Song: It just is - eaJ x Seori (feat. keshi's Strat)

.


.

Disclaimer: All of the characters and Naruto itself are Masashi Kishimoto's but this story is purely mine. Saya tidak mengambil keuntungan dalam bentuk apa pun selain kepuasan pribadi x')

Warning: Slight SasuKarin, AU, OOC, typo(s), dan jauh dari kata sempurna ;)

Rate M untuk bahasa dan sedikit pembahasan—such as mental illness (which leads to suicide attempt and such) yang mungkin bisa membuat kurang nyaman atau terpicu.

Yep. I decided to change the rate from T+ to M for safe :")

.


.

.

Responsible

12. Am I Hiding it Well?

.

.


Alangkah terkejutnya Uchiha Sasuke begitu ia mendapati wajah istrinya dari balik pintu. Panik itu menggoda tapi lagi-lagi berhasil ia sembunyikan dengan baik. "Apa kau baik-baik saja?" ia melemparkan pertanyaannya. Hebat. Kalimat barusan adalah pembukanya dalam berbicara dengan istrinya pada hari ini.

Sakura mengalihkan emerald-nya dari jelaga yang menyelidikinya. "Tentu saja." Ia mengakhiri jawaban singkatnya dengan berdeham. Sial. Suaranya terdengar pecah seperti kambing minta makan.

Apa kalian berharap Uchiha Sasuke percaya begitu saja? Tentu saja, dia bukan orang bodoh. Kini kedua onyx-nya memicing. Ia melangkahkan kakinya maju sampai ke dalam kamarnya. "Ada apa?" tanyanya satu kali lagi.

Oke, Sakura menyerah. Ia menarik napas, sebelum akhirnya memaksakan cengiran lebar. "Habis kau ngambek sih." Perempuan itu merotasikan kedua bola matanya.

Tunggu. Sebenarnya alasan tersebut sangat terasa janggal bagi Sasuke. Masa iya hal sekecil itu bisa membuat Sakura ... seperti ini? Ia mengulang pertanyaannya sekali lagi. Kali ini dibubuhkan sedikit penekanan. "Ada ... apa?"

Gawat. Sakura merasa pertanyaan simpel barusan berhasil menembus relung hatinya. Ia merasa ingin menangis lagi, karena tiba-tiba kenyataan yang sore tadi ia dengar memanggil jiwanya.

Kini Sasuke menangkupkan wajah istrinya, memaksa perempuan itu agar memberitahukan alasan kenapa istrinya menangis.

"Aku habis nonton sinetron dengan Tousan. Ceritanya benar-benar menyedihkan."

Lagi-lagi Sakura memberikan jawaban yang tidak membuat Sasuke puas. Sebenarnya Sasuke merasa janggal tapi ia tak mau memaksa istrinya. Ia pun akhirnya menyerah. Ingat, mana pernah Uchiha Sasuke menang dari Sakura?

Laki-laki itu menggelengkan kepalanya secara berulang. Ia menyentuh kening Sakura dengan telunjuk dan jari manisnya. "Kau jadi menyukai sinetron, ya?"

Kemudian tangan kanannya berpindah, menepuk ringan kepala Sakura. "Sudah tahu cengeng tapi malah mencari-cari," ucapnya lagi.

Sakura hanya membalasnya dengan senyuman lebar yang nampak sangat aneh karena wajahnya bengkak.

Sasuke segera menggantungkan coat-nya. Kemudian ia meletakkan tas kantornya di atas kursi depan meja dalam kamar. Setelahnya laki-laki itu keluar kamarnya lalu kembali kurang dari lima menit kemudian dengan sebuah ice pack.

Sakura yang sejak tadi duduk di kasur dan memerhatikan setiap pergerakan suaminya merasa air matanya ingin tumpah lagi. Apalagi saat dengan perlahan, suaminya mengompres matanya yang bengkak dengan ice pack yang tadi ia bawa.

