Membuatnya benar-benar gelap kalau bukan karena api yang menyala di perapian, satu-satunya sumber cahaya di sana. Cahayanya mengiluminati beberapa meter dari sumbernya.
Di depan perapian itu berdiri meja panjang hitam yang dikelilingi oleh dua puluh orang berjubah dan bertopeng yang sedari awal sudah saling berbincang.
Sang pemimpin, sosok yang duduk di ujung meja dengan kursi bagai singgasana, membelakangi perapian, menyenderkan, mengabsen pengikutnya satu per satu selagi dia berbicara dengan suara beratnya yang setengah berbisik.
Di tengah meja tergeletak mayat seorang pria, yang dari perawakannya bisa dipastikan, bukan lagi manusia seutuhnya. Badannya yang kekar hampir menutupi dari sisi ke sisi meja yang lain; tangannya yang besar dan berkuku tajam bagai cakar tampak terkepal, membeku; sedang wajahnya—wajahnya lebih terlihat seperti serigala daripada orang. Dia adalah Greyback, pemimpin kawanan manusia serigala seantero Inggris.
"Jadi, Tuanku ... ." Seorang di antara jejeran sosok berjubah yang mengelilingi sisi meja angkat bicara setelah sang pemimpin berhenti bergumam. "Kapan kita akan menyerang?" tanyanya hati-hati.
Matanya yang mengintip dari lubang topeng porselennya menatap pengikutnya intens di tengah hening sebelum berpindah ke mayat manusia serigala yang ada di depannya, sebelum menjawab, "Kita akan menyerang di saat yang tepat, tentu saja. Kalian tinggal menerima aba-abaku."
Sosok tersebut kemudian mengayunkan tongkatnya untuk mengganti mayat yang ada di atas meja makan dengan hidangan yang menggugah selera.
"Sekarang," katanya seraya meraih segelas anggur, "mari kita bersantai sejenak dan membiarkan mereka berpikir bahwa semua baik-baik saja."
Berbeda dengan musim panas sebelumnya, alih-alih menghabiskan pekan terakhirnya berbelanja di Diagon Alley atau mengunjungi semua pusat perbelanjaan bersama dengan Michael atau berkunjung ke Malfoy Manor, kali ini Harry dan yang lainnya—papanya, Regulus, dan Michael—pergi menonton Piala Dunia Quidditch di Dartmoor, sisi selatan Inggris.
Hari ini adalah hari yang benar-benar dia nantikan sepanjang musim panas. Sejak papanya memperlihatkan beberapa lembar tiket Box Kementerian, Harry sungguh tidak bisa mencabut semua andai soal Piala Dunia Quidditch dari benaknya. Jadi tidak heran kalau antusiasme tidak henti-hentinya mengalir dari jantungnya ke seluruh bagian tubuhnya semenjak mereka tiba di kawasan pertandingan.
Dia, Michael, dan Tuan Riddle serta Regulus tiba di sana tepat pukul sebelas siang dengan kereta limo terbang. Mereka kemudian menghabiskan waktu menunggu mereka sebagian besar di tenda sebelum dia dan Michael memutuskan berkeliling untuk beberapa jam.
Di saat itulah mereka bertemu dengan keluarga Weasley dan memutuskan untuk berkunjung ke tenda mereka yang ternyata hanya berjarak lima tenda dari tenda Harry dan yang lain.
Malam sudah membumbung bersama ratusan konstalasi di langit berawan ketika Harry dan yang lainnya keluar dari tenda, berbaur bersama dengan ritus-ribu kerumunan lainnya, menuju ke Stadion Trillenium yang menjadi gelanggang Quidditch nantinya.
"Jangan sampai terpisah," ingat papanya seraya memberi isyarat untuk melihat ke sekitar.
"Baik, Papa," jawab Harry, merapatkan tubuhnya kepada Michael yang beberapa inci lebih tinggi. Anak itu kemudian refleks merangkul pundak Harry.
"Baik, Tuan Riddle," susul Michael.
Regulus hanya mengangguk sebelum mengikis jarak antara dirinya dan Tom, sehingga tangan pria tinggi itu bisa dengan mudah menyelinap merangkul tangannya. Senyum tipis terbusur di bibirnya.
