Holla minna-san!
Astaga, maafkan aku karena baru mulai melanjutkan cerita ini. Bagaimana kabar kalian? Sudah hampir satu tahun sepertinya sejak chapter 10 rilis ya? Hahaha.
Banyak hal terjadi dalam satu tahun belakangan, dan tentu, aku tau tahun ini bukan hanya berkesan bagiku seorang.

Ah, lupakan soal banyaknya momen menyebalkan di tahun ini. One Piece 1000 was totally insane and I cant believe I'm still sailing with this crew for years til today! So exciting to see their milestones :') Siapa disini yang senang melihat Luffy menghajar Kaido?
Dan astagaaaa, senang sekali rasanya teoriku benar kali ini. Memang terdengar keterlaluan, tapi aku benar-benar menunggu saat Robin di culik oleh salah satu yonkou. Hahaha. Lagipula, kurasa ini sudah waktunya untuk Robin kembali menjadi highlight setelah arc Enies Lobby beberapa tahun lalu.

Baiklah, baiklah. Cukup basa-basinya.
Biar bagaimanapun, aku masih berharap review dari kalian. Khawatir betul hiatus yang terlalu lama ini malah membuat ceritaku jadi tidak karuan.
Tapi, terimakasih untuk kalian yang masih bertahan membaca ceritaku. Aku senang :')
Untuk kalian yang baru bergabung, selamat datang! Semoga kalian menyukainya!

Credits to: Eiichiro Oda
Celebrating #onepiece1000

O • O • O

Zoro meneguk ocha nya secara perlahan. Persidangan yang akan digelar satu jam lagi membuatnya tak ingin mengisi perutnya dengan sake pagi ini. Di hadapannya, duduk bersisian Sabo, Luffy dan Sanji. Melahap sepotong besar daging kalkun yang – sepertinya cukup berlebihan untuk dimakan saat sarapan. Sementara di sebelahnya, duduk Saulo dan Nami. Meski terlihat cemas, namun pria tua itu tetap tertawa melihat pertengkaran antara Sanji dan Luffy saat memperebutkan sepotong besar paha kalkun.

"Dimana Bellmere-san?" tanya Sabo menyadari wanita itu tak terlihat sejak tadi. "Apa dia akan menyusul?"

Nami menggelengkan kepalanya. "Dia tak terlalu suka suasana di ruang pengadilan. Ia bilang akan mengikuti beritanya lewat radio."

"Ah, begitu rupanya." Sabo mengangguk mengerti. Lalu melirik jam tangan yang tersembunyi di balik kemeja biru lengan panjangnya. "Baiklah, aku akan pergi lebih dulu. Ada yang ingin ku bicarakan dengan Robin sebelum persidangan di mulai. Kalian langsung saja menuju ruang persidangan setelah ini." Pria itu bergegas. Segera mengenakan mantelnya dan meninggalkan restoran lebih dulu. Melewati kerumunan yang ramai oleh awak media lantaran restoran tempat mereka sarapan saat ini berada tak jauh dari gedung pengadilan.

Sesuai jadwal, persidangan dimulai satu jam kemudian. Kursi tamu hampir saja dipenuhi oleh para pemburu berita jika Zoro dan yang lainnya terlambat sedikit saja memasuki ruang persidangan. Di depan, sudah duduk beberapa panitera, jaksa dan juga Robin bersama Sabo di sampingnya. Sedang berbincang serius, sementara Nami dan Saulo saling berbisik sambil berharap semoga perbincangan mereka bukanlah mengenai hal-hal yang mengkhawatirkan.

Masuk tak lama kemudian, seorang hakim utama dan kedua wakilnya. Ia seorang wanita tua, dengan rambut memutih yang diikat satu ke belakang. Meski begitu, wajahnya tetap menyiratkan kebijaksanaan. Dan toga yang dipakainya, membuatnya tampak semakin berwibawa. Zoro terdiam. Berharap ia hakim yang dapat diandalkan.

