Disclaimer: Samurai Warriors belongs to KOEI TECMO. Kimura Siblings belongs to RosyMiranto18. Kobayakawa Shinhana, Nomi Nagachika and Kikkawa Chie belongs to Hayashinkage17. Cover illustration by me.
Warning: Mainly Tōdō Takatora x Suzu (OC). OOC yang mungkin tidak disengaja atau sengaja demi alur cerita. Ada typo, diksi dan narasi yang tidak baku. Diusahakan ceritanya bisa disusun berdasarkan dari game dan atau sejarahnya serta saran dari teman. DLDR, NO FLAMES. REVIEW PLEASE!
-XoX-
Bell of the White Hare
-XoX-
CHAPTER 30
The Black that Dirtied Her White
-XoX-
"Tugas kali ini memang beresiko untukmu. Tapi hanya kamu yang bisa melakukannya."
Manik merah delima itu beralih ke sebuah botol kecil yang terbuat dari keramik di tangannya. Tidak, dia tidak sedang berhalusinasi. Malah syok yang mendalam setelah mendengar permintaan Hideyoshi.
Ingin sekali dia membuang racun itu tapi dia tak mungkin bisa melakukannya. Bagaimana tidak, tangannya bergemetar dan berkeringat karena tak ingin memberontak pada sang Tenkabito. Hanya orang bodoh yang ingin mati konyol yang mau melakukannya.
'Demi apa?' Tak perlu dipertanyakan lagi. Suzu tahu jelas apa tujuan Hideyoshi. Semua orang tahu itu. Segala yang ia lakukan adalah demi menyatukan negeri. Namun tetap saja itu tak cukup untuk menjawab seluruh pertanyaan Suzu.
'Apa hal seperti ini patut dilakukan? Bukankah mereka sudah bernegosiasi? Tak ada lagi yang perlu dikorbankan, bukan? Seharusnya kedua pihak telah berdamai. Apakah masih ada celah yang belum tertutup?'
Ketika separuh kesadaran Suzu terbawa angin; tak mampu berucap, Hideyoshi sudah bisa membaca ketegangan tersirat di raut wajah Suzu. Sebetulnya Hideyoshi sadar ungkapannya barusan masih tak cukup untuk meyakinkan Suzu. Tapi bagaimana pun juga, tekad Hideyoshi sudah bulat dari awal.
"Suzu." Wanita muda itu mengangkat wajahnya ketika dipanggil. "Bukan bermaksud sombong, tapi sejauh ini aku cukup beruntung menjadi Tenkabito."
Alisnya menyempit, namun senyuman ramah masih melekat di wajah Hideyoshi. "Namun tiap kemenangan tak bisa diraih tanpa perjuangan dan pengorbanan. Tak terhitung sudah berapa banyak musuh dan bawahanku mati. Tak terhitung pula berapa banyak kebencian dan kutukan yang tertanam."
Dari ucapannya barusan, terlintas dalam pikiran Suzu akan suaminya. Apakah itu artinya Hideyoshi sudah sadar kalau dia juga menaruh benih kebencian padanya?
"Daripada membandingkan citra burukku, harapan mereka terhadap kedamaian lebih kuat menggetarkan semangatku. Aku takkan berhenti sampai aku berhasil mewujudkan harapan mereka yang masih bertahan... dan pastinya, tanggung jawabku pada mereka yang telah tiada. Ya, menyatukan negeri ini. Kau tahu, aku sudah bisa membayangkan bagaimana saat-saat perdamaian terwujud. Aku tak sabar."
Benar. Pendirian dan kebijaksanaan seperti itulah yang dibutuhkan untuk menopang negeri. Tak salah para daimyō dan kashin tunduk padanya.
"Sejujurnya, kau tak pantas melakukan pekerjaan kotor ini. Barangkali aku sudah melewati batas. Kurasa aku sudah mengambil keuntungan dari tekadmu untuk mengikuti perang. Suamimu akan murka dan semakin membenciku setelah ini."
Kepalanya kembali terangkat, tak menyangka akan pengakuan Hideyoshi. "'Semakin'?" gumamnya. "Tu-Tunggu sebentar, Hideyoshi-sama. Tuan baru saja bilang Takatora-sama akan semakin membenci Tuan? Anu, kalau aku boleh tahu, sejak kapan Tuan tahu bahwa Takatora-sama...?"
Hideyoshi bangkit dari tempat duduknya, lalu memandang keluar jendela. "Entahlah... mungkin semenjak aku membiarkan Oichi-sama— ah, bukan... sejak insiden Istana Odani, kurasa."
"Sudah sejak awal...?" gumam Suzu.
"Aku hanya bisa mematuhi perintah Nobunaga-sama saat itu. Tapi aku tak bermaksud berdalih. Aku tahu apa kesalahanku, aku tidak menyangkalnya. Tak masalah jika pengikutku membenciku sebagai penguasa Hinomoto nanti. Keberanian dan kegigihannya demi meraih kedamaian sudah lebih dari cukup untukku. Kelak, aku akan menuai apa yang kutanam."
"..." Tak ada sepatah kata pun yang bisa Suzu lontarkan. Kedua matanya sayu, bibirnya dirapatkan.
Haruskah ia melakukan ini agar permohon permintaan ampunnya diterima akibat pandangan suaminya terhadap Hideyoshi?
Meski Hideyoshi tampak tak mempermasalahkannya, permintaan maaf hanya akan membuat suaminya semakin tidak senang. Lantas apa yang harus ia lakukan? Semua pikiran yang membebani pikiran Suzu seakan ingin pecah.
Selama ini ia tak memiliki niat tersendiri untuk meracuni orang. Hanya pernah dihasut untuk melakukannya namun tak tertuntaskan lantaran Suzu yang meminumnya. Dia jelas tahu bagaimana rasanya meminum racun. Saat-saat kematian hampir menjemputnya.
Kali ini dia harus melakukannya. Ya, lagi. Hideyoshi menaruh harapan tinggi padanya. Dia hanya perlu memasang niat demi perdamaian— seharusnya Suzu cukup berpikir sampai disana saja. Akan tetapi otaknya masih tak mau berhenti berpikir lebih dalam.
Apakah patut untuk menyingkirkan satu orang demi kedamaian di negeri ini? Masih ada yang perlu dikorbankan lagi?
Hideyoshi kembali memindahkan pandangannya pada Suzu. "Bisakah kamu pinjamkan sedikit kekuatanmu untukku juga? Tentu saja kamu berhak menolak."
Senyap kembali menyambut atmosfer dalam ruangan. Sejak tadi Hidenaga hanya bisa terdiam mendengar dan memandang reaksi istri dari bawahan setianya itu.
Suzu menaruh telapaknya di depan dada, menarik napas seraya mentramkan pikiran. Demikian seisi kepalanya mulai jernih, Suzu mengangkat wajah, lalu membuka mulut, memberikan jawaban atas permintaan yang Tenkabito berikan padanya.
-XXX-
Nagachika undur diri setelah mengiring Hayakawa masuk ke tenda Mōri, dimana istrinya masih terlelap akibat luka berat yang didapatinya. Dia tak sendirian, ayahnya Hana; Takakage juga berada di dalam. Dia telah meminta Terumoto untuk mengambil alih kewajibannya sementara ia menemani Hana.
Tatkala Takakage tersenyum pada Hayakawa seraya mempersilahkannya duduk, atmosfer canggung yang sempat menyusup diantara mereka dengan cepat menipis.
"Aku mengerti keinginanmu untuk menemui Hana. Tapi aku ingin memastikan apakah kamu sudah paham jika kedatanganmu bisa memancing keingintahuan Hideyoshi-dono?"
Suaranya lembut seperti biasa, namun pertanyaan yang diberikan padanya terdengar tegas disaat yang sama. Hayakawa menatap lurus ke mata Takakage.
"Aku tak menyesal datang, jika itu demi putriku."
Senyuman khas Takakage itu berubah sedih. "Sudah kuduga kamu akan berkata demikian."
"Setelah ini aku akan kembali ke Hōjō. Melihat ambisi Hideyoshi, kurasa perang melawan Hōjō tak terelakkan. Tapi sebisa mungkin aku akan berusaha membujuk Ujimasa untuk mempertimbangkan langkahnya."
