Minggu pagi adalah saat yang paling tepat untuk menghabiskan waktu di pondok. Kira berencana mengurung diri di kamar seharian untuk membaca tumpukan ensiklopedia yang ia pinjam di perpustakaan serta mengerjakan tugas sekolah.
Hari ini seharusnya ia pergi ke rumah Cagalli untuk bicara dengan paman Ulen mengenai rencana pengadopsiannya. Kira ingin menolaknya secara langsung agar sang paman tidak lagi mendesaknya. Tapi, entah apa alasannya Cagalli malah menyuruhnya untuk tidak datang. Mungkin paman Ulen punya kesibukan lain, sehingga Kira akan mengunjunginya lain waktu.
Tak ada yang bisa mengganggunya saat itu, termasuk suara berisik anak-anak panti asuhan di luar kamarnya. Pemuda itu tenggelam dalam dunia satwa Armadillo, salah satu bahasan yang ia baca di ensiklopedia. Sampai akhirnya, bunyi ketukan pintu menghancurkan semua konsentrasinya.
Kira menatap pintu kayu kamarnya. Ada suara ibunya yang terus-terusan memanggil. Akhirnya, Kira pun memutuskan untuk menjeda kegiatannya. Mungkin ada hal penting yang harus ia lakukan sampai-sampai sang ibu memanggilnya.
Saat pintu terbuka, ternyata ada dua orang yang berdiri di sana. Kedua mata Kira membelalak lebar menemukan sang ibu ternyata berdampingan dengan Lacus Clyne. Tinggi ketiganya hampir sama, sehingga pandangan mata mereka saling bertatapan dengan sejajar.
"Halo, Kira Yamato,"
"L-L…" Kira tak mampu melanjutkan ucapannya. Ia terlalu kaget bahkan sampai membiarkan rahangnya membuka lebar.
"Kira, nona Lacus mengadakan kunjungan lagi. Ia mencarimu makanya aku mengantarnya ke sini," Ungkap sang ibu sebagai penengah. Kira seketika tersadar dari keterkejutannya lalu beralih pada Caridad.
"Tidak perlu panggil nona, bibi Caridad. Panggil Lacus saja. Aku seumuran dengan Kira, kok," Lacus menegur halus. Caridad hanya menyunggingkan senyum lembut. Tak lama, ia berniat meninggalkan mereka karena masih ada pekerjaan rumah tangga lain. Ditambah lagi, anak-anak panti harus sering-sering berada dalam pengawasannya kalau tak ingin mereka membuat kekacauan di pondok kecil ini.
"Kalau begitu, bibi permisi," Mata Caridad menatap Lacus sejenak, kemudian beralih pada anak asuhnya yang terlihat masih gugup itu,
"Kira, temani Lacus ya," Pesannya sebelum meninggalkan mereka berdua. Kira tak sempat menjawab, hanya mampu memandang kepergian ibu angkatnya. Setelah itu, bola mata Kira beralih melihat sosok Lacus. Sang putri lagi-lagi terlihat amat kasual dengan balutan kaos polos hitam dan celana jeansnya. Sepengamatannya, Lacus jarang sekali menunjukkan kesan kalau ia adalah anak keluarga kaya melalui penampilannya maupun barang-barang yang ia kenakan. Benar-benar sosok yang amat rendah hati.
"Maaf mungkin mengganggu waktumu," Ungkap Lacus. Kira ber-eh pelan. Tak lama, otak buntunya kembali bekerja.
"T-tidak...Aku sedang tidak ada pekerjaan," Kira mencoba bersikap tenang. Ia mengucapkannya tanpa berusaha tersenyum.
Keduanya terjebak dalam keheningan. Tak lama, Kira yang mulai membuka percakapan.
"Kau baru datang?" Kira memberatkan suaranya, lagi-lagi agar terkesan lebih cool. Sosok Lacus mengangguk sambil tersenyum.
"Mungkin lima belas menit lalu," Jawabnya sambil melirik arloji, Pemuda di berkaos dan celana pendek di hadapannya hanya manggut-manggut.
"Mungkin kau ingin ke ruang tamu?" Tawaran Kira langsung disetujui. Lagipula tempat itu rasanya lebih cocok untuk mengobrol dibandingkan di tengah lorong seperti ini. Kira pun melangkah lebih dulu, diekori oleh Lacus. Keduanya kembali saling membisu, hanya terdengar suara derit kayu saat mereka berdua melangkah.