Sidang kemudian dimulai dengan pembacaan gelar perkara. Berisi penuh catatan kriminal Nico Robin yang Zoro yakini sepenuhnya bualan Sakazuki. Tentang bagaimana Robin membantu kedua orang tuanya meledakkan tambang, membakar jaringan listrik, dan hal-hal bodoh lainnya. Saulo menggeram. Kedua tangannya terkepal menahan amarah atas apa yang dituduhkan pemerintah dan masyarakat kepada gadis kecil berusia delapan tahun tersebut. Zoro menepuk pundaknya, berusaha membuatnya tetap sabar.

"Apa yang membuatmu berfikir jika Nico Robin juga memiliki senjata, Jaksa Hina?" Hakim Tsuru bertanya sesaat setelah mendengar jaksa penuntut umum membeberkan catatannya.

"Keluarga Nico Robin bukanlah keluarga sembarangan, yang mulia." Jaksa Hina melangkah mendekat pada Robin. "Kedua orang tuanya berpendidikan tinggi. Dan merupakan dosen yang cukup kompeten di masanya. Saya bahkan memiliki bukti jika Nico Olivia menjadi dosen di dua universitas sekaligus saat itu dan melakukan begitu banyak riset dan penelitian di laboratorium yang terletak di dalam perpustakaannya. Rasanya mengherankan jika keluarga berpendidikan seperti mereka membiarkan anaknya tidak bersekolah. Terlebih, Nico Olivia perlu menempuh waktu berjam-jam untuk mengajar di Universitas Tokyo. Bukankah lebih baik ia tak tinggal di Pulau Hashima? Atau memang, sejak awal mereka memiliki maksud untuk tinggal disana?"

"Izin bicara, yang mulia!" Sabo bangkit dari duduknya. "Saya setuju jika Jaksa Hina mengatakan bahwa Nico Robin berasal dari keluarga berpendidikan. Tapi anda salah besar jika berfikir mereka melakukan penelitian mengenai pembuatan senjata dan semacamnya. Mereka adalah sejarawan. Bukankah ayah Nico Robin juga sudah sering terdengar menganalisis banyak artefak dan menemukan kuil-kuil kuno di pelosok Jepang? Dan lagi, tujuan mereka untuk tinggal disana adalah demi meratakan pendidikan dengan membangun perpustakaan bagi anak-anak di pulau tersebut."

"Yang mulia," kembali Jaksa Hina mengambil alih situasi. "Nico Olivia bukan hanya berteman dengan para sejarawan. Tapi juga peneliti dan ilmuwan besar!"

Hakim Tsuru mengernyit. "Siapa yang kau maksud?"

"Vegapunk. Nico Olivia pernah mengadakan pertemuan dengannya."

Pernyataan jaksa berambut merah muda di depannya cukup mengejutkan Robin. Dengan banyaknya buku yang ia baca, tak sekali dua kali ia mendengar nama Vegapunk. Ia cukup mengetahui informasi jika Vegapunk banyak membuat persenjataan untuk pihak kepolisian dan kemiliteran Jepang.

Lalu… ah, dia ingat sekarang. Orang tuanya pernah mengundang pria itu untuk makan malam beberapa tahun sebelum peristiwa naas itu terjadi.

"Robin, benarkah yang dikatakannya tentang Vegapunk?" Sabo berbisik. Kemudian menghela berat saat melihat anggukan kecil dari lawan bicaranya. Pria itu memejamkan mata. Bingung menyusun kalimat yang harus ia lontarkan untuk menahan jaksa di depannya.

Sementara itu, Saulo menyandarkan tubuhnya dengan lemas di kursi tamu. Tak percaya dengan fakta yang mencuat disana. Zoro mengamati pria tua itu dalam diam. Tanpa bertanya pun, ia tahu betul jika itu bukanlah pertanda yang baik bagi Robin dan Sabo.

