STRONG FATHER

Disclaimer

Naruto : masashi kishimoto

Highschooldxd : ichie ishibumi

Dan karakter lain dari anime lain

Rate : M

Genre : family, humor, romance, fantasy

Pair :

Naruto U x Big Harem

(Great Red x Kholkikos x Katerea x Serafall x Grayfia x Arturia x Yasaka x Asuna x Mereoleona x Shirahoshi x Albedo x Freya x Hancock x Chisato x Remia x Robin) x (Kalawarner x Izanami x Gabriel x Hestia x Tiamat x -- )

(Menma x Raynare x Akeno) (Gray x Kuroka) (Minato x Koneko)

Warning : fic ini hasil pemikiran sendiri, banyak kesalahan, kata tidak baku, typo, gaje, alur berantakan.

"Hello" : orang bicara

"Hello" : orang membatin

"Hello" : monster bicara

"Hello" : monster membatin

.

Peringatan sebelum membaca, chapter ini mungkin banyak typo dan kata yang kurang dan kesalahan ketik karena saya terlalu malas untuk meneliti lagi.

.

Chapter 40

.

#Skip Pagi Hari

.

Mata berkedut, sedikit gerakan terlihat. Naruto membuka matanya dengan perlahan, terbangun dari mimpinya untuk memulai awal hari barunya.

Naruto sedikit heran, saat ini ia kesusahan bergerak, badannya terasa amat-amat berat dirasa.

Berkali-kali Naruto menyipitkan matanya, ia menatap curiga selimut yang menyelimutinya, karena apa, selimut yang menyelimutinya itu terlihat mengembang, padahal kalau dipikir-pikir Naruto itu tidaklah gemuk, jadi sangat tidak masuk akal.

Srek! Srek!

Naruto tambah menyipitkan matanya saat tiba-tiba gundukan selimut itu tiba-tiba ada gerakkan. Pikirannya menebak, kalau bukan salah satu wanitanya, pasti anak-anaknya, pikir Naruto saat itu.

Kesal, kekesalan Naruto muncul, ia menggeratkan gigi-giginya serta otot-otot di lehernya tiba-tiba terlihat, seperti seseorang yang sedang mengangkat beban berat.

"HYAAAAAAAH! BANGUN KALIAN!"

WUSH!

DUBRAK! DUBRAK! DUBRAK!

Naruto langsung berdiri di atas tempat tidurnya, ia hanya memakai celana hitam pendek selutut dan kaos putih polos, seketika langsung menatap 3 wanita, Great Red, Kholkikos dan Tiamat yang terjungkal di lantai kamarnya itu.

"Au. Au. Au. Sakit..." rintih kesakitan ketiga wanita itu.

"Siapa yang menyuruh kalian tidur di sini, Ha!"

Ketiga wanita itu diam mematung, dengan gerakan robot, mereka menoleh secara perlahan ke arah Naruto.

"Na-Naru," gagap Great Red, ia kemudian memainkan jarinya. "Ka-kau kan telah me-memaafkan kami, ja-jadi kita bisa ti-tidur be-bersama lagi kan?"

"Siapa yang bilang seperti itu?"

"Ti-tidak ada,"

Tiba-tiba Naruto tersenyum, senyum serigai yang ditampilkan olehnya. Tapi senyumannya tak diketahui oleh ketiga wanita di hadapannya, karena mereka sedang menunduk.

"Karena kalian tidur di sini tanpa seizinku. Kalian harus dihukum."

Ketiga wanita itu melebarkan mata, mereka sedikit gimana gitu, saat tiba-tiba Naruto turun dari tempat tidurnya dengan senyum menawannya, sehingga mereka membayangkan adegan ranjang yang akan terjadi. Padahal itu senyum serigai yang amat-amat menakutkan, huh... Memang Naga polos sekali.

Sring!

Set! Set! Set!

"""Kyaaaaaa! Naru. Jangan diikat!"""

"Bodo amat!"

Set! Set! Set!

"Huh..."

Hancur sudah khayalan mereka bertiga, bukan adegan yang sesuai dengan difikiran mereka, melainkan kejadian amat sulit dibayangkan.

Dapat dilihat kondisi ketiga wanita itu saat ini, mereka seperti daging gulung saja. Mereka digulung dengan selimut lalu diikat menjadi satu.

"Hehe... Hukuman utama kalian akan dimulai," ucap Naruto mendekati, ketiga wanita itu terdiam, menatap curiga Naruto. "Kelemahan Naga adalah berenang kan?"

"Na-Naru, jangan bi..."

Plak!

"Mandilah sambil berenang,"

Sring!

Seketika ketiga wanita itu hilang dalam sekejap dan hanya menyisakan Naruto saja di kamar itu.

Sring!

Tak jauh ketiga wanita muncul, masih di sekitar rumahnya Naruto, tepatnya berada di halaman belakan, 2 meter di atas kolam renang.

Byuuuuuur!

"NARUUUUU! TOLONG AKU! AKU TAK BISA BERENANG!"

"SIAPA PUN TOLONG AKU!"

Orang-orang di dalam rumah langsung Sweatdrop, mereka tak percaya dengan apa yang didengarnya sekarang.

Bayangkan, sosok Naga yang Eksistensinya sangat besar dan kuat sekarang sedang berteriak memilukan, meminta pertolongan hanya gara-gara tak bisa berenang.

"What! Kuat-kuat kok ngak bisa berenang?"

.

#Skip Time

.

2 jam berlalu, 120 menit itu telah banyak dilakukan oleh keluarga ini. Mereka telah selesai sarapan bersama di rumah itu.

Anak-anak Naruto yang dewasa telah keluar rumah. Pergi ke Kedai dan ada yang pergi entah ke mana, seperti Menma dan Raynare. Mentang-mentang mendapat kebebasan selama 1 minggu, mereka gunakan untuk terus berkencan setiap hari.

Dan lagi, anggota keluarga itu telah bertambah lagi. 3 wanita Naga dan Saraph penting Surga. Great Red, Kholkikos, Tiamat dan Gabriel adalah anggota keluarga baru yang dimaksud itu.