Takakage hanya mengangguk, kemudian mengalihkan matanya kembali ke Hana.
Hayakawa tertawa kecil. "Kurasa ini bukan waktunya membicarakan perang, mengingat putri kita sedang terlelap disini." Wanita bermanik biru cerah itu mengalihkan matanya ke Hana yang masih terlelap di samping mereka. Dibelainya rambut coklat terang Hana dengan penuh afeksi. "Kuharap dia segera siuman."
Takakage mendaratkan telapaknya diatas tangan Hayakawa, saling menyalurkan perasaan dan harapan yang sama. "Tak perlu khawatir. Sejak kamu ada disini, dia pasti ingin berbicara banyak hal denganmu."
"Ya..."
Tak selang berapa lama kemudian, Hayakawa pun undur diri lantaran tak ingin memancing kecurigaan para sekutu terlalu lama. Meski berlangsung sebentar, tak ada penyesalan terpendam dalam hati kedua pihak. Malah harapan yang mereka genggam agar dapat kembali bersatu suatu hari.
"Hana," panggil Takakage. "Aku tahu kamu sudah siuman."
Tawa kecil terlepas dari mulut Hana, kemudian dibukalah matanya. Meski wajahnya masih terlihat kelelahan dan lemah, Hana masih mampu memberikan senyuman terbaiknya pada sang ayah.
"Kamu sengaja, ya?"
"Habisnya kapan lagi 'kan ayah bisa berbicara dengan ibu."
Takakage tertawa pelan. "Kamu terlalu baik."
"Lain kali, kita akan berkumpul bersama dan bercerita tentang banyak hal lagi dengan ibu. Aku akan berusaha!"
"Lakukan setelah kamu sembuh, putriku." Takakage membelai rambut coklat terang Hana dengan lembut.
Suara tirai tenda mengalihkan perhatian penghuni di dalamnya. Nagachika yang diikuti oleh Chie tertegun ketika melihat Hana. Dada mereka pun terasa lapang dan hangat. Chie menitikkan air mata. Di saat yang sama ia senang melihat Hana telah membuka matanya dan menyesal karena tak dapat melindunginya.
Chie langsung berlutut di hadapan sepupunya itu lalu memberikan pelukan erat, tak terlalu erat karena tak ingin luka Hana kembali terbuka.
Hana membalas pelukan. "Aku baik-baik saja, kok, Chie. Jangan menangis."
Hana lalu memindahkan tatapannya pada sang suami yang masih berdiri mematung. Dia tertawa geli. "Ada apa, Nagachika? Sampai sedemikian terkejut melihatku siuman."
Dia tahu istrinya berusaha menghiburnya, Nagachika membalas senyumnya kemudian duduk menghadapnya. "Maaf, bukannya aku tak percaya kau akan membuka matamu lagi. Hanya saja ketakutanku sempat merebut alih pikiranku. Padahal aku selalu percaya kalau kau wanita yang kuat. Aku sungguh senang melihatmu kembali."
Hana mengedipkan mata tak karuan mendengar pujian itu. "He-Hentikan, Nagachika. Ayah dan Chie berada di depan kita," bisik Hana tersipu setelah melihat Takakage dan Chie memandang mereka dengan senyum dan tawa kecil.
-XXX-
Para prajurit menyelesaikan segala persiapan tepat setelah matahari terbenam. Kerugian bisa dikatakan minim, kini akhirnya mereka menyempatkan diri untuk melepas penat dan merawat luka.
"Kerja kerasmu memang patut diapresiasi, Takatora-san. Tapi tak baik jika dipaksakan dengan luka seperti itu."
Diantara kashin lainnya, panglima ber-jinbaori biru itu tak menyempatkan diri untuk beristirahat di tenda. Pria bermanik biru laut itu menoleh ketika melihat Nagachika menghampirinya.
"Seharusnya kau tak disini untuk menasehatiku. Kembalilah dan rawat istrimu."
"Menyangkut hal itu makanya aku datang. Istriku sudah siuman. Aku hanya datang untuk berterima kasih."
"Aku hanya membalas budi. Tak kurang, tak lebih."
"Lalu istrimu memberiku ramuan salep untuk menyembuhkan luka Hana. Ini sangat membantu," jelas Nagachika sambil mengeluarkan obat itu dari kantong seragamnya.
"Kalau begitu simpan saja. Suzu akan lebih senang jika kalian bisa menggunakannya saat dibutuhkan."
"Ah, begitu, ya. Sampaikan terima kasihku padanya." Takatora menjawab dengan anggukan dan tersenyum tipis. "Oh, Aki-san sudah tiba."
Perhatian dua pria itu beralih ke Aki yang muncul menghampiri mereka sambil membawa sebuah hyotan. Setelah pertempuran berakhir, Tachibana Muneshige mengundang Aki untuk datang ke kastilnya. Melihat wajahnya yang merah dan matanya separuh terbuka, jelas sekali dia sehabis meminum sake.
"Muncul yang merepotkan..." decak Takatora mengurut kening.
"Ada apa ini? Walau penuh luka seperti itu, aku terkesan kau masih bisa menyibukkan diri. Benar-benar harimau yang sukar ditaklukkan," oceh Aki sambil cegukan. "Ah, tidak... kecuali ada kelinci putih yang mampu menaklukkan hati harimau." Aki terkekeh. "Bagaimana? Kalian mau secawan sake?"
Tatapan pria bermanik biru laut itu berubah ketus. "Aku menolak. Aku tak berniat meladeni orang idiot yang membuang-buang waktu dengan sake. Lalu kuperingatkan kau untuk tidak menyebut istriku kelinci jika kau tak ingin kepalamu kukoyak."
"Apa salahnya jika sesama rekan perjuangan berbagi sake? Sudahlah, menyerah saja. Ini kesempatan bagus, kau jarang meminumnya, bukan?"
Takatora yang menghiraukan ajakan menoleh ke Nagachika. "Bawa dia ke kemahnya."
"Eh!? Kenapa aku..." gumam Nagachika dengan setitik keringat menitik dari pelipisnya.
"Bah, apa boleh buat. Tapi kurasa Nagachika-dono tak keberatan menemaniku minum."
"Tidak, tidak. Saya keberatan. Sebenarnya istriku sedang menungguku," tolak Nagachika menggoyangkan tangannya.
"Tega sekali kau mengatakan itu di depan seorang perjaka sepertiku!" rengek Aki.
"A-Aki-san, tolong tenangkan dirimu!"
Tanpa mengatakan apapun lagi, Takatora pergi meninggalkan mereka berdua. Dia bertolak menuju kuil untuk melapor pada Hidenaga.
Dia berhenti ketika melihat sang majikan bersama Suzu di depan gerbang kuil. Takatora tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan dari kejauhan. Hidenaga mengusap-usap kepala Suzu. Sedangkan istrinya tak berucap sepatah kata pun dan hanya memandang kebawah.
Setelah Hidenaga kembali masuk ke kuil, Suzu baru menyadari keberadaan Takatora yang hendak mendekat.
"Ada apa? Apakah kau sedang memastikan Hidenaga-sama meminum obatnya? Kau terlalu khawatir—"
Bukannya tersenyum, malah ekspresi wajahnya seperti bunga yang layu. Lagi, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Raut wajah Suzu yang tak membawa ketenangan batin membuat Takatora mengerutkan dahi. Ditariknya tangan Suzu, mengiringnya menuju tenda mereka.
"Ayo, kita bicarakan di dalam."
Sesampainya di tenda, gadis berkepala putih salju itu masih belum membuka mulut. Kedua alisnya menyempit, tangannya bergemetar. Setelah membiarkan istrinya duduk di kursi, sementara Takatora berlutut di depannya agar dapat melihat wajah Suzu lebih dekat.
"Suzu, bicaralah," panggil Takatora seraya menautkan tangan dengan milik Suzu. Nada suaranya lembut, sebisa mungkin tak ingin membuatnya tertekan lebih jauh.
"Aku..." Dengan suara bergemetar dia berusaha memberanikan diri untuk bertatapan mata namun sangat sulit. "...Aku ingin percaya kalau yang kulakukan ini tidak membuat Tuan kehilangan kepercayaan padaku. Aku selalu saja bertindak egois."