O • O • O

Persidangan kemudian di hentikan sejenak untuk beristirahat. Sontak saja, Zoro dan yang lain maju mendekat ke pagar yang membatasi ruang sidang dan kursi tamu. Berusaha berkomunikasi dengan Robin dan Sabo.

Kedua orang itu tersenyum. Senang melihat banyaknya supporter yang datang.

"Kau memiliki rencana kan, Sabo-kun?" tanya Nami cemas. Khawatir dengan putusan sidang yang akan dilayangkan pada Robin.

"Tenanglah, kita masih punya Saulo disini. Ia akan kupanggil menjadi saksi setelah istirahat selesai. Bersiaplah, Saulo." Sabo menepuk bahu pria besar itu beberapa kali.

Saulo mengangguk mantap. "Aku sudah siap kapanpun, Sabo-san. Aku sudah menyiapkan banyak hal untuk hari ini."

"Baguslah kalau begitu."

"Yo, Saulo. Berjuanglah!" seru Sanji memberi semangat. "Kau juga, Robin-chan!"

"Tentu. Terima kasih sudah datang, minna," kata gadis itu seraya tersenyum tulus.

"Jangan biarkan hal apapun menggoyahkan hatimu, kau memiliki kami," ujar Zoro menambahkan. Menatap Robin dalam-dalam. Tahu betul perdebatan tadi cukup mengganggu suasana di ruang persidangan. Awak media bahkan tak henti berdesis sejak tadi seakan senang telah mendapatkan tajuk yang tepat untuk laman berita mereka.

Robin mengangguk. Balas menatap Zoro penuh rasa terima kasih.

"Maa, sepertinya aku harus ke toilet sekarang. Sial, rasa gugup ini benar-benar mengganggu sistem pencernaanku." Saulo memegangi perutnya. Lalu memberi isyarat meminta izin pada yang lain untuk sejenak meninggalkan mereka.

Nami dan Sabo hanya terkekeh kecil.

"Semoga perutnya tetap dalam keadaan baik saat ia duduk menjadi saksi nanti." Sanji mengeluarkan puntung rokok dari saku celananya. "Masih tersisa lima belas menit bukan? Aku akan mencari udara segar sebentar."

"Ah, Sanji-kun aku ikut denganmu!"

"Hai, lakukan yang kau mau Nami-swan!"

Sabo memandang mereka sambil menggelengkan kepala. Lalu mendadak teringat seseorang, "Ah, dimana Luffy?"

Zoro menunjuk bangku paling belakang. "Dia tertidur sejak lima menit pertama persidangan dimulai."

"Astaga, anak ini. Bukankah ia akan masuk jurusan hukum di universitas nanti?" Sabo berdecak kesal. Segera melompati pagar dan berjalan cepat ke arah Luffy. Dapat Zoro lihat sebuah pukulan mendarat tepat di kepalanya.

"Itu pasti menyakitkan," gumam Zoro sambil terkekeh kecil.

"Siapa Luffy?" tanya Robin kemudian. Merasa tak pernah bertemu dengan pria berambut hitam tersebut.

"Adik Sabo. Sekaligus teman sekelasku."

"Ara… Kau punya teman sekarang?"

"Kau meremehkanku?"

Robin tertawa kecil. "Hanya ingat kau tak memiliki teman selain Johnny dan Yosaku di dojo."

"Astaga, kau mengingatnya?"

"Tentu, aku punya ingatan yang cukup baik," ujar Robin sambil tersenyum bangga.

Sementara Zoro terdiam. Asik mengamati senyum manis wanita di depannya.

"Apa yang kau lihat?" tanya gadis itu kemudian. Merasa aneh ditatap seperti itu oleh lawan bicaranya.

"Bukan apa-apa. Hanya senang melihatmu tersenyum," jawabnya jujur.

"Kau menggodaku?"

"Menyemangatimu lebih tepatnya." Zoro mengelus pelan pucuk kepala Robin. "Tetaplah begitu sampai semua hal tentang persidangan ini selesai."

