STRONG FATHER

Disclaimer

Naruto : masashi kishimoto

Highschooldxd : ichie ishibumi

Dan karakter lain dari anime lain

Rate : M

Genre : family, humor, romance, fantasy

Pair :

Naruto U x Big Harem

(Great Red x Kholkikos x Katerea x Serafall x Grayfia x Arturia x Yasaka x Asuna x Mereoleona x Shirahoshi x Albedo x Freya x Hancock x Chisato x Remia x Robin) x (Kalawarner x Izanami x Gabriel x Hestia x -- x -- )

(Menma x Raynare x Akeno) (Gray x Kuroka) (Minato x Koneko)

Warning : fic ini hasil pemikiran sendiri, banyak kesalahan, kata tidak baku, typo, gaje, alur berantakan.

"Hello" : orang bicara

"Hello" : orang membatin

"Hello" : monster bicara

"Hello" : monster membatin

.

Peringatan sebelum membaca, chapter ini mungkin banyak typo dan kata yang kurang dan kesalahan ketik karena saya terlalu malas untuk meneliti lagi.

.

Chapter 37

.

#Kedai Fary Tail (Roma, Italia)

.

#Skip 10 menit kemudian

.

Kriing!

.

Makarov hanya melirik sebentar untuk mengetahui siapa yang masuk ke dalam kedai. Dan langsung kembali dengan acaranya membaca sebuah kertas setelah tau siapa yang masuk. Yaitu pria paruh baya berambut merah bernama Gildarts, dan bersama gadis remaja 17 tahunan berambut hitam panjang bernama Cana, anaknya Gildarts.

Tiba-tiba Cana dengan cepat menghampiri Makarov setelah melirik sebentar ke arah tempat Mavis dan Naruto yang sedang mengobrol.

"Master. Master. Siapa cowok keren yang sedang mengobrol dengan Mavis- sama" bisik Cana.

Gildarts menaikkan sebelah alisnya, ia mendengar bisikkannya Cana. Kemudian ia juga menoleh ke arah pojokkan karena penasaran atas apa yang dilihat oleh Cana tadi.

"Wow, Dunia akan Kiamat. Mavis mengobrol dengan seorang pria," ucap Gildarts, lalu menoleh ke arah Makarov. "Aku tak salah lihat kan Master?"

"Huh," Makarov menghela nafas, lalu menaruh kertas yang ia baca di atas meja. "Jangan terkejut, pria itu satu-satunya orang yang tau segalanya tentang Mavis," ucapnya.

Gildarts dan Cana menaikkan sebelah alisnya. "Maksud Master?" bingung Gildarts dan Cana bersamaan.

"Akan kuceritakan, Tapi cerita Ini menyangkut masa lalu Mavis dan penyihir jahat Zeref sebelum terbentuknya Organisasi Fairy Tail," ucap Makarov.

Gildarts dan Cana terdiam. Makarov menarik nafas pelan lalu di keluarkan secara perlahan.

.

#Flashbach On

.

80 tahun yang lalu

.

"SUDAH CUKUP, ZEREF! HENTIKAN IMPIANMU MENGUASAI SELURUH DUNIA!"

.

Teriak Mavis, ia sekarang sedang berhadapan 10 meter dengan Zeref yang diikat rantai Magic ciptaannya di batang pohon besar.

Nampaknya mereka berdua habis bertarung, itu terbukti dengan pakaian Mavis yang sudah robek sana-sini, sedangkan Zeref hanya ternodai oleh darahnya sendiri yang mengalir dari pelipisnya dan mulutnya.

Zeref tersenyum tipis, menatap Mavis. "Bukannya kita teman, Mavis? Kenapa kau tak mendukungku saja? Kita bisa menguasai dunia bersama-sama dengan kekuatan kegelapanku dan kekuatan cahayamu. Kita bisa menata ulang dunia yang penuh sampah ini," ucapnya.

"Tidak Zeref. Impianmu justru akan merusak dunia ini. Aku memang temanmu, tapi maaf. Aku tak sejalan denganmu." Balas Mavis.

"Jadi begitu ya," gumam Zeref menunduk.

Mavis mulai waspada saat tiba-tiba keluar aura hitam menyelimuti tubuh Zeref.

Tiba-tiba Zeref menatap Mavis dengan mata yang sudah berubah menjadi merah menyala. "AKAN KUBAWA KEBAHAGIAANMU KE ALAM KEMATIANKU, MAVIS!"

Tiba-tiba hutan tempat mereka berdua menjadi sangat gelap tanpa bulan, hanya mata menyala milik Zeref yang terlihat sangat jelas di hadapan Mavis.

Mavis menyatukan kedua tangannya. Ia mulai mengumpulkan mana sihirnya di telapak tangannya.

[FAIRY LOW!]

Sihir cahaya berbentuk bulat keluar dari telapak tangan Mavis, dengan perlahan kegelapan di hutan itu menghilang seperti di tarik oleh sihir ciptaan Mavis.

Selang beberapa menit kegelapan pun menghilang, kini diganti gelapnya malam yang hanya di terangi oleh cahaya bulan.

"Huh," Mavis menghela nafas, dan Zerer di hadapannya telah menghilang, hanya menyisakan baju yang tadi di kenakan oleh Zeref.

Kemudian Mavis mendekati pohon tempat tadi mengikat Zeref, telapak tangannya menyentuh pohon tersebut.

[NACHURARUSHIRU!]

Tiba-tiba tali tambang besar muncul dari ketiadaan langsung mengikat pohon tersebut. "Akan kuberi nama 'Nirvana' untuk pohon ini. Tempat terakhir satu-satunya temanku yang berharga, Zeref." Ucap Mavis sambil mengusap pelan pohon tersebut.

Kemudian Mavis berbalik badan, melangkah menjauhi pohon tersebut untuk keluar dari hutan tersebut.

