—11—

"Welcome, Seiya…"


"Tetsuya." Buku-buku jari Seijuurou mengetuk bagian kayu pintu geser berlapis kertas merang. Telinga didekatkan, agar dia tidak melewatkan suara barang sedikit."Kau bisa mendengarku?"

"Ya."

Dunia terbelah dua. Mengecil. Menyempit. Bermula dari 'kita' dan 'yang bukan kita', menjadi 'aku' dan 'kamu'. Terkadang tidak perlu sesuatu yang rumit untuk menjadikan kita bersusah hati. Sesederhana apapun, jika itu menyangkut seseorang yang amat penting, selalu bisa menjadi 'sangat'. Entah sangat membahagikan. Atapun sangat menyakitkan.

"Kau masih bisa merubah pendapatmu. Aku bisa menemanimu."

Atas permintaan Tetsuya, Seijuurou dan siapapun tidak akan menyaksikan proses kelahiran Seiya. Pemuda berambut biru langit bersikeras bahwa ia dapat melakukan semuanya sendiri.

Di dalam ruangannya, Tetsuya menyandarkan punggungnya pada pintu. Di luar perkiaraannya sendiri, ia sangat tenang.

Seiya akan lahir hari ini. Tidak ada yang perlu ditakutkan.

"Tidak perlu."

Seijuurou sungguh ingin membenturkan kepalanya ke dinding. Tangannya mengepal erat. Menahan diri untuk tidak langsung masuk dan memeluk paksa Tetsuya tidak mudah.

Sebaliknya, pijakannya melemah. Ia berlutut di lantai kayu. Kening hampir menyentuh permukaan pintu.

"Tetsuya…"—tidakkah kau mengerti? Aku ingin berada di sampingmu pada momen sepenting ini.

Tetsuya sangat mengerti. Justru karenanya ia tidak bisa membiarkan Seijuurou mendampinginya.

Gelengan. "Mm. Aku bisa."

Tak diperkatakan. Tapi keduanya tahu. Tetsuya ingin Seijuurou mengingatnya sebagai seorang yang rupawan—sebagaimana pujian yang seringkali Seijuurou bisikan untuknya saat mereka berduaan.

Tetsuya meluruskan dua tungkai putih jenjang di atas futon beralas handuk tebal. Ia melonggarkan ikat pinggang, membiarkan kulit perut terasa dingin dibelai angin.

Semenjak lima menit lalu, keringat dingin mulai meleleh di sekujur tubuh. Tetsuya mengigil, seperti diserang demam yang amat parah. Area perutnya berdenyut gila, dan debar jantungnya bertalu-talu seribut gebukan perkusi pada pertunjukan musik kolosal.

Di sisi lain, kesadaran seolah mengabur.

Pendarahan dalam.

.

.

"Dia—maksudku, Seiya—akan menghisap darhmu dari dalam." Himuro membetulkan kacamata yang melorot dengan telunjuk. Tetsuya hanya mengangguk mengerti. Di sisinya, Seijuurou tampak jelas tidak suka dengan konten pembicaraan.

"Di saat kesadaranmu menghilang, Seiya akan—ah." Himuro menutup mulutnya. Alis bertaut. Jelas sekali tampak kalut.

"Tak apa, Himuro-san." Tetsuya bertahan dengan raut wajah sekaku batu karang. "Tolong dilanjutkan saja penjelasannya."

Himuro menatap Seijuurou, seolah meminta izin untuk melanjutkan penjelasannya. Seijuurou tidak berkata apa-apa.

Himuro menganggapnya kediamannya sebagai izin.

"Seiya akan—"

.

.

Ada waktu untuk segala sesuatu. Tetsuya pun tahu waktu baginya sudah tiba.

Tetsuya mengerang pelan. Awalnya. Hanya denyut menganggu yang ganjil. Tapi erangannya cukup membuat Seijuurou yang menungguinya di luar sana sungguh ingin membatalkan semua janjinya pada Tetsuya untuk tenang.

Kenapa pula dia bersedia menjanjikan yang jelas-jelas sulit dilakukan?