Robin terdiam. Kemudian mengangguk mengiyakan. "Hmm-hmm. Akan ku lakukan."

"Gadis pintar."

Sanji kembali tak lama kemudian sambil membawa beberapa kaleng bir di tangannya. Ia menyerahkan masing-masing satu kepada yang lain meski ditolak mentah-mentah oleh Sabo. Sementara Zoro yang merasa situasi mulai membaik, memberanikan diri menghabiskan dua kaleng bir sekaligus. Tentu saja, kebiasaannya meminum sake tak akan membuatnya mabuk dengan mudah.

Robin memicingkan matanya.

"Kenapa?" tanya Zoro tak suka diintimidasi oleh gadis di depannya.

"Minumlah perlahan. Itu alkohol, bukan minuman bersoda."

"Aku tau. Tenanglah."

Sementara itu Sabo melirik jam tangannya dengan cemas. Dua menit sebelum persidangan dimulai tapi Saulo tak kunjung menampakkan hidungnya.

Nami yang tengah mengamatinya dapat menangkap dengan jelas kegelisahan di wajah pengacara muda tersebut. "Saulo?" tanyanya.

Sabo mengangguk. "Bukankah ini terlalu lama?"

"Kau benar." Sanji mengangguk setuju.

Zoro terdiam. Menatap lama pintu masuk ruang persidangan. "Biar aku yang periksa," katanya kemudian berlari meninggalkan ruangan.

Meski tau ia tak cukup baik dalam menentukan arah, Zoro tau betul instingnya tidak pernah salah. Dilangkahkannya kaki dengan cepat melewati koridor demi koridor, memeriksa satu demi satu ruangan yang terlihat disana, hingga sampailah ia diujung bagian bangunan tersebut. Tempatnya lebih mirip seperti gudang. Dengan kardus dan ribuan kertas yang menggunung bahkan sejak melewati lorongnya. Di ujung sana, dapat Zoro lihat sepasang kaki yang terkapar di lantai. Sepasang kaki yang besar. Yang kemudian membawanya pada Saulo yang sudah tergeletak di lantai dengan wajah membiru dan mulut yang menganga.

Zoro terbelalak. Tak percaya dengan apa yang ia lihat. "Saulo-san!" serunya kencang. Segera mendekat dan mengguncang tubuh Saulo beberapa kali. "Saulo-san! Bangunlah!" Zoro berteriak khawatir. Meski tetap upayanya tak membuahkan hasil.

Pria itu melirik ke kiri dan ke kanan, berharap mendapatkan sebuah petunjuk atau pertolongan. Hingga dari ujung matanya, dapat ia lihat bayangan seseorang dengan mantel putih mengamatinya dari kejauhan. Sosok itu kemudian berbalik. Segera pergi saat menyadari Zoro menemukan persembunyiannya.

Lantas pria berambut hijau itu beranjak. Berlari dengan cepat berusaha mengejar sosok yang begitu mencurigakan di depannya. Namun sosok itu bergerak lebih cepat lagi, memberi jarak yang begitu jauh dengan Zoro di belakangnya. Bahkan seperti tak kehilangan akal, ia baurkan dirinya dengan banyaknya awak media yang berkerumun di dekat ruang persidangan utama. Zoro berhenti sejenak, memastikan kemana sosok itu melangkah.

"Oi, marimo!" seru suara teriakan Sanji memanggil namanya membuatnya menoleh. Pria beralis keriting itu tengah berlari kecil ke arahnya dari dalam ruang persidangan. "Jangan seenaknya mencari sendiri bodoh!"

"Segera cari bantuan. Saulo terkapar di koridor belakang," titah pria berambut hijau itu sebelum kembali melanjutkan langkahnya. "Aku akan mengejar seseorang."

