[Antagonist]
NCT belongs to themselves
"Antagonist" belongs to Lexa Alexander
Inspired by: Caste Heaven by Chise Ogawa
Main Pair: TaeTen
Other Pair: JaeDo, JohnIl
"Sekali lagi—?"
Ini ketiga kalinya Taeyong bertanya tentang hal sama pada teman sekamarnya yang baru, membuat yang ditanya menghela nafas dan memutar matanya, bosan karena sudah menjawab dua kali. "Aku tidak akan menjawab pertanyaan keempatmu jika kau bertanya hal yang sama—" kata anak itu, "—Choi Seungcheol pindah sekolah saat kenaikan kelas. Kudengar alasannya karena masalah keluarga—"
Anak itu belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika Taeyong keluar dari kamar barunya dengan terburu, menghasilkan decakan kesal dari temannya. Taeyong berjalan dengan cepat hingga dia berhenti di depan telepon umum yang ada di sisi lain gedung asramanya yang baru, memandang telepon umum, berniat menelpon Seungcheol dan bertanya padanya tentang alasannya pindah sekolah—alasan yang sebenarnya dan apa yang sebenarnya terjadi padanya selama libur kenaikan kelas. Namun Taeyong tidak tahu nomor telepon Seungcheol, bahkan setelah pertemanan mereka yang terjalin selama satu tahun. Taeyong hanya ingat username Seungcheol di salah satu media sosial, namun Taeyong tidak membawa ponsel pintarnya saat ini—peraturan sekolah sialan yang melarang murid-muridnya membawa alat elektronik apapun ke sekolah.
Rasa khawatir membuat Taeyong menjadi tidak tenang. Anak laki-laki yang baru saja menjadi siswa kelas dua SMP itu menyandarkan tubuhnya ke dinding dingin di dekatnya, menghela nafas. Dia tidak merasa dikhianati atau apapun itu, hanya khawatir dan penasaran kenapa Seungcheol pindah sekolah tanpa memberitahunya.
Juga, bagaimana dengan dirinya setelah ini?
Jujur Taeyong tidak terlalu dekat dengan teman-temannya yang lain. Bisa dibilang temannya hanya Seungcheol, namun sekarang Seungcheol tidak ada. Pikiran Taeyong yang mengkhawatirkan Seungcheol beralih fokus menjadi memikirkan apa yang akan dia lakukan setelah ini sendirian.
Lama berpikir, akhirnya Taeyong memutuskan untuk mengikuti arus saja—apa yang akan terjadi, terjadilah.
Taeyong benar-benar melakukannya.
Bangun pagi, melakukan aktivitas pagi seperti kebanyakan siswa asrama pada umumnya—merapikan tempat tidur, mandi, sarapan—kemudian mengikuti pelajaran seperti yang seharusnya, makan siang, kemudian mengikuti kelas siang dan kembali ke asramanya setelah pelajaran di kelas selesai. Sore hari, ketika teman-temannya yang lain mengikuti ekstrakurikuler, Taeyong akan melakukan kegiatan lain seperti mandi, membawa pakaian kotornya ke laundry sekaligus mengambil pakaian bersihnya di laundry, kemudian merenung di tempat tidurnya hingga teman-temannya selesai dari kegiatan ekstrakurikuler mereka pada pukul lima sore. Pada jam makan malam, seperti saat sarapan dan makan siang, Taeyong akan bersama teman sekamarnya ke ruang makan. Kembali dari makan malam, Taeyong akan mengerjakan tugas sekolahnya hingga larut malam—terkadang jam sebelas, atau paling larut jam dua dini hari—atau bahkan tidak tidur semalaman hanya untuk merenung, lagi.
Hanya begitu siklusnya.
Melakukan hal yang normal, yang kebanyakan siswa lakukan. Tanpa niat apapun, tanpa tujuan apapun. Menjalani hari-harinya yang monoton. Tidak ada lagi membeli camilan di minimarket atau kantin, hanya ke minimarket untuk membeli kebutuhan hariannya seperti alat mandi atau alat tulis jika habis. Tidak ada obrolan malam hari ditemani camilan malam dan sekaleng kopi.
