Author's note: Halo, semuanya! Masih menunggu update fanfic ini? Hahaha, terima kasih mau menunggu kalau begitu? Tapi ada yang ingin Penulis sampaikan lebih dulu. Ini soal keadaan laptop Penulis. Keyboard Penulis rusak dua hari setelah update chapter sebelumnya! Penulis jelas panik, dong! Terpaksa meminjam laptop Adik Penulis demi fanfic ini. Tapi karena dia juga sama-sama sibuk, jadinya harus bergantian. Karena itulah fanfic ini agak terhambat updatenya. Maafkan Penulis. Entah kapan Penulis ada waktu dan uang untuk mengganti keyboard, tapi mari menunggu.
Latte, Kaburi kun, Cherrylate, Honneypoems, AbielFiscoJ, racheliairawan, LangLancearna, hikaruuuu011002, Hrkarlert, loeybby, dan guest tanpa nama…… tak bosan-bosannya Penulis mengucapkan terima kasih. Dari komentar anda semua dapat disimpulkan bahwa AKTING YMIR DAN HITCH LUAR BIASA, 'KAN!? GYAHAHAHAHAHA! Usil mereka memang kelas kakap! Kita sama-sama kasihan pada nasib Armin yang dibohongi. Tapi asal kalian tahu, rencana Ymir semakin menggila di chapter ini. Ingin tahu? Mari kita langsung terjun!
.
.
Disclaimer : Isayama Hajime
BENANG TAK TERLIHAT
Halaman Empat Belas: Pertemuan Yang Sangat Tidak Mengharukan
By Josephine Rose99
.
.
.
.
.
BENANG TAK TERLIHAT
HALAMAN EMPAT BELAS
PERTEMUAN YANG SANGAT TIDAK MENGHARUKAN
By Josephine Rose99
.
.
.
Setelah mengucap permisi pada Levi, ketiga gadis sangar ini masuk ke dalam rumah sakit militer dengan berbagai spekulasi dalam kepala mereka. Annie terlihat cukup sumringah mendengar sang atasan ada disini, namun lain cerita bagi Hitch. Meski Ymir sudah mencium bau-bau yang tidak beres, dia ingin Hitch lebih dulu mau mengatakan padanya. Tetapi hanya raut wajah ketakutan yang dilihat oleh wanita youtuber ini. Mengingat dia mampu membaca situasi, mungkin dia bisa mengalihkan topik demi mengubah suasana hati si sobat.
"Hei, babe. Mikasa barusan memberitahuku kalau mereka sudah membawa Kakek Armin kemari. Dan keluarga Annie juga sedang dalam perjalanan," Ymir berbisik sambil melirik Annie, berharap semoga wanita itu tak mendengar.
Tapi tanggapan Hitch adalah sebagai berikut, "Lupakan soal itu, sayang. Karena kita mendapatkan masalah besar disini…"
Alis Ymir bertaut tak mengerti. Masalah besar, eh? Mereka hanya bertemu dengan si prajurit cebol dan Hitch sudah ketakutan begini? Rasanya Ymir ingin tertawa, "Maksudmu soal tentara pendek itu? Keh! Menginjak orang secebol dia sih perkara mudah!" benar-benar kurang ajar, para pembaca. Mungkin karena itulah Hitch langsung meliriknya dengan jengkel.
"Justru kitalah yang akan diinjak-injaknya, bodoh! Kau bisa mengatakan itu karena kau tak tahu seperti apa Mayjen Levi!"
"Err… kalau dari pangkatnya, sepertinya dia orang hebat. Tapi kurasa Annie jauh lebih hebat darinya,"
"Salah. Di antara seluruh tentara, baik angkatan darat, laut, maupun udara, Mayjen Levi adalah tentara terkuat di Eldia. Kalau bukan karena kurangnya kemampuannya dalam mengatur strategi atau memimpin pasukan seperti Letjen Erwin, mungkin dia sudah mendapat pangkat Jenderal Besar."
Oke, saatnya terpukau.
Si kerdil itu ternyata sehebat itu? Sungguh!? Ternyata istilah itu memang benar. Don't judge a book by its cover.
"Se-sehebat itukah dia?" Ymir mengerjap-kerjap shock. Sepertinya rencananya untuk menginjak-injak Levi harus dibatalkan demi keamanan lahir batin, "Oke, lalu apa hubungan antara prestasinya dengan rencana kita?"
"Mayjen Levi adalah orang yang meminta Connie menjadi kepala pengawas disini. Menurutmu apa yang akan dia lakukan jika dia mengetahui Connie memalsukan dokumen pemeriksaan di depan matanya?"
Ymir bisa merasakan ketegangan menjalar di seluruh tubuh. Mengirimkan do'a-do'a pada Connie pun tampaknya tidak begitu berguna karena gadis ini sudah tahu apa yang akan terjadi pada bala bantuannya tersebut.
"…Gawat…" begitu gumamnya sudah berkeringat dingin.
Ck, kenapa itu harus terjadi di malam ini?
Hitch mulai menggigiti kukunya, benar-benar tak ahli menghentikan panik diri sendiri. Maklum, si Letnan Dua ini sudah membayangkan hal-hal buruk yang akan menimpanya jika berurusan dengan Levi, "Memang benar dia akan tahu cepat atau lambat, tapi bukan terang-terangan begini!" katanya lagi terus melirik Annie yang melangkah maju mendahului mereka. Well, dia tahu akan risiko yang dia hadapi jika rencana ini berlanjut, tapi jangan secepat ini berakhir!