"Terkapar?" Sanji mengulang pelan. Lalu kemudian tersadar Zoro tak lagi berada di tempatnya. "Oi rambut lumut! Mau kemana kau?"

Zoro terus berlari tanpa tujuan. Memeriksa satu demi satu lorong sambil mengingat sosok yang tadi dikejarnya. Mantel putih, juga rambut hitam yang tertutup samar di balik topi putihnya. Ia langkahkan kakinya ke belakang gedung. Menuju sebuah taman kecil di sana.

Lalu tiba-tiba, ia terkesiap. Muncul dari ujung lorong di depannya, wanita berambut hitam dengan kacamata yang menutupi sebagian wajahnya. Wanita yang ia lihat saat perkelahian di Iwasaki.

"Kau," Zoro tercekat. Mengamati gadis itu dengan penuh pertanyaan. "Siapa kau?"

Gadis itu sama terkejutnya. "Bukankah aku yang seharusnya bertanya seperti itu?"

"Jawab aku!" Zoro berteriak geram. Kesal dengan wanita di hadapannya.

Wanita ini, kenapa ia begitu mirip dengan Kuina?

"Ada apa denganmu?"

"Jawab – saja – pertanyaannku." Zoro menekan kata demi kata yang ia ucapkan. Berharap dengan segera mendapatkan jawaban.

Sementara gadis itu terdiam. Sejujurnya sedikit takut dengan raut wajah penuh amarah dari pria berambut hijau di hadapannya. Namun sejurus kemudian, matanya membola. Ia ingat siapa pria di depannya. "Penangkapan Nico Robin di Iwasaki?!" serunya tiba-tiba. "Ah, itu kau rupanya?"

Zoro tak bergeming. Masih mengamati gadis tersebut dengan waspada.

"Tashigi. Aku Tashigi," gadis itu menyebutkan namanya. Tak ingin berlama-lama diintimidasi oleh pria di hadapannya. "Dan berhenti memberikan tatapan mengerikan padaku. Aku tak akan segan-segan lagi padamu."

"Cobalah kalau berani." Zoro mengeluarkan satu katana yang sejak tadi tersimpan di balik mantelnya. Bersiap membuat penyerangan.

Melihat hal tersebut, Tashigi jadi ikut mengeluarkan katana nya.

Jeda sesaat sebelum akhirnya mereka melompat dan saling beradu pedang di udara.

"Pedangmu tak pantas membela seorang tersangka sepertinya, tuan!" Tashigi berkata di antara ayunan pedang mereka.

"Roronoa Zoro." Pria berambut hijau itu mendorong Tashigi dengan Sushui nya. Lalu menghunuskan bagian pedang yang tumpul dengan keras ke perut wanita berkacamata di depannya. "Kau harus mengingat siapa lawanmu."

Gadis itu berdecak. Kesal sekali menyadari pria di depannya bahkan tak berniat menyakitinya. "Kau fikir pertarungan ini main-main? Kau sudah menghunuskan pedangmu! Maka gunakan ia dengan baik dan jangan meremehkanku!"

"Aku tak mengerti maksudmu."

"Apa karena aku ini wanita? Apa kau tak berani menusukku karena aku ini wanita?" Tashigi berteriak kesal. Kemudian berlari dan mengangkat lagi pedangnya tinggi-tinggi di udara. Gadis itu memutar tubuhnya. Berniat memberi luka pada dada bidang Zoro.

Namun pria itu menangkisnya dengan mudah. Ia biarkan mata pedang mereka saling beradu di depannnya. Wanita itu memicingkan mata. Menatap Zoro marah. "Bukan aku yang ingin terlahir sebagai perempuan! Maka dari itu, perlakukan aku selayaknya kau memperlakukan lawan pria mu yang lainnya!"

Zoro tersentak. Lalu terdorong mundur beberapa langkah ke belakang. "Sial, kau benar-benar mirip dengannya."