"Itu mereka!" seru Regulus tiba-tiba seketika matanya menangkap dua sosok bersurai hitam yang berdiri di persimpangan lorong yang memisahkan pualam tempat duduk umum dan yang khusus.
"Sirius! Severa!" panggil Harry seraya berlari menghampiri Sirius yang langsung memeluknya erat.
Dia bisa jamin, kalau tubuhnya lebih kecil daripada yang sekarang—dia benar-benar tidak mengharapkan hal itu terjadi, tubuhnya sudah kelewat kecil daripada remaja sebayanya—Sirius pasti sudah menggendongnya.
"Hai, Prongsie! Michael!" sapa Sirius ramah, mengacak-acak rambut Harry. "Ayo! Pertandingan keburu dimulai, tadi aku lihat Menteri Fudge dan Malfoy sudah masuk!"
"Ada beberapa kendala di perbatasan tadi, kami harus menanganinya dulu," jelas Severa singkat pada Tuan Riddle dan Regulus sebelum mereka menyusul langkah Sirius dan kedua remaja itu.
Pada akhir perjalanan, mata mereka disapa oleh ruangan yang diisi tiga puluh kursi berlapis beludru ungu dan sulaman emas di pinggirannya. Di tiap-tiap sisi bertengger kandil lilin bertangan emas yang menyinari ruangan, serta jendela besar yang menampakkan pemandangan lapangan secara keseluruhan.
Tampak ruangan yang mereka masuki sudah lebih dulu dihuni oleh beberapa penyihir. Tidak banyak yang Harry kenali, kecuali tujuh kepala merah yang duduk berjejer di barisan kursi nomor dua dari depan, serta tiga orang pirang berperawakan aristokrat yang berdiri di tengah ruangan bersama dengan Menteri Sihir Inggris, Cornelius Fudge, dan seorang laki-laki asing.
"Tuan Riddle," sapa Fudge ramah, seakan mereka sudah mengenal lama.
Menteri Sihir kemudian menghampiri mereka dan menyalami papanya sopan sebagaimana keluarga Malfoy yang juga memberi isyarat hormat pada papanya.
"Cornelius ... Lucius," sapa Tuan Riddle formal sambil meraih tangan keduanya secara bergantian.
"Kau membawa anakmu, Lucius?" tanya Tuan Riddle basa-basi.
Tuan Malfoy mengangguk pelan. "Benar, Tuan. Dia sangat menyukai Quidditch sebagaimana anak Anda, Harry," jawabnya dengan mata yang melirik Harry.
"Tentu saja. Itulah salah satu membuat mereka bisa sampai ke tahap sekarang. Hobi mereka sama," tukas papanya yang sontak membuat wajah Harry memanas karena malu.
Dengan wajah yang ia yakini semerah tomat, Harry berpaling pandang dari Tuan Malfoy pada Draco yang berdiri di samping papanya. Selankah di belakang pria itu, lebih tepatnya.
Remaja itu dengan lugas mengedikkan alisnya pada Harry, memberi isyarat sapaan berupa kerlingan mata. Sebagai aristokrat, Draco tahu kalau tidak sopan menyelak pembicaraan orang tua. Begitu pun dengan Harry.
Papanya dan Tuan Malfoy tampak asyik bercakap berdua sampai Menteri terabaikan—papanya memang sengaja mengabaikan orang itu, dia tidak terlalu penting—sehingga mau tidak mau laki-laki beruban itu langsung menyelak pembicaraan mereka berdua.
"Ah! Perkenalkan, ini Tuan Olbanks—Oblansk—Obalonks-terserah. Dia Menteri Sihir Bulgaria," katanya terbata-bata lalu menunjuk pada pria tinggi yang ada di sampingnya. "Dia tidak mengerti sedikit pun soal Inggris, aku butuh Crouch untuk ini."
"Ya, ya," jawab Tuan Riddle bosan dan langsung membalas tangan Menteri Sihir Bulgaria.
Selesai dengan percakapan singkat mereka, Tuan Riddle kemudian mengarahkan Harry bersama yang lain untuk menempati tempat duduk paling depan. Sempat juga Tuan Riddle menyapa keluarga Weasley yang duduk di barisan kedua.
