Celebrity Scandal

keanijun

2018

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Chanyeol hanya menatap Nayeon yang memasuki apartemen dengan tatapan nanar. Ini sudah hampir pukul dua pagi dan Nayeon baru saja pulang dengan keadaan mabuk. Pandangan Chanyeol mengikuti setiap pergerakan wanita hamil itu. Nayeon tidak mempedulikan Chanyeol yang melayangkan tatapan tajam padanya, bahkan mungkin Nayeon tidak menyadari keberadaan Chanyeol disana.

"Kau sedang hamil dan berkeliaran ke club hingga pagi buta." Chanyeol tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya, namun gelombang kemarahan Chanyeol bisa dirasakan oleh Nayeon. Wanita itu berhenti melangkah, ia masih sempoyongan dan memilih bersandar pada dinding di depan kamarnya.

"Bukan urusanmu, Park."

"Bagaimanapun kau sedang mengandung anakku, aku harus bertanggung jawab atas kalian." Chanyeol memiliki kontrol diri yang baik, jika tidak mungkin dia sudah berdiri di depan Nayeon dan menyeret wanita itu keluar.

Nayeon mendecih remeh.

"Kau sangat naif, sama seperti Baekhyun."

Nayeon berjalan kembali ke depan Chanyeol, dilihatnya baik-baik pria itu, walau yang ada di matanya hanya bayangan buram berwarna hitam.

"Jangan bersikap seperti kau harus bertanggung jawab atas semua hal."

Chanyeol memilih diam dan tidak mengatakan apapun tentang itu dan Nayeon berlalu pergi. Dia kembali terlarut dengan kegelapan dan kecemasan nya sendiri. Semua beban berat ada di kepalanya. Karier dan kehidupan pribadinya sedang tidak berjalan dengan baik hingga rasanya ia mau mati saja. Dalam kepalanya ditumbuhi beribu pergolakan entah tentang karir atau hal lain nya.

Matanya bergulir pelan pada surat kabar harian, dengan headline yang ditulis besar Park Chanyeol mengakui perbuatannya dan mundur dari industri hiburan yang bagi Chanyeol itu seperti terbaca Kehancuran hidup Park Chanyeol.

Konferensi pers yang ia adakan kemarin seolah membuat masyarakat Korea bergejolak. Mereka tidak pernah menyangka bahwa Park Chanyeol yang dijadikan panutan telah melakukan perbuatan menjijikan dan menipu publik. Artis terlihat seperti seseorang yang sempurna dan dalam kondisi yang baik, namun mereka hanyalah manusia biasa, hanya saja memiliki tuntutan besar untuk pekerjaannya. Menyenangkan hati banyak orang bukan perkara mudah, namun Chanyeol berhasil melakukannya, hingga kemarin semua hancur.

Chanyeol merasakan denyutan hebat dalam kepalanya, jadi ia memilih berbaring di sofa dan memejamkan mata. Sekelebat bayangan Baekhyun mampir dalam kepalanya sebelum ia terlelap, ia merindukan Baekhyun. Sungguh merindukan kecintaannya itu dan calon buah hati mereka.

.

.

.

.

.

.

.

"Kau kelihatan tidak baik."

Chanyeol tidak mau ambil pusing dengan pertanyaan Siwon. Ia hanya ingin minum kopi dengan tenang saat pagi, namun pria yang berstatus sebagai ayah tiri nya itu tiba-tiba datang dan membawa beberapa masakan rumahan. Chanyeol cukup terkejut dengan kedatangan pria itu, apalagi dia datang dengan alasan ingin menemani Chanyeol. Chanyeol tidak pernah menyukai pria ini, bahkan dalam hatinya dia pernah bersumpah tidak akan pernah mau makan semeja dengan Siwon. Sepertinya takdir berkata lain karena hari ini dia sarapan dengan ayah tirinya di meja yang sama.

Chanyeol ingin mengusir Siwon dari apartemennya, namun ia juga terlalu lelah untuk mengatakan itu. Sejujurnya ia juga butuh teman untuk mengobrol dan sepertinya Siwon memang datang untuk menghiburnya.

"Aku tahu ini berat untukmu."

Chanyeol tidak memberikan tanggapan apapun. Ia malah asik dengan makanan yang ada di depannya. Dia sudah lupa kapan terakhir kali ia makan makanan rumahan seperti ini.

Siwon cukup memahami itu, jadi dia tidak berharap Chanyeol akan mengatakan sesuatu. Tidak ditendang dari pintu depan saja, Siwon sudah bersyukur. Chanyeol yang Siwon ingat sungguh tega melakukan banyak hal untuk menunjukan kebenciannya.

