Previous

Sehun yang mendengarnya langsung melepas pelukannya dan menatap datar sang istri yang seolah mengumbarnya didepannya secara tidak langsung.

"Hei jangan marah, aku tidak akan menyukainya. Because You're my everything" Luhan mencium bibir sang suami kemudian melanjutkan acara memasaknya, dirinya tidak bisa memaksa sang suami agar langsung bersikap seperti biasa karena itu hak sang suami

"Aku mandi dulu"

"Baiklah"

Luhan hanya geleng – geleng kepala melihatnya, karena dengan sikap dingin suaminya menunjukkan betapa suaminya mencintainya dan tidak suka jika ada orang yang menggangu dirinya apalagi menembaknya seperti itu.

..

..

..

#Sukinanda - #I-Love-You

..

..

..

Main Cast : HunHan

Other Cast : Bermunculan sesuai dengan cerita

..

..

..

Setelah selesai mandi, Sehun langsung menuju meja makan dimana makan malam sudah tertata dengan rapi. Jujur saja dirinya kesal dengan Hoya yang sudah berani mencintainya namun dirinya tidak bisa marah pada orang tersebut karena setiap orang berhak untuk memiliki perasaan tersebut tergantung pada orang yang dicintainya menerimanya atau tidak.

"Sehun"

Yang dipanggil tidak menjawab ataupun melirik sedikit kerah sang pemanggil, karena dirinya masih teringat jelas dengan Hoya yang sudah berani memasuki kehidupan mereka dan yang ditakutkan merebut Luhan dari sisinya dengan cara licik yang tidak terduga olehnya.

PLAK

"AKH! SAKIT LU..." Sehun mengelus jidatnya yang menjadi korban karena Luhan memukulnya cukup keras

"Makanya kalau orang bicara didengar" Luhan kesal, dirinya ingin menangis karena sang suami tidak meliriknya sedikit pun namun kalau menangis sama saja membuat suaminya merasa bersalah karena sudah membuatnya menangis

"Ada apa?" Sehun langsung menatap istrinya dengan mata elangnya seolah meminta penjelasan ada apa memanggilnya sehingga sampai main kekerasan pada jidat sexynya

"Kau kenapa daritadi hanya diam sambil menunjukkan ekspresi datarmu, lagian kan Hoya saja yang menyukaiku bukan aku yang menyukainya" Luhan mengeluarkan unek – unek kekesalannya yang daritadi ditahannya, rasanya sangat tidak nyaman jika terus memperhatikan wajah datar dan dingin suaminya yang ditujukan padanya

"Aku minta maaf jika sikapku membuatmu kesal seperti ini. Aku hanya takut jika dia merebutmu dariku dengan cara apapun"

Luhan menghela nafas, walaupun Hoya menggunakan cara licik maka dirinya tetap pada pendiriannya bahwa dirinya hanya mencintai Sehun seorang diri dan tidak ada yang menggantikan suami tampannya sampai kapanpun.

"Jika dia melakukan hal licik, maka aku lebih baik mati daripada menikah dengannya" Luhan menjawab dengan serius akan hal yang ditakutkan suaminya, mungkin dirinya ragu untuk mengatakan mati karena masih banyak yang belum dilakukannya tetapi jika harus hidup dengan orang lain membuat dirinya lebih memilih mati daripada harus hidup dengan orang yang tidak dicintainya

"Kenapa begitu?" Sehun merasa senang dengan jawaban sang istri, namun masih ingin lebih tahu sebesar apa rasa cinta sang istri padanya. Bukan bermaksud untuk meragukan cinta Luhan padanya hanya ingin tahu saja

"Jujur saja susah untuk mendapatkan suami super sepertimu, dan aku adalah orang bodoh jika melepaskanmu dengan mudahnya" Luhan menjawab dengan tegas karena itulah yang memang dipikirkannya, jika bisa mendapatkan ikan langkah seperti Sehun kenapa harus mencari ikan kelas bawah

"Suami super? Aku bukan superhero Lu" Sehun merasa Luhan terlalu banyak berkhayal ketika kecil sehingga menyamainya dengan tokoh figur superhero

"Ish... Bukan superhero" Luhan kesal sendiri jadinya karena sang suami menganggap ucapannya dengan bercanda apalagi membawa tokoh superhero yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan mereka

"Jadi super yang kau maksud adalah?"