Duduk di barisan terdepan, penglihatan Harry langsung disapa oleh lapangan Quidditch yang sekarang terpampang jelas di hadapannya.
Matanya membelalak takjub, begitu juga dengan bocah Yeung dan Malfoy muda. Ketiganya—yang duduk secara berurutan menyamping—seakan tak bisa memisahkan mata mereka dari apa yang baru saja dilihat.
Ratusan ribu penyihir duduk di tempat duduk yang mengelilingi lapangan dalam bentuk oval. Cahaya keemasan yang tampak berasal dari stadion sendiri mewarnai segala penjuru, mulai dari pualam bangku sampai dengan tengah lapangan. Lapangannya pun tampak seperti kain sutera yang dibentang luas, dengan tiga gawang setinggi lima puluh kaki di tiap ujungnya. Dan tepat di sisi lain stadion, berlawanan arah dengan ruangan khusus tempat mereka menonton, terdapat kotak angka raksasa dengan tulisan "Bulgaria" dan "Irlandia".
"Wow!" takjub ketiganya bersamaan.
"Aku tidak pernah melihat stadion seperti ini," ujar Michael takjub. Harry mengangguk mengiyakan.
Dan sebagaimana biasanya, Draco akan merusak suasana. "Dasar norak kau, Yeu—auch! Apa-apaan kau, Harry?" keluhnya sembari mengelus tangannya yang baru saja disundul Harry dengan sikunya.
"Kau juga belum pernah melihat yang seperti ini, Malfoy. Jangan sok sombong!" Ron yang duduk di belakang mereka memutuskan untuk menyahut, membuat Harry dan yang lainnya menoleh. Di sana dia hadir dengan keenam kakak-adiknya dan ayahnya, Hermione juga ada di sana.
"Diam, Weasley!" cibir Draco yang berujung cekcok dalam intensitas suara yang cukup kecil sehingga tidak ada yang tahu kalau mereka sedang beradu mulut kecuali Harry, Michael, dan Hermione.
Harry benar-benar tidak habis pikir dengan keduanya. Tidak pernah mereka diam di satu ruangan tanpa mengejek, saling mencibir, dan melempar mantra.
"Abaikan saja mereka bertiga," gumam Hermione melihat Draco, Michael, dan Ron mulai balas-membalas cibiran.
Awalnya dia berniat untuk mengabaikan kekasihnya dan melanjutkan perbincangan ringannya dengan Hermione, tapi sepertinya langkah harus diambil—sebelum mereka meledakkan seisi ruangan.
"Bisa tidak, kalian tidak bertengkar sehari saja?" tanya Harry sarkas.
Draco langsung beralih wajah pada Harry, raut mukanya memperlihatkan ketidakpastian sebelum menjawab, "Tentu saja bisa, Harry,"—kepalanya lalu berpaling kembali pada Ron—"kalau saja dia memutuskan untuk tidak muncul di hadapanku!"
Napas Harry menghela panjang selagi dia menggeleng pelan. Benar, mereka bertiga benar-benar tidak bisa berhenti bertengkar.
Mendengar cemooh Draco, riak muka berbintik Ron sontak, seakan siap melempar semua mantra dan kutukan kepada Draco kalau bukan suara yang menginterupsi mereka dari arah pintu masuk.
"Sudah siap semua?!"
"Sudah, Ludo" jawab Fudge kepada pria itu; Ludo Bagman.
"Baik, terima kasih, Menteri—Sonorus!"
Senada dengan mantra yang keluar dari mulutnya, suaranya pun mulai menggema ketika dia menyapa seluruh penonton yang ada di sana.
Tak lama setelahnya, Snitch pun dilepaskan, menandakan kalau pertandingan sudah dimulai—dan dengan cepat semua orang terfokus pada jalannya pertandingan. Bahkan Draco dan Ron yang tadi saling melempar cibiran, sekarang sudah diam senyap. Memilih menonton pertandingan ketimbang bertengkar tidak jelas.
