Aku bener-bener minta maaf atas keterlambatannya. Lagi banyak kerjaan jadinya terpaksa harus ditinggal dan karena itu gak banyak waktu banyak buat nulis cerita ini.
Bab ini bisa dibilang bab penghabisan dan bab selanjutnya adalah bab terakhir sebelum Epilog.
Terima kasih yang buat baca. Semua keritik dan saran sangat diterima di kolom komentar.
Selamat membaca.
"Apa maumu?" tanya Harry berusaha menyembunyikan rasa takut dari suaranya.
Sekarang dia duduk di bangku yang ditempatkan di tengah-tengah ruangan gelap yang cahaya hanya datang dari lubang langit-langit yang ada tepat di atas Harry, menampakkan rembulan perak yang bersinar terang.
Mantra pengikat yang sepertinya dirapal berkali-kali benar-benar melumpuhkan tubuhnya, membuatnya tak bisa menggerakkan apa pun selain bagian leher ke atas.
Di depannya berdiri dua orang laki-laki berbadan besar dan berjubah hitam, membelakanginya. Mereka berdua tampak tak berniat menjawab pertanyaan Harry, walau itu sudah kelima kalinya dia bertanya sejak dia tersadar.
Sadar kalau dia tidak akan mendapat jawaban yang dia minta, akhirnya Harry mengurungkan niatnya untuk bertanya sekali lagi.
Kepalanya yang masih dirasa pusing dia tengokkan ke kanan dan ke kiri, berusaha mencari petunjuk di mana dia sekarang atau keberadaan tongkatnya. Namun nihil, tak ada hal lain yang dapat dia lihat selain tembok batu kumuh dan pintu kayu reot di seberang ruangan.
Tongkatnya pun sepertinya sudah disita ketika dia masih tak sadarkan diri.
"Voldemort," bisik Harry hati-hati, memastikan keduanya tidak mendengar apa yang dia ucapkan, berharap bahwa papanya bisa menemukannya dengan ia menyebut nama kebesarannya itu. Tapi tak ada tanda-tanda bahwa sang Kegelapan akan tiba dalam waktu dekat.
Tidak ada simpulan lain, selain bahwa tempat dia sekarang sudah dimantrai dengan mantra penyamar yang begitu tebal sehingga jinx yang ada di nama tersebut tak berfungsi.
"Argh!"
Kembali dia meronta, berusaha melepaskan diri dari jeratan mantra yang mengikat tubuhnya, tapi tak ada apa pun yang terjadi. Tubuhnya bahkan tak bergerak sedikit pun dari posisi sebelumnya.
Kriet.
Suara decitan pintu yang dibuka perlahan segera menyita perhatian Harry, membuatnya menoleh cepat ke arah pintu untuk melihat dua orang penyihir berjubah hitam dan bertopeng masquerade hitam dengan ukiran rumit di ujungnya.
Keduanya berhenti tepat di samping Harry.
"Kau sudah bangun rupanya," desis seorang di antara keduanya, dia adalah penyihir yang beberapa langkah lebih dekat padanya daripada yang lain. Tentu bisa ditebak bahwa dia adalah pemimpin mereka.
"Apa maumu?" Sekali lagi, Harry mengajukan pertanyaan yang sama.
Dengan ujung tongkatnya penyihir itu menarik dagu Harry, memaksanya agar menengadah sehingga tatapan mereka bertemu.
"Tidak terbayang kenapa Pangeran Kegelapan Voldemort rela menumbalkan kejayaannya hanya untuk penyihir tak berguna sepertimu!" cebirinya, mencampakkan dagu Harry. bibirnya yang tak ditutupi oleh topeng mencebik jijik padanya.
"Siapa kau?!" tuntut Harry langsung.
Jantung dan napasnya mulai berpacu lebih kencang dari sebelumnya. Bagaimana orang-orang ini tahu tentang masa lalu papanya dan siapa mereka yang sebenarnya?!