"Rasa makanannya mirip masakan ibu." Chanyeol akhirnya membuka suara.

"Ya, dia memasak dengan baik." Siwon menanggapi sambil menyeruput kopinya.

Chanyeol mengambil satu mangkuk nasi lagi dan melahapnya dengan cepat. Siwon tersenyum tipis, nyaris tidak terlihat. Bertahun-tahun ia mengenal Chanyeol sebagai anak tirinya, baru hari ini mereka bisa berinteraksi dengan hangat.

"Kau tau, aku sejujurnya sangat khawatir mendengar berita kemarin. Itu benar-benar mengejutkan." Siwon melirik pelan pada Chanyeol, memperhatikan ekspresi yang dikeluarkan, namun Chanyeol tidak nampak terganggu.

"Lalu apa yang akan kau lakukan setelah ini?" Siwon bertanya dengan hati-hati.

Chanyeol berdiri dari tempatnya dan berjalan ke dapur. Ia mengambil segelas air ketika Nayeon keluar dari kamar dan menghampiri mereka. Wanita itu masih dengan baju kemarin malam ditambah langkah yang sempoyongan.

"Ohh, selamat pagi nona." Siwon menyapa dengan gaya ramah nya yang khas.

Nayeon tersenyum kecil dan menghampiri Siwon di meja makan. "Selamat pagi."

"Bahkan ketika bangun tidur, kau tetap terlihat cantik. Apakah semua ibu hamil memang seperti itu?"

Chanyeol nyaris menyemburkan airnya ketika mendengar perkataan Siwon. Apa-apaan pria tua itu, apakah ia bermaksud menggoda Nayeon? Di depannya? Chanyeol ingin memukul wajahnya saat itu juga jika saja Nayeon tidak tertawa.

"Kau sungguh baik." Nayeon tertawa kecil, namun kemudian ia mengernyit bingung. "Aku belum pernah melihatmu sebelumnya."

Siwon tersenyum dengan cerah, "Aku ayahnya Chanyeol."

Sedetik kemudian Chanyeol datang dan menggebrak meja. "Jangan bicara sembarangan pak tua, aku tidak sudi jadi anakmu."

"Lihatlah nona, dia sangat pemalu. Bahkan dia tidak menganggapku sebagai ayahnya." Siwon membuat ekspresi sedih yang terlihat menggelikan di mata Chanyeol, jadi pria itu memilih diam dan beranjak ke dapur untuk membuatkan susu hamil.

Chanyeol memang jengkel luar biasa dengan Nayeon, namun bagaimanapun ia tidak bisa membenci Nayeon sepenuhnya. Nayeon adalah ibu dari calon anaknya sekaligus harta berharga dari orang yang ia cintai. Baekhyun telah banyak berkorban untuk Nayeon, jadi Chanyeol akan berkorban untuk menjaga Nayeon demi Baekhyun.

Bukannya Chanyeol tidak peduli lagi pada Baekhyun, namun untuk saat ini ia harus fokus pada Nayeon agar wanita itu tidak membuat ulah lebih besar lagi. Chanyeol diam-diam sudah mengerahkan beberapa orang untuk mencari Baekhyun sejak awal dia menghilang, namun hingga hari ini tidak ada kabar tentang keberadaan Baekhyun.

Melihat susu hamil di tangannya, Chanyeol bertanya-tanya apakah Baekhyun hidup dengan baik diluar sana. Apa kesayangannya itu juga rutin minum susu untuk calon buah hati mereka. Chanyeol tak kuasa menahan buncahan dalam hatinya kala mengingat Baekhyun dan calon anaknya. Jika semua membaik dan mereka ditemukan, Chanyeol berjanji akan memberikan hidup yang baik untuk Baekhyun dan anaknya. Mereka akan pergi jauh dari orang-orang dan memulai hidup yang indah sebagai keluarga.

Tanpa sadar Chanyeol tersenyum dengan bahagia hingga air matanya menetes.

"Chanyeol, aku harus pulang. Yoona sedang ingin ditemani belanja." Siwon datang ke dapur untuk berpamitan. Chanyeol mengantar pria itu hingga ke pintu depan, sedangkan Nayeon asik menikmati makanan di meja.

"Aku akan pergi, jika kau butuh bantuan temui saja aku." Siwon mengatakan hal tersebut kemudian berlalu pergi, namun belum sampai ia jauh melangkah ia berhenti karena mendengar Chanyeol mengatakan sesuatu.