"Tenang, tenang. Semuanya akan baik-baik saja. Yang terpenting, kita harus menemui Connie dan dokter Mina dulu. Kau harus tetap memeriksakan sakit palsumu, kawan."
"Apa kau dapat ide?" tanya Hitch bingung melihat sang kawan bertingkah biasa saja. Apa dia tak takut sama sekali?
Huh. Kau tidak tahu seperti apa Ymir jika sudah mendedikasikan hatinya, Hitch.
Jawaban pun diberikan oleh Ymir diiringi senyum setan dan ide terselubung, "Ide yang luar biasa…"
Hitch meneguk ludah. Merasakan firasat buruk.
Apalagi rencana gila Ymir sekarang?
.
.
Sesuai perkataan Levi tadi, Letjen Erwin dan Mayjen Hange memang sedang menemani pemeriksaan pasukan batalion. Kedua Jenderal tersebut bercengkerama tentang langkah mereka di medan perang besoknya sampai tak menyadari kehadiran ketiga gadis ini. Hingga kemudian beberapa prajurit batalion melihat kehadiran Annie dan memberi hormat padanya.
"Selamat malam, Kolonel Leonhart!"
Annie menghentikan langkahnya, memberi hormat dengan pose gagah. Terpaksa Ymir juga Hitch yang berjalan di belakangnya memilih berhenti. Memberikan waktu bagi atasan dan bawasan saling menghormat satu sama lain.
Setelah Annie dan prajurit batalion menurunkan tangan mereka, baru lah Erwin dan Hange menoleh pada mereka bertiga. Seketika Annie dan Hitch mengangkat hormat pada dua Jenderal tersebut yang juga dibalas hormat. Bahkan Ymir pun juga memberi hormat. Ikut-ikutan supaya tidak canggung.
"Selamat malam, Letjen Erwin, Mayjen Hange," ucap Annie dan Hitch bersamaan.
Seorang wanita berambut coklat panjang yang diikat ekor kuda bernama Hange membalas sapaan mereka dengan sumringah, "Selamat malam juga, Annie! Lama tidak bertemu!"
Sementara sang atasan tertinggi alias Letjen Erwin bertanya langsung ke inti. Heran mengapa sang bawahan terpercaya yang sedang cuti bisa berada di RS militer, "Annie, apa yang kau lakukan disini?"
"Sahabat saya sedang sakit. Jadi saya menemaninya kemari,"
"Siapa?"
"Ah, sa-saya, Jenderal…" sahut Hitch gugup, "Letnan Dua Hitch Dreyse," katanya lagi memperkenalkan diri. Ya, itu karena si bodoh ini tak seterkenal Annie. Namanya juga masih prajurit pangkat rendah, ck ck ck.
"Kamu sedang sakit apa?" tanya Hange penasaran sekaligus bingung. Dia yakin matanya melihat Hitch sehat dari atas ke bawah, tapi kenapa mengaku sakit?
"Nye-nyeri di kepala saya kambuh lagi, Jenderal. Mungkin karena pukulan yang saya terima di perang di perbatasan Kuwait dulu," sungguh kebohongan yang luar biasa, Hitch.
Erwin mengangguk-angguk kecil. Percaya pada kibulan jitu si Letnan Dua. Jadi dia hanya memberi tanggapan sederhana, "Begitu? Maka, kamu harus beristirahat lebih banyak, Letnan Dua Hitch. Semoga nyeri kepalamu cepat sembuh."
"Terima kasih, Jenderal."
Tiba-tiba, pintu ruangan dokter Mina terbuka. Memperlihatkan sang dokter yang melongok dari balik pintu serta Connie yang berdiri tak jauh darinya. Benar, dia memang baru selesai melakukan pemeriksaan awal pasukan batalion sehingga dia berniat mempersilahkan pasien baru alias Hitch untuk masuk. Ya, mengingat gadis ini sudah menghubunginya sebelum datang kemari.
Tak mau membuang waktu, dokter Mina memanggilnya, "Hei, Hitch! Ayo masuk! Biar kuperiksa,"
Hitch menggigit pelan bibir bawahnya, kemudian memberi senyum hambar pada sang dokter, "O-oke…" katanya yang langsung masuk ke ruangan diikuti Ymir.
Annie memilih tidak ikut. Dia masih ingin mengobrol dengan atasan-atasannya serta para bawahan. Memang bagus, sih. Karena di dalam ruangan tersebut, pasukan cinta kita sedang berdiskusi tentang rencana mereka, para pembaca.
Tentang rencana mereka yang mungkin gagal.
.
.
"Jadi? Kau ini benar-benar sakit atau apa?" tanya Mina to the point. Wajar dia berkata begitu. Tidak ada gejala sakit apapun yang dia lihat dalam diri Hitch. Paling cuma gejala sakit kejiwaan yang takkan terobati.
Hitch menghela napas berat, "Tentu saja itu hanya kebohonganku, nona dokter. Tapi lupakan saja soal itu. Kita punya masalah genting dan kau tahu pasti apa maksudku, 'kan?"
Klik.
Dokter Mina bisa mendengar suara itu dalam kepalanya. Kemudian dia tertawa hambar. Hambar nan garing karena sudah tahu maksud Hitch tadi.
"Oh, maksudmu tentang Letjen Erwin dan Mayjen Levi disini? Oke, aku setuju. Kita sedang dalam bahaya."
"Kita? Apa maksudmu 'kita'?" sahut Connie tak terima dengan pemilihan kosa kata Mina, "Yang dalam bahaya disini itu AKU! Gyaaaaaa!! Mati sudah!" jiah, si botak ini malah jerit-jerit tak jelas. Mulai parno sendiri membayangkan hal yang tidak-tidak.