Kenapa ... suaminya harus memperlakukan Sakura sebaik ini sih? Perempuan itu langsung bisa memahami kenapa Karin bisa begini ketergantungan pada suaminya. Kalau sejak delapan belas tahun yang lalu Sakura diperlakukan bak putri seperti ini ... Sakura sendiri pasti tak mampu melepaskan Uchiha Sasuke.

Kerutan halus di kening adalah respons Sasuke saat melihat Sakura yang kembali menangis dengan bahu bergetar pelan.

"Apa aku menekannya terlalu kencang?"

Sakura menggeleng lemah. Ia berusaha menahan isakannya. "Hanya teringat salah satu adegan sedih di sinetron tadi," cicitnya dengan suara yang sangat lirih.

Lagi-lagi Uchiha Sasuke hanya mampu menggelengkan kepalanya. Apa pun itu, semoga Sakura cepat melupakan kesedihannya. Kemudian, Sasuke teringat sesuatu. Ia bangkit dari duduknya dan lagi-lagi keluar dari kamar.

Sementara Sakura berusaha menenangkan emosinya. Seharusnya ia tidak boleh terlalu nyata seperti ini! Perempuan itu menepuk-nepuk pelan kedua pipinya. Ia pasti bisa, pasti. Sebenarnya, Sakura tidak memiliki alasan khusus untuk menyembunyikan kebenaran yang baru saja ia dapat. Ia sendiri bingung—kenapa juga harus menyembunyikannya tapi kemudian ia teringat. Bahwa dirinya lah yang belum siap kalau Sasuke mengetahui kebenarannya. Sakura yang tidak siap jika harus menyaksikan orang yang ia sayangi terjatuh karenanya. Wah, hebat. Sekarang ia bisa memahami ibu mertuanya.

Uchiha Sasuke datang dengan nampan berisi segelas air putih dan es krim stroberi. Ia duduk di sebelah Sakura, meletakkan nampan di atas pangkuannya sebelum akhirnya menjulurkan gelas air putih. "Minum ini dulu lalu makan es krim supaya tidak kepikiran."

Dan Uchiha Sakura sukses menangis lagi.

Sasuke mengerjapkan matanya. Tentu saja ia bingung. Ada apa dengan Sakura?

Seolah bendungan air mata milik perempuan itu belum habis, lagi-lagi Sakura menangis dibuatnya. Karena Sakura semakin merasa bersalah tiap Sasuke berbuat terlalu baik padanya. Karena tiba-tiba ia memosisikan dirinya sebagai Karin kalau Uchiha Sasuke benar-benar memikul Sakura sebagai tanggung jawab sejak delapan belas tahun lalu. Lihat 'kan ... seberusaha keras apa suaminya.

Dalam diam, Sakura hanya menegak air putihnya lalu melahap es krim stroberinya sambil membiarkan air matanya terus mengalir. Ia membenci Tuhan karena ini. Sekali lagi, karena ia diciptakan sebagai manusia dengan duktus lakrimalis yang bocor—makanya cengeng.

Begitu Sakura selesai mengisi perutnya yang sama sekali tidak terasa lapar, ia meletakkan bekas makannya di atas nampan yang kemudian dipindah ke meja. Sakura mengatur napasnya.

Sementara Sasuke hanya mengekor tiap pergerakan yang dibuat oleh Sakura. Meskipun merasa janggal tapi akhirnya ia berusaha mengabaikannya. Mungkin, bisa saja alasan Sakura menangis adalah hal yang sesepele itu.

"Apa Karin-nee sudah ketemu?" Sakura mulai membuka topik lain.

"Belum," balas Sasuke dengan singkat.

Memang kenyataan menyedihkannya begitu. Dia bukan manusia super atau orang kaya raya yang bisa menyuruh orang untuk mencari Karin. Oh, sebentar. Bukankah itu yang istrinya lakukan? Sepertinya kemarin Sakura bilang bahwa ia sudah menyuruh orang untuk membantu mencari Karin.