Berjam-jam mereka habiskan menonton para pemain Quidditch kedua negara, Irlandia dan Bulgaria, bertarung sengit di gelanggang—sampai akhirnya pertandingan selesai dengan tertangkapnya Snitch oleh Krum, Seeker termuda yang dimiliki Bulgaria. Sorak-sorai dari penonton dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru. Memenuhi tiap-tiap sisi dan sudut stadion, merayakan kemenangan tim yang mereka dukung.
Di penghujung acara penonton Box mendapat kehormatan untuk bertemu dengan tim Bulgaria—yang terang-terangan tidak terlalu Draco sukai saat dia mendapati Victor Krum tanpa pikir panjang mencium punggung tangan Harry secara sensual dan mengajaknya menghabiskan malam bersama berkeliling kawasan pertandingan.
Brengsek! Dia pikir, siapa dia?!
Mendengar percakapan keduanya sungguh membuatnya jengah. Tanpa pikir panjang, Draco langsung menyelinap ke samping Harry, memaksa Michael agar bergeser. Tangannya lalu menyelinap untuk merangkul tangan Harry. memberi pemuda tanggung itu isyarat kalau Harry sudah menjadi
Kekasihnya hanya mengerling sekali sebelum terkekeh pelan, pipinya sedikit memerah sewaktu dia menyamarkannya dengan galengan pelan.
"Terima kasih, Tuan Krum. Tapi aku sudah punya acara malam ini," jawab Harry dan mengerling ke arah Draco malu.
Krum yang mengerti maksud Harry langsung mengangguk.
"Baiklah kalau begitu, terima kasih, Tuan Riddle." Kksen Bulgaria terdengar jelas dari kalimatnya.
"Uh! Malfoy, kau cemburu?" tanya Michael iseng, nada mengejek jelas terdengar dari kata-katanya.
Draco mendengus. "Tentu saja. Harry kekasihku. Kau juga pasti tidak akan bisa tenang kalau melihat—lihat! Weasley sepertinya sangat nyaman akan perlakuan Krum di sana," serunya seraya menunjuk dengan tatapan ke arah Ron, yang Harry lihat, dengan senang hati membiarkan Krum menggenggam tangannya cukup lama.
Berpaling dari Ron, Harry lalu disapa oleh wajah masam Michael yang ketika itu menghadap langsung ke arah Ron.
Uh. Harry tidak pernah menyadari ketertarikan Michael pada Ron selama ini.
"Diam, Malfoy. Lagi pula Ron bisa bergaul dengan siapa saja—" Kata-katanya terpotong ketika dia melihat Krum yang membisikkan sesuatu pada Ron yang disusul dengan rona merah di pipi Ron.
Astaga!
Kembali Draco mencibir, "Tampaknya milikmu akan segera direbut." Seringai mengejek jelas terangkat di salah satu sudut bibirnya yang di waktu bersamaan tangannya mempererat kaitannya dengan Harry.
"Apa maksudmu tadi?" tanya Harry cepat.
Dia dan Draco sudah berpisah dengan rombongan Malfoy, Weasley, dan keluarganya. Pemuda pirang itu dengan ringan meminta izin agar mereka bisa ditinggal berdua, menyusuri kawasan perlombaan yang masih ramai akan jajanan.
Draco menggeleng sambil tertawa pelan.
"Benar-benar ... ternyata seorang Harry Riddle, satu-satunya murid yang bisa membanting Profesor Lupin di tahun kedua, bisa tidak menyadari kalau sahabatnya tengah dilanda kasmaran?" tanyanya sarkas, tapi tetap nada humor yang jarang ia perdengarnya ada di sana. "Kau ini benar sahabat atau bagaimana, sih?"
Harry menggeram. "Jawab saja, Draco! Kau tahu kalau aku susah menyadari hal-hal seperti ini!" dumalnya, kepalannya sigap mendarat di lengan atas Draco dengan tekanan cukup keras.
"Hei! Sakit!" keluhnya.
"Makanya! Kasih tahu!" bela Harry.
Napas panjang mengembus dari Draco. "Baiklah, baiklah. Yeung sepertinya tertarik pada si Weasley," jelasnya.
"Aku tahu itu!" keluhnya. "Maksudku, bagaimana kau bisa tahu?!" tanyanya lagi, kali ini lebih menekan.