Sampai di ruang tamu, suasana amat berbeda. Sekumpulan anak tampak bermain dan bercanda. Ada juga yang sibuk membuka hadiah pemberian Lacus. Memang di kunjungan keduanya, Lacus tetap membawa buah tangan untuk para penghuni. Ia membagi-bagikannya ke seluruh anak panti asuhan, termasuk bibi Caridad. Setelah itu, barulah gadis itu sibuk mencari keberadaan Kira Yamato, sang penghuni tertua di panti asuhan ini.
"Ah, ya. Aku mau memberimu kado lagi," Lacus langsung teringat pada hadiah yang ia simpan di dalam tas selempangnya. Ukurannya memang kecil sehingga muat di dalam tasnya. Lagipula untuk hadiah ini sepertinya Lacus tak perlu lagi membungkusnya.
"Eh? Tidak perlu…" Kira langsung menolak, tapi Lacus keburu menyodorkan sebuah pembatas buku.
"Ini…" Lacus tersenyum "Maaf hanya ini yang terlintas di pikiranku. Karena kau suka sekali membaca," Ucap Lacus sedikit menyesal dengan pemberiannya yang terlalu sederhana itu. Kira menerima benda metalik emas dengan liontin berbentuk bintang itu.
"Terima kasih," Ungkapnya sambil tersenyum. Seketika wajah Lacus terlihat cerah karena berhasil membuat pemuda itu senang dengan pemberiannya.
"Syukurlah kalau kau menyukainya," Lacus agak malu-malu.
"Kau selalu memberiku hadiah kalau berkunjung ke sini. Lain kali tak perlu repot-repot," Ujar Kira, Lacus tertawa pelan.
"Tak masalah. Setiap berkunjung aku selalu membawakan hadiah untuk anak-anak panti asuhan. Kau juga termasuk anak-anak di sini kan?" Lacus bergurau. Kira memalingkan muka karena malu.
"T-Tapi...aku bukan anak-anak lagi," Gumam pemuda itu ketus. Lacus kembali tertawa.
"Sebagai gantinya, mau ku bawa ke suatu tempat?" Kira menawarkan sesuatu yang tak pernah diduga sebelumnya. Lacus pikir kalau ia akan menghabiskan waktu mengobrol atau membaca buku bersama pemuda itu. Ternyata Kira malah mengajaknya ke suatu tempat. Lacus pun langsung menatapnya ingin tahu.
"Ke mana?"
"Sebuah tempat yang indah. Aku dan Cagalli biasa bermain di situ," Jelas Kira. Kini ia terlihat lebih leluasa mengobrol dengan Lacus.
Mendengar kata 'indah', Lacus langsung tertarik. Tentu saja ia juga ingin melihatnya. Lacus pun mengangguk setuju. Tanpa berlama-lama, mereka berdua berjalan keluar dari pondok. Di halaman, mereka bertemu dengan bibi Caridad yang sibuk mengurus tanaman hiasnya. Markio ada di sisi wanita itu, masih dengan gestur malu-malu, berusaha mengajaknya ngobrol.
"Ibu, aku dan Lacus mau ke tepi bukit," Kira ijin pada sang ibu sebelum membawa seorang gadis pergi bersamanya. Caridad dan Markio menoleh bersamaan. Sang ibu nampak setuju, sedangkan pelayan pribadi Lacus terlihat keberatan dengan rencana itu.
"Ke mana?" Tanya Markio khawatir. "Jauh atau tidak? Berbahaya atau tidak?"
"Markio!" Tegur sang putri saat mendapati pelayannya mulai bertindak berlebihan. Ia tak ingin karena sikap over protektif Markio, acara jalan-jalannya bersama Kira jadi batal.
"Tepi bukit. Dari sana bisa melihat pemandangan hutan," Jelas Kira santai. Caridad juga tak melarang keduanya. Ia hanya mengangguk setuju.
"Tapi, hati-hati ya. Jalanannya agak terjal. Jangan berdiri dekat jurang,"
"Jurang? Itu berbahaya!" Tukas Markio. Lacus menatapnya sebal.