Oh, ya, Taeyong tidak butuh kopi untuk membantunya terjaga sepanjang malam. Tanpa kopi pun Taeyong sudah kesulitan untuk tidur.
Entah karena kurang tidur atau terlalu banyak pikiran—atau keduanya—kantung mata Taeyong perlahan menghitam, wajahnya lesu bahkan terkadang pucat, dan Taeyong yang sejak awal memang tidak terlalu banyak bicara makin tidak banyak bicara. Dia tidak akan mengeluarkan suaranya jika tidak harus menjawab pertanyaan penting atau hal lain yang mengharuskannya mengeluarkan suaranya.
Taeyong benar-benar hanya mengikuti arus, seperti apa yang dia putuskan di awal tahun ajaran baru.
Bahkan setelah dia menempati asrama baru di semester dua.
Sesekali, mereka akan berganti kamar asrama. Waktunya tidak pasti. Terkadang mereka akan pindah kamar setelah 3 bulan, terkadang 6 bulan. Kali ini, di awal semester dua, Taeyong menempati kamar baru dengan teman sekamar baru pula. Setengah dari penghuni kamarnya kali ini adalah adik kelas, anak-anak kelas 7.
Taeyong sedikit tidak nyaman, merasakan ada sesuatu yang mengganjal, namun mengabaikannya dan bersikap seperti biasanya.
Hingga pada suatu pagi, Taeyong terbangun pada pukul 6.40.
Taeyong terbangun karena suara berisik dari teman-teman sekamarnya. Saat matanya menangkap cahaya matahari yang sudah bersinar cukup terang dari jendela kamar, kesadaran Taeyong terkumpul sepenuhnya dan dia melihat jam dinding di kamarnya menunjukkan waktu pukul 6.40. Teman-teman sekamarnya sudah siap dengan seragam sekolah, bersiap berangkat bersama menuju ruang makan. Melihat Taeyong yang baru saja bangun, mereka hanya menatap sekilas sebelum melanjutkan aktivitasnya.
Tidak peduli dan tidak berniat protes karena tidak ada yang membangunkannya, Taeyong turun dari tempat tidurnya dan mengambil alat mandi, berjalan dengan santai menuju kamar mandi seolah tidak terjadi apapun.
Meskipun dalam hatinya Taeyong tetap merasa ada yang janggal.
Di sekolahnya, bangun pukul 4 pagi adalah hal yang umum. Tanpa jadwal, sebagian siswa memulai harinya pada pukul 4 pagi karena mereka masih harus mengantri untuk mandi.
Sedangkan apel pagi akan dimulai pukul 7. Bangun pada pukul 6.40 dan hanya memiliki waktu 20 menit untuk bersiap sebelum apel pagi dimulai adalah suatu hal yang ... bisa dibilang cukup nekat. Mau tidak mau Taeyong harus rela untuk tidak sarapan pagi ini. Baiklah, sekotak susu saja sepertinya cukup.
Selesai apel pagi dan Taeyong mengikuti pembelajaran di kelas seperti biasanya. Kali ini, saat jam istirahat, untuk pertama kalinya setelah satu semester tidak menginjakkan kaki di kantin, Taeyong menginjakkan kakinya di sana untuk membeli sebungkus sandwich dan sekotak susu. Kembali ke kelas, Taeyong duduk di bangkunya dan membuka sebuah buku tulis yang dia beri sampul hitam dan mulai membaca apa yang tertulis di sana sembari memakan sandwich-nya.
Satu hal yang berbeda dari Taeyong setelah kelas dua adalah kini dia memiliki hobi atau kebiasaan baru.