Lalu sekali lagi, suara dentingan besi yang saling beradu menggema di udara. Saling menyerang. Siap menebas satu dengan yang lainnya. Meski selalu, Tashigi yang terdorong mundur ke belakang.

Wanita itu memasang kuda-kudanya, mengarahkan lagi mata pedangnya pada pria berambut hijau di depannya. Tapi belum sempat ia menyerang, seorang pria berambut merah muda tiba-tiba datang menghentikannya.

"Tashigi!"

"Oh, Coby?" Tashigi mengatur nafasnya yang terengah.

"Apa yang kau lakukan disini? Smoker-san mencarimu," jelasnya. Kemudian menyadari kehadiran Zoro di tengah-tengah mereka.

"Siapa kau?" tanya Coby kemudian.

Zoro memasukkan kembali katana nya. "Aku tak memiliki urusan denganmu."

Pria berambut merah muda itu kembali melirik Tashigi. Gadis itu juga tengah menyimpan kembali pedangnya. "Kau baik-baik saja?"

Gadis itu mengangguk. Tatapannya masih lurus pada Zoro yang terdiam di tempatnya. "Nico Robin tak akan memenangkan persidangannya. Lebih baik kau simpan pedangmu dan gunakan ia untuk membela kebenaran."

"Simpan saja nasehatmu untuk dirimu sendiri. Katana-katana ku tau siapa yang perlu mereka lindungi."

Gadis itu berdecak. Kemudian berbalik dan pergi bersama Coby di sampingnya. Meninggalkan Zoro yang kemudian teringat pada satu hal penting yang menjadi alasannya berkeliling gedung pengadilan sejak tadi. "Saulo-san!" serunya pada dirinya sendiri.

Dengan cepat pria itu kembali menyusuri gedung. Mencari sosok yang sejak tadi mengganggu ingatannya. Tapi nihil. Yakin betul perkelahiannya dengan Tashigi tadi telah membuat sosok tersebut berhasil melarikan diri.

Pria itu mengusap wajahnya. Sedikit menyesal telah meladeni wanita itu barusan.

Beruntung, ujung matanya menangkap sosok Nami di koridor seberang. Wanita itu bergerak dengan cepat bersama Sanji yang mengekor di belakangnya.

Zoro menghampiri mereka. Sedikit terkejut melihat Nami yang berlinang air mata.

"Apa yang terjadi?" tanya pria itu penasaran.

"Dari mana saja kau, pendekar pedang menyebalkan?" tanya Sanji kesal. Namun terlihat lega disaat yang bersamaan.

Zoro tak menjawab. Ganti mengamati Nami yang kini benar-benar menangis dengan tubuh gemetar. "Oi, Nami."

"Kami… kehilangan denyut nadi Saulo," lirih gadis berambut oranye tersebut.

Zoro terbelalak. Pernyataan Nami cukup mengejutkan. "Apa… maksudmu?"

"Saulo sudah kesulitan bernafas saat aku menemukannya. Tak lama, aku merasakan kami kehilangan denyut nadinya." Sanji menjelaskan. "Persidangan ditunda karena ini. Sabo sudah berangkat lebih dulu mendampingi Saulo di dalam ambulans sementara kami akan menyusul. Kau ikutlah dengan kami."

Zoro terdiam. Berusaha mencerna dengan baik apa yang dijelaskan Sanji kepadanya.

Kehilangan denyut nadinya? Bukankah itu berarti…?

"Cepatlah! Luffy sudah menunggu kita di mobil." Sanji kembali bergerak. Melewati kerumunan awak media yang gaduh karena tertundanya persidangan.

Zoro masih terpaku di tempatnya. Melirik sejenak ke arah ruang persidangan sebelum akhirnya memutuskan untuk berlari menyusul Sanji.

O • O • O

Sore itu, salju pertama turun di kota Tokyo. Membuat dingin mendominasi seluruh kota yang berawan gelap. Angin bertiup lembut. Menerpa puluhan langkah kaki pria dan wanita dalam balutan jas dan mantel hitam yang berdiri di depan sebuah altar penghormatan.

