Rat slayer chapter 30
Napasnya memburu sedangkan wajahnya begitu panik, sebab melihat orang yang digendong olehnya masih dalam keadaan tidak sadarkan diri. Dia masih tidak tahu, trik seperti apa yang dilakukan oleh samurai tersebut sampai-sampai membuat adiknya seperti ini.
"Kuso apa yang terjadi padamu, Ravel!" ucap Raiser.
Kemudian dia berhenti tepat di depan sebuah tempat penangkaran hewan buas, segera dia meletakan adik perempuannya dengan hati-hati. Lalu mengambil kunci yang diberikan oleh pemuda samurai itu.
Dengan tergesa-gesa dia menggunakan kunci tersebut untuk membukanya, saat gembok itu terbuka dia segera membuka pintu. Tubuhnya bergegas masuk sambil berteriak-teriak memanggil anggota partynya.
"Yubelina! Karlamine! Li! Yue! Dimana kalian!" teriak Raiser.
Saat mendengar teriakan masternya para korban yang disekap Naruto, segera berteriak agar ketuanya bisa menemukan mereka.
"Ketua kami di sini! di atas sini!" ucap salah seorang bawahannya.
Ketika panggilannya mendapat respon segera dia mengangkat kepala ke atas untuk melihat keadaan partynya, namun alangkah terkejutnya dia. Sebab semua anggota party itu malah dengan santainya makan buah-buahan bersama dengan monster yang ada di sana, bahkan Yubelina sedang memanjakan Sabertoth yang terkenal karena keganasannya.
"Kurasa aku terbawa suasana sampai lupa kalau Yubelina adalah Beast Tamer. Kuso! rasa khawatirku pada mereka ternyata sia-sia," gerutunya kesal.
"Ketua kemarilah! Ada banyak makanan di sini kau bisa makan sepuasnya!" teriak Yue.
"Ya lakukan sesukamu. Aku harus mengurus adikku!" balas Raiser
Mendengar ketua partynya mengatakan itu mereka semua segera turun dengan wajah panik, ketika kaki mereka mendarat di tanah pertanyannya beruntun menyerang Raiser.
"Apa yang telah terjadi?" tanya Yue.
"Ada apa dengan Ravel sama?" tambah Yubelina.
"Apa dia baik baik saja?" Ucap Karlamine.
"Aku ingin melihatnya?" ujar Li.
Sudut pelipisnya bergetar ketika mereka menanyakan itu, dia buru-buru datang kemari karena khawatir. Namun yang dia temukan, mereka malah sedang makan-makan bersama hewan buas ini. Kekhawatiran dia melonjak karena melihat adiknya roboh sebab ditatap oleh pemuda samurai itu.
"Cih rasa khawatirku pada kalian sia-sia!" balas Raiser acuh.
Dengan segera Raiser berbalik meninggalkan mereka, tujuannya saat ini adalah melihat keadaan adiknya yang masih belum sadar. Para anggota partynya pun segera membuntutinya. Ketika mereka sampai di tempatnya meletakan Ravel, keeadaannya sudah membaik lalu Raiser segera memeluk adiknya.
"Imoutouku kau tidak aoa-apa apa? kau sudah baik-baik saja?" ucapnya khawatir.
Mendapat perlakuan seperti itu, semburat pink muncul di pipi Ravel segera dia mendorong sang kakak hingga terpelanting. Seluruh anggota party tersenyum saat melihat apa yang terjadi pada sang ketua party.
"Tehehe dasar siscon!" ucap Karlamine.
"Melihat iteraksi mereka sangat lucu!" tambah Yue.
"Tehehe!" Tawa mereka yang tersisa.
Ketika itu Ravel sadar dengan apa yang baru dilakukan pada kakaknya, saat dia melihat keadaan Raiser. Sang kakak tersungkur dengan pantat yang menungging ke atas. Tentu itu mengundang tawa untuknya.
"Ahaha oni-sama apa yang sedang kau lakukan di sana!" ucapnya tanpa dosa.
Raiser menggertakan gigi tidak menyangka itu adalah ucapan yang diberikan oleh adiknya, setelah membuatnya jatuh tidak elit seperti itu. Apalagi seluruh anggotanya melihat kedaan memalukan dirinya, serta menertawakannya kehormatan sebagai ketua party jatuh.
