Say hi! Haiii ^^

Enjoy!

Sorry for typo-


Because of LOVE

Chapter 14

.

.

[Tokyo, 9 April]

"Sayannng! Cepatt! Kita hampir terlambat!" teriak Sehun dari luar kamar.

Di dalam kamar, Luhan sedang sibuk bersolek diri dengan secepat yang ia bisa. Sembari mengamati pekerjaannya di cermin, mulut Luhan terus menggerutu kecil. "Dasar, dia pikir karena ulah siapa jadi terburu-buru begini!"gerutunya. Setelah memastikan semuanya baik, Luhan segera menyambar jubah dan toganya.

Ya, hari ini merupakan upacara wisuda Sehun dan Luhan. Berbagai kesulitan dan perjuangan telah mereka lewati. Saling membantu dan saling mendukung yang membuahkan hasil dua kali lipat lebih membahagiakan. Namun sayang sekali, hari bahagia ini tak luput dari percekcokkan keduanya.

"Sehun, lebih cepat!" perintah Luhan.

"Iya sayang, ini sudah batas maksimal. Kita bisa terkena masalah jika lebih dari ini…"

Setelah beberapa menit berkendara, akhirnya mereka sampai di gedung tempat upacara diselenggarakan. Segera keduanya berlari menembus kerumunan dengan Sehun yang memimpin. Tangannya tak sedikitpun ia longgarkan pada genggamannya di tangan Luhan. Ia tidak mau keduanya terpisah.

Setelah memakan waktu cukup lama, akhirnya upacara pun selesai. Kini keduanya sudah keluar dari ruangan penuh manusia tersebut dan sedang berkumpul bersama Kyungsoo dan suaminya. Kyungsoo juga mengikuti upacara wisuda meski dengan perutnya yang besar.

"Orangtua kalian tidak datang?" tanya Jongin pada Sehun dan Luhan sambil membantu Kyungsoo untuk duduk di kursi dekat sana.

Sehun menggeleng, "mereka belum sampai–"

"Oh, Mama memberitahu mereka sudah di apartemen." Luhan memberitahu setelah membaca pesan masuk.

"Kalau begitu ayo kita pulang." Ajak Sehun yang langsung dianggukki Luhan.

"Kyung!" Luhan memeluk Kyungsoo, "terima kasih sudah menjadi temanku selama di sini."

Mata Kyungsoo membulat, "selama di sini? Ya! Kau pikir pertemanan kita akan berakhir?"

"Bukan begitu, astaga!"

Kyungsoo tertawa, "waktu yang singkat bukan? Lalu, banyak hal terjadi juga. Meski kami akan menetap di sini, tapi kita masih bisa betemu kan?"

"Tentu saja! Semoga kalian selalu bahagia." Ucap Luhan.

Kyungsoo memeluk temannya itu lebih erat, "kau juga. Bahagialah selalu Luhan… kau adalah wanita yang hebat, kau tahu, meski agak keras kepala. Mungkin itu yang membuatmu menjadi hebat."

"Ya!" Luhan menatap Kyungsoo dengan kesal.

Jongin berdiri tepat di samping Sehun, "kalian langsung kembali malam ini juga?" tanya Jongin sambil memandangi salam pepisahan yang dilakukan dua wanita di depannya.

Sehun mengangguk, "hm… setelah perayaan kecil yang memboroskan, kami akan kembali ke Korea. Kai, terima kasih atas segala bantuanmu." Sehun melirik Jongin dengan sudut matanya.

Jongin tersenyum, "aku harap kalian akan baik-baik saja. Begitu?"

"Tentu."

"Kami akan datang ke pernikahan kalian. Mungkin kami akan sampai sehari sebelumnya." Jongin memberitahu.

"Kau serius? Kyungsoo bagaimana?" tanya Sehun mengingat istri Jongin itu sedang berada di 7 bulan kandungannya.

"Ia bilang masih kuat, sekalian dia akan melahirkan di Korea. Orangtua kami menginginkan itu," Jongin memberitahu. Sehun mengangguk mengerti.

"Baiklah, kami pergi. Terima kasih atas bantuanmu selama ini, Kai." Ucap Luhan.

"Hei hei hei… kenapa kalian terus-terus berterima kasih. Jika ingin berterima kasih, cukup dengan kalian bahagia saja." Kekeh Jongin. "Lagipula kita masih bisa betemu, kan?"

Luhan mengangguk, "tentu saja…" Setelah perpisahan, mereka pun kembali ke apartemen dan rumah mereka masing-masing.

