[Antagonist]

NCT belongs to themselves

"Antagonist" belongs to Lexa Alexander

Main Pair: Lee Taeyong x Ten Chittapon Leechaiyapornkul

Other Pair: Jung Jaehyun x Kim Doyoung

Johnny Seo x Moon Taeil


Jika Taeyong boleh jujur, dia tidak menyukai ide ayahnya yang mengharuskannya untuk melanjutkan sekolah menengah pertama di sekolah berasrama pilihan ayahnya. Meskipun ayahnya berkata bahwa sekolah itu adalah sekolah yang –sangat– bagus baik dari segi pendidikan dan fasilitasnya, Taeyong tetap tidak menyukainya. Alasan Tuan Lee mendaftarkan paksa Taeyong di sekolah itu adalah karena sekolah itu merupakan sekolah tempat para calon pebisnis muda dididik untuk menjadi pebisnis yang sukses di kemudian hari.

Konyol, menurut Taeyong. Kenapa harus belajar menjadi pebisnis sejak umur 12 tahun? Apakah anak-anak itu diberi pelajaran seperti mahasiswa jurusan bisnis juga? Apakah mulai belajar bisnis saat kuliah tidak cukup?

Sejak hari dimana Tuan Lee berkata bahwa Taeyong harus melanjutkan sekolah di asrama, Taeyong selalu terlibat perdebatan sengit dengan ayahnya. Taeyong terus menolak ide Tuan Lee, dan Tuan Lee, dengan kekuasaannya, tetap bersikeras menyekolahkan Taeyong di sekolah pilihannya. Namun, tentu saja protes Taeyong tidak berpengaruh pada keputusan Tuan Lee yang sejak awal memang sudah bulat. Tanpa persetujuan Taeyong –dan karena Tuan Lee sebenarnya tidak butuh persetujuan Taeyong–, Tuan Lee mendaftarkan Taeyong di sekolah itu.

Marah? Jelas.

Taeyong benar-benar marah, bahkan kata-kata penenang Ten tidak berpengaruh untuknya. Bagi Taeyong yang masih kecil, rasa marah itu hanya sebatas kebebasannya untuk bermain dan melakukan hal yang disukainya direnggut paksa. Dia tidak berpikir ke hal-hal yang lebih lanjut seperti Taeyong yang berumur 18 tahun –pikiran bocahnya belum sampai ke sana.

"Aku tidak akan bisa bermain bersamamu lagi, Ten."

Malam itu, di kamar Taeyong, dengan Ten yang menginap seperti biasanya, Taeyong mengatakan salah satu dari beberapa hal yang mengganggu pikirannya. Hari ke-enam setelah Taeyong marah besar saat mengetahui ayahnya mendaftarkannya di sekolah menyebalkan –menurut Taeyong–, sedikit demi sedikit kemarahannya reda walaupun masih menyisakan kebencian khas anak kecil di hatinya.

Ten tidak langsung menanggapi. Setelah merapikan pakaiannya di tas, dia naik ke tempat tidur dan berbaring di sebelah Taeyong, menarik selimut dan bergelung di balik selimut hangat bersama Taeyong. Tubuhnya miring ke sebelah kiri sehingga dia bisa menatap wajah Taeyong yang sedang melengkungkan bibirnya ke bawah –masih ngambek.

Melihat wajah itu, Ten tertawa kecil, "Tidak apa, hyung. Kan hanya tiga tahun? Setelah itu, kita akan sekolah di SMA yang sama, kita akan bersama lagi." Di balik selimut, Ten merapatkan tubuhnya ke arah Taeyong, memeluk sahabatnya erat. Posisi favorit Ten untuk tidur. Wajahnya merapat ke bawah dagu Taeyong, menghirup aroma tubuh sahabatnya yang wangi.

Bulan depan, Ten tidak akan bisa tidur bersama Taeyong lagi –untuk tiga tahun ke depan.

Dalam hatinya, Ten kecil juga tidak menyukai ide Tuan Lee. Ten akan kesepian, tidak ada Taeyong yang biasa diajaknya bermain atau mengobrol. Membayangkan dirinya melalui hari-hari tanpa Taeyong membuatnya sedih, hingga tanpa sadar air matanya menetes. Detik berikutnya, Ten mulai sesenggukan. "Aku akan merindukan hyung," katanya. Tangannya memeluk Taeyong makin erat, benar-benar tidak rela Taeyong pergi.

