Haihai, maaf telat update ya
Enjoy!
Sorry for typo-
The 2nd Meeting
Chapter 17
.
.
Setelah pesta berakhir, Jongin langsung mengantar Kyungsoo pulang. Ia menghentikan mobilnya di depan apartemen.
"Sudah sampai, terima kasih sudah menemaniku, Kyungsoo-ssi." Ucap Jongin.
"Ne… kalau begitu aku masuk–"
"Kyungsoo-ssi…" panggil Jongin sebelum wanita itu keluar dari mobil. Kyungsoo menoleh, mengurungkan niatnya untuk membuka pintu. "…apa besok kau mau makan siang denganku?"
Ada jeda sebentar sebelum Kyungsoo menjawabnya, "…baiklah."
Jongin membulatkan matanya, ia akui cukup terkejut karena Kyungsoo dengan mudah menyetujuinya. Ia merasa bersemangat, "baiklah! Aku akan menjemput–"
"–aku akan menunggu di tempat biasa kita makan. Hati-hati di jalan." setelah mengatakan itu, Kyungsoo keluar dari mobil.
Jongin membuka kaca mobilnya lalu menatap punggung Kyungsoo yang semakin menjauh. Ia tersenyum, "yah setidaknya ia tidak terpaksa…"
..
..
Keesokkan harinya, Kyungsoo segera membereskan mejanya begitu ia kembali dari mengajar. Kim Joonmyun memerhatikan Kyungsoo yang terlihat tidak seperti biasanya.
"Do seonsaengnim, apa kau mau pergi?" tanya Joonmyun.
"Oh… ya, ada sedikit urusan." Jawab Kyungsoo sekenanya. Tiba-tiba ponsel Kyungsoo berbunyi, ia segara membukanya. Ternyata sebuah pesan masuk dari Jongin yang mengatakan bahwa pria itu sudah sampai di tempat janjian. Tanpa sadar Kyungsoo tersenyum tipis, tidak begitu kentara, tapi pria yang masih memerhatikannya pasti menyadarinya. "Cepat sekali sampainya," gumam Kyungsoo pelan.
"Kau ada janji dengan seseorang?" suara Joonmyun kembali terdengar.
Kyungsoo menoleh pada Joonmyun sekilas, kenapa pria itu seolah-olah ingin tahu urusannya? Pikirnya. "Ya…"
"Apa itu penting?" tanya Joonmyun lagi.
Kyungsoo meletakkan bukunya sedikit lebih keras, "Kim seonsaengnim, maaf… apa kau ingin mengatakan sesuatu padaku?"
"Sebenarnya ada, tapi tidak sekarang. Apa kau kita bisa mengatur waktu?"
"Maaf, aku harus pergi." Ucap Kyungsoo lalu pergi tanpa menjawab permintaan rekannya itu.
"Kim Jongin… kan?" Gumam Joonmyun setelah Kyungsoo keluar dari ruang guru. "Apa Kyungsoo-ssi tahu siapa pria itu?"
..
..
Kyungsoo masuk ke restoran yang terlihat ramai, tentu saja karena saat ini adalah jam makan siang.
"Kyungsoo-ssi!"
Kyungsoo menoleh ke sumber suara, pria itu benar sudah menunggunya di salah satu meja. Untung saja mereka dapat tempat, di sini sudah penuh sekali. Kyungsoo menggelengkan kepalanya, 'kenapa aku jadi khawatir kalau kami batal makan siang?' gumamnya dalam hati.
"Apa kau menunggu lama?" tanya Kyungsoo sambil duduk di kursinya.
"Tidak, aku juga baru sampai. Mau pesan sekarang?"
Kyungsoo mengangguk.
"Seperti biasa?" tanya Jongin yang dibalas anggukkan lagi oleh Kyungsoo.
"Oke." Setelah memanggil pelayan, Jongin menyebutkan pesanan mereka. Sepertinya mereka sudah cukup akrab–tidak, maksudnya hubungan mereka baik-baik saja. Bahkan, Kyungsoo tidak mengomentari apapun saat Jongin yang memesan semuanya tanpa bertanya dua kali padanya.
"Kyungsoo-ssi, aku penasaran sesuatu…" Jongin memulai percakapan saat pelayan sudah pergi. Kyungsoo menatap Jongin dengan tatapan penuh tanya. "…kenapa kau setuju makan siang denganku semudah ini?"
Kyungsoo terdiam, ia juga tidak tahu alasannya. Ia akui bahwa keberadaan pria ini tidak lagi membuatnya kesal atau memproduksi pikiran negatif yang berlebihan. "Lalu, kau mau aku pergi saja?–"
"–tidak-tidak! Bukan itu maksudku… baiklah kau tidak perlu menjawabnya."
"Jongin-ssi…" kini Kyungsoo yang memanggil.
"Ne?" Jongin menyahuti dengan antusias.
"Sepertinya kau selalu memakai pakaian yang rapi setiap kita bertemu, aku penasaran apa pekerjaanmu."
Ucapan Kyungsoo sukses membuat Jongin tersenyum, namun dalam hatinya ia merasa was-was. 'Apa yang terjadi jika dia tahu siapa aku…?' pikir Jongin. "Wow, aku tidak tahu kau selalu memerhatikanku." Kekehnya.