Takatora meraih wajah Suzu dengan sebelah tangan. "...Seburuk apapun kau berpikir tentang dirimu, aku akan selalu memaafkanmu."
"Apa benar... seperti itu?" bisiknya.
Apa yang membuatnya berkata demikian? Takatora langsung menghiraukannya. "Katakan saja."
Hening sejenak, Takatora tahu kalau istrinya berusaha untuk mencabut keraguannya. Suzu menggigit bawah bibirnya. Dari kantong lengannya dia mengeluarkan sebuah botol kecil.
"Apa itu?"
"...Takatora-sama selalu memperingatkanku untuk tidak terlalu melibatkan diri dalam perang. Aku tidak ingin Tuan berpikir kalau aku tak mematuhimu. Makanya aku tak ingin pergi tanpa mengatakan apapun pada Tuan."
"'Pergi'?" Apakah dia baru saja diberi tugas untuk pergi ke suatu tempat? Tunggu, yang lebih penting dari itu... botol yang Suzu genggam tampak tak asing―
Sorot mata Takatora terpatik amarah yang tak terbantahkan. Dia mulai mengerti. Orang yang memiliki kedudukan lebih tinggi— bukan, lebih tepatnya tertinggi. Dia yang tak memandang konsekuensi antara dirinya dan Suzu, sehingga ia mampu memanfaatkan istrinya semaunya.
"Hideyoshi... 'kah?" gumam Takatora. Perasaan merinding merayapi kulit Suzu ketika sorot lembut Takatora berubah tajam penuh kebencian. Meski Suzu tahu tatapan itu bukan diarahkan padanya melainkan Hideyoshi. Ketegangan yang menyelimutinya sejak menghadap ke Hideyoshi semakin kuat.
Hal yang paling ditakutkan Suzu menjadi kenyataan.
"Kali ini apa yang dia inginkan dengan botol berisi racun itu? Jangan katakan padaku kau dipaksa untuk meminumnya."
Suzu menggeleng kencang. Memang, itu pertanyaan bodoh. Namun sangat sulit untuk mengesampingkan kebenciannya yang sudah tertanam selama bertahun-tahun.
"Lalu?"
Suzu tahu dia takkan bisa mengelak pertanyaan Takatora. Dia akan membongkar semuanya. "...Aku diperintahkan untuk meracuni salah satu panglima Shimazu, Shimazu Iehisa."
Diam lagi, Takatora mengepalkan tangannya.
"Jadi kali ini dia ingin kau mengotori tanganmu. Ternyata lebih parah dari yang aku perkirakan. Tapi kau tetap mematuhinya."
"...Takatora-sama?"
Walau Takatora tahu tak pantas mengatakan itu lantaran dia sendiri tak bisa melawan arus. Dia tahu mereka tidak bisa bertindak bodoh dan melawan Hideyoshi. Tapi tetap saja, dia tak menerima Suzu menjadi pionnya tanpa melangkahi mayatnya terlebih dulu.
Azai runtuh karenanya, istri dari majikan pertamanya juga telah mati karenanya― lalu beralasan menghormati dan mewarisi tekad mereka. Dan kini dia ingin orang yang paling berharga satu-satunya untuk mengotori tangannya?
Tak bisa dimaafkan.
Takatora langsung bangkit. Namun tak sempat melangkahkan kaki keluar, Suzu sudah langsung menahan lengan Takatora.
"Lepaskan, Suzu. Aku akan membuat perhitungan pada Hideyoshi." Nada suaranya tenang namun terisi amarah yang meluap-luap.
"Jangan, Takatora-sama! Kumohon...!"
Takatora menggertakkan gigi, menepis tangan Suzu dengan kasar, lalu kedua bahunya dicengkram kuat. "Kau seharusnya menolak! Atau apa!? Dia membujukmu dengan ocehannya atau kau masih memikirkan hutang nyawamu!? Sudah seharusnya dari awal aku mengikatmu di istana!"
Bentakan yang diterima Suzu membuat dirinya tak dapat melawan, dia terlalu takut untuk menatapnya. "Ta-Takatora-sama...! Kumohon...!"
"Kau masih saja mau membuang nyawamu demi keparat itu. Apa kau pikir setelah kau mati, hutangmu padanya akan terbayar!?"
"Aku tidak pernah berniat untuk mengorbankan nyawaku, Tuan!" Suzu meninggikan nada suaranya.
"...!" Sepasang mata pria itu terbeliak kejut.
Padahal dia hampir tak pernah melepas amarah di hadapannya. Tatapan Suzu yang menajam sesaat membuat Takatora tak bisa mengalihkan pandangan dan membeku. Sorot matanya dengan cepat melembut, namun tersirat kesedihan. Genggaman di kedua bahunya kemudian diregangkan.
Bukan, Suzu bukannya takut pada Takatora. Tapi dia takut suaminya kehilangan dirinya sendiri. Tenggelam akan kebencian dan melupakan apa yang lebih berharga.
Suzu memahami bagaimana diri Takatora. Selalu berusaha memahaminya. Begitu pula dengan Takatora.
Dia tahu percuma saja untuk menghentikannya. Sekeras apapun Takatora berusaha untuk menjauhkan dan melindunginya. Ketika Suzu sudah membulatkan keputusan, dia takkan berhenti dan takkan bisa digoyahkan. Meski dia ketakutan sekali pun, dia tak ingin menyesal. Dia sudah terlalu sering membiasakan diri menghadapi segala keburukan di negeri ini.
Konyol. Padahal dia bukan pendekar.
Bagaimana pun juga, Takatora sangat membenci ini. Sangat. Ingin sekali ia menerobos masuk ke kuil dan memenggal kepala Hideyoshi detik ini demi melampiaskan hasratnya. Membiarkan istrinya melakukan pekerjaan yang lebih kotor dan hina― akan semakin sulit bagi Takatora untuk memaafkan diri lebih dari ini.
"Memang tidak adil..." Sentuhan Takatora di bahu Suzu menurun.
Percaya, terkadang kata itu tak ada bedanya dengan menyerahkan segalanya pada orang itu sendirian.
Meski suaminya terlihat sudah memperoleh kesadarannya kembali, Suzu belum bisa menghela napas lega. Disentuhnya punggung tangan Takatora yang masih menahan bahu Suzu. "Maafkan aku, Takatora-sama. Aku bukan bermaksud untuk tidak menuruti perkataan Takatora-sama. Aku bersedia melakukannya karena ini bukan demi diriku saja..."
"...Ya, aku tahu. Kau selalu saja seperti itu," jawab Takatora tenang. Kini sentuhan kedua tangannya berubah lembut. Seraya berharap amarah serta dendamnya mampu dipadamkan setelah mendengar perasaan yang diutarakan Suzu. Lagipula, menaruh dendam diatas segalanya merupakan hal yang salah.
"Aku hanya memikirkan kalau keputusanku bisa membuahkan hasil. Salah atau tidaknya, itu bukan menjadi pertanyaan lagi. Asalkan ada kesempatan untuk mewujudkan impian kita... sekecil apapun itu."
Takatora hanya diam mendengarkan, sepasang manik biru lautnya terkunci memandang wajah jelita istrinya.
"Jika aku mampu melakukannya, pasti ada perubahan. Kita bisa semakin lebih dekat menuju perdamaian yang selalu kita impikan."
Sang suami menurunkan kedua tangannya dari bahu kurus Suzu, lalu mendengkus. "Hmph. 'Adakalanya kau harus mencabut salah satu atau banyak bagian untuk menyelamatkan negeri ini.' Seperti itukah?"
Seketika denyut jantung Suzu terasa sakit, matanya terbelalak. Lalu ia langsung menurunkan kepala, merasa serba salah. "...a-aku―"
Dia mengatakan seolah klan Azai juga salah satu 'bagian' yang pantas untuk dicabut perannya. Takatora tak menyangkali itu, dia juga tahu Suzu tak bermaksud menyinggungnya.
"Lupakan." Takatora mengibaskan tangan, memberi isyarat untuk mengabaikan ucapannya tadi. Namun tatap matanya yang selalu mengintimidasi masih tak berubah. "Tapi tetap saja, bukankah masih ada cara selain mengotori tanganmu? Apa kau harus mempertaruhkan nyawamu demi hutang budimu pada Hideyoshi?"
