Day 30

Forgiveness


Mr. Whore

Dari pantulan kaca jendela Chuuya tahu wajah Dazai tengah merengut di sebelahnya. Ia memang salah telah meninggalkan Pelayan kesayangannya itu sendirian di tengah pesta dan pergi bersama beberapa teman untuk negosiasi di meja billiard, tapi ia harus karena tidak mungkin membawa Dazai masuk bersama.

"Berhenti di depan," Chuuya berkata pada supir yang menepihkan mobilnya di bawah lampu jalan yang redup. Suara hujan yang menabrak atap terdengar begitu riuh dan agak menakutkan, tapi Chuuya suka dengan dingin ini.

"Kau keluar, ambil taksi dan pulang saja. Aku akan pulang dengan Dazai berdua."

"Baik, Tuan Muda." Pria berusia lima puluhan itu mengambil payung lipat dari dashboard dan keluar. Meninggalkan Chuuya dan Dazai berdua di dalam mobil yang terkurung hujan.

"Lalu?" Chuuya membuka satu persatu kancing jas, disusul rompi yang dibuang ke bawah, dan menanggalkan semua lancing kemeja. "Aku akan sulit jika Pelayanku merajuk."

Dazai tidak memberi perhatian, tangannya memilih membuka kunci mobil dan hendak keluar jika saja Chuuya tidak menahannya. "Kau ingin merendahkan Tuan-mu, Pelayan?"

Mata Dazai menatap datar, berusaha tidak terpengaruh pada pesona yang begitu memikat dari dasar samudra. "Baiklah," Kata Chuuya sembari menarik beberapa helai jingga di pipi agar tersampir di telinga.

Perlahan ia menunduk, membuka tali pinggang yang ditutup kemeja hitam milik sang pelayan. "Pelayanku memang suka jual mahal," Ia tersenyum, sebelum mendaratkan kecupan di tonjolan antara paha Dazai. Menurunkan resletingnya dengan gigi, mencuri kontak dan mendapati mata coklat yang berbinar. Senyum Chuuya semakin lebar.

Celana dalam bewarna gelap tampak kemudian, Chuuya kembali mengecupnya. Lebih dalam, lalu mulai menggunakan lidah agar sosok liar yang ada di sana terbangun. "Ahhmm.." Tonjolan bulat masuk ke mulutnya, masih berbalut celana namun Chuuya sudah menghisap. "Besar," Ia terkekeh.

"Pengecut," Kalimat menyindir yang Dazai ucap membuat Chuuya berhenti sejenak. Lancang sekali Pelayannya itu mengatai demikian, namun Chuuya hanya menyeringai.

"Kau bisa meminta, atau memaksa tanpa kata seperti biasa. Aku tidak keberatan menjadi pelacurmu asal mendapat maaf."

"Tentu saja kau tidak keberatan." Dazai menurunkan celananya sendiri, membiarkan kejantanan yang menegang dan besar berada tepat di hadapan Chuuya. Dazai menampar pipi kecil itu dengan kepemilikannya beberapa kali dan Chuuya mengeluarkan lidah untuk mencuri cecap. "Kau memang pelacurku, Tuan."

"Ya.." Mulut Chuuya terbuka lebar, berharap Dazai akan menggunakannya sebagai mesin pencuci penis besar itu, namun Dazai tidak mudah untuk didapatkan. Ia malah memasukkan telunjuk dan jari tengah, merogoh jauh ke dalam kerongkongan hingga Chuuya menutup mata. "Akhh—"

"Ah, kau ingin aku masuk ke sini kan, Tuan?"

Bukan salah Chuuya kerongkongannya merespon hingga Dazai merasa tertelan. Saliva yang perlahan keluar membasahi bibir merah tipis Tuannya, namun Dazai tetap memaksa masuk ke dalam seakan ingin membuat Chuuya muntah.

"Aahh..." Chuuya membiarkan liurnya tumpah ketika Dazai menarik mundur jarinya, mengoleskan cairan bening kental pada kepemilikannya yang ingin sekali Chuuya santap. Ia tidak sekalipun menutup mulut, menunggu Dazai menerima penyerahan itu agar menyerang.

Dan Dazai melakukannya. Dengan kasar dan sekali hentak memasukkan dan menenggelamkan seluruh miliknya ke kerongkongan Chuuya. Chuuya mengerang, melihat bagaimana benda itu keluar masuk mulutnya dengan kencang lalu menghisap.