Tentu Ymir ikut parno kalau jeritan Connie terdengar sampai luar. Segera dia membentak Connie tak sopan, "Hei, botak! Tenangkan dirimu dulu!"
"Bagaimana aku bisa tenang, busu!? Kau tidak tahu sekejam apa Mayjen Levi! Setelah dia mengetahui pemalsuan dokumen itu, nyawaku takkan selamat!"
"Tenang, aku punya ide," balas Ymir kalem.
Hitch tak bisa menahan diri untuk melempar pandangan membunuh, "Jujur, mendengar idemu itu membuatku berfirasat buruk."
"Tutup mulutmu dan dengarkan," Ymir menghiraukan pandangan itu dan meraih ponselnya. Senyum iblisnya keluar lagi ketika mulai membayangkan skenario gila miliknya akan beraksi, "Tapi tentu saja kita tak bisa melakukan ini sendiri. Kita butuh bantuan Mikasa," katanya lagi membuat semua orang memandangnya bingung. Namun dia tak peduli. Tetap saja Ymir mengirim sebuah pesan pada Mikasa yang saat ini sedang membawa Kakek Armin ke rumah sakit bersama Eren.
Connie mewakilkan perasaan mereka dengan sebuah pertanyaan, "Hah? Apa hubungannya dengan wanita yang terus mengikuti Eren seperti stalker itu?"
"Khu khu khu… ini saatnya kita memotong leher seseorang…" uh-oh, tawa iblis itu muncul! Apa ini? Apa yang direncanakan Ymir?
Hitch sudah berpikiran yang aneh-aneh. Siapa pula yang ingin Ymir potong? Bukan dirinya, 'kan? "Me-memotong?"
"Hei, dokter. Pinjamkan aku pisau bedahmu," permintaan apa lagi ini? Apakah Ymir ingin praktik menjadi dokter bedah di malam selarut ini?
"U-untuk apa?"
.
.
.
"Mereka lama sekali. Sedang apa mereka di dalam?" Erwin mulai gelisah. Cukup lama pemeriksaan nyeri palsu kepala Hitch sehingga dia terpaksa menunda sebentar pemeriksaan lanjutan pasukannya. Erwin pun menoleh pada Hange, memberikan tatapan seolah berkata pada wanita itu untuk ambil alih.
Hange pun mengerti. Wanita ini pun mengetuk pintu ruangan dokter Mina, "Oi, apa yang kalian lakukan di dalam sana? Pasukan batalion masih ada pemeriksaan lanjutan."
Tak ada sahutan. Benar-benar hening.
Hange dan Annie saling pandang. Bertanya-tanya apa yang terjadi di dalam sana.
Sementara mereka sedang menyusun analisis di dalam kepala mereka, Erwin menautkan alisnya ketika melihat kedatangan tamu yang tak biasa malam ini. Pasangan suami-istri yang sangat dia kenal.
"Hei, bukankah mereka keluargamu, Annie?" ujar Erwin yang membuat Annie langsung menoleh ke belakang, mendapati kedua orang tuanya datang menghampiri.
"Ayah? Ibu?" gumamnya heran. Mau apa orang tuanya di rumah sakit ini?
Haha. Dia tak tahu saja ya, saudara-saudara.
"Sedang apa kali—"
"Letjen Erwin!" Tuan Leonhart memotong pertanyaan Annie. Dia justru mengulurkan tangan, memberi sapaan pada atasan sang putri, "Selamat malam, Jenderal. Bagaimana kabar anda?"
Erwin juga membalas jabatan tangan tersebut. Kemudian memberikan senyuman kecil supaya tampak ramah, "Baik sekali. Bagaimana dengan anda?"
"Luar biasa,"
"Lalu apa alasan anda datang kemari?"
"Kami datang karena—"
"Tuan Leonhart! Nyonya Leonhart!" hei, siapa lagi yang memotong pembicaraan itu?
Oh, ternyata Kakek Armin. Dia akhirnya datang bersama Eren dan Mikasa. Benar-benar sesuai rencana demi membuat Armin tak curiga. Si Kakek pun berjalan cepat mendekati orang tua Annie dengan senyum sumringah.
"Eh? Tuan Arlert?"
"Siapa lagi mere…" Hange mengerjapkan matanya begitu melihat kehadiran seseorang yang sangat di kenal di antara tamu-tamu tersebut, "Mikasa..?"
"Hange-san?" Mikasa juga membalas dengan kernyitan, "Apa yang kau lakukan disini?" tanyanya bingung. Seorang Mayjen di rumah sakit, di jam yang nyaris mendekati 12 malam, bersama tentara dalam jumlah besar.
"Seharusnya aku yang bertanya begitu. Apa yang kau lakukan disini?"
"Ada urusan," luar biasa cuek sekali. Mikasa berjalan melewati Annie dan Hange, masuk ke dalam ruangan dokter Mina yang tak dikunci tersebut.
"Oi oi oi! Matte!"
BLAM!
Belum sempat Hange melarang Mikasa masuk, gadis itu sudah lebih dulu menutup pintunya. Hange menghela napas pasrah. Well, ini bukan pertama kalinya dia mendapat sambutan tak hangat, "Benar-benar sepupu Levi…" gumamnya sembari menggelengkan kepala.
"Sepupu?" seorang prajurit batalion terkejut, tak menyangka akan identitas dari gadis kampret yang seenaknya masuk tadi, "Wanita tadi sepupu Mayjen Levi, Hange-san?" tanyanya lagi memastikan telinganya tak salah dengar.
