Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

Catatan :

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

Mengandung unsur dewasa.

Lemon/lime bukan hal utama dalam fic ini, so jangan harap ada lemon/lime yang berlebihan,

Tidak di anjurkan untuk pembaca di bawah umur.

Jadilah pembaca yang bijak.

.

.

= Enjoy for read =

.

But

.

! Don't like Don't Read !

.

.

.

.

~ Give me your blood ~

[ Chapter 13 : Melupakan ]

.

.

.

Pagi pukul 06:30.

Apa ini? Kenapa rasanya sangat berat? Mataku juga bengkak. Apa yang sudah terjadi padaku?

Pagi ini, aku bangun dengan perasasan kosong yang tidak begitu aku pahami. Menatap kasur lantai yang di lipat rapi di lantai.

Apa aku pernah menggunakan itu?

Atau apa pernah seseorang menginap di rumahku?

Aku rasa akhir-akhir ini tidak ada yang menginap di rumahku.

Lagi-lagi perasaan kosong yang aneh. Aku harus bergegas ke sekolah. Tanpa terasa ibu sudah pergi. Aku harus hidup sendirian. Jika bukan karena teman-temanku dan-

Sasuke.

Ingatan apa itu? Aku merasa seorang gadis pernah memanggilku dengan ceria. Aku yakin itu bukan Ino, tapi selama ini, gadis yang dekat denganku hanya Ino.

Menghilangkan pikiran aneh yang sempat terlintas. Memakai seragamku. Rumah ini jadi terasa sepi dari biasanya. Bukannya aku tinggal sendirian? Mungkin hanya belum terbiasa karena ibu telah pergi.

Setibanya di sekolah. Naruto menatap waspada padaku, dia dan Kiba sedang melindungi Neji. Ada apa lagi dengan dua orang bodoh ini. Aku bisa melihat wajah Neji yang sedikit memar.

"Ada apa dengan wajahmu, Neji?" Tanyaku.

"Sasuke! Jika kau ingin memukul Neji lagi. Kami juga akan memukulmu." Ucap Naruto.

"Apa kalian sudah gila?" Ucapku. Bingung.

"Aku hanya terjatuh." Ucap Neji. Memar di wajahnya itu seperti bekas pukulan.

"Lalu kenapa Naruto mengatakan aku yang memukulmu?" Ucapku, bingung.

"Kau sungguh tidak ingat kemarin? Kau memukul Neji dan berteriak seperti orang gila." Ucap Naruto.

"Kapan aku bersikap seperti itu?" Ucapku. Aku semakin bingung akan ucapan Naruto.

"Mungkin Sasuke hanya lelah. Sudahlah Naruto, Sasuke tidak sengaja." Ucap Neji.

"Aku tidak begitu tahu pasti apa yang terjadi. Aku hanya mendengar penjelasan Naruto, tapi aku yakin Sasuke tidak mungkin seperti itu." Ucap Kiba.

"Aku melihatnya sendiri!" Protes Naruto.

"Mungkin kau yang sedang lelah." Ucapku pada Naruto.

"Aku tidak lelah! Kau yang sudah gila! Kau bahkan mengatakan jika p-"

"-Hentikan Naruto!" Potong Neji. "Saat itu Sasuke mungkin sedang banyak pikiran, apalagi dia mulai hidup sendirian, sebagai sahabatnya, kita harus lebih peduli dan mendukung Sasuke." Ucap Neji.

Naruto semakin aneh, dia bersikeras jika aku melakukan hal di luar yang biasa aku lakukan. Aku memukul Neji? Aku tidak mungkin melakukannya tanpa alasan.

"Maaf Sasuke. Aku mungkin yang terlalu banyak pikiran." Ucap Naruto. Akhirnya dia mengalah dan tidak ingin berdebat lagi.

Sejujurnya aku curiga ketika Neji menutupi sesuatu sebelum Naruto mengatakan apapun yang terjadi padaku.

.

.

[by:sasukefans_ama]

.

.

Kegiatan sekolah yang semakin hari mulai semakin berkurang. Kami sibuk untuk persiapan ujian kelulusan. Setelah lulus, apa yang aku lakukan? Mungkin aku harus bekerja dan mengumpulkan uang.

"Kau menerima jalur undangan dari beberapa universitas, Sasuke." Ucap Hatake-sensei. Dia adalah wali kelasku.

Kuliah, aku tidak memikirkan untuk kuliah. Lagi pula biaya kuliah cukup mahal.

"Aku akan mempertimbangkannya, sensei. Terima kasih." Ucapku. Setelah giliranku untuk konselin.

Aku mendapatkan beberapa tawaran di universitas terbaik dengan beasiswa full, ini juga termasuk baik, tapi aku harus memikirkan segalanya.

Setelah kejadian yang membuatku bingung beberapa hari ini, Naruto mulai bersikap biasa padaku. Aku juga tidak ingin ada masalah di antara kami. Mereka rajin ke rumah, mengajak Ino yang akan menjadi koki kami. Aku tidak keberatan mereka datang ke rumah.

Tapi,

Membuka salah satu laci di kamarku. Aku menemukan sebuah buku tabungan dan sepucuk surat.

Aku menggunakan tabungan ini atas namamu, jadi gunakan uangnya sebagai kebutuhanmu.

Berkali-kali aku membolak-balikkan kertas itu, aku tidak tahu siapa yang menulisnya. Jika ini pesan terakhir ibu, ibu tidak mungkin menuliskan kata-kata seperti ini.

Kadang setiap pagi buta, aku terbangun dan merasakan seseorang datang ke kamarku. Aku pikir ada pencuri, namun tidak ada siapapun. Aku terus merasakan jika mungkin saja dia akan pulang.