Ini berawal dari perpustakaan sekolahnya yang tidak memiliki satu pun stok buku bacaan lain selain buku-buku yang berkaitan dengan pelajaran dan bisnis. Novel, komik, buku kumpulan puisi, tidak ada satu pun buku seperti itu di perpustakaan sekolahnya. Kemudian Taeyong menjadikan satu buku tulisnya yang masih kosong sebagai buku coretan.
Awalnya dia hanya asal menggambar karena bosan. Lama-kelamaan, selain menggambar tidak jelas, Taeyong mulai menulis di buku lainnya—cerita-cerita pendek, kemudian dia menulis cerita ber-chapter yang cukup panjang hingga bisa dibilang dia menulis novel. Sesekali dia menggambar di bukunya yang lain, hingga tanpa terasa dia telah menghabiskan belasan buku hanya untuk mengisi waktu luangnya.
Jika Seungcheol masih di sini, mungkin dia bisa bertukar buku cerita dengannya. Sayang sekali.
Sekotak susu Taeyong habis tepat ketika bel tanda waktu istirahat habis berbunyi. Taeyong segera merapikan mejanya dan membuang bungkus makanan dan kotak susu yang telah kosong ke tempat sampah, kemudian bersiap untuk pelajaran selanjutnya.
Hari itu berlalu seperti biasa hingga Taeyong kembali ke kamarnya.
Walaupun biasanya dia juga diabaikan, namun Taeyong cukup peka jika kali ini suasananya sangat berbeda. Entah kenapa dia merasa jika seluruh kegiatan yang dia lakukan di kamar diawasi oleh belasan pasang mata yang ada di kamarnya. Mulai dari dia menginjakkan kaki di kamarnya, bahkan saat dirinya melepas seragam dan berganti pakaian. Rasanya seperti seluruh kegiatan teman sekamarnya yang lain berhenti sejenak hanya untuk mengawasi dirinya.
Ketika Taeyong naik ke tempat tidurnya yang ada di sudut sembari membawa tasnya, Taeyong merasa dirinya sudah tidak diawasi.
Taeyong merebahkan tubuhnya, tengkurap dengan sebuah buku coretan dan sebuah pulpen berada di hadapannya. Dia mungkin terlihat sibuk mengerjakan tugas, namun sebenarnya dia sedang asal mencoret-coret sebuah halaman kosong dengan berbagai gambar abstrak. Mood-nya untuk menggambar hilang entah kemana sejak dia merasakan tatapan seolah dirinya sedang diawasi barusan.
Sebenarnya Taeyong sempat berpikir bahwa dirinya sedang dikucilkan saat ini—bukan lagi diabaikan seperti hari-hari sebelumnya. Meskipun dia sendiri tidak mengerti kenapa dia dikucilkan, hal ini benar-benar membuatnya tidak nyaman. Dia sendirian di tempat yang bagaikan penjara ini, tidak ada yang bisa membantunya atau menjadi tempatnya bercerita tentang apa yang mengganggu pikirannya. Taeyong belum siap menghadapi masalah seperti itu sendirian—
—namun saat ini, siap tidak siap, Taeyong sudah berhadapan dengan masalah itu.
Jika awalnya Taeyong tidak dibangunkan dan nyaris dibuat terlambat, setelahnya, dia benar-benar dibuat terlambat. Pukul 7.20 dan Taeyong baru saja terbangun, Taeyong mendapati kamarnya sudah kosong dan dia hanya bisa duduk di atas tempat tidurnya dengan tidak percaya.
Taeyong masih terpaku di tempatnya ketika pintu kamarnya dibuka dan dua orang siswa dengan tanda anggota ekstrakurikuler Kesehatan masuk ke kamarnya dan langsung menyadari keberadaannya.
"Eoh? Lee Taeyong, kau tidak masuk sekolah?" tanya salah satunya sembari mendekati tempat tidurnya. Si penanya naik ke atas tempat tidurnya sementara temannya hanya berdiri di bawah, menatap keduanya.
Taeyong hanya bergumam sebagai jawaban, wajahnya masih lesu karena dia terlambat bangun.
