U T U H
.
Naruto belongs to Masashi Kishimoto
.
.
mereka adalah dua yang separuh
berharap dengan bersatu
mampu menjadi utuh
.
.
happy reading!
.
Bagi Hinata, keramaian selalu terasa menyesakkan. Ia mungkin bisa dengan mudah larut dalam konversasi, melemparkan tawa disana dan sini, juga berpretensi sesuai ekspektasi. Akan tetapi bukan berarti apa yang tampak adalah sebagaimana mestinya. Sebab bila memang dapat memilih, ketimbang hadir di tengah hingar bingar pesta yang tak kenal gentar, menyepi seorang diri terdengar jauh lebih menggoda di telinganya. Sayangnya, Hinata jarang punya pilihan.
Dan pada akhirnya, di tengah gemuruh riuh pestalah ia berada sekarang. Dalam rengkuhan lengan sang ayah, ia mengayunkan kaki untuk turut memecah lautan manusia. Senyumnya terpatri sedemikian rupa, meski jelas cahaya tak sampai ke matanya. Sementara dalam langkah konstan yang menyamai ritme derap kaki patriark Hyuga di sebelahnya, Hinata menampilkan keanggunan yang tak bercela—satu yang memang diharapkan darinya.
Kehadirannya malam ini sudah dapat dipastikan bukanlah inisiatifnya sendiri. Desakan dari para tetua Hyuga tentu adalah pemicunya. Mereka berkeras mendorong Hinata yang kini kembali menjadi pewaris utama untuk memperluas relasi dengan sesering mungkin muncul dalam acara publik. Hal yang mana bagi Hinata sendiri terdengar sebagai bualan belaka, sebab ia tahu betul bahwa bukan relasi yang mereka inginkan. Satu-satunya yang mereka mau adalah perbaikan atas citranya, hal yang dirasa bengkok lepas ia menyandang titel janda. Dan pesta Onoki malam ini, dianggap mampu menjadi salah satu batu loncatan terbaik.
Dalam lingkaran sosial mereka, pesta Onoki selalu jadi acara bergengsi. Satu yang meski undangannya memiliki limitasi namun tak pernah kehilangan eksistensi. Pria tua itu boleh jadi tak lagi rutin mengisi laman sampul majalah-majalah bisnis atau apapun itu, tetapi koneksi yang dimilikinya tentu masih tak punya tandingan, mengingat sepak terjangnya dalam dunia bisnis juga garis keturunannya. Dan para undangan yang hadir, tentu punya kelas mereka sendiri. Mulai dari pebisnis yang baru meniti tangga karir, politisi yang sudah lama jadi pilar birokrasi, hingga seniman-seniman internasional yang entah bagaimana bisa terdampar hingga kesini.
Akan tetapi, dalam gemerlap tak terkira yang ditawarkan oleh pesta Onoki sebagaimana sebelum-sebelumnya, tentu ada terlalu banyak kepalsuan di dalamnya. Dan sebagai tipikal manusia yang menjunjung tinggi hal-hal nyata, Hinata tersiksa. Dalam semarak manusia bermuka dua juga rengkuhan ayahnya seiring mereka beramah-tamah, ia terpaksa harus melebur dan berpura-pura. Sebab lagi-lagi mustahil untuk menunjukkan warna aslinya ketika ada terlalu banyak individu dengan mata berbinar yang sedetik saja ia menghindar dapat berubah melemparkan penghakiman. Manusia-manusia yang berpretensi seolah mereka benar peduli, padahal mereka justru sebatas persona tak punya hati yang hobinya berbasa-basi.
Baik Hinata maupun Hiashi baru saja menyapa beberapa wajah familiar dalam kerumunan ketika pada akhirnya menangkap sosok Onoki di salah satu sudut ruangan. Selain tongkat penyangga berpelitur yang kini tampak nyaman berada di sebelah tangan, Onoki tak jauh berbeda dengan sosok kakek tua yang berada dalam ingatannya. Sebagai tuan rumah, pria tua itu menyambut mereka dalam gabungan arogansi juga puas diri yang pekat. Sepasang mata bulatnya yang beriris gelap memandang Hinata, lalu seraya mengulas senyum tipis, ia menghadiahi sang jelita dengan sapa ramah berupa tepukan kecil di lengan sebelum kemudian memusatkan atensi untuk bercengkerama dengan Hiashi.
"Senang sekali melihat kalian, para Hyuga, pada akhirnya memutuskan untuk hadir kembali dalam acara kecilku ini." Onoki membuka percakapan dengan topik ringan, dalam kerendah hatian yang Hinata yakini sebatas basa-basi belaka. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum yang kian lebar, sementara matanya kerap beralih dari Hiashi ke Hinata secara bergantian.