"Sialan kau Ravel, bisa-bisanya kau berkata seperti itu setelah Ni-samamu ini mengkhawatirkanmu!" ucapnya dengan raut kesal.
Raiser bangkit dari posisinya dan meyedekapkan tangan di dada, kepalanya dia ke sampingkan dengan cepat sambil mendengus. Kali ini Ravel sweatdrop karena tidak menduga kakaknya menggunakan mode ngambek, tapi dia punya satu solusi agar kakaknya bisa kembali baik padanya.
"Oni-chan! Apa marah padaku!" ucap Ravel dengan imut.
Raiser berusaha sekuat tenaga agar gairah sisconnya terkendali, dia paham kalau ini trik yang digunakan Ravel agar dia berkata 'tidak apa-apa lain kali jangan diulngi lagi!' dengan senyum. Dia mencengkeram bisepnya kuat agar tidak goyah.
'Eh dia tidak terpengaruh!' batin Ravel.
"Woah Tuan raiser tidak menanggapi seperti biasanya, apa dia benar-benar marah!" ucap Karlamine.
"Kalau seperti ini bisa gawat," ucap Yue
"Kita juga akan kena imbasnya," tambah Li
"Nona Ravel lakukan sesuatu!" pinta Yubelina.
Para anggotanya mulai khawatir sebab sang ketua ngambek betulan, sedangkan Ravel yang mendengar anggota party bergantung padanya dengan mudah mendecih ke arah mereka.
"Oi aku juga kesulitan di sini. Setidaknya kalian bantulah diriku untuk membuat moodnya baik kembali," balasnya.
"Tapi hanya Ravel sama yang bisa mambuat ketua baik lagi, pikirkanlah hal itu agar kita tidak mendapat masalah!" ujar Yubelina.
"Yubelina! Isi kepalamu tidak sebesar apa yang ada di dadamu," gerutu Ravel
"Eh!"
Ketika mendengar apa yang diucapkan Ravel, sontak saja pipi Yubelina memerah. Bibirnya dia cubit dengan pelan karena menahan malu, dia bertingkah seperti gadis lugu yang baru saja dikerjai oleh orang dewasa.
'Kuso mode itu sangat imut, Mou aku juga harus bertahan agar gairah Yuri tidak keluar! Yubelina no baka,' batin Ravel
Terpikirlah saat itu sebuah ide, Ravel pun tersenyum seperti seorang psikoat yang baru saja mendapat sebuah pencerahan untuk melakukan aksi selanjunya. Dengan segera dia membusungkan dada sambil menatap kakaknya.
"Oni-sama, jika kau masih marah juga. Maka akan kusuruh Yubelina melakukan itu," ucapnya dengan senyum sarkas.
Ucapan Ravel itu membuat hati Raiser seperti ditusuk sebuah tombak yang begitu menohok, mendengar adik perempuannya di dekati lelaki selainnya saja sudah membuatnya kalang kabut apalagi ada seorang yang ingin menyentuhnya. Sekuat tenaga dia mencoba menahan gejolak sisconnya yang kian meraung.
'Sabar Raiser! Dia pasti bercanda tapi kalau-' batinnya.
Isi kepalanya kemudian membayangkan bagaimana keduanya saling menatap dengan mata berbinar dan bergetar kecil, lalu perlahan namun pasti wajah keduanya menipis jarak. Hembusan napas di antara mereka kian terasa dan kemudian bibir mereka mencoba mencari celah untuk bisa bersatu.
Setelah bersatu pipi keduanya merona dan napas mereka menjadi tidak karuan, lidah mereka juga bergeliat liar seperti cacing yang mencari jalan keluar dari lubangnya. Setelah mencapai kepuasan wajah mereka memperlebar jarak. Saliva diantara mereka tecipta, keduanya melekukan sudut bibir seakan berterima kasih pada pasangan.
Semburan darah keluar dari hidung Raiser, segera dia menahannya dengan tangan kanan dan menatap ke arah adiknya dengan tangan terentang
"Demi apapun jangan kau lakukan itu! Ni-sama memafkanmu! Jadi tolong jangan lakukan itu," ucap Raiser.
"Eh?"
"Kenapa?" tanya Ravel.
