[Antagonist]

NCT belongs to themselves

"Antagonist" belongs to Lexa Alexander

Inspired by: Caste Heaven by Chise Ogawa

Main Pair: TaeTen

Other Pair: JaeDo, JohnIl


"Taeyong sakit dan Ten menemaninya."

Doyoung yang mendengar itu dari Jaehyun mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum bertanya, "Taeyong bisa sakit?"

Taeil yang berdiri di sebelah Doyoung memukul temannya dengan sedikit bar-bar, "Dia juga manusia, bodoh! Tentu saja bisa sakit."

Yang dipukul meringis, tidak merasa bersalah sedikit pun. "Aku hanya bercanda," katanya, kemudian kembali memakan rotinya. Bel masuk belum berbunyi, jadi mereka bertiga mengobrol sembari menunggu bel berbunyi—dan juga sarapan, khusus untuk Doyoung yang belum sarapan karena bangun kesiangan. Untunglah Jaehyun membelikannya sarapan di kantin.

Sebenarnya Taeyong tidak sakit, sih. Jaehyun menatap ponsel di tangannya, teringat chat dari Ten yang berkata kalau keadaan Taeyong sedang kacau—bukan karena sakit. Namun agar Taeil dan Doyoung tidak bertanya macam-macam, Jaehyun berbohong.

Taeil bergumam, "Jadi, untuk hari ini, Jaehyun yang berada di puncak, ya?"

King dan Queen absen, jadi Jaehyun sebagai Jack adalah peringkat tertinggi. Ini seperti menduduki kursi raja untuk satu hari, tetapi Jaehyun sama sekali tidak tertarik pada takhta dan segala kekuasaannya.

Doyoung menaik-turunkan alisnya, menggoda Jaehyun, "Apa yang akan kau lakukan hari ini, Jack?" tanyanya, melirik ke arah bangku Serim yang masih kosong, tanda si pemilik bangku belum datang.

Mata Jaehyun mengikuti ke mana arah tatapan Doyoung, kemudian matanya meredup, teringat akan sesuatu. "Seperti yang King dan Queen lakukan, kurasa," jawab Jaehyun dengan suara yang lebih rendah dari biasanya, membuat Taeil dan Doyoung terdiam. Keduanya merasa Jaehyun sedang memikirkan sesuatu yang cukup kejam, membuat tubuh mereka sedikit merinding.

Apapun itu yang direncanakan Jaehyun, rasanya itu tidak berbeda jauh dengan apa yang selalu Taeyong dan Ten lakukan pada Joker. Kejam.

Keduanya teringat pada kejadian beberapa minggu yang lalu, saat Ten mengurung Serim di kamar mandi dan mengguyur gadis itu dengan tiga ember air kotor dari atas. Meskipun tidak terdengar begitu kejam, namun jika mereka membayangkan berada di posisi Serim, mereka akan cukup menderita—belum termasuk perlakuan yang dia terima sebelum-sebelumnya.

Tidak lama, Serim datang. Jaehyun tidak langsung menghampiri gadis itu, memilih untuk tetap diam dan duduk di tempatnya hingga bel masuk terdengar. Jaehyun membiarkan anak-anak lain menindas Serim, membuat Taeil dan Doyoung memasang wajah bertanya, semakin penasaran dengan ide yang dipikirkan Jaehyun.

Apakah Jaehyun akan melakukan hal bar-bar seperti Ten? Atau intimidasi mengerikan seperti Taeyong? Atau perpaduan keduanya? Baik Taeil maupun Doyoung tidak bisa menebak apa yang dipikirkan Jaehyun, sama seperti mereka tidak bisa menebak pikiran Taeyong karena Taeyong yang selalu memasang senyum tipis yang terlihat sangat misterius. Sedangkan Jaehyun sering memasang ekspresi datar.

Ketika bel pertanda istirahat berbunyi dan guru yang mengajar sudah keluar kelas, murid-murid dengan cepat berhamburan keluar kelas. Ingin segera ke kantin sebelum tempat itu penuh sesak. Doyoung baru saja membuka mulutnya dan akan mengajak Jaehyun untuk makan siang, namun suara Jaehyun membuat Doyoung segera terdiam.

"Mau ke mana kau?"