"Au!"

Mavis langsung memegang dadanya dan perutnya yang terasa sakit, tapi hanya sebentar sehingga Mavis kembali melangkah keluar hutan.

Tanpa disadari oleh Mavis, dadanya memperlihatkan gambar tengkorak yang tak begitu jelas, serta perutnya juga mengeluarkan gambar rantai melingkar tanpa putus dengan sebuah tulisan sangat aneh di tengah-tengah lingkaran gambar rantai tersebut. Dan pastinya gambar tersebut berada di balik baju Mavis, sehingga ia tak menyadarinya.

.

10 tahun kemudian

.

10 tahun berlalu, banyak hal yang terjadi di kehidupan Mavis. Dari terbentuknya Organisasi yang dipimpin oleh Mavis sejak 8 tahun yang lalu dan diberi Nama Fairy Tail. Organisasi para penyihir dengan tujuan untuk melindungi umat manusia dari gangguan mahkluk Supranatural yang sering mengganggu Manusia.

Harus di akui, awal terbentuknya organisasi tersebut memang tak begitu banyak anggota, seperti Yuri Dreyar, Warrod dan Precht. dan pastinya anggotanya memiliki kemampuan sihir yang bermacam-macam, sekaligus orang-orang pendiri Organisasi Fairy Tail yang di ketuai oleh Mavis.

Banyak hal yang terjadi menghiasi kehidupan Mavis sebagai Master pertama Fairy Tail. Walau kadang berat menjadi ketua yang mengatur dan mengurus semua anggotanya, tapi Mavis tetap semangat menjalaninya. Baginya, anggota Fairy Tail adalah keluarganya.

Tanpa disadari oleh Mavis, tanda kutukan yang terdapat di dada dan perutnya semakin lama semakin terlihat jelas. Dan Mavis belum menyadarinya sama sekali tanda itu, hingga saat ini.

"Nananana..."

Nampaknya Mavis sedang senang, ia sedang melangkah ke kamar mandi dengan handuk yang melingkar di tubuhnya.

"Tak sabar rasanya ingin melihat anaknya Yuri -san,"

Gumamnya, ia telah berada di dalam kamar mandi sedang melepas handuknya.

Tiba-tiba Mavis terdiam mematung saat akan menyalakan Showernya dan matanya membulat menatap tampilan dirinya yang berada di cermin kamar mandi tersebut.

"Se-sejak kapan aku memiliki kutukan ini?"

Mavis merasa bingung, ia mencoba mengingat-ingat sesuatu, hingga tak berselang lama matanya terbuka lebar karena terkejut.

"Sial Zeref! Dia benar-benar mengutukku,"

Batinnya terkejut, ia telah mengingat kejadian yang menimpa dirinya 10 tahun yang lalu saat melawan Zeref.

Tangan kanan Mavis terangkat, mengusap tanda tengkorak yang berada di dadanya. "Semoga tak berdampak untuk orang-orang di sekitarku," gumamnya.

Kemudian Mavis melanjutkan lagi acara membersihkan tubuhnya, pikirannya was-was setelah mengetahui gambar pada perut dan dadanya, tapi ia lebih Khawatir dengan tanda yang berada di dadanya.

.

1 Tahun kemudian

.

Waktu cepat berlalu, tak terasa sudah 1 tahun berlalu. Kini Organisasi Fairy Tail sedang berbahagia. Mavis dan anggota lainnya sedang di rumah sakit karena tak sabar ingin melihat anggota baru Organisasi tersebut. Itu karena salah satu anggotanya ada yang sedang berjuang melahirkan seorang anak.

Kini Mavis dan anggota yang lainnya berada di depan ruang tunggu persalinan, dan ada 1 pria yang dari tadi terus kesana-kemari, yaitu Yuri Dreyar yang sedang panik karena Istrinya sedang melahirkan. Sedangkan Mavis dan lainnya memakluminya, mereka tau bagaimana cemasnya Yuri saat istrinya sedang melahirkan buah hati mereka.

"Oek! Oek! Oek! Oek!"

Yuri yang dari tadi panik kini terdiam, ia langsung menghadap ke arah pintu ruang persalinan setelah mendengar suara bayi dari dalam ruangan tersebut. Begitu juga Mavis dan yang lainnya, mereka juga melakukan hal yang sama seperti pria tadi, dan pastinya senyum mengembang mereka tercetak jelas di wajah mereka.

Krieeeet!

Pintu terbuka, seorang dokter wanita keluar dari ruangan tersebut. Dan seketika pula Yuri langsung bertanya. "Bagaimana dok? Apa istri dan anakku baik-baik saja?" ucapnya tak sabar.

"Istri dan anak anda baik-baik saja,"

Senyuman Yuri semakin lebar. "Apa aku boleh melihatnya Dok?"

"Boleh, tapi kusarankan jangan terlalu berisik. Karena kondisi istri anda masih dalam proses pemulihan dan butuh istirahat total," balas sang Dokter.

Yuri mengangguk, kemudian memasuki ruangan tersebut diikuti Mavis serta yang lainnya. Dan sang Dokter langsung melangkah menuju ruangannya.

Kini nampak di dalam ruangan tersebut terdapat sosok wanita yang terbaring lemas di ranjang pasien, dan sosok bayi samping wanita tersebut.

Yuri langsung mendekati wanita tersebut. "A-apa aku boleh menggendongnya, Sayang?"

Istrinya Yuri tersenyum. "Itu kan anakmu, masa aku harus melarangnya," ucapnya.

"Hehehe," cengengesan Yuri.

Dengan perlahan Yuri mulai menggendong bayi tersebut yang berjenis kelamin laki-laki dengan hati-hati.

"Wah Kawai..."

"Selamat Yuri, kau telah menjadi seorang ayah sekarang,"

Ucap Mavis serta yang lainnya. Dan Yuri hanya cengengesan saja mendengarnya.

