I Do Not Own The Characters.
All Characters belong to Hajime Isayama,
I Just Own my Story.
If you DO NOT like the pairing, It means you're in the wrong place.
Leave it as soon as possible without spreading HATE Comments
[!] Mature Content and Bunch of Typos [!]
"Tidak usah, aku akan berangkat sendiri. Kalian semua beristirahatlah."
Levi menggenggam knop pintu, "Aku pergi." dan menutup pintunya dengan keras. Levi menghirup nafas dalam-dalam. Jujur, Levi sendiri tidak tahu harus kemana untuk mencari Mikasa. Tidak ada tempat yang dituju selain pergi ke dinding Sina. Membayangkan perjalanannya saja sudah cukup membuat Levi terdiam. Kenny, pamannya, benar-benar membuat dirinya kewalahan.
Levi membenci pamannya, Levi membenci bagaimana Kenny meninggalkannya hidup sendirian. Ajarannya untuk bertahan hidup hanya sekedar bagaimana caranya agar menang saat berkelahi. Itu yang Kenny ajarkan untuknya. Levi kecil mencari Kenny sendirian, meminta agar Kenny mau untuk mengasuhnya, setelah bertemu Levi justru dihadapkan dengan sebuah kenyataan pahit. Didepan pasukannya Kenny menghardik Levi, mengatakan bahwa Kenny tidak mengenalnya dan mengusirnya seolah Levi sebuah sampah yang pantas dibuang.
Kenny juga menodongkan senjata di keningnya. Levi yang merasa ketakutan hanya bisa berlari menjauh dan tak tentu arah. Pamannya, satu-satu tujuan hidup yang tersisa untuk Levi, sama-sama meninggalkan Levi seperti ibunya. Levi benar-benar sendirian di dunia ini hingga akhirnya ia tak sengaja bertemu dengan Erwin. Dari sanalah Levi membalikkan kiblatnya, dimana Erwin menjadi panutannya dan Kenny menjadi musuhnya.
Levi memastikan 3D Manuvernya terpasang dengan baik. Levi harus menggunakan bahan bakarnya sehemat mungkin. Ini akan menjadi perjalanan yang panjang. Sebelum Levi benar-benar meninggalkan pintu ruangan Erwin, suara Petra mencegahnya.
Petra berlari secepat yang ia bisa. Sementara Levi menunggunya dengan tanpa ekspresi. Levi sudah tidak punya banyak waktu, disisi lain ia juga tidak bisa menolak ajakan Petra untuk berbicara sebentar. Petra mengambil nafas ketika sampai di hadapan Levi, membuat kontak mata dengannya dan menelan ludah.
"Heichou…" ucapnya lirih.
"Petra."
Setia menunggu, Levi memainkan alat 3D Manuver di pinggangnya. Petra menggigit bibirnya, bingung apa ia harus melanjutkan pembicaraannya atau tidak. Tapi ini sudah tanggung, Levi menunggunya untuk bicara.
"Aku minta maaf." Petra membungkukkan badannya 90 derajat. Levi yang tidak mengerti diam tak menanggapi. Kalimat Petra terlalu ambigu untuk dibalas, seperti Mikasa, perkataannya belum sempurna, Levi menunggu Petra menjelaskan maksudnya.
"Aku tidak bermaksud untuk selalu menganggu kehidupan pribadimu, tapi…" Petra menatap pijakan dibawahnya, tidak berani beradu pandang dengan Levi, "Aku sudah terbiasa melakukan hal itu sejak dulu." Wanita selalu bertele-tele, Levi maklum.
"Kau tidak pernah memprotes apa yang sering aku lakukan dulu, hingga akhirnya aku merasa kau baik-baik saja dengan itu. Sejak kau menikah pun aku masih ingin melakukannya, aku tahu seharusnya aku berhenti karena sudah ada seseorang yang akan melakukannya untukmu. Tapi dengan keegoisanku aku terus menerus melakukannya—"
"Terimakasih, Petra." Levi sudah tahu kemana arahnya pembicaraan Petra. Lagi-lagi sesuatu yang tidak ingin didengarnya. Levi heran mengapa wanita sangat berbelit-belit dan senang untuk membahas sesuatu yang telah lalu. Petra dan Mikasa, sama saja.
Petra menegakkan tubuhnya, "Ya?"
"Kau memang prajuritku terbaikku." Hanya ini yang bisa Levi lakukan untuk menenangkannya. Sulit rasanya untuk mengatakan sesuatu yang bisa membuat wanita lain tersipu, karena hanya Mikasa yang pantas untuk mendengarnya. Levi sudah tak segan-segan menggeluarkan gombalan manisnya pada Mikasa.