"Maaf, bilang saja jika tidak mau menjawab." Respons Kyungsoo cepat tanpa ekspresi.
Jongin menggeleng, ia khawatir membuat mood wanita dihadapannya menjadi buruk. "Aku, yah… bekerja bersama Sehun." Setelah mengatakannya, Jongin merutuki dirinya yang malah berbohong.
Kyungsoo mengangguk-anggukkan kepalanya, "ah, maka itu kau diundang kemarin."
"Ne…" Jongin bergumam dalam hatinya, 'setidaknya tidak sepenuhnya berbohong. Yayasanku memang bekerjasama dengan perusahaan Sehun'.
"Jadi, di bagian apa kau bekerja di perusahaan Sehun-ssi?" tanya Kyungsoo.
Jongin terkejut, tentu saja sepertinya Kyungsoo telah salah paham dengan kalimat 'bekerja bersama Sehun'. "Itu…" Jongin terlihat berpikir, "…karyawan biasa,"
Kyungsoo hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
'Sial! Kenapa jadi benar berbohong!' rutuk Jongin.
Tak lama, makanan mereka datang. Keduanya mulai makan dengan tenang.
"…tapi Jongin-ssi, jika kau bekerja di perusahaan Sehun-ssi, kenapa saat di Hawaii kau tidak ikut membantu Sehun-ssi?"
Jongin mengingat saat Sehun dahulu datang ke villa dalam keadaan kacau setelah pertemuan dengan klien. Ia memutar otaknya, mencari cara untuk mengalihkan pembicaraan. "Oh, Kyungsoo-ssi, sepertinya kau memang benar seorang guru."
"Ne?"
"Hebat sekali, ingatanmu jangka panjang dan tajam." Kekeh Jongin.
Kyungsoo tersenyum, senyum yang jarang sekali Jongin bisa lihat. "Aku cukup profesional di dunia pendidikan."
Jongin yang masih terpana melihat senyum Kyungsoo tanpa sadar mengucapkan kalimat fatal. "Ne, aku juga…"
Kyungsoo menghentikan kegiatannya, ia menatap pada Jongin. "Kau… di dunia pendidikan?"
Jongin segera tersadar lalu tertawa canggung "ah… maksudnya aku juga profesional di bidangku." Setelah itu Jongin berusaha untuk mencari obrolan lain.
..
..
Setelah makan siang, Kyungsoo kembali ke sekolah. Lima belas menit lagi bel masuk, ia segera menyiapkan bahan mengajarnya.
"Do seonsaengnim…" Joonmyun menghampiri Kyungsoo.
"Ne?"
"Mengenai yang tadi, apa kau ada waktu sepulang sekolah?" tanya Joonmyun.
"Ingin membicarakan mengenai apa? Tidak bisa sekarang saja?"
"Ini bukan urusan sekolah, meski sedikit masih berhubungan."
Kyungsoo mengerutkan dahinya tidak mengerti, "baiklah."
Joonmyun tersenyum senang, "ne, aku akan menunggu di gerbang."
..
..
Jam pulang sekolah pun tiba. Kyungsoo kembali ke ruang guru dan mulai merapikan mejanya. Ia melirik meja di sebelahnya, meja milik Joonmyun itu terlihat sudah rapi. Tentu saja, jam belajar sudah berakhir, tapi Kyungsoo yang sekalian mengampu sebagai wali kelas harus mengunjungi murid-muridnya dahulu.
Setelah selesai, Kyungsoo segera bergegas ke gerbang. Di sana, Joonmyun sudah menunggunya, pria itu sedang berbincang dengan petugas keamanan.
"Kim seonsaengnim?" panggil Kyungsoo.
Joonmyun menoleh. "Ah, sudah datang? Tunggu sebentar…" Pria itu kembali menoleh pada satpam, setelah berpamitan, keduanya pun menuju tempat dimana seharusnya mereka berbicara. Mereka memilih kafe yang tidak terlalu dekat, tapi tidak juga jauh.
"Jadi, ada apa Kim seonsaengnim?" tanya Kyungsoo.
"Kyungsoo-ssi, apa kau tahu siapa Kim Jongin-ssi?"
"Jongin-ssi? Ia…" Kyungsoo diam sejenak, ia tidak tahu harus menyebut Jongin sebagai apa. Teman? Tidak juga. Kenalan? Terlihat seperti sekali bertemu. Teman kekasih sahabatku? Aish! Itu terlalu rumit! "…lalu, kau kenal dia?" tanya Kyungsoo balik.
Joonmyun memperlihatkan ponselnya. Di sana terlihat sebuah foto yang diambil di panti. Kyungsoo mengerutkan dahinya. "Ini foto?"
Joonmyun mengangguk, "lihat lebih teliti. Di sini tertulis 'Kenang-Kenangan Bersama Kepala Yayasan Kim Family Group Terbaru Tahun 2017'. Lihat pria ini…" ia menunjuk pada seorang pria yang begitu familiar bagi mereka, "…bukankah ini Kim Jongin-ssi? Kita bertemu dengannya di panti asuhan milik Yayasan.
Apa maksudnya? Pikir Kyungsoo. Ia mengingat percakapannya dengan Jongin yang masih segar di pikirannya.
