Daylight Daybook

Kimetsu no Yaiba © Gotouge Koyoharu

Fiksi ini ditulis oleh 2U3ShiRo dengan mengambil prompt "Intertwined"

(952 words)

Warning : ObaMitsu! AU! Yokai(?)! Obanai (sepertinya)OOC

No commercial profit taken.


.

Menjadi dewasa berarti waktu yang dilalui akan terasa semakin cepat. Banyak yang bilang seperti itu. Meski baru menginjak lima belas, namun waktuku melesat layaknya kembang api. Tahun demi tahun berlalu dengan cepat, Aku mengintip dari jendela lantai dua kamar, menonton Tanjirou dan beberapa anak laki-laki yang berlarian menuju tangga kuil, membawa aneka jajanan dari festival di tangan.

Angin musim panas berdesir, mengantarkan aroma tsuyukusa yang terasa manis, diiringi alunan musik khas festival musim panas. Kalau diingat-ingat lagi, ini akan menjadi festival musim panas pertamaku di kota ini setelah lima tahun menghabiskan waktu di Tokyo, makanya aku sangat antusias saat Shinobu-chan mengajakku ke sana.

"Mitsuri."

Aku menunduk dan menemukan Shinobu-chan yang sedang melambaikan tangan dari jalanan di depan rumah. Kubalas lambaian tangannya lalu mengisyaratkan untuk langsung masuk ke dalam rumah. Kami bertukar cengiran begitu dia berdiri di depan pintu kamarku yang terbuka. Shinobu-chan tampil manis dengan yukata bercorak bunga-bunga musim panas dan jepitanberbentuk kupu-kupu di rambut. Dia membantuku memasangkan yukata dan obi dengan cepat, lalu mulai menata rambutku layaknya seorang profesional.

"Mungkin kamu bisa bekerja sebagai penata rambut di masa depan," kataku sambil memilih-milih hiasan rambut.

Shinobu-chan cuma tersenyum kalem. Dia menghentikan gerakannya sejenak lalu mengarahkan jari telunjuknya ke salah satu kanzashi di hadapanku. "Bagaimana kalau yang itu saja?"

Aku melirik kanzashi yang dipilihkan Shinobu-chan. Berbentuk tusuk konde dengan motif bunga api yang dihiasi untaian bunga wisteria putih. Sekilas membangkitkan rasa rindu saat menyentuhnya, seakan benda itu menyimpan sebuah kenangan istimewa tentangku. Tapi, dari siapa?

"Mitsuri?"

"Ah, iya! Yang ini saja."

Tangan Shinobu-chan kembali bergerak dengan kecepatan terbang capung, memasangkan kanzashi tadi di rambutku, dan tersenyum puas begitu prosesnya selesai. Dia membiarkanku mengagumi mahakaryanya sebentar lalu mengulurkan tangan.

"Berangkat sekarang, yuk!"

Sambil bergandengan tangan, aku dan Shinobu-chan menaiki tangga menuju kuil. Di antara lautan manusia yang ada di depanku, kurasakan sepasang mata mengawasiku dari kejauhan. Sekilas terdengar suara lonceng berdenting di telinga, menyisakan jeda panjang dalam pendengaran, seolah mengundangku agar segera menghampirinya. Lalu semuanya mendadak lenyap saat tangan Shinobu-chan mendarat di pundakku.

"Tarian festivalnya sebentar lagi dimulai. Mau ikut menari?" tanyanya.

"Tapi aku nggak tahu tariannya," keluhku.

Shinobu-chan tertawa. "Aku juga. Tapi nggak apa-apa, kita bisa ikut-ikutan berputar saja."

Kami menyelip di antara barisan pengunjung yang ingin turut serta, lalu mengikuti gerakan masing-masing. Shinobu-chan mengayun-ayunkan tangan dan berputar-putar dengan semangat, sementara aku mengikuti arus. Berputar, menepuk-nepuk tangan, dan melangkah, lalu berputar lagi, semakin lama semakin cepat. Untuk sesaat aku merasa bermimpi. Kembang api melesat seperti roket dan bermekaran di antara hideriboshi, membakar dan mewarnai langit dengan warna kaleidoskop. Lalu begitu terbangun, sosok Shinobu-chan telah menghilang dari sisiku.

"Shinobu-chan?"

Dengan susah payah, aku menyelip di antara kerumunan orang yang masih menikmati festival, berharap bisa menemukan sosok Shinobu-chan di tengah keramaian sambil terus meneriakkan namanya. Kakiku mulai terasa pegal, jantungku berdenyut sakit. Aku mulai tenggelam di dalam lautan manusia dan akan segera terjatuh karena menabrak orang lain. Tapi tidak. Seseorang memegangi tanganku, sesaat sebelum tubuhku bergesekan dengan tanah.

"Lewat sini."

