APUAAAAH!? Sejak update terakhir udah 2 bulan berlaluuu?! Time is slipping through my fingertips /alahsokpuitis. Panik banget ga ada progress selama berbulan2 ini. Kono mama ja… ga bakal selesai nih fanfic sebelum saia lulus. Kami-saamaaaaaa! Tasuketeeee! /gapentingbangetgila.
Ini lebih ke kayak ngomong sendiri dibanding authors note buat pembaca. Gomen ne wkwkwk
Betewe anyway busway, chapter ini rada suram lagi. Suram2 mulu jadi tambah pundung. Tapi karena ini berubungan sama Chase sang Asinan misterius, tentulah harus agak suram ahahah. N setelah chapter ini akhirnya Roris akan semakin dekat dengan sang musuh utama, yaitu ************ jumlah bintang tidak berhubungan dengan jumlah huruf pada nama musuh utama.
Without further (useless) ado, here it comes!
Eh bentar, chapter ini akan ada 2 part soalnya saia ubah POV dari first ke 3rd.
Selamat menikmati, kali ini beneran!
Pala Telesia
(May You Find Your Destiny)
.
Main characters list:
Roris – Sniper: pengejar Takdir
Allodia – Force User: hidup dan mati adalah misi
Demor – Swordsmaster: pengembara Lunascent bertekad baja
Giga – Destroyer: prajurit berpembawaan pelawak, namun berhati ksatria
Chase – Assassin: pemuda misterius yang menjaga cahaya dengan caranya sendiri
Regillus – Saint: manusia berhati lembut yang memiliki misi melindungi Lagendia beserta penghuninya
.
.
Chapter 15
Warisan
.
-Part I-
.
Padang gersang tak berujung. Cahaya pertama mentari menerangi langkah yang letih. Kepayahan. Rupa berlumuran darah, pun lututnya gemetaran. Nyaris tewas. Ia tak bisa menertawai diri sendiri seperti biasa.
"Air…"
Suaranya mengenaskan. Entah sudah berapa kali mentari terbit dan tenggelam selama pertarungan. Entah kapan terakhir kali ia meneguk cairan langka pemuas dahaga.
Beruntung, tak lama kemudian ketemu sebuah sungai kering. Rambut panjang lusuh turun menempel pasir saat tangan mencapai pasir dan menggali. Perempuan itu menemukan setangkup air yang diteguknya rakus, kemudian tumbang.
Angin berhembus, mengurangi pening. Tak pernah ia begitu bersyukur atas angin dan air. Syukurlah. Syukurlah ia masih hidup. Jika dia mati, siapa yang akan menuntaskan Telesianya?
Tiba-tiba, dalam kenyamanan sesaatnya, ia melihat seseorang tertidur di dalam bayangannya. Wajah orang itu begitu damai, seperti sedang beristirahat setelah kerja keras panjang. Sang pengembara tak tega mengganggu, akan tetapi sudah waktunya bangun. Gadis berkuping panjang itu pun memanggil, tak mengerti apa yang ia serukan, selain bahwa itu adalah sebuah nama.
Tak ada respon.
Seratus kali lagi ia berseru.
Nihil.
Pada akhirnya, gadis itu pun tersadar; siapa orang itu, dan di mana dia sekarang.
"Chase…"
Chase… Ya, itulah nama sang pemuda. Sang pemuda yang telah tiada, tidak berhasil dibawa kembali meski ribuan doa telah terucap.
Perempuan itu masih tersesat. Tersesat dalam penyesalan dan kesepian tanpa akhir. Ia menangis, menangis tidak berdaya.
.
"Nona, apa Anda baik-baik saja?"
.
Di saat itulah perempuan menyedihkan itu: aku, mendengar suara wanita lain.
Setelah beberapa tahun berkelana sebatang kara, aku sulit percaya bahwa di hadapanku berdiri seorang gadis. Gadis itu cantik dan berambut putih, tubuhnya pun samar mengeluarkan cahaya. Namun ada kengerian tidak tergambarkan yang menyelubunginya, membuatku semakin ragu, apakah orang ini bukan malaikat kematian yang ingin menjemputku ke alam baka.
"Anda… Siapa?" aku memberanikan diri.
Perempuan manis itu mengulum senyum. Entah mengapa rupanya semakin familiar. Sepertinya kami pernah bertemu, entah kapan dan di mana.
"Nama saya Lunaria."
Lunaria… Mendengar namanya, perasaanku bergejolak. Bagaimana mungkin aku lupa? Gadis ini… Teman Chase. Dia memang membantuku mencari permata Deep Sea Flower, permintaan Deowen si lintah darat, tapi… Benarkah dirinya teman Chase?
"Sudah lama tak berjumpa," sapaku. Kusembunyikan firasat buruk di balik senyum palsu.
Lunaria memang dapat berteleportasi ke tempat-tempat aneh, bahkan ke masa lalu. Di balik penampakan yang ringkih, ia adalah Teleporter mumpuni. Mungkin itulah penyebab aura kuat yang menguar darinya. Meski begitu, melihatnya muncul di tempat ini semakin memacu rasa curiga.
"Apa Anda melihat Chase akhir-akhir ini?" tanyanya tanpa basa-basi.