Suzu mengerjapkan mata dan bergumam, "...Hutang budi?"
Istrinya tiba-tiba terdiam dan berpikir lagi. Takatora memicingkan mata begitu melihat seulas senyuman kecil terulas di wajahnya.
"Apanya yang lucu?"
Suzu menggeleng. "Ah, tidak." Senyuman masih merekah di wajahnya. "Terus terang, malahan aku hampir melupakannya. Selama ini aku hanya memikirkan apa yang ingin kulakukan. Kurasa itu berkat nasihat dari Onene-sama." Pelupuk matanya menurun. "Selain itu, kalau diingat lagi, ini bukan pertama kalinya."
Takatora mengerjapkan matanya penuh pertanyaan.
Suzu membuka kedua telapak tangannya. "Saat kedua orang tuaku terbunuh, aku tak mau menerima kenyataan lalu membalas kematian mereka. Ketika aku mengayunkan pedang kemudian menyucurkan darah musuhku pada pertama kalinya. Aku pikir itu adalah saat aku memutuskan takdirku sendiri. Kurasa aku takkan bisa berbalik arah. Dunia yang kulihat sekarang tak sama lagi dengan yang dulu. Tapi jika dikatakan aku menyesal, kurasa tidak..."
Takdir. Aah, betapa bodohnya ia baru mengingat itu sekarang. Dia benar, memang benar sampai Takatora benci untuk mengakuinya.
Kedua alis Takatora menyempit, paru-parunya seakan digulung ketika diingatkan oleh masa lalu istrinya. Digenggamnya kedua tangan Suzu dan membawanya di depan wajah. Mata pria itu terpejam sembari menahan sesak di dada.
"Dan kurasa aku sudah sangat terlambat untuk memurnikan tanganmu." Matanya kembali terbuka. "Meski aku ingin membawamu lari dari segalanya sekarang juga. Kau pasti akan menolak, ya?"
"Terlambat atau tidaknya tidak perlu Tuan khawatirkan. Jika tidak, mungkin aku yang sekarang tidak akan memilih untuk berjalan bersama Takatora-sama. Ya, 'kan?"
Takatora mendengkus getir. "Kau selalu saja menang dariku." Pria itu mendaratkan kecupan di buku jemari lentik istrinya. "...Apa kau takut?" bisik Takatora, suaranya kembali melembut seperti semula.
"Aku... tidak tahu. Kurasa aku berlagak kuat lagi, ya? Tapi kalau boleh, sekali saja pun tak apa, aku ingin membuat Takatora-sama bangga padaku." Suzu tersenyum, berusaha untuk meyakinkan suami maupun dirinya sendiri.
Takatora membawa Suzu ke dalam dekap lengannya, menenggelamkan wajah di rambut perak Suzu. Memeluk ketidaksempurnaan, keburukan dan kerapuhannya.
"Saat pertama kalinya kau membunuh... kau menolak takdir karena kau amat menyayangi orang tuamu. Kau ingin mereka terus hidup. Disaat yang sama kau membalas kematian mereka karena ingin orang tuamu bangga padamu. Sekarang pun, kau sama sekali tidak berubah. Aku paham itu." Dikecupnya kepala sang istri sembari membelai rambutnya dengan lembut.
Itu merupakan untaian kata yang paling ingin ia dengarkan, dari orang yang paling memahaminya. Kedua tangannya mencengkram jinbaori biru Takatora. "Apa benar..." Suzu menyembunyikan wajahnya lantaran ingin menahan air mata. "Apa benar mereka akan bangga padaku?"
"Kalau aku salah, harap saja mereka akan marah demi kebaikanmu. Di saat itu juga, aku akan meyakinkan mereka di akhirat nanti."
Senyuman kembali terulas di bibir Suzu, dia tertawa kecil. Takatora meregang pelukan setelah puas melihat ekspresi istrinya.
"Kau sudah siap?"
Suzu menjawab dengan anggukan.
"Tunggu disini," ucap Takatora sambil bangkit.
"Eh?"
"Jangan khawatir. Aku tidak berniat untuk menentang arus... untuk saat ini. Aku akan meminta izin pada Hidenaga-sama untuk mengawalmu. Mana mungkin aku membiarkan istriku yang berharga pergi tanpa perlindungan."
Melihat ekspresi Suzu yang setengah terkejut, jelas sekali dia tak memikirkan bagaimana ia berpergian sendirian ke tempat asing. Takatora mengusap kepala Suzu, terhibur melihat kekikukan istrinya yang seperti biasa.
Takatora pun bertolak keluar dari tenda, menetapkan langkahnya kearah kuil.
Disana ia menemukan sang majikan yang tengah sibuk memberi arahan pada para prajurit. Perhatian Hidenaga teralihkan begitu Takatora menghampirinya.
"Sudah kuduga kau akan datang menemuiku. Tentang istrimu, 'kah?"
"Ya, Tuan."
Seperti biasa, Hidenaga selalu berhasil membongkar apa yang menjerat pikirannya. Bagaimana tidak, istri bawahannya diperintahkan untuk melakukan pekerjaan kotor dari Hideyoshi.
"Kau ingin bicara dengan Ani-ue?"
"Tidak, Tuan." Takatora menggeleng.
Hidenaga menaikkan alis. Pada awalnya Hidenaga menduga bawahan setianya itu akan berhadap ke Hideyoshi dan memintanya untuk menarik keputusannya. Tapi rupanya ia salah, setelah melihat mimik wajah Takatora yang tenang.
Kendati Tenkabito mengendalikan Suzu sebagai bidaknya demi keuntungannya, Hidenaga tahu Takatora takkan memaafkannya seumur hidup.
"Saya hanya ingin meminta izin untuk mengawali Suzu. Saat ini saya tak bisa menentang perintah Hideyoshi-sama. Bahkan menentang tekad istriku."
Hidenaga terkekeh. "Begitu, ya. Kali ini kau mampu memendamnya. Tidak, lebih tepatnya kau selalu saja memendamnya. Sejujurnya aku berterima kasih... dan menyesal tak bisa berbuat apapun untuk melindungi istrimu."
Takatora menggeleng lagi. "Saya berangkat."
"Ya, berhati-hatilah. Semoga beruntung."
-XXX-
Perjalanan menuju Istana Sadowara tak memakan waktu lama. Hanya dalam kurun waktu sehari, mereka sampai di tempat tujuan. Istana Sadowara, tempat dimana Shimazu Iehisa tinggal.
Kastil tersebut dibangun diatas puncak Gunung Kakusho. Di kaki gunung terdapat kuruwa dimana para pejabat tinggal. Suzu sudah cukup berpengalaman menerobos masuk ke suatu wilayah. Asalkan penjagaan tidak terlalu ketat, dia mampu bersembunyi di balik kegelapan. Namun ada satu hal yang mengganjal di mata Suzu.
"Ternyata penjagaan di kotanya terlihat tipis. Para penduduknya... terlihat memprihatinkan."
Diatas kuda yang sama, Takatora menarik tali kekang setelah sampai di tepi tebing, dimana dari kejauhan mereka dapat melihat jokomachi.
"Klan yang melindungi ketentraman wilayah ini dilanda kekalahan. Itu sama sekali tidak mengejutkan."
Manik merah delima Suzu beralih kearah matahari terbenam. Seraya mereka berada di tempat yang belum pernah mereka datangi, Suzu menikmati momen kesejukan sejenak. Takatora yakin istrinya tak ingin melewatkan kesempatan sekecil apapun lantaran tak ingin menyesal di kemudian hari.
Lalu mereka menemukan sebuah gubuk yang terbengkalai tak jauh dari sana. Menempati penginapan bukan pilihan yang pantas. Beberapa prajurit atau bahkan kerai Shimazu kemungkinan besar mengenal wajah Takatora saat di medan laga. Jika mereka menemukannya, itu sudah jelas akan memicu konflik.
"Apa benar tempat ini tak berpenghuni?" gumam Suzu dengan perlahan melangkah ke dalam gubuk tua itu.
"Harap saja," ucap Takatora sambil mengikat tali kekang kuda di pohon terdekat.
"Takatora-sama...!?" panggil Suzu semakin cemas akan jawaban suaminya.
"Kenapa? Kau mengira tempat ini berhantu?"