Usai sudah perjuangan Luhan dan Sehun untuk pendidikan mereka. Mewarisi sebuah kewajiban yang mereka emban dari keluarga memang tidak mudah. Hampir dua tahun bagi Luhan dan hanya satu tahun lebih bagi Sehun untuk menyelesaikan studi mereka. Setelah ini, mereka akan menghadapi dunia baru. Bukan dunia yang penuh dengan teori semata, tetapi dunia parktik yang bahkan teori pun bisa diabaikan. Setidaknya mereka harus pintar memanfaatkan itu. Eits, tapi jangan khawatir, seperti studi mereka, pekerjaan mereka juga akan digeluti dengan sebaik-baiknya. Baik bukan berarti tidak ada masalah, tetapi biarkan masalah pekerjaan menjadi urusan mereka. Hihihi.

.

.

[Seoul, 18 April]

Di salah satu bangunan mewah milik Ohsen Group terlihat ramai hari ini. Ya, tentu saja karena hari ini adalah hari penting bagi keluarga pemilik perusahaan raksasa itu. Anak sulung keluarga Oh itu akan melangsungkan pernikahannya, sekaligus peresmian jabatannya sebagai wakil pimpinan perusahaan.

Kabar ini mengundang banyak perhatian dari banyak pihak. Bahkan media pun ingin ikut mendokumentasikan acara bahagia tersebut. Tentu saja banyak yang betanya-tanya karena tidak pernah satu kalipun publik mendengar siapa si anak sulung.

Desas-desus kecil terdengar beberapa hari sebelum acara, pencarian mengenai keluarga Oh menjadi trending. Banyak artikel membicarakan putra sulung keluarga Oh bukanlah anak kandung dari Oh Siwon, anak haram, dan yang lainnya. Setelah itu, Siwon sibuk untuk mengadakan pertemuan dengan wartawan untuk mengklarifikasi artikel-artikel tersebut. Akhirnya, publik pun sedikit tenang ketika pimpinan perusahaan Ohsen itu memberitahu bahwa benar putra sulungnya bukanlah anak kandungnya. Ia dan istrinya menikah dengan membawa anak masing-masing. Untuk alasan, Siwon tidak menjelaskan dan meminta privasinya. Meski sudah mengklarifikasi, tetap saja ada beberapa artikel yang buruk. Untunglah, hal seperti itu bisa diatasi dengan mudah.

Masih hangat membicarakan keluarga Oh, akhirnya calon menantu keluarga Oh terekspos. Keluarga Lu yang sebenarnya cukup berpengaruh di Cina membuat publik menjadi kagum karena reputasi baik yang dimiliki Luhan. Memang hanya sebatas reputasi baik yang publik tahu. Mengenai hal itu, akhirnya berbagai pembicaraan berubah jalur, mereka semua mengatakan bahwa Putra keluarga Oh sangat cocok disandingkan dengan Putri keluarga Lu.

Keluarga Lu asli yang berada di Cina juga tidak ada yang berani macam-macam saat publik mengamati mereka dengan lekat. Mereka terlihat seperti keluarga yang biasa dan harmonis tanpa masalah. Sehun bersyukur untuk itu karena ia tidak memperpanjang masalah waktu itu ke jalur hukum. Ternyata ayah mertuanya sudah menyelamatkan dua keluarga sekaligus.

Saat ini Luhan sedang duduk gelisah di tempatnya. Ia terus meremas gaunnya dan terus-terusan menggigiti bibirnya.

"Astaga Lu! Lipstikmu bisa hilang, jangan begitu terus!" omel Kyungsoo dari tempat duduknya. Wanita hamil itu menyuruh penata rias kembali memperbaiki riasan bibir Luhan.

Setelah riasannya diperbaiki, Luhan menatap Kyungsoo dengan gelisah, "Kyung, bagaimana ini! Aku gugup sekali! Rasanya aku ingin menangis!"

"Jangan coba-coba Lu…" Kyungsoo memperingati. "Tarik napas yang dalam, lalu hembuskan perlahan… lakukan…" Luhan pun mengikuti instruksi Kyungsoo, ia menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan, berkali-kali hingga jantungnya sedikit tenang. Ternya Kyungsoo sudah ada di dekat Luhan, ia memasukkan sebuah permen ke mulut Luhan. "Ibu mertuaku melakukan ini saat aku gugup waktu itu." Kekeh Kyungsoo.

Luhan tersenyum saat rasa stroberi memenuhi mulutnya. "Hmm… gomawo eomma…."