Zoro melangkah maju secara perlahan. Mempersembahkan sebuah dupa, lalu membungkukkan badannya di depan figura berisi foto Saulo yang tersenyum bahagia. Setelah itu, ia bangkit dan menautkan kedua telapak tangannya. Mendoakan yang terbaik bagi sang arwah agar beristirahat dengan tenang dan dapat bereinkarnasi kembali dengan sempurna.

Saulo dinyatakan pergi tak lama setelah ia tiba di rumah sakit kemarin. Hasil autopsi menemukan adanya tanda racun mematikan yang melewati kerongkongannya. Zoro tau betul ini pembunuhan. Meski tak tau siapa yang tega melakukannya.

Sanji mengepulkan asap rokoknya di udara. Satu tangannya merangkul Nami dalam dekapannya. Di sebelahnya, berdiri Genzo yang nampak terdiam dan Nojiko yang tak berhenti mengelus punggung Bellmere yang tak berhenti mengeluarkan air mata.

Zoro melangkah mundur. Sedikit menjauh dan menyandarkan tubuhnya pada pohon trembesi yang menjulang tinggi di dekat mereka. Menghabiskan satu kaleng bir yang di belinya sebelum acara kremasi dimulai. Lalu memejamkan mata. Membiarkan efek minuman beralkohol itu bereaksi pada saraf-saraf otaknya.

Sabo kemudian mendekat. Menghela nafas berat seraya menepuk-nepuk bahu pria itu secara perlahan.

Zoro membuka matanya. Mengamati altar Saulo yang sederhana di depan mereka.

"Tolong pastikan ia baik-baik saja, Sabo," kata Zoro pelan.

Di sambut anggukan dari pria berambut pirang di sebelahnya. Jeda sejenak sebelum Sabo kemudian berbalik. Dan melangkah pergi meninggalkan pemakaman di ikuti Luffy di belakangnya.

Dalam perjalanan, kedua kakak beradik itu lebih memilih diam. Luffy berusaha fokus pada kemudinya sementara Sabo sibuk memikirkan langkah selanjutnya.

Pria berambut pirang itu kemudian turun saat mobil yang membawa mereka tiba di rumah tahanan. Di ruang pertemuan, sudah menunggu Nico Robin dengan mata sembab. Tubuhnya terbalut sebuah selimut pemberian Zoro untuknya. Gadis itu, masih berusaha tersenyum saat melihat Sabo datang.

Pria itu kemudian menyerahkan sebuah foto. Berisi Saulo muda dan Nico Robin beberapa tahun yang lalu. Di ambil di Osaka, di depan perpustakaan pertama yang berhasil mereka bangun bersama.

Di belakangnya ada sebuah pesan singkat. Ditulis sedikit berantakan tapi dapat Robin baca apa isinya. Tulisan Saulo. Yang selalu kesulitan menggunakan bolpoin lantaran jari-jarinya terlalu besar untuk itu.

Apapun yang terjadi padaku nanti, Robin. Lanjutkanlah hidupmu.

Suatu saat nanti, akan datang orang-orang yang percaya padamu dan rela menghabiskan sisa hidupnya untuk melindungimu.

Berbahagialah, hidupmu terlalu singkat untuk bersedih.

Saulo. Osaka, 1975

"Dia pasti sudah menyadari hari ini akan tiba, Robin. Maka dari itu, jangan pernah salahkan dirimu atas apapun."

Robin terdiam. Tanpa sadar, air mata kembali menetes membasahi pipinya. Gadis itu mendekap fotonya di dada. Berusaha tersenyum namun tersengal di saat yang bersamaan. Ia menangis. Terlalu keras hingga Sabo mengelus punggungnya berusaha menenangkan.

"Saulo-san…" lirihnya beberapa kali. Kemudian jatuh tersungkur tak sadarkan diri.

O • O • O