"Oh! Itu sangat mudah, Cinta," jawabnya, membuat Harry merona lagi karena julukan penuh afeksinya.
Draco tahu betul bagaimana caranya membuat rona samar di wajah Harry menjadi kasat mata tiap waktu.
"Aku tidak akan segan mengutukmu kalau begini caranya," ancam Harry yang masih merah padam mukanya.
"Baiklah, baiklah," kekeh Draco dan mulai menjelaskan, "hanya ada dua jenis orang atau penyihir yang bisa menolak kecantikan Veela. Pertama, mereka yang merupakan keturuna Veela sendiri; dan, kedua, mereka yang tengah dilanda cinta."
Tangannya sekarang beristirahat pada pelipis Harry, merapikan beberapa anak rambut yang berantakan di sana—Harry meragukan kalau rambut-rambutnya itu akan rapi setelah ini.
"Kau tahu kalau jawabanmu belum menjawab pertanyaanku. Bagaimana kau tahu kalau yang disukai Michael adalah Ron?"
"Sebaiknya aku jawab sambil berjalan, kita tidak mau pulang larut karena terlalu lama berbicara, 'kan? Ditambah sekarang adalah makan malam pertama kita, sebagai pasangan," ajaknya, Harry menurut tanpa melawan.
"Salah satu ciri seseorang yang jatuh cinta setelah melihat Veela, otomatis akan berpaling muka pada mereka yang dicintainya—dan kebetulan aku melihat Yeung menatap Weasley cukup lama," jelasnya pelan. Iris peraknya memaku Harry lama, seakan ingin mengingat tiap-tiap seluk beluk wajahnya, "ketika ... aku mengerling ke arahmu," lanjutnya, yang sukses membuat darah Harry mendesir dari jantungnya, memberi kesan hangat yang merembet dari tengah sangkar rusuknya yang memompa sampai ke pipi putihnya, menambah suhu wajahnya untuk beberapa saat ke depan.
Merlin, kapan raja gombal ini berhenti membuatnya terkesan seperti lobster?!
"Raja gombal!" bisiknya, menggelengkan kepala sebagai tanggapan. Dia benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang.
Di sisi lain, sebagaimana namanya yang berasal dari salah satu predator terkuat di dunia sihir, Draco tahu betul bagaimana dia memperlakukan Harry-nya, dan menerkamnya di kala sang mangsa terdestruksi—seperti sekarang; di tengah mata sewarna batu mulia milik Harry mengerling kepadanya sayu dengan berbagai isyarat malu yang bersinar darinya, Draco menundukkan bahunya sedikit, sampai akhirnya dia bisa meraih bibir Harry dengan bibirnya sendiri. Mencuri ciuman singkat. Ciuman yang berhasil menambah warna apel segar di muka kekasihnya, lagi.
"Apa-apaan itu?" tanya Harry sewot.
"Kau tahu kalau kita di tempat umum," sambungnya.
Dijawab pertanyaan pemuda itu dengan anggukan. Tentu saja Draco tahu kalau mereka di tempat umum.
"Aku tahu," jawabnya singkat, mengedikkan bahunya acuh tak acuh, kemudian melanjutkan kata-katanya, "Ayo, sepertinya di sana mereka menjual makanan yang cukup enak."
Tangannya kemudian segera menarih pergelangan Harry untuk menuntunnya ke arah salah seorang pedagang yang menjajankan camilan di seberang jalan—ketika secara tiba-tiba terdengar suara teriakan dari arah belakang, tepatnya dari arah stadion.
Sontak keduanya menoleh ke sumber suara, tapi tidak menemukan apa pun selain orang-orang yang mulai berlarian—dan kembali terdengar ledakan dari arah lain, kali ini disusul dengan kobaran api yang mengibar ke angkasa, menutupi cahaya bintang yang tadi menghiasi langit.
Semakin banyak penyihir yang tunggang-langgang berlari menjauh dari sumber keributan, berusaha menyelamatkan diri mereka sendiri dan orang-orang yang mereka kenal dengan segera berlomba mencapai ujung kawasan yang tidak terlindungi oleh mantra-mantra pelindung.
Setelah kobaran api itu bertambah besar, beberapa titik bakaran mulai bermunculan, diikuti dengan munculnya gerombongan sosok berjubah hitam yang meluncurkan kutukan ke mana-mana.
