Day 13

Facial/Cumplay x Choice


White As A Cloud

Hari ini ada sesuatu yang membuat Dazai-sama begitu bahagia. Ia tidak menggunakan tali cambuk dan segala jenis mainan di kotak sebelah tempat tidur, melainkan bertanya lembut sambil mengangkat daguku, "Ini hari istimewa, Chuuya," ia membelai pipiku yang masih memerah karena tamparannya kemarin malam, "Aku memberimu kesempatan untuk memilih."

"Dazai-sama?"

"Kau ingin aku menggunakan liang yang bawah atau bibir merah ini, hm?"

Segala pilihan yang ia beri bukanlah untukku melainkan kepuasannya sendiri. Sudah biasa dan terlalu sering sampai aku sebenarnya tidak menganggap hari ini istimewa jika bukan karena kalimat tanya tak berarti itu.

"Kita bermain seru sekali kemarin, kan? Kau pasti sangat berantakan di bawah sana."

Masih ada tetes-tetes semen yang mengalir di pahaku. Nyeri dan luka di sekitar liang itu membakar dan meminta untuk istirahat karena Dazai-sama tidak pernah memberikanku waktu selain ketika ia memang ingin berhenti.

"Aku menunggu jawabanmu, Chuuya."

"Bibir," pilihku. "Gunakan mulutku, Dazai-sama."

Ia tersenyum, seakan jawaban itulah yang memang ia tunggu dan aku benar-benar memberinya. Dari balik laci ia ambil sebungkus kondom, "Aku tidak ingin memenuhi perutmu sebelum sarapan."

Boxer-nya turun, menampilkan kejantanan yang begitu akrab dengan tubuhku namun selalu dapat membuat sakit dan berdebar. Ia tidak memintaku menciptakan ereksi dan melakukannya dengan tangan sendiri. Kemudian ia memasangkan lembaran tipis itu di sana.

Aku tidak perlu perintah untuk membiarkan mulut terbuka, seakan-akan mendeklarasikan bahwa untuk penisnya lah mulutku ada.

Dazai-sama tersenyum. Ibu jarinya memoles bibir bawahku, menarik turun dan merasakan kenyal serta ranum. Perlahan jari itu masuk, membuatku terpaksa mengemutnya sebagai bentuk pengabdian. "Hmm..."

"Mulutmu memang suka menghisap, ya?" Ia terkekeh sembari mengeluarkan jarinya, "Tapi kau lebih suka dia kan?"

"Ya, Dazai-sama."

Satu hentakan, ia membuat seluruh kerongkonganku terluka karena hujaman begitu kasar. Sampai pada pangkal, membuat napas sesak, mengalirkan tetes air mata, namun hangat dan padatnya memancing lenguh.

"Hm.. Hn—" Dazai-sama keluar masuk dengan cepat. Membuat leherku terasa seperti tercekik dari dalam. Lapisan tipis yang kesat awalnya menyakitkan bibir namun lama-kelamaan saliva melumurinya sehingga sakit itu hilang.

"Ah—" Dazai-sama mendesah. Menangkup kepalaku dengan kedua tangan dan memeluknya erat agar bisa masuk lebih dalam. Aku begitu terdorong, menabrak perut serta rambut-rambut halus di atas kemaluannya. Dazai-sama begitu besar, aku bisa merasakan denyut di dalam mulut dan kerongkongan.

"Chuuya—" Ia mencapai klimaks di dalam sebelum menarik mundur miliknya yang masih tegang.

Mulutku terbebas dari desakannya. Rasa pegal pada rahang terhenti dan aku menarik napas serakah. Ada beberapa goresan tipis di bibir yang tidak berani tertutup sempurna karena aku memperhatikan mata coklat Dazai-sama berkata demikian.

Ia menarik kondom itu, melepaskan kepemilikannya dan seluruh semen di dalam. Menetes-netes di wajahku, dahi, pelupuk mata, batang hidung, pipi, bahkan kembali masuk ke rongga mulut yang terbuka.

"Kau cantik sekali dengan semenku di wajahmu."

Rasa hangat dan lengket begitu membuat risih. Lidahku terulur, seakan meminta untuk menjilat batang kemaluan itu lagi agar Dazai-sama memuji.

"Kau benar-benar lapar, Chuuya?" Ia melenguh ketika menampar pipiku dengan miliknya. Menepuk-nepuk lidah basahku hingga setitik cairan putih kembali muncul di ujungnya. "Ah, lidahmu saja sudah bisa membuatku basah."

"Dazai-sama..."

Dengan kejantanannya, ia mengoles cairan itu seperti seorang seniman dengan kuas dan wajahku adalah kanvasnya. "Warna putihnya cocok dengan kulitmu."

Sekali lagi ia menepuk-nepuk wajahku sembari memijit. Membuat lenguh, tidak begitu lama menikmati sampai akhirnya benar-benar keluar. Aku melihatnya menembak begitu dekat dan kembali membasahi wajahku dengan cairan putih kental.

"Ah, Chuuya..." Aku merasa jantungku memompa lebih kuat ketika ia memanggil, merasakan sesuatu berdesir di tulang belakang hingga tanpa kuinginkan, organ di antara selangkangan menegang.

Dazai-sama menarikku naik ke atas kasur. Tidak memberi kesempatan mengusap wajah karena ia sangat suka melihatku tampil kotor dengan hasil perbuatannya.

"Ini hari istimewa, Chuuya," Aku telah mendengarnya dan tidak bisa melawan ketika ia memaksa kakiku terbuka untuk mencapai liang yang masih terbuka. "Jadi kita akan bersenang-senang."

Senyumnya yang begitu dalam, sentuhannya yang begitu panas, membuatku ngilu sekaligus nikmat. Tidak merespon selain desah karena telah disusupi, dan perkataan lembut.

White As A Cloud

END