"A-aku harus pergi sekarang"

"Noona? Kemana? Biar kuantar", Dino buru-buru berdiri meraih jaketnya.

Soyoung menggeleng, "Tidak usah. Kau pulang dengan Soonyoung saja ya nanti"

Dino merengut mendengar jawaban sang kakak.

"Memangnya kau mau kemana, sih?", kali ini Jeonghan yang bersuara.

Soyoung tersenyum, "Ada urusan", jawabnya. "Sudah ya aku harus pergi sekarang"

"Hei", panggil Soonyoung, "Ongkos pulang Dino mana?"

"Dasar bodoh, pasti kau ingin cari gratisan", Ray melirik kesal ke arah Soonyoung. Yang diomeli hanya terkekeh geli.

"Aish, Dino sudah memegang uangnya sendiri. Sudah ah, bye"

"Bye", jawab Jisoo. Sementara yang lain hanya melambaikan tangan sekedarnya.

"Jangan sedih begitu wajahmu, hyung. Noona ku itu sudah ada yang punya", ledek Dino meninju bahu Jisoo pelan.

"Haha, arasseo. Hmm, bagaimana kalau malam ini kita makan malam bersama?", ajak Jisoo.

Jeonghan langsung menegakkan duduknya, "Kau yang bayar?".

"Kalau gratisan, pasti dia cepat tanggap deh", Soonyoung menjulurkan lidahnya ke punggung Jeonghan.

"Tidak, dirumahku. Kebetulan orangtuaku datang ke Korea hari ini"

"Whoa, berita bagus!", seru Soonyoung yang dibalas dengan anggukan Jisoo.

"Tunggu. Memangnya kau tahu sebelumnya ada dimana orangtua Jisoo oppa?", tanya Ray.

"Tidak. Hehe"

"Dasar bodoh"

Sialan betul, Wen Junhui ini. Kenapa juga Soyoung harus repot-repot lari ke ruang audisi untuk mengambilkan barangNYA yang ketinggalan sih?

To : Junhui

'Kau tidak datang? Kenapa?'

Sent

"Mengirim pesan untuk pacarmu?"

Soyoung menoleh, dan mendapati Mingyu berdiri di sampingnya sambil menyodorkan segelas jus.

Soyoung berdehem, "Gomawo".

"Tch.. Besar sekali rumah ini"

Soyoung masih diam. Kaku sekali rasanya berdiri di balkon hanya berdua dengan Mingyu.

"Aigoo.. Jangan kaku begitu. Aku takkan menggigitmu sih", canda Mingyu, "Lagian, aku cukup yakin kalau dagingmu pahit hehe"

Soyoung langsung memukul lengan Mingyu kesal, "Yak! Kim Mingyu!", jeritnya.

Mingyu tertawa, "Bercanda hehe hentikan".

Soyoung menurunkan kedua tangannya dari Mingyu, "Mianhae".

"Wae? Gwaenchana. Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali aku bercanda denganmu seperti ini".

Mingyu melepaskan pandangannya keluar balkon dan menghela nafas panjang.

Soyoung menatapnya heran.

"Im Soyoung, dengarkan ini baik-baik ya. Aku takkan mengulanginya lagi nanti", ucap Mingyu yang langsung mengundang kerutan bingung di dahi Soyoung.

"Aku.. Minta maaf atas semua yang sudah kulakukan... Dan, semua yang terjadi karenaku. Maaf karena aku memutuskan sahabatmu begitu saja. Aku.. Tidak benar-benar 'tidak menyukainya'. Ah, siapa yang tidak jatuh hati sih pada gadis manis dan polos seperti HyunAe.."

"Yak, Kim Mingyu.. Kau merindukan HyunAe ya?", tuduh Soyoung menyela ucapan Mingyu.

Mingyu tersenyum, "Mungkin..."

Ia menghela nafas lagi sesaat sebelum melanjutkan ucapannya. "yang jelas, aku minta maaf atas segalanya. Aku memang salah karena terlalu terobsesi padamu, aku bahkan sampai buta pada cinta gadis sahabatmu itu. Ah, bodohnya aku.."