Untuk Gabriel itu sudah jelas, dia tadi malam telah pergi ke Kyoto untuk menemui Yasaka, hanya sekedar meminta ijin darinya. Dan akhirnya dia langsung tinggal di rumah Naruto karena telah mendapatkan ijin dari Yasaka pastinya. Kalau untuk ketiga wanita Naga, itu akan menjadi urusan Naruto nantinya, entah bagaimana caranya ia memberi alasan kepada Yasaka nantinya.

"Freya-san belum pulang ya?"

Gumam Hancock memulai bersuara, dari sekian banyaknya wanita dewasa di ruang keluarga itu.

Sontak semua wanita. Great Red, Kholkikos, Katerea, Serafall, Grayfia, Arturia, Asuna, Mereoleona, Shirahoshi, Remia, Robin, Kalawarner, Izanami, Gabriel dan Tiamat. Serta satu-satunya pria di ruang itu, sang kepala keluarga, Naruto yang sedang menggendong Luffy. Semuanya menoleh ke arah Hancock.

"Siapa si, Freya itu? Apa wanitamu juga, Naru?" tanya Kholkikos penasaran, menatap Naruto.

"Jika iya. Kenapa? Kau tak terima?"

"Bukan begitu, mau bagaimana pun aku tetap wanita pertamamu bersama Red-Chan. Entah kau memiliki ratusan pun, aku tetap yang pertama, hahaha..."

Krik! Krik! Krik! Krik!

Semua terdiam, hanya suara jangkrik yang menjawab ucapan Kholkikos yang kelewat PeDe itu. Dan anehnya, Kholkikos masih saja tertawa bangga walau tak ada yang ikut tertawa maupun memujinya.

"Huh..." Naruto menghela nafas. "Jangan berpikiran seperti itu Kholki. Semuanya aku anggap sama, tak ada yang ke sekian-sekian."

"Tapi aku yang pertama, Naru. Seharusnya semuanya menghormatiku kan?"

Wajah Naruto datar, menatap Kholkikos. "Jangan keras kepala, Kholki!" bentak pelan Naruto.

"Tapi..."

"Rumah ini ada pintunya, kau bisa keluar lewat sana jika sifatmu masih keras seperti itu." Ucap tegas Naruto sambil menunjuk arah luar rumah dengan tangan kirinya.

Kholkikos terdiam, bahkan semuanya ikut terdiam. Mereka tau, ucapan sang kepala keluarga memang tak main-main. Sekali salah, maka habislah riwayatnya.

Kholkikos menunduk. "Maaf, aku tak akan mengulanginya lagi."

"Bagus. Aku pegang omonganmu."

Naruto membenarkan posisi duduk Luffy di pangkuannya. Ia menghela nafas lalu melihat sekeliling kepada para wanitanya itu. "Semua yang ada di rumah ini adalah keluarga. Tak ada istilah orang lain di keluarga ini. Semuanya sama, yang beda hanya anak-anak kita dan kita sebagai orang tua..." Semua wanitanya Naruto terdiam, mereka terus mendengarkan kata-kata pemimpin keluarga dengan seksama. "Dan kewajiban kita sebagai orang tua adalah memberikan contoh terbaik untuk anak-anak kita. Hidup rukun, saling membantu, kerja sama, saling menasehati jika ada yang salah. Itulah dasar penting keluarga yang benar. Dan aku sebagai pemimpin keluarga ini akan selalu melindungi kalian dari bahaya apapun dengan segenap jiwa dan ragaku ini sebagai taruhannya. Aku tidak peduli itu, asal keluarga ini bisa hidup tenteram dan harmonis, itu sudah membuatku senang menjalani kehidupanku. Jadi, apabila ada yang keras kepala di sini, maka maaf saja. Aku yang akan mengusirnya langsung dari rumah ini." Ucap tegas Naruto.

Semua masih terdiam, tak ada yang mau menjawab. Bagi mereka, kata-kata sang pemimpin keluarga adalah dasar panutan mereka. Dan mereka yakin, ucapan Naruto memang untuk kebaikan mereka seterusnya.

Bahkan Tiamat dan Gabriel yang nyatanya masih terbilang belum terlalu mengenal Naruto, bisa dibuat takjub dengan kata-kata bijaksananya.

Dan kata-kata itulah yang dapat membuat semua wanita di situ tak ingin hidup jauh dari Naruto. Bukan karena ucapannya tadi, melainkan keyakinan dan kemantapannya saat mengucapkannya. Membuat mereka Yakin, bahwa pria yang mereka miliki adalah pilihan terbaik yang tak ada gantinya.

.

#Skip Sore

.

Ruangan sederhana, hanya luas 6x6 meter persegi. Di situ ada Azazel yang dari tadi menggerutu sebal entah karena apa, dan Sirzech yang duduk santai tanpa terganggu suasana.

"Di mana orang yang menyuruh kita ke sini, Sir? Aku bisa mati kebosanan jika menunggu dia terus di sini," kesal Azazel.

"Aku tidak tau, jangan tan..."

.

SRING!

.

"Yo! Sudah menunggu lama?"

Ucap Naruto yang baru muncul langsung menyapa. Dengan tampang tanpa dosanya, ia melambaikan sedikit tangan kirinya, karena tangan kanannya putus.

"Cih! Cepat katakan Sialam! Kau menyuruh kami berkumpul di sini karena apa?" ucap Azazel, ia terlihat seperti orang yang tak sabaran dan terburu-buru saat ini.

Naruto tersenyum, kemudian duduk di kursi yang sudah di sediakan. "Sabar Azazel, malam pertamamu itu besok. Jangan terburu-buru." Ucapnya sedikit mengejek.

"Cih!" dan Azazel lebih memilih memalingkan wajahnya dari pada menanggapi ejekan Naruto.

"Jadi, apa yang ingin kau bahas, Naruto?" tanya Sirzech.