"Hn… dia adalah anak dari adik Ibunya. Dia seorang polisi di Shiganshina," jawab Hange kalem yang dibalas 'oooh' panjang dari para tentara.
Tunggu dulu. Lupakan saja soal itu.
Sebenarnya apa yang mau mereka lakukan? Ymir mau apa? Kenapa membutuhkan bantuan Mikasa? Apa yang mau mereka lakukan di hadapan prajurit terbaik angkatan darat?
Firasat buruk, nih.
.
.
Lima menit kemudian…
Misi dimulai.
.
.
"KORRAAAAAAA!!!"
Apa itu? Kenapa Ymir berteriak ganas begitu?
Sepemikiran dengan Penulis, seluruh orang disana termasuk para Jenderal, pasukan Batalion, Kakek Armin, Suami-istri Leonhart dan Eren, menoleh ke sumber suara. Terkejut lah mereka menemukan Mikasa sedang mengarahkan pisau bedah ke leher dokter Mina! Disisinya berdiri Ymir yang memasang ekspresi seram layaknya pembunuh bayaran! Sementara Connie dan Hitch berdiri di belakang mereka dengan tampang sweatdrop.
Mikasa sedikit mendongakkan kepalanya. Menunjukkan ekspresi dingin, sedingin es di kutub utara sembari menatap seluruh tentara disana seolah mereka lebih rendah, "Buka jalannya, dasar orang-orang kampung."
"ATAU KAMI AKAN MEMBUNUH DOKTER MINA!!" ini sih Ymir malah mengeluarkan jurus ancaman bak tokoh antagonis.
Spontan seluruh prajurit kelabakan. Bahkan Letjen Erwin dan Mayjen Hange juga melotot horor.
Ada apa ini? Padahal tadi baik-baik saja!
"DOKTER MINA!"
"KURANG AJAR! BERANINYA KALIAN MELAKUKAN INI!!"
"KALIAN NEKAT SEKALI MELAKUKAN HAL SEKEJAM ITU PADA DOKTER MINA DI DEPAN PARA JENDERAL! EKSEKUSI SIAP MENANTI KALIAN!"
Tak mempan, saudara-saudara. Ymir balik melototi mereka tanpa rasa takut! Benar-benar cari mati! "URUSAI, KORAAA!! TUTUP RAPAT-RAPAT MULUT SAMPAH KALIAN ITU!"
"Jika kalian buka mulut lagi dan tak mau membuka jalan untuk kami, aku akan memotong leher dokter Mina…" sambung Mikasa kalem.
Lalu? Reaksi Connie dan Hitch?
Sweatdrop babak dua.
"Ne, Connie…"
"Y-ya?"
"Kau tahu? Ku-kurasa, setelah semua ini berakhir, meski kita selamat, kita mungkin sudah tak bisa lagi kembali ke angkatan darat…" ujar Hitch pasrah. Rela menerima nasib apapun yang datang menghampiri.
Bagaimana dia tidak berpikir begitu? Ymir sialan itu malah mengambil langkah bunuh diri! Bisa-bisanya dia berpikir untuk pura-pura menyandera dokter Mina di hadapan pasukan terbaik angkatan darat Eldia! Mereka beruntung para tentara itu tidak membawa senjata sekarang. Kalau tidak, mereka pasti sudah dikirim ke kamar mayat!
Sayang sekali, Hitch. Sesungguhnya kau akan menerima nasib yang lebih buruk daripada itu berkat satu akting mahakarya dari si dokter itu sendiri.
"To-tolong aku…" dokter Mina yang awalnya menunduk segera mengangkat wajahnya. Menunjukkan derai air mata lebay palsu bak buaya darat, "KENAPA SEMUA INI HARUS TERJADI PADAKUUU!?" teriaknya malah mendramatisir keadaan.
Berterima kasih lah kepada akting dahsyat itu, sekarang Hitch dan Connie tambah jengkel plus panik.
"Disaat seperti ini, dokter sialan itu malah seperti aktris yang sedang syuting film!?" batin Hitch luar biasa jengkel. Rasanya ingin sekali menimpuk kepala dokter itu dengan kerikil. Kondisi mereka sudah bahaya, dan dia malah semakin membahayakan!
Connie lain lagi. Pria ini sudah banjir keringat dingin dari tadi, "Bagaimana kita menjelaskannya nanti pada para Jenderal!?"
Suara jerit tangis Mina menggema ke sekitar mereka. Membuat suasana semakin tegang! Letjen Erwin memberi isyarat bagi seluruh pasukan untuk tidak berbuat sesuatu yang ceroboh. Mayjen Hange juga hanya bisa berdiri diam disana, memperhatikan segala gerak-gerik Ymir dan Mikasa jika mereka melangkah terlalu jauh. Disisi lain, Annie dan Eren bengong persis ikan koi kekurangan cinta. Mari kita anggap itu wajar karena siapa sangka teman sekaligus sang kekasih menjadi penjahat kelas kakap begitu keluar dari ruangan! Kalian ingin bertanya bagaimana reaksi keluarga dua sejoli? Oh, mereka cuma mengernyitkan dahi. Bingung karena aksi ini tidak ada dalam rencana sebelumnya.
"Jenderal Erwin! Apa yang harus kita lakukan?" tanya salah satu prajurit Batalion.
Erwin hanya menjawab tenang. Ini bukan pertama kalinya dia menghadapi situasi sulit seperti ini, "…Katakan apa tuntutan kalian,"
"Oi, Erwin!" teriak Hange terkejut, tak percaya Erwin menanggapi santai. Bukankah seharusnya dia memberi perintah untuk langsung menyerang para pembelot?