Luhan diam saja dan melanjutkan makan malamnya daripada bertengkar dengan sang suami hanya karena masalah salah paham akan super didalam pembicaraan mereka.

"Hei, tidak sopan jika tidak menjawab pertanyaan suami" Sehun tidak marah namun tidak suka jika istrinya tidak mengacuhkannya, mau sekesal apapun kalau sang suami bertanya itu harus dijawab

"Iya maaf, nanti saja kujelaskan kalau sudah siap makan malam" Luhan tidak mungkin mengatakan maksud dari kata super sekarang takut berakibat fatal pada makan malam mereka

"Baiklah" Sehun tidak memiliki pilihan lain selain melanjutkan makan malam mereka yang sudah berjalan setengah

Selesai makan malam Sehun masuk kedalam kamar dimana Luhan sudah duluan bersantai sambil menonton televisi yang tersedia didalam kamar mereka.

"Bisa jelaskan sekarang Lu? Aku masih ada beberapa urusan" Sehun meminta penjelasan secara langsung karena setelah ini dirinya masih harus membaca beberapa email yang baru saja masuk keemail miliknya

Luhan berjalan mendekat kearah suaminya untuk memperjelas maksud ucapannya mengenai kata super.

"Super yang kumaksud adalah.." Luhan menggantung ucapannya karena sangat senang melihat ekspresi keingin tahuan sang suami yang sangat tinggi akan ucapannya "Super ganteng dan baik" sambil memegang wajah Sehun "super sexy" sambil memegang perut sixpack sang suami "dan super dalam hal ranjang" ucap Luhan sambil meremas selangkangan suaminya

"AH... LU..." Sehun terkejut dan tidak menyangka maksud dari super yang diucapkan istrinya adalah itu, namun Luhan yang nakal meremas selangkangannya justru membuatnya menjadi terangsang dan harus diselesaikan agar tidak kesakitan didalam celananya yang super ketat

"Owh... Dia mulai menunjukkan eksitensinya" Luhan pura – pura terkejut padahal senang jika suaminya terangsang, biasanya sang suami tidak pernah membawa kerjaan dirumah namun hari ini terpaksa karena adanya email masuk

"Lu, kau harus bertanggung jawab" Sehun menatap Luhan dengan tajam karena dirinya sudah tersiksa secara batin karena penisnya yang bangun karena remasan sang istri

"Baiklah. Bukan masalah besar untukku" Luhan mengatakannya dengan santai dan langsung mencium suaminya dengan ganas, baginya melakukan sex dengan Sehun merupakan hal yang menakjubkan untuk saling melepas stres

"Kau dalam bahaya Lu... AH..."

Sehun tidak tinggal diam ketika istrinya menjadi agresif seperti saat ini, dan dirinya yang sebagai dominan hanya akan menunjukkan betapa dirinya bisa menjadi dominan didalam permainan ini dan harus mengimbangi istrinya yang sangat nakal.

..

..

..

Setelah semalaman melakukan permainan khusus orang dewasa tersebut, Sehun sama sekali tidak bisa bangun untuk berangkat bekerja karena dirinya benar – benar kelelahan akibat Luhan yang selalu menggodanya setelah orgasmenya yang ketiga.

Sedangkan Luhan bangun seperti biasa untuk menyiapkan sarapan untuk sang suami yang nampaknya kelelahan karena ulahnya. Dua puluh menit kemudian Luhan kembali memasuki kamarnya bersama sang suami dengan pelan – pelan karena tidak ingin membuat suaminya terkejut.

