.
The Interstellar Nation Army Become a Mercenary
Chapter 7
Persiapan (Bagian 2)
.
.
.
Naruto POV
Piña menarikku ke tempat di mana terdapat dereran pedang yang disusun rapi, aku menduga kalo ia ingin aku mengambil salah satu dari mereka.
Sebenarnya, aku sudah memiliki senapang plasma dan pistol laser sebagai senjata utamaku. Namun berhubung kedua senjata itu memiliki umur permakaian yang terbatas, akan lebih baik jika aku memiliki beberapa senjata altenatif.
Sebuah pedang, yah? Ini agak mengingatkanku pada beberapa jenis game VR yang pernah kumainkan dulu.
Game VR dengan konten sejarah peradaban awal bumi merupakan favoritku. Aku memainkan game bergenre itu hampir setiap hari ketika aku masih SMP.
Salah satu game VR favoritku adalah "Ghost of Tsushima". Sebenarnya ini merupakan versi remake dari game RPG Adventure berbasis Open World yang sudah ada sejak lama sekali.
Berlatar belakang pada abad kedua belas sesudah masehi, sebuah imperium terbesar yang pernah menjadi kekuatan militer yang sangat ditakuti oleh dunia, Kekaisaran Mongol, pernah mencoba menginvasi daratan Jepang sebanyak dua kali.
Pemain akan berperan sebagai salah seorang samurai yang berhasil selamat dari pertempuran awal di pulau Tsushima, sebuah pulau yang berada di sisi timur dari semenanjung Korea dan sekaligus merupakan setting utama dari game ini.
Salah satu kelebihan dari versi remake-nya adalah fitur PvP (Player vs Player) yang dapat dimainkan secara online.
Aku sempat ketagihan memainkan game ini selama setahun. Namun seiring berjalannya waktu, aku mulai merasa bosan dan kemudian berhenti memainkam game itu setelahnya.
Sebelum berhenti, aku sempat berpartisipasi ke dalam sebuah event berskala besar yang mencangkup hampir semua pemain di game tersebut.
Event itu membagi para pemain menjadi dua tim yang dimana kedua belah pihak diharuskan untuk membunuh sebanyak mungkin pihak lawan dan merebut benteng-benteng pertahanan guna memenangkan pertempuran.
Di luar dugaan, ternyata aku menempati peringkat ketujuh berdasarkan jumlah pemain yang berhasil kubunuh.
Aku muncul dalam berita online dan mendapatkan hadiah berupa saldo cash yang tidak sedikit. Yah, berkat itu. Aku bisa membeli beberapa komponen PC keluaran terbaru yang memiliki performa yang jauh lebih baik dari punyaku yang udah usang.
Aku mengambil salah satu pedang yang agak mirip dengan yang kugunakan di dalam game dan kemudian sedikit mengambil jarak dari Piña.
Pedang ini memiliki sisi tajam dan sisi tumpul di kedua sisinya. Meskipun menampilannya agak ramping, ternyata pedang ini cukup berat. Ketika aku mengayunkannya dengan sebelah tangan, hampir tidak ada tekanan udara yang terasa digenggamanku.
Ini pedang yang bagus.
Tidak seperti pedang dari negeri barat, yang satu ini lebih mengingatkanku pada saber atau pedang kehormatan yang biasa digunakan dalam upacara militer.
Mari ingat kembali bagaimana terakhir kali aku mengayunkan pedang.
Pertama, aku mengambil sikap bertarung dengan mengangkat pedangku setinggi ujung rambut dan memiringkannya hingga mencapai 180°. Sedangkan tanganku yang satunya, tangan kiri, aku tekuk hingga setinggi bahu.
Aku mencoba mengingat kembali sensasi itu dan terus menerus mengayunkan pedang yang ada di tangan kananku.
Ah~ sekarang aku ingat. Hari-hari itu dipenuhi dengan gairah yang sangat membara.
Semakin lama aku mengayunkan pedang, semakin aku mengingatnya. Yah, akhirnya aku bisa ingat sekarang – gerakan penghabisan yang kugunakan saat turnamen dulu.
Teknik Pedang Rahasia Aliran Sakai: Atomic Slash!
Itu adalah jurus 32 tebasan dengan kecepatan serta kekuatan ofensif yang sangat ekstrim.
Tubuhku mulai memanas setelah beberapa kali mengayunkan pedang.
'Wise, beri aku beberapa dukungan.'
[Roger.]