Mendengar nama itu, secara refleks kuraih saku gaunku, tempat peninggalan Chase, sebuah kantong kulit tua yang belum pernah kubuka, kusimpan. Tiap menyentuhnya, daku bertanya-tanya apa isinya. Hanya, rasa sesal selalu membuat jemariku kaku. Penyesalan itu selalu mengalahkan segalanya, bahkan rasa ingin tahu sebesar apapun.
Melihat Lunaria menautkan alis, kusingkirkan tangan secepatnya. Aku tak mau ia sadar tentang keberadaan benda ini; takut kalau-kalau dia berniat memintanya.
"Kenapa kamu bertanya padaku?"
Tiba-tiba, raut wajah Lunaria menjadi tak tertebak. Kurasa ia cemas, bagaikan seorang wanita menanti kekasihnya yang tak kunjung pulang.
Rasa tak enak mengganjal. Adanya gadis lain yang kemungkinan merindukan sang Assassin lebih dariku, sedikit merisaukan. Namun, kukunci itu rapat-rapat.
Dengan berat hati, kuceritakan tragedi yang menimpa Chase beberapa bulan lalu.
"Begitu ya…"
Time traveler itu pasti sangat menyayangkannya. Tapi, aku sedikit senang karena tidak menyaksikan air mata. Mungkin alasannya mencari bukan karena rindu. Bisa jadi ia menginginkan hal yang lain.
Ah tunggu. Kenapa aku malah lega? Aku telah gagal mencegah kematian Chase. Andaikata aku lebih kuat, semua ini tidak perlu terjadi. Mungkinkah sebenarnya Lunaria marah, menyalahkanku? Seharusnya ia mengatakannya saat ini juga. Aku memang pantas disalahkan.
"Tadinya saya kira Chase adalah orang yang akan membantu King Feder membangun Lagendia Baru."
.
.
Apa…?
.
.
Pernyataan macam itu tidak pernah sekali pun terlintas. Lunaria juga menyadarinya.
"Apa ada yang salah?" tanya sang Teleporter.
Ada yang salah? Dia pasti bercanda. Chase? Chase yang mengaku akan membela cahaya? Chase yang menyelamatkan nyawa Giga, membantu Regillus melunasi hutang keluarga, serta mengorbankan diri habis-habisan demi satu elf bodoh, bersekongkol dengan musuh terbesar Lagendia? Keterlaluan!
"Feder itu musuh! Tidak mungkin Chase membantunya!" aku memekik, berusaha melindungi Chase yang kukenal. Aku berani bersumpah, dia bukanlah pengkhianat seperti yang Lunaria bilang.
Perempuan itu berkata aku salah paham. Jelas aku semakin marah.
"Hentikan semua omong kosong ini! Feder berhasrat menghancurkan dunia! Berani-beraninya kau menyamakan Chase dengan orang itu!"
Diriku berhenti karena Lunaria memunculkan senyuman pilu. Senyuman itu menyimpan kesedihan bisu, seperti senandung sedih tanpa lirik. Sudah tampak sangat rapuh sebelumnya, kini ia seakan hampir pecah berkeping-keping.
Aku bertanya-tanya, apa dia mahir bersandiwara, atau aku telah membuat kesalahan? Apalagi, sekilas, perempuan di hadapanku sama sekali tidak kelihatan jahat. Apakah penampilannya menipu mata elf-ku, atau sesungguhnya dia memang orang baik, seperti yang dikatakan lubuk hatiku yang terdalam?
"Konon, Lagendia tercipta dari mimpi Dewi Altea," mulainya setelah kami bungkam beberapa saat. "Maka dari itu, saat sang Dewi jatuh ke dalam mimpi buruk abadi, hal itu ikut termanifestasikan dalam tingkah laku penduduk dunia ciptaannya."
Meski masih kesal, ceritanya sungguh menarik. Sepertinya secara tak sadar aku jadi mencondongkan telinga.
"Ketika sang Dewi berhenti bermimpi, hal yang kita semua anggap sebagai satu-satunya kenyataan tidak akan ada lagi."
Ketika perempuan berambut cerah itu memasang jeda, ekspresinya lagi-lagi berubah. Di dalam sana aku melihat setitik kebencian.
Aku tidak pernah memikirkan hal itu, meski sebelumnya sudah pernah mendengar kaitan Lagendia dan mimpi Altea. Mimpi memang hilang jika seseorang terbangun. Apakah mimpi Dewi berbeda, aku tak tahu. Jadi, jika Dewi Altea bangun, apa yang akan terjadi pada Lagendia?
"Jika sang Dewi terbangun, semua yang kita alami di dunia ini, hal-hal yang kita pikir penting dan begitu berarti, akan musnah begitu saja, bahkan tidak menyisakan memori. Tidakkah Anda berpikir itu sangat kejam?"
Ketika kalimat itu selesai, kegelisahan mengambang di udara.
"Kita tidak berhak menghakimi sang Pencipta kehidupan," jawabku pada akhirnya. "Dialah yang menenun Takdir."
Memang apa lagi yang dapat kukatakan? Walaupun sebenarnya, hati kecilku sedikit memberontak. Jika yang dikatakan Lunaria benar, dan jika mimpi Dewi sekalipun hilang tak berbekas ketika ia terbangun, apa aku harus menerimanya begitu saja?
"Anda pernah kehilangan orang yang Anda cintai?" tiba-tiba ia bertanya lagi.