Sakura tersenyum manis—ya, dan matanya memang masih bengkak. "Aku juga belum mendapat kabar dari orang yang membantuku."

Lagi-lagi, sepertinya Sakura memang manusia super yang berspesialisasi dalam hal membaca Uchiha Sasuke. Jauh dalam hati kecilnya, Sasuke sangat merasa lega karena meski pertemuan mereka terjadi bagai lelucon—bahkan terjebak dalam hubungan pernikahan yang dirasa sangat lucu tapi, ia sangat lega akan keputusannya waktu itu. Ia sangat lega karena berhasil ditemukan oleh Sakura. Ia merasa sangat lega karena ia menolak untuk melepaskan Sakura waktu itu. Ia sangat lega karena Sakura bersedia membagi tanggung jawabnya dengan miliknya. Ia sangat lega karena Sakura sampai saat ini masih berada di sisinya.

Sakura menjulurkan tangannya, mengacak-acak helaian raven milik suaminya. "Ayo, semangat! Sedikit lagi Karin-nee pasti ketemu."

Sasuke tanpa sadar memformasikan senyuman sangat tipis. Ia menahan tangan istrinya yang usil memainkan rambutnya. Kemudian ia merengkuh kuat tubuh Sakura, menjatuhkannya di kasur tanpa melepaskan tangannya. Kini Sakura dipeluk seperti guling di atas tempat tidur.

Jantung Sakura langsung bertingkah dengan denyut melebihi batas normal. "Apa yang kau lakukan?"

Laki-laki itu hanya diam sejenak, mengeratkan rengkuhannya dan membenamkan wajahnya di ceruk leher Sakura. Ia membiarkan aroma manis istrinya memenuhi indera penghidunya. "Mengisi baterai."

Mendengarnya langsung membuat Sakura mendengus. Ia kembali memainkan rambut suaminya. "Bayar, ya. Oh, omong-omong kenapa kau memberikanku silent treatment kemarin?" Tanpa sadar bibirnya mencebik karena sebal mengingatnya.

"Sudah kubayar dengan es krim tadi." Setelah itu, Uchiha Sasuke memberikan jeda sejenak. Ia melanjutkan, "Karena tiba-tiba kau ke Kiri satu minggu lagi."

Sakura mendorong pelan, badan suaminya—hendak melepaskan pelukannya tapi Sasuke semakin mengeratkannya. Sakura menghela napas, "Maaf baru mengatakannya karena aku lupa."

Hei, segala yang terjadi akhir-akhir ini benar-benar datang tanpa memberi Sakura ruang dan waktu untuk istirahat. Demi apapun ia sendiri sangat lupa kalau ia harus pergi ke Kiri. Setidaknya sebelum dirinya bertemu dengan Uchiha Sasuke, ia masih memikirkan akan bagaimana nasibnya di Kiri nanti—begitu bertemu dengan suaminya, semuanya hilang begitu saja.

"Satu lagi, kalau hanya dibayar dengan es krim aku tidak mau." Sakura pura-pura merajuk. Memangnya suaminya pikir dia semurah itu apa? Mana habis pakai acara ngambek. Hmph.

Sasuke memindahkan kepalanya yang sejak tadi bertengger di ceruk leher istrinya. Ia menatap datar wajah istrinya sebelum akhirnya mendaratkan kecupan singkat di atas bibir istrinya.

Darah Sakura terasa naik sampai ke kepala. Wajahnya memanas dan memerah. Ia memukul bahu suaminya dengan tenaga yang tidak sengaja berlebih.

Smirk tampan langsung tercipta begitu Sasuke melihat perubahan wajah istrinya. "Katanya kurang?"

Astaga, Sakura bisa mati muda kalau begini terus. Mau sampai kapan Uchiha Sasuke membuat organ kardiovaskular bekerja lebih berat sampai terasa mau meledak?

