Sring!
Sebuah rantai gelap meluncur dari lingkaran sihir ketika Naruto belum siap, rantai itu melilit nya kuat kemudian menarik tubuh Naruto. Tubuh yang sedang telanjang tersebut kemudian ditarik paksa; berdiri dengan tangan terbuka lebar.
"O-ophis?!" Ia gugup, saat sosok anak kecil imut itu tersenyum manis ke arahnya sembari berjalan mendekat.
"Nee... Naruto-kun~" Tinggi Ophis kira-kira setinggi perut Naruto cukup mudah baginya mengelus area bawah Naruto dengan lebih leluasa. "Bisakah aku meminta imbalan atas bantuanku~"
Ujar Ophis, sembari tangan lentiknya mulai menyentuh penis Naruto. Penis itu dengan mudah menegang, meskipun Naruto berusaha menahannya. Ophis terkekeh singkat, perlahan ia mulai melepas pakaiannya, cukup mudah melucuti pakaian set tersebut.
"Baiklah mari kita mulai-!" Ophis memeluk pinggang Naruto, dada kecilnya menyentuh penis Naruto yang kemudian menjepit dengan tubuhnya. "Ooohhh~"
Naruto mencoba menggigit bibirnya agar menahan apapun bentuk suara aneh yang bisa meluncur kapan saja, sedangkan Ophis semakin liar menggesek tubuhnya pada penis Naruto, ia tak segan mendesah panjang.
—Suaranya begitu membuai, mencoba terus meruntuhkan iman Naruto.
"Tubuh ini menjadi kekar setelah kau menjadi kuat," Ophis meraba sekujur tubuh Naruto, yang memiliki otot sedang di beberapa tempat, contohnya di perut itu terdapat sixpack yang begitu seksi.
Ophis mulai menjilat pusar Naruto, terkadang ia meremas zakar Naruto sambil terus meggesek penis Naruto menggunakan payudara kecilnya. Perlahan tapi pasti, napas Naruto mulai panas, tubuhnya berkeringat menahan birahi yang mulai naik.
"~ara, penis ini semakin panas-! Apa udah mau bucat ya?" Ophis mendongak, menatap wajah Naruto yang menunduk ke bawah, napas panas itu bahkan mampu menyentuh wajah Ophis.
"Baiklah, jangan ditahan Na-ru-to-!" Ophis membuka mulutnya, dengan mulut kecil itu dia hanya bisa memasukan kepala penis Naruto, tak lebih. Namun Ophis menggunakan tangannya mengocok penis Naruto, berkat keringat pemuda tangan Ophis menjadi licin dan mampu bergerak dengan elegan.
"-sluurpp!" Di tambah Ophis yang selalu menghisap penis Naruto di sela kocokannya, menyedot terus menerus isi yang ada tersimpan di tubuh Naruto.
Tubuh Naruto menegang, tanah di sekitar ikut berguncang saat Naruto mengeluarkan auranya agar mampu bebas dari rantai Ophis, namun semua usahanya sia-sia. Pada akhirnya, ia hanya bisa mengerang saat tak mampu menahan spermanya menyembuhkan keluar, Ophis yang sedari tadi menghisap penis Naruto terkejut oleh rasa panas dari sperma Naruto.
"Huummhh...-" Mulut Ophis sedikit mengembung saat sperma Naruto memenuhinya, memaksa Ophis melepaskan penis Naruto dari mulutnya. "Glek! Puah..."
Ophis mencoba meminum semua cairan lengket tersebut, namun bibirnya yang kecil masih membiarkan beberapa tetes meluber keluar, sehingga mengotori dada mungil dan tubuh Ophis.
"Aku merasa otakku akan berhenti bekerja..." Ophis bergumam, tatapan matanya terlihat gusar, menatap ke arah penis Naruto yang masih berkedut keras.
"Tu-tunggu Ophis!" Naruto kembali menjerit saat sepasang rantai muncul, mengait sepasang kaki Naruto.
—Tubuh Naruto terjungkir balik, kali ini ia berbaring dengan kaki dan tangan di ikat.
Naruto tersenyum canggung saat melihat Ophis menaiki tubuhnya, tepatnya menduduki wajah Naruto.
"Nee... Naru, penismu terlalu besar, jadi cobalah membuat tempat ini basah sebelum dimasukin ya~" Pada akhirnya Naruto menyerah.