"Prajurit…" Petra memainkan tangannya dan menyembunyikan senyum kecutnya. Tentu saja, apa yang diharapkan untuk didengarnya. Levi benar, untuknya, Petra hanya seorang prajurit, Petra sendiri yang terlalu berekspektasi. Sejak dulu yang mempunyai perasaan hanya dirinya sendiri, tidak bagi Levi. Omong-omong perasaan, bagaimana bisa Petra jatuh cinta pada suami orang? Ini sebuah kejahatan yang sadis.
"Ha…kau yang terbaik." Levi mencoba menyenangkan hati Petra.
Petra mungkin orang yang pertama kali jatuh hati pada Levi dan ia belum siap untuk ini, tapi semuanya tidak akan berubah. Melihat Levi dan Mikasa setiap hari bersama memang sudah seharusnya seperti itu. Bahkan tidak sengaja Petra pernah mendengar suara erotis di balik pintu kamar Levi dan Mikasa saat ia hendak mengantarkan teh untuk Levi.
Dulu saat Levi dan Mikasa terlihat acuh satu sama lain dengan bodohnya Petra merasa senang. Berpikir jika dirinya mungkin punya kesempatan untuk Levi, tapi kenyataan berangsu-angsur memberi jawaban yang berbeda.. Mereka sudah melekat dan tidak akan ada yang bisa memisahkannya. Terutama Petra. Ayolah siapa dirinya, dia bukan apa-apa.
Tidak akan menjadi masalah besar juga jika Petra mengutarakannya hari ini. Ini hanya untuk membuat dirinya lebih lega, tidak ada yang mengganjal dihatinya. Terlebih Mikasa sedang tidak ada disini—sebenarnya Petra merasa sudah sangat jahat, lagi-lagi kepalang tanggung. Ini satu-satunya waktu yang tepat. Sangat sulit bertemu Levi dalam keadaan berdua saja seperti ini.
"Heichou…Aku hanya akan melakukan ini sekali saja dan selanjutnya lupakan saja semuanya. Aku ingin membuang beban diriku saja, kau bisa, kan?"
Wanita itu sangat sulit di mengerti. Itu yang Levi pelajari selama ini—dari Mikasa. Memahami apa keinginan wanita, itu yang harus dilakukannya, "Baiklah, Petra."
Petra memejamkan matanya, mengeratkan kepalanya dan berlari. Menabrak Levi lalu memeluknya dengan erat dan berucap di dada Levi tanpa berani membuka matanya, "Semoga setelah ini, kalian selalu bahagia. Dariku, yang pernah menyukaimu." Kalimat terakhirnya Petra pelankan, sialnya Levi masih bisa mendengarnya.
Levi tersentak, tubuhnya membeku mendapatkan serangan tiba-tiba yang Petra. Syukur tidak ada orang-orang di sekitarnya. Levi tidak menyangka Petra seberani ini. Apa yang sudah ia perbuat hingga Petra bisa menyukainya. Yang dilakukannya selama ini didepan Petra hanya meminum teh, memimpin pasukan untuk menyemblih para titan, berkata kasar pada prajurit laki-laki dan bekerja dengan kertas-kertas sialan. Bagaimana bisa Petra mengatakan bahwa ia menyukainya? menggodanya pun Levi tidak pernah—itu yang diingatnya.
"Petra, aku tidak bisa—" mencari kalimat yang pas agar tidak menyakiti hati Petra sedang dilakukan Levi.
"Tentu saja! Sudah ku bilang untuk melupakan hal ini setelahnya." Petra mengeratkan pelukannya, Levi bersumpah ia sulit untuk bernafas.
"Baiklah…" Levi mengangkat tangannya dengan ragu, "Terimakasih telah mengatakannya padaku." Levi menepuk-nepuk kepala Petra beberapa kali. Memberi sinyal untuk melepaskan dirinya, tapi Petra menangkap jika Levi sedang berusaha menghiburnya.
"MIKASA?!" suara melengking milik Eren dan Armin mengejutkan Levi dan Petra. Levi menoleh ke belakangnya dan mendapati Mikasa berdiri disana. Tengah memperhatikan mereka berdua di saat yang tidak tepat. Levi sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya, benar saja, Mikasa membuang muka.
"Mikasa…"
Sial, Levi membatin. Levi mendorong Petra menjauh dari tubuhnya. Berlari ke arah Mikasa yang tengah di kelilingi para kadet. Petra bergegas mengetuk pintu ruangan Erwin, memberitahu Erwin dan Hanji jika Mikasa sudah kembali.