Istrinya Yuri menoleh ke arah Mavis. "Master, apakah kau mau memberikan nama untuk anakku?" ucapnya.

Sontak Mavis langsung menoleh ke arah Istrinya Yuri, dan yang lainnya langsung menoleh ke arah Mavis.

"Kok aku, bukannya yang berhak memberi nama itu kalian berdua?"

"Tidak apa-apa Master, aku juga setuju dengan Istriku. Kira-kira Master punya nama yang bagus ngak?" timpal Yuri menambahkan.

Mavis mengangguk mengerti. "Hmm..." dan ia memegang dagunya sambil berpikir. Tiba-tiba muncul lampu bercahaya di atas kepala Mavis. "Aha. Bagaimana kalau Makarov, bagaimana?"

"Nama yang bagus, iyakan sayang," ucap Yuri lalu meminta pendapat istrinya, dan di balas anggukan lemah olehnya.

"Baiklah, selamat datang Makarov Dreyar. Suatu saat kau akan menjadi penyihir hebat di Fairy Tail." ucap senang Yuri.

Mavis dan anggota lainnya nampaknya ikut bahagia melihat pancaran rasa kebahagiaan yang di rasa oleh Yuri dan istrinya saat ini. Itu terlihat jelas di senyuman Mavis dan yang lainnya seperti terseret untuk ikut merasakan kebahagiaan yang di rasa oleh Yuri dan istrinya.

Tanpa disadari, gambar kutukan pada dada Mavis bercahaya, tapi tak di sadari oleh Mavis yang sekarang sedang merasa bahagia dan senang, sehingga melupakan kutukan yang tertanam pada dirinya.

.

1 Minggu kemudian

.

Duka dan kesedihan, itu yang di rasa oleh seluruh anggota Fairy Tail, terutama Yuri Dreyar atas kematian Istrinya yang secara mendadak tanpa sebab.

Begitu juga Mavis, ia dihantui oleh rasa bersalah yang sangat besar atas kematian istrinya Yuri. Ia sadar, kematian istrinya Yuri disebabkan oleh kutukan pada dirinya selama ini.

Mavis memutuskan, ia pergi menjauh dari orang-orang dan menyerahkan kepemimpinan Organisasi Fairy Tail kepada Perecht. ia yakin, dengan keputusannya itu tak ada lagi kematian orang-orang di dekatnya mulai saat itu.

Mavis pergi menjauh, ia tak ingin melihat kematian orang-orang yang mati di dekatnya lagi. Jauh dari orang-orang, itu yang dipikirkan Mavis saat itu.

.

44 Tahun kemudian

.

Terus menyendiri, tak terasa sudah 44 tahun Mavis terus menghindar dari kerumunan orang-orang dengan cara bertahan hidup di dalam hutan.

Walau terasa kesepian, Mavis terus menjalani kehidupannya dengan sabar tanpa mengeluh sedikit pun.

Memang harus diakui, Mavis telah mencoba berbagai cara untuk mengakhiri hidupnya, akan tetapi ia tak berhasil sama sekali, itu karena kutukan yang tertanam bukan hanya kutukan Kematian untuk orang-orang di sekitarnya, tetapi masih ada kutukan lainnya yaitu kutukan keabadian.

Kini Mavis sedang berjalan ke dalam hutan. semenjak ia tinggal sendiri di dalam hutan, ia mengandalkan bahan makanan yang tumbuh di dalam hutan, apapun yang penting bisa untuk di makan, pikir Mavis.

Tiba-tiba Mavis terhenti langkahnya, ia menoleh ke samping kanan lalu mengendus. Nampaknya ia mencium aroma sesuatu.

Karena penasaran, Mavis melangkah, mencari sumber aroma yang ia cium sekarang ini. Sambil terus menerobos semak-semak tinggi, Mavis terus melangkah terus dengan hati-hati.

Tak membutuhkan waktu lama, akhirnya Mavis telah dekat dengan sumber aroma yang di tangkap hidungnya, ia terhenti lalu mencoba membuka semak-semak di depannya dengan perlahan.

Dan ternyata yang dilihat oleh Mavis adalah punggung pria dewasa berambut kuning jabrik yang sedang duduk di batang kayu besar, yaitu Naruto yang sedang mengangkat ikan yang di bakar di hadapannya.

Srek!

Ikan bakar yang mau masuk ke mulut Naruto terhenti, kemudian Naruto menoleh ke belakang dengan cepat.

Sedangkan Mavis langsung menutup semaknya dan berjongkok untuk bersembunyi saat tau Naruto menoleh ke arahnya, berharap agar tak di ketahui oleh Naruto. Tapi nyatanya Naruto malah beranjak dari duduknya melangkah perlahan ke arah Mavis tanpa di ketahui oleh Mavis.

"Anooo, sedang apa kau disini adik kecil?"

Mavis tersentak, ia menoleh ke belakang dengan perlahan. "Ano... Ano..." gugup Mavis, ia tak tau harus menjawab apa saat situasi seperti itu. Sedangkan Naruto yang melihat gelagat Mavis dibuat bingung tak mengerti.

Kriuuuuuuuk!

Mavis langsung menunduk, wajahnya sudah merah padam karena malu. Nampaknya aroma ikan yang dibakar oleh Naruto membuat Mavis lapar.

"Huh," Naruto menghela nafas. "Aku membakar banyak ikan, ikutlah," ajaknya.

Dengan kepala yang masih menunduk, Mavis mengikuti Naruto menuju api unggun yang di buat oleh Naruto. Dan langsung duduk di samping Naruto.

Naruto mengangkat ikan yang di bakar. "Hati-hati, masih panas." Ucapnya sambil menyerahkan ikan bakar tersebut.

Mavis menerimanya. "Terima kasih," ucapnya lirih.