"Jangan, Hange. Turuti mereka. Kita dengarkan saja. Selain itu kita tak bisa mengambil risiko. Seluruh pasukan batalion dan kita tak membawa senjata sekarang," alasanmu logis sekali, tuan Letjen Erwin.
"EEEH!? APA INI!? SEJAK KAPAN PACARKU JADI MAFIA!?" mari hiraukan Eren dan kehisterisannya.
Sementara Eren asyik menjerit dalam hati, Annie asyik mendecih ria. Mengutuk tindakan teman-temannya yang malah berubah jadi pengecut. Tentu dia tak tahu alasan dibalik kasus penyanderaan ini, namun sebagai Kolonel termuda, dia tak bisa membiarkan ini terus berlanjut, "Hei, apa yang kalian lakukan!? Ini tidak lucu! Lepaskan dokter Mina!" bentaknya penuh amarah.
Annie terpancing!
Luar biasa sekali akting kalian, gadis-gadis! Setelah ini, ayo kita berangkat ke acara penghargaan Ocsar!
Ymir memberi lirikan penuh arti pada Mikasa. Mikasa pun cepat tanggap. Saatnya masuk ke tahap kedua.
"Kami membutuhkan satu ruangan ICU di rumah sakit ini," akhirnya Mikasa mengeluarkan tuntutan ter- absurd dalam sejarah tuntutan kasus sandera.
Hening menyapa.
Biarkan jangkrik dan para kodok paduan suara sebentar.
….
….
"Hanya itu?" Erwin sangat tidak mengerti.
Serius, tuntutannya hanya itu!? Dia sempat berpikir mereka minta uang, aset atau nyawa mereka, tapi Mikasa malah meminta satu ruangan ICU. Pertanyaan 'untuk apa?' bergaung di kepalanya.
Sabar dulu, Erwin. Mikasa masih belum selesai.
"Tentu saja tidak. Kami juga membutuhkan…" Mikasa kemudian melirik Annie, "…Kolonel Annie sebagai jaminan."
Annie spontan mendelik.
Hei, tunggu dulu! Jadi sandera disini bukan hanya dokter Mina? Dirinya juga!?
Apa yang sebenarnya dipikirkan Mikasa!?
"APA!?"
"KOLONEL LEONHART!? KALIAN BENAR-BENAR TAK TAHU DIRI!!"
"Kolonel Annie, ikuti kami jika kau tak ingin melihat dokter kesayanganmu ini mati," ancaman Mikasa masuk ke babak selanjutnya. Seperti tidak ingin membuang-buang waktu.
Tentu dia tak ingin membuang waktu, para pembaca! Reiner dan Armin sebentar lagi akan sampai! Mereka harus cepat membuat TKP sesuai kebohongan mereka supaya skenario berjalan lancar!
"Mi-Mikasa…"
"CEPAT KEMARI, KOLONEL SIALAN!" jiah, Ymir kampret ini malah membentakinya bak Ibu-Ibu kos pada anak-anaknya jika telat bayar uang sewa bulanan.
Empat persimpangan merah timbul di dahi sang Kolonel, "Perempuan jerawat bajingan ini…"
Situasi tidak kondusif. Sebagai pimpinan, sebagai orang yang memiliki pengalaman paling banyak di antara lainnya, Erwin pun memberikan perintah, "Annie, turuti keinginannya."
Tanpa Erwin memberi perintah pun, Annie tahu dia tak bisa menolak keinginan para penjahat dadakan itu. Selain itu, menghadapi Ymir, Connie dan Hitch adalah hal mudah. Namun Mikasa sudah lain cerita. Belum tentu dia menang darinya jika satu lawan satu. Apalagi jika dibantu oleh kawanannya. Tapi Annie harus tetap mengambil risiko apapun taruhannya.
Selamatkan dokter Mina.
"…Baik."
Bagus!
Senyum Ymir dan Mikasa semakin melebar tatkala melihat akting luar biasa mereka berhasil menjerat Kolonel!
"AYO, CEPAT!" Ymir segera menarik kasar lengan Annie. Memeluk lehernya sembari menodong pisau bedah pada lehernya. Persis seperti Mikasa. Sungguh barbar.
Walhasil, jadilah seluruh pasukan batalion memberi jalan menuju ICU pada mereka. Sambil terus melangkah, Ymir dan Mikasa memberikan pelototan terbaik mereka. Seolah bicara untuk tak macam-macam.
Tidak ada yang berani bergerak. Mereka membiarkan penjahat dadakan itu melewati mereka begitu saja. Yup, meski mereka melewatkan tampang pucat Connie dan Hitch yang rasanya ingin segera kabur.
"BUNUH SAJA AKU, KAMI-SAMA!!" beginilah teriakan batin mereka frustasi.
.
.
Sementara itu, di tempat parkir rumah sakit militer angkatan darat Eldia…
.
.
Benar sekali perhitungan para pasukan perjodohan insting kita. Reiner dan Armin ternyata sudah sampai di rumah sakit! Reiner baru saja siap memarkirkan mobilnya. Ketika dia akan mengambil kunci mobil, terdengar pintu mobil dibuka kasar oleh Armin sampai Reiner menoleh cepat padanya. Terkejut karena Armin meninggalkan semua barang-barangnya dan malah berlari cepat menuju rumah sakit!
"Cepat, Reiner!" Armin berteriak supaya Reiner cepat menyusul. Pikirannya saat ini sangat kalut. Tak ada satupun selain Annie. Biarkan saja Reiner berlari lambat di belakangnya.