"Mikasa, kau baik-baik saja?" Eren dan Armin menjadi khawatir saat melihat luka dan lebam di sekujur tubuh Mikasa. Mikasa tersenyum kecil dan mengatakan ia baik-baik saja.
Para kadet mundur perlahan saat Kenny keluar dari kereta kuda dengan seringai dan cerutu di giginya. Disusul dengan prajurit-prajurit dibelakangnya. Eren, Armin, Jean dan Connie berbisik satu sama lain. Prajurit-prajurit Kenny itu adalah orang asing yang sering terlihat di sekitar barak. Sekarang semuanya menjadi jelas bagi mereka. Ini semua ulah Kenny Ackerman dan mereka ketakutan.
"Mikasa."
Levi menatap tidak percaya dengan luka-luka di tubuh Mikasa. Levi menggeram, tidak ada yang boleh memberikan bekas-bekas di tubuh Mikasa, kecuali dirinya. Levi hendak menggapai Mikasa, mencoba menghiraukan Kenny yang terus-menerus melemparkan senyumnya tapi Mikasa sudah lebih dulu dirangkul oleh Kenny. Mikasa membuang muka, enggan untuk menatap Levi.
"Wo wo wo, tidak secepat itu, Nak." Kenny tersenyum mengejek pada Levi yang sudah sangat lama ia tidak berikan. Raut sadis keponakannya itu, Kenny merindukannya.
Kenny memundurkan Mikasa, meminta prajurit untuk menjaganya kalau-kalau Mikasa memberontak atau para kadet disini membawanya kabur. Kenny membetulkan topinya, berdiri di hadapan Levi dan menghembuskan asap cerutunya tepat di wajah Levi.
Levi mencengkram kerah baju Kenny, membawa diri Kenny untuk sejajar dengannya. Amarahnya sudah memuncak. Berani-beraninya Kenny membuat dirinya terpisah dari Mikasa, bahkan menyiksa Mikasa hingga babak belur seperti itu. Levi tidak akan pernah memaafkannya.
"Kau, berani-beraninya menyakiti Mikasa." jangan tanya bagaimana perasaan Levi sekarang. Melihat Mikasa yang seperti itu saja sudah membuat hatinya hancur. Apalagi Levi tahu jika yang melakukan itu adalah paman yang sangat dibencinya.
"Mikasa!" Erwin dan Hanji muncul dari belakang, dengan Petra yang menyusul. Petra tidak ingin Mikasa melihatnya. Dengan tubuh mungilnya, ia memilih untuk menyembunyikan diri di belakang para kadet dan menundukkan kepalanya. Sekali lagi, ia telah membuat kesalahan dihadapan Mikasa.
"Kenny…" Erwin maju selangkah, memerintahkan Levi untuk melepaskan cengkramannya. Mungkin saja Kenny ingin membuat sebuah kesepakatan—itu yang Erwin pikirkan mengapa Kenny membawa Mikasa kemari.
"Mikasa…dia terluka." Hanji menutup mulutnya, membuat Levi semakin panas.
"Kalian semua sudah hadir disini? Baguslah. Ah, aku lupa memperlihatkan seseorang. Oi, kemarilah!" Kenny berteriak ke kereta paling belakang yang tertutupi dengan tenda hitam. Nanaba muncul dengan menundukkan kepalanya.
Setiap langkah Nanaba diikuti dengan pandangan para kadet yang keheranan. Nanaba, berada di pihak Kenny. Kenny merangkul Nanaba, mengacak-ngacak rambutnya dan memperkenalkan Nanaba dengan gembira, "Dia orang yang bisa diandalkan."
"Nanaba? Kau—Tch, aku mengerti sekarang." Levi mengintimidasi dengan suara baritonnya. Nanaba tidak menjawab. Ini sangat memalukan. Nanaba tidak bisa menatap kekecewaan teman kadet yang baru ia kenal beberapa minggu. Terutama Connie, Jean dan Sasha.
"Nanaba, aku tidak percaya kau melakukannya." Sasha secara tak sadar membuang kentangnya, daftar orang-orang yang di kecewakan Nanaba bertambah. Nanaba semakin terpojok, ia sudah kehilangan muka.
"Aku suka saat orang-orang saling membenci." Kenny mendorong tubuh Nanaba dengan keras, "Tapi mulai hari ini aku tidak membutuhkannya." Percuma, Nanaba tidak akan mendapatkan kepercayaan dari teman-temannya lagi. Nanaba mundur ke belakang.
"Kenny, apa maksudmu datang kemari? Kau ingin membuat kesepakatan?" sudah cukup basa-basinya baginya Erwin, yang Erwin inginkan adalah Mikasa kembali dan kehidupannya berjalan dengan normal kembali.