Ketimbang menyahut, Hinata sendiri memilih untuk membiarkan tawa kecilnya mengudara sebagai rupa jawaban paling sopan. Ia membiarkan ayahnya menjadi satu yang bertukar obrolan dengan sang tuan rumah dan semata-mata berdiri di sebelahnya dalam sandiwara seolah benar menyimak laju percakapan mereka. Laun, topik bergerak kian jauh, dan orang-orang mulai berkerumun bak ngengat yang mengejar nyala api. Hinata tak bisa menangkap wajah asing mereka semua, dan lagi-lagi memutuskan untuk sebatas melayangkan senyum santun sebagai wujud ikut sertanya dalam obrolan. Barulah ketika sosok Kurotsuchi muncul di balik punggung Onoki dengan cengiran lebar juga lambaian tangan, senyum yang terulas di bibir sang jelita terbit kembali dengan apa adanya.
Kurotsuchi—cucu Onoki, adalah seorang gadis bersurai legam dengan senyum paling manis yang Hinata kenal. Dengan perangai cerewet yang kelewat ceria, Kurotsuchi selalu mengingatkan Hinata pada adiknya. Secara pribadi, ia tak menyangka dapat menemukan kehadiran Kurotsuchi malam ini, mengingat sepengetahuannya gadis itu kini menempuh pendidikan terkait desain mode di luar negeri. Namun dengan kemunculan Kurotsuchi, setidaknya ia menemukan sosok yang benar-benar familiar, satu yang dapat membantunya lepas dari kerumunan manusia-manusia beringas disana.
Hinata melemparkan tatapan singkat ke arah Kurotsuchi, rupa dari gestur tertutup—sebuah sinyal, sebelum kemudian ia melayangkan kalimat undur diri dalam suara rendah baik pada ayahnya maupun orang-orang dalam lingkup kecil itu. Ia membisikkan kalimat kecil ke telinga sang ayah sebelum kemudian membungkukkan tubuh pada khalayak. Dan ketika kemudian mendapat respon berupa anggukan juga senyum maklum dari orang-orang, ia membalas senyum mereka sebelum berbalik pergi dengan Kurotsuchi yang mengekori.
"Aku suka gaunmu malam ini, kak." Kurotsuchi berujar ketika mereka sudah membentangkan jarak yang adekuat. Senyumnya merekah kian lebar, dan seraya menggandeng tangan Hinata tanpa aba-aba, ia menuntun wanita yang lebih tua itu menuju salah satu sisi ruangan yang lebih lengang. Tempat dimana meja-meja tinggi berjejer dan tak seberapa diminati karena lokasinya yang sepi. "Rumah Mode Yamanaka, benar?"
Hinata membalas senyum Kurotsuchi lebih dulu sebelum kemudian memandang turun gaunnya seiring langkah yang mereka ambil. Ia tidak benar-benar ingat gaun mana yang dipilihnya malam ini karena persiapan kehadirannya memang benar-benar sekadarnya saja. Namun ketika sejurus kemudian matanya berhasil menangkap kelebat maroon, ia segera ingat bahwa malam ini pilihannya jatuh pada strapless dress berwarna maroon dalam bahan satin, dan ia mengangguk. Gaun itu jelas merupakan salah satu hadiah dari Ino beberapa bulan lalu.
Ketika mereka akhirnya melabuhkan diri pada salah satu meja tinggi dengan sepasang kursi jenjang yang tak dihuni siapapun, Kurotsuchi meneruskan percakapan mereka dengan menggebu-gebu. Melanjutkan topik terkait beragam rancangan busana dari Rumah Mode Yamanaka sampai ke hal-hal remeh-temeh lainnya. Dan untuk sesaat, dalam konversasi ringan itu, Hinata merasa ia kembali menjadi remaja. Untuk sekejap saja, ia bukan lagi wanita dewasa yang malam ini punya kewajiban dalam serentetan tetek bengek klan dalam perihal mengembalikan citra. Ia hanya Hinata dan Hinata saja, tanpa beban menjadi representasi sosok Hyuga yang sempurna.
