Plak
"Akh!" Hinata tersadar dari pemikiran ketika kapalanya di pukul oleh tangan Naruto. Dengan cepat ia melotot tajam mempertanyakan apa maksud dari pukulan tadi.
"Khayalanmu terlalu tinggi. Tak takut jatuh?" jawab Naruto dengan wajah super datar yang semakin membuat Hinata kesal. Apa yang membuatnya kesal? Naruto berkata jujur.
"Kau tak harus memukulku juga!" ocehnya sambil membelai samping kepala yang Naruto pukul tepatnya dorong tadi. "Lagipula permintaanku tak berlebihan." Begitulah pembelaan Hinata pada dirinya sendiri.
"Cih! Kau kira di dunia bagian mana ada lelaki idamanmu? Hanya orang kurang kerjaan yang menghabiskan waktunya untuk memperdulikan seorang perempuan." Begitulah faktanya, tak ada lelaki seperti khayalan Hinata di dunia ini. Hinata terlalu banyak mengkhayal.
"Aku jadi kasihan pada perempuan mana yang akan bersamamu." Ejek Hinata. "Pasti hidupnya akan sengsara." Setiap hari harus melihat wajah datar menyebalkan Naruto ditambah juga sikap menyebalkannya.
"Cih, aku akan menjomblo seumur hidupku." Jawab Naruto tak perduli.
"NARUTO" Hinata beranjak ke belakang Naruto karena terkejut. Ia seperti mendengar suara tapi tak melihat siapapun.
"Apa kau dengar?!" tanya Hinata sambil mengamati sekitar mencari-cari dimana asal suara tadi.
"Kakak datang." Dari suaranya, jelas sekali itu Toneri.
"Kalau begitu kita harus pulang! Dia akan marah." Naruto memutar wajah menatap Hinata sebelum menjawab.
"Aku suka melihatnya marah."
"Weh! Kita bisa dikurung kalau dia marah." Tebak Hinata asal dan sialnya saja Toneri sungguh muncul dari balik pohon di depan mereka.
Dengan piyama coklat dan wajah kesal.
Matanya melirik tajam Naruto yang bahkan terlihat tak perduli.
.
.
.
.
.
Disclaimer : Demi apapun, Naruto bukan punya saya, punya Masashi Sensei, saya hanya pinjam saja.
CREATURE
(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)
Creature by authors03
Please.. Dont like dont read.. Thanks.
.
.
Chapter 15
"Mengapa kau semena-mena keluar tanpa izinku?" Toneri melangkah mendekat dan berhenti di depan Naruto yang baru saja berdiri dengan Hinata di belakangnya. "Kau tahu malam hari sangat berbahaya apalagi kau membawa Hinata."
"Aku mau pergi jalan-jalan ke tempat ayah." Mengabaikan apa kata sang kakak, Naruto mengatakan apa yang ia mau.
"Kau bisa pe"
"Sekarang." Toneri hanya bisa menghela nafas. Adiknya seenak jidat menyela ucapannya. Dia selalu saja bersikap seenaknya.
"Baiklah kalau kau ingin pergi tapi Hin"
"Dengan Hinata." Hinata tersentak. Apakah Naruto ingin mengajaknya ke suatu tempat?
"Tidak." Tapi tampaknya Toneri tak setuju dengan idenya.
"Pertama, bahaya ini sudah malam."
"Kedua, Kau akan menyusahkan Hinata."
"Ketiga, mengapa juga kau harus membawanya? Aku bisa menjaganya. Aku bisa membawanya ke sana kapan-kapan kalau dia mau." Tapi bukan sekarang, Toneri tak dalam mood untuk pergi kemana-mana dan lagipula orangtuanya akan segara pulang. Untuk apa ke sana?
"Hanya mau." Lagi-lagi Toneri dibuat menghela nafas. Ia menaruh curiga mungkinkah Naruto merencanakan sesuatu? Tapi ia tak juga heran karena adiknya selalu bersikap semaunya saja.
"Aku akan berkata dengan lembut sekarang, pulang atau pergi sendiri?" tegas Toneri tak ingin negosiasi tapi seperti biasa, adiknya bukan penurut.
"Bagaimana kalau kau pulang dan aku pergi dengan Hinata?" saat itu juga Toneri menatap tak suka.
Tapi raut wajahnya berubah menjadi tenang. "Baiklah. Kau boleh pergi." Hinata tak yakin Toneri berkata begitu tapi ia mendengarnya sendiri.
"Tapi aku bohong!"
"Kyaaah!" Langkah Hinata termundur karena terkejut pada Toneri yang tiba-tiba menerjang Naruto, mengunci lehernya dengan lengan.
Bruckkk
"Itu curang, kau pakai kekuatan." Komentar Naruto tak terima karena Toneri menumbangkannya ke tanah.
"Oke oke" Toneri meloncat mundur ketika Naruto bisa melepaskan dirinya dengan mudah.
