Big thanks to : Spanenx, shayyll, guest, Ashley Chen 16, Rosaaerith, Zaidah, Agisaeri, Yukito Arui, Huop, Deauliaas, Skurahruno25, kumada chiyu.

Akhirnya update juga, terimakasih kepada pembaca yang setia membaca cerita ini. Ada author note di bagian bawah ya :D kalian bisa membaca cerita ini dengan lagu *Cinta sejati by Bcl* semalaman mengetik ini sambil mendengarkan cerita ini. Biar lebih mantap, menjelang ending dengarkan lagi "Sekali Lagi by Isyana"

Kalian bisa memilih salah satu dari ini untuk menikmati chapter ini :)

-Enjoy!-

"Gaara sedang tidak dalam kondisi baik saat ini Sakura," ucap Tsunade, "Aku tidak tahu apa yang sedang kalian perdebatkan. Tetapi Gaara sepertinya sedang menyiksa dirinya sendiri,"

Sakura mengigit bibirnya. "Dia bukan ayahnya,"

Tsunade mengerti, Sakura menyangkal kebenaran tentang ayah putranya. "Aku sudah melakukan tes DNA ketika bayimu lahir dengan rambut milik Gaara. Temari menyerahkan kepadaku, ia juga tidak yakin bahwa bayi itu bukan milik Gaara. Semua orang berharap bahwa Gaara bukanlah ayahnya, bahkan kau juga bukan?"

Sakura membuang muka.

"Tapi hasilnya 98% DNA mereka mirip," ucap Tsunade menyerahkan dokumen di tangannya dan Sakura menerimanya.

Sakura menghela nafas berat, "Aku mengerti hanya saja fakta bahwa dia ayahnya itu membuatku sakit kepala,"

Tsunade mengerakkan kursor miliknya, "Gaara tidak dalam kondisi baik dan siap roboh kapanpun. Aku sudah bertanya dengan Temari tentang kebiasaannya, ketika ia memiliki banyak pemikiran ia tidak akan makan dan tidur. Sepertinya ia melakukan ini sudah lama―"

"Ini data kesehatannya, Naruto sudah menghubungi Kankuro dan dia bilang bahwa desanya tidak tahu dia berada disini,"

Sakura menerimanya dengan bingung, membacanya sekilas, "kenapa?"

"Kurasa ia tidak ingin Suna tahu, sampai benar itu putranya."

Sakura sedikit terkejut dengan berat badan Gaara yang menurun drastis. "Dia kurus sekali," ucap Sakura, mengerutkan keningnya.

"Naruto, meminta ninja medis untuk memastikan kesehatannya. Tetapi Gaara memintamu untuk melakukannya," ucap Tsunade. "Dia disini hanya tiga hari dan ia akan kembali, setidaknya bersikaplah ramah dengannya."

Sakura hanya diam.

"Sepertinya dia tidak menyangka bahwa dia bisa menghamilimu," ucap Tsunade dengan nada geli.

Detik selanjutnya rona merah menjalar dimukanya, "Aku juga tidak menyangka,"

"Kurasa hebat juga tenaga Kazekage itu," ucap Tsunade sedikit tertawa. "Jadi apa selanjutnya?"

Wajah Sakura kembali murung, "Aku tidak tahu Tsunade-sama,"

"Sakura jika kau ada masalah ceritakan kepadaku,"

"Aku tidak membenci Akira, walaupun aku mencintainya tetapi membayangkan ia akan tumbuh dengan wajah seperti Gaara membuatku tidak nyaman," ucap Sakura murung.

"Sakura,"

"Tidak Tsunade-sama, jangan khawatirkan aku. Aku akan mengurus Akira dengan baik," ucap Sakura tersenyum kecil.

Tsunade tahu bahwa itu bukanlah senyuman seperti biasanya.

-sour-

Naruto duduk di kursinya dengan gelisah, ia berusaha menghilangkan pemikiran yang dari tadi merasuk dalam pikirannya tetapi pemikiran itu tidak pernah hilang. Di hadapannya terdapat Kakashi, Tsunade dan Shikamaru.

"Alasan Gaara mengadopsi anak karena para tetua negara Suna menginginkan seorang penerus Gaara. Karena mereka menginginkan anak dari Gaara, Kazekage terkuat yang mereka miliki," ucap Shikamaru.

"Dengan Shinki bukankah sudah cukup?" Tanya Kakashi.