Kyungsoo tertawa, "aku bukan eomma-mu!"

Tiba-tiba pintu terbuka, di depan pintu terlihat seseorang yang Luhan kenal. Seseorang itu tersenyum sedangkan Luhan tidak tahu bagaimana harus bersikap.

"K-Kyung… bisa keluar sebentar?" Pinta Luhan.

"Hm? Baiklah kalau begitu…" Kyungsoo menyetujui tanpa banyak bertanya. Ia mengajak penata rias untuk keluar bersamanya, membiarkan Luhan bersama dengan tamu yang baru datang.

Wanita yang baru datang itu melangkah masuk, "selamat untuk pernikahan kalian, Luhan-ssi."

Luhan terlihat terkejut, "K-kau…" suaranya tercekat.

"Maaf datang sebagai tamu yang tak diundang, hanya saja… aku ingin berbicara padamu sekali."

"Irene-ssi…" akhirnya Luhan behasil mengeluarkan suaranya.

Seseorang yang ternyata adalah Irene mendekat pada Luhan, "seharusnya aku yang berada di posisimu bukan?..."

Luhan membeku, apa yang baru ia dengar tidak salah, kan? Apa wanita ini kembali untuk membalas dendam?

"…pikirmu… pasti itu kata-kata yang akan aku katakan padamu. Ya kan?" Luhan masih mendengarkan. Irene tersenyum, sangat tulus meski matanya masih menyiratkan kesakitan. Luhan baru menyadarinya, wanita di hadapannya tidak bermaksud jahat. "Tidak, Luhan-ssi… kalian berdua memang cocok. Kalian sudah terpisah lama dan jauh, bahkan saling mencoba untuk melupakan dan membenci… tapi, kalian akhirnya tetap bersama. Aku tulus mengucapkan selamat padamu…"

"…mungkin, jika aku yang berada di sini, aku hanya menambah masalah pada keluarga ini. Lihat, keluargamu memang hebat bahkan bisa memperbaiki citra keluarga Oh. Kau beruntung–"

"Irene-ssi… terima kasih atas ucapan selamat darimu, aku tulus mengatakannya. Tapi, jangan membuat seakan-akan aku bisa bersama Sehun karena pengaruh keluargaku. Memang tidak salah dengan itu, tapi perasaan kami bukan karena itu… aku mencintainya… aku mencintai Sehun dan Sehun juga mencintaiku." Jelas Luhan dengan tegas.

Irene sedikit terkejut mendengarnya, matanya terlihat hampir berkaca-kaca. Sepertinya wanita itu berusaha memaksakan dirinya. "Aku tahu…" ia tersenyum tulus, "aku senang kau benar-benar mengakui perasaanmu untuk Sehun. Aku mendoakan yang terbaik untuk kalian."

Luhan tersenyum tipis, "terima kasih, Irene-ssi. Aku berharap kau akan selalu bahagia."

"Jika kebahagiaanku bersama Sehun, kau mau mengalah?" tanya Irene tiba-tiba.

Luhan terkejut, tapi ia masih bisa mengendalikan dirinya. "Jika begitu… tidak bisa. Aku menginginkan Sehun bahagia lebih dari siapapun, karena kebahagiaan Sehun adalah bersamaku, maka itu tidak bisa."

Irene tersenyum, "kau semakin yakin bersama Sehun dan aku juga semakin yakin untuk membiarkan Sehun bersamamu. Aku pergi, Luhan-ssi… selamat tinggal." Luhan menatap kepergian Irene, ia menghela napasnya sambil memegangi dadanya. Jantungnya tidak sekacau tadi, ia sedikit lebih rileks.

'Aku mencintai Sehun, sangat…' ucap Luhan dalam hatinya.

Pintu terbuka, kini seorang pria yang sangat ia kenal muncul. "Sudah siap, Tuan Putri? Sebentar lagi aku akan mengantarkanmu pada Pangeran Bodohmu itu." Ia adalah Jackson, ya tentu saja pria itu datang ke pernikahan Luhan.

"Jangan mengatakan calon suamiku begitu, Jack!" kesal Luahn.

Ada rasa nyeri yang tiba-tiba menabrak dada Jackson saat Luhan mengingatkannya bahwa teman wanitanya itu akan dimiliki pria lain seutuhnya. Perasaan yang selama ini ia tutupi, masih ia kubur dalam-dalam, dan berencana untuk tidak dibukanya. "Kalau begitu ayo cepat!" Jackson menyodorkan lengannya yang langsung digamit oleh Luhan.