Terpaksa Reiner buru-buru menyusul Armin setelah menutup pintu mobilnya, "Hei, sabar, Armin!" teriaknya terus berlari sampai nyaris tersandung. Untung saja dia tidak jatuh dengan tidak elit.
Levi yang masih berdiri di bagian depan rumah sakit tentu melihat aksi marathon kedua pria tersebut. Apalagi ketika mereka berdua menghiraukannya begitu saja. Tapi mengingat dirinya mengingat bahwa dilarang berlarian di rumah sakit, Levi langsung menegur mereka.
"Oi, oi! Tunggu!" pertama kalinya teriakan seorang Mayjen sepertinya digubris. Levi hanya melongo Armin dan Reiner masuk mendahuluinya.
Apa boleh buat. Demi menggeplak kepala dua pengunjung tak sopan itu, Levi pun menyusul mereka masuk. Sungguh malam yang melelahkan. Yang benar saja mereka bermain kucing-kucingan nyaris jam 11 malam begini!
Namun siapa peduli soal jam, saudara-saudara? Armin sendiri bahkan tidak mengetahui waktu tibanya dia di rumah sakit. Tak peduli tatapan aneh para perawat, dokter, pasien atau siapapun itu, tujuan Armin hanya satu. Menemukan ruangan ICU dimana sang calon istri dirawat. Eh, mungkin lebih tepatnya 'ditawan', ya?
Kedua mata sang ilmuwan jenius ini membulat melihat Kakeknya serta keluarga Annie berkumpul di depannya. Ah, ada Eren juga disana! Tapi kenapa begitu banyak tentara? Apa karena ini rumah sakit militer? Lalu keributan apa ini? Mereka membicarakan soal terorisme. Cih, masa bodoh bagi Armin! Masa bodoh ditatapi dengan pandangan aneh dari para tentara itu!
Kemudian salah satu prajurit batalion menyadari kehadiran Armin. Dia menunjuk Armin yang berlari mendekat, "Hei, siapa lagi itu?"
Spontan semua orang menoleh. Terkejut melihat kedatangan Armin yang lebih cepat dari perkiraan. Heh, mereka tidak tahu saja Armin berteriak-teriak bak Ibu-Ibu melahirkan di telinga Reiner supaya menambah laju mobilnya.
"Kakek!" teriak Armin yang akhirnya berdiri di hadapan si Kakek. Mengatur napasnya yang tersengal-sengal.
Sedangkan si Kakek malah bengong, "Armin?"
Tak membuang waktu, Armin segera memegang erat kedua bahu Kakeknya, "Kakek, dimana Annie!? Dimana ruang ICU-nya!?" tanyanya heboh tanpa tahu kalau status orang yang dia tanyai sedang gawat darurat.
"Tu-tunggu dulu! I-itu—"
"Eren!" kelamaan, Kakek. Armin butuh jawaban sekarang, makanya dia mengalihkan pandangannya pada sang sahabat.
Masalahnya sang sahabat juga kehilangan kata-kata. Ya, berterima kasihlah pada aksi Ymir dan kawan-kawan tadi sampai dia bingung apa yang sedang terjadi.
"Umm…"
"Siapa anda? Kenapa mengenal Kolonel kami?" seorang prajurit Batalion segera menodong Armin dengan pertanyaan. Mari kita memakluminya karena dia tak terima sang atasan dipanggil dengan panggilan dekat selain keluarganya. Selain itu, mereka juga tak pernah bertemu Armin sebelumnya. Singkatnya, mereka mencoba bersikap protektif. Apalagi sejak Annie ditawan paksa begitu.
Armin melirik jengkel pada si prajurit dan berteriak, "Aku calon suaminya!"
Lalu reaksi mereka mendengar pernyataan itu? Membeku.
Letjen Erwin, Mayjen Hange dan pasukan batalion membeku. Bahkan Levi yang berhasil menyusul Armin bersama Reiner juga ikut mematung. Seolah membiarkan otak untuk melakukan loading data sebentar. Karena—ayolah! Annie yang sangar itu punya calon suami!? Bukankah dulu dia mengatakan medan perang adalah suaminya?
Apa ini? Ada apa ini?
Tadi insiden penawanan! Sekarang pengumuman menikah!
"Ca-calon suami?" tak percaya. Pasukan batalion tak percaya! Annie mereka direbut oleh… pria kecil pendek yang terkesan kemayu ini!? Apa yang sebenarnya dipikirkan sang Kolonel?
"Hah? Memangnya Kolonel punya pacar? Bukankah dia sedingin itu pada pria?"
"Ya… Bahkan Mayor Bertolt saja dihiraukan…"
Jiah, sempat-sempatnya pula prajurit elit itu beralih fungsi menjadi Ibu-Ibu tetangga yang suka menggosip. Armin tentu saja semakin emosi. Pertanyaan utamanya belum juga dijawab! "Terserah jika kalian tidak percaya! Jadi dimana calon istriku!? Dimana Annie!? Jawab aku!?"
"Kolonel ada di ruang ICU, tapi jangan mendekat, orang asing! Kolonel Annie sedang dalam bahaya!"
Bahaya?
Uh-oh, Armin tambah panik. Dengan bodohnya dia menafsirkan kata 'bahaya' tadi dengan bualan Ymir dan Hitch di telepon. Padahal justru sebaliknya. Duo setan mendadak jadi aktris Hollywood dan 'meminjam' ruang ICU secara paksa.
"Persetan dengan itu!" teriak Armin sambil mendorong tentara-tentara di hadapannya untuk memberi jalan. Ditinggalkannya teman-teman sekaligus keluarganya menuju ruang ICU.