"Akan kuseret kau pulang setelah kuberi kau pelajaran."
"Aku yang akan mengalahkanmu." Mereka saling menyerang dan bertarung.
"..." Hinata tak menyangka di balik diamnya Naruto dia sangat mahir berkelahi dan ia juga tak menyangka di balik yang katanya ramah dia dengan senang hati mencoba mengalahkan adiknya. Meskipun perkelahian mereka tak terlihat berbahaya ataupun mematikan tapi Hinata merasa khawatir. Mereka berdua bisa saja terluka. Apakah mereka sering melakukannya?
"Naruto! Toneri!"
.
.
.
"Hah!" dada Naruto naik turun karena lelah. Seperti biasa ia tahu sang kakak akan berusaha untuk tak menyakitinya begitu juga dirinya tapi untuk kali ini saja ia tak merasa ingin di kalahkan.
Braaackk!
Punggung Toneri berakhir di tanah dengan satu tangan yang masih di kunci oleh Naruto.
Wajahnya tampak sangat masam dan kesal.
"Kau ini menyebalkan sekali." Piyamanya pasti kotor karena Naruto membantingnya ke tanah.
.
.
.
Toneri POV
"Pffft" tawa yang tak jadi keluar itu membuat aku melirik padanya. Dia menahan tawa ketika melihat adikku yang akhirnya mau muncul dan duduk di meja makan bersama kami. Adikku sangat kesal sekali setelah kukalahkan semalam dan menyeretnya pulang. Dia tak berkata sepatah katapun tapi ketika Hinata hampir memuncratkan tawa, adikku menatapnya tajam dan menjentik kesal kening putihnya. Hm dia harusnya tak bersikap seperti itu.
"Jangan ketawa." Hinata mengelus keningnya yang dijentik. Matanya tak lepas dari Naruto yang mulai memakan sarapannya.
Aku jadi bertanya-tanya apakah ada maksud tertentu mengapa adikku ingin mengajak Hinata semalam? Kalau kupikirkan lagi sikapnya agak aneh bersama Hinata.
Aku menatap adikku yang masih sibuk melahap makanan. Aku mencoba mencari jawaban dari wajahnya yang datar seperti biasanya.
Mungkinkah...
Tidak mungkin.
Aku tak merasa seperti itu.
Sekarang aku menoleh ke Hinata. Sesekali dia menahan tawa sepertinya kejadian semalam terus berputar di kepalanya. Sejujurnya kalau bisa ia katakan, Hinata tampak cukup nyaman di dekat Naruto. Tapi Naruto bukan seseorang yang bisa membuat orang lain merasa nyaman di dekatnya.
Mungkinkah ini perasaanku saja?
Toneri POV end
.
.
.
Tok
Tok
Tok
Deg!
Jantung Hinata seperti hampir saja meloncat keluar ketika ia membuka pintu dan melihat siapa yang ada di depan pintu kamarnya.
"Mengapa kau di sini?" dengan segera ia menarik lelaki itu masuk dengan menutup pintu.
"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat." Padahal Toneri sudah melarang Naruto membawa Hinata pergi malam-malam tapi Naruto tampaknya tak perduli. Malam memang masih belum begitu larut, jam menunjuk pukul 20.21 tapi hmm
"Tapi"
"Kau akan menyukainya. Kita harus cepat sebelum terlambat." Dia benar-benar tak perduli tapi kemana dia ingin pergi?
"Kau serius?" apakah Naruto yakin karena Hinata merasa ragu untuk mau ikut dengannya.
"Hum. Apa kau mau menyelinap keluar denganku?" Hinata terkekeh kecil atas pertanyaan itu. Dia sangat jujur dan itu lucu membuat Hinata tak ingin menolak ajakannya.
"Apa kau yakin aku akan menyukainya?" Hinata tersenyum ketika Naruto mengangguk yakin. Ia merasa tak enak pada Toneri tapi ia juga tak merasa bisa mengecewakan wajah penuh keyakinan lelaki ini. Dan sejujurnya, ia penasaran kali ini kemana Naruto akan mengajaknya.
Tak butuh saktu lama, Hinata mengangguk kecil mengiyakan ajakan Naruto.
.
.
.
"Akh! Iitai!" Hinata merasakan sakit di pergelangan kaki ketika kaki kirinya tersenggol batang kayu yang menyebabkan dirinya tersungkur.
"Kau tak apa?" dengan cepat Naruto bersimpuh di depan Hinata untuk mengecek keadaannya.
"Tak apa, cuma kakiku sakit." Rasanya sakit membuat Hinata tak berani membuat pergerakan pada kakinya yang sepertinya terkilir.
"Kita sudah mau sampai. Akan kuobati setelah tiba." Butuh waktu hampir 3 jam untuk menuju tempat yang ia singgung dan juga tempat itu sudah di depan mata tapi kaki Hinata malah terkilir. Dan juga jika tidak cepat, mereka akan terlambat. Naruto tak ingin sia-sia datang ke sini.