Beberapa detik sebelum pintu di buka, Jackson berbisik pada Luhan. "Lu… kenapa aku merasakan apa yang dirasakan para ayah yang akan melepas putrinya, ya? Apa aku harus berakting menangis di dalam sana?"

Luhan menyikut perut Jackson, "jangan membuat malu!" Jackson terkekeh menanggapinya.

Tak lama, pintu pun terbuka. Seluruh mata para tamu mengarah ke mempelai wanita yang mulai melangkah maju. Semuanya terpesona dengan keanggunan dan kecantikan Luhan yang bagaikan titisan bidadari surga. Tidak hanya para tamu, Sehun yang dari jarak cukup jauh pun tak bisa menahan ledakan di dadanya. Senyumnya terlalu bahagia saat melihat wanitanya itu mendekat padanya.

Beberapa langkah lagi, Jackson akan melepaskan Luhan dari genggamannya. Itu artinya ia benar-benar harus melepas Luhan. Dari awal ia tidak berani untuk menyatakan apapun pada wanita yang ia cintai, tidak, bahkan ia tidak berniat untuk mengatakannya. Jackson melepas genggaman Luhan dari lengannya lalu memberikan tangan Luhan pada Sehun.

"Tidak ada ancaman untukmu. Berbahagialah…" ucap Jackson tersenyum pada Sehun, lalu ia beralih menatap Luhan membuat teman wanitanya itu sedikit bingung.

Acara pun bejalan lancar, Sehun dan Luhan sudah mengucap sumpah setia mereka dan diakhiri dengan ciuman romantis mereka. Suara riuh tamu undangan membuat kebahagiaan keduanya terasa begitu lebih dari sekedar nyata. Meski pernikahan adalah hal yang sudah lama direncanakan dan pasti akan terlaksana, tetapi keduanya masih merasa tidak percaya bahwa mereka benar-benar sudah berkomitmen untuk bersama hingga maut memisahkan.

.

.

Acara demi acara berakhir, Sehun dan Luhan pun akhirnya bisa beristirahat di ruangan mereka. Setelah acara peresmian jabatan, mereka mengadakan resepsi yang membuat mereka harus menyapa banyak tamu penting. Tentu saja bersikap ramah dan tersenyum sepanjang hari membuat mereka lelah. Untunglah mereka sudah disiapkan sebuah kamar di hotel yang tak jauh dari tempat acara.

Luhan baru saja keluar dari kamar mandi, "huahh… segarnya. Sehun kau–" kata-kata Luhan terpotong saat melihat pria yang sudah berstatus sebagai suaminya itu sedang mengganti pakaiannya. Luhan segera berbalik menghadap ke dinding, "bisakah dia lebih hati-hati lagi?" gerutunya pelan.

"Apa yang kau lakukan di sana?" tanya Sehun heran. Ia mengurungkan niatnya untuk memakai bajunya. Tidak mendapat jawaban dari Luhan, lantas Sehun mendekat, "Lu? Ada apa?"

"K-kau sudah selesai?" tanya Luhan tergagap membuat Sehun mengerutkan dahinya. "Kau sudah memakai bajumu?" tanya Luhan lagi.

Sehun tekekeh tanpa suara saat menyadari bahwa Luhan masih saja bersikap seperti ini saat ia tidak memakai pakaiannya. "Hm, sudah…" jawab Sehun, padahal ia masih bertelanjang dada.

Luhan terlihat menghela napas lega lalu berbalik. Ia terkejut saat melihat Sehun masih belum memakai bajunya. Wanita itu segera mengalihkan pandangannya, "ya!"

Sehun tertawa lepas, "kau ini, kenapa masih saja malu melihatku begini?"

"Bu-bukan itu masalahnya, s-sudah cepat pakai bajumu!" pinta Luhan.

"Shiro…" goda Sehun. Sebelum Luhan kembali mengomelinya, Sehun lebih dahulu mendekati Luhan dan membuat tubuh istrinya itu tepojok di dinding. "…untuk apa aku memakainya jika nanti tetap dilepas…"

"M-mwo?"

"Kau ini, padahal sudah berapa kali kita melakukannya?" Setelah mengatakannya, Sehun menyentuh dagu Luhan, lalu meraih bibir merah itu untuk mengajaknya saling melumat. Tubuh Luhan tersentak, rasanya sebuah aliran listrik mengalir di tubuhnya. Meski ini merupakan hal biasa, tapi kali ini rasanya berbeda. Apa karena mereka sudah resmi menjadi pasangan suami-istri? Semuanya seperti terasa baru.