"Aku, yah… bekerja bersama Sehun."
"Jadi, di bagian apa kau bekerja di perusahaan Sehun-ssi?"
"Itu… karyawan biasa,"
Kenapa pria itu berbohong? Gumam Kyungsoo.
"Kyungsoo-ssi?" panggil Joonmyun sambil melambaikan tangannya di depan wajah Kyungsoo.
"Ah, ne? Lalu, kalau dia kepala yayasan ada yang salah?" tanyanya.
Joonmyun menggeser layar ponselnya untuk memperlihatkan foto lainnya. "Aku menemukan foto-foto ini…"
Mata Kyungsoo membulat, di sana berbagai foto Jongin dengan wanita yang berbeda-beda terlihat jelas. Sebagian besar diambil di diskotik dan sebagian lainnya di luar hotel. Jantung Kyungsoo terasa berhenti berdetak, aliran darahnya membeku, telinganya mendadak tuli. 'Apa-apaan ini?'
'Aku tahu pria ini memang berengsek, tapi… kenapa aku–'
Kyungsoo tak merasa marah sama sekali, seharusnya saat ini ia sudah meledak karena ketua yayasan tempat sekolahnya bernaung merupakan orang seperti Jongin. Pria yang memimpin pendidikan memiliki sifat seburuk ini? Bukankah itu tidak bagus? Namun, bukan itu yang Kyungsoo takutkan. Ia lebih takut jika foto-foto ini tersebar dan membuat buruk citra yayasan dan menghancurkan pria itu. Meski yang ia lihat adalah sebuah fakta, entah kenapa ia tidak bisa mengabaikan masa lalu pria itu yang mengakibatkan kejadian di foto.
'Apa yang harus aku lakukan…?'
"…Kyungsoo-sii? Tidakkah kau setuju?" suara Joonmyun terdengar, Kyungsoo kembali ke dunianya.
"Ma-maaf, a-apa?" tanya Kyungsoo tergagap.
"Apa lebih baik kita melaporkan ini? Aku tidak mau yayasan kita tercemar dan dipimpin oleh orang ini–"
"Joo-Joonmyun-ssi… apa kita bisa hapus saja?"
Joonmyun menatap Kyungsoo tidak mengerti. "Apa maksudmu? Kau mau menyembunyikan hal ini?"
"Bu-bukan begitu, bagaimana jika yayasan menjadi kacau dan memengaruhi murid-murid kita? Bukankah kita juga yang akan kewalahan untuk mengatasinya? Apalagi orangtua murid yang sulit diberi pengertian." Jawab Kyungsoo.
Joonmyun tersenyum, "tenang saja Kyungsoo-ssi, hal ini tidak akan terpublikasi. Aku tahu caranya."
Kyungsoo mulai takut dengan pemikiran Joonmyun, "a-apa maksdumu? Ba-bagaimana?"
Joonmyun tersenyum lebih meyakinkan, "jangan khawatir. Kau setuju kan jika ketua yang seperti itu tidak pantas memimpin pendidikan?"
Kyungsoo terdiam, ia mencoba mencari cara untuk meredamkan amarah Joonmyun. "Joonmyun-ssi, untuk apa kau melakukan hal merepotkan ini? Sekolah kita juga bukan di pusat, bukan urusan kita kan? Atau… kau memiliki maksud lain?"
Joonmyun menatap Kyungsoo tanpa ekspresi. "Apa maksudmu dengan 'maksud lain'? Aku hanya tidak mau kau dekat dengan pria seperti ini, Kyungsoo-ssi."
Tanpa sadar Kyungsoo menggenggam erat tangannya, ia semakin khawatir dengan pikiran pria di hadapannya.
"…Kyungsoo-ssi, bukankah kau terkesan seperti ingin menutupi ini? Ada apa? Kau menyukai pria itu? Jika kau ingin tahu, aku lebih peduli padamu!"
Kyungsoo terkejut dengan pengakuan Joonmyun yang tiba-tiba. Mendadak ia tidak bisa membalas ucapan pria itu.
"…waeyo? Apa benar? Atau… kau sudah menjadi salah satu wanita seperti yang di foto ini?" tanya Joonmyun membuat Kyungsoo tambah terkejut. Joonmyun memajukan wajahnya mendekat pada Kyungsoo membuat si wanita memundurkan tubuhnya refleks. "Gwaenchanhayo, aku tidak masalah. Aku akan tetap mencintaimu." Lanjut Joonmyun.
PLAK!
Sebuah tamparan tiba-tiba saja Kyungsoo layangkan. Wanita itu sudah kehabisan kesabarannya. Melakukan hal buruk pada Jongin membuatnya khawatir dan pernyataan cinta Joonmyun membuatnya terkejut. Dua hal itu masih bisa Kyungsoo tahan, tapi, disangka wanita murahan membuat kesabarannya habis.
"Jika kau ingin melaporkannya, lakukan saja! Jangan bawa-bawa perasaanmu padaku untuk itu. Aku berterima kasih karena kau peduli padaku, tapi aku bisa menjaga diriku sendiri. Anggap saja aku tidak pernah tahu hal ini. Permisi." Ucap Kyungsoo dengan mata yang menyala. Dengan cepat ia pergi dari kafe sebelum amarahnya makin besar karena mendengar ucapan rekannya itu.