Suzu bergidik ngilu lalu menggeleng kencang. "Bukan itu maksudku. Bagaimana caranya nanti kalau Tuan sampai ditemukan oleh orang asing disaat aku tidak bersama Tuan?"
"Bodoh. Jangan anggap aku seperti anak kecil yang ditinggal ibunya. Kau tahu sendiri aku sudah seringkali hidup berpindah tempat. Ini bukan apa-apa."
"Um... benar juga, sih." Dia terdengar belum bisa mengubur kekhawatirannya. "Ah, lalu bagaimana dengan lukamu, Takatora-sama? Apa benar Tuan baik-baik saja?" tanya Suzu sambil menyalakan pelita dalam ruangan sempit itu.
"Lukaku tak seberapa. Daripada mencemaskanku, sebaiknya kau pikirkan rencana untuk menyelinap masuk ke istana."
"Tapi menyembuhkan diri di kuil lebih baik, bukan? Takatora-sama bisa istirahat tenang. Aku takut para prajurit Shimazu menemukan Takatora-sama disini."
Sang suami menghela napas sambil mencubit batang hidungnya. Padahal dia akan dihadapi dengan kesukaran sendirian tapi masih saja mengkhawatirkan orang terdekatnya― seringkali melupakan dirinya sendiri.
Membiarkan Suzu pergi sendirian jauh ke tempat yang jauh bahkan belum pernah ia datangi? Yang benar saja. Bahkan tanpa perlindungan akan membuat Takatora khawatir setengah mati.
Memang, walau Shimazu mengalami kekalahan, itu tidak menutup kemungkinan kalau penjagaan mereka diketatkan.
"Jangan remehkan aku. Aku tidak bodoh dan aku tahu apa yang kulakukan. Cepat atau lambat lukaku akan sembuh sendiri. Ini tidak akan membunuhku." Takatora lalu duduk disamping Suzu. "Ditambah, kalau aku terlalu lama menunggumu di kuil. Aku tidak yakin kesabaranku bisa kukendalikan. Aku bisa saja menentang tekadmu dan membuat perhitungan pada Hideyoshi yang sudah mengirimmu untuk melakukan pekerjaan kotor ini."
"Itu..." Suzu menautkan alisnya. "Bukannya itu yang namanya tindakan bodoh?"
"Oi." Lagi-lagi istrinya berbicara blak-blakan dengan santainya.
"Habis kalau Tuan terlalu cepat kehilangan kesabaran, itu artinya Tuan... tidak percaya padaku kalau aku akan kembali?"
Takatora mengerjapkan mata, lalu membuang muka. Dibuat terkelu oleh pertanyaan istrinya. Mulai lagi, temperamennya sulit dikendalikan dan ia bersikap kekanakan tiap perkara yang menyangkut istrinya. Seringkali dia terlambat menyadarinya. "Apa aku halangan bagimu?"
Tawa kecil terlepas dari mulut Suzu ketika melihat reaksi suaminya. "Padahal biasanya aku yang selalu mengkhawatirkan itu. Tapi, yah, sejujurnya aku merasa lebih aman kalau Takatora-sama bersamaku."
"Hmph, seharusnya kau mengatakan itu dari awal."
"Iya juga." Suzu tertawa kecil lagi. "Tapi dari awal aku mengerti Takatora-sama bersedia melakukan tindakan bodoh itu karena Tuan mempedulikanku. Walaupun itu tidak baik, aku agak senang. Aneh, ya?"
Takatora terkekeh, terhibur dengan kejujurannya. "Mungkin saja." Dia membaringkan kepala Suzu di pundaknya. "Istirahatlah sejenak. Aku akan membangunkanmu jika sudah waktunya."
Sembari menunggu malam datang, sepasang sejoli itu melepas penat sejenak. Suzu ingin mengumpulkan seluruh tenaga lantaran tak ingin misinya gagal hanya karena kondisinya yang tidak prima.
...
Sinar rembulan yang cukup terang menembus ke jendela membangunkan Suzu dari tidur singkatnya. "Sudah waktunya..."
Suzu berhati-hati beranjak agar tidak membangunkan Takatora yang juga tidur bersandar. Bahkan dengan luka bekas perang baru-baru ini, suaminya memaksakan diri demi dirinya lagi.
Tidak, 'memaksakan diri' terdengar buruk. Padahal dia sudah berkata jujur kalau keberadaannya di dekat Suzu mampu menentramkan batinnya.
Setelah menyiapkan perlengkapan untuk menyelinap ke istana sekaligus membantu penyamaran. Tak lupa Suzu menyimpan botol berisi racun yang diberikan Hideyoshi.
...Suzu mengeluarkan kembali botol itu dari sode, lalu memandangi benda itu dengan mata sayu.
Meski sudah terjadi beberapa tahun yang lalu, mustahil untuk melupakan kejadian itu.
Meminum racun dengan sengaja demi mengakhiri hidupnya. Di sisi baik, niatnya untuk meracuni Oichi langsung padam. Meski sempat dibutakan oleh hasutan Sango, dia berhasil melindungi Oichi saat itu.
Ia mendekatkan botol itu dekat indera penciumannya.
Jika dia mengulanginya kembali. Apakah niat Hideyoshi untuk menyingkirkan salah satu anggota Shimazu akan lenyap? Mereka telah bergencatan senjata. Seharusnya tak ada lagi yang perlu dikorbankan.
Ditambah, andai kata Suzu gagal melakukan misinya. Mungkin dia akan menyulut api peperangan lagi diantara kedua pihak. Usahanya akan berakhir sia-sia―
"...!" Napas Suzu mendadak tersengal. Kedua matanya terpejam rapat, dia mencengkram dadanya yang sesak. Tubuhnya masih mengingat aroma dan efek racun itu. Trauma itu membuatnya lupa diri. Malah teringat rasa sakit luar biasa seolah organ tubuhnya ditikam oleh ribuan jarum.
"Bodoh! Simpan botol itu!" Takatora yang tersentak mendengar suara desah Suzu, dengan segera merebut botol itu dari tangannya.
Setelah menutup dan menyingkirkan botol itu dari genggaman Suzu. Takatora menaruh sebelah telapak tangannya di depan mulut Suzu dengan pelan. Mengisyaratkan sambil membantu istrinya untuk mengatur napasnya kembali. "...Sudah kubilang, kau terlalu mudah terbawa perasaan. Kau takkan bisa melakukan ini," tuturnya lembut.
Sambil menunggu hingga napasnya tenang, diusapnya puncak kepala Suzu dengan lembut.
"Kita kembali ke kuil," tegas Takatora sambil menurunkan telapaknya dari mulut Suzu.
Suzu menarik napas panjang, lalu menggeleng lemah. "...Kita sudah jauh-jauh sampai disini, lho, Takatora-sama?" pinta Suzu, walau bibirnya bergemetar ia masih berusaha tersenyum.
"..." Takatora menatap botol itu. "Kau sudah sadar kalau racun itu sama dengan yang pernah kau minum dulu, bukan?"
Hebat, pikir Suzu. Pikiran Takatora yang tajam mampu membongkar siapa yang telah membuat racun itu. Namun mereka berdua sama sekali tidak menduga Sango bersedia menghasilkan racun untuk Hideyoshi.
Wanita yang selama ini tidak berniat campur tangan dengan perang, bertahan hidup semaunya tanpa perlu diatur oleh orang lain. Apa saja yang dia lakukan selama ini, mereka tak pernah tahu.
"Tapi aku tidak akan meminumnya, kok. Aku tak punya alasan untuk melakukannya lagi."
"...Lain kali akan kubuat wanita itu menjelaskan semua ini."
Genggaman Takatora begitu kuat seolah ingin menghancurkan botol itu. Suzu mengurung niatnya dengan sentuhan lembut di tangan Takatora.
"Nee-sama punya alasan tersendiri. Dia selalu seperti itu," jelas Suzu meyakinkan suaminya.
Keduanya hanya tahu bahwa Sango berniat untuk menguji Suzu. Tapi tetap saja, istrinya terlalu mudah memaafkan orang lain.
Apakah benar tidak apa membiarkannya mencoba memperluas titik batasnya? Apa benar dia takkan menyesalinya?
"Takatora-sama...?"