Sehun menjauhkan wajahnya, ia tersenyum melihat wajah Luhan yang memerah. Bibir wanita itu terbuka kecil dan membiarkan udara keluar dengan cepat. "Kenapa kau terasa semakin manis…" bisik Sehun. Lalu pria itu mendaratkan bibirnya di leher Luhan dan memberikan hisapan kecil di sana.

"Anh…" Luhan memejamkan matanya, meresapi hisapan yang begitu lembut dari bibir Sehun.

"Kau tahu betapa bahagianya aku, Lu? Akhirnya aku bisa memilikimu selamanya secara sah." Ucap Sehun, lalu pria itu menggenggam tangan Luhan dan mengangkatnya. Ia mengusap jari Luhan yang tersemat cincin pemberiannya lalu mencium jari itu di cincinnya. "Saranghae, Nyonya Oh…"

Luhan tersipu, jantungnya berdebar cepat mendengar pengakuan Sehun, padahal ia sudah berkali-kali mendengar Sehun mengatakan mencintainya. Rasanya memang berbeda, ia pun merasakannya. "Nado saranghae…"

Sehun kembali mencium bibir Luhan. Kali ini tangannya ia usapkan pada bahu Luhan sudah terekspos karena ulahnya. Lama-kelamaan, tangan itu terus turun dan meremas payudara lembut yang sedaritadi menggodanya. Sehun sedikit terkejut saat merasakan payudara itu hanya terlapisi kain tipis yang Luhan kenakan. "Kau bahkan tidak memakai bra, sudah mempersiapkannya untukku, sayang?" kekeh Sehun.

"Hmmhh…" lenguhan terdengar dari bibir Luhan ketika Sehun sengaja menggesek puncak payudaranya dari luar. Pria itu memainkan jarinya di sana dengan gemas. Luhan tidak sanggup, kakinya terasa sudah lemas. Sebelum Luhan merosot, Sehun sudah terlebih dahulu mangangkat Luhan dan membawanya ke ranjang.

"Sehun…" cicit Luhan.

"Jangan menatapku begitu, sayang…" ucap Sehun, mata Luhan terlihat sayu dengan pipi memerah. Hal itu membuat Sehun semakin gerah. "…padahal aku sudah lama menyadari ini. Tapi tetap saja kau mampu membuatku terpesona dengan kecantikanmu." Ucap Sehun lalu kembali mencium bibir Luhan dalam. Sementara bibir mereka saling menjilat dan menghisap, tangan Sehun bergerak mengusap tubuh molek istrinya, mulai dari leher, lalu turun ke bahunya, kemudian sampai di payudara kegemarannya. Satu remasan lembut membuat Luhan mengeluarkan desahan lembut yang tertahan. Tangan Sehun semakin aktif meremas sampai-sampai Luhan merasakan bagian selatannya terasa basah dan panas.

"Hmmhh…mmhh…"

Sehun menyudahi ciuman mereka, pria itu berpindah ke telinga Luhan dan menjilatinya lembut.

"Se…hunhh... gelihh…"

Setelah itu Sehun menyingkap gaun tidur Luhan hingga terpampanglah dua gundukan yang puncaknya sudah menegang sempurna. "Mereka menggemaskan sekali…" bisik Sehun lalu mulai memasukkan nipple Luhan ke mulutnya. Tangan lainnya memainkan nipple lainnya.

"Annhh… Sehunnhh…" Luhan mengerang begitu Sehun menyedot kuat payudaranya. Lidah pria itu menjilati puncak sensitif itu dengan cepat dan menekannya kuat. Luhan dibuat melayang hanya dengan gerakkan lidah dan tangan Sehun di kedua dadanya. "Ahh! Jangan tarikhh… Ah ha~" Jari besar Sehun sudah membuat nipple Luhan lebih sensitif dan memerah dengan menarik-nariknya.

Plop!

Payudara Luhan kini terasa lebih sejuk saat Sehun melepaskan nipple-nya. Dada Luhan terlihat naik turun dan membuatnya semakin seksi di mata Sehun.

Desahan-desahan kecil kembali terdegar dari bibir mungil Luhan. Prianya itu mulai mengecupi daging payudaranya dan membuat beberapa tanda kebiruan di sana. Perlahan, kecupan itu turun ke perut rata Luhan, sampai di pinggangnya, dan berhenti di perut bagian bawah.