Letjen Erwin yang shock melihat pengunjung baru malah berani menghiraukan mereka, segera mencoba menghentikannya, "Hei, tunggu!" teriaknya. Dan melihat sang ilmuwan tak merespon balik, sang Letjen mendecih kesal. Tampaknya dia harus masuk mode tegas, "KEJAR DIA!" perintahnya pada pasukan batalion.
"SIAP, JENDERAL!!" Armin vs pasukan batalion pun dimulai.
.
.
Bagi seseorang yang memiliki IQ luar biasa sepertinya, Armin bisa menebak dimana ruangan ICU dari jumlah serta posisi tentara di sekitarnya. Beruntung dia sedikit digubris berkat para tentara sibuk mengambil senjata serta membagikannya dengan rekan-rekan yang lain. Sungguh Armin tak mengerti apa yang terjadi di rumah sakit ini. Tapi mari lupakan soal itu karena sekarang Armin telah berhasil menemukan ruang ICU dimana Annie berada! Segera dia memacu larinya lebih cepat.
"ANNIE! ANNIE!!" Armin memanggil namanya. Suara keras miliknya itu seketika menjadi pusat perhatian. Prajurit batalion melirik ke arahnya. Menyipitkan pandangan pada pria yang memanggil nama depan atasan mereka, sekaligus heran kenapa dia bisa begitu mudahnya disini.
Sayangnya salah waktu dan tempat. Bagi mereka, Annie yang sedang dalam tawanan tak bisa diganggu oleh pria asing ini. Spontan beberapa dari mereka mendorong Armin demi menjauh dari tempat itu. Armin yang merasa dihalangi semakin bingung. Dia hanya ingin melihat keadaan Annie yang jantungnya sempat berhenti berdetak itu, tapi justru dihambat oleh tentara-tentara sialan ini!
"MUNDUR! AKU TAK TAHU SIAPA DIRMU, TUAN, TAPI KAU TAK BISA BERADA DISINI!"
"HEI, APA-APAAN KAU!? KAU LAH YANG HARUSNYA MINGGIR!" tidak sopan sekali! Armin bukan gerobak dorong yang bisa didorong kasar seenaknya!
"MEMANGNYA SIAPA ANDA!? KENAPA BISA DISINI!? APA ANDA TAK TAHU KOLONEL ANNIE SEDANG DALAM BAHAYA!?"
"AKU TAHU DIA DALAM BAHAYA, MAKANYA AKU KEMARI, TENTARA BODOH! AKU CALON SUAMINYA! WANITA YANG KUCINTAI ADA DI DALAM RUANGAN ITU DAN KAU MALAH MENGHALANGIKU! KARENA ITU, MINGGIR!"
Orang bodoh mana yang tak mendengar pertikaian diluar dengan suara bentakan itu?
Bahkan Annie yang berada di dalam ruangan ICU dapat mendengar jelas. Dia yang linglung karena Mikasa dan Ymir melepaskannya begitu saja ketika di dalam menjadi teralihkan karena menyadari sang calon suami berada disini.
Annie tak mampu bergerak. Tubuhnya tak mendengar kata hatinya untuk segera keluar lalu memeluknya. Si Kolonel muda hanya bisa bergumam pelan menyebut namanya.
"Armin…"
CLING!
Mata kelima pasukan kita berkilat-kilat, para pembaca! Suara Armin bisa terdengar sampai sini, itu berarti Reiner telah menyelesaikan bagiannya!
Kerja bagus, Reiner! Sekarang mereka masuk ke tahap akhir!
"Itu sinyalnya, kawan-kawan!" Ymir berteriak memberi komando.
"LAKSANAKAN!!"
Huh? Sekarang apalagi? Kenapa tiba-tiba Annie ditarik menuju ranjang!?
Perlakuan kasar ini tak bisa dia terima! Segera Annie melirik marah pada Hitch yang menariknya seenak jidat! "Hei hei! Apa-apaan kalian!? Jelaskan padaku apa yang terjadi disini!"
"Nanti saja penjelasannya, baby! Sekarang berbaring dulu!" balas Hitch malas meladeni Annie. Gadis ini pun membaringkan Annie dibantu dokter Mina yang memegangi tangannya.
"Apa—!!?" belum sempat dia membentaknya lagi, tiba-tiba Hitch melemparnya dengan selimut putih.
"Pakai selimut!" ujar Hitch lagi.
"Hitch, tung—"
"BUKA PINTUNYA!!" benar-benar seperti suasana medan perang, saudara-saudara. Connie gantian memberi perintah pada Mikasa yang sudah didekat pintu. Siap membuka barbar pintu tersebut dengan kakinya.
"ROGER!!"
DUAAKKK!!
Pintu ruang ICU resmi terbuka! Memperlihatkan Mikasa serta tendangan saktinya yang menjadi tontonan batalion. Padahal mereka berniat untuk menyerbu paksa ke dalam, tapi pintunya sudah terbuka lebih dulu. Apa-apaan kasus teroris ini? Tunggu, memangnya ada aksi terorisme seperti ini sebelumnya? Entahlah. Tapi sekarang pasukan batalion kehilangan kata-kata.
"ARMIIINN!!" Mikasa berteriak memanggil nama sahabat sekaligus sang target.
Armin bisa merasakan dorongan padanya berkurang. Pasukan batalion teralihkan, eh? Matanya berbinar-binar melihat Mikasa melambaikan tangan padanya, "Mikasa?" gumamnya pelan. Namun kemudian dia balik berteriak memanggilnya, "MIKASA!"
"Annie ada di dalam! Kemarilah!" ujar Mikasa lagi. Tentu saja dia tak mau membuang waktu Armin yang jauh-jauh dari Ghana demi Annie, 'kan?