Mereka bicara tentang berbagai hal, dan meski Kurotsuchi dengan beragam isi kepalanya jauh mendominasi, Hinata tak mempermasalahkannya sama sekali. Bicara dengan gadis itu terasa menyegarkan, hampir terasa seolah ia benar-benar bicara dengan adiknya sendiri. Sebab setidaknya Kurotsuchi tak punya intensi untuk mengorek privasinya dengan sengaja dan melontarkan beragam kalimatnya dengan apa adanya. Karena lagi-lagi, Kurotsuchi hanyalah Kurotsuchi. Atensinya lebih sering berputar di sekeliling hal-hal yang kecil yang memercik minat ketimbang berpusat pada urusan pribadi Hinata, yang mana meski sesekali tanpa bisa dipungkiri beberapa kalimatnya tanpa sadar merambat kesana, akan tetapi percakapan mereka selalu dapat kembali seringan sedia kala.
Kurotsuchi tengah membuka topik baru terkait rumor undangan pesta pernikahan dari sang empunya Rumah Mode Yamanaka, ia berusaha mengorek informasi dari Hinata terkait penetapan tanggal yang konon sudah dipastikan berlangsung di penghujung tahun ini. Satu yang jelita itu tanggapi dengan kekehan belaka. Ia tak benar-benar ingin ikut campur tentang urusan pernikahan Ino, sekali pun orang-orang jelas mengetahui hubungan keduanya yang kelewat dekat. Maka ketika selanjutnya Kurotsuchi diam membisu, ia pikir gadis itu pada akhirnya menyerah menginterogasinya. Namun ketika menyadari wajah Kurotsuchi berubah secepat kilat, Hinata tahu bukan itu masalahnya. Kurotsuchi kelihatan terkejut, dan dengan mulut melongo sedang mata yang melempar pandang pada entah apapun itu yang berada jauh di belakang Hinata, akhirnya sang dara mengikuti arah pandangnya karena penasaran.
"Aku tak mengira Uchiha benar-benar hadir malam ini," komentar Kurotsuchi, separuh takjub. Sebelah sudut bibirnya terangkat lebih tinggi dari sisi satunya, dan ia tak bisa menyembunyikan kekaguman yang sarat dalam sorot matanya ketika kemudian menambahkan, "Kurasa pada akhirnya kakek menaruh minat padanya."
Suara Kurotsuchi samar mengabur dalam pendengaran Hinata, lebih-lebih ketika sepasang manik ametisnya benar berhasil menangkap sosok jangkung Sasuke di sisi lain ruangan. Pria itu baru saja melangkah masuk, dalam setelan formal yang kelihatan jauh lebih mewah dari penampilan hariannya, ia menembus keramaian dalam langkah mantap berkawalkan sosok Kakashi Hatake di sisi kanan. Dagunya terangkat, sedang seraya mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan, sebelah tangannya menyusup masuk ke dalam saku celana.
Dari kejauhan, Hinata bisa melihat ekspresi kaku pria itu. Sekali pun bibir tipis Sasuke mengupayakan segaris senyum, dingin dalam air mukanya tersalurkan dengan jelas melalui sepasang alis yang samar bertaut juga rahang yang merapat erat. Observasi yang mau tidak mau membuat Hinata tanpa sadar mengulum senyum.
Itu adalah imaji sempurna dari seorang Sasuke Uchiha. Paras dingin yang bahkan dalam sekali pandang mengundang beragam tanggapan dari banyak orang. Sosok yang kelihatan sebegitu jauh hingga tak mampu terengkuh. Namun setelah minggu-minggu belakangan, entah bagaimana tampilan alami yang pria itu suguhkan malah jadi tampak aneh di mata Hinata. Ia mulai terbiasa dengan ekspresi yang kerap hilir mudik menyambangi wajah tampan pria itu, juga senyumnya—satu yang benar mencipta cahaya dalam sepasang manik legam si tunggal Uchiha dan kontan meruntuhkan segala persepsi yang sebelumnya hanyalah konklusi dari opini tak bertanggung jawab.
Meredam senyumnya, Hinata baru saja hendak mengalihkan pandangan dari sosok Sasuke ketika melihat pria itu mulai mengambil tempatnya dalam kerumunan bersama Kakashi. Kurotsuchi pun sudah kembali membuka percakapan yang topiknya kembali berganti. Namun belum sempat menggerakan kepala, sepasang oniks Sasuke menangkap matanya. Tidak ada yang spesial, memang. Mereka hanya berpandangan dalam jarak yang jauh membentang. Namun dalam momen pendek itu, ada sensasi kuat yang berkeras menyatakan bahwa fenomena serupa tak asing sama sekali kehadirannya.