"Wajahmu pucat. Kau sudah makan?" tanyanya lagi, dan Taeyong menggeleng. Si rambut coklat yang bertanya kepada Taeyong mengalihkan tatapannya kepada temannya, memberi isyarat untuk mengambil sesuatu dari tas ransel yang dia bawa di punggungnya. Si rambut hitam yang berdiri di bawah mengerti dan mengambil roti dan susu dari dalam tas, menyerahkannya kepada Taeyong.
"Ini. Kau harus sarapan," katanya sembari menyerahkan roti dan susu kepada Taeyong. "Apa teman sekamarmu tidak membawakanmu jatah sarapan dari dapur? Astaga," lanjutnya, kembali menunduk untuk mengambil obat dan vitamin dari dalam box berisi obat-obatan. "Oh, ya, kau sakit apa?"
Taeyong terdiam. Pada kenyataannya, dia sama sekali tidak sakit. Dia tidak demam, jika dia menjawab bahwa dia demam dan suhu tubunya dicek, dia akan ketahuan jika dia berbohong. Dia juga tidak flu—sedari tadi dia tidak bersin, batuk, ataupun pilek.
Mata Taeyong menangkap satu strip obat berwarna hijau di kotak obat dan dia menjawab, "Maag."
"Astaga, kau maag dan kau belum sarapan!" Si rambut hitam mengambil satu strip obat maag dan menyerahkannya kepada Taeyong. "Ini, minumlah, setelah itu makan sarapanmu. Oh, kemarikan susunya, kau minum air mineral saja." Kotak susu diambil, berganti dengan sebotol air mineral.
"Aku akan buatkan surat izin dan menyerahkannya ke wali kelasmu." Si rambut coklat berkata sembari menulis sesuatu di buku yang sedari tadi dia bawa. Mereka berdua meninggalkan Taeyong setelah mengucapkan 'cepat sembuh' kepadanya.
Pintu kamar ditutup, kemudian setelah beberapa saat, Taeyong turun dari tempat tidurnya dan pergi ke kamar mandi untuk mandi. Dua puluh menit kemudian dia sudah duduk di atas tempat tidurnya lagi sembari memakan roti yang diberikan kepadanya tadi.
Dia lupa, anggota eksrakurikuler kesehatan selalu berkeliling ke setiap kemar untuk mengecek apakah ada siswa yang sakit atau tidak. Dalam hati Taeyong bersyukur wajahnya terlihat lesu dan pucat sedari awal—terlihat seperti orang sakit.
Tetapi dia tidak bisa sering-sering membolos begini. Selain tertinggal pelajaran, tidak mungkin juga dia selalu beralasan bahwa penyakit maag (yang dikarangnya) kambuh. Lagipula dia memang tidak sakit apapun.
Selesai dengan sarapannya, Taeyong kembali berbaring di tempat tidurnya dengan posisi tengkurap. Lagi-lagi mencoret-coret buku dengan coretan tidak jelas sembari memikirkan berbagai hal yang cukup menganggunya, hingga tanpa sadar dia sudah seperti itu selama berjam-jam dan sekarang waktunya makan siang.
Teman-teman sekamarnya akan kembali.
Entah sejak kapan Taeyong mulai tidak menyukai teman-teman sekamarnya dan kali ini Taeyong kesal karena teman-teman sekamarnya akan kembali ke kamar setelah selesai dengan makan siang mereka.
Saat pintu kamar terbuka, Taeyong sudah dengan posisi berpura-pura tidur.
"Oh? Dia masih tidur?"
"Serius? Sejak pagi dia belum bangun?"
"Memang pemalas."
Ini pertama kalinya Taeyong mendengar kalimat-kalimat itu dengan telinganya sendiri.
Dia memang sudah menebak bahwa dia dikucilkan, dan setelah mendengar sedikit cacian dari teman-teman sekamarnya Taeyong sadar bahwa tebakannya benar—dengan tambahan asumsi bahwa mereka sering membicarakan dirinya di belakang.