Oh ya. Benar. Semua karena Tetsuya yang meminta.

"Ahhh!" Dunia terasa berputar. Tetsuya kehilangan persepsi tentang kberadaanya sendiri. Tidak tahu lagi mana atas, mana bawah ataupun di mana ia kini terbaring; meringkuk tak berdaya."Ukh!"

Ketika tulang-tulang rusuk seolah patah di dalam, Seiya yang yang selama ini begitu tenang mendekam di tubuhnya seolah menjadi eksistensi yang asing. Begitu liar, ia menggeliat di dalam tubuh Tetsuya, mencari ruang dan cara untuk keluar.

Tetsuya dapat membayangkan organ dalamnya hancur karena invasi yang amat brutal di dalam rongga perutnya. Tidak tahan dengan sakitnya, Tetsuya menarik obinya, membebaskan diri dari belitan kimono putih bersih. Setidaknya ia bisa bernapas dengan lebih lega. Air mata menggenang, mengalir bersama dengan peluh yang membasahi sekujur wajah. Tetsuya mengerutkan badan. Tangan menarik kain alas pembaringan kuat-kuat. Terlalu kuat bahkan. Sampai telapak tangannya sendiri terluka oleh kuatnya cengkraman kuku yang bahkan mampu mengoyak fabrik halus dalam genggaman.

Sakit. Sakit! SAKIT SEKALI!

Ini karmanya. Karena sudahmemikat dewa, dia harus menjadi jiwa yang mengembara. Tak tentu arah terus berkelana. Mencari lagi yang dicintai hatinya hanya untuk hancur lagi dan lagi melahirkan pewaris kutukan berikutnya.

Tapi dia harus bertahan.

Ya. Harus.

Demi Seiya.

Demi Seijuurou.

"Arrrgghhh!"

Di tengah kesadaran yang terpecah, fokus yang terbagi, Tetsuya masih menemukan kekuatan untuk menjerit. Sakit luar biasa. Tubuhnya seperti diremukan, hancur perlahan-lahan. Di bawah kutukan, kematian pun menjadi tak mudah.

Di luar, Seijuurou menahan diri untuk tidak mendobrak masuk. Dia sudah berjanji. Dia tidak akan menginjak ruangan sebelum mendengar tangis pertama Seiya.

Tapi bagaimana jika air matanya yang meleleh duluan?

Panas terasa di pipinya yang dingin. "Tetsuya…"

Bisik lirih itu menyiratkan rasa sakit. Padahal Tetsuya yang kini tengah mengorbankan diri. Tapi Seijuurou pun turut merasa terluka.

Mungkin justru dia yang lebih sakit. Hanya bisa berdiam diri untuk semua ini. Segala keputusan yang sejak awal tak memberikannya pilihan. Sebuah jalan buntu yang harus didobrak sebisanya.

"ARRRGHH!"

Kejang. Tetsuya tidak dapat melihat apapun sekalipun mata terbelalak. Dari dalam perutnya, ia dapat merasakan Seiya menyeruak keluar.

Tapi bukan tangan-tangan bayi mungil yang Tetsuya rasakan, melainkan cabikan kuku -organ dalam tercabik. Dari bawah kulit perut, kuku tajam menembus, membelah. Menyediakan jalan . tertolong.

Seolah kodisinya tidak bisa lebih buruk lagi, Tetsuya merasakan urgensi untuk memuntahkan darah. Terbatuk keras, cairan merah kental dikeluarkan dari tenggorokan, mengotori tangan Tetsuya yang digunakan menutupi mulut.

Darah turut mengalir dari luka perut, menggenang. Merembes pada alas pembaringan dan kimono yang masih membungkus tubuh asal-asalan.

Tetsuya tahu, waktunya akan tiba.

Setiap kali ia mengerjapkan mata, dia tidak bisa lagi membedakan alam nyata dan dimensi mimpinya. Dunia di matanya kini kilasan pemandangan yang berganti-ganti, dia sulit membedakan yang mana realita, imaji, kenangan ataupun mimpi.