"Tak apa, Markio. Aku akan baik-baik saja!" Rengek sang putri
"Tapi, bagaimana kalau anda berada dalam bahaya,"
"Aku janji akan berhati-hati!" Lacus mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "Jangan bilang ayah ya,"
"Tapi, nona…"
Lacus membungkam protes Markio dengan meletakkan telunjuk pada bibir pria itu. Melihat tingkah Lacus dan pelayannya membuat Kira dan Caridad sedikit geli. Lacus yang terkenal anggun bisa menunjukkan sikap manjanya pada pria itu. Mereka berdua malah terlihat seperti ayah dan anak.
"Ayo, Kira," Setelah berhasil memaksa pelayannya, kini Lacus yang menarik tangan Kira untuk pergi. Pemuda itu kewalahan menyusul langkah bersemangat sang putri. Ia bahkan tak sempat membalas seruan ibunya.
"Hati-hati, Kira! Lacus!"
"Eh…"
"Ayolah!" Lacus dan Kira sudah berada di pintu pagar. Kira berpaling sejenak untuk melihat ekspresi wajah pelayan pribadi Lacus. Raut kecemasan masih terlihat, membuat Kira seketika tak enak hati membawa pergi sang putri bersamanya.
"Kau yakin?" Kira berusaha menghentikan langkah mereka dengan melepaskan diri dari cengkraman Lacus. Gadis itu berpaling lalu mengerjap polos.
"Apa?"
"Markio-san mencemaskanmu,"
"Tak masalah," Lacus tersenyum lebar. "Aku sudah berjanji untuk hati-hati…" Gadis itu tersenyum simpul seraya melangkah berdampingan dengan Kira.
"Markio memang selalu begitu, karena ia sudah mengasuhku sejak kecil," Sambil melintasi jalan setapak, Lacus mulai bercerita. "Kalau pergi ke mana-mana seperti belanja atau kunjungan panti asuhan, aku pasti akan selalu bersama Markio," Lacus tersenyum geli "Mungkin kau orang pertama yang pergi bersamaku,"
"Eh?! Bahkan dengan teman sekelas?" Kira berpaling tak percaya.
Lacus mengangguk polos "Percaya atau tidak! Aku tak memiliki banyak teman selama di PLANT. Teman sekolah, bahkan teman bermain," Ungkap gadis itu.
Kira hanya manggut-manggut. Tapi, dalam hatinya ia terkejut mendengar fakta tentang seorang Lacus Clyne. Baru pertama kali ia mendengar ada seseorang yang belum pernah pergi jalan-jalan bersama teman sebayanya. Bahkan memiliki sedikit teman, padahal ia berasal dari keluarga yang terpandang. Sebegitu ketat-kah keluarganya mengawasi seorang putri Clyne, sampai-sampai gadis itu tak memiliki kesempatan untuk menghabiskan waktu seperti remaja normal lainnya?
"Kau tidak memiliki saudara kandung?" Kira memberanikan diri bertanya mengenai seluk beluk gadis itu. Ia sebenarnya agak takut membuat Lacus tersinggung karena topik yang ditanyakan padanya itu termasuk hal yang bersifat pribadi. Tapi, gadis itu tak terlihat terganggu dengan pertanyaannya. Gelengan pelan dan senyum simpul dari bibir ranum gadis itu menjadi sebuah jawaban yang jelas.
"Aku anak tunggal," Tambah Lacus. "Ibuku juga sudah meninggal…" Nada suara Lacus berubah sendu. Senyum manisya berubah getir.
Kira menyadari perubahan raut wajah Lacus. "Kau tak perlu bercerita kalau topik ini mengganggumu," Ungkap Kira sungkan. Ia tak ingin momen jalan-jalan ini malah membuat kenangan buruk tersendiri bagi gadis itu.
Ekspresi Lacus kembali berubah ceria. Senyum getirnya dalam sekejap berubah menjadi tawa singkat. Kira hanya menunduk sambil terus berusaha memasang wajah serius.
"Tak masalah. Bagiku bercerita begini akan lebih membuat perasaanku lebih baik," Respon Lacus ringan sembari menatap langit siang yang tertutupi oleh rimbunan pohon. Di sekitar mereka banyak berjejer pohon yang menjulang tinggi. Kicauan burung serta bunyi derik serangga juga terus terdengar, seolah menjadi musik pengiring langkah mereka.
"Aku tak memiliki teman dekat, sehingga aku jarang sekali bercerita mengenai kehidupan pribadiku," Lacus kini sedikit menunduk untuk melihat jalanan bebatuan yang ia lalui.