Tidak ada yang tahu identitas papanya selain lingkup dalam Pelahap Maut dan Dumbledore. Tidak ada! Dan Harry tahu benar, tolol jika ada di antara mereka yang berani membelot dari papanya.
"Ha ha ha!" penyihir itu tertawa, disusul dengan ketika penyihir lain di belakangnya, seakan pertanyaan Harry adalah gurauan semata.
Harry yang tidak tahu menahu hanya memberi tatapan tak mengerti pada mereka, seraya mencebik menuntut jawaban. Sudah hampir sejam dia duduk seperti ini, tapi tidak sekali pun dia mendapat jawaban yang jelas.
"Aku adalah mantan pengikutnya di Perang Sihir I," jawabnya seraya menyingkap lengan bajunya, memperlihatkan bekas Tanda Kegelapan khas Pelahap Maut di sana.
Seketika dagu Harry mengeras dan diikuti mata yang memelotot tajam. Dia tidak pernah melihat seorang pun yang mampu melepas kutukan yang diciptakan papanya itu.
Harry kemudian kembali menatap wajah penyihir itu cepat, raut keheranan dan takut jelas terpampang di mukanya.
"Tentu aku bisa melepas kutukan bodoh itu, bocah," desisnya seakan tahu apa isi pikiran Harry, dia kembali menutup lengan bajunya, "itu hanya mantra biasa."
"Ba—bagaimana? Siapa kau?!"
Mata Harry yang mengilat diterpa sinar rembulan mengunci tatapannya pada sosok penyihir di depannya, berusaha mengenali siapa dia. Kalau memang dia adalah Pelahap Maut, harusnya dia tahu. Papanya sudah membeberkan semua nama orang yang pernah berpihak padanya di Perang Sihir I dulu.
"Kami berdua sangat dekat dulu. Aku adalah pengikutnya yang paling setia dan berbakat," desisnya mengangkat tongkat sihirnya yang bersinar di dalam temaram rembulan.
"Kami berdua begitu mirip, Harry,"—matanya bertemu pandang dengan manik milik Harry, mengunci penglihatan Harry agar berpusat padanya saja; memberi kerlingan agar mengabaikan eksistensi tiga penyihir lain yang mulai menyatu dengan gelapnya malam, meninggalkan mereka berdua—"kami memiliki kebencian yang begitu besar pada orang tua kami, lebih tepatnya pada ayah kami," jelasnya dengan nada penuh nafsu. Tangannya yang kasar menyentuh pipi Harry, mengelusnya halus tanpa memedulikan erangan tak nyaman dari si empunya.
"Kami berdua memiliki potensi yang besar, dia sendiri yang bilang begitu. Aku adalah yang paling setia padanya, aku rela membunuh seluruh penduduk sihir demi kebesaran yang ada pada dirinya. Aku rela ditahan belasan tahun hanya untuk kesetiaanku padanya; Voldemort yang maha besar!" Nada hina dan kekecewaan menyepat dari mulutnya tepat di kalimat terakhir, seakan jijik mengucap nama itu.
"Namun apa yang kudapat?!" teriaknya, membuat Harry berjengit samar.
"Apa yang kudapat?! Tidak ada!"
"Tidak sekali pun dia berniat untuk menyelamatkan kami! Awalnya kukira dia sudah mati, sebagaimana rumor yang ada," ujarnya, membuang muka dari Harry.
"Tapi ternyata tidak!" Kembali, dia melirik Harry dengan sorot penuh kebencian dan jijik.
"Malahan dia mengabaikan kami berempat, membiarkan para Lestrange mati membusuk dan aku mendekam dan menjadi gila! Membiarkan kami hidup di dalam kesengsaraan karena keyakinan tolol tentang kesetiaan kami padanya, sedang dia, si Pangeran Kegelapan Voldemort, malah bersantai ria bersama buah hati-nya?!"