"Sehunnhhh…anh…" tubuh Luhan tersentak dan tanpa sadar ia menaikkan bokongnya saat Sehun menekan vaginanya dari luar dalaman. Jari Sehun terus menekan-nekan vagina Luhan dengan intens, matanya semakin membesar saat perlahan-lahan dalaman Luhan tercetak basah. Sehun membuka lebar paha Luhan dan mulai menjilati dalaman basah itu. Dari lidahnya, Sehun merasakan dalaman Luhan semakin basah, entah karena pelakuannya atau cairan dari dalam yang semakin banyak. Menyudahinya, kini ganti jari Sehun yang menusuk vagina Luhan hingga dalaman itu masuk ke lubang.

"Ahhh…. Sehun!" Luhan memekik saat merasakan kasarnya kain menerobos lubang sensitifnya. Semakin dalam Sehun memasukkinya, semakin terasa basah, dan berkedut. Hal itu membuat Sehun menumpat dalam hati. Wajah tegangnya terlihat begitu ketara, ia sudah tidak menahannya jika mendapati lubang wanitanya sudah siap.

Melepaskan jarinya, Sehun dengan cepat menarik lepas dalaman Luhan lalu merunduk. Ia menjilat dari bagian lubang panas istrinya hingga lidahnya tertahan oleh sesuatu yang keras dan membuat Luhan memekik tetahan. Ia gerakkan lidanya dengan cepat di klitoris tegang Luhan dan menyedotnya beberapa kali hingga membuat teriakan keluar dari mulut Luhan.

"Ahh… hh…ha– hhh… Seh! Ah!" Luhan berteriak kencang saat merasakan sedotan di klitorisnya semakin kuat ditambah jari Sehun yang mulai keluar masuk di lubangnya. Vagina Luhan terasa semakin berkedut, rasanya seperti akan melayang, suara basah yang erotis mendominasi ruangan membuat gairah keduanya bercampur menciptakan energi panas. "Sehunn! Ah!" Sehun menancapkan jarinya dalam bersamaan dengan cairan dalam Luhan yang mengalir deras.

"Sehunh…" Luhan bangun dan duduk dengan napas yang tidak teratur. Ia merangkak mendekati Sehun yang tengah membuka celananya. Tangan Luhan terjulur lalu menyentuh gundukkan yang telihat membesar milik Sehun. "…giliranku…"

"Ahh… Lu–" Sehun sedikit mengerang saat wanitanya meremas kejantanannya dari luar dalaman. Luhan mendongak dengan wajah polosnya yang membuat Sehun hampir kehilangan akal sehatnya. Ia mengusap kepala Luhan lembut. "Kau mau?" tanya Sehun.

Tidak menjawabnya, Luhan menarik turun dalaman Sehun hingga menyembullah suatu yang panjang dan tegang dari dalam. Tangan Luhan megang benda keras itu dan sedikit mengernyit, "panas…"

"Shhh… Lu…" Sehun menuntun kepala Luhan yang bergerak maju. Mulut hangat wanita itu kini melingkupi adik kebanggannya. "Ah…" Sehun memejamkan matanya saat Luhan perlahan mulai mengoral-nya. Lidah Luhan juga bergerak-gerak menggoda kepala kejantanannya.

"Sayanghhh… tunggu…" Kejantanan Sehun semakin membesar di dalam mulut Luhan, semakin panas, dan berkedut. Pelahan Sehun mendorong kepala Luhan agar telepas dari kejantanannya. Hal itu membuat Luhan sedikit protes. Dengan cepat, Sehun mendorong Luhan untuk berbaring.

"Sehunn~" rengek Luhan karena mainannya hilang.

Sehun menggeleng, "kauhh… terlalu hebat Lu. Kau mulai nakal, ya…" Sehun diam-diam mulai memasukkan kejantanannya ke lubang vagina Luhan yang begitu licin.

"Enggghh!" Luhan tersentak saat merasakan seluruh kejantanan suaminya itu memenuhi dirinya. "Sehun… gerakkan…"

Sehun terkekeh, "dengan senang hati, Tuan Putrihh…"

"AH!" Luhan berteriak saat Sehun menghujamnya dengan keras.

Sehun mulai memaju-mundurkan miliknya dengan tempo teratur. Desahan-desahan mulai terdengar. Napas keduanya saling beradu. Sehun semakin mempercepat gerakkannya yang membuat desahan Luhan terdengar lebih kuat. Saat merasakan kedutan dinding vagina Luhan, Sehun semakin menghentaknya keras dan…

"SEHUNNHH!"

"Ahh… Lu!"