Soyoung menarik ujung bibirnya keatas, "memang", desisnya.

"Mworago?"

Soyoung hanya tersenyum, "Kenapa kau tiba-tiba meminta maaf padaku?"

Yang ditanya malah mengangkat bahu, "Entahlah. Kalau kujawab untuk memperbaiki keadaan, toh keadaan takkan berubah sedikitpun.."

"Setidaknya kau sudah mencoba", Seseorang tiba-tiba saja masuk ke balkon membawa nampan kue.

"Yak, sipit! Kenapa kau ikut kesini?!", omel Soyoung.

Soonyoung mencibir malas, "Kurasa dia juga harus minta maaf padaku".

"Atas apa, bodoh? Dia kan tidak memutuskanmu"

Mingyu terkekeh mendengar keributan dihadapannya, "Soonyoung benar. Maafkan aku, Kwon. Seharusnya aku tidak seegois itu pada kalian"

"Y-yak bodoh, tidak usah minta maaf. Kau aneh sekali"

"Dasar bodoh. Tadi dia yang menyuruh Mingyu minta maaf, sekarang dia juga yang menolak ucapan maafnya.", cetus Soyoung kesal.

Demi apapun, laki-laki sipit ini benar-benar bodoh. Apa sih isi otaknya?

"Sudahlah.. Senang berteman kembali denganmu, Kwon"

Soonyoung hanya tersenyum, meletakkan nampan kue di pagar balkon, lalu melangkah kembali ke dalam.

Sedetik sebelum gorden balkon tertutup, suara Soonyoung terdengar samar, "Sampai ketemu di lapangan basket, Kim Mingyu".

Baik Soyoung ataupun Mingyu Sama-sama tersenyum mendengarnya.

'TING!'

Ponsel Soyoung berbunyi.

From : Junhui
'Lupa. Aku sedang di kafe seberang apartemen dengan Brian hyung. Kau baik-baik saja disana?'

Soyoung mengerutkan keningnya. Jun bersama dengan Young K oppa? Ada apa?

"Waeyo?", sebuah suara mengagetkan Soyoung.

Ah, hampir saja Soyoung lupa bahwa ia sedang bersama Mingyu.

"ah, tidak..", jawab Soyoung terkekeh malu. "Sebentar, aku harus membalas pesan"

Mingyu hanya menjawab dengan gestur tangan mempersilahkan dan sebelah alis yang terangkat.

To : Junhui
'Aku baik-baik saja. Ada apa dengan Young K oppa?'

'TING!'

From : Junhui
'Tidak ada. Hanya mengobrol'

Setelah membaca balasan Jun, Soyoung langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku jeans.

"Sudah?"

Soyoung mengangguk. "Lalu apa?"

"Apanya?", dahi Mingyu berkerut bingung.

"Setelah semua ucapan maafmu itu. Sekarang apa?"

"Aigoo.., kau bersikap seolah ucapan maafku bukan apa apa. Aku sudah susah payah mengusir gengsi untuk menyampaikan itu tahu"

"hahaha, maaf. Lalu aku harus apa? Berterimakasih?"

Mingyu langsung merengut lucu, "Tidak deh". Ia menghela nafas sebentar, "Besok, aku dan Ray akan pergi"

"Kemana?"

"entah"

"Apa, sih? Dasar aneh"

Mingyu hanya tersenyum, sepasang manik kecoklatan gelapnya memancarkan pendar cahaya langit yang ditatapnya.

Entah mengapa, Soyoung merasa lelaki di hadapannya sedang menyembunyikan sesuatu..

To : Junhui
'Aku sudah selesai.'

'TING!'

From : Junhui
'Pulang dengan Dino, kan? Hati hati'

Soyoung menghela nafas kesal. Pada siapa lagi amarahnya tertuju? Tentu saja pada si bodoh Soonyoung. Si bodoh itu dengan enaknya membawa Dino ke arena bermain entah dimana bersama Jeonghan. Sepertinya si bodoh benar-benar lupa pada Soyoung, sebab saat Soyoung kembali dari balkon, hanya tersisa Ray dan Jisoo saja yang asik mengobrol di depan layar TV plasma.