Bagai kepingan teka-teki yang akhirnya tersusun sempurna membentuk satu gambar yang jelas, pikiran Harry pun begitu. Setelah semua petunjuk yang ada saling menyambung menjadi satu utas, akhirnya Harry sadar siapa gerangan yang sekarang ini membentaknya dengan kata-kata keji.
Ya, dia tahu siapa orang ini.
"Jangan tanya bagaimana aku bisa keluar dari penjara tolol itu, aku punya potensi yang sama dengan apa yang ayahmu punya."
Ketakutan semakin jelas terpampang di wajah Harry.
"Aku lalu melarikan diri ke Prancis dan mengumpulkan beberapa penyihir hitam yang sama-sama mengidolakan sosol Voldemort dulu. Tidak susah membuat mereka tunduk di bawah kendaliku dan merujuk mereka agar bergabung bersama untuk menumbangkannya."
Bibirnya yang bergetar akan kemarahannya pun mulai melengkuk ke satu arah, membentuk seringai iblis yang begitu cocok berpasangan dengan matanya yang terbuka lebar ke arah Harry.
"Kau ... ." Suara Harry yang bergetar karena raganya yang mulai dikuasai oleh ketakutannya sendiri berhenti di kerongkongannya, selagi bibirnya yang terbuka dan tertutup untuk beberapa kali. Otaknya seakan berhenti berfungsi begitu saja.
"Ya, Harry," tekan si penyihir, "aku adalah Barty Crouch Jr., Pelahap Maut yang mendekam di Azkaban demi kesetiaanku pada Pangeran Kegelapan—yang malah membuang-buang keagungannya karena orang sepertimu!" bentaknya yang disertai sentakan tongkat.
Rasa sakit yang tidak pernah Harry rasakan hinggap di badannya selama masa hidupnya tiba-tiba saja membungkus tiap jengkal badannya, memaksanya menjerit dan merintih.
Kepala Harry membanting ke segala arah, berusaha lepas dari jeratan mantra yang mengikat tubuhnya; berusaha lari dari mantra kutukan gelap yang dirapal padanya.
Urat-urat lehernya membengkak saat dia mengerang kesakitan; air matanya keluar bagai sungai yang deras karena karena tidak tahan menahan sakit yang perlahan membuat otaknya mati rasa, menjadi gila.
Sungguh, Harry tidak bisa berbuat apa-apa, selain berharap papanya segera datang.
Pintu reot yang tadi tertutup rapat, tanpa disangka terjerembab begitu kencang sampai satu engselnya copot. Beruntung Harry, suara debaman itu sanggup untuk mencuri perhatian Crouch sehingga kutukan yang dia rapal berhenti saat itu juga.
"Ada apa?!" tanyanya.
"Di—dia datang tu—tuan!" sesosok penyihir lain yang terlihat terseok-seok menjawab pertanyaan Crouch. Ketakutan terpancar jelas dari matanya.
Crouch mendecih, menoleh ke arah Harry yang berusaha melempar tatapan membunuh, walau tentunya gagal karena hampir seluruh tenaga yang dia punya sekarang dialihkannya untuk meraih kembali kesadaran yang dia punya.
"Panggil yang lain ke sini," titahnya yang diangguki oleh penyihir yang tadi menyampaikan berita padanya, "kita buat dia tumbang."
"Baik, Tuan!" jawabnya sebelum keluar dari sana.
Crouch lalu beralih pada tiga penyihir yang sedari awal sudah ada di ruangan itu bersama dengan dirinya.
"Kalian tahu apa yang harus kalian—"
Suara pintu yang kembali dibanting keras, untuk kesekian kalinya, memotong perintah Crouch, membuatnya menoleh ke sumber suara untuk mendapati sosok mantan tuannya berdiri di ambang pintu yang sudah hancur berkeping-keping.
Ya, Voldemort sudah tiba. Dia berdiri di sana dengan raut murka yang begitu menakutkan ketika dipasangkan dengan wajah ularnya. Matanya yang sewarna delima menyala di dalam gelap saat dia mendaratkannya pada Harry, mengerling cemas pada buah hatinya yang gagal dia lindungi.