Ia mengubah tempat ia berbaring menjadi sebuah kamar yang luas, dengan ranjang lebar. Namun ia tetap dalam posisi masih terikat rantai, bagaimana pun kemampuannya hanya bisa mengubah dimensi ini.
Ophis yang mempersembahkan vaginanya di mulut Naruto dalam posisi memunggungi mendesah nikmat, saat lidah basah Naruto mulai menyentuh bibir vaginanya.
—Dengan kehendak naga yang saling tercampur diantara Naruto dan Ophis, setiap cairan dari pasangan akan menjadi nutrisi bagi mereka.
Aura mana mereka menguar, satu emas dan yang lainnya hitam. Setiap mana tersebut akan memberikan efek perangsang bagi Naruto dan Ophis.
—Berkat tersebut, akhirnya mereka saling menjilati bagian intim, dengan penuh nafsu.
Ophis mengulum Naruto dengan beringas, bahkan sampai masuk melewati kerongkongan karena kepanjangan penis tersebut. Sedangkan Naruto menusukkan lidahnya sedalam mungkin dan mengaduk isi vagina Ophis.
"Sluuurpp-!" Suara hisapan mereka menyatu, dan mereka saling berlomba menghisap energi satu sama lain.
Aura emas dan hitam saling bercampur melengkapi dan mengisi kekurangan dari masing-masing pemilik.
Hingga pada puncaknya rantai yang mengikat tangan Naruto lepas tanpa diketahui oleh Ophis yang masih menikmati sensasi rasa pre-cum Naruto.
Prank! Tanpa sadar kekuatan Naruto telah tumbuh melampaui seorang Mou, ia mampu melepaskan rantai yang mengikatnya dengan mudah.
Naruto yang bebas langsung meremas pantat kecil Ophis, dan mendorong tubuh mungil tersebut. Pikirannya saat ini hanya dipenuhi oleh birahi, Ophis tak sempat bereaksi saat Naruto membalikan keadaan.
—Dalam keadaan tubuhnya menelungkup, Naruto menghimpit tubuhnya.
"Aku sudah tak tahan, Ophis-chan!" Penis keras yang basah itu perlahan mulai menembus ke dalam vagina Ophis yang sempit, masuk secara perlahan yang akhirnya merobek selaput dara, darah segar berwarna keemasan pun mengalir.
"Rooooaaaarrrgggg-!" Raungan naga mengguncang dimensi tersebut saat penis Naruto berhasil merobek keperawanan Ophis.
Aura emas dan hitam diantara tubuh mereka meluap ke atas dan membentuk sosok naga di langit, naga itu terbentuk dari penggabungan aura emas-hitam, menjadikan wujud naga itu setengah hitam dan setengah emas.
"Aaahhh..." Ophis mendesah nikmat saat penis Naruto merobek perawannya, dan terus masuk menyentuh ujung di titik G-Spot.
Berbeda dari makhluk lain, naga akan merasa kenikmatan jika perawannya ditembus. Naruto pun begitu, ia telah kehilangan kendali setelah merasakan hangat dan licin vagina Ophis, ia langsung menggenjot vagina Ophis dengan tempo cepat.
"Nggaaahh... ah... ah... ah!" Ophis kegirangan saat penis Naruto membentur titik G-Spotnya berulang kali. Sensasi panas penis Naruto pun mulai membuat ia ketagihan.
Di langit, aura hitam yang ada pada naga mulai mengalir ke tubuh Naruto. Pada dasarnya itu merupakan energi yang terkandung pada perawan naga, tentu saja milik Ophis.
Vagina Ophis begitu ketat, membungkus penis Naruto dalam pijatan yang kuat, selang beberapa menit mereka bercinta, penis itu tak mampu lagi menahan kenikmatan puncaknya.
Naruto menarik lengan mungil Ophis saat spermanya akan keluar, memperdalam di tusukan terakhir. "Aku keluar Ophis-chan!"
Crooot! Crooot! Crooot!
Ophis membuka mulutnya lebar saat cairan panas Naruto mengalir di rahim kecilnya, perutnya terlihat bergerak saat sperma Naruto mulai memenuhi Ophis.