Suara Jaehyun begitu dingin, menusuk. Hanya dengan satu kalimat tanya sederhana dan kelas itu berubah hening, hanya terdengar keramaian dari lorong untuk sesaat, sebelum keramaian itu juga berubah menjadi keheningan karena mereka ingin melihat pertunjukan kelas 3-Spade.

Seluruh gerakan di kelas itu terhenti, kepala mereka menoleh ke arah Jaehyun berada. Tanpa perlu bertanya siapa yang dipanggil Jaehyun, semuanya tahu siapa yang dimaksud—Park Serim, tentu saja. Bahkan Joker itu sendiri tahu bahwa Jaehyun memanggilnya.

Park Serim sudah menyiapkan jawaban, namun entah kenapa dia seolah kesulitan menjawab, menyisakan keheningan yang begitu mencekam di kelas. Setiap detik yang berlalu seakan menambah ketegangan di sekitar mereka.

"Aku bertanya padamu, Joker."

Kata terakhir ditekan, memperjelas apa yang sudah jelas. Park Serim membalikkan tubuhnya menghadap Jaehyun yang masih duduk di tempatnya. Tubuh bersandar dengan nyaman, tangan menyilang di depan dada, dan kaki kanan yang berada di atas kaki kiri. Tatapan matanya begitu dingin, menanti jawaban dari pertanyaannya.

"Kemana aku pergi, aku tidak harus melapor padamu, kan?"

Park Serim, dengan segenap keberaniannya yang dia kumpulkan, menjawab. Jawabannya seolah menantang maut, namun Serim meyakinkan dirinya bahwa Jaehyun tidak akan melakukan hal kejam seperti Taeyong dan Ten. Lagipula, Serim ingat dan sadar dia tidak pernah memiliki masalah dengan Jaehyun. Tidak ada alasan bagi Jaehyun untuk benar-benar menindasnya seperti yang dilakukan Taeyong dan Ten. Dengan kata lain ini hanyalah akting.

Sedangkan Taeil dan Doyoung merasa kesal dengan jawaban Serim.

"Jaga mulutmu di depan Jack, Joker." Taeil menatap Serim tajam dan menekankan gelar Serim, mengingatkan gadis itu akan posisinya sebagai kasta terendah di sana.

Mendengar jawaban Serim, Jaehyun terkekeh pelan. "Ya, tentu saja. Aku juga tidak peduli kau mau ke mana—kau mati pun aku tidak peduli," kata Jaehyun, membuat sebagian orang yang ada di sana menahan nafas, tidak menyangka enam kata terakhir itu keluar dari mulut Jaehyun. "Hanya saja, aku bertanya padamu. Kau, sebagai kasta terendah, bukankah harus tunduk kepada kasta yang lebih tinggi? Menjawab pertanyaanku dengan baik adalah salah satu hal yang harus kau lakukan."

Melihat Serim yang hanya terdiam, Jaehyun tersenyum tipis, hanya sepersekian detik sebelum senyum itu luntur dan berganti menjadi wajah yang dingin. Dia berkata, "Kemari. Berlutut di depanku."

Jaehyun sudah mengingatkan posisinya di kelas dan perannya, namun Park Serim adalah orang yang lumayan keras kepala. Dia menolak menuruti perintah Jaehyun, memilih untuk tetap berdiri meskipun tangannya yang mengepal di sisi tubuhnya terlihat sedikit gemetar.

"Kubilang, berlutut."

Jaehyun mengulang perintahnya. Kilat amarah terlihat di tatapan matanya yang dingin, kesal karena Park Serim dengan keras kepala menolak perintahnya.

Gemas, Taeil mencengkram kepala Serim kasar dan memaksanya untuk berlutut di hadapan Jaehyun yang kini sudah memutar kursinya sedikit serong ke samping kiri. Doyoung berdiri dengan tegap di belakangnya, dan Taeil yang masih mencengkram kepala Serim berdiri di samping gadis itu.

Serim merasakan kulit kepalanya perih, sebagian rambutnya tertarik dan dia yakin ada rambutnya yang rontok karena cengkraman Taeil di kepalanya tidak main-main. Dengan paksaan, tubuh Serim berlutut di hadapan Jaehyun. Lututnya membentur lantai dan sesaat kemudian dia bisa merasakan sedikit denyut nyeri di sana. Serim mendongakkan kepalanya dengan susah payah, memberi tatapan sengitnya kepada Jaehyun.