Ketiga penyihir yang berdiri di depan Crouch segera merapatkan tubuh mereka ke satu sama lain dan membidik Voldemort tanpa ba-bi-bu.
"Avada—"
Mantra kutukan yang ketiganya rapal langsung dipotong oleh kilatan cahaya hijau yang lebih dulu menyambar dada mereka, melumpuhkan pergerakan mereka—untuk selamanya.
Mayan mereka langsung terkapar di lantai batu, sebelum akhirnya membusuk dan hilang dalam hitungan detik.
"Sebaiknya kau punya alasan yang cukup memberiku pertimbangan agar membiarkanmu hidup setelah apa yang kau laukan ... Crouch!" cibir Voldemort yang mengundang kekehan dari Crouch.
"Tuanku," sapanya penuh seraya membungkuk, walau begitu dari nada bicaranya, bisa dipastikan dia hanya menyarkasi Voldemort.
Pria tinggi berperawakan seperti ular itu melangkah begitu cepat, seakan-akan dia terbang. Dalam sekejap dia sudah berdiri di depan Crouch, menggertakkan gerahamnya di kala dia mencebik jijik pada perawakan salah satu mantan pengikutnya itu.
"Kau kira bisa semudah itu menyembunyikan Harry dari genggamanku?" tanyanya menuntut.
"Tentu saja tidak, Tuanku," jawab Crouch.
Mata Voldemort yang dipenuhi akan rasa marah dan benci semakin membara di kala dia menangkap keadaan Harry yang begitu menyedihkan setelah menerima Kutukan Cruciatus dari Crouch.
"Apa maumu?"
Crouch menoleh sebentar ke arah Harry, mengerling padanya menggunakan pandangan meremehkan, sebelum kembali mempertemukan maniknya dengan delima milik Voldemort.
"Aku ingin membantu Anda, Tuanku, untuk kembali ke tujuan Anda yang sebenarnya menjadi Pangeran Kegelapan!" jawab Crouch. "Bukan membuang-buang waktu Anda bersama orang tak berguna seperti ini," imbuhnya.
"Tidak akan," cibir Voldemort dan mengangkat tongkatnya ke arah Crouch, siap merapal mantra kutukan pembunuh pada orang bodoh itu.
"Papa! Tidak!"
Teriakan Harry langsung mencuri perhatiannya, membuatnya mengerling sesaat. Namun, sebelum matanya bisa mengganti pandang dengan Harry, cahaya hijau terang melesat dari ujung ruangan yang begitu gelap ke arah Voldemort—dan mengenai punggungnya.
Tubuh Voldemort jatuh tersimpuh seketika.
"Kalau begitu, biarkan aku yang menggantikan posisi Anda, Tuanku."
Jantung Harry seakan berhenti berdetak di saat itu juga, ketika papanya tersimpuh tak berdaya di hadapan Crouch. Oksigen yang mendiami paru-parunya seperti ditarik keluar dari sana, menyisakan rasa sesak yang amat sangat menyiksa.
Matanya yang membelalak pelan-pelan mengeluarkan cairan bening dari pelupuk zamrudnya. Dunianya hancur. Benar-benar hancur.
Bisa dia merasakan bagaimana sukmanya dipaksa meninggalkan tubuhnya saat itu juga, seakan dia juga merasakan yang namanya kematian bersama sang papa yang sudah tersimpuh tak berdaya di hadapannya.
Dengan keterkejutan yang tak bisa dia terima, Harry mengalihkan lirikannya ke tempat di mana kilatan pembunuh itu berasal, yang di mana di sana berdiri orang yang begitu dia kenal. Yaxley.
Yaxley adalah salau satu dari Pelahap Maut papanya, pelayan yang mengaku bahwa kesetiaannya hanya untuk sang Pangeran Kegelapan Voldemort.
Bangsat. Harry sudah duga kalau orang itu memang tidak bisa dipercaya.
"Kau datang di saat yang tepat, Yaxley," sapa Crouch senang.