Di dalam taksi, Kyungsoo tak bisa menahan emosinya. Ia menangis sendirian di sana dengan pikiran yang dipenuhi ketakutan dan kebingungan. Ia cukup bingung dengan perasaannya saat ini yang seperti bukan dirinya.
'Apa yang terjadi padanya jika foto-foto itu benar dilaporkan?' pikir Kyungsoo. Memang, pendangan sosial tidak akan peduli dengan masa lalu seseorang yang pernah dilaluinya. Masa lalu yang menyedihkan atau tidak, mereka tidak akan memakluminya. Yang mereka pedulikan hanyalah kelakuan seorang pemimpin pendidikan yang memiliki sifat tercela.
.
.
Kyungsoo memijakkan kakinya ka kantor yayasan, setelah berpikir cukup lama akhirnya ia memutuskan untuk kemari. Saat ia hampir di apartemennya tadi, Kyungsoo meminta supir taksi untuk putar balik. Lalu, di sinilah ia sekarang, bangunan megah yang masih terlihat ramai meski sudah jam pulang kerja. Ia dengan cepat menuju bagian resepsionis untuk menanyakan apakah ketua yayasan ada di kantornya.
"Maaf, Do Kyungsoo-ssi, tapi ketua sudah akan pulang. Ia tidak lagi menerima tamu." Ucap petugas resepsionis.
Kyungsoo mengangguk, "baiklah, terima kasih." Ia menghela napas kecewanya, seharusnya ia bisa lebih cepat kemari. Secara tak sengaja, mata Kyungsoo bertemu dengan pria yang sedang ia cari. Pria itu terlihat terkejut.
Kyungsoo segera mendekati Jongin. "Jongin-ssi– ah, jeosonghamnida Tuan Kim. Apa Anda memiliki waktu?"
Jongin masih terkejut, ia tidak pernah menyangka akan bertemu Kyungsoo di gedung ini. Ia harus memikirkan alasannya, pikirnya. Atau… setidaknya ia harus jujur kali ini. Mungkin ini adalah kesempatan yang diberikan Tuhan untuk mengakuinya.
"Mari bicara di ruanganku, Kyungsoo-ssi." Ucap Jongin.
..
..
"Kyungsoo-ssi… sebelumnya aku ingin mengakui sesuatu–"
Tanpa mendengar kelanjutan ucapan Jongin, Kyungsoo terlebih dahulu menyelanya. "Jongin-ssi, apa selama kau bermain–" tiba-tiba saja tenggorokkannya terasa tercekat, "–bertemu dengan wanita, apa ada yang tahu?"
Jongin mengerutkan keningnya, kenapa wanita ini tiba-tiba menanyakan hal ini? "Maksudmu?"
"Jawab saja!" seru Kyungsoo tidak sabar.
Jongin menggeleng, ia menelan ludahnya susah payah. "Aku merahasiakan itu tentu saja, saat di luar kantor, aku adalah orang lain."
"Benar-benar pemain yang andal!" komentar Kyungsoo. "Ani lupakan– kau yakin?"
Jongin mengangguk, "tentu, tapi bagaimana kau tahu?"
"Itu masalahnya, seseorang mendapatkan fotomu dan…" Kyungsoo menarik napasnya dalam-dalam, "…dan seseorang itu akan melaporkannya. Sebagai pimpinan yayasan, kau tidak sepantasnya melakukan hal seperti itu. Begitu, pemikirannya."
Jongin terdiam, ia paham situasinya. Namun, ada yang tidak ia pahami di sini. Sejak kapan Kyungsoo tahu bahwa ia adalah ketua yayasan? Kenapa Kyungsoo bersikap biasa saja? Pikirnya. "Lalu, bagaimana pendapatmu?"
"Pendapatku? Memangnya apa yang penting dengan pendapatku?"
"Itu penting!" Tatapan Jongin menyorot tepat di kedua mata si wanita. "Aku hanya mementingkan pendapatmu diatas siapapun."
Tiba-tiba Kyungsoo merasa jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. "A-apa maksudmu?"
"Kau tahu aku pimpinan yayasan? Kau tahu aku berbohong? Kau tahu aku–" Jongin mengusap wajahnya frustasi, "–ya, aku suka bermain wanita. Lalu apa pendapatmu?"
Kyungsoo menatap Jongin tegas, "tentu saja aku membencimu." Raut wajah Jongin semakin mendung. "…seharusnya aku masih membencimu, tapi aku malah takut sesuatu terjadi padamu. Aku takut kau berubah menjadi lebih buruk jika perilakumu terungkap." Lanjut Kyungsoo. "Lagipula aku memang membencimu dari awal–"
Kyungsoo terkejut saat tiba-tiba Jongin sudah ada di dekatnya dan menciumnya tepat di bibir. Tubuhnya terdorong ke sandaran sofa, tubuhnya tidak mampu ia gerakkan untuk sekedar mendorong pria yang bersikap kurang ajar itu. Jongin semakin memperdalam ciumannya. Setiap lumayan yang pria itu lakukan menciptakan sengatan demi sengatan menjalar ke seluruh tubuh Kyungsoo secara perlahan. Otaknya terus memerintahkan untuk menolak, namun tubuhnya sudah terlalu terbuai.