"Huh..." Naruto menghela nafas. "Begini, bisa kalian buatkan surat undangan untuk Aliansi kembali. 20 surat undangan,"

Azazel dan Sirzech menaikkan sebelah alisnya. ""20?"" ucap mereka bersamaan.

"Yap. 3 di antaranya untuk kalian dan Michael. Sisanya biar aku yang urus."

"Kau ingin mengundang siapa, Kampret! 20 itu banyak, bahkan Mitologi berbagai dunia saja tak sebanyak itu." Heran Azazel.

"Ada lah. Bukan berbagai Mitologi, melainkan Organisasi yang menyangkut kalian para mahkluk supranatural." Balas Naruto memberitau.

Kini Azazel dan Sirzech melebarkan mata terkejut. "Serius?" kejut Sirzech. Dan hanya di balas anggukan oleh Naruto.

"Maka dari itu, sebelum terjadi dampak buruknya nanti, aku akan menjadi penengah. Agar tak terjadi kesalahpahaman nanti ke depannya."

Sirzech mengangguk. "Baiklah-baiklah, terserah dirimu sajalah. Apa yang menurutmu benar, maka jalani saja. Aku akan segera mengurus suratnya."

Naruto pun mengangguk. Kemudian terjadi keheningan, hingga tiba-tiba Azazel menghela nafas.

"Jadi, Cuma itu saja kan yang ingin kau sampaikan?" ucap Azazel.

"Ya." Singkat Naruto.

Srek!

Azazel berdiri dari duduknya. "Aku pamit sekarang."

"Ya." Singkat Naruto, sedangkan Sirzech hanya mengangguk saja.

Azazel menyiapkan sihir teleportnya. Tiba-tiba di bawah kaki Azazel muncul lingkaran sihir. Kemudian naik secara perlahan, menghilangkan Azazel dari ruangan tersebut.

Srek!

Tiba-tiba Sirzech berdiri. "Sepertinya aku pamit juga,"

"Tunggu Sirzech."

Sirzech yang hendak menyiapkan sihir telepornya terhenti, ia menoleh ke arah Naruto.

"Minggu depan kan waktu sekolah sudah di mulai lagi. Tolong daftarkan sekolah untuk anak-anakku Gray, Mirajane, Rin, Lucy, dan Liya. Serta Robin jadikan guru sejarah." Minta Naruto.

"Huh..." Azazel menghela nafas. "Nanti akan kuusahakan. Aku juga mengurus murid baru selain anak-anakmu, asal kau tau ya,"

"Siapa?"

"Perwakilan dari Fraksi Malaikat, Irina Shido dan Shirou Emiya, mereka menjadi murid. Perwakilan Malaikat Jatuh, Azazel sendiri dan Vali, menjadi guru dan murid. Perwakilan Mitologi Shinto, Amaterasu dan Tsukoyomi sebagai guru. Perwakilan Mitologi Nordik, Rossweisse sebagai guru. Perwakilan Mitologi Olympians, Antena dan Aphrodite sebagai guru juga. Kalau untuk bangsa Yokai sudah jelas ada anakmu, Minato, ditambah dengan adanya Kuroka nantinya," Jelas Sirzech memberitau.

Naruto sedikit menaikkan sebelah alisnya, penjelasan Sirzech sangatlah rinci sehingga membuatnya sedikit berpikir mencari kejanggalannya yang dirasanya. "Tunggu dulu. Kenapa Mitologi Shinto dan Olympians malah mengajukan Dewi penting Mitologi mereka?" tanya Naruto setelah menemukan kejanggalannya."

"Aku tidak tau. Jangan tanya aku."

"Hah... Bagaimana kau ini Sirzech, hal seperti itu masa tidak tau,"

"kalau aku tau, aku sudah memberitaumu lah."

"Ya, Ya, Ya," ucap santai Naruto. "Oh ya satu lagi,"

Sirzech yang hendak menyiapkan sihir teleport terhenti lagi, ia menoleh ke arah Naruto kembali. "Apa lagi?"

"Vali dan Issei mungkin bisa masuk sekolah mulai minggu depan, aku ada urusan penting dengannya,"

"Ya, aku tau itu. Kemarin setelah kekacauan kau sudah bilang padaku. Kau akan mengExtrak Albion dan Draig ke tubuh baru, sekaligus pembuatan tanganmu itu. Iya kan?"

"Yap. Tepat sekali,"

"Kau tenang saja soal itu." Ucap Sirzech. "Aku pergi sekarang, aku juga ada kepentingan di rumah,"

"Ya,"

Sama seperti Azazel. Sirzech juga menghilang dengan lingkaran sihirnya sendiri. Dan kini di ruangan itu hanya tersisa Naruto saja.

SRING!

Tak perlu bantuan lingkaran sihir, Naruto menghilang dalam sekejap mata, dan entah ke mana tujuannya.

.

#Skip 1 Jam Kemudian (Laboratorium tersembunyi, Underword)

.

Tit! Tit! Tit! Tit! Tit!

Cessssssssssss!

2 tabung besar terbuka. Nampak di ruangan itu ada beberapa tabung terlihat. 2 tabung yang yang terbuka, serta 2 tabung lagi yang berisi Cloningan manusia yang belum berbentuk.

Naruto menoleh ke belakang, ke arah Issei dan Vali. "Kalian masuklah ke dalam situ, proses pengeXtrakkan membutuhkan 1 minggu lamanya," ucapnya.

Vali mengangguk mengerti, sedangkan Issei memiringkan kepalanya, seperti bingung akan sesuatu. Dan Naruto tau itu, sehingga ia menghela nafas.

"Kalian tak usah cemas. Walau sampai 1 minggu kalian tak makan, kalian tak akan kelaparan. Karena nanti akan disuply nutrisi untuk tubuh kalian selama 1 minggu," ucap Naruto memberitau.

Dan akhirnya Issei pun mengangguk mengerti. Tiba-tiba sayap mekanik muncul di punggung Vali, diikuti munculnya Outlet hijau di tangan kanan Issei.