Dia?

Siapa?

Lagi-lagi memikirkan seseorang yang tidak bisa aku ingat dengan jelas.

Menatap buku tabungan ini, jumlahnya cukup banyak, namun belum di print kembali, jika aku melakukannya, apa jumlahnya akan berubah? Tapi siapa yang mengisinya?

Aku datang ke Bank sepulang sekolah, mencoba menanyakan buku tabungan itu dan mengecek saldo akhirnya. Aku sangat terkejut akan saldo terakhir dari tabungan yang mengunakan namaku ini.

Aku mungkin bisa membeli rumah baru dengan tabungan ini, aku masih bisa kuliah dan menggunakannya sebagai kebutuhan. Aku masih bingung dengan pemilik tabungan ini. Apa benar ini untukku?

Pulang dengan perasaan yang kalut, kembali menatap buku tabungan ini. Jumlah yang besar, seseorang pasti bekerja dengan begitu keras hingga mencapai jumlah seperti ini, apa ini bukan uang hasil rampok? Jika aku melapor, polisi akan menganggapku gila, kenapa melapor uang tabungan sendiri?

Aku sungguh tidak mengerti.

Lalu ada hal yang sedikit aneh, aku menemukan beberapa bekas gigitan yang sudah sembuh di beberapa bagian tubuhku. Apa sekarang ada serangga yang berbahaya seperti itu? Aku sedikit mewaspadai tempat tidurku ketika akan tidur.

Semuanya membuatku bingung.

Perasaan kehilangan ini juga. Kenapa bukan tertuju pada ibu?

Aku merasa jika ada yang pernah tinggal bersamaku sebelumnya, aku menemukan beberapa pakaian untuk seorang gadis dan pakaian itu masih baru.

Bagaimana pun aku mencoba mengingatnya, aku tidak mengingat apapun.

Aku mulai menyampingkan hal yang membingungkan itu, fokus untuk ujian kelulusanku. Jika bisa, aku ingin menggeser posisi Neji yang selalu berada di atasku.

Masa-masa SMA yang akan segera berakhir, aku sudah memutuskan melanjutkan di sebuah universitas, jika bisa aku ingin sukses agar ibu merasa tenang di sana dan juga-

Haa..~

Lagi-lagi aku tidak mengingat apapun.

.

.

[by:sasukefans_ama]

.

.

"Aku menyukaimu!"

Menatap gadis berambut goldpale di hadapanku. Aku tidak percaya akan pernyataan cintanya padaku. Di hari kami akan lulus, Ino menyatakan perasaannya.

"Aku yakin kau sudah berusaha menyampaikannya." Ucapku.

"A-apa lagi? Aku sudah menahan ini sejak lama, sejak kita di sekolah yang sama." Ucapnya.

Memeluknya.

"Kau teman terbaik Ino. Maaf." Ucapku.

Ino segera mendorongku.

"Ka-kau akan menyesal!" Ucapnya, dia terlihat kesal, namun gadis ini hanya menahan diri.

Kembali memeluknya.

"Jangan menangis. Mereka akan membunuhku jika melihatmu menangis." Ucapku.

Naruto, Kiba dan Neji pasti tidak akan menerimanya. Mereka seakan mendukungku dengan Ino.

"A-aku tidak menangis." Suaranya bergetar.

Sekali lagi, aku hanya bisa meminta maaf padanya. Aku berterima kasih atas kebaikannya padaku selama ini.

Sejujurnya aku sedang berusaha menghilangkan perasaan aneh yang kadang tiba-tiba muncul. Aku sangat ingin marah, tapi entah pada siapa amarah ini.

Kadang tepat jam 4 pagi, aku terbangun, antara itu mimpi atau aku pernah mengalaminya. Ada apa dengan jam 4 pagi itu? selalu saja aku tidak menemukan jawaban yang membuatku puas.

Hari ini, sebelum kami berpisah. Aku menemui Naruto, aku ingin tahu apa yang ingin Naruto katakan tapi Neji seperti menghalanginya.

"Ada apa? Cepatlah, kita akan makan-makan di ramen Ichiraku." Ucap Naruto.

"Aku ingin menanyakan apa yang terjadi saat aku memukul Neji."

"Kenapa masih membahas hal yang sudah lewat? Aku minta maaf, aku mungkin yang kurang paham akan apa yang terjadi pada kalian. Sudahlah Sasuke. Aku juga tidak akan marah."

"Tidak seperti itu Naruto, kau bisa katakan dengan jelas. Kau tahu bagaimana aku dan Neji, aku tidak mungkin memukul Neji begitu saja. Kalian adalah teman-temanku." Ucapku.

Naruto terlihat menghela napas. Dia terdiam cukup lama, apa dia melupakan semuanya? Aku hanya ingin tahu.

"Sejujurnya kau sangat aneh saat itu Sasuke. Aku dan Neji menemukanmu terbaring di jalanan, kau sepertinya sedang pingsan, saat kami membawamu pulang, kau sadar dan malah memarahi Neji. Kau mengatakan Neji membunuh pacarmu. Aku tidak tahu jika kau punya pacar, tapi apa selama ini kau menyembunyikannya dari kami? Lalu kenapa menuduh Neji yang tidak-tidak? Aku yakin Neji tidak mungkin melakukan hal itu."

Pacar?

Neji membunuh pacarku?

Sejak kapan aku memiliki hubungan dengan seorang gadis?

.

.

TBC

.

.


update...

wah ada apa ini?

ada apa ? kenapa Sasuke jadi lupa? kenapa semuanya jadi aneh?

hehehe.

silahkan pikir sendiri

SEE YOU NEXT CHAP!