Telinga Taeyong terasa panas saat mendengar caci maki dari teman-teman sekamarnya. Astaga, dia hanya (berpura-pura) tidur namun mereka menghinanya seolah-olah dia melakukan kesalahan besar. Taeyong bahkan tidak mengerti alasan mereka membencinya hingga seperti ini. Rasanya Taeyong tidak banyak bicara, tidak sering berinteraksi dengan mereka, bahkan tidak pernah sekalipun mengusik teman-teman sekamarnya.
Saat itu Taeyong belum mengerti jika emosi anak SMP memang masih sangat labil.
Setengah jam yang seolah berjalan dengan sangat lambat, akhirnya kamar itu kembali kosong, menyisakan Taeyong yang masih bergelung di balik selimutnya. Taeyong tidak berniat untuk bergerak dan melakukan aktivitas lain, masih memikirkan kesalahan apa yang dia perbuat hingga teman-teman sekamarnya membencinya. Lupakan soal makan siang, nafsu makannya hilang setelah dia mendengar sendiri ejekan dan umpatan yang ditujukan kepadanya.
Taeyong shock, menelan kenyataan pahit bahwa dia harus mengalami hal ini dan menghadapinya seorang diri.
Terkejut, kebingungan, Taeyong seolah tersesat—bahkan setelah berhari-hari dan hal-hal yang dilakukan teman-teman sekamarnya semakin parah, Taeyong masih tenggelam dalam kebingungan dan rasa terkejutnya, bahkan masih memikirkan kesalahan apa yang dia perbuat hingga dia mengalami hal-hal ini.
Dua minggu lebih, hingga akhirnya Taeyong muak berada di kamarnya sendiri dan memikirkan tempat lain di mana dia tidak dapat mendengar segala perkataan menyakitkan dari teman-teman sekamarnya.
Entah dari mana Ruang Kesehatan terlintas di kepalanya.
Di Ruang Kesehatan ada dua ranjang, Taeyong berpikir dia bisa menghabiskan malam di sana dan diam-diam kembali ke kamarnya sebelum pukul empat pagi. Yang menjadi masalah adalah penjaga sekolah yang akan melakukan patroli setiap pukul sepuluh malam. Taeyong harus bisa lolos dari patroli agar bisa bermalam di Ruang Kesehatan.
Malam itu adalah percobaan kesekian Taeyong untuk bermalam di Ruang Kesehatan. Dua puluh menit sebelum pukul sepuluh, Taeyong menyelinap ke dalam Ruang Kesehatan dan menutup pintunya perlahan, sebisa mungkin tidak menimbulkan suara. Beruntung, kunci Ruang Kesehatan masih di dalam. Taeyong segera mengunci pintunya dan mematikan lampu. Dalam kegelapan, dia berjalan perlahan menuju salah satu ranjang dan menarik tirai agar menutupi ranjang dan menyembunyikan sosoknya yang sudah berhasil menyelinap ke dalam.
Tidak lama, Taeyong mendengar suara langkah kaki dan suara pintu yang tertutup dan terkunci. Itu pasti penjaga sekolah yang sedang berkeliling dan mengunci setiap pintu ruangan.
Jantung Taeyong berdegup kencang seiring suara langkah kaki itu mendekat. Takut jika dirinya ketahuan. Kunci Ruang Kesehatan masih tergantung di pintu, tidak Taeyong ambil agar Ruang Kesehatan tidak dapat dibuka dari luar.
Langkah kaki itu berhenti di depan Ruang Kesehatan, membuat Taeyong tanpa sadar menahan nafas.
Ckrek! Ckrek!
Terkunci.
Memastikan pintu Ruang Kesehatan benar-benar terkunci, penjaga sekolah itu melanjutkan patrolinya.
Taeyong menghela nafas lega. Malam ini, dia berhasil terbebas untuk sejenak dari kamar yang sudah berubah menjadi seperti neraka itu. Taeyong memejamkan matanya dan tidak membutuhkan waktu lama baginya untuk terlelap.
