Mungkin story ini agak aneh, dan mungkin akan sangat bertentangan dengan keyakinan kalian. Gue hanya mengingatkan kalau story ini hanya fiksi dan tidak ada hubungannya dengan mitos atau apa pun yang ada di real life cerita ini murni dari imajinasi gue sebagai penulisnya. kalaupun ada kemiripan atau bahkan kesamaan dengan story gue ini, itu hanya kebetulan.
So, Happy Reading
.
.
.
Sieq terkapar bersimbah darah, lehernya bahkan hampir putus. Admon terpisah dengan Hellhound nya saat mengejar sosok yang hendak mencelakainya. Bukan makhluk kuat yang akan mencelakai Admon, melainkan Iblis rendahan yang terbuang di tempat itu.
Tapi entah bagaimana caranya Sieq yang merupakan anjing neraka bisa mati dengan cara seperti itu, kekuatan Sieq hampir sebanding dengan pasukan penjaga istana, mustahil bisa mati dengan cara mengenaskan, kecuali ada kekuatan yang sebanding dengan majikannya atau iblis dengan kasta tinggi lainya. Sieq bukan sembarangan Hellhound, ia adalah peliharaan pangeran Admon.
"Tidak! Sieq!"
Admon tidak tahu apa yang harus ia lakukan, ia tidak bisa kembali ke Istana tanpa Sieq. Admon memang menyukai tempat itu. Dunia fana dengan segala keindahannya, tapi ia tidak ingin selamanya tinggal, ia adalah Admon Putra Lust, ia adalah pangeran dari kerajaan Iblis.
Admon bertelepati dan meminta pertolongan pada Ayahnya, tapi Admon tidak bisa melakukannya, sesuatu seperti menghalanginya dan mengisolasi kekuatannya untuk menembus perisai yang melingkupi Istananya.
"Tidak!" Admon menyadarinya, ia dan kekuatannya terisolasi "...Papa tolong aku" Admon lirih, dan sesaat kemudian ia limbung dan tidak sadarkan diri.
Admon terlalu banyak menguras energinya saat mengirimkan pesan melalui pikirannya, dan perisai yang tidak bisa ia tembus membuat tenaganya terkuras.
Admon membuka matanya dan terbangun di sebuah tempat serupa kamar dengan ukuran besar. Admon tidak tahu berapa lama ia kehilangan kesadaran dan tiba-tiba terbangun di tempat itu.
"Tuan, kau sudah sadar?"
Seorang pria bertubuh besar duduk bersila di samping Admon. Sepertinya pria itu menunggu Admon membuka matanya.
"Aku tidak salah, ternyata kau keturunan Bangsawan" pria itu bersujud pada Admon yang baru saja terbangun "...terimalah hormat hamba Tuan"
"Siapa kau?" Admon dengan nada tegas.
"Aku Veromos dari bangsa Ifrit, aku akan mengabdi padamu" sekali lagi pria itu menunduk hormat.
"Ifrit?" Admon bukan tidak tahu apa itu Ifrit, hanya saja pria itu terlihat lebih kuat dari sebangsa Ifrit lain nya "...kau pasti tahu penyebab kematian Hellhound milikku, katakan padaku"
"Aku tidak tahu Tuan, aku hanya merasakan kekuatan yang sangat besar, dan aku tahu itu berasal dari Hellhound Merah itu, tapi aku tidak mengikutinya, perhatianku tertuju pada Tuan" Veromos masih menundukkan kepalanya.
"Kenapa kau tidak menolongnya?" Admon menggapai Veromos.
"Aku tidak punya kekuatan sebesar bangsa kalian, bahkan mungkin kekuatan Hellhound milik tuan lebih besar ketimbang kekuatanku" Veromos tidak berani menegakkan kepalanya pada Admon yang tampak terbakar amarah.
Beruntung kekuatan Admon tidak stabil, jika saja kekuatan Admon tidak terisolasi tanpa sebab, mungkin tubuh Veromos sudah hancur berkeping-keping.
Admon melepaskan tangannya dari Veromos, dan kembali melemah.
"Aku benar-benar kehilangan kekuatanku" Admon menatap nanar kedua telapak tangannya "...semua kekuatanku tersegel dan aku tidak ada bedanya dengan bangsa kalian, bahkan aku tidak bisa melampaui kekuatanmu"
Veromos hanya menatap iba, Veromos bukan tidak tahu jika kekuatan Tuannya terisolasi, hanya saja bangsa Ifrit hanya Iblis biasa, walaupun bukan dari kasta ter rendah, tapi kekuatannya tidak ada apa-apanya dibandingkan Bangsawan seperti Admon.
.
.
.
Admon hidup dalam penyamaran, ia hidup layaknya manusia di tempat itu. Ia beradaptasi, berpakaian dan berlaku sebagaimana manusia di jaman itu berlaku. Berkat bantuan Veromos, Admon bisa bertahan di tempat itu dengan baik.
"Veromos, apa kau mempunyai nama seperti manusia-manusia itu?" Admon saat melihat manusia-manusia saling memanggil dengan nama-nama yang asing di telinganya.