Hinata mengedipkan mata satu kali, berusaha untuk mendistraksi dirinya sendiri. Namun ketika pelupuknya kembali terbuka, sepasang manik bulan itu kembali bersambut dengan jelaga Sasuke. Sorot yang kelihatan kian intens lebih-lebih ketika Sasuke mendadak meninggalkan kerumunan dengan satu anggukan kecil dan beralih menuju tempat dimana ia berada.
"Hinata," sapa Sasuke rendah. Kepalanya mengirimkan anggukan kecil ketika ia berhasil menancapkan kaki di sisi sang jelita. Sudut bibirnya tertarik ke satu sisi dan matanya bertahan memandangi sang dara sedikit lebih lama dari yang seharusnya. Namun ketika sesaat kemudian Hinata membasahi bibir dan membalas senyumnya, ia berbalik ke arah Kurotsuchi. Kedua alisnya kembali bertaut, mempertanyakan eksistensi gadis itu tanpa suara. Dan belum sempat ia benar menyuarakan tanya, Hinata sudah mendahuluinya.
"Ini Kurotsuchi," Hinata mengambil alih suasana, memperkenalkan Kurotsuchi yang selanjutnya mengulurkan tangan ke arah Sasuke. Senyum gadis itu merekah, meski Sasuke kelihatan ragu barang sesaat sebelum kemudian menyambut uluran tangannya. "Karena kau hadir disini, kuasumsikan kau mengenal kakeknya."
Sasuke menganggukan kepala satu kali, respon yang diberi untuk menyatakan bahwa ia mendengarkan dengan seksama penjelasan singkat Hinata meski jelas tak seberapa peduli. Usai menarik tangannya kembali masuk ke dalam saku, ia menyapu pandang sekeliling untuk yang kesekian kali sebelum kemudian beralih lagi pada Hinata. Orang-orang di sepenjuru ruangan memerhatikan mereka, dan meski lagi-lagi ia tak seberapa peduli karena Hinata pun tak bereaksi, akan tetapi sorot aneh yang Kurotsuchi layangkan ke arahnya dan Hinata secara bergantian terasa cukup menggelikan bila tidak seutuhnya tepat sasaran—campuran antara kejahilan juga rasa penasaran.
"Aku tak menyangka akan bertemu denganmu disini," kata Sasuke. Ia masih bertahan dalam posisinya dan mengabaikan dunia, berusaha melontarkan basa-basi yang tak seberapa dikuasai agar tak lantas pergi. Tangannya masih terselip di saku dalam gestur kaku, tetapi ketika memandang Hinata, tatapannya melunak seraya menunggu jawaban.
Hinata tersenyum, lagi. Ia masih tak seberapa mengerti mengapa persona Sasuke rasanya bisa tampak sedrastis ini di matanya, akan tetapi siapa ia untuk mempertanyakan hal yang demikian ketika ia bahkan tak pernah keberatan. Sasuke sudah menjadi sosok yang terasa begitu familiar selama minggu-minggu belakangan, bukan sebatas eksistensinya namun juga segala perangainya. Meski sampai saat ini pun Hinata masih tak bisa memahami siapa sebenarnya pria itu baginya ketika nama sang mantan suami kini tak lagi berada dalam ekuasi.
"Harusnya aku yang berkata demikian," balas Hinata, separuh geli. Ia menelengkan kepala dan menyilangkan tangan di depan dada. Lalu sebelum kembali meneruskan, ia mengerling singkat ke arah Kurotsuchi. "Maksudku, Sasuke Uchiha di tengah pesta? Kau jadi benar-benar mengejutkan akhir-akhir ini."
Kurotsuchi terkekeh pelan, tidak repot-repot menyembunyikan kegeliannya di tengah konversasi yang terjalin di antara kedua orang itu. Hinata sendiri mendengar kekehan itu, ikut tertawa, mengundang Sasuke untuk melemparkan dengusan kecil meski bibirnya mengulas seringai tipis.
Uchiha tunggal itu maju selangkah, kian mendekat pada Hinata. Matanya menyorot tenang tepat ke dalam sepasang manik Hinata. Sejurus kemudian, dalam nada jenaka yang terdengar tak asing di telinga, ia berkata sambil menggedikan bahunya, "Banyak yang tidak kau ketahui tentang aku, Hinata."
Mengulum senyum untuk yang kesekian kali di malam itu, Hinata menangkap kalimat Sasuke dalam cahaya yang sama berbeda. Sebab kalimat itu jelas adalah kalimat yang sama dengan apa yang Sasuke lontarkan pada pertemuan mereka yang tak disengaja di Home of Hope tempo hari. Sasuke tengah memainkan humornya, sesuatu yang kelewat tipis dan hampir tak kentara sama sekali. Hal yang tak akan Hinata mengerti seandainya ia bukan tipikal sosok yang memerhatikan detail konversasi.