Selalu fragmen yang di dalamnya Seijuurou berada yang melintas. Suara tawa, desah napas, bisikan manis di tengah malam, segala percakapan tentang mimpi. Mungkin terdengar sinting, tapi Tetsuya menyempatkan diri untuk tersenyum

Tidak ada penyesalan. Sama sekali.

Bahkan, andai masih bisa, dia akan berkata lantang pada dunia bahwa jatuh cinta pada Seijuurou adalah keputusan terbaik yang pernah ia ambil. Dala senang maupun susah. Sehat maupun sakit. Seijuurou selalu ada. Dan sejak bersamanya, Tetsuya mengerti.

Cinta adalah tentang menerima segalanya, seutuhnya. Seburuk apapun itu.

Cinta adalah kontradiksi. Keegoisan yang tulus. Kebodohan yang membijaksanakan. Kelemahan yang menguatkan.

Ia dapat meredam segala bising dan menenangkan kita. Namun sekaligus mampu menjadi melodi dalam sunyi, tak pernah membiarkan kita merasa sendiri menapaki jalan kehidupan.

Di detik-detik ketika ia akan menghembuskan napas terakhirnya, ia dapat merasakan tangan dan kaki mungil yang adalah milik Seiya. Bayi kecil berlumur darah, yang semula tangan-tangannya tajam mencuri hidup sang ibu bertransformasi perlahan namun pasti. Kini ia mulai kembali pada wujud manusianya.

Tetsuya sungguh menyesal tak bisa bersamanya lebih lamalagi di dunia ini. Rasanya Tetsuya lebih ingin menangis saat ini, bukan ketika dia harus hancur demi melahirkan Seiya.

Bukan soal anak sang naga. Bukan pula tentang pewaris kutukan.

Ini tentang Seiya. Anaknya dan Seijuurou.

Tangan Tetsuya terangkat, sukses memberi belaian pertama dan terakhir pada punggung mungil Seiya yang bahkan tidak bisa ia lihat sosoknya dengan jelas. Tepukan keibuan itu memicu tangis pertama Seiya.

Mungkin pewaris nama Akashi itu—dalam wujud bayinya yang tak mengerti apa-apa—pun paham bahwa sentuhan barusan tak akan pernah ia dapatkan lagi setelah ini.

Mendengar tangisan bayinya, Tetsuya tersenym.

Dan kemudian, segalanya gelap.

.

.

Seijuurou tahu satu hal.

Sejak memutuskan untuk bersama dengan Tetsuya, pemuda berambut biru muda itu telah menjadi poros dunianya. Menjadi ganti langit cerah bagi dunianya yang suram. Sapuan warna bagi dia yang hanya kenal hitam dan putih.

Hidup dengan Tetsuya sulit. Tidak mudah ketika Seijuurou tahu, ada masa depan lebih baik bagi pemuda itu jika mereka tak bersama. Tidak jarang, kebahagian pribadinya terasa amat salah karena dianyam di atas dasar kegigihan Tetsuya menjalani segala yang sulit bersamanya, mengiringinya dalam setiap langkah.

Tetapi kini dia tahu di balik pintu Tetsuya telah tiada, Seijuurou tahu ada hal yang lebih sulit lagi.

Hidup tanpa Tetsuya.

Tangis bayi memecah hening yang sempat menjeda barang dua puluh detik saja. Di sudut-sudut lorong, Reo dan Chihiro hanya bisa memerhatikan tanpa berani menegur. Seijuurou selalu tahu apa yang harus ia lakukan tanpa sesiapapun memberi tahu. Namun sebuah tantangan tersendiri untuk para shiki berdiam diri ketika tangis nyaring bayi terdengar dengan teramat jelas.

Seijuurou memejamkan mata. Tangisan seolah menjelma simfoni bagi telinganya.

Tangis pertama. Bukti kehidupan. Seiya yang selama ini hanya dikenalnya dalam mimpi kini hadir. Utuh sepenuhnya dalam daging, tarikan napas, detak jantung.