Admon dan Veromos berjalan di tempat ramai seperti pasar, ia juga melihat wanita-wanita yang berjalan dengan menutupi sebagian wajahnya dengan mantel.
"Aku memilikinya, dan mereka mengatakan jika aku orang Qing"
Setidaknya, Veromos lebih lama tinggal di daratan tempat tinggal manusia, dia sudah banyak beradaptasi dari masa ke masa.
"Qing?"
"Qing adalah kerajaan di semenanjung cina" lanjut Veromos "...dan tanah yang kita tempati saat ini adalah Joseon"
"Aku tidak mengerti" Admon mengatakanya dengan jujur.
"Anak muda" tiba-tiba seorang wanita tua menghampiri mereka "...aku merasakan sesuatu mengungkungmu" wanita itu menghadapkan tubuhnya pada Admon.
"Hei manusia, kau—"
"Apa maksudmu Nenek Tua?" Admon tidak membiarkan Veromos melanjutkan kalimatnya. Admon menyela dan membentak wanita tua itu.
"Aku tidak yakin, aku merasakan kekuatan yang sangat besar dari kalian, tapi aku tidak tahu kekuatan macam apa, yang pasti, salah satu di antara kalian adalah makhluk yang tidak diinginkan" wanita tua itu menghadap Admon, tapi matanya menatap kosong. Wanita itu bisa merasakan, tapi matanya tidak bisa melihat, wanita itu seorang cenayang buta.
"Apa yang-"
"Hkkk!"
Kali ini tindakan Admon yang menghentikan kalimat yang akan Veromos katakan. Admon mencekik wanita tua itu tanpa ampun.
"KATAKAN SEKALI LAGI, TUA BANGKA!" Admon dengan nada penuh penekanan.
"Ak-u pu-nya cara, u-ntuk melepaskan ke-kekuatanmu" wanita tua itu dengan keadaan leher tercekik.
Setelahnya, Admon melepaskan Cenayang buta itu. Admon seperti tertarik dengan perkataan wanita tua itu.
"Bahkan kau bisa mendapatkan apa yang tidak kau miliki selama ini" lanjut wanita tua itu.
.
.
.
Red mengatakan jika Baekhyun sedang mengandung, dan ada seorang bayi di dalam rahimnya, tapi Baekhyun tidak merasakan apa pun selain keadaan tubuhnya yang semakin melemah. Dan orang lain tidak akan bisa menyadari apa pun dari kondisi Baekhyun.
Yohan, Ayah Baekhyun merasakan kegelisahan yang teramat sangat atas kondisi Putrinya. Pria itu mengingat dengan jelas perkataan keluarganya terdahulu. Pria itu tidak terlalu mengindahkan, karena ia menganggap itu semua sudah berakhir setelah sosok yang mengutuk keluarganya dikurung dan mungkin sudah mati atau entahlah.
Tapi Yohan merasakan ada suatu kekuatan yang sangat besar tempo hari, saat Baekhyun berteriak dari dalam kamarnya, ia melihat bayangan hitam yang berkelebat dan menghilang. Yohan tidak melihat wujudnya secara sempurna, tapi kekuatan itu bisa ia rasakan.
"Apa Baekhyun sudah melepaskan makhluk itu?" Yohan terlihat cemas.
'Memangnya apa yang akan terjadi jika makhluk itu lepas dari belenggunya?' Yohan bertanya pada neneknya.
'Ia selalu mengutuk garis perempuan yang dilahirkan di keluarga kita'
'Nenek, katakan apa yang akan terjadi'
'Gadis itu akan mati' sang nenek menghela nafas sejenak.
'Itu mengerikan'
'Mati adalah kodrat manusia, tapi hal yang paling mengerikan adalah, jika perempuan keluarga kita melahirkan keturunan makhluk itu' Nenek Byun mengusap kepala Yohan yang berusia remaja.
'Mana mungkin Iblis bisa menyetubuhi manusia, nenek ada-ada saja'
Dulu ia tidak percaya, tapi saat Baekhyun lahir dengan tanda lahir merah, ia menyadarinya jika kutukan itu benar adanya. Yang bisa ia lakukan hanyalah membuat Baekhyun tidak melanggar larangangannya.
'Lalu, apa bisa Iblis itu dibelenggu kembali jika ia terlepas'
Nenek Byun menggeleng mendengar pertanyaan Yohan.
'Tidak ada satu pun yang bisa mengurungnya dengan kekuatan sebesar itu' Nenek Byun menghela nafas 'Bahkan 3 cenayang yang berhasil mengurung makhluk itu meregang nyawa saat ritual itu berhasil'
"Baekhyun" Yohan bangkit dari duduknya. Pria itu mengingat wajah Baekhyun dan kondisi terakhir saat putrinya dirawat di Rumah Sakit.
Yohan sempat mengunjunginya walaupun dalam waktu singkat. Pria itu harus kembali ke Jepang karena pekerjaannya.