"Hmm,"

Lalu Mavis memakan ikan tersebut dengan lahap, bahkan sampai membuat Naruto tercengang melihatnya. Pasalnya ikan bakar yang di berikan ke Mavis itu yang paling besar, tapi Naruto memakluminya, mungkin dia sangat lapar, pikir Naruto.

"Uhuk! Uhuk!"

"Ini airnya,"

Mavis tersedak, ia langsung menyambar segelas air yang di berikan Naruto.

Glek! Glek! Glek! Glek!

"Ahhh..."

Lega Mavis setelah meminum air yang di berikan oleh Naruto. "Terima kasih atas makanannya," ucapnya.

"Tidak masalah, masih banyak kok," balas Naruto. "Ngomong-ngomong kau sedang apa di dalam hutan seperti ini adik kec...Au!"

Pertanyaan Naruto tak selesai, ia merintih kesakitan karena lengannya di cubit oleh Mavis. "Aku bukan anak kecil. Umurku lebih dari 50 tahun asal kau tau."

Naruto menaikkan sebelah alisnya, ia memperhatikan Mavis dari atas kepala sampai kakinya. "Kau bercanda ya, dilihat dari mana pun kau itu anak ke... Tunggu dulu." Ucapan Naruto terhenti, sepertinya ia menemukan sesuatu pada dalam tubuh Mavis.

Mavis memiringkan kepalanya bingung saat di perhatikan oleh Naruto. "Ada apa?"

"Apa kau terkena kutukan?"

Mavis terdiam, ia menunduk dan hanya anggukan pelan sebagai jawaban dari pertanyaan Naruto.

"Sudah kuduga, jadi kutukan apa yang kau miliki?"

"Kutukan yang merengut nyawa seseorang di sekitarku saat aku merasa bahagia dan kutukan Keabadian . "

"Hmm... Malang sekali hidupmu ya, pasti sangat berat ya memiliki 2 kutukan sekaligus. Apa lagi kutukan yang pertama kau sebutkan itu. Aku tak bisa membayangkannya, bagaimana kau bertahan hidup selama ini," ucap Naruto iba.

Mavis memegang erat gelas di genggamannya. "Mau bagaimana lagi, hanya demi menghentikan ambisi temanku dulu, aku jadi seperti ini," ucap Mavis sendu.

"Jangan bersedih seperti itu, mungkin aku bisa membantumu mengatasi salah satu kutukannya,"

Mavis melebarkan mata, ia langsung menatap Naruto. "Sungguh?"

Naruto mengangguk. "Kau berhak bahagia seperti yang lainnya. Coba kau tunjukkan segel Kutukannya,"

Plak!

"Mesum!"

Entah kenapa Mavis langsung menampar pipi Naruto dan meneriakinya. "Hey! Apa-apaan kau. Aku ini mau membantumu ya," ucap Naruto sambil mengelus pipinya yang memerah.

Mavis menunjuk wajah Naruto. "Mesum! Pasti kau tau di mana letak segel Kutukannya ya?"

"Hey! Mana aku tau. Aku merasakan seseorang memiliki kutukan itu dari auranya ya," sangkal Naruto.

"Jangan bohong!"

"Ya sudah kalau tak mau di tolong, toh aku tak rugi sama sekali," ucap Naruto mencoba acuh.

Mavis terdiam, ia berpikir sejenak untuk mengambil keputusannya yang akan diambilnya. Setelah merasa yakin, tiba-tiba Mavis membuka bajunya dengan perlahan.

Sontak Naruto langsung melebarkan mata. "Hey! Apa-apaan kau? Kenapa kau membuka bajumu?" kejut Naruto.

"Jangan macam-macam denganku, aku ingin menunjukkan segel kutukannya," ucap Mavis menatap tajam Naruto.

Naruto memalingkan wajahnya. "Siapa juga yang mau dengan wanita berdada rata, lebih memuaskan milik Sera dan Grayfia serta mantan-mantan istriku ketimbang dirinya," gumam Naruto sambil memanyunkan bibirnya.

"Apa kau bilang ha!"

Bentak Mavis, ia sedikit mendengar gumaman Naruto yang terasa menyakitkan baginya.

"Tidak apa-apa,"

Sangkal Naruto, sambil terus menatap tajam Naruto, Mavis kembali membuka bajunya. Hingga tak berselang lama bajunya terlepas dan kini dadanya hanya tertutup oleh BH berwarna kuning.

"Sudah, ini tanda kutukannya," ucap Mavis menunjukkan tanda tengkorak hitam di antara buah dada kecilnya.

"Huh," Naruto menghela nafas, tangannya mulai terangkat dan mengarah pada tanda kutukan di dada Mavis.

Plak!

Tiba-tiba Mavis menepis tangan Naruto. "Singkirkan tangan mesummu itu! Menjijikan!" bentaknya.

"Hey! Siapa yang mau menggerepe dada ratamu ha! Aku itu mau menyegel tanda kutukanmu itu," sangkal Naruto.

"Awas kau, kalau kau macam-macam. Kau harus bertanggung jawab pokoknya,"

"Iya-iya, Loli cerewet,"

Sebenarnya Mavis telah dibuat kesal berkali-kali oleh Naruto. tapi ia tahan, yang terpenting dalam pikirannya ialah kutukan pada tubuhnya menghilang, walau sedikit tak mempercayai Naruto yang menyatakan bisa menghilangkan kutukan, tapi coba dulu tak masalah bukan, siapa tau berhasil, pikir Mavis.

Kini tangan Naruto terangkat kembali, mengarah ke tanda kutukan di dada Mavis. Tak ada pandangan nafsu yang di tunjukkan oleh Naruto sejauh Mavis perhatikan saat ini.

Tiba-tiba aura biru keluar dari telapak tangan Naruto yang menyentuh tanda kutukan, seketika pula sebuah kanji rumit muncul di permukaan tanah dan berporos pada telapak tangan Naruto.