"Dia benar-benar bodoh sampai tidak menyadari kedatanganku," tukas Yaxley, melangkah mendekat. Kakinya menendang-nendang mayat Voldemort.
"Tipikal Gaunt sekali."
Yaxley kemudian mengalihkan pandangannya pada Harry yang masih menatapnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
"Apa yang akan kau lakukan padanya?" tanya Yaxley, menunjuk Harry dengan dagunya.
Crouch, yang masih menyanjungi dirinya atas apa yang baru saja terjadi, mengedik. "Membunuhnya? Sekarang kita punya kuasa atas Dunia Kegelapan seantero Britania. Tentu saja kita tidak mau ada penghalangan, 'kan?"
Penyihir yang lebih tua mengangguk, menyetujui saran dari rekannya.
"Sekarang, dia adalah milikmu. Aku sudah membunuh ayahnya," tutur Yaxley yang mendapat iya dari Crouch.
Menjawab dengan anggukan, Crouch lalu mengarahkan tongkatnya pada Harry, siap merapal mantra yang sama yang membunuh papanya.
Rasa sedih, takut, dan amarah yang bergejolak bercampur menjadi satu, melebur menjadi entitas yang tidak bisa dia jelaskan mulai mengambil alih benaknya, mengacaukan semua yang ada di sana. Bagai kepalanya mengandung beribu kembang api yang meledak-ledak sekarang.
Namun, semua rasa itu berhenti begitu saja tanpa adanya jejak, menyisakan kekaburan dan rasa hambar yang membuat pikirannya lumpuh akan seluruh emosi untuk beberapa waktu—sebelum amarah kembali memercik dan begitu saja berkobar menjadi dendam; menjadi pemantik untuk sihirnya sendiri.
Jelas semua itu terpancar dari matanya.
Melihat tepat ke ujung tongkat Crouch, rasa dendam yang sudah benar-benar menguasai dirinya akhirnya meledak, membuat sihirnya tak terkendali.
Berpuluh lapis mantra pengikat yang awalnya menahan tubuhnya langsung pecah begitu saja akibat sihir Harry yang meledak dari dalam intinya.
Crouch dan Yaxley yang awalnya berdiri di hadapannya terpental seketika.
Harry yang sudah bebas dari jeratan mantra tersebut, kemudian langsung berdiri dari kursinya dan perlahan melayang ke udara. Tangannya yang tidak memegang tongkat apa pun terlihat bersinar dengan sinar hijau yang bercampur dengan kabut hitam legam.
"Kalian ... ." Harry mendekat, mengintimidasi Crouch dan Yaxley begitu saja. Gemetar, mereka berdua mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi ke arah Harry.
"Me—menjauh! Apa-apaan ini?!"
"Apa—yang terjadi!"
Harry mengerang. Matanya menyiratkan kebencian yang tak berdasar, menghisap semua jiwa yang menatap langsung ke dalam zamrudnya.
"Kalian akan membayar ini semua!" tutur Harry yang lengah akan puluhan sinar putih dan merah yang melejit dari ambang pintu, di mana tampak penyihir-penyihir berjubah hitam bergerombol di sana. Namun, apa pun mantra yang dilempar kepadanya, tidak pernah menyentuh tubuh Harry, karena sinar-sinar itu lebih dulu tersapu angin sebelum bisa mendekat padanya.
Harry lalu mendongak, memandang segerombolan penyihir yang entah kenapa membuat dadanya sesak akan rasa jijik.
"Kalian bukan tandinganku." Dan dengan sekali kibasan tangan, semua penyihir itu terpelanting ke tembok sampai kepala mereha pecah dan tulang-tulang mereka remuk.
Yaxley dan Crouch yang masih dalam posisi semula pun semakin menampakkan ketakutan mereka setelah melihat apa yang barusan terjadi; Harry membunuh 10 orang tanpa sedikit pun berusaha.