"Kau kenapa?" Taeyeon melihat Yohan gelisah.
"Aku harus menemui Putriku"
"Baekhyun tidak apa-apa, ia sudah keluar dari Rumah sakit, dia sudah sehat" Taeyeon meletakan teh hangat di atas meja dan menarik Yohan untuk kembali duduk.
"Tapi-"
"Apa yang kau takutkan?"
"Tidak" Yohan berusaha tenang.
"Kita bisa datang besok pagi, ini masih malam" Taeyeon tidak menyadari apa pun.
.
.
.
Red menatap pemandangan kota dari jendela Apartemen mewah milik Veromos. Dunia sudah banyak berubah, Red terkurung cukup lama, dunianya terasa berhenti di dalam kamar itu, tapi dunia terus berjalan dan mengalami perubahan pesat.
"Selamat Tuan, keturunan yang kau tunggu selama ratusan tahun akan lahir" Veromos menunduk hormat.
"Ya, dia akan menjadi-Akh!"
"Apa yang terjadi Tuan?" Veromos terkejut saat Red menutup sebelah matanya. Tuannya tampak sangat kesakitan.
"Tidak" Red merasa itu bukan masalah besar, nyeri itu tidak berlangsung lama tapi sangat menyiksa "...aku harus pergi"
"Baiklah Tuan" tidak ada yang bisa Veromos perbuat, perintah Red mutlak baginya.
Red menghilang dari tempat Veromos. Veromos mulai cemas dengan keadaan Tuannya yang terkadang merasakan kesakitan tiba-tiba.
"Tuan Admon sangat tampan" sesosok serupa wanita bergelayut di lengan Veromos. Wanita itu cantik dengan mata menyipit dan tatapan tajam.
"Apa kau tidak puas denganku, Isael?" Veromos berbalik dan melingkarkan lengannya di pinggang wanita itu.
"Aku tidak mengatakanya" wanita yang dipanggil Isael itu hanya menyeringai, kemudian mendorong Veromos hingga terbaring di sofa ya g berada di ruangan itu.
Red kembali ke kamar Baekhyun. Tapi gadis itu tidak ditemukan di tempat tidurnya. Red mendengar suara gaduh di dapur kecil Apartemen Baekhyun dan menuju ke tempat itu.
Red hanya bersandar di bingkai pintu yang menghubungkan ruang tengah dan dapur kecil itu. Red hanya melihat apa yang dilakukan Baekhyun tanpa melakukan apa-apa.
Saat Red datang, gadis itu tengah meminum air dari botol air mineral berukuran besar yang ia ambil dari lemari pendingin. Baekhyun terduduk di bawah lemari pendingin yang masih terbuka, di sampingnya terdapat 5 buah botol kosong berukuran sama dengan yang Baekhyun pegang saat ini.
"Red"
Baekhyun merangkak saat melihat pujaan hatinya, gadis itu menangis di bawah kaki makhluk itu.
"Red, aku sangat haus, tapi air itu tidak membantu sama sekali" Baekhyun dengan isakannya, tangisnya terdengar pilu.
Red berjongkok menyamakan posisi dengan Baekhyun dan mengusap-punggung gadis itu, kemudian memagut bibir Baekhyun.
"Apa yang harus aku lakukan?" Baekhyun menyandarkan kepalanya di dada Red setelah ciuman itu terlepas.
"Apa ia lapar?" Red dengan suara beratnya.
Baekhyun hanya mengangguk lemah, gadis itu sedikit tenang setelah menemukan sandaran yang pas dan nyaman. Baekhyun tersedu-sedu, gadis itu merasakan kerongkongannya sangat kering, rasa dahaga yang ia rasakan tidak juga hilang dan semakin mencekik walaupun gadis itu sudah menghabiskan seluruh air yang berada di lemari pendingin.
"Kau sangat tersiksa, Baekhyun?" Baekhyun mengangguk lemah.
Red membawa tubuh Baekhyun dan membaringkannya di atas tempat tidur dan melucuti seluruh pakaian gadis itu. Red mengecup punggung tangan Baekhyun dan beralih ke dahi gadis itu, Red menghidu seluruh permukaan kulit leher Baekhyun dan menjilati dada gadis itu. Baekhyun menikmatinya, gadis itu sangat menyukainya.
Red menanggalkan pakaian atasnya dan mulai mengungkung Baekhyun. Red menyayat dada bagian tengahnya hingga mengalirkan darah segar.
Melihat darah Red mengalir, Baekhyun menggila, gadis itu menjilatinya seperti orang kesetanan. Bahkan Baekhyun berhasil membalikkan posisi keduanya, saat ini tubuh telanjangnya duduk di atas perut Red, dan lidahnya bermain di dada makhluk itu.
"Hilangkan dahagamu seperti malam itu, Baekhyun"
.
.
.
Tbc.
Pusing lama-lama ngetik Rêd, ada NC ga ada NC aku dibikin pusing sama Rêd...
Rêd tuh anak gue yang paling nackal, paling mesum, paling paling...