"Sehun, ayo bangun. Kau harus bekerja hari ini" Luhan mencoba untuk membangunkan sang suami yang masih tertidur dengan lelapnya, jika diperhatikan lebih detail suaminya sangat imut ketika tertidur namun sangat mengerikan ketika membuka matanya karena sorotan tajam milik suaminya seolah mampu membunuh orang

"Nghh... Aku masih ngantuk Lu" Sehun menjawab namun matanya sama sekali tidak bisa dibuka karena dirinya benar – benar kelelahan menghadapi istrinya yang liar

Luhan terdiam mendengarnya dan sedikit menyesal karena sudah menyerang serta mengerjai suaminya hingga mereka melakukannya sampai jam lima pagi. Dirinya hanya ingin memberikan kepuasan pada sang suami namun caranya juga salah karena suaminya adalah orang sibuk yang tidak bisa meninggalkan kantor walaupun Jin Oppa bisa membantu adiknya tersebut.

"Apa bisa hari ini kau cuti saja Sehun?" dirinya merasa itu satu – satunya cara agar suaminya bisa beristirahat total dengan baik karena ulahnya

Sehun terdiam dan berpikir jadwalnya hari ini apa saja kemudian menganggukkan kepalanya tanda dirinya benar – benar bisa cuti hari ini karena tidak ada kegiatan penting hari ini dikantor.

"Lu, tolong hubungi Suho untuk mengatakan padanya kalau aku hari ini tidak masuk dan jikalau ada yang penting segera kabari" Sehun memberitahu istrinya karena dirinya benar – benar tidak sanggup hanya mengambil ponselnya yang berada diatas nakas dekat tempat tidur mereka

"Nanti saja, sekarang masih terlalu pagi untuk menggangunya"

Luhan tidak mungkin menggangu Suho yang mungkin masih tertidur mengingat Suho masih hidup mandiri dan belum memiliki seseorang yang bisa mengurusnya dengan baik.

"Baiklah, ayo tidur bersama Lu" Sehun menarik Luhan hingga yang ditarik langsung terjatuh diatas badannya

"Ish... Aku mau masak sarapan untuk kita" Luhan kesal karena dirinya main ditarik – tarik seperti itu

"Nanti saja Lu, aku masih ngantuk karena terlalu banyak bermain"

Sehun tidak ingin berjauhan dengan istrinya sehingga dengan terpaksa memilih cara untuk menarik Luhan agar masuk kedalam pelukannya yang super erat.

"Hah.. Baiklah" Luhan menyerah dan ini benar – benar kesalahannya, dan untuk kedepannya dirinya berjanji tidak akan mengerjai sang suami seperti semalam hingga pagi menjemput

Lama kelamaan Luhan ikutan tertidur karena merasa nyaman didalam pelukan suaminya dan suasana diluar yang sedang hujan seolah mendukung mereka untuk lanjut tiduran bersama dalam situasi yang berbeda dari biasanya.

Drtt... Drtt...

"Nghh... Siapa yang menggangu pagi – pagi" Sehun terbangun karena handphone miliknya bunyi dan menggangu tidur paginya yang masih kurang dan bersyukur Luhan tidak terbangun karena ponselnya berbunyi

"Hallo" Sehun menjawab tanpa melihat nama orang yang memanggilnya, gerakannya cukup terbatas mengingat adanya Luhan yang berada diatas tubuhnya

"Hallo sajangnim, Jin sajangnim barusan mencari anda" ucap sang penelepon setelah sambungannya terhubung

"Suho, tolong handle semua kerjaanku jika ada. Karena aku sedang tidak enak badan dan tidak akan masuk kantor hari ini serta tolong kabari Jin Hyung atas ketidakhadiranku" Sehun memberikan perintah pada Suho karena mau bagaimanapun Suho adalah seketarisnya saat ini walaupun mereka adalah sahabat lama

"Baiklah sajangnim" Suho mengerti akan kondisi atasannya dan tidak bisa memaksa sang atasan untuk masuk jika orang yang bersangkutan sedang sakit

"Hm, terima kasih" Sehun mematikan sambungan setelah apa yang ingin disampaikannya pada sang seketaris sudah selesai, walaupun ada sedikit kebohongan namun setidaknya dirinya memang sangat lemas hanya untuk bangun dari tempat tidur