"Ayah. Boleh kutanya sesuatu?" tanya Draig dari Outlet hijau di tangan Issei yang berkedip.

"Apa?"

"Apakah nanti bentuk fisik kita seperti dulu atau berubah?"

"Naruto tersenyum. "Kau tenang saja Draig. Tubuh baru untuk kalian sudah kuatur seperti tubuh dulu kalian. Termasuk jenis kelaminnya juga," balas Naruto memberitau.

"Hmm..."

Naruto menoleh ke arah sayap mekanik di punggung Vali. "Lalu, apa yang ingin kau tanyakan, Albi?"

"Sama seperti Draig. Tapi sudah di jawab tadi ya sudah, tak ada lagi yang ingin kutanyakan," balas Albion dari sayap mekanik di punggung Vali yang berkedip.

"Baiklah kalau begitu," balas singkat Naruto.

Sayap mekanik di punggung Vali dan Outlet hijau di tangan kanan Issei, semuanya menghilang. Issei dan Vali mengangguk, dengan perlahan mereka memasuki tabung itu dan rebahan, seperti orang tidur pada umumnya.

Tit!

Cesssssssssss!

Naruto menekan tombol hijau di hadapannya. Seketika tabung kaca itu tertutup dengan perlahan.

Tit! Tit! Tit! Tit!

Berbagai tombol ia pencet, seperti memprogram sesuatu. Dan benar, hasil programannya Naruto mendapatkan reaksi. Yaitu selang yang menyalur ke tabung berisi Cloningan Manusia, tiba-tiba ada cairan yang merambat ke situ. Serta tampilan layar di hadapan Naruto menampilkan gambar jam pasir yang terus berputar dan sebuah angka persen yang masih menunjukkan angka 0.

"Huh..." Naruto menghela nafas. Setelah semuanya beres, ia beranjak dari tempat itu.

Tak jauh dari tempat tadi Naruto, ia pindah dan sekarang sedang menatap sebuah Aquarium sedang yang di dalamnya ada sebuah tangan buatan berwarna putih polos.

Sama seperti tempat tadi, di depan Aquarium juga ada layar dengan gambar yang sama persis seperti tadi, Cuma bedanya pada angkanya saja, yaitu menunjukkan angka 14.

Setelah puas mengamatinya, Naruto beranjak dari tempat itu, langsung menuju tembok ruangan yang ada tombol merahnya.

Tit!

Naruto menekan tombol itu, tiba-tiba tembok ruangan itu bergeser. Seperti sebuah pintu rahasia yang menghubungkan ke ruangan lain di situ. Dan akhirnya Naruto melangkah masuk pintu rahasia itu, dan seketika tembok itu kembali bergeser, menutup secara otomatis.

Dapat dilihat, tempat Naruto berada ternyata ruangan yang penuh buku-buku yang tersusun rapih di rak buku. Serta sebuah meja di pojok ruangan yang penuh kertas coretan-coretan kanji rumit hasil tangan Naruto.

"Huh..." Naruto menghela nafas pasrah. "Tempat ini tak berubah sama sekali. Penuh rumuh-rumus Hiraishin gagal dan lain sebagainya," gumam Naruto.

"Coba kau ingat, Gaki. Kapan terakhir kau meneliti rumus pindah Dimensi," tiba-tiba Kurama bersuara, dan langsung bertanya.

Naruto memegang dagunya, ia sedang mengingat-ingat. "Kalau tidak salah, sudah 25 tahun." Ucapnya.

"Dan sepertinya kau lupa akan tujuan awalmu setelah banyak wanita menghampiriku."

"Tidak seperti itu, Kurama. Aku masih memikirkannya kok, cuman belum menemukan jalan keluarnya saja."

"Kau itu selalu menggampangkan sesuatu tindakan,"

"Hehe... Itu sudah menjadi ciri khasku, Kurama."

"Hmm..."

Terjadi keheningan, tak ada yang bersuara. Hanya suara langkah kaki Naruto yang hendak menaiki tangga menuju ke arah atas.

.

#Skip Keesokan Harinya (Siang)

.

SRING!

.

Tiba-tiba Freya dengan Gaun putih panjang muncul di ruang keluarga. Dan langsung terkejut karena adanya Great Red, Kholkikos, Tiamat dan Gabriel di rumah itu. Tapi keterkejutannya tak lama, ia langsung menoleh ke arah satu-satunya pria di ruangan itu.

"Naru-kun, acaranya sebentar lagi akan dimulai," ucap Freya.

Naruto tau itu, acara yang dimaksud Freya adalah pernikahan Azazel dan Hel yang diselenggarakan hari ini.

Srek!

Naruto berdiri. "Baiklah, baiklah. Tunggu sebentar." Ucapnya sambil melangkah ke kamarnya. Begitu juga Freya yang ikut bergabung dengan wanita yang lainnya, sambil menunggu Naruto berganti pakaian.

Naruto terhenti langkahnya tepat di bibir pintu kamarnya, dan langsung menoleh ke belakang. "Oh ya Freya. Mungkin Sting mau ikut, dan sekalian ajak anak-anak yang lainnya juga, siapa tau ada yang mau ikut juga." Ucapnya kepada Freya.

Freya mengangguk. "Baik Naru-kun,"

Dan Naruto kembali masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian.

"Jadi kau yang bernama Freya ya?" tanya Kholkikos setelah Naruto memasuki kamarnya.

Sontak Freya langsung menoleh ke sumber suara. "Benar. Anda siapa ya?" bingung Freya. Ia bingung dengan 3 wanita di situ, sedangkan untuk Gabriel ia sudah tau dari dulu.

Kholkikos tersenyum. "Perkenalkan, aku Kholkikos. Wanita per..."

Ctak!

Great Red tiba-tiba menjitak kepala Kholkikos. "Jangan sebutkan yang terakhir, Baka-Kholki!" bentaknya. Kemudian Great Red menoleh ke arah Freya. "Maafkan ini orang. Dia memang suka keceplosan." Ucap Great Red.