"Ahm.." Ia memainkan lidahnya, memberi pelayanan ketika Dazai yang mengurus tempo hentakan.

"Kau pelacur," Chuuya tidak marah dengan sebutan itu. "Apa mereka juga melakukan ini di ruang billiard?"

Chuuya menahan hentakan Dazai karena tidak suka dengan kalimat terakhir. Ia meremas tangan pemuda itu, melempar tatapan tersinggung yang dibalas kekeh.

"Kau hanya milikku kan, Chuuya?" Tentu saja, Chuuya akan menjawab demikian jika mulutnya tidak penuh. "Kau hanya boleh jadi pelacurku."

Hisapan yang Chuuya lakukan memberi Dazai seluruh jawabannya. Ia membiarkan Chuuya mengambil alih permainan, menggunakan miliknya sebagai permen ataupun dot susu— segala hal yang dibayar dengan lenguh-lenguh serta nikmat.

Dazai beralih pada bagian belakang yang tertutup celana. Meraih gumpalan daging mungil yang ia remas hingga Chuuya menaikkan pinggulnya. Meminta.

Kaca jendela yang penuh rintik menjadi teman yang memantulkan bayangan bagaimana bentuk bokong itu tanpa lateks. Dazai melebarkan dengan kedua tangan, melihat bayangan goa kecil bewarna merah yang selalu ia rindu.

"Ahm—" Chuuya mendesah ketika kerutan dibelai dengan jemari yang tadi menyogrok kerongkongannya. "Pengecut."

Ia membalas sindiran Dazai, dibayar dengan hentak kasar tiga buah jari yang masuk bersamaan. "Ahh, Dazai—" Chuuya melepas ulumannya dan merintih. Tangan refleks bergerak ke belakang karena rasa perih, hal yang memancing tawa.

"Ini yang terjadi kalau aku membuang sifat pengecutku, Chuuya sayang."

"Ahh.. Ahh!" Chuuya menggelengkan kepala, terpejam ketika Dazai menusuk-nusuk tubuh dalamnya dengan kasar. "Dazai.. Ahh. Ah!"

"Oh, aku tidak memintamu mendesah," Dazai menampar bokong Chuuya dengan tangannya yang bebas. "Mulutmu punya pekerjaan lain."

Menurut, Chuuya kembali melahap kepemilikan Dazai. Membiarkan kedua liangnya menjadi mainan pemuda itu, dihujam dan dilukai, Chuuya bukan menerima namun ia sangat menyukainya. Hanya Dazai yang bisa bersikap seperti ini, tanpa hormat, memandang rendah, menjadikannya budak jalang.

"Ah, lihat lubang kecil ini terbuka." Dazai terkekeh. "Aku bisa melihatnya dari pantulan keca."

Hanya dengan seperti itu milik Chuuya begitu tegang. Ia ingin dimanjakan, berusaha meraih miliknya sendiri namun Dazai melarang. "Aku akan berhenti kalau kau menyentuh si mungil itu."

Chuuya mirintih dalam ulumannya. Hasrat yang terkumpul disana membuatnya lupa peran sebagai pelacur dan mengulum sesuai keinginan diri sendiri. "Kau selalu egois ya, Tuan Muda?"

Dengan hentakan, Dazai menahan kepala Chuuya hingga mencapai titik terjatuh kerongkongannya. Air mata berkumpul di ujung pelupuk, namun Chuuya selalu menyukai permainan kasar itu. Ia melenguh, kembali membiarkan Dazai berdenyut dan memenuhi mulutnya.

"Ah, Chuuya.." Rasa panas dan legit di dalam sana memaksa Dazai mencapai klimaks. Tangan menekan kepala Chuuya sampai menabrak rambut-rambut halus di atas kemaluan, lalu keluar. "Haha," ia tertawa. Ia menarik miliknya. Perlahan memisahkan benda yang masih keras dari mulut Chuuya, hanya untuk mengeluarkan sisanya di wajah cantik sang Tuan.

"Bagaimana rasanya?"

Chuuya menjulurkan lidah, meminta Dazai menguras sisa-sisa penetrasi agar bisa ia cecap. Cairan putih itu menodai warna merah di lidah Chuuya, di bibir tipisnya, di wajah bersemunya. Ia begitu indah dengan semen Dazai di sana.

"Vanilla," katanya asal.

Dazai mengusap cairan itu hingga membaluri seluruh pipi, "Jalang, kau manis sekali."

"Terimakasih.."

