Day 30

Sweet Kink


Strawberry Candy

Terik musim panas sedikit membuat Chuuya enggan mengganti seragam. Celana pendek bewara biru dengan motif kotak-kotak menggantung di lutut. Sebuah permen tenggelam di mulut, tangkainya mencuat. Chuuya menggoyangkan kaki di beranda teras rumah kayu sambil melihat ikan-ikan kecil yang berenang di kolam.

"Merasa sepi?"

"Merasa bosan!" Chuuya meneriakkan pengaduhan itu dengan lantang. Tanpa bangkit dari tempatnya, mempersilahkan Dazai selaku paman pemilik rumah untuk duduk di sebelah.

Senampan manju disaji, namun mulut Chuuya masih penuh oleh sebuah permen. "Kenapa kau tidak bawakan jus saja?"

"Chuuya bisa ambil sendiri di lemari," pemuda dua puluh dua tahun itu melahap satu kue. "Aku sudah bilang anggap tempat ini rumahmu sendiri."

"Aku cuma disini karena asrama sekolah baru terbakar," ucap Chuuya. "Karena aku tidak mau pulang pergi dua jam dengan kereta dari rumahku ke sana."

"Tapi tempat ini bagus kan?" Suasana sepi di pedesaan yang penuh ladang gandum memang sering membuat Chuuya merasa senang. Tapi terlalu sepi. Hanya dirinya dan Dazai Osamu berdua di rumah besar ini. Remaja seusia Chuuya juga tidak pernah tampak karena pasti lebih memilih berada di kota.

"Apa itu sangat manis?" Dazai merujuk pada bola permen kecil yang tenggelam di mulut Chuuya. Tangkai ditarik, permen keluar dari mulut dengan seuntai tipis saliva.

"Kau mau coba?"

Dazai mendekatkan wajahnya, namun alih-alih mengulum permen, ia malah mengecup bibir Chuuya. Dengan cepat memasukkan lidah ke dalam rongga mulut kecilnya yang begitu penuh akan rasa strawberry.

Chuuya bersemu, "Apa-apaan?"

"Manis sekali." Dazai mengabaikan protes pemuda tujuh belas tahun itu dan mengambil permen dari tangannya. Segera ia menggulirkan permen itu di lengan Chuuya, naik sampai balik lengan baju tipisnya. Rasa lengket seketika menghilang diganti dengan basah jilatan lidah Dazai.

Chuuya bersemu, "Oi.." Ia tidak mengerti kenapa pria ini begitu terobsesi melakukan hal vulgar pada tubuhnya. Ia juga tidak mengerti kenapa selalu berdebar dan menyukai kelakukan itu. "Aku penuh keringat."

"Tapi manis," Dazai mengabaikan kue manju yang begitu menggungah. Ia mendorong Chuuya terjatuh ke belakang dan perlahan menurunkan celana anak itu. "Aku ingin merasakannya di tempat lain juga."

Chuuya ingin bertanya dimana tempat lain yang Dazai maksud, namun ia sudah mendapat jawaban ketika permen kembali bergulir di perutnya. Menodai dengan gula, lalu naik ke atas, ke sebuah puncak dada yang bewarna sama.

"Ah.." Dazai menggoda puncak itu dengan memutar-mutarkan permen. Terkadang ia kembali mengemut permen itu agar kembali basah, lalu menusuk-nusuk puting Chuuya dengannya. "Hng..."

"Aku ingin tahu bagaimana rasanya."

Chuuya terlonjak kecil ketika tiba-tiba Dazai menyapu pucuk dada dengan sapuan lidah. Seakan mengambil seluruh manisnya gula dari sana, lalu mengemutnya seperti bayi. Chuuya bergetar, namun rangsang yang diberikan begitu geli serta nikmat.

Tangan yang awalnya gemas menarik rambut Dazai kini nakal bergeser pada puncak satunya. Chuuya memoles benda itu, membayangkan sentuhan Dazai. Ibu jari dan telunjuk mengapit, lalu memintir, masih membayangkan Dazai.

"Ahh..."

Dazai tahu keinginan itu, maka ia memberi Chuuya permintaannya. Mengulum sebuah lagi seperti sebelumnya hingga kini memerah lebih pekat dari si permen. Lidah Dazai perlahan turun, menyesap perut dan menghabiskan semua rasa manisnya.

"Bagaimana rasanya menjadi permen?" Ia menggoda Chuuya. Membiarkan desahan lolos ketika Dazai menggosok-gosokkan benda manis itu di kepemilikannya. "Dia juga harus dicicipi bukan, Chuuya?"

"Hh.. Dazai.." Dari puncak lalu batang, permen itu bergulir dan menggelinding. Meninggalkan sari-sari manisnya di sana yang begitu lengket namun hangat. "Ahh—"

Dazai tidak butuh izin untuk memasukkan permen itu ke dalam. Mendobrak anal Chuuya yang sempit dan bewarna merah lalu menenggelamkan kepala permen di sana.