Pertanyaan sederhana itu dapat menghasilkan reaksi cukup dahsyat dalam aliran darahku. Dia tahu jawabannya; barusan aku menceritakan salah satu kehilangan terbesar dalam hidupku. Aku yakin Lunaria dapat membacanya dari raut wajahku, sama seperti diriku mengenal kepedihan yang dipancarkan wajahnya saat ini.
"Saya yakin Anda pernah," komentar Lunaria.
"Tidakkah Anda heran, mengapa Dewi memberi Anda cinta, jika pada akhirnya itu hanya memperdalam kehilangan yang Anda rasakan? Dan setelah kehilangan tersebut, kenangan Anda bersama orang itu, juga rasa sesak ini, tidak memiliki arti sama sekali. Dewi Altea takkan sedih maupun ragu untuk melakukannya lagi, lantaran ini semua tidak berarti apapun baginya. Kita hanyalah karakter-karakter fiktif yang ada untuk dimainkan sesuka hati."
Emosi meletup. Tiap kata yang kudengar darinya bergema nyaring bagai suatu kebenaran yang mencelikkan. Mengapa Altea tega melakukan semua ini?
"Tidakkah itu biadab? Realita seperti inikah yang ingin Anda jaga? Realita semu penuh kebohongan macam ini?"
Tak kusangka berondongan pertanyaannya begitu menggentarkan keyakinan. Jika semua ini benar, adalah bebal jika aku menjawab, 'semua ini hanyalah bagian Telesia'. Apakah ada arti Telesia, jika semua ini tidak lebih dari lamunan di waktu senggang seseorang? Benarkah realita yang begitu menyakitkan ini bukanlah hal yang penting bagi Altea? Apakah hidup kami hanya lelucon?
"Hidup memang tak pernah adil, bukan?" aku pun menyahut dalam kebuntuan.
Lunaria mengatupkan bibirnya yang bagai kelopak bunga itu untuk sementara. Sementara aku bergelut dengan keraguan, gadis itu hanya menyorotiku dengan tatapan penuh simpati.
"Anda dapat mengubahnya."
Ah. Aku tahu ke mana arahnya. Diriku tersenyum mengejek.
"Dengan bergabung dengan Feder?" ejekku.
Perempuan itu memulai lagi percakapan dengan suara yang lebih halus.
"Pernahkah Anda mendengar tentang elf bernama Meriendel?" tanyanya sopan. Ia tidak memaksaku untuk menjawab. Sebagai gantinya, Lunaria menjelaskan cerita tentang elf itu kepadaku.
"Nona Meriendel hidup di masa pemerintahan Ratu Amaryllis. Beliau adalah elf yang gugur di Mistland saat membantu King Feder menghentikan Army of Destruction."
Lagi-lagi pernyataan yang mengagetkan!
"Ratu Amaryllis-lah yang mengutusnya. Nona Meriendel adalah delegasi pertama, sekaligus jembatan diplomasi kerajaan elf dan kerajaan manusia. Anda bisa membacanya dalam buku sejarah."
"Apa?!" sentakku. "Ada urusan apa Meriendel dan Feder? Bagaimana mereka bisa ke Mistland?"
"Pada waktu itu, Monolith terbuka, dan Lagendia pun terhubung dengan Mistland. King Feder, Meriendel, dan Red Dragon Rubinart berusaha menutup Monolith dari sisi Mistland, akan tetapi saat King Feder berhasil, semua yang beliau sayangi telah tiada. Saat itulah King Feder mengerti ketidakadilan yang tadi Anda sendiri sebutkan. Beliau ingin mengubahnya. Dan satu-satunya cara adalah…"
Aku menelan ludah. Adalah…
"Dengan memasuki Monolith sekali lagi dan membinasakan para Dewi."
Mulutku menganga. Mengubah Takdir, itulah yang berusaha Feder lakukan. Bukankah itu perbuatan terlarang? Tak ada yang boleh bermain-main dengan Takdir, apalagi dengan para Pencipta Takdir.
Namun… Secara bersamaan, Telesia menjadi sumber kesedihan bagi ratusan elf. Dan jujur saja, setelah semua kehilangan di dalam hidupku, dimulai dari Antha dan Noira, dan terakhir Chase, bahkan aku pun mulai merasa, Telesiaku akan berakhir dengan sebuah ironi menyakitkan.
Apakah selama ini aku buta? Apa benar, para Dewi-lah musuh utama kami? Kekuatan mereka mengutuk Lagendia kepada Takdir sarat nestapa, lalu mereka memalingkan wajah di tengah sedu sedan kami. Jika memang demikian, seharusnya kami menghancurkan mereka dari dulu. Tapi, benarkah ini? Apakah Lunaria berkata jujur? Apa aku mulai tertipu?
Ketika mendongak lagi, area di sekitarku mulai terdistorsi. Sepertinya Lunaria hendak pergi.
Di saat terakhir, perempuan itu mengulurkan tangan.
"Takdir dan keberuntungan Anda berada dalam genggaman tangan Anda sendiri. Melalui tangan ini, akan tercipta dunia tanpa kesedihan, dan semua orang terhilang akan kembali. Bergabunglah dengan kami, Roris dari Anu Arendel."
.
.
.
.
Tentu aku tidak langsung menyambut ajakannya. Begitu banyak hal wajib dipikirkan masak-masak. Untuk sementara, sebaiknya aku kembali ke Bouvardia, setelah sekian lama, untuk menjernihkan pikiran sekaligus beristirahat.
.
.
.