"Aku juga akan merindukan Ten." Taeyong membalas pelukan Ten.

Rasa kesal karena kebebasannya direnggut, atau tidak rela karena harus berpisah dengan sahabatnya, Taeyong tidak tahu mana yang lebih mendominasi. Yang jelas, malam itu Taeyong meyakinkan dirinya bahwa dia harus melalui tiga tahun di sekolah menyebalkan itu dengan cepat, agar dia bisa bertemu dengan Ten lagi.

Tentu saja, itu tidak semudah apa yang dibayangkan.


Taeyong tidak pernah berkunjung ke sekolah barunya. Pertama kalinya dia melihat wujud sekolah barunya adalah saat hari pertama dirinya tiba di sana untuk memindahkan barang-barangnya ke asrama. Sekolah itu memang bagus, seperti kata ayahnya. Gedung yang besar dan mewah, fasilitas yang lengkap, dan semuanya terawat dengan baik. Taeyong juga baru tahu bahwa sekolah itu adalah gabungan antara SMP dan SMA.

'Pantas saja besar sekali,' pikir Taeyong.

Tidak berhenti sampai di situ, Taeyong juga terkejut saat mengetahui bahwa dalam satu kamar, dia akan bersama 19 orang lainnya. Dengan kata lain, tiap kamarnya akan dihuni oleh dua puluh orang. Walaupun kamarnya sangat luas, Taeyong tidak yakin dirinya akan nyaman berada di sana. Dua puluh orang dalam satu kamar? Pasti berisik sekali.

Tempat tidur Taeyong ada di sudut, nomor 127, di bagian atas. Tempat tidur di bawah Taeyong masih kosong. Dalam hatinya Taeyong berharap orang yang akan menempati tempat tidur di bawahnya tidak akan berisik.

Orang tuanya pulang setelah Taeyong selesai memindahkan dan merapikan barang-barangnya. Pukul empat sore, sebagian besar murid baru sudah berada di asrama, termasuk calon teman-teman satu kamar Taeyong. Astaga, benar-benar dua puluh orang termasuk dirinya. Dua di antaranya adalah murid SMA yang katanya akan menjadi penanggung jawab di kamar Taeyong untuk dua bulan ke depan. Baiklah, setidaknya ada penanggung jawab yang akan membimbing mereka –seandainya nanti di kamarnya ada masalah.

Sekitar pukul delapan malam setelah makan malam, dua penanggung jawab itu mengumpulkan seluruh penghuni kamar untuk membahas peraturan dan hal-hal dasar lain seperti menunjuk ketua kamar dan wakilnya, juga jadwal piket. Taeyong mengikuti dalam diam, tidak banyak bicara karena dia tidak mengenal siapapun. Dia benar-benar kesepian tanpa Ten, padahal ini belum ada satu hari setelah mereka berpisah tadi siang.

"Hei."

Taeyong yang duduk di barisan paling belakang menoleh ke samping kanannya, mendapati seorang laki-laki dengan wajah teduh sedang menatapnya. Sepertinya dia yang baru saja memanggilnya. "Ya?" Taeyong membalas, ragu-ragu.

"Kau Lee Taeyong?" tanyanya, dan Taeyong hanya menangguk sebagai jawaban. "Aku Choi Seungcheol–" laki-laki itu memperkenalkan dirinya, kemudian menunjuk sudut kamar dimana tempat tidur Taeyong berada, "–aku menempati tempat tidur di bawahmu. Salam kenal." Tangan laki-laki itu –Seungcheol– terulur, mengajak Taeyong untuk berjabat tangan.

Taeyong melirik dua penanggung jawab yang masih berdiskusi dengan beberapa orang teman sekamarnya tentang pembagian jadwal piket, memastikan dua senior itu tidak melihatnya dan tidak akan memarahinya karena tidak memperhatikan sebelum dia membalas uluran tangan Seungcheol. "Taeyong. Salam kenal juga."