Takatora menghela napas panjang. Akhirnya pria itu menyerah, lalu dia memberikan botol itu pada Suzu. Disimpannya botol racun tersebut di dalam sode.
"...Apa sesaknya sudah hilang?" Tangannya terulur meraih wajah Suzu, jempolnya bermain dengan pipi lembutnya. Suzu menikmati sentuhan hampir mendengung layaknya kucing.
"Um, berkat Takatora-sama." Suzu mengangguk.
Tatapan Takatora berubah lembut. Sesaat, Suzu membaca raut suaminya, dia tampak sedang berpikir. "...Benar juga. Kurasa tak ada salahnya untuk memberi tanda. Bukannya curiga, mungkin saja mereka malah terpikat melihat kemunculanmu."
"...? Anu... apa yang Tuan bicarakan?"
Tanpa membalas pertanyaan Suzu, Takatora menurunkan kepalanya ke leher Suzu. Istrinya kebingungan lantaran tak tahu bagaimana merespon kontaknya. Pria itu menekan giginya perlahan namun kuat di kulit putih pualamnya.
Takatora tahu dirinya bertingkah posesif, tapi ini juga demi dirinya. Lantaran dia akan melepas istrinya tanpa perlindungan.
"Takatora-sama? Ah...!" Suzu mendesah kaget ketika suaminya menanam tanda di lehernya. Tubuh mungilnya seakan meleleh merasakan napas beku yang berhembus ke kulitnya.
"S-Sakit. Takatora-sama, sakit...!" rengek Suzu mencengkram punggung lebarnya setelah sadar suaminya tak puas meninggalkan satu cupang saja.
Takatora mundur, menjilat bibirnya dan tersenyum penuh kemenangan. "Begini lebih baik."
"Apanya yang baik! Mou...! Takatora-sama jahil...!" Suzu mengusap lehernya yang sedikit sakit. Meski Suzu tak bisa melihat bekas gigit yang menghias kulit lehernya, tapi Suzu tahu betul bagaimana kebiasaan suamiya yang seringkali sengaja meninggalkan tanda setiap mereka berhubungan. Terang-terangan memamerkan apa yang sudah seharusnya menjadi miliknya.
"Bahkan disaat seperti ini, Tuan masih saja sempat melakukan ini. Kalau tandanya sampai terlihat 'kan memalukan..."
"Aku memang bermaksud begitu."
"Eehh!? Kok!?" pekik Suzu tak menyangka jawaban datar suaminya.
"Justru disaat yang seperti ini. Kau akan mengerti... walaupun sebenarnya aku tidak menantikannya. Anggap saja sebagai jimat."
Sadar Takatora tak ingin menjelaskannya, Suzu menggembungkan sebelah pipinya. "Terkadang aku tidak mengerti apa yang Tuan pikirkan."
Takatora hanya mendengkus. "Kuanggap itu sebuah pujian."
Tampaknya Takatora mencoba untuk melenyapkan kegelisahan Suzu. Jika itu benar, dia membutuhkan keyakinan lebih dari suaminya.
"Umm, Takatora-sama... aku merasa, aku seringkali menentang keinginan Takatora-sama. Aku benar-benar menyesal. Maafkan aku..."
"Tapi kau berpikir kalau kau harus melakukannya, bukan?"
"Um." Suzu mengangguk.
Takatora terdiam. Manik biru Takatora beralih ke tantou pemberiannya. Dia juga pantas dikutuk, lantaran mengingat niat yang ia tanamkan pada tantou itu. Dia juga sama, sama-sama menguji Suzu. Dia tak berbeda dari wanita itu. Suaminya sendiri juga telah mengotori kemurniannya.
"Betapa bodohnya aku..." gumamnya sambil mencengkram rambutnya penuh kekesalan.
"Takatora-sama? Kenapa Tuan...?"
Jika bukan dia, lalu siapa yang akan memurnikan tangannya? Takatora telah membuat pilihan yang salah, seharusnya dia tak memberi tantou itu. Dia tahu terlambat untuk menyesalinya. Maka dari itu sekarang, dia akan membukakan pintu demi menuntunnya dari segala busuk dan hinanya negeri ini serta seisinya. Tak ingin mengkhianati kepercayaannya lebih dari ini.
"Baiklah, jika kau ingin menebus kesalahan, kembalilah padaku dengan selamat. Aku ingin menyampaikan sesuatu padamu. Kau bisa menepatinya?"
Senyuman lega bermekaran di wajah manisnya. "Um, aku akan berusaha."
"Pintar." Tangan kuatnya menarik istrinya lebih dekat kemudian saling menempelkan dahi. "Jangan mati."
Takatora mendaratkan kecupan singkat di bibir merah jambunya sebelum menudung kepala Suzu dengan kudung jubah hitam kemerahannya.
Perasaan ini... Suzu kembali terkenang momen yang sama seperti dulu. Saat mereka masih belum menjalin ikatan sebagai pasangan sehidup semati. Dirinya yang sempat kehilangan kepercayaan diri ketika hendak melakukan misinya seorang diri. Takatora selalu memberinya dorongan dan mengukuhkan ketetapan hatinya.
Senyuman lembut terukir di wajah jelita Suzu. "Tempatku kembali adalah Takatora-sama, kok."
-XXX-
Sang pemimpin klan yang baru, Yoshihiro; baru saja kembali dari Kuil Taiheiji setelah memenuhi panggilan Hideyoshi. Kini ia datang berkunjung ke Kastil Sadowara untuk menjenguk sang adik, Iehisa.
Iehisa jatuh sakit sejak perlawanan dengan Toyotomi berakhir. Dia amat terpukul lantaran kekalahan Shimazu yang mutlak sehingga membuatnya depresi.
"Sungguh pemimpin yang serakah. Setelah dia memersatukan negeri, dia akan memanfaatkan wilayah kita untuk melakukan invasi ke negeri Chōsen..." decak Iehisa sambil mencoba untuk duduk.
Yoshihiro duduk menghadap futon Iehisa yang tengah terbaring lemah. "Justru sifat keserakahan itu yang dibutuhkan untuk menopang negeri ini, Iehisa."
"Aku membicarakan keserakahannya untuk menguasai negeri lain, bukan hanya negeri ini! Seharusnya kau sudah paham kalau dia berbeda dari kakak pertama, Ani-ja! Kakak pertama hanya ingin mencegah serangan luar dengan mengekspansi wilayah seluruh Kyūshū saja. Apa aku salah―!?" protes Iehisa berhenti akibat rasa sakit yang menggerogoti dadanya.
"Tentu saja aku paham, aku tidak menyangkalnya. ," lanjut Yoshihiro. "Tenkabito itu mewarisi tekad mendiang majikannya. Saat ini kita tak mampu menentang wewenangnya. Tapi kita lihat saja sampai dimana dia akan mempertahankan ambisi itu."
"Apa kau punya rencana, Ani-ja?"
"Untuk saat ini, tidak."
Jawaban singkat Yoshihiro langsung membungkam Iehisa.
"Akui kekalahan kita, Iehisa. Kita sudah banyak mempertaruhkan segalanya. Aku mengerti sulit bagimu untuk menerimanya. Wajar saja, kita hampir menguasai seluruh Kyūshū namun berujung kegagalan. Namun jangan anggap itu sebagai akhir dari segalanya," tegas Yoshihiro sambil bangkit. "Tubuh dan pikiranmu membutuhkan istirahat." Yoshihiro lalu menoleh ke belakang pintu. "Si bocah mencemaskanmu."
Sadar akan kehadiran putra Iehisa; Toyohisa menginjakkan kaki ke dalam kamar sang ayah. Sementara Yoshihiro meninggalkan kamar tanpa mengatakan apapun lagi.
"Maaf, apa aku mengganggu, ayah?" tanya Toyohisa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Iehisa menggeleng. "Tidak, putraku... tapi, maaf. Seperti kata Ani-ja, aku butuh waktu untuk istirahat."
"Baiklah." Toyohisa mangangguk kencang. Sebelum menutup pintu kamar ayahnya, pemuda itu membiarkan seekor kucing berbulu hitam memasuki kamar. "Selain aku, dia juga mengkhawatirkan ayah, lho."