Aku mentransmisikan gambaran mentalku ke nano-machine dan mencoba semua kombo dasar yang pernah kugunakan di dalam game.
Semakin aku mengulangi kombo itu, semakin baik pula gerakanku. Mungkinkah ini karena muscle memory atau semacamnya?
Ayo coba gerakan yang lebih kompleks.
Oh kawan, ini benar-benar keren!
Aku secara bertahap memantapkan gambaran Atomic Slash di dalam kepalaku. Sekarang aku benar-benar mengingatnya! Ini adalah gerakan yang kupraktekkan sebanyak puluhan ribu kali!
Saat gambaran itu semakin sempurna, aku melancarkan Atomic Slash yang sebenarnya.
...
Piña POV
Sir Osbern sejenak tampak bingung, namun ketika ia melihat deretan pedang itu, tatapan matanya kemudian berubah. Di langsung beranjak pergi menuju pedang milik Agnes.
Aku sangat terkesan dengan intuisi tajam Sir Osbern. Pedang milik Agnes sering kali dianggap remeh karena menampilannya yang terlihat ramping, namun sebenarnya itu adalah pedang pusaka dengan kualitas yang baik.
Aku pernah diberitau oleh Agnes bahwa pedang ini merupakan pemberian dari salah seorang kenalannya. Ini ditempa dengan menggunakan metode yang tidak kami kenal, sehingga tidak dapat ditiru oleh orang lain.
Seperti yang diharapkan oleh Sir Osbern! Dia bisa menilai kualitas dari sebuah pedang hanya dengan sekali lihat!
Sir Osbern kemudian mengambil beberapa jarak dariku, menyiapkan kuda-kuda dan menarik pedang dari sarungnya. Aku akhirnya bisa menyaksikan kecakapan berpedang miliknya.
Pada awalnya, dia hanya mengayunkan pedang secara normal. Ayunan itu sepertinya hanya untuk melemaskan bahunya yang terasa kaku. Pedang secara perlahan berayun makin cepat dan semakin cepat. Dia kemudian melancarkan serangkaian serangan. Sungguh teknik berpedang yang indah!
Setelah itu, Sir Osbern lalu melakukan serangkaian teknik berpedang yang tidak dikenal satu demi satu. Teknik itu sepertinya bukan dari sekolah pedang manapun yang kutahu. Akan sangat sulit menghadapi teknik-teknik itu jika dipaksa untuk berduel satu lawan satu.
Tunggu, berapa banyak tebasan yang ia lakukan tadi?! Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas!
Sir Osbern perlahan membuka matanya. Seluruh auranya menjadi sangat tajam. Dia hanya berdiri di tempat dengan sebilah pedang yang berada di tangan kanannya, namun aura yang ia keluarkan begitu intens. Ini hampir seperti ia mampu membunuhku dari jarak jauh.
Detik berikutnya, teknik itu kembali dilepaskan. Itu adalah teknik serangan bertubi-tubi yang sangat cepat. Dan bukan hanya terdiri dari tebasan pedang, namun itu juga disatukan dengan teknik beladiri seperti tendangan dan sikutan. Serangan bertubi-tubi itu terus berlanjut tanpa henti. Gerakan terakhirnya sangat tajam, benar-benar serangan menukik yang tak kasat mata.
Aku terpaku dalam diam.
Teknik berpedang itu sangat indah seperti tarian yang anggun. Elemen-elemen itu tidak muncul dalam sekolah berpedang manapun. Tidak seorang pun yang bisa memblokir teknik pedang itu jika dipaksa berhadapan dengannya.
Teknik pedang ini pastinya adalah kartu truf milik Sir Osbern. Dia secara terbuka mengizinkanku untuk melihatnya.
Bagi pendekar pedang manapun, jurus terkuat mereka sama pentingnya dengan nyawa. Kecuali jika itu antara guru dan murid atau tuan dan pelayannya, itu bukanlah sesuatu yang bisa diperlihatkan ke sembarangan orang. Setelah itu diperlihatkan, artinya sang pendekar pedang mempercayai orang tersebut dengan nyawanya.
Dadaku menjadi panas atas kepercayaan yang Sir Osbern berikan padaku. Aku tidak bisa bilang bahwa aku dan Sir Osbern telah saling membangun hubungan satu sama lain. Namun jika seseorang tidak berusaha untuk percaya, maka tidak ada yang memulainya.
Ini adalah cara Sir Osbern menempatkan kepercayaannya padaku.
Aku juga akan percaya padanya!
...