"Kenapa harus berbohong" Luhan membuka matanya dan menatap sang suami yang baru saja selesai menelepon dengan Suho, dirinya sudah terbangun namun karena itu urusan suaminya maka dirinya tidak berhak untuk ikut campur atas masalah suaminya dikantor

"Kau sudah bangun Lu?" Sehun terkejut karena sedari tadi dirinya melihat Luhan yang tertidur dengan polosnya dan itu menambah keimutan Luhan berkali – laki lipat dari biasanya

"Hm, ayo jawab pertanyaanku" Luhan ngotot keras kepala meminta jawaban sang suami atas pertanyaannya barusan

Sehun hanya tersenyum saja menanggapinya karena kebohongan yang dibuatnya cukup menolong dirinya dari serangan Jin Hyungnya yang sangat emosional "Berbohong seperti itu cukup baik daripada jujur"

"Baik, tapi apa kau tidak tahu Sehun kalau berbohong seperti itu justru bisa membuatmu jadi jatuh sakit benaran"

"Luhanku sayang, aku tidak mungkin jujur kalau aku lelah karena habis bercinta karena kalau jawabanku seperti itu Jin Hyung tidak akan segan – segan memarahi bahkan memukulku"

Luhan sangat terkejut karena tidak menyangka jika Jin oppa yang kelihatan bersahabat bisa segalak itu pada adiknya sendiri dan sulit membayangkan bagaimana jika orang lain yang bermasalah pada Jin Oppa bisa – bisa orang itu mati duluan.

"Hm, baiklah" Luhan tidak ingin banyak tanya tentang Jin Oppa karena itu akan membuat suami tampannya cemburu tingkat dewa pada Hyungnya sendiri

Sehun dengan pelan – pelan mencuri ciuman dibibir Luhan pagi ini, seperti biasa mengambil morning kiss adalah kebiasaan banyak pasangan suami istri.

"Haruskah kau mencurinya?" Luhan kesal karena dirinya mendapat serangan mendadak dari suami, walaupun morning kiss sudah sering mereka lakukan namun rasanya kesal saja melihat sang suami seperti pencuri yang mencuri morning kiss dengan cepat

"Tentu saja, aku tidak mau kelelahan karena perbuatanmu Lu"

"Ppfft..." Luhan menahan tawanya karena jawaban polos sang suami, memang dirinya benar – benar menyerang sang suami habis – habisan sehingga suaminya sendiri takut

"Jangan ketawa, aku bukan takut karena seranganmu. Tetapi kalau ini terus berjanlut setiap harinya kupastikan aku tidak akan bisa bekerja dengan baik serta mencari nafkah untuk istriku yang tercinta namun nakalnya setinggi gunung"

"Baiklah, aku juga minta maaf akan hal itu"

"Hari ini kegiatanmu apa Lu?" Sehun bingung karena dirinya akan berada dirumah untuk pertama kalinya semenjak memiliki istri, biasanya dirinya akan sibuk dengan bekerja dan hanya meluangkan waktu hari minggu untuk istrinya yang tercinta

Luhan mencoba berpikir akan kegiatannya hari ini sambil meletakkan jari telunjuknya dijidatnya yang sexy "Biasanya setiap hari kamis aku belanja disupermarket"

"Baiklah, aku akan menemanimu" Sehun memilih untuk menemani istrinya dibandingkan berdiam dirumah sendirian yang pastinya akan sangat membosankan untuknya

"Baiklah, aku membuat sarapan sebentar ya. Kalau mau tidur silahkan lanjutkan nanti kubangunkan"

"Hm"

Luhan beranjak bangun dan bersyukur suaminya memberinya izin untuk membuat sarapan dibandingkan tiduran terus yang akan membuatnya cepat bosan karena tidak bisa beraktifitas. Selagi dirinya memasak ternyata Sehun sudah mandi dan langsung keluar dari kamar menuju dapur dimana istrinya masih menyiapkan sarapan.