"Tenang saja sobat lamaku, aku kemari hanya untuk mengantarkan anak itu." Mikasa yang dituju.
"Hanya itu?" ada sedikit rasa curiga. Erwin yakin jika Kenny bukan termasuk orang yang segampang itu. Ada hal lain yang disembunyikan Kenny.
"Selebihnya, akan disampaikan sendiri oleh orang yang bersangkutan." Kenny berjalan menuju Mikasa, mendorong Mikasa dan memperhatikan mereka berbincang sambil menikmati cerutunya.
Mikasa tertunduk menatap tanah yang di pijaknya. Mencari kata yang tepat untuk memulai pembicaraannya. Mikasa beralih pada satu persatu orang di hadapannya, mengecualikan Levi yang terus menerus meminta perhatian dari Mikasa. Levi, Eren dan Armin tergerak untuk mendekat pada Mikasa, Mikasa mencegahnya.
"Kalian semua, diam saja disitu dan dengarkan aku." Dingin dan menyakitkan untuk siapa pun yang mendengarnya.
"Mikasa, ada apa ini?" Erwin ikut andil, titelnya sebagai komandan tidak akan membuat Mikasa kasar terhadapnya. Bagaimanapun Mikasa masih menjadi salah satu kadetnya.
"Danchou, urusanku telah selesai disini."
"Mikasa, apa yang kau bicarakan?" lagi-lagi keberadaan Levi tidak dianggap oleh Mikasa.
"Alasan pertamaku untuk datang kemari adalah menemani Eren dan Armin, karena sebelumnya aku tahu mereka lemah dan anak yang cengeng. Maka dari itu aku harus menjaganya." Eren dan Armin tidak berkomentar, Mikasa ada benarnya, Mikasa bagaikan ibu mereka disini. Menjaga dan mengatur mereka.
"Tapi sekarang Eren dan Armin menjadi lebih kuat. Mereka tidak membutuhkanku lagi."
"Mikasa, tidak seperti itu!" Eren tidak terima untuk perkatannya yang ini.
"Sudah ku bilang diam." Kasar, Mikasa menjadi kasar. Armin menahan Eren untuk tetap ditempatnya. Raut wajah Eren menunjukkan sebuah kesedihan.
"Kadet terkuat? Aku bukan lagi jawabannya, ada Annie yang kemampuan bertarungnya berada diatasku. Kalian sendiri pun tahu itu. Maka dari itu, aku tidak dibutuhkan lagi disini."
"Danchou, aku sudah dianggap dewasa, kan? Kau bahkan membuat sebuah pernikahan untukku. Itu artinya, aku adalah wanita dewasa, kan?" Mikasa mengintimidasi Erwin dengan pertanyaan simpelnya.
Erwin mengangguk, "Y-ya, bisa dikatakan seperti itu." Tidak ada yang bisa ia ucapkan lagi selain itu.
"Tidak perlu takut, aku sudah tahu semua alasannya." Mikasa merobek emblem di seragamnya, "Karena sudah dewasa, aku membuat keputusan sendiri. Aku akan hidup dengan pilihanku sendiri dan dengan jalanku sendiri."
Mikasa meletakkan emblemnya di tangan Eren, "Terimakasih dan maaf untuk semuanya." Mikasa memberi salam hormat terakhir pada Erwin dan teman-temannya.
"Mikasa! Apa yang pria tua itu lakukan hingga kau seperti ini?" Levi mencengkram bahu Mikasa, tidak sadar seberapa sakit rasa yang diberikan lewat tangannya itu. Apa Mikasa semarah itu padanya, hingga ia mau meninggalkan semuanya. Terlalu drama tapi Levi tidak mau itu terjadi. Berpisah dengan Mikasa selama beberapa hari saja sudah cukup membuatnya gila, apalagi kini Mikasa akan pergi meninggalkannya.
"Aku…tidak mau lagi ditinggalkan seorang wanita…dalam hidupku."
Levi tidak peduli dengan reaksi orang-orang di sekitarnya setelah mendengarkan kalimat cheesynya, memperlihatkan sisi lain dalam dirinya. Orang yang rapuh dan kesepian. Itu adalah kata yang cocok untuk mendeskripsikan seorang Levi dari sudut yang berbeda.
Muak. Perkataan itu tidak akan pernah lagi membuat perasaan Mikasa melunak. Apa yang dilihat Mikasa tadi menjadi jawabannya. Levi sama brengseknya dengan pria lain. Mikasa tidak dapat membayangkan apa yang sudah Levi dan Petra lakukan selama ini dibelakangnya. Saat Mikasa diculik dan disiksa habis-habisan. Bukan hanya Kenny, pria bermarga Ackerman yang memberikannya luka, Levi juga. Hanya saja dalam konteks yang berbeda.