"Aku bertanya dengan Temari, jika mereka mengetahuinya tentu mereka akan memaksa Gaara untuk mengambil anak itu. Bagaimanapun keturunan Gaara yang mereka inginkan, Naruto kau juga tahu bukan bahwa Shikadai juga memiliki potensi yang sama." Shikamaru mengusap keningnya.

"Seorang Kazekage harus lahir dari klan Kazekage yaitu klan Sabaku," ucap Tsunade. "Sakura belum mengetahuinya, sepertinya ia tidak akan diam jika anak itu diambil darinya,"

"Gaara tidak akan melakukan hal itu, dia bukan seperti itu." Naruto melipat tangannya, berusaha menenangkan dirinya sendiri.

"Bagaimana jika Gaara melakukannya Naruto apa kau lakukan?"

Naruto terdiam.

"Kau membiarkan anak itu dipisahkan dari ibunya? Apa kau yakin Sakura tidak akan menghancurkan Sunagakure karena anaknya diambil?" Tanya Tsunade.

"Kurasa kita harus memisahkan mereka,"

"Dan Gaara menarik semua bantuannya? Ingat ninja-ninja Sunagakure adalah ninja terbaik dalam skil mereka. Serta Gaara juga memiliki banyak hal yang dia tanam di Konoha,"

Naruto mengigit bibirnya, "Lalu apa yang kalian inginkan? Kita tidak bisa menghacurkan kerjasama dengan Suna hanya karena anak itu bukan?"

"Suna kekurangan ninja medis," ucap Kakashi.

Semua mata melirik kearahnya, "Sakura adalah ninja medis terbaik yang kita punya bahkan setara dengan Sannin,"

"Jadi?"

"Apa Gaara melakukan ini karena Sakura adalah ninja medis?"

"Kurasa tidak, Gaara―"

"Gaara adalah Kazekage sejak umurnya 14 tahun Naruto, 3x pergantian hokage dan ia masih menjabat. Mendapatkan Sakura serta bayi itu adalah paket terbaik untuk Sunagakure."

"Apakah kalian sinting?" ucap Naruto dengan suara keras. "Apa kalian hanya memikirkan bayi itu? Apa kalian tidak memikirkan perasaan Sakura!" ucap Naruto. "Rapat selesai, kalian bisa keluar!" ucap Naruto, perlahan semua berjalan keluar meninggalkan Naruto yang sedang merenung.

"Naruto, kurasa kau harus menemui Sakura," ucap Tsunade.

"Ada apa Tsunade baa-chan?" tanya Naruto.

"Kurasa Sakura menjadi aneh setelah mengetahui siapa bayinya. Ia mencintainya dan membencinya,"

"Bagaimana bisa Tsunade Baa-chan? Jangan bercanda, Sakura bukanlah orang seperti itu. Bagaimana bisa seorang ibu membenci putranya sendiri?"

"Temui dia Naruto, kurasa dia membutuhkanmu," ucap Tsunade khawatir.

-sour-

Seorang Kazekage yang terkenal akan kecerdasaannya dan sifatnya yang selalu berpikiran matang tidak mungkin akan melakukan hal ini bukan?

Sakura mengigit bibirnya pelan, ia berusaha untuk menerima fakta yang cukup rumit yang baru saja menimpanya, rasanya ketika bayi itu belum lahir rasanya tidak serumit ini, tetapi ketika bayi itu lahir status bahwa Gaara yang menghamilinya tidak bisa ia terima dengan akal sehat.

Kepalanya berdenyut pelan.

Sudah satu jam ia berusaha memastikan bahwa ini mimpi, tetapi tangisan putranya dan wajah kecilnya yang mirip membuatnya harus menelan pil pahit. Gaara adalah ayah dari bayinya.

Ia menyentuh tangan bayinya, sangat kecil dan mengemaskan, beberapa kali mata bayinya menatapnya dengan penasaran, Sakura tersenyum lembut kemudian menyentuh tangannya lagi, kemudian mengusap-usap pipinya sebelum bayi kecil itu menguap dan mengantuk kemudian tertidur pelan.

Ia mengusap rambut merahnya kemudian menghela nafas, ia harus menerima bahwa Gaara adalah ayahnya. Tapi ada perasaan tipis yang aneh dalam hati Sakura yang ia juga tidak mengerti.

Sakura menghela nafas, sebuah ketokan di pintu membuat Sakura terkejut dengan malas ia bangkit dari kasurnya. Sedikit terkejut dengan wajah lelah Gaara di depan pintu.