Laki-laki dengan bulu mata lentik itu memperhatikan Taeyong, kemudian dia tertawa, "Para senior itu tidak akan memarahimu, tenang saja," katanya, membuat Taeyong tersenyum kikuk. "Kau orang yang kaku, ya? Kau pendiam? Dari tadi kulihat kau tidak banyak bicara." Seungcheol berkomentar, sepertinya sedari tadi pertanyaan itu berputar di kepalanya.

"Ya– hanya belum terbiasa."

Ya, belum terbiasa sendirian di tengah lingkungan baru. Tanpa Ten.

"Aku juga belum terbiasa. Semua orang belum terbiasa. Tenang saja, lama kelamaan kau akan terbiasa." Tidak ada yang lucu dari perkataannya, namun Seungcheol tertawa. Taeyong jadi teringat tentang Ten yang pernah berkata padanya bahwa orang yang mudah tertawa tanpa sebab adalah orang yang kesepian. Ten membacanya dari sebuah majalah, dan Taeyong menganggap itu adalah sebuah hal yang konyol. Namun kali ini Taeyong teringat itu secara tiba-tiba.

Mungkin karena Taeyong merindukan Ten? Entahlah.

Suatu hari nanti, Taeyong akan bertanya pada Seungcheol. Kali ini, Taeyong menyimpan pertanyaan itu di kepalanya. Lagipula, dia belum benar-benar mengenal Seungcheol. Tidak sopan rasanya langsung melempar pertanyaan yang sangat pribadi seperti itu.

Taeyong mengingat ucapan Seungcheol di awal perkenalan mereka bahwa dia akan terbiasa dengan lingkungan barunya, cepat atau lambat. Namun hingga bulan ke-delapan pun Taeyong masih belum terbiasa dengan semuanya –atau lebih tepatnya, tidak nyaman. Fasilitas yang ada memang sangat bagus dan tidak membuatnya kesulitan. Kamar, walaupun ditempati oleh dua puluh orang, jika mengesampingkan keramaiannya karena banyaknya orang, itu adalah tempat yang nyaman. Semuanya melaksanakan piket dengan baik dan pertengkaran kecil selalu diselesaikan dengan damai. Ada banyak kamar mandi untuk mereka, tidak perlu mengantri lama untuk menggunakannya. Mereka tidak perlu memasak atau membeli untuk makan tiga kali sehari. Sudah ada kafetaria untuk mereka makan tiga kali sehari dengan menu yang beragam. Ada ATM jika mereka ingin mengambil uang yang ditransfer oleh orang tua mereka, bahkan minimarket yang lengkap di dalam lingkungan sekolah.

"Jadi, apa yang membuatmu tidak nyaman?"

Orang yang bisa Taeyong ajak bicara hanyalah Seungcheol.

Mungkin karena mereka dekat sejak hari pertama dan masih satu kamar setelah rolling asrama kemarin, atau karena selain satu kamar mereka juga satu kelas. Taeyong sendiri juga tidak tahu –hanya perasaannya saja yang berkata bahwa Seungcheol bisa sedikit mengerti dirinya.

Malam itu, di balkon asrama, Taeyong bercerita pada Seungcheol tentang hal yang mengganggunya. Ditemani sekaleng kopi hangat dari minimarket dan beberapa camilan lain, kedua orang itu duduk di atas dinginnya lantai, memperhatikan luasnya sekolah mereka dari ketinggian lantai tiga balkon asrama mereka. Angin dingin bertiup, namun mereka tidak berniat untuk masuk ke dalam kamar yang jauh lebih hangat.

Tangan Taeyong yang menggenggam kaleng kopi bergerak gelisah, bingung bagaimana menjelaskan hal-hal yang mengganggunya kepada Seungcheol. Sedangkan yang bertanya tadi menunggu jawaban dari Taeyong dengan santai, sesekali mengambil keripik kentang milik Taeyong, tidak peduli si empunya marah karena makanannya diambil tanpa izin.

"Kurasa, ada dua."

Mendengar Taeyong mulai menjawab pertanyaannya tadi, Seungcheol memberi atensi penuh pada Taeyong.