Bersamaan dengan pelepasan Luhan, Sehun juga menyebarkan sperma hangatnya ke rahim sang istri. "Lu…" masih dengan napas mereka yang terengah, Sehun mengatakan sesuatu yang sudah tidak membuat Luhan terkejut, "…sepertinya aku masih harus melakukannya."

Luhan hanya bisa mengangguk pasrah dan membiarkan suaminya itu membalikkan tubuhnya. Kini posisi Luhan menungging. "Ahhh…ngghh…" Luhan meremas seprai saat lagi-lagi kejantanan Sehun memasukinya.

"Ahh…" Kepala Luhan benar-benar terasa seperti melayang. Merasakan sentuhan Sehun dari posisi seperti ini membuatnya gemetar. Rasanya milik Sehun masuk terlalu dalam. Suara pertemuan kedua pusat mereka benar-benar menggairahkan. Tangan Sehun mulai menggapai payudaranya yang bergelantung bebas dan meremasnya, sambil memainkan nipple-nya.

"Sehunn…Seh…"

"Bersama, sayang…ah…"

Lagi-lagi Sehun menyemburkan spermanya di dalam sana. Setelah melepas kaitan keduanya, Sehun berbaring di samping Luhan. Wanita itu terlihat begitu lelah. Sehun mendekat lalu mengusap peluh di dahi Luhan. "Gwaenchanha?" tanyanya.

Luhan menoleh pada Luhan lalu mengangguk lemah. Sehun segera menarik selimut untuk mereka lalu melingkarkan tangannya melewati tubuh naked Luhan. Ia memastikan bahwa istrinya itu bisa bernapas dengan leluasa.

"Tidurlah…" ucap Sehun. Lalu keduanya tidur dengan Sehun yang memeluk Luhan dari belakang dan Luhan yang memeluk lengan Sehun.

.

.

Pagi yang cerah menyapa pasangan pengantin baru yang masih tetidur lelap di bawah selimut mereka. Tak berapa lama kemudian Luhan menggerakkan tubuhnya, ia memegangi kepalanya yang sedikit pusing. Rasanya malas sekali untuk membuka mata, ia masih ingin tidur. Tapi tiba-tiba perutnya berbunyi… 'ugh, aku lapar'

Ia melihat ke sampingnya, Sehun masih tertidur dengan lelap. Diam-diam Luhan tersenyum, rasanya sungguh aneh, padahal ini adalah pemandangan biasa, tetapi jantungnya terlalu bereaksi dengan berlebihan. Sepertinya efek pernikahan telah membuat Luhan terkena sindrom 'lebay' hahaha.

Luhan turun dari ranjang setelah memakai gaun tidurnya kembali. Meski tanpa dalaman satupun, setidaknya bisa menutupi tubuhnya. Setelah itu Luhan memesan sarapan untuk mereka dari layanan kamar. Sembari menunggu makanannya datang, Luhan bergegas ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya.

Merasa terganggu dengan suara air mengalir, Sehun akhirnya membuka mata. Ia menoleh ke sebelahnya dan tidak mendapati Luhan di sana. Setelah itu ia malah kembali memejamkan matanya. Tak lama, Sehun kembali membuka matanya dan menemukan istrinya di ranjang dan memainkan ponselnya.

"Luhan?" panggil Sehun.

Luhan menoleh pada Sehun sesaat lalu kembali fokus pada game-nya. "Oh, selamat pagi, sayang."

"Hm…"

"Kau lapar? Aku sudah memesan sarapan," ucap Luhan memberitahu.

"Benarkah? Gomawo…" ucap Sehun sambil beranjak dari ranjang. Ia masuk ke kamar mandi setelah itu. Tak berapa lama kemudian, Sehun keluar dengan keadaan lebih segar.

Suara bel terdengar bersamaan dengan Sehun yang baru keluar. "Oh, makanan datang. Aku buka pintu dulu…" ucap Luhan lalu beranjak dari ranjang.

Dibuat terkejut, Sehun dengan cepat menyusul Luhan lalu memeluk wanita itu. Kedua tangannya mendarat di payudara Luhan, lalu meremasnya.

"Ahh… ya!" maki Luhan.

"Kau tidak berencana menerima tamu dengan keadaan seperti ini kan, sayang?" tanya Sehun memperingati. Sehun memang sudah menyadari bahwa istrinya itu hanya mengenakan gaun tidur tipis tanpa bra dan celana dalam.

Luhan menyadari kebodohannya, "astaga benar! Mi-mian… bisa bukakan pintunya?"