Kucing itu melompat ke futon, menyundul kepalanya ke tangan Iehisa dengan manja kemudian berbaring diatas pangkuannya. Iehisa tersenyum sembari membelai bulu halusnya.
...
Sebelum pulang ke Satsuma, Yoshihiro disuguhkan hidangan makan malam bersama Toyohisa dan kerai yang lain. Kendati tak dihadiri oleh sang penguasa kastil, jamuan tetap dijalankan.
"I-I-Invasi ke negeri Chōsen!?" pekik Toyohisa kaget setelah mendengar penjelasan Yoshihiro mengenai pertemuannya dengan Hideyoshi. Dia tak sengaja menyembur makanan di mulutnya.
"Bocah, dimana tata kramamu," tegur Yoshihiro. "Ini baru rencana, jadi dia belum menjelaskan detilnya. Hanya saja untuk penyerangan itu, Saru akan memanfaatkan Kyūshū."
"Yang kalah memang tak bisa menentang otoritas yang menang, ya."
"Tak seperti ayahmu, tampaknya kau tak begitu terpuruk," lanjut Yoshihiro sebelum menyuap semangkuk nasi di tangannya.
"Yah, memang menyebalkan kita kalah dari Toyotomi, sih. Tapi setidaknya kita masih memiliki peluang untuk terus bertempur." Toyohisa menghabiskan makanannya lalu meneguk segelas air.
"Aku yakin ayah akan segera sembuh. Lalu kita akan membuktikan kekuatan Shimazu sekali lagi pada Toyotomi. Perjuangan kita masih belum berakhir!"
Yoshihiro mendengkus pelan melihat sifat optimis kemenakannya itu. "Benar. Akan lebih baik jika kau berbagi semangat yang sama dengan ayahmu."
"Jangan khawatir, Paman! Ayah tidak akan selamanya kehilangan semangat, kok. Aku yakin itu."
-XXX-
Seorang pelayan membawakan hidangan diatas nampan berkaki pendek. Dia duduk di dekat pintu kamar sang kepala pemilik istana kemudian memanggil. "Permisi, Tuan. Saya sudah membawakan makan malam."
"Ya, masuk."
Pelayan itu menggeser pintu shoji, lalu masuk ke dalam ruangan. Ditaruhnya hidangan tersebut di depan futon.
Awalnya Iehisa merasa tak nyaman karena tak menghadiri jamuan makan sebelum kepulangan Yoshihiro ke Satsuma. Dia telah diangkat menjadi penerus Shimazu untuk menggantikan Yoshihisa. Yoshihiro memikul beban lebih berat, kendati demikian dia sama sekali tak menyesal akan kekalahan.
Sedangkan Iehisa sendiri mengurung diri dan putus asa. Dia selalu mengutuk ketidakmampuannya. Tak menerima maupun bangkit dari kekalahan.
"Hm?" Perhatian Iehisa teralih, dia memindahkan pandangannya ke pelayan yang baru saja menaruh sajian untuknya. "Hei, tanganmu bergemetar. Bisakah kau lebih berhati-hati lagi? Kau bisa saja menumpahkan makanannya."
"M-Maafkan saya..."
Suaranya bergenetar. Tampaknya pelayan itu masih baru dilatih untuk melayani istana. "Tunggu. Kau..."
Aneh. Jarang sekali dia menemukan wanita yang memiliki kulit cerah(1) selain pelayan itu. Tak hanya itu, warna mata gadis itu... berwarna merah. Entah itu senada dengan warna apel atau warna darah. Tidak, barangkali penglihatan Iehisa sudah mulai buram.
"Kau... berasal darimana?" tanya Iehisa.
Iehisa bisa mendengar napasnya menyentak. Sejak tadi kepalanya menunduk dan menghindari tatapan mata Iehisa. "Jangan takut, jangan takut. Aku tidak memarahimu." Iehisa menatapnya dari ujung rambut sampai ke kaki. "Hanya saja menjadi pelayan istana sama sekali tidak cocok untuk gadis menawan sepertimu."
"..." Gadis itu masih menunduk. Ketika dia hendak undur diri, Iehisa menangkap pergelangan tangannya. "...!"
"Jika diperhatikan lebih jelas, tampaknya kau bukan berasal dari sini."
"Tolong lepaskan saya, Tuan...!"
Iehisa menyelitkan rambut hitam gadis itu ke belakang telinganya. "Kau tahu, sangat disayangkan kalau kecantikanmu memudar jika kau terus bekerja sebagai seorang pelayan. Mungkin akan lebih baik jika kujadikan kau sebagai selirku."
"J-Jangan! Iehisa-sama!" pinta pelayan itu berusaha memberontak. Namun genggaman Iehisa begitu kuat sehingga sulit baginya untuk menjauh.
"Sebaiknya kau pertimbangkan lagi―Hm? Ini..." Iehisa berhenti ketika ia menemukan bekas kemerahan di sekitar leher dan bahunya. Ketika genggaman Iehisa meregang, pelayan itu langsung menghindar.
Iehisa tertawa lepas. "Dasar. Seharusnya kau bilang dari awal."
"Eh...?"
"Tak pantas jika kau bertugas dengan bekas cupang di tubuhmu. Seharusnya aku menghukummu tapi aku sedang tak berniat melakukannya." Iehisa kemudian duduk di futon.
Gadis itu langsung menutup lehernya dengan sebelah tangan, Iehisa bisa melihat rona kemerahan di wajahnya.
"Ternyata aku benar." Iehisa terkekeh. "Rupanya kau sudah menjadi milik seseorang. Nah, dimana suamimu? Apa dia bekerja dibawah naunganku? Tega sekali dia membiarkanmu mengambil pekerjaan sebagai pelayan. Kau seharusnya bisa mendapatkan pekerjaan lebih baik. Katakan itu pada suamimu."
Gadis bermanik merah itu mengedipkan matanya kebingungan lantaran sikap Iehisa mendadak berubah.
"Maaf sudah membuatmu takut. Kau boleh kembali."
Pelayan itu segera bangkit, membungkuk undur diri kemudian keluar dari ruangan. "Permisi," ucapnya sembari mundur. Tak ingin membuang waktu lebih lama lantaran takut Iehisa akan berubah pikiran.
Pelayan itu berjalan melewati taman di depan roka, lalu bersembunyi di balik pohon. Sembari mengatur napas dan memastikan tak ada orang, ia berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi.
"Aku tertolong...?" batinnya seraya menyentuh lehernya, dimana terdapat bekas cupang yang dikatakan Iehisa. "Takatora-sama sudah mengantisipasi ini akan terjadi..?" Suzu mencebik malu. "Aku tak menduga Takatora-sama akan melakukan cara seperti ini..."
Lalu gadis bermanik merah yang tak lain dari Suzu itu menghela napas. Dia meluruskan pandangan ke ruangan Iehisa. "...Ini baru permulaan. Tugasku belum selesai."
...
Sunyi merayap begitu dalam di Istana Sadowara. Para kerai Shimazu telah kembali ke kediaman masing-masing. Semua penghuni istana sudah terlelap, kecuali para prajurit yang berpatrol di sekitar gerbang.
Suzu melepas rambut hitam palsu dan kimono yang ia kenakan sebagai penyamaran, mengganti pakaiannya dengan seragam perang dan mantel hitam-kemerahan seperti biasa. Dia bersembunyi di dalam loteng kamar Iehisa sambil memantau. Dia sudah memastikan Iehisa memakan makan malam dan teh yang sudah diberi racun tanpa sepengetahuannya.
Dia berjengit kaget ketika tiba-tiba mendengar Iehisa batuk tak henti-hentinya.
"...Apa racunnya sudah bekerja? Tapi kenapa baru sekarang?" gumam Suzu pada dirinya sendiri.
Jika diingat lagi, racun yang pernah Suzu minum bekerja dengan cepat. Sedangkan racun yang Iehisa minum baru memunculkan efek sekitar dua jam.
Iehisa mencoba untuk memanggil seseorang, namun suaranya tak bisa keluar. Napasnya terasa sempit dan sesak. Tenggorokannya pun terasa terbakar. Bahkan bangkit dari futon pun tak mampu, sekujur tubuhnya terasa lumpuh dan bergemetar hebat. Sepasang matanya mulai mengabur dan berair.