"Pokoknyan jangan kau lakukan, aku janji tidak akan marah lagi jadi jangan lakukan itu oke!" tambah Raiser cepat.
Anggota lain seperti Li, Yue, dan Karlamine Memandang tidak mengerti. Sedangkan Yubelina tidak percaya dia dijadikan umpan oleh Ravel agar rencananya berhasil. Karena kakaknya sudah berkata seperti itu, Ravel pun menampakan senyum kepuasan karena rencananya berhasil.
'Sedikit saja kau diberi dorongan maka pikiranmu keman mana, dasar siscon akut!' batin Ravel.
Para wanita begitu lega karena amarah dari Raiser sudah bisa dikendalikan, saat situasi sudah tenang itulah. Raiser mendekati adiknya untuk menanyakan sesuatu yang dia khawatirkan.
"Ravel-chan! Kenapa kau langsung tersungkur saat beradu pandang dengan pemuda samurai itu," tanya Raiser cemas.
Reaksi Ravel saat mendengar pertanyaaan itu berubah, dia menganggukan kepala tanda kalau dia sudah meneguhkan tekad untuk menyampaikan apa yang dia alami.
"Saat aku melihat mata pemuda itu, tatapannya entah bagaimana seakan menarikku ke dalam kegelapan. Aku benar-benar takut saat diriku tersedot ke dalamnya, dipenghujung kegelapan aku melihat masa lalunya!" cerita Ravel.
"Tatapan yang mampu membuat orang lain tersedot ke dalam kegelapan lalu melihat masa lalunya, tidakah kau berpikir kalau itu seperti clan Uchiha yang sudah punah. Tapi mata pemuda itu tidak berubah sama sekali, jadi darimana dia berasal?" duga Raiser.
Ketika mendengar apa yang sedang didiskusikan oleh mereka, Yubelina secara tiba tiba tubuhnya bergetar. Matanya melebar dan mulutnya terkatup katup hendak menyampaikan sesuatu namun tidak ada kata yang keluar.
"Yu-yubelina apa yang mau kau sampaikan, katakan dengan jelas," tanya Yue
"Iya, jangan bertingkah mengerikan seperti itu," tambah Li
"Yubelina! Kau membuatku merinding," ucap Karlamine.
Seiring teman temannya berusaha mengetahui apa yang hendak diucapkan Yubelina, ketua party yang melihatnya segera menyergah.
"Ucapkan dengan benar apa yang kau ketahui, Yubelina!" sergah Raiser.
Saat menerima sergahan itu Yubelina menelan liurnya dengan berat. Dia masih ragu-ragu untuk menyampaikannya. Lalu Ravel pun segera mendorongnya untuk menyampaikan apa yang dia ketahui.
"Tidak mengapa Yubelina, sampaikan saja apa yang kau ketahui!" ucap Ravel.
Saat mendengar itu, barulah dia mulai menyampaikan apa yang diketahui.
"Aku tidak mau mempercayainya, tapi hanya ada satu klan yang bisa melakukan itu. Dugaan Raiser-sama tidak sepenuhnya salah sebab klan Uchiha terspesialisasi pada kekuatan mata, mereka mampu menciptakan ilusi kuat hingga akan sulit bagi korban lepas dari ilusi tersebut. Namun, masih ada satu klan lagi yang bisa melakukan itu, bahkan salah satu kemampuan dari klan ini adalah mencerminkan kehidupan mereka dari matanya!" jelas Yubelina
Yue yang mengetahui sedikit tentang informasi dari klan tersebut memotong.
"Yubelina jangan janga dia adalah-"
Yuelina pun mengangguk ragu sebelum berkata." Pikiranku pun meragukannya, tapi kurasa pemuda itu berasal dari klan Namikaze!"
Saat mendengar itu mata mereka melebar. Segera Raiser mengambil keputusan.
"Jika itu benar makas segera kita harus pergi dari kota ini, mereka adalah klan paling terkutuk bahkan melebihi klan Stormrage!" ucapnya.
Di tempat lain
Sai yang baru saja menyelesaikan urusan dengan seluruh anggota lamanya, mendapati Naruto bersender pada sebuah dinding. Tangan pemuda itu menghantam dinding hingga tercipta retakan di dinding tersebut.