"Ayo" Hinata memalingkan matanya dari pergelangan kaki menuju punggung Naruto yang terarah padanya. "Naiklah."
Padahal Naruto hanya akan mengendongnya tapi mengapa jantung Hinata malah berdebar lebih cepat?
Tanpa basa-basi ia menerima bantuan Naruto dan dengan mudah Naruto berdiri. Hinata melingkarkan kedua tangannya di leher Naruto membiarkan Naruto membawanya. Ia merasa gugup.
Duar
Duarr
Duarr
Ada keramaian tak jauh di depan dan sebuah istana megah di tengah hutan yang mereka datangi tapi perhatian Hinata sekarang tertuju pada kembang api yang meledak di atas langit. Sangat cantik dan meriah. Kembang api itu berbentuk bunga, hewan dan banyak gambar lainnya tapi yang membuatnya jauh lebih indah adalah warnanya yang unik dari kembang api biasa. Benar-benar sangat indah.
Bentuk ice cream bahkan dengan gerobaknya. Ia bertanya-tanya siapa yang menciptakan kembang api seperti itu?
Naruto menatap ke arah yang sama. Rasanya senang karena mereka tak melewatkan apapun.
"Kau mengajakku ke sini untuk ini?" tanya Hinata mengalihkan matanya kepada Naruto yang masih mengendongnya.
"Kurasa kau menyukai sesuatu yang indah jadi aku ingat orangtuaku akan uji coba kembang api unik buatan mereka." Sangat indah, Naruto bahkan mengagumi kembang api unik yang sangat ingin ibunya buat dan dia berhasil.
"..." Hinata ingin tahu apakah Naruto sadar betapa manis perbuatannya sekarang? Jawabannya sangat manis sampai-sampai membuat Hinata merona. Dia mengajak Hinata menyelinap keluar dan membawanya ke sini karena dia merasa Hinata menyukainya?
Hinata menahan senyuman. Mengapa rasanya senang dan juga lucu?
"Mengapa kau melakukannya?"
"Huh?" Naruto tak mengerti pada pertanyaan Hinata.
"Mengapa kau mau melakukannya? Kau menyelinap keluar hanya karena merasa aku akan senang?" jelas Hinata.
"Apa kau tak senang?" Naruto memutar sedikit wajahnya agar matanya bisa menatap Hinata. Ia kemudian menurunkan Hinata karena Hinata ingin turun. Naruto memegang satu lengan Hinata memastikan Hinata yang kini berdiri di sebelahnya tak terjatuh karena berdiri dengan satu kaki.
"Bukan, aku senang aku menyukainya. Hanya saja aku ingin tahu mengapa kau bersusah payah untukku?" apakah itu pertanyaan yang sulit dimengerti? Naruto tampak bingung. Disatu sisi Naruto tampak sangat polos sekali. Hinata tak bisa menyembunyikan senyumannya.
"Kenapa?" Naruto berpikir sangat keras sekali dan kemudian dia menjawab. "Karena aku mau?" jawab Naruto ragu. Dalam hatinya ia merasa senang melakukan hal yang bisa membuat Hinata tersenyum. Hanya itu alasannya. Tapi ia tak tahu mengapa ia suka melihat Hinata senang.
"Lagipula aku melakukannya hanya karena aku bisa. Setelah kau menikah aku mungkin tak bisa mengajakmu jalan-jalan lagi." Hinata mengerecutkan bibir. Ia bahkan tak ingat pada hal itu tapi Naruto mengingatkannya.
"Aku tak mau menikah dengannya." Ucap Hinata jujur. "Maksudku pernikahan impianku adalah menikah dengan orang yang aku cintai tapi aku benar-benar tak jatuh cinta padanya." Ia bahkan tak mau berusaha karena yakin ia tak bisa memberikan hatinya untuk Toneri.
"Banyak orang jatuh cinta setelah menikah." Pipi Hinata membulat. Ia tak suka pada jawaban Naruto. Ia benar-benar tak menyukai Toneri, titik!
"Kau harusnya membelaku. Kau menyebalkan sekali!" satu sudut bibir Naruto terangkat, wajah kesal Hinata tampak lucu, dia membuang wajahnya ke samping.
"Tunggu di sini." Tangan kanannya mengacak surai indigo Hinata membuat rambutnya berantakan.
"Ugh!"
"Akan aku ambilkan minum."
.
.
.
Mengabaikan orang-orang yang tengah berbincang di sekitarnya. Naruto berjalan menuju salah satu meja untuk mengambil minuman tapi seseorang menghentikan aksinya.
"Naruto?" seseorang menarik pundak Naruto membuatnya memutar badan.
"Wah Naruto?! Sejak kapan kau ada di sini?" perempuan pemilik surai merah itu tampak sangat terkejut, tak menyangka akan melihat lelaki ini di sini."
.
.
.
To be continue