Pertama kalinya setelah beberapa minggu Taeyong merasakan tidur yang cukup berkualitas. Dia tidak bermimpi, benar-benar tertidur lelap hingga pagi menjelang.
Tepat pukul empat pagi, Taeyong terbangun seolah dia memiliki alarm tak berwujud yang membangunkannya dari tidurnya yang cukup lelap.
Tanpa suara, Taeyong melangkah ke arah pintu dan membuka kuncinya. Suara klik pelan terdengar dan Taeyong menyelinap keluar dari sana.
Lingkungan sekolah dan asrama masih sepi. Ketika Taeyong kembali ke kamarnya, lampu masih padam tanda belum ada satu pun teman-temannya yang bangun. Taeyong menghela nafas lega dan segera naik ke tempat tidurnya, berpura-pura tertidur dan akan bangun saat teman-temannya bangun nanti.
Setelah menemukan tempat bermalam, Taeyong dapat sedikit bernafas lega meskipun hal-hal yang dialaminya semakin parah. Yang sering terjadi adalah barang-barangnya yang menghilang tanpa sebab—Taeyong tidak sebodoh itu untuk tidak menyadari bahwa barang-barangnya dibuang. Selama buku-bukunya aman, Taeyong tidak masalah.
Namun, meskipun Taeyong terlihat baik-baik saja dan tidak peduli, hal itu tetap memberi efek kepada Taeyong.
Taeyong yang sudah suram, semakin terlihat suram.
Di kelas, perlahan Taeyong berpindah tempat duduk dari yang awalnya di barisan depan kini semakin mundur hingga akhirnya Taeyong duduk di bangku paling belakang, di sudut yang dekat dengan jendela kelas yang menghadap ke lorong. Tidak ada teman sebangku, Taeyong duduk sendiri.
Lagi, Taeyong tidak lagi dapat fokus ke pelajaran. Otaknya sibuk memikirkan berbagai cara agar dia dapat 'bertahan hidup' di penjara berlabel sekolah ini. Meskipun dia terlihat sedang fokus mencatat di buku, sebenarnya dia sedang menggambar atau menulis cerita di buku coretannya. Catatan pelajaran di bukunya berakhir pada beberapa minggu yang lalu, hanya mengisi lima atau enam lembar di buku catatan pelajarannya.
Lebih parah, setelah itu, Taeyong menyadari bahwa gosip tentangnya sudah sampai ke telinga teman-teman satu angkatannya dan adik kelasnya, bahkan anak-anak kelas tiga juga tahu mengenai dirinya. Entah gosip apa, namun Taeyong tahu pasti itu adalah sesuatu yang buruk dan tidak benar tentangnya.
Kejadian itu membuat Taeyong mulai berjalan dengan kepala menunduk, merasakan bahwa tatapan-tatapan menyebalkan itu selalu mengikutinya kemanapun dia pergi. Dia mulai merasa takut untuk berbicara di depan kelas, terlalu takut melihat teman-temannya yang berbisik saat dia sedang berbicara di depan kelas. Pikiran-pikiran buruk selalu memenuhi kepalanya, seperti apakah mereka membicarakan hal buruk tentang dirinya atau mereka berencana akan menjadikannya bahan olokan jika dia melakukan suatu kesalahan saat berbicara.
Jujur saja sebenarnya Taeyong tidak tahan. Ingin melaporkan hal ini kepada wali asramanya atau guru konseling, namun Taeyong menyadari bahwa hal itu percuma.
Suatu hari, Taeyong pernah melaporkan hal ini kepada wali asrama dan guru konseling, dan setelah itu dia dikumpulkan bersama teman-teman sekamarnya. Namun apa yang terjadi adalah dia yang disalahkan.
"Taeyong tidak pernah berada di kamar bersama kami."
"Taeyong tidak banyak bicara, kami tidak tahu apa yang dia pikirkan."