"Ku dengar kau penyanyi? Bukankah seharusnya penyanyi memiliki teman sesama penyanyi juga?" Kira mulai berani mengulik kehidupan gadis itu dengan pertanyaan-pertanyaannya.
"Tidak juga. Aku bukan seorang penyanyi pop, melainkan penyanyi lagu klasik," ungkap Lacus "Lagipula, seusai pentas, aku selalu dijemput Markio untuk segera pulang," Lacus menghela nafas "Ditambah lagi, ayah tak akan mengijinkanku banyak tampil di acara-acara agar aku bisa fokus dalam sekolah,"
Kira hanya ber-oh tanpa suara lalu manggut-manggut. Awalnya ia berpikir kalau kehidupan Lacus akan sangat glamor dan berkelas. Gadis itu pasti juga memiliki banyak teman dari kalangan kelas atas lainnya. Tapi, fakta yang ia dapatkan sungguh berbeda. Sang putri ternyata adalah sosok kesepian, walau ia selalu berusaha menyembunyikan perasaan itu dengan sikap anggun dan ceria-nya.
"Kalau kau sendiri, bagaimana Kira?" Lacus memalingkan wajah, menatap mata Kira lekat-lekat. Pemuda itu sontak menjadi gugup oleh pancaran mata penuh ingin tahu dari gadis itu.
"Eh? Apanya?"
"Tentang kehidupanmu. Bagaimana rasanya tinggal di panti asuhan?" Tanya Lacus antusias. Raut wajah Kira justru terlihat biasa saja. Ia memandang lurus lalu menjawab.
"Tidak ada hal istimewa," Jawab Kira datar. Lacus hanya mengerjap.
"Begitukah? Kupikir menyenangkan punya saudara banyak," Lacus menyentuh dagunya sambil melirik ke atas. Ia dan ayahnya selalu merasa kesepian tinggal di rumah megah mereka. Terkadang Lacus membayangkan bagaimana kalau ia memiliki banyak saudara. Pasti suasana rumahnya juga akan lebih meriah.
"Tidak. Berisik. Sesak. Dan yang paling utama, kau harus banyak mengalah,"
"Mengalah kenapa?" Lacus kembali menatap Kira.
"Ya dalam mengantri ke kamar mandi, misalnya. Atau saat pembagian makanan. Apalagi aku adalah anggota tertua. Kalau ada pertengkaran, ibu pasti yang menyalahkanku lebih dulu,"
Cerita Kira membuat sang putri tertawa lepas. Sungguh lucu membayangkan seorang Kira yang terlihat cool dan tenang bisa begitu kewalahan menghadapi saudara-saudara angkatnya. Ditambah lagi, Lacus membayangkan wajah pasrah Kira saat dimarahi oleh ibu angkatnya.
"Jadi, kau dan aku memiliki kehidupan yang berbeda ya?" Simpul Lacus setelah mendengar sekelumit kehidupan masing-masing. Kira hanya mengangguk datar.
"Yang terpenting kau bisa menikmatinya. Begitu kan?" Ujar Lacus lagi. Kira kembali mengangguk, kini dengan senyum di wajahnya.
Mereka berdua tiba di lokasi tujuan. Jalanan setapak itu berakhir di sebuah tebing terjal yang dibatasi oleh pagar kayu. Kira dan Lacus langsung menghentikan langkah mereka. Keduanya melihat pemandangan hutan dari balik pagar. Kedua mata Lacus berbinar melihat hamparan pepohonan hijau menyatu dengan birunya langit. Tempat ini memang mengagumkan. Pantas saja kalau Kira sering ke sini bersama teman masa kecilnya.
"Indah sekali," Hanya itu kata-kata yang bisa Lacus ungkapkan. Setelah itu, ia sibuk menikmati pemandangan di hadapannya.
"Ya. Tapi kalau hujan akan berbahaya. Banyak longsor," Jelas KIra "Kalau cuaca cerah begini memang sangat indah,"
"Hmmm… mengingatkanku pada sesuatu…" Tukas Lacus. Kira mengernyitkan dahi.
"Seseorang juga pernah mengajakku ke tempat yang amat indah. Letaknya berada di gedung pencakar langit kota," Jelas gadis itu dengan mata yang masih mengarah pada pemandangan hutan. Kira tertegun mendengar kisahnya.
"Entahlah kenapa aku tiba-tiba teringat kejadian itu," Lacus menghela nafas.