Sakura langsung diam dibuatnya. Tapi ia belum bosan dengan kepala Sasuke, perempuan itu mengelus-elus kembali rambutnya. Dalam hati ia terus memuji suaminya. Ia berucap tentang bagaimana baiknya Uchiha Sasuke karena mampu bertahan selama delapan belas tahun ini. Ia memandang wajah suaminya yang tiba-tiba saja memejamkan matanya.

Ia menepuk pelan punggung suaminya. "Mandi dulu sana! Bau."

Belum ada tanda-tanda Uchiha Sasuke akan melepas rengkuhannya. "Hn."

Akhirnya Sakura terpaksa mengalah. Membiarkan Uchiha Sasuke memeluknya sambil memejamkan matanya. Sakura mengulaskan senyum, ia ingin melupakan sejenak realita pahit yang baru saja ia ketahui. Untuk saat ini, biar Sakura yang menahannya untuk Sasuke. Apa ia sudah menyembunyikannya dengan baik?

Sakura hanya berharap bahwa jika tiba waktunya Uchiha Sasuke mengetahui segalanya ... laki-laki itu tetap bisa berdiri dengan kuat. Meskipun Sakura yakin, suaminya pasti akan terpukul satu kali lagi. Fakta bahwa tanggung jawab yang ia laksanakan selama ini adalah suatu kesalahan pasti akan sangat menyakitinya.

Tapi kalau memikirkan dari sudut pandang ayahnya... Haruno Kizashi pasti bisa memahaminya juga 'kan? Rasanya perasaan Sakura kacau. Ia merasa seperti manusia yang benar-benar payah. Apa-apaan aksinya dulu—mogok makan, depresi dan sampai percobaan bunuh diri? Kenapa pikirannya baru terbuka sekarang?

Tiba-tiba keinginan kuat untuk memeluk ibunya datang menyapa. Ia merasa ingin berterimakasih pada wanita hebat yang sudah melahirkan dan membesarkan Sakura dengan segala cacatnya seorang diri. Pikiran tersebut membuat Sakura tanpa sadar mengeratkan rengkuhannya pada tubuh suaminya.

Pergerakan Sakura tadi terdeteksi oleh radar Sasuke. Ia pun melepaskan pelukannya dari Sakura, menjulurkan tangannya untuk membuka laci nakas sebelah kasur. Ia mengayunkan kaleng susu cokelat di depan wajah Sakura.

"Memang tidak dingin. Jangan bawel."

Sakura terkekeh pelan. Astaga, pasti suaminya mengira bahwa ia tidak bisa tidur karena belum meminum susu cokelat. Ya ampun, memang tidak sepenuhnya salah sih.

Sakura segera melepaskan diri dengan paksa dari pelukan Sasuke. "Biar aku habiskan ini dulu. Dan kau..." Kedua mata Sakura memicing galak. "Mandi sana!"

Yang dibalas dengan decakan sebal oleh suaminya. Akhirnya ia bangkit, dan segera mengambil handuk. Sebelum masuk kamar mandi, ia menolehkan kepalanya pada Sakura. "Hn. Habis mandi akan kutagih."

Dan Uchiha Sakura nyaris saja tersedak.


.

;;;;;

.


Uzumaki Karin mengurut pelipisnya dengan gusar. Ia menghela napas frustrasi sembari terus berusaha mencari-cari dari tumpukan dokumen di atas meja kerjanya. Matanya sudah luar biasa lelah dan kepalanya sangat terasa sakit.

'Sebelum kau mengoceh omong kosong tidak bermanfaat seperti ini, bagaimana kalau kau pelajari dulu apa yang terjadi delapan belas tahun yang lalu?'

'Tentu saja, parasit yang sudah terbiasa menerima seperti dirimu tidak akan mengerti, Karin.'