Mikasa melepaskan tangan Levi, "Tentu saja, akan ada wanita yang tetap tinggal disisimu hingga kau mati. Jangan khawatir, pak tua. Masa tuamu nanti tidak akan semenyedihkan itu." Mikasa melirik Petra yang berada di balik kerumunan. Ada bagusnya juga Mikasa bertubuh tinggi.
Levi menatap kosong tangannya yang terkulai lemas. Pupil matanya mengecil, berharap ini hanya mimpi. Kaki Levi bergetar, hampir tidak mampu berdiri. Ini seperti kutukan baginya di dunia. Mengapa saat Levi mencintai seorang wanita, semuanya selalu berakhir dengan meninggalkannya. Dulu ibunya, dan sekarang giliran Mikasa. Apa seorang Ackerman tidak pantas untuk dicintai? Ini menyesakkan.
Mikasa tidak berkata lebih lagi. Ia memilih berbalik, berjalan menjauh dan menahan tangisnya. Keputusannya sudah bulat, ia akan bergabung dengan Kenny. Semula Mikasa berharap jika datang kesini, bertemu teman-temannya dan bertermu Levi, Mikasa bisa merubah keputusannya Mikasa tersenyum kecut, itu adalah pikiran bodoh. Levi yang tidak pernah mengutarakan perasaannya, melihat Levi dan Petra, malah mendorong Mikasa untuk pergi dari sini, lalu melupakan semuanya. Jika harus sesakit ini, seharusnya dari awal ia tidak usah datang ke barak.
"Mikasa! Apa kau ingat dengan—"
"Diamlah Armin!" Mikasa berteriak, tidak ingin Armin merusak keputusannya dengan kalimat-kalimat yang mampu membalikkan niatnya.
Kehidupan di barak bersama Levi akan lebih menyakitkan jika Mikasa tergoda dengan kata-kata Armin. Mikasa benar-benar ingin pergi dari sini, melupakan Levi dan semuanya. Mikasa ingin menjadi orang baru. Orang yang dicintainya telah menyakitinya. Ya, Mikasa mengakuinya, Mikasa pencemburu, meski Levi hanya berpelukan dengan Petra. Tapi bukankah sangat tidak etis mengingat Levi adalah seseorang yang sudah beristri?
"Mikasa, aku meminta maaf, aku yang membuat semuanya menjadi berantakan seperti ini. Aku telah membuat keputusan yang salah, maka dari itu beri aku kesempatan untuk memperbaikinya dan kembalilah."
Para kaget tercengang, Erwin berdiri di atas tanah dengan kedua lututnya, memohon kepada Mikasa untuk mengurungkan niatnya. Mikasa sempat ingin menghampiri Erwin untuk membuatnya bangkit. Bukan ini yang Mikasa inginkan, Erwin tidak harus sampai seperti itu. Tapi lagi-lagi kakinya tidak bisa bergerak.
"Aku memerintahkanmu untuk kembali, Mikasa Ackerman." Levi menggeram, menahan amarahnya yang memuncak, Mikasa sudah berlebihan dan Levi akan menjelaskan semuanya nanti jika Mikasa sudah tenang. Levi yakin Mikasa melakukan ini karena Mikasa sedang marah, pikirannya kacau sehingga tidak bisa berpikir dengan jernih. Membiarkan setan menguasai dirinya.
Mendengar itu Mikasa kembali terjun ke dalam lubang amarahnya, suara Levi menjadi satu-satunya suara yang ia benci, Mikasa memutuskan berjalan menuju Kenny yang sedang merentangkan tangan dengan senyuman ke arahnya. Erwin bertekuk lutut meski Hanji sudah berkali-kali memintanya untuk berdiri.
"MIKASA ACKERMAN!" ini pertama kalinya Levi berteriak. Levi menarik pergelangan tangan Mikasa, membalikkan tubuh Mikasa menghadapnya. Dengan gerakan cepat pun Mikasa mengambil senapan api di pinggang Kenny dan menodongkannya tepat di kening Levi. Semua orang disana terkesiap, tidak percaya dengan apa yang dilakukan Mikasa. Begitu juga dengan Levi, senapan api itu…kembali ada di keningnya. Lebih menyedihkannya lagi, Mikasa yang melakukannya. Wanita yang dicintainya.
"Lepaskan tanganmu itu, sekarang."
End of the Chapter
Don't forget to sips your own tea before it's getting cold.