Tak ada jawaban dari Freya. Hanya mata yang terbuka sangat lebar karena terkejut. Ia tau, nama tadi adalah istri Naga Naruto yang pernah di ceritakan oleh Serafall dan Grayfia dulu.

"Ah, aku lupa. Aku Great Red. Dan ini di sampingku Tiamat." Sambung Great Red memperkenalkan diri sambil menunjuk Tiamat di sampingnya.

Freya tambah terkejut. Itu berarti 2 istri Naganya Naruto telah hadir. Tapi ia sedikit bingung, pikirannya bertanya-tanya atas adanya sosok Tiamat.

Dan Great Red tau kebingungan Freya, sehingga ia tersenyum sambil menunjuk Tiamat. "Jangan terlalu dipikirkan soal Naga ini. Dia ini hanya Naga numpang yang mengaku-ngaku Mate-nya adalah Naru-kun," ejeknya kepada Tiamat.

"Pfffft!"

Semua wanita di situ menahan tawa. Freya hanya mengangguk mengerti. Kalau untuk Tiamat jangan ditanya, dia menggeratkan gigi-giginya karena kesal, ejekan Great Red terlalu menusuk perasaannya.

"Hey! Aku tidak mengada-ada ya. Tanda Mate-ku ini muncul setelah pertemuanku dengan Naru! Asal kalian Tau!" kesal Tiamat membentak Great Red.

Great Red menutup mulutnya, ia menatap aneh Tiamat, dan berkata. "Masa," ejeknya.

"Kau!!!!!!"

.

#Skip Time (Valhalla, Asgard)

.

"Huh..." Naruto menghela nafas, dan itu sudah ke 7 ia menghela nafas. Pasalnya ia dari tadi mengira hanya 2 atau 3 anak-anak termudanya yang ikut, tapi. "Kenapa anak-anakku banyak yang ikut," batinnya.

Dan benar, di ruangan yang penuh akan Dewa-Dewi Nordik, di situ ada beberapa anak-anaknya Naruto yang terlihat.

Kunou, Shuna, Sting, Luna, Hinami dan Myu. Itu anak-anak Naruto yang ikut. Mereka semua terus berlari kesana-kemari, sehingga menjadi bahan perhatian banyak orang di ruangan itu.

"Anak-anakmu terlihat semangat sekali ya, Naruto."

Naruto dan Freya langsung menoleh ke samping kiri. Ternyata Haimdal yang sedang menghampirinya.

"Ha... Ha... Ya seperti itulah anak-anakku. Hehe..." balas Naruto kikuk.

.

""STING!""

.

Semua orang langsung menoleh ke arah pintu keluar ruangan itu. Di situ ternyata ada Thor bersama istri dan 2 anak perempuan berambut kuning yang seumuran dengan Sting, dan yang tadi berteriak memanggil Sting.

Sting yang merasa dipanggil langsung tersenyum lebar. "LORA! THRUD!" teriak Sting setelah tau siapa yang memanggilnya tadi.

Bocah yang dipanggil oleh Sting langsung menghampiri Sting.

"mentang-mentang sudah bersama ayahmu, kau jadi lupa saudaramu ini ya Sting," ucap Lora.

"Ya begitulah, di sana jauh lebih menyenangkan, hehe,"

"Hah! Kau ini,"

tiba-tiba dari belakang Sting nampak Kunou, Shuna, Hinami dan Myu menghampiri. "Kau berbicara dengan siapa, Sting-kun?" tanya Kunou.

"Ah Kunou Nee-san, Shuna Nee-san, Hinami-Chan, Myu-Chan." Kejut Sting. "Ini Saudaraku di sini, namanya Lora dan Thrud. Putri dari Paman Thor," sambung Sting memperkenalkan mereka kepada saudara-saudaranya.

""Salam,"" sapa Lora dan Thrud bersamaan.

"Salam juga," balas saudara-saudara Sting menyapa juga secara bersamaan.

.

Sedangkan di sisi lain, Thor dan Shiff langsung menghampiri tempat Naruto berada.

"Huh... Mereka itu," gumam Naruto sambil terus memperhatikan anak-anaknya.

"Ya seperti itulah, Sensei. Jika mereka sudah bertemu," ucap Thor membalas gumaman Naruto. Mata Thor melirik ke arah tangan kanan Naruto yang tak ada. "Ngomong-ngomong Sensei, itu tangan Sensei kenapa bisa sampai seperti itu?" tanya Thor sambil menunjuk arah yang dilihatnya.

"Dari tadi aku juga ingin bertanya sepertimu Thor," timpal Haimdal.

Naruto mengangkat lengan kanannya. "Banyak hal yang terjadi," ucapnya, lalu menoleh ke arah Freya. "Iyakan, Sayang?"

"i-iya, banyak hal yang terjadi," ucap Freya sedikit kikuk.

Ia sebenarnya terpaksa menjawab seperti itu, walau sebenarnya ia juga tak tau penjelasan kenapa tangan Naruto bisa terputus. Karena penjelasan dari wanita-wanita di rumah hanya menjelaskan tentang 3 wanita Naga yang berada di rumah, dan penjelasan tentang tangan Naruto belum sempat sepenuhnya selesai, karena buru-buru datang ke Asgard atas perintah Naruto tadi.

Thor dan Haimdal menyipitkan matanya. "Hmm... Meragukan," ucap mereka berdua.

"Hehe,"

"Sudah-sudah. Acaranya mau dimulai tu," ucap Shiff. Sontak Naruto serta yang lainnya langsung menoleh ke arah yang di maksud Shiff.

Di sana, di panggung altar pernikahan nampak Azazel dengan Tuksedo berwarna putih, serasi dengan celana panjang warna putih. Apalagi hiasan bunga mawar di dada kirinya yang di selipkan di saku Tuksedonya, menjadi nilai plus-plus untuk penampilan mempelai prianya.