"Apa yang kau inginkan Gaara?" tanya Sakura dengan ketus. Gaara masuk kedalam ruangan, sebuah plastik makanan di tangannya.

"Makan," ucap Gaara melepas sepatunya. "Apa kau sudah makan?" ucapnya kemudian berjalan. Sakura hendak protes tetapi pria itu sudah memasuki ruang tamu.

Gaara mengerakkan pasirnya dan menyiapkan semuanya, wanita itu hanya menghela nafas.

"Makan yang banyak Sakura," ucap Gaara lembut.

"Hn,"

"Apa yang kau inginkan Gaara?" tanya Sakura.

Gaara terdiam, ia menaruh sumpitnya, berdiri dan membereskan piring mereka. Gaara membawa piring itu dapur dan Sakura mengikutinya, "Tidak ada,"

"Bukankah itu aneh kau memiliki anak dariku, padahal kau sudah menikah dan memiliki anak?"

Mendengar ucapan Sakura, Gaara nyaris menjatuhkan piring yang ada di tangannya, kalau bukan karna pasirnya yang membantunya sehingga piring itu tidak jatuh.

"Aku tidak menikah dan Shinki adalah anak adopsi," ucap Gaara, ia duduk di sebelah Sakura, "Apa kau marah karena kau berpikir bahwa aku hanya bercanda denganmu?" ucap Gaara sembari mencuci piring.

Sakura tidak menjawab, Gaara menghela nafas berat, ia mengelap tangannya dan berdiri di sebelah wanita itu.

"Aku menyukai orang lain,"

Sakura memalingkan wajahnya, "Terkadang aku berharap bahwa anak ini adalah miliknya, hanya saja bukan."

Gaara terdiam, hatinya berdenyut perlahan, perasaan memuakkan yang sudah lama ia tidak rasakan.

"Hanya saja itu tidak mungkin," ucap Sakura perlahan bergetar, "Aku tidak bisa setiap kali memandang Sarada aku melihat Karin di dalamnya. Hal itu membuatku tidak sanggup kembali, aku merasa tidak adil dengan Sarada. Menggantikan Karin sebagai ibunya dan sekarang aku juga memiliki anak,"

Sakura berusaha untuk menahan emosinya, ia mencengkram tangannya.

"Kurasa tidak adil untuk Sasuke, menerima putra yang bukan miliknya," ucap Sakura pahit.

Gaara menyadarinya, ketika Sakura mengucapkan kata-kata itu suatu perasaan aneh menjalar kedalam hatinya. Perasaan yang dulu sudah ia lupakan, perasaan dimana ia merasa di tolak.

"Apa kau masih mencintainya?" tanya Gaara, perlahan ia meremas dadanya sendiri.

Sakura mengangguk, "Ya, tapi kau..." ia tak kuasa menahan perasaannya, perlahan air matanya mengalir. "Kau menghancurkannya,"

"Aku tahu," ucap Gaara. Ia mendekatkan tubuhnya memeluk Sakura dari belakang, sedikit terkejut atas perlakuan Gaara.

Mungkin ini pertama kalinya Gaara berani kontak fisik dengannya. "Lepaskan aku!"

"Bukankah aku orang yang brengsek?" ucap Gaara. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Sakura. "Bukankah begitu,"

Sakura hanya diam. Ia dapat merasakan panas tubuh Gaara di punggungnya. Aneh rasanya mereka kini bisa berdekatan. "Dengarkan aku," ucap Gaara berusaha menenangkan Sakura yang bergerak gelisah dalam pelukannya.

"Aku mencintai putraku, baik Shinki dan Akira."

Pelukan Gaara semakin erat. "Dan aku juga mencintaimu,"

Ucapan itu membuat Sakura terkejut. Sakura merasa tidak nyaman dengan percakapan ini.

"Lepaskan aku!"

"Kau boleh membenciku, tapi jangan membenci Akira,"

"Aku tidak pernah merasakan kasih sayang ibu ketika aku lahir, hubunganku dengan ayahku juga tidak baik. Aku tahu betapa pentingnya seorang anak akan ibunya, jadi jangan membenci dia."

Sakura meremas tangannya, ia mengigit bibirnya. "Kau bisa membenciku, tapi jangan dia. Aku tidak mau dia merasa bahwa tidak ada yang mencintainya," ucap Gaara, ia mengerakkan tubuh Sakura, memaksanya untuk menghadapnya.