Hidup tanpa Tetsuya jelas sulit. Tidak ada apapun yang mudah jika sudah menyangkut perpisahan bukan? Tap Seijuurou pun tahu, poros kehidupannya kini berganti. Kisahnya dan Tetsuya tak semata-mata berhenti sampai di sini melainkan menjadi satu lagu padu dalam diri Seiya, bayi mereka.

Berdiri, Seijuurou kalem membuka pintu. Reo menjulurkan kepala untuk mengintip apa yang ada dalam ruangan. Gagal. Seijuurou menutup akses terlalu cepat. Untuk saat ini, dia ingin memagari dunianya dari segala yang lain.

Ya. Dunianya. Tetsuya dan Seiya.

Mengerikan rasanya melihat darah tertumpah. Tapi Seijuurou tetap merasa Tetsuyanya selalu indah. Dalam kondisi terkacaunya sekalipun, Tetsuya tidak pernah gagal memesonanya.

Seijuurou menunduk, menyempatkan diri untuk memberi kecupan terakhi di dahi Tetsuya. walau Tetsuya tidak tahu. Walau Tetsuya tidak bisa meresponnya lagi. Tidak apa. Semua akan baik-baik saja.

Tidak memedulikan Seiya masih begitu merah, dengan kulit lengket dikarenakan darah Tetsuya yang menempel padanya mengering, Seijuurou mengangkat tubuh bayinya. Kimono yang ternoda diabaikan. Seijuurou hanya ingin memberi kehangatan untuk Seiya. Pelukan mengetat, punggung Seiya ditepuk-tepuk. Dengan ujung lengan kimono, Seijuurou mengusap darah Tetsuya yang sekiranya masih bisa ia seka dari tubuh Seiya.

"Tetsuya sedang iri sekarang. Karena aku akan memilikimu untuk diriku sendiri…"

Campur aduk. Kehilangan Tetsuya seolah menyisakan lubang besar di hati Seijuurou, sebuah tempat yang siapapun tak bisa lagi mengisinya. Namun menjadi seorang ayah ternyata sebegini membahagiakan. Seiya seolah menjadi secercah cahaya baru di dunianya yang gelap. Cahaya kecil yang memberi harapan. Pelita yang menggantikan Tetsuya.

Lirih, "selamat datang, Seiya."

.

.

Reo memandangi bayi mungil yang kini tertidur di keranjangnya. Jelas-jelas terpesona. Kulit seputih salju mengingatkan siapapun yang melihat pada Tetsuya. Namun rambut dan kedua mata merah cemerlang sungguh identik dengan milik Seijuurou.

"Dia sangat tampan bukan?" Reo meletakan tangan di pipi. Mendesah panjang.

Chihiro menatap datar. Namun bukan berarti tanpa minat.

"Tanda di dada bagian kiri…" Komentar random Chihiro mengundang pelototan dari Reo. "Pasti akan sakit. Saat dia mewarisi kutukan berikutnya."

"Maksudmu apa berkomentar seperti itu, Chi-chan?!"

Jawaban enteng. "Memang salah?"

Cara Chihiro menjawab memang terkadang seperti melempar bensin pada api. Betuntung sebelum Reo meledak, Seijuurou menampakan diri dan melerai.

"Sudahlah. Tenang sedikit. Jangan sampai Seiya terbangun."

Seijuurou mengangkat tubuh mungil putranya. Menimang lembut. Mengecup ringan wajah manis itu.

Seiya—mungkin dituntun naluri—menggosokan kepalanya pada dada sang ayah. Jari-jemari kecilnya merespon otomatis ketika Seijuurou menyentuh telapak tangan mungil itu dengan telunjuk. Jari Seijuurou ditangkap. Padahal Seiya tidak terbangun sama sekali.

Hei, Seiya? Apa kau memimpikan ibumu?

Seijuurou hanya bisa bertanya-tanya. Tidak pernah tahu bahwa di dalam mimpi Seiya, Tetsuya menitipkan sebuah pesan pada putranya. Pesan yang mungkin tidak akan diingat Seiya ketika dia terbangun dalam wujud bayi di dalam realita Seijuurou.

"Katakan pada papa-mu. Aku sangat mencintainya."

.