Ini kesempatan! Armin pun mendorong balik para tentara tersebut, berlari menuju Mikasa.
"Hei, jangan masuk! Mereka sedang menyandera Kol—"
"BERISIK!" Mikasa langsung menendang beberapa tentara yang menghalangi jalan Armin yang berlari ke arahnya.
DUAK! DUAK! DUAK!
BRUAGHH!!
Bagus!
Sekarang Armin bisa leluasa masuk! Tak ada lagi yang bisa menghalanginya bertemu Annie.
Dan disinilah dia berada. Berdiri dari ambang pintu, tidak bergerak sedikit pun. Jantungnya berdesir tatkala melihat gadis yang sangat ingin dia temui sedang melongo melihat kehadirannya. Disisinya berdiri Ymir, Hitch, Connie dan dokter Mina yang melempar senyum unjuk gigi, seolah mempersilahkan tempat dan waktu bagi mereka berdua.
Oh tidak, jangan sekarang! Tahan tangismu, Armin! Tahan tangis harumu melihat Annie yang baik-baik saja itu.
Meski sudah mengatakan itu berulang kali dalam hatinya, Armin tak mampu menahan rasa rindu yang dia tahan selama ini. Segera dia berlari mendekati Annie, memeluknya dengan erat. Sangat erat seakan tak akan melepaskannya. Tak memedulikan tatapan terkejut dari orang-orang di ruangan itu, Armin meloloskan air matanya hinga membasahi bahu Annie.
"Annie…" hisaknya. Sejujurnya dia malu jika membiarkan Annie melihat dirinya berantakan. Sayangnya Armin menyingkirkan seluruh ego dan harga diri.
Kemudian sang ilmuwan muda tersebut menarik dirinya supaya memperhatikan wajah Annie lekat-lekat. Rasanya dia ingin tertawa melihat raut wajah Annie yang masih bengong itu, tapi sudahlah. Pasti dia terkejut melihatnya pulang secepat ini, itulah yang dia pikirkan. Armin pun memberi ciuman singkat di dahi serta pipinya, membuat Annie memerah hebat. Sangat malu karena teman-temannya ada di sekitar mereka sekarang. Bahkan senyum iblis Ymir dan Hitch juga muncul!
Sial. Bagaimana sekarang? Annie tentu suka dicium oleh pria itu, tapi tak mungkin dia mengakuinya terang-terangan, bukan? Karena itulah, dia diam saja ketika pria itu membenamkan wajahnya di dada bidangnya. Mati-matian menahan rona tersipu di seluruh wajahnya itu.
"…Armin?" dari sekian banyak kata, Annie hanya mampu menyebut nama calon suaminya. Padahal ingin sekali dia bertanya kenapa Armin bisa pulang secepat ini. Tak sampai dua minggu, Armin telah kembali padanya.
"Kau tahu? Aku sangat mengkhawatirkanmu. Syukurlah kau sudah sadar…"
"…Hah?"
Oke, adegan dramanya cukup sampai disini.
Karena apa? Pertanyaan bagus. Apa kalian lupa tentang pasukan batalion di luar sana?
"ANGKAT TANGAN!!" sudah diduga ini akan terjadi cepat atau lambat, saudara-saudara. Pasukan batalion yang sempat cengo melihat adegan drama di dalam ruangan ICU, sekarang masuk mode tempur. Mereka menodongkan senjata api laras panjang pada teroris dadakan kita yang sekarang terkena serangan jantung!
Tanpa komando, Ymir, Hitch, Connie, Mikasa, dan dokter Mina yang notabene seharusnya sandera otomatis mengangkat tangan!
"GYAAAAAA!!" Hitch dan Connie malah paduan suara.
"HUWAAAAA! JANGAN BUNUH SAYA! JANGAN BUNUH SAYA!! SAYA MASIH BELUM BERTEMU JODOH!" ini sih dokter Mina yang malah mengumbar aib kejombloannya.
Sedangkan Ymir bergetar hebat melihat senapan api tersebut tepat di depan wajahnya, "AMPUN, SOBAT! AMPUN! JANGAN TEMBAK KAMI!"
"CEPAT TIARAP!"
Mau tak mau, mereka berlima melakukan titah sang prajurit. Tiarap di lantai dengan kedua tangan di belakang kepala. Sampai dokter Mina juga! Tampaknya dia terlalu terbawa suasana, para pembaca.
Annie dan Armin? Cuma pasang tampang 'what the hell!?'.
Sementara itu, kedua korban dalam rencana Ymir ini sedang merutuki kebodohan mereka.
Bodoh! Bodoh sekali!
Bisa-bisanya Hitch dan Connie setuju dengan rencana Ymir! Lihat sekarang! Mati sudah! Ini benar-benar misi bunuh diri! Bagaimana caranya mereka selamat setelah ini!?
"LIHAT, 'KAN!? SUDAH KUDUGA AKHIRNYA AKAN BEGINI!" batin mereka banjir air mata.
Sialan!
YMIR SIALAAAAAAAANN!!
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
Author's note : Entah kenapa, Penulis merasakan halaman ini jauh lebih meriah, ya? Ada-ada saja ide Ymir. Well, mungkin dia terinspirasi drama polisi kesukaannya. Tapi ya, thanks for that, sekarang Armin dan Annie bertemu. Bertemu dengan cinta mereka. Lain lagi dengan manusia-manusia perusuh tersebut yang malah bertemu dengan todongan senjata. HAHAHAHAHA!! Semoga saja mereka tidak langsung dieksekusi, ya.
THANKS A LOT, MINNA-SAN!