"Seberapa kuat kau menghantam dinding itu, Rat Slayer!" tanyanya.
Naruto yang mendengar suara itu segera mengarahkan wajah pada wakilnya itu, dia menurunkan lengan yang mengepal. Lalu berjalan ke arah Sai, tidak diketahui oleh Night Elf itu apa yang dilukis wajahnya sebab tertutup topeng samurai.
"Aku hanya meluapkan kekesalan karena kau lama sekali, selain itu-"
Naruto tidak jadi melanjutkan apa yang hendak dikatakan perihal simbol pengorbanannya yang semakin hari bertambah aktif. Bahkan tadi sempat terasa seperti terbakar, lalu Sai yang penasaran bertanya.
"Selain itu apa?"
"Selain itu gada ini berat sekali, aku harus menemukan siapa pemiliknya!" jawab Rat Slayer.
Setelah itu Naruto mulai berjalan menuju kuil Order of Freya, Night Elf itu mengikuti di belakang. Sai tersenyum saat Naruto menjawab seperti itu, meski instingnya tidak setajam Naruto tapi dia menyadari sesuatu.
'Ada yang kau sembunyikan, Rat Slayer!' batinnya.
Tapi dia tidak mau ambil pusing, apalagi dia juga dulu pernah melakukan hal yang sama dengan kelompok Sairaorg. Dia sepenuhnya paham, bahwa ada suatu tempat di dalam diri seseorang yang tidak boleh dimasuki orang lain tanpa izin.
"Apa yang kau katakan, benda itu sepenuhnya milikmu lo! Menurut General Maiden generasi ke 7 benda itu tidak akan tercabut, kecuali menemukan orang yang pantas menerimanya," ucap Sai.
"General Maiden ke 7 berarti Isadora the Paladin,kan!" jawab Naruto.
[Isadora adalah karakter Fire Emblem Blazing Blade yang merupakan seorang Paladin dari house of Pherae, dia melayani Marques Pherae yang dalam hal ini dia adalah pelayan setia Eliwood. Atas permintaan ibu Eliwood yang bernama Eleanora, dia pun melayani sang Marques muda itu kalau kalian pernah memainkannya.]
Bepergian dengan Lenneth membuatnya tahu siapa saja yang menjabat sebagai Maiden di order of Freya, bahkan Lenneth memberitahukan detail tentang Maiden itu sendiri.
"Sepertinya pengetahuanmu tentang Maiden sangat luas, apa dia mengajarimu semua hal tentang wakil Freya di bumi. Rat Slayer san!" tanya Sai sambil tersenyum.
"Bukan urusanmu," ucapnya acuh.
Langkahnya mendadak cepat sehingga jaraknya dengan Sai melebar, Night Elf tersebut hanya tersenyum lembut saat mengetahui jika pemuda dingin itu bisa bertingkah seperti yang dia lihat saat ini.
'Kurasa dia berubah seiring berjalan waktu, tapi tetap saja sikap kakunya itu tidak bisa dihilangkan. Yang lebih penting kenapa banyak burung mulai menjauhi kota air ?' Batin Sai.
Naruto juga menyadari apa yang dirasakan oleh Sai, namun dia tidak tunjukkan hal tersebut. Tujuannya saat ini adalah menuju tempat penobatan Lenneth menjadi Maiden, yang tidak lain adalah kuil dari Order of Freya.
Setelah melewati beberapa bangunan dan berlalu lalang bersama ribuan orang yang datang ingin melihat penobatan seorang Maiden, mereka berhasil sampai di Kuil yang menjadi pusat Order of Freya di Water Town
"Jadi inikah Kuilnya?" ucap Naruto
"Iya, kuil ini dinamakan Kuil Pedang. Ada sebuah sejarah kenapa disebut demikian, apa kau mau mendengarkan kisahnya?" ucap Sai.
Naruto hanya diam ketika pertanyaan itu dilontarkan Sai, tentu saja sejarah kuil ini tidak lupa dia dapatkan dari Lenneth. Saat ini dia malah sedang menatap sebuah patung Freya yang berdiri megah dengan berbalut armor besi, sedang menopang pedang dengan timbangan. Melihat patung itu membuatnya teringat momen, saat Lenneth menjelaskan pada penduduk tentang arti kehidupan.