Ketika matahari bersinar di puncak kepala, aku merasakan panas yang tak lazim di leherku. Segera kusadari, kalung delima kesayanganku bercahaya terang. Aku buru-buru melepasnya.
Menyusul fenomena tadi, muncul pula aura aneh dari sebuah saku. Diriku pun menarik keluar kantong kulit yang selama ini begitu enggan kubuka. Ada apa ini?
Seketika, kantong kulit itu terbakar. Refleks, aku menjatuhkannya, bersama dengan kalungku. Aku menyaksikan loncatan sinar merah menghubungkan keduanya. Setelah kantong kulit hangus seutuhnya, tersisalah sebuah batu permata sewarna mawar.
Ini adalah permata Deep Sea Flower! Pecahan permata Chaos Dragon yang diekstraksi atas permintaan Deowen!
Zorin, seorang blacksmith El-Javon, berkata bandul kalungku terbuat dari Blood Moon Stone, material yang menyimpan energi Chaos. Mungkinkah, setelah selalu kubawa bersama-sama, permata Chaos ini akhirnya menyerap cukup energi dari Blood Moon Stone?
Tapi, bagaimana Chase dapat memiliki kristal itu? Apa dia mencurinya lagi dari Deowen? Mengapa? Apa dia menyerahkan kristal ini padaku, mengetahui aku memiliki Blood Moon Stone? Apakah Assassin itu memiliki suatu rencana terselubung?
Sementara kebingungan itu mengunci pergerakanku sepenuhnya, api yang menyelubungi kristal bertambah besar. Tiba-tiba, api itu meledak dan menjilatku.
Aku pun mengutuki betapa bodohnya diriku, dan bersiap menderita luka bakar parah.
…
Heran… Api ini…
Dingin!
Menjauh, selama beberapa saat aku hanya bisa tertegun menelaah apa yang terjadi. Tetapi, sebuah kejutan lain baru saja muncul. Ada orang berdiri di dalam bara.
Mulutku menganga lebar. Tahu kenapa?
Satu: karena orang itu nampak sehat-sehat saja.
Dua: karena orang itu seharusnya sudah mati.
.
.
.
.
.
.
Dialah Chase, the Gray Dragon.
.
.
.
.
.
.
Chase keluar dari api dan kini berdiri dekat sekali. Mata sang Assassin melengkung, mengesankan sebuah seringai. Daku tak berkutik. Aku pasti sedang berhalusinasi, bukan?
Pemuda itu pun melepas cadar.
"Hoit," sapanya kasual.
Bola mataku mau copot, tapi aku tak tahan untuk tidak melotot. Suara itu… Ekspresi itu… Dia… Benar-benar Chase.
"Sampai kapan mau bengong? Aku kira kau bakal langsung mencicit—"
Tanpa kusadari, tanganku yang terulur padanya. Aku harus menyentuhnya, memastikan ini semua bukan mimpi.
Namun tiba-tiba aku berhenti. Bagaimana jika ini hanyalah ilusi? Sanggupkah diriku menahan rasa kecewa untuk kedua kalinya?
Chase ikut menyambut uluranku, bahkan mendekatkan wajahnya.
Untuk sesaat aku ragu. Kenapa ia bertingkah seperti ini? Akan tetapi, kusadari lengkungan di matanya menghilang tanpa bekas. Saat itulah firasat yang sangat tidak enak menyeruak kembali.
Katanya, "Aku hanyalah kenangan. Kau nggak bisa menyentuhku."
Sambil berkata demikian, ia hendak menekankan jemariku ke pipinya, seakan juga merindukanku. Namun…
Tangan dan pipinya menembusku begitu saja tanpa meninggalkan sensasi apapun.
"Aku adalah kenangan," ulangnya. Ia lantas melemparkan pandangan ke pusat api di mana permata merah delima tergeletak.
"Dan permata ini wadahnya."
.
.
.
Di sinilah kami. Bersisihan di dua dunia. Seluruh misteri ini membuatku bingung harus mulai dari mana.
"Kau tahu siapa aku?" ia memulai.
Kesedihan membuat otakku beku.
"Chase yang kaukenal baru separuh. Aku…"
Untuk sesaat pemuda itu sangsi. Sepertinya kejutan yang lebih besar masih menanti. Kalau sudah begini, mana bisa aku menunggu kelanjutan cerita dengan tenang?
"Aku bekerja untuk Dark Elf Queen Elena. Dan Elena bekerja untuk Feder."
Lu-Lunaria tidak berbohong! Chase memang mengabdi kepada Feder!
Sebelum aku memberondongnya dengan pertanyaan, ia meringkasnya seperti ini:
"Ceritanya panjang, ini bukan waktu yang tepat. Intinya, sebuah insiden menyebabkanku kehilangan tujuan, lalu Elena merekrutku. Tugas pertamaku adalah mengawasi Raider's Den, markas Red Army di dekat Calderock."
Di situlah pertama kali aku, Reg dan Giga bertemu Chase. Itu benar-benar sudah lama sekali.
"Waktu itu, aku diperintahkan mengawasi Lydia. Kemudian, tugasku selanjutnya adalah mengawasi kalian."
'Mengawasi kami?' Alisku terangkat.