Mavis terus terdiam, ia terus memperhatikan apa yang dilakukan Naruto padanya, walaupun dalam hatinya ingin bertanya, tapi ia tahan sebelum apa yang dilakukan Naruto kepadanya selesai.

.

[SORA O FUIN SURU!]

.

Kanji rumit di permukaan tanah bergerak menuju telapak tangan Naruto, hingga tak berselang lama semua kanji berkumpul pada porosnya di telapak tangan Naruto.

Naruto menyudahi acara menyentuh dadanya Mavis, kini nampak kutukan Mavis di hiasi dengan kanji rumit ciptaan Naruto yang melingkari tanda kutukan Mavis tanpa putus.

"Itu segel pengacau fungsi kutukan, dengan kata lain kutukanmu tak berfungsi sama sekali, tapi tetap masih ada. Dan segel buatanku akan menghilang jika aku yang menghendakinya, atau paling tidak jika ada yang bisa membunuhku, alias aku mati," kata Naruto menjelaskan tentang segel miliknya.

Mavis memakai kembali bajunya. "Jika ada yang membunuhmu? Memangnya kau itu abadi sepertiku ya?" tebak Mavis.

"Cuma hampir, aku masih bisa mati jika ada yang bisa membunuhku," balas Naruto.

Mavis mengangguk mengerti. "Ngomong-ngomong bagaimana cara membuktikan segel buatanmu berfungsi padaku? Di hutan ini tak ada seorang pun ya," tanya Mavis.

"Hmmm..." Naruto memegang dagunya berpikir. "Berapa lama fungsi kutukanmu bereaksi?" tanyanya.

"Satu minggu, kutukanku akan bereaksi 1 minggu jika ada seseorang yang berada di dekatku,"

Naruto mengangguk mengerti. Srek! Tiba-tiba Naruto beranjak dari duduknya dan membersihkan debu yang menempel di celana bagian area pantatnya dengan cara diusap.

"Kebetulan sekali, aku masih ada waktu 10 hari di hutan ini untuk menunggu kemunculan bulan purnama," ucap Naruto.

Mavis memiringkan kepalanya. "Menunggu bulan purnama? Untuk apa?"

Naruto menghela nafas, wajahnya berubah menjadi mode serius. "Istriku sedang hamil, dia memintaku untuk mencarikan tanduk Unicorn. dan aku tak bisa pulang sebelum mendapatkan tanduk itu." Ucap Naruto.

"Pfffft!" Mavis ingin ketawa, ia tahu bahwa kalimat yang diucapkan Naruto terselip nada ketakutan yang amat besar. "Sepertinya kau takut dengan istrimu ya?" ejek Mavis.

Naruto menatap tajam Mavis. "Hey! Lebih baik melawan bangsa Naga ya, dari pada menghadapi wanita hamil yang moodnya kurang baik,"

"APA! NAGA KATAMU!?"

Naruto mengangguk, dan Mavis kembali tenang. "Jadi begitu, kau juga mengetahui tentang mahkluk supranatural di dunia ini ya?"

"Ya seperti itu lah," singkat Naruto.

Srek!

Tiba-tiba Mavis berdiri dari duduknya. "Aku ingin bertanya banyak hal tentang mahkluk supranatural kepadamu, mungkin kau bisa tinggal di rumahku yang tak jauh dari sini," ajak Mavis.

"Boleh juga, sekalian untuk membuktikan segel buatanku berfungsi padamu atau tidak," balas Naruto menyetujui.

Mavis mengangguk, kemudian mereka berdua melangkah ke dalam hutan, dengan Naruto yang mengikuti Mavis dari belakangnya.

Saat perjalanan menuju rumah Mavis, mereka saling berkenalan, sehingga mereka saling tau nama mereka masing-masing, karena tadi tak sempat saling berkenalan.

Hingga tak lama kemudian langkah mereka sampai di rumah kecil sederhana di tengah hutan, dengan pagar-pagar yang terbuat dari kayu serta atap dari dedaunan jerami saja. Rumah yang terbilang luar biasa untuk ukuran buatan tangan Mavis, yang nyatanya seorang perempuan.

.

10 Hari kemudian

.

Hari berganti, tak terasa sudah 10 hari berlalu Naruto dan Mavis tinggal bersama di dalam hutan itu.

Banyak hal terjadi menurut Mavis, segel buatan Naruto berfungsi nyata. Itu terbukti telah 1 minggu lebih tak ada kematian di dekat Mavis, dan orang yang di maksud adalah Naruto yang masih hidup sampai sekarang.

Bahkan Mavis yang awalnya selalu cuek terhadap Naruto pun berubah belakangan ini, ia terlihat lebih ceria ketimbang hari-hari sebelumnya semenjak kehadiran Naruto.

Mavis juga sempat diajari cara memasak yang benar oleh Naruto, dan sebagai gantinya ia juga membantu Naruto menangkap kuda Unicord kemarin di dekat danau yang terletak di tengah hutan tersebut.

Sungguh hari-hari yang menyenangkan bagi Mavis selama masa hidupnya saat bersama Naruto. Itu yang di rasa Mavis semenjak ada Naruto, atau lebih tepatnya 7 hari yang lalu saat Mavis mengagetkan Naruto yang sedang memancing di tepian danau, dan alhasil Naruto tercebur ke danau. Sungguh itu hal paling menyenangkan bagi Mavis di saat ada orang yang bisa di ajak bercanda bersamanya.

Tapi Mavis tak bisa berharap lebih kepada Naruto, ia tahu, bahwa Naruto sudah beristri dan kembali ke orang yang di cintainya. Walau perasaannya tak ingin di tinggal oleh Naruto, tapi mau bagaimana lagi, saat berpisah, maka berpisahlah, dan Mavis tak bisa mencegahnya.