Tubuh Kyungsoo mulai melemas, tangan Jongin dengan cepat menahan di belakang leher si wanita agar tak menjauh darinya. Saat ini Kyungsoo merasa bahwa Jongin sedang memberitahu apa yang dirasakannya. Sentuhan lembut namun menuntut di bibirnya seperti mengatakan bahwa pria itu memiliki semacam ketakutan yang coba disembunyikan.
Kyungsoo melenguh kecil, pria itu semakin mendesaknya. Merasa kesulitan, Kyungsoo menepuk pundak Jongin agar melepaskannya. Tak lama, pria itu melepaskannya. Napas keduanya saling bersahutan dengan cepat. Mata mereka saling bertemu, tatapan Jongin yang begitu hangat sukses membuat jantung Kyungsoo begitu ribut hingga menimbulkan semburat merah di wajahnya.
"Apa hh… ya-yang kau lakukan?! Hh…hah…" Pekik Kyungsoo sambil menutupi bibirnya dengan jari. Tubuhnya muncoba menjauh dari si pria.
Jongin memajukan tubuhnya bersamaan dengan mundurnya tubuh Kyungsoo. "Aku tahu konsekuensi dari apa yang aku lakukan dulu, aku memang bodoh karena melampiaskan sakit hatiku dengan melakukan itu. Tapi, aku sudah muak, aku lelah. Sejak bertemu denganmu mataku hanya tertuju padamu, Kyungsoo-ssi…"
Kyungsoo ingin membalasnya, mengatakan bahwa apa yang dikatakan pria itu hanya bualan belaka, tapi lidahnya kelu. Ia tak mampu mengatakan apapun.
"…aku mencintaimu. Aku selalu menahan untuk mengatakannya karena kau terlalu membenciku. Jadi, apa kau membenciku?" tanya Jongin, matanya tersirat kepedihan.
Kyungsoo menahan pandangannya, ia menguatkan hatinya yang terus memberontak. "Aku membencimu."
Sekali lagi, Jongin kembali meraih bibir Kyungsoo dan menciumnya dalam. Setelah itu melepaskannya, "kau sangat membenciku?"
Kyungsoo menggigit bibirnya, matanya memerah. "ya, sangat mem–"
Sebelum Kyungsoo menyelesaikan kalimatnya, Jongin kembali menyambar bibir wanita itu hingga membuat mereka terbaring di sofa dengan Kyungsoo berada di bawah. "Benar-benar membenciku?"
Kyungsoo mengalihkan pandangannya dengan memiringkan kepalanya. Tanpa disangka, air matanya menetes. "Hm…m" jawabnya dengan suara bergetar.
Rahang Jongin menegang, wanita ini sangat keras kepala. Pikirnya. "Sungguh?" tanyanya lagi lebih keras kepala.
Kyungsoo tidak bisa menjawabnya sekarang, suaranya akan bergetar jika dikeluarkan. Beberapa detik berselang saat ia ingin menjawabnya, sebuah sengatan lembut membuat tubuhnya merinding. Entah sejak kapan bibir pria itu mencapai lehernya. "Hmhh…" Kyungsoo memejamkan matanya, tangannya mencoba meremas sofa yang tak tergapai. Pria itu kembali memindahkan bibirnya, hisapannya semakin kuat. Kyungsoo menggigit bibirnya kuat. "Ahh~" Kyungsoo meletakkan tangannya di kepala Jongin dan meremas rambutnya. "Ber…hhntiih…" dada Kyungsoo naik turun saat pria itu melepaskannya. Kyungsoo memegang lehernya yang menjadi korban. Air matanya semakin deras keluar.
"Aku mencintaimu Do Kyungsoo, aku mencintaimu. Aku mohon beri kesempatan padaku…" pinta Jongin. Suaranya terdengar putus asa.
Kyungsoo terisak, ia mutup matanya rapat-rapat karena rasanya seluruh air matanya akan tumpah. "Aku membencimu karena telah membuat rasa benciku padamu hilang!" teriaknya.
Jongin yang awalnya terlihat menundukkan kepalanya lalu mengangkatnya kembali dengan cepat. "K-kau…"
"Aku tidak membencimu… hiks! Sudah kubilang, aku lebih takut jika kau kembali terluka!"
Jongin tersenyum, ia hampir menitihkan air matanya karena posisinya. Ia menyingkir dari atas Kyungsoo. Akhirnya, ia tidak perlu lagi menahan perasaannya lagi. Rasanya begitu melegakan.
Kyungsoo bangkit, ia menghapus jejak air matanya masih dengan napasnya yang tersendat. Jongin menoleh padanya lalu tiba-tiba pria itu menariknya. Rasanya cukup melegakkan mendengar detak jantung pria itu yang tak jauh berbeda dengan miliknya.
"Jangan khawatir, aku bisa mengatasi masalah itu. Aku hanya takut jika tak bisa mengatasi masalahku denganmu. Terima kasih sudah memberiku kesempatan Kyungsoo-ya." Ucap Jongin.
Kyungsoo membeku, entah kenapa mendengar Jongin memanggilnya dengan akrab membuat dadanya seperti dipenuhi kembang api. "Kau akan baik-baik saja?" tanyanya.