Dengan senyum yang samar menyembunyikan jejaknya, Hinata hendak buka suara untuk menimpali kalimat Sasuke sebelumnya. Percakapan dengan pria itu terasa lebih ringan dari sehelai bulu seiring pertemuan mereka kerap dilaku, dan ia mendapatinya cukup menyenangkan. Meski bisa saja obrolan di tengah pusat keramaian seperti ini bisa menimbulkan konflik, Hinata rasa tidak ada lagi hal buruk yang lebih parah dari opini publik terhadapnya saat ini. Permasalahannya hanya satu: ia bisa saja menyeret Sasuke ke dalam pelik citranya saat ini, akan tetapi melihat perangai sang pria yang tak acuh sama sekali, bisa saja ia benar-benar tidak peduli.
Detik berlalu, belum sempat Hinata menimpali, sosok Kakashi Hatake kini muncul di balik punggung Sasuke. Pria paruh baya itu tersenyum ke arahnya dan Kurotsuchi secara bergantian, bahkan sempat membungkukkan punggungnya barang sedikit untuk menunjukkan rasa hormat. Ia meletakkan tangannya di bahu Sasuke, gerakan yang kontan menarik atensi pria yang lebih muda itu. Lalu dengan suaranya yang selembut besuta, ia memotong konversasi dalam sekali jalan, "Kurasa kau memonopoli waktu para wanita ini terlalu lama, Sasuke." Seraya tersenyum kembali, Kakashi memberi jeda singkat di ujung kalimat. "Selain itu, akan jadi tidak sopan bila kita bercengkerama dengan tamu-tamu lain bahkan sebelum menyempatkan diri menyapa tuan rumah."
Samar, Hinata dapat menangkap kedutan di pelipis Sasuke meski ekspresi pria itu tak berubah sama sekali. Tak lama setelah itu, Sasuke menganggukkan kepala padanya dan Kurotsuchi sebagai ungkapan undur diri yang dibalas oleh keduanya melalui sebongkah senyum tipis. Pria itu lalu berbalik, mengekori Kakashi menuju kemana pun itu yang ia mau. Namun belum sampai dua langkah ia memacu sepasang kakinya, Sasuke berbalik lagi.
Ia memandang Hinata tepat di mata untuk yang kesekian kali, sedang Kakashi yang juga turut berhenti menautkan kedua alisnya separuh tak mengerti. Sasuke mengangkat sebelah tangannya, melambaikannya di udara dalam gestur seolah tengah mewanti-wanti, "Aku akan menemuimu lagi nanti." Dan dengan itu, barulah ia benar beranjak pergi.
Hinata mengangkat sebelah alisnya dan menggelengkan kepala tak percaya sembari menyuarakan tawa. Baru sejurus kemudian, ketika ia memusatkan kembali perhatian kepada Kurotsuchi, ia mendapati sorot mematikan yang gadis itu layangkan. Kurotsuchi, untuk pertama kalinya malam itu, kelihatan jauh lebih muda dari usianya. Dengan sepasang mata yang berkelip usil juga seulas senyum yang jenaka. Ia menopang dagunya dengan dua tangan yang bertumpu di atas meja, lalu berkata dalam nada manis yang dibuat-buat juga tawa yang susah payah ia sembunyikan agar tak serta merta tersembur begitu saja, "Aku tahu ini bukan urusanku, tetapi apakah rumor yang beredar itu benar? Kau dan Uchiha?"
.
.
.
Mendesah untuk yang kesekian kali, Sasuke mematikan keran yang mengalir dan memandang pantulan dirinya di cermin. Keramaian, terlebih lagi pesta sejenis ini memang bukan tempatnya. Ambil bagian dalam hiruk pikuk manusia yang putaran konversasinya hanya berkisar pada arogansi juga puas diri jelas bukan caranya menutup hari. Parahnya lagi, belum sampai satu jam ia berada disana, kini energinya terasa nyaris habis tak bersisa.
Ia melonggarkan dasi dan membuka satu kancing paling atas dari kemejanya barang sesaat, lalu membiarkan tangannya yang masih separuh kering dan terasa dingin menyusup di sela-sela helai gelapnya. Sakit di kepalanya mereda, tetapi ketika jelaganya kembali memerhatikan bayangan di cermin, pening itu kembali lagi. Mau bagaimana pun juga, ia masih terjebak disini, lebih-lebih dengan Kakashi yang berkeras agar mereka berdua bertahan demi koneksi sedikit lebih lama lagi. Betapa pria paruh baya itu benar-benar tahu bagaimana caranya memanfaatkan situasi, seorang oportunis sejati.