Gerombolan itu kemudian mengarahkan tongkat mereka ke arah beberapa penyihir, yang kemudian melayang secara terbalik di udara sehingga pergerakan mereka menjadi terbatas.
Kemudian, dengan beberapa kali kedikan ujung tongkat, penyihir-penyihir tadi menjerik kesakitan, karena tulang, sendi, dan urat mereka yang dipaksa remuk, patah, dan mengilir ke arah yang tidah seharusnya—sampai akhirnya satu per satu dari mereka berhenti berteriak dan bergerak. Mati
Draco yang sadar akan apa yang baru saja terjadi langsung menarik Harry, membawanya sejauh mungkin dari sana.
"Apakah sang Kegelapan merencanakan untuk melakukan hal ini sekarang?" tanya Draco setelah mereka cukup jauh dari sana. Sekarang mereka bersembunyi di sela-sela pepohonan yang tak jauh dari area pertandingan.
"Tidak, tidak pernah. Dan jelas ini bukan Pelahap Maut," jawab Harry cepat. Papanya tidak pernah merencakan pemberontakan semacam ini, setahu dia.
Suara ledakan kembali menggelegar, tapi kali ini arahnya dari langit.
"Apa itu?!" tanya Harry kala dia menghadapkan wajahnya pada langit berbintang yang sudah dikotori oleh sebuah lambang asing yang membentang seakan berusaha menutupi penglihatan mereka.
Kepala Draco menggeleng pelan, seperti Harry bisa melihatnya. "Tidak tahu," gumamnya, wajahnya juga ia arahkan ke langit untuk melihat lambang yang sama.
Bintang dengan delapan bidik runcing bersinar biru cerah, dikelilingi lingkaran putih bertengger di langit penuh bintang, seakan menjadi tirai penutup untuk gugusan konstelasi di atas sana. Berusaha menjadi perhatian semua orang.
Tangan Draco yang sudah menggenggam pergelangan Harry begitu kuat sesegera mungkin menarik anak itu dari tempat mereka berdiri sebelumnya, tidak peduli bahwa wajah Harry masih mendongak ke langit.
"Kita harus pergi dari sini," kata Draco cepat, napasnya mulai terengah-engah.
Harry mengangguk sebagai jawaban, seakan Draco bisa melihatnya.
Keduanya menyusuri area perkemahan yang sudah hampir habis dilalap api dari segala penjuru, membuat keringat mereka berkali lipat lebih deras.
Rasa sesak semakin memburu dada mereka berdua tiap kali langkah mereka berpacu melawan waktu. Dari sisi kanan dan kiri api mulai membungkus keduanya, menjilati udara yang ada di sana, melahirkan kepulan asap yang sangat tebal yang menjuntai ke langit malam.
"Kita hampir sampai di perbatasan!" seru Draco seraya menunjuk ujung jalan yang tampak bebas dari kobaran api.
Namun, sebelum mereka melangkah lebih dekat, sesosok berjubah hitam tinggi tiba-tiba saja muncul di hadapan mereka dengan jejak apparasi yang yang sedikit menyamarkan tubuh besarnya.
Draco dan Harry, yang tenaganya sudah lebih dahulu menipis, menarik tongkat mereka keluar dari balik jubah mereka, membidik ke sosok asing tersebut.
"Aku bukan tandingan kalian," kata sosok itu sebelum dia mengayunkan tongkatnya ke arah keduanya—dan sekejap semua menjadi gelap.
BTW kalo aku buat au satu lagi, setelah ini, vibes soal industri modo (kaya Devil Wears Prada) atau Royal Family kalian mau baca gak? Rencananya sih mau bikin Tomarry atau gak James/Narcissa (gila, kan, ship aku? hehehe) atau James/Severus. Tapi belom bisa nentuin, cuma yah Tomarry kayaknya skip soalnya gak terlalu enak kalo Harrynya gak jadi dark gitu. Cuma gabakal diup atau diketik keseluruhannya sebelum cerita ini selesai kok, aku males bikin au klo yang lain belum selesai soalnya.
Sampai ketemu di bab selanjutnya!