Potongan-potongan kalimat yang dilemparkan oleh Uchiha Mikoto terus menghantuinya sejak saat itu. Maka dari itu, Karin segera melarikan diri dari rumah sakit. Ia melakukan hal tersebut karena ia merasa bahwa ia harus memastikan fakta di balik peristiwa lama itu.

Seingatnya, dulu beberapa hari setelah kematian ayahnya ... datanglah Uchiha Sasuke. Laki-laki itu berkata bahwa ia harus memenuhi janji yang ia buat karena ayahnya. Sayang sekali, karena kejadian itu sudah lama maka Karin membutuhkan usaha ekstra untuk menggalinya.

Berminggu-minggu mencari, nyatanya yang ia dapat tidak sebanding. Sampai detik ini, informasi yang ia dapatkan hanya sedikit. Seperti ternyata Haruno Kizashi—ayah Sakura meninggal di persimpangan depan Toko Mainan Z. Tempat meninggalnya ayah Karin juga. Karena waktu meninggalnya ayahnya dengan ayah Sakura sama dan di tempat yang sama, maka Karin menyimpulkan bahwa mereka memang berada di satu kecelakaan yang sama.

Lantas kenapa? Maksud Karin, kenapa Uchiha Mikoto memperlakukannya sangat berbeda dengan Sakura? Soal yang satu itu Karin belum bisa menemukan benang yang menghubungkannya.

Bukankah Uchiha Sasuke berjanji untuk menjaganya? Hal ini 'kan di luar kendali Karin sendiri—karena bukan Karin yang terlibat langsung.

Kini Karin mengedarkan pandangannya ke samping. Ia berdecih dengan mata memicing seolah menembakkan laser. Karin bangkit dari duduknya, ia menggulung beberapa kertas tebal menjadi satu.

Dug!

Ia melayangkan gulungan tadi ke kepala rekannya. "Kerja yang becus! Jangan tidur!"

Sedangkan rekannya itu hanya mengusap-usap kepalanya yang terasa nyut-nyutan akibat serangan kertas tadi. "Cih. Sudah bagus kuselamatkan dan kuberi tumpangan—dan ini balasanmu?"

Karin mencebikkan bibirnya. Ia menyilangkan lengan di atas dada. "Aku tidak minta ditolong 'kan?"

Dan rekannya itu hanya mengorek telinganya dengan kelingking. "Ya, ya. Terserah."

Kemudian Karin melempar satu map tebal di atas meja rekannya. "Coba lihat lagi soal Sakura atau mungkin hal lain yang bisa saja kulewatkan, Suigetsu."

Yang tentu saja dengan ogah-ogahan terpaksa laki-laki bernama Suigetsu itu lakukan.


.

;;;;

.


Uchiha Sasuke mengeringkan helaian rambutnya yang basah pasca acara membersihkan diri. Ia merentangkan tangannya di udara, dengan wajah datar ia berucap. "Sini," tagihnya lagi.

Tentu saja hal ini mengacu pada hutang Sakura soal pelukannya yang terpaksa dihentikan.

Sakura bangkit dari duduknya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berdecak. "Badanku bisa sakit semua kalau begini terus. Jadi..." Ia menangkupkan wajahnya suaminya dengan kedua tangan. "Kubayar dengan ini saja, ya."

Ia mempertemukan mukosa bibrnya dengan milik suaminya dalam satu kecupan. Awalnya memang ringan tapi kemudian ia memagutnya secara pelan, halus menyalurkan seluruh perasaannya. Seperti yang sudah ia katakan tadi—karena ia harus menyembunyikan segala gundah gulananya. Biar hari ini ia melupakan sejenak fakta yang satu itu.

Sasuke nampak mengerutkan keningnya sejenak, membiarkan istrinya menciumnya dengan dalam. Laki-laki itu kemudian membalas ciuman istrinya, ia menahan tengkuk Sakura dan tanpa sadar semakin memperdalam tautan bibir mereka.