Tapi Mavis bersyukur, karena Naruto berjanji akan mengantarkannya ke tempatnya dulu Mavis berada sebelum mereka akan berpisah, yaitu Markas Organisasi Fairy Tail di Italia.

Seperti saat ini, kini Naruto dan Mavis telah berada di luar hutan, atau lebih tepatnya pinggiran kota Roma, Italia.

Mereka terus melangkah, menyusuri gang-gang setiap sudut kota hanya demi sebuah tempat yang mereka tuju, dengan Mavis yang berada di depan dan Naruto mengikutinya di belakang.

"Apa tempatnya masih jauh, Mavis?"

"Tidak kok, sebentar lagi juga sampai,"

"Huh," Naruto menghela nafas, sebenarnya itu pertanyaan yang ke-10. Ia mengeluh, karena dari tadi berjalan menyusuri kota terasa tak sampai-sampai di tempat tujuannya.

Bruk!

Naruto menabrak Mavis yang tiba-tiba menghentikan langkahnya. "Kalau mau berhenti, bilang dong," kesal Naruto.

"Sebegitukah kesalmu terhadapku, Naru? Sampai-sampai aku di depanmu tak terlihat di matamu," tiba-tiba Mavis menunduk. "Aku tau aku seperti anak kecil. Dadaku juga tak besar. Tapi jika kau memandangku seperti itu, bagiku itu sangat menyakitkan asal kau tau Naru, hiks, hiks," ucap Mavis pura-pura sedih.

Naruto Sweatdrop. "Ini bocah pintar juga ya sandiwaranya," Batinnya.

.

"Lihat itu, pria itu membuat anak kecil itu menangis,"

"Dasar pedofil menjijikan,"

"Jauhkan anak-anak kita dari pria itu,"

.

Urat-urat kekesalan di kepala Naruto telah banyak bermunculan, ia sangat kesal plus malu atas bisikan ibu-ibu yang terdengar jelas di telinganya saat mereka melintas di dekat Naruto.

Kekesalan Naruto memuncak, ia langsung menatap tajam ibu-ibu yang berbisik. "WOY! SIALAN! AKU BUKAN PEDOFIL! AKU PRIA NORMAL ASAL KALIAN TAU! AKU INI PECINTA MILF NOMOR SATU YA!" bentak Naruto sangat keras, tak menyadari bahwa ucapannya membuat pandangan aneh orang-orang yang mendengarnya.

Orang-orang yang mendengarnya langsung menutup dadanya, terutama yang memiliki dada besar dan langsung lari menjauh. "MENJAUH DARI PRIA BRENGSEK SEMUANYA! NANTI DADANYA DIREMAS OLEHNYA!" teriak para wanita yang berlari.

Naruto terdiam. "Sial! Apa yang telah kuucapkan tadi?" dan sepertinya menyadari teriakannya tadi yang membuat para wanita di situ lari menjauh.

"Pffffffffh! Hahahahaha!"

Naruto kembali kesal, ia menatap tajam Mavis yang sedang tertawa terbahak-bahak.

Set!

Grep!

Karena malu plus kesal, Naruto langsung menyeret Mavis pergi menjauh sangat cepat dari tempat itu. Sangat jauh Naruto menyeret Mavis. "Tunggu Naru, berhenti di sini." tiba-tiba Mavis minta berhenti.

"Apa lagi ha! Kau ingin membuatku malu di sini apa?" kesal Naruto.

"Bukan itu. Tapi itu," balas Mavis sambil menunjuk Kedai di seberang jalan yang bertulis Fairy Tail di plang pintunya. "Itu tempat yang kucari,"

Dengan cepat Naruto langsung menyeret Mavis menyeberang jalan, ia bertindak seperti itu karena sudah kesal dan ingin cepat-cepat menjauh dari Mavis, sekaligus menuntaskan janjinya kepada Mavis.

Kring!

Mereka berdua langsung masuk kedai tersebut, langsung menuju counter kedai yang paling depan.

"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" ucap pria paruh baya, bertag name Macao Conbolt di baju pelayan pas di dada kirinya.

"Pemilik Kedainya ada?" tanya Naruto.

"Ada Tuan,"

"Tolong panggilkan dia, aku ingin berbicara penting dengannya,"

"Baik Tuan,"

Macao langsung pergi, ia melangkan menuju ruangan khusus di Kedai tersebut. Hingga tak berselang lama Macao keluar bersama dengan seseorang pria tua berumur 45 tahunan.

"Ada yang bisa saya bantu Tuan? Aku pemilik Kedai ini," tanya pria tua itu.

Naruto menarik Mavis, menyejajarkan dengannya. "Apa kau kenal dengan orang ini?"

Pria itu menoleh ke arah Mavis, memperhatikan Mavis dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tiba-tiba pria tua itu melebarkan mata, di kepalanya terbesit gambar foto yang menggantung di ruangannya. "Ma-Master pertama." Kejutnya.

Mavis mengangguk. "Kita bicarakan di dalam ruanganku," ajak pria tua itu.

Mavis dan Naruto mengangguk, kemudian mereka melangkah mengikuti pria tua itu ke dalam ruangannya.

Kini mereka berada di dalam ruangan sedang, dengan Naruto yang duduk bersebelahan dengan Mavis, serta pria tua itu di hadapan mereka berdua yang hanya di halangi meja kecil saja.

Mavis melirik foto yang berderet di dinding. "Hee... Jadi Perecht benar-benar menjadi Master ke-2 Organisasi ini ya?" gumam Mavis, lalu menoleh ke arah pria tua di hadapannya. "Dan kau adalah Master ke-3 Organisasi buatanku ya?"

Pria tua itu mengangguk. "Benar, aku Makarov Dreyar. Pengganti Master ke-2 sejak 10 tahun yang lalu atas kematian Master ke-2," Ucap pria itu memperkenalkan diri.