"Kau mengatakan apa?" Siwon bertanya dengan raut penasaran.

"Terima kasih."

Walau dikatakan dengan nada yang dingin, Siwon tetap tersenyum karena ia tahu bahwa Chanyeol mengatakannya dengan tulus.

"Sudahkah aku mengatakan bahwa aku bangga padamu?"

Chanyeol menggeleng.

"Kau pria yang luar biasa. Berani mengakui kesalahan dan memperbaiki semuanya."

Siwon berlalu pergi dari sana menyisakan Chanyeol yang mematung di depan pintu. Ada kehangatan yang menyeruak dalam hatinya.

Ia seperti memiliki seorang Ayah lagi.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Bagaimana?" Wanita yang lebih muda membantu seorang pria untuk melepas jaket dan mantelnya.

"Tidak baik."

Pria bernama Siwon itu mendudukan dirinya di sofa ruang tengah, matanya mengikuti pergerakan Yoona membawakan makanan kecil untuknya.

"Aku sangat mengerti perasaan Chanyeol. Dia sudah kehilangan karir sekaligus orang yang dia cintai." Yoona menyusul untuk duduk di sebelah Siwon. Pria itu menarik wanita itu untuk memeluknya.

"Terkadang aku merasa beruntung, bahwa kau mau bertanggung jawab untuk semua."

Siwon memeluk wanita itu dengan erat seolah menyalurkan rasa cintanya yang begitu besar, begitupun dengan Yoona. Wanita itu menikmati usapan lembut di kepalanya.

"Maaf karena aku sempat menjadi bodoh dan tidak ingin peduli. Hingga akhirnya aku sadar bahwa aku tidak boleh menjadi seorang pengecut." Siwon berkata dengan sedih, memikirkan masa lalu ketika ia tidak menerima anak yang dikandung Yoona.

"Lupakan masa lalu, yang terpenting kita sekarang kita bahagia."

Siwon merasa beruntung bahwa dia dan Yoona sudah bisa melewati semuanya. Dalam hati ia berdoa dengan tulus agar Chanyeol bisa menghadapi masalah yang menimpanya sekaligus hidup dengan tenang bersama orang yang benar-benar dicintainya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Dia datang lagi."

Baekhyun bergumam kecil ketika seorang pria memasuki cafe tempatnya bekerja. Pria itu sudah beberapa hari terlihat makan di tempat kerjanya sendirian. Rasa penasaran Baekhyun tentang identitas pria itu semakin besar ketika ia datang menggunakan mobil mewah setiap harinya. Baekhyun pikir dia bukanlah pria biasa.

"Selamat datang, Tuan." Baekhyun tersenyum dengan ramah seperti biasa hingga pipinya mengembang.

"Selamat pagi. Bisakah aku mendapatkan beberapa roti bakar dan americano?"

"Tentu. Pesanan akan segera tiba."

Pria itu duduk di meja yang biasa ia tempati sedangkan Baekhyun segera membuatkan pesanannya. Tak butuh waktu lama untuk menyelesaikan semuanya, Baekhyun mengantarkan pesanannya ke meja sang pelanggan.

"Kenapa kau membawanya kemari? bukankah biasanya pelanggan yang mengambilnya ke meja kasir." Pria itu membantu Baekhyun menata pesanannya ke meja.

"Tidak masalah, aku hanya ingin melayani pelanggan setia dengan baik."

Pria itu tersenyum, merasa senang karena Baekhyun sungguh baik. "Bisakah kita berkenalan? Nama ku Lucas." Pria itu mengulurkan tangannya pada Baekhyun, tentu saja dia tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.

"Aku Baekjoon. Park Baekjoon."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Kau sudah menemukannya?" Chanyeol bertanya pada seseorang di telepon dan apa yang dia dengar setelahnya membuat ia terlonjak.

"Kau benar-benar yakin itu dia?"

"Terus awasi dia dan pastikan keadaannya baik-baik saja."

"Kirimkan alamatnya padaku, jika waktunya tepat aku akan menjemputnya."

Chanyeol menutup telepon itu dan bersorak senang. Setelah penantian panjang, akhirnya ia menemukan tempat Baekhyun berada. Chanyeol akan memikirkan rencana selanjutnya untuk menyelesaikan semua masalah. Ia ingin Baekhyun pulang dengan selamat tanpa harus berurusan dengan media.

Tanpa menyadari jika Nayeon berdiri di depan pintu sedari tadi, mendengarkan apa yang Chanyeol bicarakan.

"Baekhyun sialan."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.