Di sisi lain, di pintu masuk ruangan itu nampak Hel dengan gaun pengantin berwarna putih, ditambah sebuket bunga di genggaman tangannya yang diposisikan di depan dadanya. Hel tidak sendirian, ia didampingi Frigg dan Odin di samping kiri dan kanannya.

Banyak pasang mata yang tertuju padanya. Langkah anggun Hel yang nampak biasa saja, walau dalam hatinya sangan gugup, ia terus berusaha mempertahankan posisinya seperti itu, berharap rasa gugupnya itu tak mengacaukan acaranya itu.

Dan akhirnya langkah anggun Hel pun sampai di altar pernikahan, ia sekarang berhadapan dengan Azazel, dan di dekat mereka ada seorang penghulu yang mendampinginya. Sedangkan Odin dan Frigg, mereka sudah tak mendampingi Hel lagi, mereka sekarang duduk di barisan paling depan yang dekat dengan panggung Altarnya.

"Bisa kalian berpegangan tangan," ucap sang penghulu.

Tak bersuara, Azazel dan Hel hanya mengangguk saja, lalu melakukan instruksi dari pehulunya, dengan kedua tangan mereka saling berpegangan. Dan sang penghulu pun membuka buku yang ia pegang dari tadi.

Sang penghulu menoleh ke arah Azazel. "Wahai sang mempelai pria, apakah kau bersedia hidup semati bersama dengan wanita di hadapanmu. Sedih maupun senang akan selalu bersama," ucap sang penghulu.

"Saya bersedia." Balas mantap Azazel tanpa keraguan sedikit pun.

Sang penghulu menoleh ke arah Hel. "Wahai sang mempelai wanita, apakah kau bersedia menjadi pelengkap kehidupan pria di hadapanmu. Sedih maupun senang akan selalu bersama," ucap sang Penghulu.

"Saya bersedia." Balas mantap Hel tanpa keraguan sedikit pun.

Sang penghulu menutup bukunya, ia mundur satu langkah ke belakang. "Sekarang kalian resmi menjadi sepasang suami istri. Dan kalian boleh berciuman sekarang." Ucapnya.

Blusss!

Wajah Azazel dan Hel langsung bersemu merah, mereka malu. jelas malu lah, adegan ciuman yang ditonton banyak orang di situ, siapa saja pasti malu kalau berada di posisi Azazel dan Hel sekarang.

"AYO AZAZEL! CIUM HEL SEKARANG!"

Teriak Naruto yang berada di deretan tengah orang-orang yang berada di situ. Azazel langsung menoleh ke arahnya, dan langsung kesal. Karena Naruto berteriak sambil menunjukkan senyum ejekannya itu yang bikin Azazel kesal dalam hati.

"CIUM! CIUM! CIUM! CIUM!"

Ditambah teriakan dari orang-orang. Sudah deh, membuat Azazel kesal plus malu yang dobel-dobel karena suasana itu.

"Ji-jika kau tak ingin melakukannya, tak masalah bagiku," ucap Hel, wajahnya sudah sangat merah karena malu yang luar biasa saat ini.

Dengan cepat Azazel langsung memegang bahu Hel. "Kita lakukan." Ucap cepatnya.

Hel hanya mengangguk pelan saja. Ia memejamkan matanya dan memanyunkan bibir renunnya itu Azazel pun begitu, ia mendekatkan wajahnya ke arah wajah Hel.

Entah apa yang mereka rasa, detak jantung yang begitu kencang, menandakan bahwa mereka sama-sama gugup untuk melakukan adegan Ciumannya.

Nafas Hel telah terasa di kulit wajah Azazel, bibir mereka sudah dekat, dan Azazel langsung memejamkan matanya.

.

Cup!

.

#Skip Time (Malam)

.

Waktu cepat berlalu, kini hari sudah berganti malam dan suasana tempat pernikahan Azazel dan Hel tadi masih saja ramai.

Walau dilihat dari mana pun pernikahan memang singkat, tapi acara pestanya itu yang paling lama.

Seperti malam ini, Naruto sedang menikmati pesta acaranya. Sambil mendengarkan alunan musik irama Clasik, Naruto isi dengan mengobrol dengan orang-orang di situ. Seperti Odin, Frigg, Thor, Shiff, Haimdal, Tyr, Freyr saudara kembar Freya, serta Freya yang setia berada di sampingnya sejak tadi. Dan anak-anaknya Naruto masih berkeliaran di ruangan itu bersama anaknya Thor, jadi Naruto tak perlu repot-repot mengawasinya.

Disela-sela obrolannya, tiba-tiba Naruto menoleh ke arah Freyr. "Freyr. Babi peliharaanmu buatku saja ya?"

"Tidak. Itu peliharaan kesayanganku." Balas cepat Freyr.

"Ayolah Freyr. Anggap saja sebagai hadiah untuk kakak iparmu ini,"

"Tidak. Aku bilang tidak ya tidak." Ucap Freyr masih kukuh dengan pendiriannya.

"Ayolah," bujuk Naruto mode blink-blink.

"TIDAK!"

"HAHAHAHAHA!"

Dan akhirnya orang-orang di situ tertawa, mereka semua tau, Naruto memang sedang menjahili Freyr dengan bujuk mautnya itu, semuanya mengakui itu.

Di sisi lain, nampak dari kejauhan terlihat Rossweisse bersama dengan pria dewasa di sampingnya. Mereka entah dari mana, dan baru terlihat sejak tadi siang.

Rossweisse melihat ke arah rombongannya Naruto berada. Tangannya terangkat dan melambai.

"FREYA-SAMA! NARUTO-SA..."

Teriakan Rossweisse tak selesai, ia langsung menoleh ke samping. Ke arah pria yang tiba-tiba memegang tangannya itu. "Ada apa si, Vidar-sama?" tanya Rossweisse.

"Kau itu tunanganku, dan kau harus ikut denganku sekarang." Ucap datar pria bernama Vidar itu langsung menyeret paksa Rossweisse ke lain tempat.

Kejadian itu juga sempat dilihat oleh Rombongannya Naruto tadi, karena tadi mereka masih sempat mendengar teriakan Rossweisse yang memanggil Freya.