"Sekarang berbalik," Chuuya ingin lebih lama melihat Dazai, ingin lebih banyak menatap matanya namun perkataan Pelayan itu adalah mutlak. Maka Chuuya bangkit dan memutar tubuh, memberi bagian belakang untuk menjadi mainan Dazai yang baru.

Bertumpu pada kedua siku, Chuuya melihat seringai pemuda itu dari kaca. Seringai yang selalu membuat darah berdesir, bergairah, yang mampu membuat Chuuya mencapai puncak hanya dengan tatapan matanya. Astaga.

"Dazai, cepat!"

Dazai menampar bokongnya hingga ia tersentak. "Pelacur tidak boleh memerintah." Tamparan lagi, Dazai selalu menyukai respon lembut tulang belakang Chuuya yang meliuk akibat rasa sakit. Ia selalu terkekeh ketika melihat warna kulit putih itu memerah tepat setelah dihantam. Hal menawan.

Dazai mengambil posisinya, sedikit menunduk karena atap mobil yang rendah. Sesekali ia melihat cahaya dari mobil yang lewat di sisi mereka namun Dazai tidak peduli. Bukan karena hujan yang menutup pandangan, namun karena ia sangat ingin orang-orang melihat betapa indah Nakahara Chuuya, pelacurnya yang ia senggama.

"Aaahhh..." Chuuya mengalihkan rasa nikmat ketika ditancap dengan desahan panjang. Milik Dazai yang masih basah, tegang dan tebal membongkar tubuh yang berkali-kali digagahi namun senantiasa perawan. "Ah Dazai."

Chuuya menundukkan kepala, menaikkan bokongnya ketika Dazai mulai menghentak. Jika mereka berada di atas kasur bercover merah, Dazai dengan senang hati memberinya kecup di tengkuk karena penyerahan itu. Namun ruang sempit ini begitu mengganggu, Dazai sulit bergerak karena atap.

"Kau memang butuh apresiasi," Dazai menarik rambut Chuuya. Menjambak kasar dan memaksa pemuda itu melihat betapa merona wajahnya. "Kau harus lihat wajahmu." Dazai ingin melihat bayangan itu. Raut memalukan itu, yang penuh liur dan tanpa harga diri. Dazai menyukai ketika Chuuya jujur pada diri sendiri.

Chuuya terpaksa nenekuk tulang belakangnya. "Ahh... Ah—" Miliknya begitu kritis dan hendak keluar. Namun Dazai akan berhenti jika ia melakukannya.

Ketika klimaksnya dekat, Dazai semakin gencar memompa. Ia mendorong Chuuya hingga menabrak kaca, membiarkan liurnya jatuh di sana sambil menyandarkan tangan pada pintu yang terkunci.

Chuuya terkadang melihat pejalan kaki, namun ia tidak tahu harus bagaimana selain mendesah ketika cumbuan Dazai begitu nikmat.

Mobil berguncang akibat goyangan Dazai. Ia tersenyum melihat bagaimana miliknya keluar lalu menghantam pusat kenikmatan. "Chuuya.." Panggilnya.

Chuuya menolehkan wajah, memasa tubuhnya mencapai panggilan Dazai. Ciuman tercipta tidak dalam namun menyakitkan karena Dazai menggigit bibirnya.

"Ah..." Chuuya bahkan tidak bisa marah karna setelahnya Dazai menyentuh miliknya. Memaksa Chuuya menemaninya keluar bersama. Rasa sesak yang lepas, rasa hangat yang mengisi. Chuuya mendesah ketika Dazai menusuk dalam untuk mengeluarkan seluruh precum. "Ah.."

"Aku tidak mau pergi," Dazai mengaduh. "Nyaman sekali di sini."

"Kalau begitu tetap di sana," kata Chuuya mengintip dari balik pundak. "Kita hanya harus ganti posisi, kali ini aku yang di atas."

Dazai tersenyum. Dengan perlahan ia membalik tubuh mungil itu agar tidak menendang apapun di dalam mobil. Dazai juga suka melihat bagian depan, kedua puncak yang ingin sekali ia gigit lalu si mungil merah yang mudah sekali terbangun itu.

"Baiklah," Ia menarik Chuuya untuk duduk. Memancing desah karena perubahan posisi yang membuat miliknya semakin dalam tertanam.

Ketika Chuuya sepenuhnya berada di atas paha, Dazai mengelus pipinya. "Aku memaafkanmu," ucapnya mengecup darah dari bibir yang terluka. "Kali ini kau yang bermain, puaskan dirimu."

"Tentu.."

Mr. Whore

END