Entah kenapa Mavis tersenyum. "Jadi kau anaknya Yuri ya, tak kusangka sudah sebesar ini," ucap Mavis, dan Makarov hanya mengangguk sebagai jawabannya.

.

#Skip Time

.

30 menit berlalu, mereka bertiga saling mengobrol. Terutama Mavis yang menjelaskan bahwa kematian ibunya adalah sebab kutukan yang dimilikinya.

Harus di akui, Makarov memasang wajah datar seperti enggan memaafkan Mavis saat tadi Mavis meminta maaf, tapi akhirnya Makarov mau memaafkannya. Itu karena kata-kata Naruto.

Naruto menjelaskan, bahwa setiap kematian setiap mahkluk hidup adalah takdir ya berjalan, tidak ada yang bisa melawan takdir.

Kata-kata biasa menuruti Naruto, tapi di anggap sebuah kata-kata penuh makna bagi yang mendengarnya.

Srek!

Naruto berdiri. "Janjiku sudah kutepati Mavis, jadi aku akan pergi sekarang." Kemudian Naruto menoleh ke arah Makarov. "Aku titip dia padamu," ucap Naruto kepada Makarov, dan dijawab anggukan kepala oleh Makarov.

"Naru. Apa kita akan bertemu lagi?" tanya Mavis dengan tatapan berharap.

"Ogah! Aku tak mau lagi bertemu denganmu." Ucap Naruto pura-pura acuh, sontak Mavis langsung menunduk sedih. "Huh," Naruto menghela nafas. "Aku bercanda Mavis, suatu saat kita akan bertemu lagi,"

Mavis menegakkan kepalanya. "Sungguh?" ucapnya memastikan, dan sedikit senyum senang tercetak jelas di wajahnya.

Dan Naruto hanya mengangguk mengiyakan, dan senyuman Mavis semakin lebar. "Jadi aku pergi sekarang ya," pamit Naruto.

"Um!" angguk Mavis.

Naruto berdiri tegak, ia membenarkan jaketnya kemudian menoleh ke arah Makarov, dan mereka berdua saling mengangguk.

.

SRING!

.

Naruto langsung menghilang dalam sekejap mata, sontak hal itu membuat Makarov terkejut, pasalnya ia baru pertama kali melihat langsung sihir teleport super instan. Sedangkan Mavis tak terkejut sama sekali, itu karena dia sering melihat Naruto melakukan seperti itu saat berada di hutan ketika berburu.

Kini Mavis memandang tempat Naruto menghilang, ia tersenyum.

.

"Suatu saat kita bertemu kembali, aku akan mengungkapkan perasaanku terhadapmu, Naru."

.

#Flashback Off

.

Gildarts dan Cana mengangguk mengerti setelah di ceritakan sebuah cerita masa lalu Mavis.

"Jadi seperti itu, pria itu yang telah menghapus kutukan pada Mavis -Sama," ucap Cana.

"Tak heran si, jika Mavis bisa seakrab dengan pria itu. Ternyata pria itu berperan penting di kehidupan Mavis ya," timpal Gildarts.

Makarov mengangguk, menyetujui ucapan Gildarts dan Cana barusan.

.

#Dengan Naruto dan Mavis

.

"Hmm... Jadi begitu. Orang yang sedang kucari ternyata tadi sore ke sini?"

Tanya Naruto, ia sedang mengobrol dengan Mavis, menanyakan sosok Chisato yang sedang ia cari.

"Um. Dan tebakanmu benar, dia tadi bersama anak kecil berumur 5 tahunan bernama Kuroe. Dan rencananya dia akan pindah mengajar di Jepang, itu si yang aku ketahui saat mengobrol dengannya tadi," balas Mavis menambahkan.

"Huh," Naruto menghela nafas, ia terdiam sejenak. "Jadi anakku bernama Kuroe ya, ah kutunggu saja di Jepang saja kalau begitu," batinnya, ia yakin bahwa anak yang bersama Chisato yang tadi di ceritakan oleh Mavis benar-benar anaknya.

Mavis memiringkan kepalanya, ia heran dengan Naruto yang tiba-tiba terdiam. "Memangnya apa hubunganmu dengan orang tadi, Naru?"

Naruto tersentak. "Ah, bukan apa-apa Mavis. Hanya teman lamaku, dan aku ada perlu dengannya," ucap Naruto beralasan, dan Mavis hanya ber-O-ria saja, tanpa mengetahui maksud sebenarnya Naruto.

Srek!

Naruto berdiri. "Cuma itu saja yang ingin kutanyakan Mavis, terima kasih infonya,"

"Ya, sama-sama,"

Srek!

Mavis juga berdiri dari duduknya. "Aku akan mengantarkanmu sampai depan," ucapnya.

Naruto mengangguk, kemudian mereka berdua melangkah keluar kedai tersebut, dan pastinya setelah Naruto membayar apa yang dia makan saat mengobrol dengan Mavis tadi. Dan ternyata eh ternyata, makanan yang di makan oleh Naruto dinyatakan gratis, dan Makarov sendiri yang mengatakannya.

Kini mereka berdua telah di luar Kedai, Mavis berdiri di depan pintu Kedai, memperhatikan Naruto yang sedang melangkah menyeberangi jalan raya.

"NARU!"

Teriak Mavis, sontak Naruto yang telah sampai di seberang jalan terhenti langkahnya, langsung menoleh ke arah Mavis.

"APA!?" sahut Naruto berteriak juga.

"MUNGKIN INI TAK SEHARUSNYA KUKATAKAN! TAPI AKU INGIN MENGATAKAN INI SEJAK DULU!"

"KATAKAN SAJA!"

Tiba-tiba Mavis menarik nafas, ia mengatur nafasnya. Ia mengumpulkan mental keberaniannya untuk mengatakan sesuatu selanjutnya.

"AKU MENCINTAIMU!"