"Elena bilang kalian bisa direkrut. Singkatnya, selama pengintaian itu, aku juga berusaha mempertimbangkan ulang berbagai hal. Percaya tidak percaya, kalian bertiga telah membentuk pandanganku terhadap dunia. Aku tahu, ada hal yang mutlak di dunia ini. Kebenaran bukanlah hal relatif. Pada akhirnya, aku tahu apa yang benar. Meski itu tidak selalu seindah seharusnya…"
Ternyata selama ini Chase begitu dekat tanpa kami sadari. Andaikan ia menunjukkan dirinya lebih awal, kami sudah berteman lebih lama. Kemudian, apakah kebenaran yang dia maksud?
Saat hendak bertanya, pria itu berkata,
"Aku nggak punya banyak waktu. Sebentar lagi dia akan lahir."
"Ap—tunggu—apa—lahir? Kau—kamu sudah mau pergi?"
Ia mengangguk.
"Kalau begitu…" kuputar otak sekeras mungkin. "Kalau begitu, beri tahu apa yang harus kulakukan sekarang! Apa itu kebenaran? Bagaimana melakukan hal yang benar?"
"Bukannya kau sudah tahu?" balas pemuda tadi. Meski terkesan sambil lalu, ia serius.
Mulai terdengar ledakan, dan kristal di dalam bara perlahan berubah wujud. Tubuh Chase mengabur. Aku tahu, kami harus berpisah segera.
Oh tidak. Tidak lagi, tidak secepat ini. Detak jantungku mulai tidak keruan. Membayangkan perpisahan terasa menyakitkan. Chase benar-benar telah menjadi bagian penting dalam perjalanan ini. Aku ingin dia selalu berada di sampingku…
Di saat yang sama, Chase menatap permata itu lama, seakan sedang menggantungkan harapan-harapannya ke Chaos Descendant yang akan muncul. Sepertinya dia tidak berniat tinggal lebih lama. Kepergiannya di tangan Green Dragon pasti bukan kebetulan. Ya, Chase tidak mungkin tewas segampang itu. Dia pasti–
"Aku harap dia benar-benar berhasil menyelamatkan Lagendia. Dia dan kalian semua."
Sambil mengatakan itu, Chase memudar.
"Kenapa kamu harus mati?" ungkapku. Meski tahu, tidak ada yang akan berubah walau menanyakannya sekarang.
Ia nampak terkejut, dan seketika diriku pun yakin, perkiraanku ada benarnya.
"Yang bisa menyelamatkan Lagendia hanya ciptaan Altea. Sementara aku…"
Chase menggeleng.
Lalu terjadi ledakan cahaya. Cahaya itu semakin silau, membutakan.
Aku mendengar pesan terakhirnya:
"Berjanjilah kau akan melatih dia dengan baik. Apapun yang terjadi, jangan biarkan identitasnya bocor."
Sejujurnya, bukan itu yang ingin kudengar. Bukan itu, Chase…
Selanjutnya pasir dan langit yang biru kembali menyambutku. Dia telah menghilang.
Terakhir, aku hanya mendengar suaranya.
"Kita masih akan bertemu."
Dan meski kupanggil namanya, tidak pernah terdengar sahutan.
"Chasey… Aku…"
Aku apa? Aku tak dapat menyelesaikannya. Tapi aku tahu, dalam dadaku berkobar sebuah hasrat.
Dan diriku pun berikrar:
"Aku akan membawamu kembali!"
.
.
.
.
.
.
.
Beberapa hari kemudian, tibalah aku di Bouvardia, bersama dengan seorang remaja. Dialah inkarnasi misterius Deep Sea Flower, seorang Chaos Descendant yang identitasnya harus kurahasiakan, seturut pesan Gray Dragon.
Lilac dan Jacob, serta Demor dan Allodia percaya saja waktu aku mengaku menemukannya terdampar di pinggiran Tel Numara. Anak ini tidak bicara, serta tampak sangat ketakutan, sehingga mereka pun segan bertanya lebih jauh.
Pada suatu waktu, Lilac mendekatinya dan dengan insting seorang ibu memberinya senyuman terhangat yang pernah ada.
"Tidak apa-apa, kamu aman sekarang," hibur Bibi.
Bermaksud membersihkan debu di wajahnya, perempuan paruh baya itu mengulurkan tangan. Sang Naga tiba-tiba menghindar. Secepat kilat disambarnya sabit yang bersandar ke dinding terdekat.
Refleks, aku merentangkan busur dan menembakkan panah sebelum dapat berpikir jernih. Semua orang membeliak menyaksikannya. Oh gawat. Jangan-jangan aku membunuh satu-satunya harapan Chase.
Secara ajaib, entah karena refleksnya bagus atau hanya sangat beruntung, anak itu menangkis tembakanku, meningkatkan reaksi penonton hingga melongo.
Lalu…
Kruuuuk~
Bunyi perut kosongnya bergema keras sekali.
.
.
.
.
.
"Ngerti, ngerti. Orang yang kelaparan biasanya ganas."
Demor menyerahkan ubi bakar si bocah. Ia juga sudah memastikan segala benda tajam tidak tergolek dalam jarak lima belas meter darinya.
Ia berbisik padaku.
"Dari mana kau memungutnya?" bisik Demor. "Jangan-jangan dia ini tentara elit. Aku dengar di Tel Numara banyak markas militer rahasia. Eh, bukannya kau terakhir kelayapan di Gurun Maut? Ngapain kau di Tel Numara?"
"Kan sudah kubilang, dia itu terdampar. Dan aku bosan berkutat dengan monster pencopet di Gurun Maut. Mereka selalu mengincar busurku."