Jongin mengusap belakang kepala Kyungsoo dengan lembut, "hm, aku janji."
.
.
Beberapa hari kemudian, semua yang dikatakan Jongin tentang ia akan baik-baik saja ternyata hanyalah bualan belaka. Nyatanya pria itu tidak baik-baik saja meski ia selalu berkata sebaliknya.
"Kim Jongin!" Kyungsoo berteriak pada pria di hadapannya. Sore ini, Kyungsoo mendatangi kantor pusat untuk bertemu Jongin. Selesai jam sekolah, ia mendapat kabar bahwa ketua yayasan akan didisiplinkan. Para petinggi dan kepala sekolah menghadiri untuk memberikan sanksi atas apa yang menjerat ketua yayasan mereka.
"Kyungsoo-ya, jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja–"
Kyungsoo memukul pundak Jongin berkali-kali. "–kau terus mengatakan baik-baik saja, kau berbohong! Apa berbohong memang spesialismu?!"
Jongin menahan tangan Kyungsoo, ia mengusapnya lembut. "Meskipun aku tidak baik-baik saja, tapi kau ada di sini, kau bersamaku. Itulah kenapa aku pasti baik-baik saja. Ini rapat keputusan, aku sudah melakukan yang terbaik kemarin."
Kyungsoo menundukkan kepalanya, "meski begitu… keringanan keputusannya hanya kau diturunkan dari jabatanmu, kan? Kau tidak akan dikeluarkan?"
Jongin tertawa, "aku tidak bermaksud sombong. Ini yayasan keluargaku, tidak ada yang berani menendangku. Lagipula, selama kinerjaku kemarin tidak ada satupun yang mengecewakan."
Kyungsoo mendecih, "kalau begitu buktikan kata-katamu."
Jongin bergumam, "kali ini aku tidak berjanji…"
"Kim Jongin!"
Jongin memegang kedua sisi wajah Kyungsoo. "Berhenti berteriak, sayang. Kau bisa cepat keriput nanti."
Wajah Kyungsoo memanas, pria itu seenaknya malah menggodanya dan apa…? 'Sayang?' Apa dia gila?! Kesal Kyungsoo dalam hati. "A-aku bukan kekasihmu?! Berhenti memanggilku begitu!"
Jongin terkekeh, "kekasihku atau bukan, reaksimu sungguh menggemaskan. Lagipula, aku lebih suka jika kau disebut sebagai calon istriku."
Mata Kyungsoo membulat, belum sempat ia mengeluarkan makian, Jongin terlebih dahulu membungkam bibirnya. Ciuman singkat itu mampu menyiram hati Kyungsoo yang memanas sebelumnya.
"Aku pergi…" ucap Jongin sambil meletakkan tangannya di kepala Kyungsoo lalu mengusaknya. "Tunggu saja di sini,"
"Aku pulang!" kesal Kyungsoo, ia tak berani menatap Jongin. Dadanya begitu berisik karena jantungnya yang berdebar. Meski berkata begitu, Kyungsoo tak pulang, ia ingin mendapat kabar lebih cepat setelah semuanya selesai.
.
.
Malam ini, Baekhyun, Luhan, dan Sehun sedang berada di rumah Chanyeol. Mereka sepakat untuk berkumpul bersama, Jongin dan Kyungsoo akan menyusul setelah sidang keputusan. Keempat orang yang sudah terlebih dahulu datang, duduk di ruang tengah. Para pria duduk di sofa, sedangkan para wanita sibuk menghidangkan makanan yang baru saja mereka pesan.
"Apa kita tidak berlebihan? Rasanya makanan ini terlalu banyak, seperti kita merayakan sesuatu. Bukankah setelah ini pasti ada kabar buruk?" tanya Luhan.
"Gwaenchanha, Luhan-ssi. Justru itu, saat ada kabar sedih sebaikya kita makan yang banyak." Jawab Chanyeol.
"Gaeurae, itu lebih baik." Baekhyun menyetujui ucapan kekasihnya itu.
Sehun memerhatikan wajah Luhan yang terlihat murung. "Wae? Kau khawatir padanya?"
Luhan menoleh pada Sehun, ia tersenyum tipis. "Padahal ia yang terlihat seperti tanpa beban, ternyata tidak begitu. Rasanya mengerikan saat melihat seseorang baik-baik saja, tapi di dalam ia menderita."
Sehun bangkit dari sofanya lalu duduk di samping Luhan. Ia mengambil bungkus makanan yang Luhan ingin buka. Pria itu membuka bungkus makanan dan menuangkannya ke piring. "Terkadang seperti itu lebih baik. Apalagi jika dunia tidak lagi peduli padamu. Lebih baik terlihat normal, daripada harus mengundang rasa penasaran tanpa empati."
Chanyeol mengangguk. "Benar… jika Jongin tidak bisa mengatasinya, setidaknya dia punya kami–"
"–kita maksudnya?" koreksi Baekhyun.
Chanyeol terdiam sesaat lalu tertawa setelahnya. "Iya… aku tidak menyangka jika kita akan mendapat anggota tambahan. Aku pikir kita akan selalu menjadi tiga pria saja." Chanyeol menatap semuanya.