"Mungkin ia sosok yang spesial bagimu," Terka Kira asal. Ia tidak menduga kalau jawabannya malah membuat wajah Lacus berubah gelap,
"Tidak sama sekali!" Lacus langsung merasa kesal. "Aku bahkan tak ingin menemuinya lagi," Ungkapnya serius. Kira jadi sedikit bergidik. Ia membayangkan kira-kira sosok seperti apa yang membuat seorang putri penyabar seperti Lacus sampai bisa menyimpan dendam?
"Jadi, kita berdua dijodohkan?" Ucap gadis berambut pink yang berada satu meja dengannya. Sepasang mata zamrud milik Athrun merekam keanggunan yang terpancar dari sang putri Clyne. Wajahnya cantik. Ia juga tampil amat elegan dengan balutan gaun malam warna biru muda.
Ini adalah kesempatan keduanya untuk bertemu dengan sosok itu. Kesempatan pertama terjadi saat ia dan ayahnya menghadiri acara konser tunggal Lacus Clyne di gedung pertunjukan Minerva, salah satu gedung teater termegah di PLANT. Lacus dikenal memiliki suara yang amat indah sehingga ia sering mengisi acara di konser musik klasik sebagai penyanyi opera.
Kesan pertamanya bertemu dengan sang putri amat membekas di benak Athrun. Ia sempurna: cantik, anggun, berbakat, serta berhati mulia. Tak heran kalau Athrun merasa amat beruntung menjadi laki-laki yang kelak akan mendampingi Lacus sebagai suaminya.
Berita gembira itu disampaikan oleh sang ayah, Patrick Zala, sebagai kolega bisnis dari ayah Lacus, Siegel Clyne. Dua pemilik perusahaan besar itu sudah lama merencanakan perjodohan anak semata wayang mereka. Keduanya yakin melalui perjodohan itu, kerja sama perusahaan dari Siegel dan Patrick akan berlangsung lebih baik.
Athrun yang awalnya menolak akhirnya luluh juga melihat kesempurnaan yang terpancar dari putri Siegel Clyne itu. Pesonanya mampu menyihir sang pangeran. Pada akhirnya, atas inisiatif Athrun sendiri, ia mengatur pertemuan empat mata dengan calon tunangannya di sebuah restoran mewah.
Di atas ada langit malam berwarna hitam pekat yang dihiasi bulan dan kilauan bintang. Di bawah sana, ada suasana malam kota lengkap dengan gedung-gedung pencakar langit dan mobil-mobil mewah yang berseliweran di jalan. Keduanya menyaksikan pemandangan itu dari balik kaca jendela di tingkat paling atas gedung pencakar langit. Athrun memang sengaja menyediakan tempat termewah yang ada di restoran ini untuk makan malam mereka. Tentu saja, suasana serta pelayanan yang disajikan sangat memuaskan.
Tapi, hanya Athrun saja yang merasakan. Entah kenapa, sang putri terlihat jenuh dengan momen kebersamaan mereka. Ia tak banyak bersuara. Hanya menunjukkan raut datar dan tenangnya. Kalau Athrun mencoba mengajak bicara, gadis itu hanya menjawab seperlunya tanpa ada pertanyaan balik.
Di tengah acara makan, Athrun berusaha membuat sang putri terhibur dengan kepandaiannya bicara. Ia memulai dengan topik yang ringan, berupa restoran tempat mereka makan saat ini.
"Ini adalah salah satu restoran yang dikelola oleh perusahaan ayahku," Ucap Athrun dengan senyum penuh kebanggaan. Gadis itu hanya mengangguk sambil tersenyum kecil.
"Benarkah?"
"Ada banyak model restoran mewah di PLANT. Tapi, yang terbaik hanya ada di sini. Dominion menawarkan berbagai menu pilihan. Yang kau makan adalah salah satu menu terbaik. Lobsternya sendiri diambil langsung dari karang pasific. Salah satu jenis unggul,"
"Oh, benarkah?" Lacus melahap daging lobster itu dengan wajah datar. Ekspresi itu bahkan tak berubah setelah sang putri menelannya.
"Enak," Jawab Lacus tanpa tersenyum.
"Aku hanya ingin memberikan yang terbaik bagi kencan pertama kita,"
"Kencan?" Wajah gadis yang tadinya menunduk langsung bergerak menatap Athrun sejajar. Ekspresi wajahnya yang datar kini menampilkan keterkejutan. Athrun juga heran kenapa Lacus seolah asing dengan kabar kalau mereka akan bertunangan. Bukankah seharusnya Siegel Clyne sudah mengatakannya?