Demor sepertinya tidak mencurigaiku.
"Semoga saja dia belum jadi kanibal."
Dan sambil berkata begitu, Demor pergi mengambil ubi entah untuk yang ke berapa.
Aku memerhatikan si Naga muda. Dia masih begitu hijau. Apa itu ada hubungan dengan ukuran kristalnya, aku tak tahu. Sekarang, rambutnya yang panjang itu terkepang rapi, hasil karya Lilac. Warna rambutnya mirip milik Chase, gelap.
Ya Dewi, aku memikirkannya lagi.
…
"Roris, kemari sebentar!"
Aku melihat kebahagiaan dalam raut wajah Lilac. Itu cukup mengusir kemurunganku.
Anak laki-laki berkepang itu duduk di tengah-tengah. Dari jarak ini, warna hijau langka dalam bola matanya terlihat jelas. Dia tidak ketakutan lagi, malah bibirnya melengkung meski agak canggung. Dalam rupanya sudah tidak tersisa permusuhan.
Lilac menunjuk dirinya sendiri.
"Lilac."
Kemudian ia menunjukku.
"Roris, Allodia, Demor—"
"Jacob!" serobot Paman, tiba-tiba muncul dari belakang. Astaga! Hampir saja copot jantungku.
Pemuda itu terkikik senang. Dasar. Bersukacita di atas penderitaan orang.
Tak lama kemudian, jari Lilac terarah padanya. Gilirannya.
Dia diam saja, tidak bergerak maupun berkedip. Lilac mengulang permainan itu sekali lagi. Saat itulah mata hijaunya menjadi kosong melompong.
Senyuman itu terhapus. Wajahnya kelihatan sangat kesal, tanda ia tak dapat mengingat siapa dirinya. Bulir-bulir bening mulai berjatuhan.
Sementara tiga petualang membatu ditambah satu petani, Lilac merengkuh pemuda itu dengan segera.
"Tenanglah, tidak apa-apa. Semua baik-baik saja. Tidak usah takut. Shh. Sssh."
Oh. Jadi seperti inilah seorang ibu. Menyaksikah hal ini, aku sedikit memahami dalamnya kasih seorang ibu kepada anaknya. Bahkan, dalam pelukan itu, isakan sang Chaos tidak bertahan lama.
Tapi, apa reinkarnasi Chaos ini benar-benar tidak dapat mengingat apapun tentang masa lalunya? Atau, ia hanya merasakan sepi tiada tara, setelah terpendam dalam Deep Sea Flower entah berapa ribu tahun lamanya? Sebenarnya, apa yang dirasakan para Naga? Aku kira mereka tidak memiliki emosi, karena mereka adalah makhluk kuno, diciptakan jauh sebelum penghuni Lagendia lain muncul dan telah hidup sekian lama. Sepertinya aku salah.
Setelah tangisan itu reda sepenuhnya, Allodia mengajukan usul.
"Bagaimana kalau kita memberinya nama?"
"Julien," usul Lilac nyaris seketika. "Bagaimana kalau kami memanggilmu Julien?"
Kami pun langsung tahu jawabannya saat sang Naga kembali menyunggingkan senyum manisnya.
Sambut Allodia malu-malu, "Hai, Julien—"
"Halo, Julieeeen!" seru paman Jacob berisik.
Bocah itu pun mulai mengakrabkan diri dengan orang-orang di sekitarnya. Ya, dia tidak jahat. Mungkin tadi dia hanya panik. Aku lega menyaksikannya.
Nah, sekarang, bagaimana harus melatihnya? Melihatnya beraksi menggunakan sabit, kurasa itu bukan masalah besar. Setidaknya ia memiliki bakat alami, semacam petarung natural. Biar bagaimanapun, dia adalah pecahan Chaos Dragon! (Kayaknya aku terlalu mendewakan para Naga).
Benar juga. Chase tidak sekadar pergi. Ia juga meninggalkan seseorang yang akan mewarisi mimpi dan harapannya. Semoga melaluinya, semua impiannya terkabul.
.
.
.
.
- Part II -
Penjagaan Saint Haven Royal Castle semakin ketat menyusul kabar kemunculan musuh terbesar Lagendia; Feder. Dulu dia terkenal dengan nama the Conqueror King, atau the new Red Dragon. Sekarang, ia juga adalah the new Black Dragon.
Feder diduga berencana mengambil tampuk pemerintahan kerajaan manusia. Biar bagaimanapun, dulunya dia adalah seorang manusia. Faktanya, sebelum menghilang secara misterius, orang yang sama adalah satu-satunya insan di dunia yang hampir menyatukan seluruh Lagendia dan mencapai perdamaian. Namun kini, kemunculannya tidak mengundang apa-apa selain perpecahan.
Perkiraan terjadinya perang besar antara Cassius III dan Sang Penakluk telah menyebar ke sudut benua. Para petualang dilanda kegusaran; sebagian besar begitu pesimis terhadap kemampuan raja muda mereka. Beberapa diam-diam menimbang untuk melarikan diri, bahkan berpindah sisi.
Di tengah-tengah situasi sulit, seorang prajurit kerajaan berjalan lurus menuju takhta. Beberapa lembar daun aneh, berwarna keemasan, mencuat dari kantong dalam genggaman tangannya.
"Giga melapor kepada Yang Mulia," katanya dengan suara mantap.