Sehun menoleh pada Luhan, "siapa sangka jika aku akan kembali padanya." Ucap Sehun. Luhan hanya tersenyum malu dengan semburat merah tipis di wajahnya.
"Siapa sangka juga jika tragedi kalian akan mempertemukanku dengan uri Baekhyunnie." Lalu Chanyeol merangkul Baekhyun, ia terlihat tidak mau kalah.
"Ya! Park Chanyeol! Sausnya tumpah, jangan menarikku!" protes Baekhyun. Luhan dan Sehun tertawa kecil melihat tingkah pasangan di depan mereka.
"…tapi yang sangat tidak disangka adalah Kyungsoo-ssi. Ia benar-benar mengejutkan, aku pikir wanita itu tidak akan peduli dengan Jongin." Ucap Chanyeol.
"Ya, mereka terlihat cocok." Komentar Luhan.
"Mereka berkencan?" tanya Sehun.
Luhan menggeleng, "hanya sedikit lebih dekat."
Baekhyun menatap Luhan, "sedikit? Kau yakin, Luhannie? Bahkan mereka sudah berciuman, apanya yang sedikit?"
"Baekkii!" Pekik Luhan tertahan. Kemudian ia mengisyaratkan Baekhyun untuk diam dengan bibirnya.
"Mwo?" –Sehun.
"Mworago?!" –Chanyeol.
Baekhyun menyengir, "sudah terlambat Lu…"
Luhan hanya menggelengkan kapalanya. Ia kembali pada kegiatannya, ia tidak mau membantu jika kedua pria ini penasaran.
"Baek, beritahu aku. Kenapa mereka–" Chanyeol mengguncang bahu kekasihnya.
Baekhyun memutar bola matanya. "Iya, sayang, sebentar–"
Sehun tak memusingkannya. Jika Jongin yang melakukannya, itu bukan suatu keanehan. Namun, ia lebih penasaran dengan Kyungsoo yang terlihat tidak bersahabat pada Jongin.
"Lu, apa Jongin hyung mendapat tamparan setelah itu?"
Luhan menghentikan pergerakkannya, ia segera menoleh pada Sehun dengan tatapan terkejut. Kenapa Sehun malah menanyakan hal seperti itu. Luhan tersenyum geli saat mendapati mata Sehun yang terlihat polos sekaligus penasaran. "Tebak…" bisik Luhan.
Sehun mendekatkan bibirnya pada telinga Luhan, "…kau bermaksud mengajakku bermain bisik-bisik… atau…"
Luhan sedikit terlonjak saat Sehun menjilat daun telinganya. Wajahnya memanas. Luhan segera mencubit pinggang Sehun, "ada mereka, bodoh!"
Sehun tersenyum nakal, "sayangnya wajahmu menggemaskan…" bisiknya lagi.
"Ya!"
Suara teriakan Chanyeol membuat Sehun dan Luhan terkejut. Mereka menoleh ke sumber suara. "Jangan pernah berpikir untuk melakukan hal senonoh di rumahku!" Ancam Chanyeol.
Wajah Luhan memerah. Ini benar-benar memalukan karena kedua orang itu melihatnya. Apalagi saat ini Baekhyun sedang tertawa menggodanya di sana. Luhan menundukkan kepalanya.
"Wae? Aku yakin kau juga pasti melakukannya dengan Baekhyun-ssi, ya kan hyung? Melihat sikapmu, kau pasti mengajak Baekhyun berkeliling." balas Sehun. Luhan sedaritadi hanya menundukkan kepalanya, wajahnya makin memerah karena ucapan Sehun.
Chanyeol mengedikkan bahunya, "ini rumahku, jadi tidak masalah kan?"
Baekhyun memukul lengan Chanyeol, "kami tidak pernah melakukannya! Jangan mengada-ada!" ucapnya sambil menatap Sehun galak.
Sehun dengan santai menaikkan kedua bahunya, "mana aku tahu."
"Ya! Park Chanyeol! Lihat Sehun-ssi jadi berpikir macam-macam!" amuk Baekhyun.
"Hei!"
Suara Jongin membuat keempat orang itu menoleh. Mereka kompak membulatkan mata melihat Jongin datang dengan menggandeng tangan Kyungsoo.
"Ka-kalian!"–Baekhyun.
"Wow" –Luhan.
"Kalian berkencan?" –Chanyeol.
Siulan Sehun menutup komentar dari ketiga orang tersebut.
Jongin tersenyum, ia mengangkat tangannya yang menggenggam tangan Kyungsoo. "Ya…"
Kyungsoo mendesah, "tidak! Jangan mengarang! Kami tidak berkencan!"
"Benar kami tidak berkencan, tapi kami akan menikah." –Jongin.
"MWO?!" –Luhan dan Baekhyun. Sehun tersedak dan Chanyeol tercengang.
"Michoseo?!" pekik Kyungsoo.
Jongin tertawa, "yedeura… tenanglah. Ini obatku."
Suasana tiba-tiba berubah sunyi. Keempat orang tersebut mengangguk mengerti. Rupanya Jongin sudah mendapat keputusan buruknya.
"Apa hasilnya?" tanya Sehun.
"Kau dipindahkan?" –Chanyeol.