"Itu adalah awal perjumpaanku," gumamnya.
Sai melirik saat rekannya menggumamkan itu, dalam hati dia menggerutu sebab pertanyaannya diabaikan. Namun, sepertinya bukan karena Naruto pura-pura tidak ingin tahu, tapi dia sedang mengingat sesuatu dan itu hanya membuat Sai mendesah
"Kurasa dia juga menjelaskannya padamu!" ucapnya dengan menghela napas.
"Ya, dia menjelaskan banyak hal padaku soal Order of Freya!" jawabnya.
Kini Sai sweatdrop mendengar ucapan Naruto, perkatannya itu seakan menjelaskan dengan halus 'aku tahu semua tentang Order of Freya dari Lenneth, jadi tidak perlu kau jelaskan' begitulah yang Sai tangkap dari ucapan tersebut.
'Sepertinya, aku hanya mengejek diriku lebih jauh kalau bicara lagi dengannya. Lebih baik aku diam saja,' batinnya.
"Harap berhenti! Semuanya harus diperiksa dulu, hari ini adalah hari penting sebab akan ada pengangkatan seorang Maiden. Terlebih hari ini juga, Lady dari kerajaan Rosenheim yaitu Lady Guinevere sedang mengunjungi Kuil ini untuk melihat seperti apa proses pengangkatan Maiden. Jadi dimohon para peziarah bersedia untuk berbaris agar pemeriksaan berjalan lancar dan kenyaman tetap terjaga, sehingga acara bisa berjalan lancar dan khidmat!" ucap seorang penjaga.
Ribuan manusia baik Pria, Wanita, Tua, Muda, dari berbagai ras membentuk barisan panjang. Pemeriksaan yang diperlukan berjalan lancar, sebab Water Town merupakan tempat dengan pengunjungnya yang ramah dan bisa diatur. Tapi saat Naruto mulai mendekati barisan, tiba-tiba kerumunan orang itu mulai membelah membentuk sebuah jalan baginya.
Sai yang menutup kepalanya dengan tudung hanya sweatdrop ketika melihat kejadian ini, apalagi telinga Elfnya mulai mendengar bisik-bisik mereka yang memberi jalan itu.
"Diakah orang dirumorkan oleh mereka!" ucap Fighter.
"Seorang yang mencabut the Hammer of Bronzelight milik pengawal setia Pangeran Arthas!" ucap Swordman.
"Orang yang menghentikan pertarungan mantan bangsawan Phenex dan Pengeran terbuang Bael!" ucap Mage.
Ditengah bisik-bisik yang semuanya mengarah padanya, Naruto terus melangkah ke depan seakan tidak mendegar sama sekali atau lebih tepatnya tidak peduli dengan apa yang sudah mereka ucapkan tentang dirinya. Mereka juga segan menegur, karena melihat sebuah pita biru yang terikat dilengan kanannya.
'Hebat sekali kau, Rat Slayer. Mampu bertahan dari ocehan mereka,' batin Sai.
Ruang persiapan sang Lady
"Lady Guinevere semua sudah siap, silakan ikuti saya untuk menuju tempat Anda!" ucap serang pelayan.
Wanita berambut pirang gelombang dengan mata hijau Emerald, mengenakan robe merah serta sebuah selendang kuning menjutai sampai mata kaki. Kakinya beralaskan sepatu terbaik, tak lupa sebuah mahkota tersemat di kepalanya. Sebuah kalung berlian biru dengan dililit naga yang mengigit ekor tergantung di lehernya.
"Baik!" responnya.
Seiring dia melangkah berlian itu berkelap kelip dan terasa hangat, para pengawal yang melihatnya merasa terkejut. Lalu salah satu pengawal setianya bertanya.
"Ada apa dengan [Fire Emblem], apa mungkin ada musuh yang menyusup disini?" ucapnya.
Guinevere segera mengeratkan tangannya pada berlian yang terus berkelap kelip itu, dia mengkonsentrasikan diri untuk mengetahui apa yang ingin disampaikan berlian tersebut. Setelah terdiam cukup lama, akhirnya dia membuka mata dan mengembuskan napas lega. Para pengawalnya tak sabar ingin mengetahui, apa yang sudah di dapat oleh sang Lady.