"Pagi sayang" Sehun memeluk istrinya dan hal itu jelas membuat Luhan terkejut bukan main, padahal sebelumnya sang suami tertidur dikamar sebelum dirinya beranjak turun dari kasur namun semuanya berbeda dari perjanjian mereka

"Kau sudah bangun?" Luhan terkejut karena suaminya juga sudah harum dan itu merupakan aroma yang disukainya dari sang suami yang berbau mint membuatnya semakin ingin berdekat – dekatan dengan suaminya

"Iya, aku merindukanmu" Sehun meletakkan kepalanya dibahu Luhan dengan mesra karena tidak ingin berjauhan dengan sang istrinya

"Cih... Kau merindukanku atau merindukan setumpuk berkasmu dikantor?" Luhan mencibir karena suaminya tidak pernah semanja ini padanya

"Hei kenapa cemburu gitu? Aku merindukanmu bukan berkas yang ada dikantorku" Sehun tidak menyangka jika istrinya bisa sangat ketus dan galak jika sedang cemburu seperti saat ini namun cukup bersyukur karena Luhannya tidak main tangan jika sedang cemburu dan kesal

"Benarkah? Aku tidak yakin sama sekali dengan gombalanmu" Luhan justru mencibir suaminya yang dimatanya terlihat sedang menggombal dirinya, jujur saja sang suami tidak cocok menggombal dan tidak nampak seperti Sehun sajangnim yang terkenal dengan sifat dinginnya

"Hei itu bukan gombalan. Untuk apa kau cemburu dengan berkas kantorku Lu, justru dari situ lahh aku bisa memberikan nafkah padamu. Jika kau ingin beli sepuluh mobil, maka credit card yang kukasih padamu bisa kau gunakan"

"Maaf saja ya, aku bukan wanita yang seperti itu. Dibandingkan uangmu justru aku menginginkan dirimu"

"Aku sudah menjadi milikmu, bahkan kau bisa memiliki segala sudah menjadi milikku" Sehun tersenyum senang karena dirinya cukup bersyukur punya istri seperti Luhan yang memang mencintainya dengan tulus bukan karena uangnya atau kegantengannya

"Sudah, kau duduk dulu. Biar aku lanjutkan memasak sedikit lagi selesai"

"Baiklah"

Dua menit kemudian Luhan membawa dua porsi piring untuk sarapan mereka, dan Sehun paling antusias jika sudah menyangkut makanan apalagi yang memasak adalah koki Luhan yang setara dengan masakan hotel bintang lima dimana dirinya sering kunjungi jika sedang ada klien penting.

Setelah selesai sarapan, Luhan langsung mandi dan kemudian memaksa suaminya untuk berbelanja ditempat biasa dirinya belanja. Sehun yang awalnya masih malas untuk bergerak dipagi hari terpaksa langsung menyetujui ajaka istrinya dibandingkan didiamkan oleh sang istri untuk waktu yang lama dan itu pun dirinya tahu dari sang mertua yang menceritakan kebiasaan buruk istrinya ketika mereka mengunjunginya kemarin.

"Kau suka sayur ini Hun?"

Luhan bertanya pada suaminya, setelah sampai disupermarket yang biasa dikunjunginya mereka langsung menuju tempat sayuran segar dipamerkan untuk dijual. Suka tidak suka, Luhan tetap memasak sayur setiap memasak karena menurutnya hidup itu harus memakan makanan yang mengandung empat sehat dan lima sempurna.

"Aku memakan apapun yang dimasak istriku" Sehun tidak bisa menjawab pertanyaan Luhan dengan baik karena dirinya sama sekali tidak tahu nama – nama sayuran karena baginya hanya tahu makan dan mengomplain rasanya apakah cocok dilidahnya atau tidak serta selain itu dirinya tidak mau tahu

"Baiklah" Luhan tidak bisa memaksa Sehun karena lagian selama ini dirinya yang menentukan menu makanan mereka sedangkan sang suami hanya makan tanpa mengkomplain masakannya

"Luhan"

Luhan membalikkan badannya untuk melihat orang yang barusan memanggilnya dan begitu juga dengan Sehun yang penasaran dengan orang yang baru saja memanggil istrinya.