"Kasihan Rossweisse, pasti Vidar selalu kasar terhadap Rossweisse," gumam Freya.

Sontak semuanya menoleh ke arah Freya, atas gumamannya yang terdengar oleh mereka di situ.

"Huh..." helaan nafas pun tercipta dari mulut Naruto. "Itu sudah menjadi urusan mereka. Kita tak berhak ikut campur urusan mereka," ucap Naruto.

Sontak Freya menoleh ke arah Naruto. "Tapi..."

"Yang dikatakan Naruto ada benarnya, Freya." Ucap Frigg, memotong cepat ucapan Freya.

Freya pun menoleh ke arah Frigg. "Tapi Okaa-san. Rossweisse itu wanita, tak seharusnya dikasari seperti itu," Freya kembali menoleh ke arah Naruto. "Benar kan, Naru-kun?"

"Huh..." Naruto menghela nafas, ia memijit pelipisnya dengan tangan kirinya, lalu kembali tenang. "Yang kau katakan menang benar, Freya. Tapi."

Semuanya menoleh ke arah Naruto, memasang telinga untuk mendengarkan ucapan kelanjutannya. "Jika apa yang dilakukan Wanita itu terlihat buruk di mata orang-orang, kita berhak mengasarinya, dengan cara menegurnya. Seperti diriku, yang berhak mengasarimu, Freya. Jika kau berbuat salah atau merugikan orang lain."

Berbagai macam Ekspresi yang ditampilkan orang-orang di situ setelah mendengar ucapan Naruto. Seperti para wanita yang diam menunduk, dan para pria mengangguk-angguk, menyetujui ucapan Naruto tadi.

Entah kenapa Odin tersenyum. "Dengarkan ucapan menantumu itu, Frigg. Pria berhak mengasari wanita lo," serigai Odin.

Frigg terdiam, wajahnya berubah datar, lalu menatap tajam Odin. "Jadi kau ingin mengasariku, Odiiiiiiiiiiiiiiin." Ucapnya penuh penekan.

Odin berkeringat dingin. "Ti-tidak sayang, aku tidak akan mengasarimu, hehe." Ucapnya kikuk.

"Bagus." Frigg langsung bersedekap dada dan memalingkan wajahnya ke samping.

Sweatdrop, semuanya yang di situ Sweatdrop melihat percekcokan Absurd Odin dan Frigg di depan mata mereka. Sungguh terlihat aneh percekcokan mereka, dilihat dari mana pun tetaplah aneh pokoknya. Tapi tak apalah, hiburan gratis jangan disia-siakan, kan sayang.

.

#Skip 2 Hari kemudian (Minggu, Sore)

.

Seperti hari biasa, Yasaka akan datang pas hari minggu. Itu terlihat saat ini Yasaka sedang berkumpul dengan wanita-wanita dewasa lainnya. Mereka semua terlihat sedang beres-beres, seperti akan pergi ke suatu tempat yang amat jauh.

Walau saat kedatangan Yasaka di pagi hari langsung terkejut karena adanya 3 wanita Naga di rumah itu. Tapi sang suaminya telah menjelaskannya, dan Yasaka oke-oke saja atas keputusan suaminya. Ya jelas oke, karena suaminya telah berbisik 'Jatahmu akan kuberi lebih, sayang.' Begitu bisiknya. Otomatis Yasaka langsung menyetujuinya, karena mau bagaimana pun ia tau apa maksud dari bisikan suaminya itu.

Dan terlihat sekarang, para wanita dewasa nampaknya telah selesai beres-beresnya, dan hanya satu-satunya pria dewasa di situ yang membantu mereka beres-beres, siapa lagi kalau bukan Naruto.

Mereka berdiri, saling merapat dan langsung menoleh ke arah anak-anak mereka yang berkumpul sambil terus memperhatikan kegiatan orang dewasa di situ.

"Okaa-san tinggal ya, tolong jaga rumah dengan baik," ucap Yasaka, dan dijawab anggukan kepala semua anak-anak Naruto.

Robin melangkah ke depan, ke arah Olive yang menggendong Luffy. Ia mengusap lembut kepala Luffy. "Jangan nakal di rumah ya, Sayang. Mama hanya pergi sebentar kok," ucapnya lembut.

"Whawhawhawhawha..."

Robin langsung tersenyum. "Anak Mama memang pintar,"

"Whawhawhawhawha..."

Robin hanya mengangguk, untuk menjawab celotehan Luffy yang begitu semangat. Kemudian Robin menoleh ke arah Olive. "Olive-Chan, Tolong jaga Luffy ya. Dan semua adik-adikmu juga, Oke."

"Hai. Robin Kaa-san."

Robin tersenyum kembali, ia kembali mundur ke belakang, bergabung dengan para wanita dewasa yang lainnya.

Kini giliran Naruto yang menoleh ke arah anak anaknya. "Olive. Menma. Naruko. Vivi." Panggilnya kepada beberapa anak-anaknya.

Sontak yang merasa dipanggil sedikit maju ke depan. """"Hai. Otou-san,"""" ucap mereka berbarengan.

Naruto menatap mereka satu persatu. "Kalian lebih besar di sini, tolong jaga adik-adik kalian,"

Olive, Menma, Naruko dan Vivi mengangguk. Dan Naruto senang melihat itu.

Setelah merasa tak ada perlu lagi, Naruto menoleh ke arah Yasaka. "Kita bisa pergi sekarang,"

Yasaka pun mengangguk, kemudian menyiapkan sebuah sihir teleport yang mencangkup rombongan wanita dewasa di situ, beserta Naruto itu sendiri.

.

SRING!

.

Para orang dewasa pun menghilang, kini hanya menyisakan anak-anaknya Naruto saja di ruangan itu.

"Huh..." Naruko dan Vivi menghela nafas. Mereka berdua dan Olive terlihat lesu. Tak ada yang berucap setelah itu, anak-anak Naruto lebih memilih melakukan aktivitas mereka masing-masing.

.