To : Junhui
'Tidak, si sipit bodoh membawa adikku pergi.'

Padahal Jun sudah berkali-kali mengingatkannya untuk berhenti berkata kasar pada Soonyoung. Peduli amat!

TING!'

From : Junhui
'Kalau begitu minta Jisoo hyung mengantarmu pulang'

To : Junhui
'Tidak bisa.'

From : Junhui
'Kenapa?'

To : Junhui
'Aku sudah di halte'

From : Junhui
'Minta Mingyu kalau begitu'

Persetan, padahal Jun anti setengah mati membiarkan Soyoung pulang dengan tiang hitam.

Tapi yah apa boleh buat kan.

To : Junhui
'MIngyu sudah pulang dengan Ray sekitar 10 menit yang lalu. Sudah ah, aku pulang ya. Sebentar lagi bisku sampai kok'

Tiba-tiba ponsel Soyoung berdering. Oh Tuhan, Soyoung tahu kenapa Jun menelponnya.

Angkat tidak ya...

"Halo?"

"TUNGGU DISITU. AKU AKAN MENJEMPUTMU"

Soyoung menjauhkan ponselnya dari telinga, "eh tapi..!".

Tuuutttt~

Soyoung menatap layar ponselnya bingung. Ah, Jun kan memang selalu seperti ini. Melarangnya pulang sendirian dan tentu saja akan rela mengorbankan apapun urusannya demi mengantar Soyoung pulang.

15 menit kemudian, bisnya datang.

Reflek, kedua kakinya mengajak berdiri dari bangku tunggu halte.

Naik tidak ya,..

"Hei, nona muda!", panggil supir bis.

Soyoung menengadah.

"Kau akan naik tidak? Kalau iya, cepat masuk, aku harus kembali berjalan", katanya.

"A-ah, iya.. Maaf, Ahjussi.."

Soyoung pikir, Jun tidak akan cepat sampai. Lagipula, ini sudah malam. Dengan apa Jun akan menjemputnya? Bis tentu akan memakan waktu.

Ah sudahlah, Soyoung akan naik bis.

Gadis itu melangkahkan satu kakinya maju.

'Sreett!'

"Ahjussi, maafkan kami. Kau boleh berangkat sekarang, gadis ini hanya akan membuatmu menunggu lebih lama"

Hah?

Jun tiba-tiba saja datang menarik lengan Soyoung dan menyembunyikan gadis itu dibalik punggungnya. Ia membungkuk hormat pada supir, sementara Soyoung menatapnya kesal.

Sang supir tertawa, "Baiklah, baiklah, aku tidak apa kok. Aku pergi yaa daah~"

Kemudian bis melaju pergi.

"Apa?", Soyoung menatap balik lelaki di hadapannya.

Jun mendengus, "Sudah kubilang tunggu, kau malah naik bis".

"Tapi aku kan tidak naik!"

"Bawel. Sudah salah, masih saja ngeles"

Jun mulai melangkah ke arah halte. Tak lama ia menoleh, mendapati Soyoung masih berdiri dengan wajah merengut.

"Apa?", tanya Jun.

"Sekarang kita harus menunggu bis berikutnya untuk pulang. Seharusnya tadi kau ikut saja naik bis"

Ucapan Soyoung membuat seulas senyum tercipta di bibir Jun. Ia melangkah balik ke belakang, dan merangkul bahu Soyoung.

"Ayo", katanya.

Duh, Soyoung bahkan tak sadar kalau ada helm tergantung di balik tas punggung Jun.

"Aku bawa motor", tangan kekar Jun memasangkan sebuah helm ke kepala Soyoung dan mengaitkan pengamannya.

Mau tak mau, sikap Jun kali ini berhasil membuat Soyoung tersipu malu.