Mendesah sekali lagi, pada akhirnya ia mencoba berdamai dengan realita yang ada, dalam harapan selepas ini mungkin orang-orang bisa memberinya sedikit jeda. Ia merapikan kembali pakaiannya, lalu mencuci tangan sekali lagi sebelum benar meninggalkan kamar mandi. Namun agaknya memang mustahil bagi orang-orang untuk meninggalkannya sendirian, sebab baru selangkah ia melewati ambang pintu, kerumunan manusia itu terjadi lagi. Orang-orang masih berkeras untuk mendapatkan atensinya, dengan sorot pandang yang mereka lempar atau sapa kecil yang menawarkan kehangatan palsu.
Sayangnya, Sasuke sudah benar-benar muak. Ia berkilah lebih cepat dari yang seharusnya, memacu langkah dalam gerakan mantap dan sarat akan keinginan untuk lenyap. Segaris senyum yang berusaha ia ukir mati-matian, sudah lenyap entah kemana. Yang tersisa cuma kerut di antara kedua alisnya juga gertak rahang yang lamat. Aksi yang baru terhenti dan berangsur normal kembali ketika netranya menangkap sesuatu yang tak asing di lantai dansa. Seorang wanita, mencuri atensinya tanpa bahkan bisa menyadarinya—Hinata, tentu saja.
Memasang tameng tak acuhnya yang biasa, Sasuke menyilangkan tangan di depan dada dan terpaku disana. Orang-orang masih berbisik tentang dirinya, bahkan dengan terang-terangan juga menatapnya sedemikian intens. Tidak tahu diri, memang. Dan meski hal yang demikian membuat secercah amarah membuncah dalam dada, tetapi dengan mata yang tertuju secara utuh pada sosok jelita Hinata di lantai dansa, ia memutuskan untuk mengabaikannya. Ia berada disana untuk mencari aliansi, orang-orang dengan koneksi yang sekiranya mampu membukakan jalan bagi perusahaannya di kemudian hari, dan ia sudah mencoba semampunya, meski mungkin tetap tak sebanding dengan apa yang mampu dilakukan Kakashi. Maka sekali pun menyebalkan, ia memutusukan untuk menulikan diri ketimbang harus menghancurkan jerih payahnya tadi.
Matanya masih berpusat pada Hinata, tak luput kehilangan sosok wanita itu barang sekejap. Memandangi bagaimana ia menari sedemikian apik, dalam rengkuh tangan seorang pria yang tak ia kenali rupa wajahnya dari jarak sejauh ini. Menangkap momen itu, ia merapatkan bibir. Ada sesuatu yang bertalu dalam dadanya. Gemuruh baru yang ia sendiri masih berusaha untuk pahami, sesuatu yang mungkin kecemburuan atau justru keraguan. Hal yang nyaris terasa sama sebagaimana respon yang ia berikan pada Naruto ketika pria itu menyatakan rasa cintanya pada Hinata tempo hari, meski di saat yang sama juga samar terasa berbeda. Ia tak mengerti.
Sama seperti kali terakhir pertemuan mereka di lobi apartemen wanita itu, perasaannya yang menggebu tak berubah sama sekali. Alih-alih semakin menjadi. Dan melihat sang jelita malam ini tak memperbaiki keadaan, meski ia berusaha keras untuk tak menampilkan emosi yang berarti. Sebab sedari tadi, kemana pun ia bergerak menyusuri seluruh penjuru kediaman Onoki yang dipenuhi oleh paras-paras asing, matanya selalu kembali tertuju pada sosok jelita satu itu. Betapa atensinya tak bisa bergeser terlalu jauh dan kerap membuatnya ripuh. Dan bila Kakashi tak berkeras untuk menahannya dalam lingkar sosial yang ia pilihkan sedari tadi, sudah dipastikan ia akan melesat ke sisi wanita itu dan menghabiskan malam di sekitarnya.
"Kehadiranmu malam ini bisa dibilang cukup mengejutkan, Uchiha."
Kalimat pendek itu menarik Sasuke kembali pada realita dan kontan mengalihkan pandangannya untuk kemudian mendapati sosok Hyuga yang lebih tua kini berdiri dalam radius satu meter di sisinya. Hiashi Hyuga. Di usianya yang tak lagi muda, pria itu masih kelihatan prima. Dengan tubuh tegap juga kial tegas yang ia tunjukkan. Meski baginya, ketimbang memiliki kemiripan yang asing dengan Hinata, pria itu tampak lebih seperti gambaran tua Neji di masa-masa yang akan datang nanti.