Kedua mata Sakura terbelalak saat ia menyadari bahwa alat perasa Sasuke—organ lunak tak bertulang itu turut memberontak minta masuk ke dalam mulutnya. Perempuan itu segera menggigit bibir bawah Sasuke dengan gemas, membuat tautan mereka terpaksa terputus.

Sakura wajahnya semakin memerah. Kondisi jantungnya lagi-lagi mengalami penurunan fungsi. Ia menjadikan lengan kanan Sasuke sebagai alas pukulnya.

Sedangkan Uchiha Sasuke lagi-lagi hanya tersenyum tipis. Tuhan, kenapa menggoda istrinya rasanya bisa semenyenangkan ini?

"Siapa yang mulai lebih dulu?" Laki-laki itu mengangkat kedua alisnya.

Sakura mengibas-kibaskan tangannya di depan wajah. Astaga udara terasa sangat panas. "Tapi 'kan—"

"—Hn," potong Sasuke cepat. Ia jadi kasihan melihat Sakura yang sudah semakin salah tingkah. Tapi sekali lagi—maaf ini sangat menyenangkan.

Sakura langsung cemberut sembari memalingkan wajah. Ia memejamkan matanya erat-erat. Astaga bagaimana ia bisa berbagi ranjang malam ini dengan suaminya? Apa ini saatnya bagi Sakura untuk melarikan diri jilid dua?

Perempuan itu langsung teringat sesuatu. "Sasuke-kun, maaf. Apa aku melukaimu?" Ia mengacungkan telunjuknya pada bibirnya. Emerald-nya langsung membulat saat melihat bibir Sasuke yang ternyata berdarah. "Astaga!"

Panik langsung mengambil alih tubuh Sakura. Dengan cepat ia meraih tisu dan menekan bibir suaminya dengan tisu tersebut, salah satu upaya untuk membuat perdarahannya berhenti.

Uchiha Sasuke? Meskipun wajahnya tenang tapi ia benar-benar menikmatinya. Laki-laki itu tak mampu menahannya lagi. Ia memalingkan kepalanya, menutup wajah dengan telapak. Bahunya bergetar naik turun secara perlahan.

Sakura semakin termangu. Apa suaminya ... sedang tertawa tanpa suara?!

Melihat hal tesebut mau tak mau membuat perempuan itu tertular. Ia jadi ikut tertawa sampai kedua matanya menyipit. Melihat pemandangan langka ini sangat memenuhi rongga dada Sakura. Hatinya terasa hangat.

Sayangnya, acara tertawa mereka terpaksa terhenti begitu Sakura mendapatkan notifikasi dari ponselnya.


.

Special Service

Message

Today 23:00

Nona, aku sudah menemukannya. Uzumaki Karin.

.


Seketika, perempuan itu terperangah. Ia menggulirkan emerald-nya menuju jelaga milik suaminya.

"Orang yang membantuku bilang bahwa Karin-nee sudah ketemu!"

.

.

.

.

.

tbc

.

13/09/2020

.


a/n: Mampus lu pada jadi nyamuk ngeliatin SasuSaku doang di chapter ini WKWKWKWK /dikroyok. Ya ampun gaes sekali lagi aku nda bisa bikin kiss scene awkwkwk semoga feel uwu-nya tetap kena, yaa! Maaf Sakura kubikin mewek mulu T_T /di-shannaro sampe geprek.

Terima kasih buat yang sudah mampir dan bahkan meninggalkan jejak. Maaf yang kemarin gak sempat kubalas satu-satu T_T tapi kubaca semua kok! Dan benar-benar bikin semangat. Semoga kalian semua sehat-sehat terus, ya! :"))

p.s: Karena kembali menjadi manusia sibuk, update-nya akan jadi siput. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Terima kasih banyak. Anw, selamat tahun baru! Semoga tahun 2021 menjadi tahun yang baik untuk kita semua. Aku mohon maaf kalau ada salah-salah yaa x)