"Silakan," ujar seorang bocah berkulit sepucat mayat, dengan netra sebulat mata ikan. Dialah Raja Cassius III, raja muda Saint Haven.
"Feder, Black Dragon yang baru, telah membentuk sarang di salah satu celah dimensi di dekat Saint Haven. Dia…" ia menelan ludah, "berhasil berubah menjadi naga."
Erangan para penasihat raja segera memenuhi ruang takhta.
"Kenapa kristal Black Dragon berpindah-pindah tangan seperti ini? Jika begini terus, tidak akan ada habisnya! Kali ini, permata Black Dragon harus dihancurkan untuk selamanya!" komentar Douglas, komandan tertinggi prajurit kerajaan.
Namun, seorang bangsawan dengan baju aneh menyahut, "Para petarung terbaik kita tidak bisa meninggalkan kerajaan sekarang! Keselamatan Rajalah yang utama!"
Itu adalah Duke Stuart, paman sekaligus penasihat Raja Cassius III.
"Kalau Black Dragon tidak dihentikan sekarang juga, tidak ada satupun batu yang akan tersisa dari kerajaan ini. Semua akan dibakar jadi abu," balas Douglas kritis.
Pertengkaran akbar pun dimulai.
Giga yang sudah terlalu sering menyaksikannya membuang napas lelah.
Keributan berhenti saat Duke Stuart mengusulkan ide gila.
"Aku ingat. Ada seseorang yang sudah pernah menghadapi dua naga sebelumnya."
Giga menegakkan badan.
"Ya, ya, salah satunya kau. Ada satu lagi. Dia yang disebut sebagai 'Pahlawan Lagendia'. Kalau tidak salah, dia terluka parah dalam perburuan Yellow Dragon Jakard, kemudian dirawat oleh Terramai."
Terramai pun maju. Ia melaporkan kondisi terakhir sang hero.
"Ia masih membutuhkan istirahat yang panjang," simpul sang tabib.
"Ah, ya, Regillus," gumam Stuart tidak sabar. "Apa benar dia mengalahkan Karahan seorang diri?"
Terramai dan Giga bertukar pandang. Apa maksud orang ini? Apa dia bermaksud membebankan tugas itu pada Regillus?
"Itu tidak benar," sanggah sang Paus. "Jika bukan karena Giga dan para prajurit yang telah gugur, Regillus tidak akan bisa mengalahkan Karahan maupun Jakard."
"Tentu tidak," tanggap Stuart datar. "Tapi, selagi tidak ada prajurit lain yang dapat dikirim, tak ada salahnya dia mencoba untuk yang ke tiga."
Darah Giga mendidih luar biasa cepat. Stuart bermaksud mengirim Regillus meski kondisi kesehatannya belum memungkinkan. Orang ini adalah iblis!
Syukurlah Terramai mengambil alih situasi sebelum Giga melakukan hal bodoh.
"Black Dragon yang ini bisa jadi lebih kuat dari Yellow Dragon maupun Green Dragon. Apakah Anda sengaja berusaha mengirim salah satu prajurit paling setia Anda ke kematian, Duke Stuart?"
Wajah bangsawan itu menjadi masam.
Raja Cassius III yang masih sangat muda itu mengangkat tangannya. Semua mulut pun terkatup.
"Kata para nona penjaga celah dimensi, energi Black Dragon belum begitu stabil. Jika kita mengirim pasukan secepat mungkin, kita masih bisa menang. Hanya saja…"
Cassius melirik Giga sekilas. Dengan berat hati ia melanjutkan,
"Tuan Terramai, Anda pernah berkata tidak sembarang orang dapat menyeberangi celah dimensi. Karena tempat itu berada di antara Mistland dan Lagendia, ada kemungkinan orang yang nekat menyeberanginya mengalami gangguan jiwa. Sementara itu, aku dengar, Tuan Giga mendapatkan berkat White Dragon Iona secara langsung. Selain itu, Tuan Giga dan Tuan Regillus juga memiliki hubungan yang sangat erat."
Giga bertanya-tanya, apakah maksud Raja Cassius mengatahan semua itu.
"Menurutku, perlindungan dari White Dragon akan mencapai Tuan Regillus, seperti perlindungan Aisha* terhadap keluarga kakek. Eh, maksudku Raja Cassius I. Energi para Naga memang misterius…"
Semua orang terpukau dengan pengetahuan sang Raja. Seketika, ia tidak tampak semuda itu lagi.
Namun lain halnya dengan sang pembawa kabar. Sekarang, arah pembicaraan ini jelas: Raja menghendaki agar Regillus pergi melawan Black Dragon. Tentu saja, Duke Stuart mulai meninggikan dagu, merasa hampir menang.
"Di waktu yang sulit ini, banyak orang akan memihak musuh. Tuan Regillus dan Tuan Giga adalah dua dari sedikit prajurit yang benar-benar saya percayai. Mungkin egois, tapi saya benar-benar ingin menyerahkan masalah ini kepada mereka berdua. Maka dari itu,"
Dua pelayan masuk, menenteng kotak kaca besar di mana sebuah botol kristal indah berisi cairan bening diletakkan.
"Ini adalah Elixir khusus untuk raja. Ramuan ini dibuat dari seribu Golden Apple dan seribu lembar Golden Leaves. Saya bersedia memberikannya supaya pemulihan Tuan Regillus dapat dipercepat."