"Jadi apa yang Anda dapatkan, Lady Guinevere?" tanya seorang pelayan.
"Orang dalam mimpiku ada disini!" ucapnya tegas.
"Hah benarkah?" respon para pelayan.
"Tidak mungkin!" respon yang lain terkejut.
Guinevere mengangguk ketika mendengar ucapan yang dilontarkan oleh pengawalnya.
"Aku juga tidak percaya tapi Fire Emblem baru saja memberitahu, bahwa orang yang mewarisi tekad dari pemilik [Sword of Champion] dan [Imperial Formless Sword Technique] ada disini. Karena itu, kita harus menemukannya!" ucapnya.
"Baik!" respon mereka.
Para pengawalnya serentak menjawab, saat Lady kerajaan Rosenheim itu menyampaikan pendapat pribadi serta keinginannya untuk menemui pewaris dari Sang Blue Champion. Lalu wanita itupun bisa merasakan sesuatu yang tidak asing.
"Aura ini tidak salah lagi, seseorang telah berhasil mencabut Hammer of Bronzelight!" ucapnya dengan mata melebar.
Author note
Oke balik lagi sama saya dan cerita ini, disini saya hanya menjelaskan tentang beberapa character dan juga kalimat yang muncul di chapter ini. Yang pertama adalah Isadora, sudah sedikit kusinggung di atas kalau dia adalah pengawal pribadi Marques of Pherae.
Sebelum dia mengikuti Eliwood, si Isadora ini adalah pengawal dari ibunya yaitu Eleanora. Karena mendengar anaknya dalam bahaya. Segera dia menyuruh si Isadora untuk pergi dan menjaga Eliwood.
Kedua adalah tentang Guinivere sebenarnya dia ini tokoh penting di cerita ini, nantikan saja kisah ini kalau authornya tidak diserang banyak kesibukan. Dia juga termasuk dalam Character di Fire Emblem Blazing Blade namun waktu di series ini dia masih kecil,
Lalu ketika sampai ke series game Fire Emblem Fuin no Tsurugi yang waktu itu Mcnya Roy. Disinilah dia memulai debutnya sebagai seorang Sage, dia bisa digunakan oleh kita setelah menamatkan game storynya sebanyak 9 kali.
Untuk di cerita ini dia merupakan seorang Lady, nanti aku sampaikan kenapa dia bisa menjadi Lady Rosenheim. Sekali lagi aku mengingatkan kalau World map yang kugunakan di cerita ini adalah Worl mapnya novel Legendary Moonlight Sculptor yang harusnya nama benuanya itu Versailles.
Kemudian kalau nama pedangnya aku ambil dari Manga Originalnya Fire Emblem dengan judul Fire Emblem Hasha no Tsurugi. Mcnya itu namanya Al seorang anak pandai besi yang merupakan mantan prajurit dari kerajaan Bern. Nah si Al ini di kasih sebuah pedang dengan nama Sword of Champion sama bapaknya.
Singkatnya manga ini semacam original spin off sebelum series game FE Fuin no Tsurugi dimulai karena si AL ini temenan sama Roy. Nanti aku jelasin juga bagaimana ceritanya pedang itu tercipta untuk cerita ini.
Terakhir adalah Imperial Formless Sword Technique, penggemar LMS pasti tahu sama teknik ini. Sebab merupakan teknik yang di dapatkan Lee Hyun saat dia berhasil menyelesaikan Questnya untuk mendapatkan Class yang cocok bagi dirinya yang malah berakhir menjadi seorang sculptor.
Di tempat itu tanpa di duga mantan kaisar Geihar van Arphen, mewariskan sebuah teknik pedang yang kutuliskan garis miring itu sebagai hadiah bagi mereka yang menemukannya. Oke segitu saja Author note kali ini kayaknya saya terlalu bersemangat menjelaskan semuanya. Semoga kalian tidak merasa terganggu.
Tetap sehat dan selalu positif thinking, oh kalau kalian mau menikmati novel ori milkku bisa kunjungi Mangatoon/Noveltoon. Searching saja judulnya dengan nama Rising of the Mage, cukup baca saja cerita itu dan kalian sudah membantu dan mendukung banget bagiku, jadi jangan lupa mampir ya.