"Aa... Aaa...!" Iehisa meringis kesakitan sambil mencengkram sakit yang menggerogoti dadanya.
Apa... ini?
Apakah racun itu dari awal memiliki pengaruh seburuk ini? Ini berbeda dari yang pernah Suzu alami.
Iehisa berusaha sekuat tenaga bangkit dari futon, merangkak pelan ke pintu. Namun langkahnya berhenti mendadak, dia memuntahkan darah sehingga mengotori tatami. Napasnya terengah begitu keras, matanya menitikkan air mata. Tak mampu melawan rasa sakit yang menguasai tubuhnya.
Tak tahan lagi, Suzu keluar dari persembunyiannya dan menghampiri Iehisa yang sekarat. Racun itu telah menjalar ke seluruh tubuhnya.
Iehisa berusaha menjangkau tangannya kearah Suzu, seakan meminta pertolongan darinya. Entah dia sadar atau tidak bahwa Suzu yang telah meracuninya, Suzu tak tahu.
Ingin sekali Suzu menutup mata dan telinganya dari pemandangan mengerikan ini.
Apa yang harus dia lakukan? Haruskah dia membunuhnya sekarang agar Iehisa bisa terlepas dari penderitaan?
Pria itu memiliki hak untuk hidup. Tapi mustahil baginya menyelamatkan nyawa yang sudah diambang kematian.
Bahkan jika Suzu membunuhnya disini, itu merupakan pilihan yang terburuk. Jika mereka menemukan Iehisa dalam keadaan terbunuh, kemungkinan besar Shimazu akan membuat perhitungan pada Hideyoshi dan memicu perang lagi.
"...!" Perhatian Suzu kembali teralih ketika Iehisa tiba-tiba memuntahkan darah kedua kalinya. Tubuhnya pun tumbang, dia tak bisa menarik napasnya lagi. Kedua mata dan mulutnya terbuka lebar.
Tak ada lagi tanda kehidupan di mata Iehisa.
Suzu hanya bisa mematung tak berdaya, sampai akhirnya kakinya tak mampu untuk berdiri lagi. Setelah menyaksikan kematian tepat di matanya, dia hanya mampu menitikkan air mata.
-XXX-
Fajar akhirnya datang menyambut. Tak jarang Toyohisa bangun terlambat. Namun khusus hari ini, dia tak ingin membuang waktu tidur seharian.
Karena Yoshihiro sudah berangkat dari Sadowara, dia tak bisa meminta pamannya untuk menemaninya berlatih. Maka dari itu, hanya satu orang yang tertinggal yang bisa dia ajak. Ayahnya. Ini kesempatan bagus untuk membangkitkan semangat ayahnya kembali.
Toyohisa berhenti di depan kamar Iehisa. Dia menemukan kucing hitam milik ayahnya mencakar-cakar pintu dan mengeong seakan memanggil majikannya.
"Ah, jangan-jangan kamu satu pemikiran denganku?" Toyohisa memungut kucing ayahnya. Namun kucing itu meronta dan turun dari pangkuannya. Kemudian dia kembali mencakar pintu kamar, mengisyaratkan Toyohisa untuk membukakan pintu. "Baiklah, baiklah."
Ketika ia membukakan pintu shoji, ayahnya masih terlelap di futon. "Chichi-ue? Bagaimana kondisimu sekarang? Apa sudah merasa lebih baik?"
Iehisa tak menjawab. Matanya masih terpejam, tangannya terlipat di bawah dada.
"Chichi-ue?" panggil Toyohisa lagi. "Sudah pagi, lho?"
Kucing hitamnya mulai menjilat-jilat pipi Iehisa, tapi masih tak ada tanda ayahnya bangun.
Dia... masih bernapas, bukan?
"Tidak mungkin." Kedua mata Toyohisa melebar, denyut dadanya terasa sakit seiring firasat buruk menyerang seisi pikirannya. Ayahnya tak mungkin kalah dari penyakitnya.
Mengapa?
"...Chichie-ue?"
-xxx-
-XXX-
つづく
-XXX-
-xxx-
A/N: Lama update lagi, setengah tahun omfg. GAWD I MISS THESE TWO SO MUCH. Dan fic ini udah berumur 4 tahun. Semoga bisa improve terus buat ngetik biar makin produktf. Kalau gak, isi otak saya jadi berat lol, no kidding.
Kenapa chapter ini panjang 7k? Ini penebusan, karena idenya mulus sampai disini. I'm not sorry! ...Kecuali sorry soal diksinya XD
Damn I hate myself... walaupun demi nuangin ide. Aku paling gak suka pas nulis nak Suzu hampir(?) disentuh sama bapaknya Toyohisa lol. Tapi jangan khawatir dear readers. Hati, jiwa dan tubuh nak Suzu udah milik Takatora seutuhnya kok eaakk~
Vocabulary (cek gugel untuk lebih jelas):
[1] Chōsen : Korea
[2] Hyotan: Mirip dengan bottle gourd, semacam botol minuman. Yang pasti bukan dari kaca/plastik kek jaman sekarang lol.
[3] Jōkamachi: Castle town.
[4] Kerai: sama dengan kashin, yaitu bawahan suatu klan.
[5] Kuruwa: Baileys
[6] Saru: Monyet alias Hideyoshi.
Historical Facts (CMIIW):
[1] Takatora tidak terlalu suka dengan sake. Dia cukup strict tiap berhadapan sama orang yang pemabuk berat. Dia lebih memilih menghindar dan menolak tawaran buat minum sake. Mungkin karena kehidupan sehari-harinya yang sederhana.
[2] Ada yang menyatakan kalau Iehisa itu diracuni oleh Hideyoshi (dan mungkin Shimazu sendiri). Tapi ada juga yang menganggap dia meninggal karena penyakit. Meninggal tanggal 10 Juli 1587, di usia 40 tahun.
[3] Hideyoshi kembali ke Kyoto dari Kyūshū tanggal 14 Juli. Jadi, Hideyoshi berangkat dari Kyūshū 4 hari setelah meninggalnya Iehisa.
[4] Shimazu suka kucing.
Dan satu lagi tambahan info dari (1): Kyūshū rata2 penduduknya punya kulit sedikit-agak gelap karena suhunya cukup panas. CMIIW.
To Reviewers:
- RosyMiranto18
Scarlet: Iya pertarungannya pake kuda. Aku juga sempat bingung sendiri pas baca info-nya. Musuhnya Kiyomasa jatuh dari kuda dan kemudian menyerah. Intinya itu yang tertulis.
Blossom: Next. Di sejarahnya setelah perangnya selesai, Hideyoshi menetap sementara di Kuil Taiheiji.
Scarlet: Dulu iya sih merasa kurang penting battle of Kyushu. Tapi udah gak lagi. Sejak ngumpulin banyak penemuan dan bisa dimanfaatkan jadi battle of Kyushu cukup berguna.
Blossom: Odawara aja sih yang meragukan. Katanya Takatora gak ikut karena Hidenaga lagi sakit. Tapi ada juga yang bilang dia ikut tapi bukan perang di Odawara. Oshi Castle juga bukan. Guess I need to researching again. Yak, thanks for the review!
- Lisa Amuro
Blossom: Wah reviewer baru! Kyaa senangnya!
Scarlet: Ah tapi sebenarnya fic-nya yang ultah sih wkwk. Thanks for the review! Datang lagi ya~
- Hayashinkage17
Scarlet: Begitulah si mas (Takatora) lol. Tapi kalau dibilang psikopat juga gak sih. Karena di jaman perang itu memenggal kepala musuh udah patut biar dapat semacam penghargaan. Seram ya.
Blossom: Yah lain ceritanya kan kalau si mas penggal kepala Hideyoshi lol. Next!
Scarlet: Hehe, glad you like it. Soal lukanya Takatora itu benar lho. Sampai ada salah satu jarinya terpotong. Duh si mas bikin author nangis aja.
Blossom: Wait, 'Hana pernah mengaku kepada Suzu kalau ia bertalian dengan Hayakawa'? Lho, bukannya yang pas kuketik Hayakawa yang mengaku ke Natsuko? Atau itu ada di fic-nya senpai? Atau aku yang pikun? Yosha thanks for the review!
以上です!
Ditunggu chapter berikutnya ya. Jangan lupa review! Happy new year!