Dengan ragu, Taeyong berkata, "Pertama, sejak awal aku tidak berniat bersekolah di sini. Aku hanya menuruti kata-kata ayahku, lagipula aku tidak bisa melawannya." Ada jeda sejenak sebelum Taeyong melanjutkan, "Yang kedua –sebenarnya aku tidak ingin meninggalkan seseorang."

Entah hanya perasaan Taeyong, atau memang Seungcheol memperhatikannya lamat-lamat setelah mendengar alasan kedua Taeyong. Saat Taeyong menoleh ke arah Seungcheol, ternyata laki-laki itu pun sedang menatapnya. Lama-lama Taeyong risih. "Apa?" tanya Taeyong sengit.

Sebuah tepukan di punggungnya Taeyong dapatkan dari Seungcheol. Hanya sebuah tepukan, namun Taeyong merasa seolah Seungcheol mengerti perasaannya dan dia merasakan hal yang sama. Perasaan kesalnya menguap entah kemana, berganti menjadi sebuah perasaan hangat seolah dia baru saja menemukan teman yang sedikit mengerti dirinya.

"Aku merindukannya." Tanpa sadar Taeyong mengeluarkan isi hatinya yang dia pendam selama delapan bulan terakhir. Matanya menatap sendu ke arah luasnya langit malam yang saat itu cerah tanpa awan.

"Hm," Seungcheol bergumam, seolah mengerti apa yang Taeyong rasakan. "Aku juga, Tae."

Tiga kata terakhir itu membuat Taeyong menoleh dengan cepat ke arah Seungcheol. "Apa katamu?" tanya Taeyong, tidak yakin dengan apa yang baru saja dia dengar. Namun dia juga yakin dia tidak mungkin salah dengar.

"Aku juga." Seungcheol mengulang ucapannya tanpa ragu, tidak peduli saat ini Taeyong sedang berpikir keras mencari tahu apa maksud dari perkataannya.

Seungcheol menatap Taeyong, tersenyum geli saat melihat Taeyong yang mengernyitkan dahi, benar-benar berpikir keras. "Aku juga, sedikit mirip sepertimu."

"–maksudmu–seseorang–?"

Pertanyaan Taeyong tidak jelas, namun Seungcheol mengerti. "Aku tidak benar-benar ingin bersekolah di tempat ini. Ada seseorang di luar sana yang tidak ingin kutinggalkan." Seungcheol menunduk menatap kaleng kopi di tangannya dengan tatapan kosong, teringat akan seseorang. Sesaat kemudian seulas senyum tipis terbentuk di wajahnya dan dia mengalihkan tatapannya ke arah Taeyong, "Cukup mirip sepertimu, kan, Tae?"

Selama delapan bulan, Taeyong melihat Seungcheol sebagai sosok yang seolah tidak memiliki beban. Orang itu terlihat selalu bahagia, selalu menyemangati teman-temannya yang kesulitan, dan menyelesaikan masalah dengan baik. Memang, lebih baik tidak menilai buku dari sampulnya.

Siapa yang tahu ternyata Seungcheol tidak ingin bersekolah di tempat ini –seperti dirinya? Taeyong kira Seungcheol menikmati hari-harinya di sekolah ini seperti kebanyakan murid lain yang memang bersekolah di tempat ini dengan senang hati, namun ternyata Seungcheol tidak.

Untuk beberapa saat setelah itu, hanya ada keheningan di antara keduanya hingga Taeyong kembali bertanya, "Lalu, kenapa kau melanjutkan sekolahmu di sini?"

Semilir angin menerpa, membawa hawa dingin yang makin bertambah seiring larutnya malam.

"Terkadang," Seungcheol membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Taeyong, sembari mengulum senyum tipis di bibirnya, "Terkadang, kebahagiaan membutuhkan pengorbanan."

Apa itu?

"Jawabanmu sama sekali tidak berhubungan dengan pertanyaanku." Taeyong mendengus, mengabaikan Seungcheol yang tertawa karena melihat wajah kesalnya.

"Mungkin suatu saat nanti kau akan mengerti," kata Seungcheol, namun Taeyong tidak peduli dan memilih untuk menganti topik pembicaraan.