"Ah.." Benda mungil itu masuk dengan mulus sebagai tanda bahwa Chuuya sudah sering menerima hal yang lebih besar. Namun setiap gerakan yang dilakukan dapat mengundang lekukan di tulang pinggulnya.

Dazai memutar permen di dalam, kadang mendorongnya masuk hingga hampir seluruh tangkai tenggelam. Dazai tidak menambah jarinya karena akan menodai rasa manis permen dan tubuh Chuuya.

"Chuuya, ada yang menetes." Dazai sedikit tersenyum melihat titik putih yang jatuh dari lubang kepemilikan si jingga. "Apa permen senikmat itu, hm?"

"Ahh... Sialan— hh.."

Umpatan dibalas ulas senyum, Dazai meninggalkan permen itu tertancap ketika kepalanya menunduk untuk menyantap sang godaan di antara selangkangan Chuuya. "Ahnnn..." Chuuya melenguh.

Lidah memoles jauh dari bawah naik ke atas, Dazai menekan dengan hisapan seakan menarik klimaks dari pasangannya. Uluman dalam dibalas geliat hasrat. Chuuya masih merasa penuh karena sebuah permen, namun demikian ia begitu sesak ketika Dazai ada di sana dan melahapnya.

Tangan Chuuya semakin gencar menjambak rambut coklat sebagai respon geli serta tuntutan meminta lebih dalam. Dazai melakukan permintaannya. Menghisap jauh hingga kepemilikan Chuuya menyentuh kerongkongan, ia meninggalkan kecup sebelum mulai menghisap lagi. Demikian hingga akhirnya Chuuya mencapai puncak dan tumpah.

Dazai membiarkan cairan itu tertelan, ia juga membiarkannya jatuh membasahi batang yang tegak sebelum mengalir jatuh ke tangkai permen yang ada di bawah.

"Manis sekali, Chuuya." Sebelum menyeka mulut, Dazai mengecup bibir Chuuya. Menghantarkan rasa dari semen dan manis strawberry.

Dazai menarik permen itu dari dalam liang, membiarkan celah yang sempit merasakan hembusan angin sejenak sebelum Chuuya merapatkan kaki lalu berbalik. Ia mengambil posisi merangkak sementara satu tangannya terjulur jauh mencapai celah belakang. Lalu dengan kedua jari, Chuuya melebarnya tepat di hadapan Dazai.

"Kau belum merasakan yang di dalam," ia bersemu, "Aku tidak makan permen setiap hari, jadi ini kesempatanmu."

Rasa malu-malu yang tersirat dalam nafsunya memancing seringai. Dazai tidak melepaskan permen itu dari genggaman, namun ia bisa dengan sigap melebarkan kedua belah bokong Chuuya untuk sampai ke dalam.

"Ahh.."

Chuuya terlonjak ketika Dazai menciumnya. Mengendus analnya lalu perlahan Chuuya merasakan benda liat menyusup ke sana. Dazai benar-benar melakukannya.

"Hnn. Dazai—" Chuuya tidak menyangka akan begitu geli ketika lidah Dazai memoles pintu analnya, masuk dan merasakan area terdekat. Ia melepaskan tangan untuk menumpu, memilih melipat sebagai pengganti bantal ketika kepalanya begitu rendah dan bokong naik dengan tinggi. Menyerahkan diri pada Dazai.

Rasa manis dan hangat yang tertinggal begitu Dazai sukai. Bukan karena permen, melainkan karena dia adalah Chuuya. Entah apa mantra yang digunakannya tapi seluruh bagian tubuh Chuuya yang Dazai cecap adalah manis seperti madu.

Ia memutar lidahnya, menjilat dalam dan sesekali menghisap. Tusukan-tusukan kecil yang begitu vulgar selalu membuat Chuuya bergejolak. Merasakan ketegangan Chuuya dari suara desahannya. Pujian itu terdengar lebih sering sehingga Dazai makin gencar merasai seluruh bagian dalam tubuh Chuuya.

"Ahh. Dazai," Tangan Chuuya saling mencengkram, "Dazai, aku.. Aku—"

Dazai menusuk dengan lidah, membuat Chuuya mengotori koridor kayu coklat yang mengilap dengan cairan putihnya.

Dazai meninggalkan tempat indah itu dengan sebuah kecupan. Ia menurunkan Chuuya dengan perlahan, lalu membalik tubuhnya.

"Manis, Chuuya." Ucapnya seakan laporan yang menjawab wajah merona pemuda itu.

"Kau suka?"

"Tentu." Walau Dazai tidak melakukan apapun dengan dirinya sendiri, namun memakan Chuuya dan seluruh gairahnya sudah mengisi hati dengan rasa puas.

Kemudian Dazai teringat pada benda yang menjadi permulaan semua hal yang membuat Chuuya terbaring dengan precum serta rona erotis. "Kau tidak setiap saat makan permen," Ia memasukkan permen itu kembali ke mulut Chuuya. "Jangan disia-siakan."

Strawberry Candy

END