Sehun bergegas membukakan pintu, lalu tak lama ia masuk membawa sarapan mereka. Sehun menatap tubuh istrinya yang terlihat begitu jelas dari balik kain tipis itu karena sinar.

"Memangnya kau tidak ada pakaian lain?" tanya Sehun.

Luhan mengangguk, "baju kita kan di rumahmu semua. Katanya Mina akan mengantarkannya nanti siang…" jawabnya santai.

"Nanti siang…?" Sehun sediri tidak tahu apa bisa bertahan melihat tubuh semi telanjang istrinya itu. Sampai siang? Sepertinya ia tidak bisa meramal masa depan.

Benar saja, setelah sarapan dan beberapa menit setelahnya Sehun benar-benar tidak bisa menahannya lagi. Pasalnya, sejak tadi istrinya itu berjalan ke sana kemari yang membuat payudaranya terpantul. Gaun tidur yang kelewat pendek itu pun sempat beberapa kali terangkat hingga memperlihatkan bokong mulus sang istri. Sehun yang sedaritadi mencoba fokus pada ponselnya selalu terganggu akan itu.

"Sayang, kemari…" pinta Sehun setelah meletakkannya ponselnya di nakas.

"Hm?" Luhan yang masih asik dengan ponselnya lalu beranjak dari sofa dan menghampiri Sehun di ranjang. "Wae?"

"Berbalik."

"Hah?" meski tidak mengerti, Luhan tetap menurutinya. Ia berbalik membelakangi Sehun.

"Bisa ambilkan ponselku?"

Luhan mengerutkan keningnya, padahal Sehun lebih mudah mengambilnya sendiri, kenapa susah-susah sampai harus memanggilnya? Mengabaikan kejanggalannya, akhirnya Luhan membungkuk dan mengambil ponsel Sehun. Saat itu, ia tiba-tiba memekik saat sebuah daging tak bertulang menyapa vaginanya.

"Akhh! Ya! Apa yang kau lakukan?!" tanya Luhan terkejut. "Sehunn!" Kini lidah Sehun masuk ke dalam lubangnya, semakin dalam, dan terus menggeliat di dalam sana. "Ahh…" tangan Luhan memegang erat nakas. Ia tidak percaya Sehun akan melakukannya sepagi ini.

Cairan hangat mulai keluar dari lubang vagina Luhan, hal itu membuat Sehun mengganti lidahnya dengan dua jarinya. Ia gerakkan jarinya dengan lembut di dalam sana. "Tidakkah kau berencana menggodaku, sayang? Berkeliaran tanpa dalaman seperti itu–"

"Ahh!" teriakan Luhan bersamaan dengan datangnya orgasmenya. "Sehunnh…"

"Bisakah aku melakukannya?" tanya Sehun. Luhan mengangguk, gairahnya jadi terpancing karena Sehun yang sudah menggodanya.

Dengan cepat Sehun mengeluarkan kejantanannya dan sekali lagi menerobos lubang panas istrinya. Pagi mereka semakin panas, rupanya tidak cukup sekali, tetapi Sehun berhasil mengeluarkan spermanya 3 kali. Mari kita doakan Luhan agar tetap baik-baik saja setelah ini, hahaha. Apalagi mengingat saat ini masih pukul 9 pagi dan pakaian mereka akan datang sekitar 3 jam lagi. Semangat Luhan!

Benar-benar sebuah definisi dari make 'LOVE' bukan? ^^

.

.

to be continued-

.

.


Huuaaaa! Akhirnya sampai di chapter 15- yeayyy, makasi untuk kalia yang masih menantikan cerita ini hivgga akhir. Eits, maksudnya minggu depan adalah chapter terakhir... jadi, tunggu yaa ^^

Jadi, gimana dengan chapter 15 ini? Gimana-gimana? Kkkk

..

Balasan review

#xxizy: eh aku nungguin kamu di perempatan loh *ehh hahaha. Lanjut yaa hihi, masih ada 1 lagi! Semangat banget! Kkkk

#nanima999: Kaisoo bikin surprise berhasil ternyata ya kkkk. Gitu, semangat untuk kakaknya juga ^^ ikatan Hunhan dah strong, tenang hihi

#HunHansister0704: haii, terima kasih sudah membaca ^^ story ini update setiap Rabu hehe. Tunggu chapterch terakhir minggu depan ya!

#chan22: jadi nikah kok... gak ada drama lagi kkkk

..

Okey, jadi sampai bertemu Rabu depan

Gamsahamnida

*loveforHUNHAN yeayy!

#