Menelisik kembali sosok sang patriark Hyuga, Sasuke mendapati bahwa pria itu tak memandangnya sama sekali. Alih-alih, dengan tubuh yang seutuhnya menghadap ke dinding kaca di hadapan mereka, pria itu malah memusatkan perhatian pada sosok Hinata ketika berujar. Aksi yang sama dengan yang ia lakukan beberapa saat lalu, satu yang mau tak mau membuat perutnya melilit dan mencipta gelombang rasa malu tanpa aba-aba.
Sasuke tentu tahu bahwa malam ini Hinata tidak hadir seorang diri, sebab ketika menyapa Onoki tadi, sosok sang kepala Hyuga juga berada disana bertukar sepotong konversasi dengannya. Namun ia tentu tidak bermimpi akan tertangkap tangan dalam aksi memandangi putri sulung pria itu seperti ini.
Berdeham, Sasuke mencoba mengalihkan atensinya pada hal lain alih-alih kembali pada Hinata. Kali ini ia menyasar dekorasi beraksen emas yang tampak megah menggantung di dinding gading, berpretensi seolah hal tersebut benar membuatnya tertarik sebelum kemudian menyahut dalam ketenangannya yang biasa, "Bukan intensiku untuk mengejutkan semua orang."
Hiashi mencuri pandang ke arah Sasuke melalui ekor matanya. Bibirnya tertarik membentuk seulas senyum ketat, dan suara yang mengudara darinya keluar dengan kelewat lugas, "Kuharap bukan intensimu juga untuk mencuri perhatian dengan menggunakan kehadiran putriku."
"Publisitas tidak pernah menjadi tujuanku, bila itu yang kau khawatirkan," balas Sasuke, tajam dan cepat. Alisnya bertaut ketat, sedang matanya yang kini berkilat geram memandang Hiashi tanpa keraguan. Ia tentu tahu kekhawatiran itu memang masuk akal, sebab sekali pun tak pernah benar merasakannya, ia bisa membayangkan rasa cemas yang menggerayangi Hiashi terkait kondisi Hinata sendiri. Akan tetapi untuk disergap dalam tudingan yang demikian, adalah hal yang wajar bila ia tak terima. Akusasi Hiashi menohoknya untuk sesuatu yang bahkan tak ada niatan untuk ia lakukan.
Mengerutkan dahi, kini Hiashi menolehkan kepalanya. Sudut-sudut bibirnya berubah lebih relaks, walau ketegasan dalam nadanya tak kunjung redam, "Lantas selain publisitas, apakah ada hal lain yang perlu kukhawatirkan terkait intensimu?"
"Tidak ada, tidak ada yang perlu kau khawatirkan." Sasuke menjawab dalam satu tarikan napas, yakin dan mantap. "Kecuali bila keramahan kau anggap sebagai rupa ancaman."
Mendengus pelan, Hiashi terkekeh seolah ia baru saja mendengar hal paling menggelikan kemudian. Ia menggelengkan kepala, tak percaya. Cahaya di mukanya kembali, dan ketegangan yang semula menggantung berangsur turun. Lepas kekehannya benar reda, ia kembali berkata, "Keramahan adalah rupa ancaman paling mengerikan, Uchiha, terlebih bila hal itu datang darimu." Ia mengambil jeda singkat, mengambil waktu untuk meneliti ekspresi Sasuke yang kemudian berubah keras seolah seseorang baru saja menendangnya tepat di tibia. "Tidak perlu tersinggung. Aku hanya membeberkan fakta, terlebih dengan rumor yang menyebar di antara kalian. Apakah menjadi waspada kini menjadi kesalahan seorang ayah juga?"
"Apakah ini adalah caramu memintaku untuk tak berotasi di sekitar putrimu?"
Mendengar pertanyaan yang balas dilontarkan oleh Sasuke, Hiashi kembali tertawa. Kali ini bukan kekehan kecil yang rendah, melainkan tawa sempurna yang bahkan menggetarkan bahunya. Pria itu lalu menggelengkan kepala, sedang bibirnya kemudian tertarik ke satu sisi membentuk senyum miring yang tampak separuh getir juga geli, "Hinata belum usai melewati badainya sendiri, dan tidak bijak untuknya diasosiasikan dengan satu rumor ke rumor lain terlebih dengan teman mantan suaminya sendiri."