Mulut Stuart menganga lebar. Sekali lagi kegemparan berusaha melepaskan diri, tetapi Cassius muda tidak membiarkannya.
"Tidak ada yang akan dicapai jika orang tidak mau berkorban," ujar bocah itu dengan senyuman kanak-kanaknya.
Senyuman itu menciptakan emosi terkompleks yang pernah Giga rasakan. Hati terbelah, tidak tahu harus berterima kasih atau marah. Dirinya dan Reg menerima sebuah kehormatan besar, namun di saat bersamaan, raja seakan menggiringnya ke pembantaian.
"Bersediakah Anda memikul masa depan umat manusia?" tanya bocah bermahkota pada akhirnya.
.
.
.
Regillus menerima amanat Raja Cassius III. Mana mungkin ia menolak? Dia, kan, manusia berjiwa paling ksatria di seantero galaksi.
Siang itu, sang Vikaris memakai baju zirahnya lagi. Pakaiannya berhiaskan ukiran rumit serta beberapa permata, tanda pangkat yang cukup tinggi. Akan tetapi, untuk apa baju seindah itu, jika yang memakai akan dikubur bersamanya? Giga begitu pesimis Regillus dapat bertahan menghadapi pertarungan ini.
"Aku lupa seberat apa pakaian perang kita," gumam Reg.
Sementara sang Guardian berlatih mengayun gada, Giga hanya mengamati dari pintu. Biar bagaimanapun, bukan berarti meminum Elixir langsung memampukan Regillus menghadapi wujud naga Feder. Lihat, berdiri tegak saja masih belum kuat. Pemuda berkulit gelap itu juga tidak yakin dirinya dapat melindungi Reg sampai akhir, mengingat kebodohan demi kebodohan yang ia lakukan di medan perang.
Ketika semua telah siap, keduanya dikawal menuju Dark Lair. Para prajurit yang mengantar tak henti-hentinya memuja: 'Wahai Regillus dan Giga. Nama kalian akan dinyanyikan sepanjang masa'.
'Terkutuklah nyanyian itu. Kami akan mati hari ini.' Itulah balasan Giga atas puji-pujian mereka. 'Kini semua orang berharap kami mati secepatnya.' Apa tidak ada petualang lain yang lebih mampu dari seorang Destroyer berangasan dan seorang Saint yang baru bangkit dari koma?
Baru saat Giga berpikir untuk kabur, muncullah sesosok wanita berkerudung hitam. Mereka mendekatinya, mengira dia adalah salah satu Priestess of Darkness; pendeta wanita yang dapat mengirim mereka ke celah dimensi.
Wanita itu menyanyi.
.
"Hati kelam membusung,
Hijau bagai racun,
Badai pasir meraung,
Mimpi buruk berkerumun."
.
Sepertinya sang penjaga gerbang sedang merapal matera. Suaranya begitu merdu, menyihir orang-orang yang mendengarnya.
.
"Putri Berkerudung,
Datang dari gurun,
Saat asap membumbung,
Hujan panah turun,"
.
"Putri Berkerudung…" ulang Giga. Sesuatu mencuat keluar dari memorinya.
.
"Tanah berkabung,
Harapan terbantun,
Iblis terkurung,
Bagai penyamun."
.
"Takdir tertenung,
Nasib ditenun,
Berhias senandung,
Tertutup embun."
.
Sosok Warrior dan Cleric itu membatu sempurna. Pasti ada maksud di balik sajak sang Priestess.
Sang penyanyi pun berbalik. Kedua pemuda mengenalinya seketika.
"Mama Elf—"
"Nona Crystal!"
Seru mereka berbarengan. Regillus pun mengisi ingatan Giga dan menceritakan siapa wanita itu. Crystal adalah 'saudara kembar' Roris.
"Dia sudah menunggu. Kalian akan segera bertemu," ujar Crystal, menunjuk sebuah kubangan air di atas tanah.
Regillus dan Giga mengamati hal aneh di dalam pantulannya. Ketika keduanya hendak bertanya, Crystal telah menghilang.
"Apa kau melihat yang kulihat?" selidik Giga.
"Apa yang kau lihat?"
Regillus dan dirinya melihat sesosok naga hitam tertidur. Lalu, seorang gadis berdiri di sampingnya, hendak membangunkan sang monster.
Sebelum keduanya membahas lebih jauh, Priestess of Darkness yang sesungguhnya muncul dan segera menghimbau kedua pejuang untuk bergegas memasuki Boundary of Darkness. Tetapi, kaki Reg tertancap di tanah.
"Gadis itu…" bisiknya.
Pertemuan yang ia dambakan akan terwujud sebentar lagi.
.
.
.
Bersambung
.
.
"Cloaked from our sights, yet savior(s) to all."
a/n: familiar…? Pedang Geraint yang bentuknya kayak payung itu somehow jadi vessel of memories setelah dia mati. Di chapter ini, permata naga jadi vessel of memories Chase. Ya, ini cuman ngejiplak aja hahaha. Males mikir lagi euy.
* Aisha = nama manusianya Desert Dragon Jakard. Dulu dia pernah jatuh cinta sama kakeknya Cassius III, Raja Cassius I, tapi karena suatu kesalahan dua sejoli ini malah saling bunuh, yang berakhir dengan Aisha kembali ke jewel form, sampai akhirnya bangkit lagi baru2 ini dan ditebas oleh ReGiga.