"Ya. Kencan. Karena kita akan bertunangan," Jawab Athrun antusias. "Ayahmu dan ayahku sudah mengatur perjodohan kita,"
"Jadi, kita berdua dijodohkan?" Gadis bergaun biru muda itu tampak tak percaya. Tapi, ia tidak terlihat senang mendengar kabar itu.
"Dasar ayah…." Gumam Lacus amat pelan. Tapi, Athrun tentu bisa mendengarnya karena di ruangan seluas ini hanya ada mereka berdua.
"Kenapa?" Tanya Athrun heran. Lacus tersentak. Ia mengarahkan pandangannya pada Athrun lalu memaksa tersenyum.
"T-tidak," Jawabnya gugup.
"Kalau kau dan aku bertunangan, perusahaan Siegel dan Zala akan semakin besar, begitu yang ayah bilang padaku," Ungkap Athrun. "Aku dan kau adalah pewaris tunggal perusahaan itu bukan?" Athrun merasa sangat antusias mengingat suatu saat nanti ia akan duduk di kursi direksi bersama Lacus yang mendampinginya sebagai istri. Mereka akan menjadi sosok terpandang di seluruh penjuru PLANT, bahkan dunia. Harta, tahta, wanita. Tiga hal itu akan segera Athrun dapatkan dengan sangat mudah.
"Begitu?" Lacus bertopang dagu lalu tersenyum miring. "Jadi demi perusahaan ya?" Gumam gadis itu.
"Ya. Demi masa depan perusahaan ayah kita, Lacus,"
"Kalau begitu, aku tak bisa memenuhinya," Ucapan Lacus bagai hantaman keras di jantung pemuda itu. Athrun sangat kaget bahkan tak percaya kalau ada sosok yang bisa menolaknya begitu saja. Sejak dulu, Athrun terkenal di kalangan putri-putri bangsawan. Ia tampan, cerdas, dan memiliki karisma yang membuat gadis-gadis muda itu bertekuk lutut. Tapi, utahime ini malah memiliki respon yang berbeda. Sejak awal, tak ada tanda-tanda ketertarikan terhadapnya. Bahkan, ia bisa menolak Athrun secara terang-terangan.
"Tidak bisa?!" Athrun bahkan sampai menghentak gadis itu. Tentu saja penolakan Lacus membuatnya gusar. "Kenapa?"
"Aku memiliki cara pandang yang berbeda denganmu, Athrun Zala," Ungkap Lacus terang-terangan. "Aku tak ingin mewarisi perusahaan ayah,"
"Apa?!" Athrun semakin tak percaya kalau putri Clyne menolak menikmati semua hasil kerja keras ayahnya. Padahal, Lacus sudah sangat beruntung lahir di tengah keluarga kaya bahkan bisa mewarisi sebuah perusahaan besar.
"Aku ingin hidup sederhana," Ungkap Lacus. Ucapannya memang terdengar konyol sampai-sampai Athrun ingin tertawa. Namun raut wajah tulus gadis itu berhasil membungkamnya.
"Kekayaan tak akan membuatmu bahagia. Itu yang ku pelajari selama menjadi anak semata wayang dari keluarga Clyne," Ungkap Lacus serius. "Aku tak ingin hidup untuk diriku sendiri, tetapi untuk kebahagiaan orang lain juga. Suatu saat, aku ingin membangun sebuah yayasan sosial,"
Athrun semakin tak bisa mengerti jalan pikiran gadis itu. Menggelikan, mengherankan, serta di luar nalar seorang Athrun Zala. Bagaimana mungkin seorang dengan status tinggi seperti Lacus Clyne mau membangun sebuah yayasan sosial dibandingkan dengan mewarisi perusahaan ayahnya?
"Dari pertemuan pertama kita, aku sudah menyimpulkan kalau kita berdua memiliki tujuan yang berbeda," Ucap Lacus saat melihat ekspresi wajah Athrun yang seolah meremehkan impiannya. "Mohon maaf. Aku tak bisa meneruskan pertunangan ini," Gadis itu berdiri. Tanpa basa-basi lagi, ia pun meninggalkan mejanya. Athrun tak begitu saja membiarkan cinderella-nya pergi. Ia meraih lengan gadis itu untuk menahannya sejenak.