#Skip Pulau X

.

Jauh di tengah-tengah samudera Pasifik, di situ terdapat sebuah pulau yang luasnya hanya 100 meter persegi saja.

Pulau itu sangat tersembunyi, bahkan di Atlas dunia pun tak tercantum nama pulau itu. Itu karena pulaunya terlindungi Kekkai mistis, sehingga manusia biasa tak akan bisa menemukan keberadaannya.

Dengan luas rerumputan yang memenuhi pulau itu, serta pantai yang serasa di Hawai. Dapat membuat siapa pun tak mau pergi dari pulau itu.

Tapi ketahuilah, walau pulau tersembunyi. Di tengah pulau itu terdapat sebuah Villa sederhana yang mengarah ke pantai.

.

SRING!

.

Dan ternyata pulau itu adalah tujuan Naruto dan para wanitanya. Mereka seketika muncul di ruang tengah Villa itu.

Naruto terdiam sejenak, melihat sekeliling ruangan itu. "Hmmm... Walau sudah kutinggal lama, Villa ini tak berubah sama sekali." gumamnya.

Karena tak ada yang menyahuti gumamannya, Naruto lebih memilih melangkah ke dapur Villa itu, ia merasa haus. Tanpa diketahui oleh Naruto, para wanitanya mengikuti Naruto dari belakang dengan tatapan nyalang, seperti predator yang siap menerkam mangsa di depannya.

Tiba-tiba langkah Naruto terhenti tepat di bibir pintu dapur, badannya menggigil. Sontak ia langsung menoleh ke belakang. Dan ia langsung berkeringat dingin.

"Ja-jangan sekarang, na-nanti malam saja,"

Takut Naruto, tapi para wanitanya malah semakin mendekati Naruto dan masih dengan tatapan nyalangnya itu, tiba-tiba.

.

GREP!

SET! SET! SET!

"JANGAN TARIK CELANAKU! HUAAAAAAAA!"

SET! SET!

"JANGAN DIPE... Uhhhh,"

.

Sungguh kejadian yang sulit di bayangkan, entah kesialan atau keberuntungan yang menimpa Naruto.

Para wanita dengan kompak mengeroyok Naruto, bukan mengeroyok memukuli Naruto, melainkan menelanjanginya. Bahkan sekelas Malaikat seperti Gabriel juga ikut bergabung mengeroyok Naruto.

Kini Naruto terpojok, hanya celana boxser saja yang melekat di tubuhnya. Ia sedang berkeringat dingin, membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya ketika melihat para wanita di hadapannya sedang melucuti pakaian mereka masing-masing.

.

"Mampus aku."

.

.

End

.

Yo! Dengan saya, story liarku, HAHAHAHA!

.

Hidup dibikin senang saja. Tak perlu banyak mikir. Ikuti jalan kehidupan saja.

Lihatlah apa yang ada di sekitarmu, kau akan menemukan berbagai macam bentuk kehidupan. Seperti Mimpi, yang tak mungkin sama di setiap orang-orang.

Seperti diriku, yang selalu semangat menjalani kehidupan. Selalu berusaha menghibur kalian lewat sebuah karya. Walau terkadang apa yang kusampaikan sangat sulit dipahami.

.

Oke. Arc selanjutnya Arc Time Skip : Arc ini menceritakan sedikit gambaran masa lalu Naruto di Dimensi Elemental Nation dan penyebab Naruto terlempar ke Dimensi DxD.

Jujur saja, jika mengikuti alurnya, maka Arc selanjutnya itu Lemon. Dan saya tak bisa bikin Lemonnya, jadi kuganti dengan Arc Masa lalu Naruto. Semoga kalian tak kecewa.

.

Oke itu saja, Lanjooooooot!

.

#List urutan dari yang tertua.

1. Draig & Albion (alive, ratusan tahun) : [Great Red & Drakon Kholkikus] (dxd & Mitologi Georgia)

2. Olive (alive, 26 tahun): [Katerea Leviathan Pernah] (dxd)

3. Menma (alive, 24 tahun): [Katerea Leviathan Pernah] (dxd)

4. Naruko (alive, 19 tahun): [Serafall Leviathan Pernah] (dxd)

5. Vivi (alive, 19 tahun): [Grayfia Lucifuge Pernah] (dxd)

6. Rin (alive, 17 tahun): [Serafall Leviathan Pernah] (dxd)

7. Gray & Mirajane (alive, 17 tahun): [Grayfia Lucifuge Pernah] (dxd)

8. Lucy (alive, 16 tahun): [Arturia Belum] (Saber Fate/Stay Night)

9. Minato (alive, 16 tahun): [Yasaka Masih](dxd)

10. Liya (alive, 15 tahun): [Asuna Belum] (SAO)

11. Leo (alive, 14 tahun): [Mereoleona Varmilion belum] (Black Clover)

12. Kunou (alive, 12 tahun): [Yasaka Masih] (dxd)

13. Shuna (alive, 12 tahun): [Shirahoshi masih] (One Piece)

14. Sting (alive, 11 tahun): [Freya Belum] (Amuryllis Asmodeus dari Mairimashita! Iruma-kun ver rambut kuning)

15. Luck (Die karakter, 10 tahun): [Albedo] (Overlord)

16. Luna (alive, 10 tahun): [Boa Hancock Belum] (One Piece)

17. Hinami (alive, 8 tahun) : [Itori versi rambut coklat, die karakter] (Tokyo Ghoul)

18. Kuroe (alive, 5 tahun) : [Chisato Hasegawa belum] (Shinmai Maou no Testament)

19. Myu (alive, 4 tahun) : [Remia belum] (Arifureta)

20. Luffy (alive, 8 bulan) : [Nico Robin belum] (One Piece setelah time skip)

Note : untuk no 1 sampai 7 hanya umur sesuai fisik yang terlihat, karena umur no 1 sampai 7 jauh melebihi catatan (biar enak membayanginya). Kalau no 8 dan seterusnya itu umurnya sudah sesuai.

.

See you next chap...