Jongin tersenyum, "aku mengundurkan diri…"
Setelah mengatakannya, Jongin menceritakan hasil keputusan. Sebagai anggota keluarga Kim, tentu saja Jongin tidak akan dipecat atau dikeluarkan. Ia diturunkan dari jabatan dan dipindah ke kantor cabang. Hal ini dimanfaatkan oleh orang-orang yang menginginkan jabatannya dan membuatnya dipindahkan ke cabang terpencil. Namun, hal itu harus membuatnya pindah dari Seoul. Ia tidak mau, semua orang-orang yang disayanginya ada di sini. Termasuk Kyungsoo, ia tak mau meninggalkannya.
Jadi Jongin lebih memilih mengundurkan diri dan akan berpartisipasi sebagai tenaga tambahan. Ia juga menawarkan diri bergabung sebagai pengajar anak-anak panti. Itu lebih menyenangkan karena ia bisa melakukan apa yang disukainya, disukai ibunya, dan juga disukai wanita yang disayanginya.
"Baiklah jika itu keputusanmu, kami mendukungmu." Ucap Chanyeol.
Sehun mengangguk, "jika butuh bantuan katakan saja, hyung. Kau sudah banyak membantuku dulu."
Jongin tersenyum, "gomawo."
Setelah itu mereka semua kembali berbincang. Banyak yang mereka bicarakan, mulai dari pekerjaan hingga hubungan asmara mereka. Malam makin larut, yang masih aktif berbincang hanya Chanyeol dan Jongin.
"Apa kita sudahi saja? Sepertinya para wanita sudah lelah." Tawar Chanyeol. Baekhyun sendiri sudah tertidur di pangkuan Chanyeol.
Jongin menoleh pada Kyungsoo yang juga ternyata sudah menutup matanya. Namun tautan tangan mereka tidak lepas sedaritadi. Jongin perlahan membawa kepala Kyungsoo untuk bersandar di bahunya.
"Ya! Oh Sehun!" pekik Chanyeol tertahan. Ia menggelengkan kepalanya melihat adiknya itu sibuk mendesak ke perpotongan leher Luhan yang setengah tertidur. "Pergi ke kamar sana!"
Sehun menoleh pada Chanyeol cepat, "kamar mana yang kau pinjamkan, hyung?"
"Sial! Kau benar-benar mau bersenang-senang sekarang?" kesal Chanyeol.
"Luhan calon istriku." Jawab Sehun tak acuh.
"Maknae-ya…" Jongin memanggilnya, "…bagus, lanjutkan. Berikan aku keponakan yang lucu."
"Aku bahkan akan memberikannya sebelum kau meminta, hyung." Kekeh Sehun.
"Gunakan kamar di ujung yang biasa kau gunakan." Chanyeol memberitahu.
"Araseo," angguk Sehun. Ia mengangkat Luhan dan membawanya ke kamar untuk melaksanakan pesanan Jongin. Chanyeol menggeleng, ternyata Sehun bisa lebih gila juga darinya. Luhan masih calonnya, belum istrinya.
Chanyeol beralih pada Jongin. "Kau butuh kamar?"
Jongin menggeleng, "aku bisa dibunuh jika membawanya ke kamar bersamaku." Ia mengangkat tangannya, "aku tidak tahu kapan ini akan lepas."
Chanyeol tertawa, "araseo."
"Kalau aku butuh, aku akan gunakan kamar lain. Kamarku yang biasa bersebelahan dengan si maknae, aku tidak mau mendengar desahan mereka." Kekeh Jongin.
Chanyeol tersenyum miring, "karena tidak ada yang membantumu jika 'dia' bangun?"
"Sial!" Jongin melempar bantal dan mengenai kepala Chanyeol.
Chanyeol menahan tawanya, puas menggoda Jongin. "Aku ke kamar," ucap Chanyeol lalu membawa kekasihnya ke gendongannya.
"Kalian tidur bersama?" Jongin terlihat terkejut.
"Hm," angguk Chanyeol.
"Kalian tidak pernah melakukan itu, kan?" heran Jongin.
Chanyeol tertawa, "memang tidak pernah, tapi apa aku perlu menceritakan aktivitas ranjang kami padamu?"
"Sialan! Kau dan maknae itu sama saja! Sudah sana pergi!" usir Jongin. "Tapi aku akui kau hebat bisa menahan tidak memasuki kekasihmu."
Chanyeol tersenyum miris sambil mengingat penderitaannya setiap kali menyentuh tubuh kekasihnya. "Yah… kau tidak tahu saja."
Jongin tertawa, "sudah sana!"
Setelah ruang tengah menjadi hening dan dingin. Jongin mengambil jasnya yang memang sudah dilepas. Ia menyelimuti Kyungsoo yang begitu lelap dan mencuri ciuman malamnya di bibir Kyungsoo. "Jalja…" setelah itu, Jongin menutup matanya. Mencoba menyusul Kyungsoo ke alam mimpi.
.
.
to be continued-
.
.
Gak panjang" bercerita, jangan lupa reviewnya ^^ hehehe. Makasi udah setia baca dan sampe sempetin review :*
..
Balasan review
#nanima999: mana mau Jongin kalah, hihi
#xxizy: ih kepo deh sama HUNHAN :p hahaha. Selalu semangat!
..
Sekiann dari chapter 17
Gamsahamnida
*loveforHUNHAN yeayy!