"Hoya" Luhan tanpa sadar menyapa kembali orang tersebut, namun dalam hati merutuki kenapa manusia menjijikan seperti Hoya harus bertemu ditempat seperti ini bersama suaminya, bisa – bisa suaminya kesal habis karena Hoya yang selalu menggangu mereka

"Hai Sehun" Hoya menyapa suami sahabatnya lengkap dengan senyumannya, padahal menyapa Luhan tidak ada pakai senyum sedikit pun dan itu sangat menggelikan

"Hm" Sehun membalasnya dengan gumaman saja karena dirinya sangat tidak akrab dengan Hoya walaupun nyatanya mereka satu kelas ketika senior high school

"Kau ngapain Lu?" Hoya bertanya pada sahabatnya karena cukup bingung dengan Luhan yang membawa suaminya kesupermarket entah untuk hal apa

"Pertanyaanmu aneh Hoya, orang kesupermarket ya untuk belanja bukan untuk cari kerja atau hal lainnya" Luhan kesal sendiri jadinya karena sahabatnya bodoh atau cari muka agar bisa lama – lama menggangu mereka, sudah tahu ditangannya ada sayuran masih tanya untuk apaan kesini

"Ya mana tahu saja kalau kau kesini untuk cari cowok ganteng sekalian cuci mata"

"YAK! MULUTMU ITU" Luhan kesal karena sahabatnya yang menjijikkan berbicara sembarangan justru tuduhan seperti itu bisa membuatnya bertengkar hebat dengan suaminya padahal dirinya hanya untuk berbelanja kebutuhan bulanan mereka yang sudah menipis bukan cuci mata lagian suaminya jauh lebih perfect dibandingkan yang lain

Melihat istrinya yang sedang kesal membuat dirinya langsung memeluknya untuk memberikan ketenangan lagian tidak baik buat masalah ditempat orang kecuali jika didalam rumah mungkin dirinya akan memberikan kebebasan untuk sang istri memarahi orang lain jika memang menurutnya pantas untuk dimarahi.

"Sudah Lu, kau tidak perlu marah seperti itu. Lagian ini bukan wilayahmu" Sehun berbisik memperingatkan sang istri akan keadaan dimana orang lain sudah banyak memperhatikan mereka karena suara marah istrinya barusan

"Tapi dia yang mulai Sehun, siapa yang tidak kesal jika dituduh seperti itu didepan suami sendiri lagi"

"Iya, tapi aku lebih percaya padamu dibandingkan sampah seperti dia"

"Hm" Luhan senang setidaknya Sehun tidak termakan omongan Hoya yang sangat murahan seperti orangnya yang asal bicara dan bisa menimbulkan fitnah

"Jangan temui kami lagi" Sehun memberikan perintah dengan nada datar karena dari awal dirinya sudah tidak suka dengan Hoya yang merupakan sahabat istrinya

"Hei, aku cuma bercanda. Aku kesini hanya ingin mengajak kalian untuk datang kepesta ulang tahun adikku nanti malam"

"Nanti kami akan datang, ayo Lu" Sehun menjawab sekilas kemudian membawa istrinya untuk pindah dan mencari bahan makanan yang lain karena malas berdebat dengan Hoya yang selalu benar dan tidak mau disalahkan

"Kau akan datang kepestanya?" Luhan bertanya setelah menjauh dari Hoya, jujur saja kalau dirinya yang ditawari maka dirinya akan menjawab dengan lantang kalau dirinya tidak akan datang sama sekali

"Terpaksa, lagian banyak orang yang memperhatikan kita tadi Lu dan juga ini bukan wilayah kita"

"Baiklah"

Luhan mengalah dan yang dikatakan suaminya benar karena mereka bukan siapa – siapa disini, andai saja mereka pemilik supermarket tersebut maka dirinya dengan tegas membentak Hoya atas undangan yang diberikan Hoya.

Sisanya Luhan hanya mengambil keperluan bulanannya dengan cepat karena ingin cepat pulang dan beristirahat setelah emosinya naik karena ulah Hoya.

~TBC~