Sasuke tak beranjak dari posisinya, kalimat yang Hiashi lontarkan tepat seutuhnya, meski ia tetap tak ingin mengakuinya. Dalam dunia mereka, rumor tentu bukan hal yang baru. Lingkaran sosial ini toh memang bergerak dengan rumor sebagai bahan bakarnya, ragam celoteh terkait skandal yang seringnya sebatas bualan belaka ketimbang bisa dipertanggungjawabkan kenyataannya. Dan betapa sebelum ini ia tak pernah merasa keberatan sama sekali, namun ketika mendengar Hiashi menyampaikan hal tersebut dalam pendekatan yang lebih realistis dan tak lagi sebatas kalkulasi di balik tempurung kepalanya, kini ia merasa terganggu. Sebab hal yang demikian itu bisa jadi tak berarti baginya, namun akan naif jadinya bila ia menutup mata atas fakta bahwa citra dan harga diri selalu ditekankan jauh lebih berat pada wanita.
Ia menghela napas, pelan. Afeksinya terhadap Hinata tak pernah dimaksudkan untuk berlayar sebegini jauh. Dan atraksi yang ia miliki terhadap wanita itu sejak awal memang tak seharusnya tumbuh. Keinginannya yang menggebu-gebu tiap kali menyadari sang dara berada dalam radar bukan hal yang semestinya ia puaskan, dan ia sendiri tak mengerti bagaimana dalam minggu-minggu yang pendek ada begitu banyak hal yang berubah hanya dengan konversasi-konversasi kecil yang mereka bagi.
Hiashi tersenyum, satu yang menyentuh matanya. Ia memerhatikan bagaimana ekspresi pria muda di sebelahnya tak berubah sama sekali, namun betapa gemuruh dalam hati pria itu jelas tercermin melalui sepasang jelaganya. Ia mengambil satu langkah mendekat, dan menepuk bahu Sasuke pelan. Orang bilang, Uchiha adalah manusia arogan yang tak punya simpati dan mementingkan diri sendiri, namun kini Hiashi rasa ia perlu menelaah kembali tiap-tiap opini yang didengarnya, sebab si tunggal Uchiha tidak menunjukkan hal yang demikian.
"Semoga malammu menyenangkan." Dan bersama kalimat pendek itu serta tepukan lain di bahu, Hiashi kembali meninggalkan Sasuke sendiri.
Kedua permata oniks Sasuke mengikuti punggung Hiashi hingga pria itu benar menghilang dalam kerumunan orang yang lagi-lagi menggiringnya pergi. Sedang kepalanya kini berkecamuk dalam kompleksitas pikirannya sendiri. Bila tahu ternyata hatinya bisa juga luluh, ia tentu akan menanggulangi semua ini. Sebab siapa yang tahu ternyata jatuh cinta membuat nalarnya berkabut dan tak lagi setia dalam pakem-pakem rasional yang kerap dipegangnya. Mendesah, ia mengalihkan pandangan dan mencoba kembali mencari Hinata di lantai dansa. Namun nyatanya sang jelita sudah raib dari sana dan bahkan tak dapat ia temukan dimana pun juga.
Ah, mungkin itu yang terbaik untuk mereka berdua.
.
.
.
to be continued
Halo semuanya!
Senang sekali pada akhirnya berhasil menuliskan chapter ini, meski dengan sangat rendah diri (iya, rendah diri dan bukan rendah hati), saya merasa ada banyak hal yang kurang dari chapter ini. Dengan teramat jujur, saya harus mengakui bahwa setelah menyelesaikan semester kemarin, saya punya kesulitan untuk menulis lagi. Hal yang selalu terjadi setiap saya mengambil jeda. Chapter ini sendiri sebenarnya punya tiga versi, tetapi saya memutuskan sekiranya ini adalah yang terbaik dan semoga kalian pun berpikiran yang sama.
Lepas chapter ini, kita tidak akan segera beralih ke chapter sebelas, tetapi saya ingin bermain dalam latar pesta Onoki sedikit lebih lama. Ada sisi Sasuke yang hendak saya tunjukan, satu yang dipicu dengan kemunculan Hiashi malam ini. Jadi sampai jumpa di chapter 10.5! Saya harap bisa segera menuliskan chapter tersebut dan mengeditnya.
Akhir kata, terima kasih sudah membaca. Semoga fic ini dapat diterima dan dinikmati sebagaimana mestinya. Sampai jumpa!
p/s: selamat tahun baru dan semoga januari nanti, kita bertemu lagi.
Lots of love,
Ez.