Entah karena dirinya menganggap itu tidak penting atau kesibukan di sekolah menyita sebagian besar atensinya, Taeyong melupakan sebagian besar pembicaraannya dengan Seungcheol malam itu. Ada banyak hal lain yang lebih penting yang perlu diurusnya, seperti pelajaran dan kesibukannya sehari-hari; mulai dari merapikan tempat tidur di pagi hari hingga menyetrika seragam sebelum tidur.

Taeyong tidak mengikuti ekstrakurikuler tertentu seperti teman-temannya. Selain karena tidak ada yang menarik, Taeyong merasa dia sudah cukup sibuk dengan kegiatan wajibnya sehari-hari. Waktu ekstrakurikuler di sore hari bisa dia gunakan untuk beristirahat, itu jauh lebih baik daripada menghabiskan dua jam tambahan bersama orang-orang yang bahkan tidak cocok dengannya.

Tidak cocok. Sama sekali.

Sejak awal menginjakkan kaki di tempat ini, Taeyong bisa merasakannya. Anak-anak ambisius yang tidak jauh berbeda dengan ayahnya, yang mengejar kesuksesan untuk kekuasaan, anak-anak yang sejak tarikan nafas pertamanya di dunia ini sudah memiliki daftar kehidupan yang harus dijalaninya demi ambisi orang tuanya.

Tidak jauh berbeda dengan dirinya. Hanya saja, Taeyong tidak menyukainya. Berbeda dengan anak-anak itu yang menerimanya dengan senang hati –terlanjur terkontaminasi.

"Apakah tidak ada ekstrakurikuler yang menyenangkan?" Taeyong bertanya pada Seungcheol yang sedang duduk di bangku kayu di pinggir lapangan sore itu. Seungcheol yang mendengarnya menoleh, menatap Taeyong dengan wajah bertanya. "Ekstrakurikuler apa yang kau maksud?" tanyanya tidak mengerti. Ada banyak ekstrakurikuler di sekolah mereka, mulai dari akademik hingga non-akademik seperti anggar dan shogi.

"Seni."

Jawaban Taeyong membuat Seungcheol sedikit terkejut. "Tidak ada –atau mungkin ada namun kita tidak mengetahuinya. Kenapa kau tidak mengikuti ekstrakurikuler yang lain saja? Catur, misalnya?"

Taeyong hanya akan membuang tenaganya dan tidak akan mendapatkan hasil apapun jika dia tetap mencari hal yang jelas mustahil ditemukan. Ekstrakurikuler seni –seni rupa, sastra, apapun itu. Bahkan musik sekalipun. Musik adalah pelajaran wajib di sekolah mereka dan satu-satunya pelajaran yang Taeyong sukai.

"Tidak. Catur membosankan."

"Membosankan karena kau sudah terlalu ahli dalam bermain catur." Seungcheol memutar matanya malas, teringat saat Taeyong bertanding catur melawan salah satu teman sekamarnya dan dia menang dengan mudah. "Bagaimana dengan yang akademik? Matematika? Fisika? Ekonomi?"

"Kau ingin membuatku sekarat?"

Kata-kata pedas Taeyong hanya membuat Seungcheol tertawa. "Sayang sekali tidak ada ekstrakurikuler musik atau seni rupa di sini," kata Seungcheol, membuat keheningan kembali mengelilingi mereka untuk beberapa saat setelah dia mengucapkannya. Setelah itu, Seungcheol beranjak dari duduknya sembari berkata, "Yah, kalau begitu, kurasa kita berdua tidak akan mengikuti ekstrakurikuler apapun hingga lulus, ya, kan, Tae?"

Yang diajak bicara tidak menanggapi, memandang sosok Seungcheol yang melangkahkan kakinya menjauhi tempat mereka mengobrol. Taeyong mendengus, dalam hati mengiyakan perkataan Seungcheol tentang mereka yang tidak akan mengikuti ekstrakurikuler apapun hingga lulus.

Yah, setidaknya, Taeyong mendapat seorang teman yang benar-benar memahami dirinya di sini. Taeyong rasa dirinya akan terus bersama Seungcheol untuk waktu yang cukup lama dan menghabiskan masa SMP mereka di tempat yang seperti penjara bersama, berhubung keduanya memiliki suatu hal yang cukup miripterpaksa bersekolah di SMP ini.

Namun, kenyataannya tidak seindah yang Taeyong bayangkan. []