Tanpa merapal mantra apa pun, Harry lalu mengarahkan tangannya ke arah Crouch dan Yaxley, lalu membiarkan sihirnya mengalur keluar dari dalam dirinya, menimpal keduanya dalam arus yang sangat, sangat keras.
Seperti tertimpa oleh Kutukan Cruciatus, keduanya menjerit kesakitan, meminta berhenti, tapi tidak ada yang mereka dapatkan kecuali rasa sakit yang semakin menjadi-jadi.
Belum selesai, sihir Harry lalu bertransformasi menjadi mantra penyayat yang mengiri keduanya dengan sayatan yang begitu dalam sampai-sampai daging mereka tercungkil dan tulang mereka terlihat.
Crouch dan Yaxley berusaha meminta ampun, menuturkan penyesalan mereka di sela-sela jeritan dan teriakan penderitaan yang menggema di ruangan gelap itu. Namun, sekali lagi, tak ada yang mereka peroleh kecuali daging yang perlahan tercungkil, kulit yang mengelupas, dan organ dalam yang mulai berserakan.
Teriakan keduanya terus terdengar sampai akhirnya tenggorokan mereka putus—dan jantung mereka berhenti berdetak; menyisakan bangkai yang sudah tidak terkenali lagi.
Sihir Harry yang memancar bagai air terjun itu pun berhenti pula, meninggalkan Harry yang langsung terjatuh ke lantai batu yang dingin, terkapar tanpa kekuatan untuk bangkit dari posisinya.
Pikirannya pun mulai kembali berfungsi, begitu pun dengan indranya yang pelan-pelan mentransformasikan rasa sakit dari semua bagian tubuhnya ke otaknya.
Susah payah, Harry menolehkan kepalanya ke arah mayat sang papa yang tak bergerak sedikit pun dari posisi semula.
Kemudian dia mencoba untuk merangkak ke sana tanpa memedulikan rasa sakit yang menjalari tubuhnya—sampai akhirnya dia bisa menyentuh papanya dan tumbang di lengan pria itu, menjadikannya bantalan.
Rasa sesak, mual, dan pusing kembali menghampiri pikirannya. Air mata juga kembali mengisi pelupuk matanya, mengalir jatuh membasahi lengan papanya yang terasa begitu dingin.
"Maaf," isak Harry.
"A—ku benar-benar min—ta ma—af, Papa," imbuhnya selagi berusaha menyambung napas.
Tak ada yang dia bisa lakukan sekarang, dia sadar akan hal itu, kecuali meringkuk dan memeluk tubuh papanya erat-erat, berusaha mencari kehangatan di sana, berusaha mencari kehidupan yang tersisa.
Harry sungguh tak bisa membayangkan betapa rana hidupnya bilamana papanya sudah tidak ada. Selama lima belas tahun dia hidup, pria itu selalu ada di sisinya, mendampinginya dan menemaninya dalam keadaan apa pun—tapi sekarang ... dia sudah tiada.
Walau memang awalnya papanya berniat menjadikannya sebagai senjata, tapi tak bisa dipungkiri bahwa ikatan yang mereka buat sudah melampaui semua arti kata cinta dan kasih.
Dia benar-benar tidak bisa memercayai apa yang baru saja terjadi; ketika orang yang selalu ada di sisinya dan selalu menyayanginya sudah tidak ada.
Di saat yang sama, kesadarannya mulai mengabur, bersamaan dengan rasa lelah dan tubuhnya yang mulai melemah karena sihirnya yang dia biarkannya keluar begitu saja dari tubuhnya; meledak bagai bom.
Harry, yang takut akan sepi yang mulai menggerogoti seisi ruangan dan rasa dingin yang mulai menusuk tubuhnya, pelan-pelan mendengar derap kaki yang berlari ke arahnya dan sang papa—tapi sebelum dia bisa menoleh ke arah pintu untuk mengetahui siapa di sana ... ketidaksadaran sudah lebih dulu merenggut dirinya.
Sampai jumpa di bab selanjutnya. Jangan lupa subscribe atau vote cerita ini!