Suaranya terdengar seperti anak laki-laki, dengan yukata bergaris hitam-putih. Aku membiarkannya berlari sambil menggandeng tanganku dan sekali lagi, kurasa aku kembali bermimpi, karena bisa menyelam di antara banjir manusia dengan mudah. Seakan kami bisa menembus tubuh setiap orang yang ada. Lalu suara lonceng kembali terdengar, membangkitkan kenangan lama yang sempat terlupakan.

Sebuah tangan besar membelai kepalaku, menggandeng aku yang sempat tersesat di festival, menyusuri jalan yang diwarnai cahaya lentera merah di belakang kuil. Aku mendongak, memperhatikan wajahnya yang tertutup perban di mulut.

"Simpanlah ini, dengan begitu jiwa kita bisa terus terhubung."

Kuterima kanzashi pemberiannya lalu mendongak lagi. "Apa kita bisa bertemu lagi?"

"Aku tidak tahu. Tapi kalau kamu menginginkannya, aku akan selalu menunggumu di sini."

"Kalau begitu, aku akan berjanji!"

Tidak ada lagi kerumunan orang-orang di festival. Entah sejak kapan suara lonceng tadi terhenti, lalu genggaman tangan kami terlepas. Jalanan dikelilingi cahaya lentera merah. Dan di antara megahnya deretan gerbang kuil, sosoknya berdiri di hadapanku.

"Kamu masih menyimpan kanzashi-nya ya."

Aku membuka mulut, hendak mengatakan sesuatu tapi kututup lagi, lalu kubuka lagi, dan kembali kututup. Semuanya terasa begitu ajaib sampai aku tidak tahu harus menjawab apa.

"I… guro-san?"

Tatapan matanya melembut lalu mengangguk. "Kamu tahu, aku menyukai senyuman yang kamu berikan di festival tahun lalu."

"Kurasa maksud Iguro-san, lima tahun lalu. Sekarang aku sudah lima belas tahun," kataku.

"Bagiku semuanya terasa seperti kemarin."

Hening sesaat.

Iguro-san mendekat secara perlahan dan kini jarak kami hanya berbeda satu langkah. Dia menunduk, lalu membuka mulut.

"Kenapa sih, waktu harus berlalu lebih cepat? Padahal waktu kamu masih kecil, aku dengan mudahnya menggandeng tanganmu kesana kemari. Sekarang rasanya aku perlu lebih banyak keberanian untuk melakukannya."

Bahkan di musim panas, malam tetap terasa dingin. Tapi entah mengapa, kali ini terasa lebih hangat dari biasanya. Ah, iris Iguro-san terlihat seperti bulan purnama keemasan, begitu indah dan misterius. Kulihat bayanganku yang tenggelam di dalamnya, dilukis dengan warna merah merekah seperti permen apel. Aku memejamkan mata begitu tangannya mendekat, membelai pipiku dengan lembut, dan begitu aku membuka mata, kurasakan sosoknya tersenyum di balik balutan perban.

"Terima kasih karena telah menepati janjimu."

Aku tersenyum, menggenggam erat tangan Iguro-san sambil kembali memejamkan mata. Sebentar saja, biarkan aku merekam ini di dalam memoriku. Kurasakan Iguro-san mendekat dan menempelkan keningnya di dahiku, lalu pelan-pelan berbisik.

"Aku menunggumu di festival selanjutnya."

"Mitsuri! Mitsuri!"

Terlihat ekspresi panik sesaat yang berubah menjadi lega di wajah Shinobu-chan begitu aku membuka mata. Kuedarkan pandangan ke sekeliling dan melihat kerumunan pengunjung festival yang mulai berkurang.

"Aku mencarimu kemana-mana dan tiba-tiba saja kamu terbaring di depan kuil," keluh Shinobu-chan. "Kamu nggak apa-apa, kan? Mau pulang sekarang?"

Aku tersenyum kecil lalu mengangguk. "Yuk."

Kembali bergandengan tangan seperti sebelumnya, aku dan Shinobu-chan menuruni tangga dengan hati-hati. Aku menoleh ke belakang, menemukan sosok Iguro-san yang berdiri di ujung anak tangga, dan mengulum senyum.

"Tunggu aku, Iguro-san."


FIN!


A/N : Mulai nggak tahu harus menulis apa di A/N karena otakku yang mengingat terlalu banyak informasi nggak menemukan kata-kata bagus untuk dipajang di A/N. Niumi harap kalian tetap menikmati fict dan karya-karya yang dibuat dalam project ini.

Glossarium :

Tsuyukusa : tanaman commelina communis (maaf, kurang tahu bahasa Indonesianya)

Obi : sabuk pinggang dari kain yang dipakai sewaktu mengenakan kimono/yukata

Kanzashi : hiasan rambut tradisional Jepang, biasanya beraneka jenis seperti, jepit rambut, tusuk konde, dll

Hideriboshi : Kigo (kata musiman), mengacu pada bintang yang terlihat di langit malam yang sudah lama tidak turun hujan.