Sakura mengikutinya dengan enggan.

Mata Gaara menatap Sakura yang membuang muka darinya, wanita itu menangis. Ia menyentuh wajah Sakura.

"Kumohon jangan membenci dia," ucap Gaara.

Mata Sakura membelalak, ketika perlahan air mata keluar dari wajah Gaara. Ia menangis, "Aku tahu perasaan itu, hal itu begitu berat untuknya,"

Sakura mengingat, ia mengingat bahwa Naruto pernah menceritakan tentang masa kecilnya begitu juga dengan Gaara. Sakura mengigit bibirnya, ia membenci perasaan emosionalnya saat ini. Ia tahu bahwa masa lalu Naruto dan Gaara bahkan Sasuke bukanlah hal yang menyenangkan.

Mengapa ia selalu terlibat dengan orang yang salah?

"Aku tak mengerti," ucap Sakura, ia mengulurkan tangannya, menyentuh wajah Gaara, matanya memperhatikannya, dari kening wajahnya, matanya yang sayu, hidung mancungnya dan bibir tipisnya.

"Bisakah aku mencintai dia disaat aku membencimu Gaara?" ucapnya perlahan "Sementara kalian sangat mirip?"

"Sakura," panggil Gaara.

"Apa yang harus kulakukan Gaara! Aku marah kepadamu! Aku benci denganmu, bagaimana kau bisa bilang bahwa aku tak boleh membencinya?"

"Sementara kalian sangar mirip?" Sakura menangis, ia benar-benar kacau, bahkan ia tidak tahu lagi apa yang terjadi dengannya.

"Aku mencintai Sasuke dan kau menghancurkannya, sementara aku tidak boleh membencinya. Katakan padaku Gaara, apa yang harus kulakukan?"

"Aku mencintainya, tapi untuk saat ini aku tidak bisa." Ucap Sakura lagi.

Sakura menyentuh bibir Gaara dengan jarinya, menyentuh texture lembut bibirnya, perlahan ia mendekatkan wajahnya, ia mencium dengan lembut bibir milik Gaara, sementara air mata terus mengalir dari wajah cantiknya.

Tapi Gaara tahu bahwa itu adalah ciuman keputusasannya.

Sakura melepaskan ciuman mereka dan Gaara hanya menatapnya.

"Aku mencintainya, tapi untuk saat ini aku tidak bisa."

"Sakura," panggil Gaara sedih.

"Maukah kau menjaganya sampai aku bisa menerimanya?"

-To Be Continued-

Chapter depan adalah ending dari cerita ini. Kuharap kalian menyukai chapter ini dan bagaimana pendapat kalian tentang chapter ini. Akhirnya ending juga cerita ini hehe.

Reviewnya dungs :D

Spanenx : Thank love :* Gaara tidak punya istri, Sakura hanya salah sangka hadeh, Gaara sedih kok, tetapi Sakura juga. Kurasa mereka terlalu kacau untuk bersama hehe.

Shayll : thank you karena sudah membaca sour candy juga :D

Guest : Thank you kuharap kuliahmu lancar :D

Ashley chen 16 : Kurasa Gaasaku moment tidak akan ada atau mungkin epilog? Thank you Ashley untuk selalu mengingat wkwkwk. Semangat nugasnya, chiayoo!

Rosaaerith : Aku juga berharap hal yang sama tapi kurasa beginilah, hehe.

Zaidah : Kurasa keuwuwan mereka tidak ada lagi deh di chapter ini dan selanjutnya. Atau mungkin keuwuwan mereka ada di cerita lain wkwwk. Aku tidak bisa banyak komentar karena ini akan membocorkan endingnya wkwkw.

Agisaeri : Gaara emank gemesin kok, gemes banget disini wkwkwk

Yukito Arui : Mereka berdua memang mengemaskan :D

Huop : Kurasa di gendong dengan orang tuanya, Shinki juga masih misteri wkwk

Deauliaas : Thank you dea kamu menyukainya :D

Skurahruno25 : Thank you Skurah :D sebentar lagi akan selesai loh ceritanya wkwkw

Kumada Chiyu : Heloo kumada, thank you karena menyukai cerita ini :D benar cerita ini melenceng seharusnya chapter 7 sudah tamat tetapi aku tambahin sedikit hehehe. Gaara bahagia gak ya?