"Rrrrrooooarggg-!" Diiringi dengan raungan naga, aura emas yang tersisa dilangit masuk ke dalam tubuh Ophis, memperkuat dirinya. Tubuh Ophis dan Naruto kemudian bercahaya, mengeluarkan aura menenangkan dan mereka merasakan sensasi aneh saat masih menikmati perasaan ejakulasi mereka.
Naga memiliki hubungan aneh diantara mereka, bagi betina yang telah di perawani oleh si jantan, akan meninggalkan tanda kontrak pernikahan di bagian perutnya.
—Maka setelah di kawinin naga betina tidak akan pernah mencari pasangan baru.
Sedangkan jantan, mereka bebas memiliki pasangan sebanyak apapun, meski begitu setiap pasangan wanita mereka tidak akan pernah bertengkar satu sama lainnya.
—Dan Ophis saat ini telah menerima tanda tersebut, tampak sebuah lingkaran sihir berlambang naga di perut kecilnya.
"Oh, Ophis-chan. Aku masih menginginkanmu-!" Bisik Naruto lirih di telinga Ophis.
"Kau bebas menggunakan tubuhku sepuasmu, oh tuanku-!"
"Kalau begitu, puaskan aku!" Naruto duduk di ranjang, dengan tangan ke belakang sebagai tumpuan. Sedangkan Ophis berbalik, berhadapan dengan Naruto.
—Untuk pertama kalinya bibir mereka bertemu, ciuman itu terlihat penuh nafsu dan amat kasar. Melilit lidah satu sama lain seakan tak akan pernah lepas.
Ophis juga memulai memuaskan penis Naruto. Pinggulnya bergerak ke sana kemari menggoyang batang keras tersebut.
Plop! Plop! Plop! —Kanan! Kiri!— Atas! Bawah!
Sedemikian rupa Ophis menggoyang pantatnya sambil terus berciuman.
"Puah...!" Di saat ciuman terputus, Ophis juga ikut meletakan tangannya ke belakang, kali ini Naruto yang menusukkan penisnya, dengan tangan meremas pantat Ophis Naruto mempercepat genjotan penisnya.
Dada kecil Ophis juga ikut menjadi sasaran Naruto, meskipun bentuknya masih kecil tetapi pentil Ophis begitu keras karena terangsang. Yang masih mampu untuk menghibur Naruto, dengan cara mengenyot liar puting tersebut.
"Uuuh! Naruto-kun, aku keluarrrh!"
Pada akhirnya Ophis menjerit saat orgasmenya, vaginanya menyempit dan semakin basah.
"-Siial!" Naruto mengumpat saat sadar bahwa ia juga tak mampu menahan kenikmatan dari pijatan Ophis yang sedang mengalami orgasme, dengan membaringkan tubuh Ophis Naruto menggenjot penisnya dengan kecepatan maksimal.
"Oh... ah... uhh... mmhh.. math-!" Ophis meracau tak karuan. Tak lama kemudian tembakan kedua sperma Naruto memenuhi rahim Ophis.
Ia ingin menjerit senang, tapi bibir Naruto dengan cepat mengunci bibirnya, ciuman panas pun diberikan oleh Naruto.
"Puuah!" Naruto melepas ciumannya, bersamaan dengan ditariknya keluar penis tegang itu dari dalam tubuh Ophis. Penis itu masih terlihat bersemangat, Naruto mengarahkan penisnya ke mulut Ophis, dan gadis itu menerimanya dengan senang hati.
"Nampaknya ini masih belum puas Ophis-chan..."
"H-aai, Na-lu-o cama!" Gumam Ophis kepayahan saat penis Naruto keluar masuk mulutnya.
—Dan pada akhirnya mereka melakukan seks selama dua hari dua malam jika dihitung di dunia nyata.
Sebelum akhirnya sama-sama ketiduran dengan raut kepuasan, dan jangan lupakan senyum kebahagian mereka.
Helloo~ dan beginilah awal dan clue dari part ini, intinya bakalan ada harem besar. Kalian boleh saranin berbagai chara female, bahkan dari anime lainnya, asalkan mereka memiliki kekuatan naga!
Part ini bakal liar, semua fantasy kalian akan muncul di part ini. Boleh itu main theresome dan sebagainya.
—Tapi tunggu dulu, ada beberapa kesibukan yang mungkin akan membutuhkan fokus ku nantinya, jadi untuk tiga hari kedepan aku tak akan update dulu.
Sekian~