"Bisa lepaskan aku, Athrun Zala?" Pinta sosok berkarisma itu dengan wajah serius. Pertama kalinya sang putri menunjukkan raut gusarnya.
"Kau berani melawan ayahmu? Kau terlalu muluk-muluk, Lacus. Kau tak mungkin bisa mewujudkan mimpimu. Membuat yayasan sosial? Jangan bercanda! Kau sudah terbiasa hidup mewah, tak akan mungkin bisa hidup sederhana!" Athrun berkata tegas, membeberkan semua pendapatnya, tak peduli dengan sang putri yang akan tersinggung mendengarnya.
Lacus melepaskan cengkraman tangan Athrun dengan lembut. Sunggingan senyum manisnya hanya menjadi sebuah jawaban untuk pemuda itu. Tak lama kemudian, ia pun pergi meninggalkan ruangan. Kali ini Athrun tak mengejarnya lagi. Pemuda itu sudah terlalu shock mendengar penolakan Lacus terhadapnya. Athrun hanya terduduk di kursi seraya menerawang. Ia memegangi kepalanya lalu mengacak-acak rambutnya.
Athrun menceritakan semua kejadian di restoran pada sang ayah. Tentu saja pria itu juga kaget mendengar keputusan sang putri. Tetapi, tak lama kemudian, pria berambut abu-abu itu bisa kembali tenang. Ia yakin kalau kejadian kemarin malam adalah sebuah kesalah pahaman. Lacus Clyne tak akan mungkin bertahan lama dengan keputusannya.
"Biar ayah yang berbicara dengan Siegel," Patrick mengambil keputusan. Athrun hanya duduk diam di kursi seraya mendengarkannya. Jujur saja, ia masih shock dan sakit hati dengan penolakan itu.
"Kau tenang saja. Ia tak akan mungkin bisa bertahan dengan keputusannya. Bagaimanapun, Lacus yang harus menjadi pewaris perusahaan Clyne. Pasti Siegel juga akan mendesak gadis itu untuk menurutinya. Pada akhirnya kalian berdua akan tetap bertunangan,"
Kata-kata sang ayah membuat Athrun tenang. Ia hanya mengangguk patuh. Memang, Lacus tak mungkin bisa menolak takdir yang harus ia jalani: menjadi pewaris perusahaan Clyne serta menjadi calon istrinya. Siegel tidak akan semudah itu mengijinkan Lacus mewujudkan mimpinya, apalagi jika tidak sejalan dengan keinginan sang ayah.
Hanya sesaat saja pemuda itu tenang. Beberapa hari kemudian, Athrun mendengar kabar yang lebih mengejutkan. Lacus Clyne memutuskan untuk pindah ke Heliopolis serta hidup terpisah dari sang ayah di sebuah mansion keluarga Clyne. Hanya Markio, sang supir sekaligus asisten pribadi Lacus, serta beberapa pelayan yang diminta tinggal bersamanya untuk menjaga sang putri. Entah apa yang Lacus rencanakan. Kenapa Siegel mengijinkannya begitu saja? Athrun sama sekali tak bisa mengerti jalan pikiran ayah dan anak itu. Ditambah lagi, sang ayah terlihat pesimis dengan kesepakatan perjodohan mereka.
"Athrun, hanya kau yang bisa mengubah keputusan Lacus. Pergilah ke Heliopolis lalu bujuklah dia sekali lagi," Demikianlah saran Patrick Zala padanya. Athrun langsung setuju. Ia pun mengurus semua kepindahannya ke Heliopolis. Bahkan, ia mendaftar di ORB High School, sekolah yang sama dengan Lacus, dengan tujuan agar bisa mengawasi gadis itu.
Besok senin ia akan menjadi murid pindahan di sekolah itu. Athrun tak terlalu antusias. Baginya, sekolah itu tidak semewah sekolahnya dahulu. Heliopolis pun bukanlah kota yang lebih bagus daripada PLANT. Dalam dua hari tinggal di sana, Athrun sudah merasa tak betah. Ditambah lagi tepat kemarin mobilnya rusak oleh kelakuan bodoh seorang gadis. Ia berharap agar kepindahannya tidak berlangsung lama. Ia harus bisa mendapatkan hati Lacus Clyne lalu membawanya kembali ke PLANT. Dengan begitu, semua tujannya akan tercapai. Harta, tahta, wanita.