"Taeyong—"
Dan setelahnya, apa yang teman sekamarnya lakukan semakin parah. Selain barang-barangnya yang sebelumnya sudah sering menghilang, pernah ada satu kejadian dimana seragam sekolahnya dibuang ke tempat sampah.
Itu adalah seragam yang seharusnya dia kenakan hari itu, namun karena kotor, Taeyong terpaksa mengenakan seragam lainnya. Saat melihat seragamnya berada di tempat sampah, saat itu juga rasanya Taeyong ingin menangis. Namun dia menarik nafas panjang dan mengambil seragamnya dengan tangan gemetar, mencucinya sembari menahan tangis—dan amarah.
Jika dia menangis, itu akan membawa kepuasan bagi teman-teman sekamarnya.
Kemudian, hal lain yang pada akhirnya kembali membuat guru konseling memarahi teman-teman sekamarnya adalah karena kasur Taeyong dirusak dan dicoret-coret. Pikir teman-teman sekamarnya, "Tidak masalah karena Taeyong tidak pernah kembali ke kamar dan tidur di tempat tidurnya."
Siang itu, di tengah teriknya matahari, Taeyong melihat teman-teman sekamarnya diberi ceramah tentang bullying dan lainnya.
Namun itu malah semakin membuat Taeyong khawatir dan ketakutan. Teman-temannya akan semakin kesal padanya dan semakin gencar menindasnya.
Tebakan Taeyong tidak salah.
Setelahnya, mereka terang-terangan mencaci Taeyong di depan mukanya.
Dan karena itu, Taeyong mengetahui alasan teman-teman sekamarnya membencinya.
Mereka berkata, Taeyong tidak pantas berada di sekolah itu. Taeyong tidak mengikuti ekstrakurikuler apapun, tidak ambisius, tidak menyukai apa yang mereka sukai dan malah tenggelam dalam coretan gambar dan tulisan. Itu membuat Taeyong terlihat payah di mata teman-temannya.
Bagi anak SMP seumuran mereka, semua orang harus memiliki kesukaan dan jalan pikiran yang sama—terlebih mereka bersekolah di sekolah khusus yang sebagian besar dari mereka adalah anak-anak yang memiliki pemikiran yang sama, jika ada satu yang tidak sejalan dengan mereka, mereka akan memandang orang itu dengan tatapan meremehkan.
Payah.
Produk gagal.
Lemah.
Saat itu, Taeyong ingin menangis sekaligus mengamuk, ingin mengeluarkan segala amarahnya. Namun dia kalah jumlah. Terlebih apa yang teman-temannya katakan memang benar—dirinya berbeda, tidak memiliki kesukaan yang sama dan tidak memiliki jalan pikiran yang sama.
Jadi, Taeyong hanya diam dan mendengarkan semua yang teman-temannya katakan.
Kemudian, sekali lagi, Taeyong menghabiskan malamnya di Ruang Kesehatan. Pada suatu malam yang dingin, lagi-lagi Taeyong memikirkan berbagai hal rumit. Mulai dari Seungcheol hingga bagaimana dia harus menghadapi Ten saat liburan besok.
Sebentar lagi ujian kenaikan kelas dan liburan, Taeyong akan bertemu dengan Ten. Anak itu pasti akan langsung berlari ke rumahnya saat mendengar kabar bahwa dirinya pulang.
Taeyong tidak bisa berhadapan dengan Ten dengan keadaan seperti ini—terlalu mengenaskan.
Wajah pucat nan lesu, mata yang redup, kantung mata yang menghitam, tubuh yang semakin kurus—belum dengan dirinya yang merasa bahwa Taeyong yang 'sekarang' jauh lebih buruk dari Taeyong yang dulu.
Malam itu Taeyong memikirkan dan memutuskannya, dan besoknya Taeyong menghubungi Jaehyun, "Liburan kenaikan kelas besok aku tidak pulang. Aku akan menghabiskan liburan di rumah nenek." []
.