Wussssss!

Naruto terdiam. Ia masih mendengar teriakan Mavis saat bersamaan sebuah truk melintas di hadapannya. Hingga seperkian detik akhirnya truk yang melintas tak menghalangi pandangan mereka berdua.

"KAU BERCANDA YA MAVIS!?"

Teriak Naruto, ia ingin memastikan lagi teriakan Mavis. Entah kenapa Mavis di seberang jalan menggelengkan kepala, Mavis tersenyum.

"TIDAK NARU! AKU BENAR-BENAR MENCINTAIMU SEJAK 25 TAHUN YANG LALU! WALAUPUN HANYA 10 HARI KITA BERSAMA DULU! TAPI AKU BENAR-BENAR BAHAGIA WAKTU ITU!"

"TAPI MAV...!"

"KAU TAK PERLU MENJAWABNYA SEKARANG! AKU HANYA INGIN MENGATAKAN ITU SAJA! PERASAAN YANG KUSIMPAN SEJAK 25 TAHUN! DAN AKU SUDAH LEGA MENGATAKANNYA!"

Mavis langsung masuk ke dalam Kedai setelah mengatakan itu, mengabaikan Naruto yang masih terdiam membisu di seberang jalan.

"Huh," Naruto menghela nafas. Ia berbalik badan, lalu melangkah ke arah utara. "Apa-apaan si Mavis? Padahal dia sudah aku anggap seperti adikku sendiri," batinya, kemudian Naruto berbelok ke gang sepi.

.

SRING!

.

Dan langsung menghilang tanpa diketahui oleh siapa pun di situ.

Sedangkan Mavis kini sedang berada di balik pintu kedai, menyenderkan punggungnya di pintu sambil memegang dadanya, nafasnya tak beratur. Tapi senyum senang tercetak jelas di wajah Mavis.

"Akhirnya aku bisa mengatakannya,"

.

#Skip Rumah Naruto

.

Kini Naruto berada di rumahnya, ia muncul di ruang keluarga dan langsung melirik jam dinding yang menempel di tembok ruangan tersebut.

Dan ternyata jam telah menunjukkan tengah malam, itu terbukti dengan keadaan rumahnya yang terlihat sepi. "Mungkin semuanya sudah tertidur," batinnya, kemudian ia melangkah ke kamarnya.

Naruto Sweatdrop, ia tercengang setelah memasuki kamarnya. "Astaga, tidurnya Mereoleona sungguh mengerikan," batinnya saat melihat posisi tidur Mereoleona yang terbilang aneh, dengan kaki kananya menumpang di atas tubuh Remia, guling bantalnya sudah berserakan di lantai.

Naruto geleng-geleng kepala, ia memungut bantal guling yang berserakan, kemudian membenarkan posisi tidur Mereoleona dan Remia, lalu menyelimuti mereka berdua.

Kemudian Naruto mengambil bantal yang tersisa, dan kembali keluar dari kamar tersebut. Ia kembali ke ruang keluarga, menjatuhkan bantalnya di sofa empuknya.

Lalu Naruto berbaring, memposisikan tidurnya yang nyaman di sofa tersebut, kemudian matanya dipejamkan, hingga tak berselang lama Naruto benar-benar tertidur di sofa tersebut, karena kamarnya sekarang ditiduri oleh Mereoleona dan Remia.

.

.

End

.

Yo! Masih dengan Story Liarku ini, wkwkwkwkwk...maaf kalau masih ada typonya, soalnya saya kebut update 2 chapter ini. Hehe...

Oke itu aja, lanjooooooooooot.

.

#List urutan dari yang tertua.

1. Draig & Albion (alive, ratusan tahun) : [Great Red & Drakon Kholkikus] (dxd & Mitologi Georgia)

2. Olive (alive, 26 tahun): [Katerea Leviathan Pernah] (dxd)

3. Menma (alive, 24 tahun): [Katerea Leviathan Pernah] (dxd)

4. Naruko (alive, 19 tahun): [Serafall Leviathan Pernah] (dxd)

5. Vivi (alive, 19 tahun): [Grayfia Lucifuge Pernah] (dxd)

6. Rin (alive, 17 tahun): [Serafall Leviathan Pernah] (dxd)

7. Gray & Mirajane (alive, 17 tahun): [Grayfia Lucifuge Pernah] (dxd)

8. Lucy (alive, 16 tahun): [Arturia Belum] (Saber Fate/Stay Night)

9. Minato (alive, 16 tahun): [Yasaka Masih](dxd)

10. Liya (alive, 15 tahun): [Asuna Belum] (SAO)

11. Leo (alive, 14 tahun): [Mereoleona Varmilion belum] (Black Clover)

12. Kunou (alive, 12 tahun): [Yasaka Masih] (dxd)

13. Shuna (alive, 12 tahun): [Shirahoshi masih] (One Piece)

14. Sting (alive, 11 tahun): [Freya Belum] (Amuryllis Asmodeus dari Mairimashita! Iruma-kun ver rambut kuning)

15. Luck (Die karakter, 10 tahun): [Albedo] (Overlord)

16. Luna (alive, 10 tahun): [Boa Hancock Belum] (One Piece)

17. Hinami (alive, 8 tahun) : [Itori versi rambut coklat, die karakter] (Tokyo Ghoul)

18. Kuroe (alive, 5 tahun) : [Chisato Hasegawa belum] (Shinmai Maou no Testament)

19. Myu (alive, 4 tahun) : [Remia belum] (Arifureta)

20. Luffy (alive, 8 bulan) : [Nico Robin belum] (One Piece setelah time skip)

Note : untuk no 1 sampai 7 hanya umur sesuai fisik yang terlihat, karena umur no 1 sampai 7 jauh melebihi catatan (biar enak membayanginya). Kalau no 8 dan seterusnya itu umurnya sudah sesuai.

.

See you next chap...