Jaehyun memberi gestur kepada Taeil untuk melepas cengkramannya dari kepala Serim dan Taeil langsung menurutinya. Di saat yang singkat itu Serim bernafas lega, sebelum dia merasakan sesuatu menekan kepalanya ke bawah, memaksanya menunduk.

"Kau tidak berhak menatapku seperti itu, Joker. Seharusnya kau patuh seperti anjing." Kaki Jaehyun menekan kepalanya semakin ke bawah, membuatnya semakin menunduk.

Park Serim merasa harga dirinya diinjak-injak.

Masih dengan telapak kakinya berada di atas kepala Serim, Jaehyun berkata, "Aku akan berbaik hati mengingatkanmu, jangan cari masalah dengan tiga orangLee TaeYong, Johnny Seo, dan Jung JaeHyun." Jaehyun mengucapkannya dengan nada rendah, penuh penekanan.

Mendengar tiga nama yang disebut, Park Serim berpikir, dia tidak mengusik tiga orang yang disebut Jaehyun tadi. Dia tidak pernah mengusik Lee Taeyong, Johnny Seo, dan Jung Jaehyun. Tidak barang sekali pun. Namun Jaehyun berkata seolah dirinya benar-benar mencari masalah dengan ketiganya sekaligus. "Aku tidak—"

Park Serim belum sempat menyelesaikan ucapannya ketika Jaehyun mengangkat kakinya dan berganti mencengkram dagu Serim dengan kencang, membuat gadis itu meringis menahan sakit. Kepalanya kini dipaksa mendongak, membuat matanya bertatapan langsung dengan mata Jaehyun yang berkilat tajam, penuh ancaman. "Oh? Apa yang akan kau katakan? 'Aku tidak pernah mengusik kalian bertiga', begitu?" tanyanya, "Apa kau masih belum sadar? Atau masih setengah sadar?" lanjutnya. Tangannya yang tidak mencengkram dagu Serim terangkat, gestur meminta. Doyoung yang berdiri di samping Jaehyun segera menyerahkan sebotol air yang tutupnya sudah dibuka.

Jaehyun, dengan mata masih berkilat penuh amarah, menyiram wajah Serim hingga air yang ada dalam botol itu habis. Park Serim tersedak, merasakan air yang tidak sengaja masuk ke saluran pernafasannya. "Kurang, ya?" Jaehyun memainkan botol kosong di tangannya, memikirkan cara lain untuk menyiksa gadis yang kini basah kuyup. "Seharusnya kutenggelamkan kepalamu dalam bak penuh air." Jaehyun berdiri, memberi gestur kepada siapapun untuk menyeret Serim dan mengikuti kemana Jaehyun pergi. Taeil dan Doyoung mengekor di samping kanan dan kiri Jaehyun, selangkah di belakang sang Jack.

Tujuan Jaehyun adalah kolam yang ada di taman belakang. Sesampainya di sana, Jaehyun berdiri di hadapan Serim yang kembali berlutut. "Jung Jaehyun, aku benar-benar—"

"—benar-benar tidak melakukannya!" Jaehyun memotong ucapan Serim, menirukan ucapannya. "Mau berapa kali pun kau mengatakannya, pada kenyataannya kau memang melakukannya." Mengusik ketiganya.

Doyoung yang hanya menjadi pentonton bersama Taeil mengernyitkan dahinya, kebingungan. "Sebenarnya aku bertanya-tanya, hyung," Doyoung berbisik kepada Taeil, mengalihkan atensi yang lebih tua dari menonton Jaehyun dan Serim, "apakah Jaehyun ada masalah dengan Park Serim?"

Taeil menggeleng sebagai jawaban. Tidak tahu. "Johnny juga tidak pernah berurusan dengan Park Serim, tapi dia setuju saat Taeyong dan Ten meminta bantuannya untuk menurunkan kasta Yeon Jeonghyun." Taeil teringat bagaimana Johnny terlihat sangat bersemangat memikirkan ide untuk menindas Yeon Jeonghyun setelah dia menurunkan kasta kekasih Serim tersebut.

"Nah. Setahuku, yang pernah berurusan langsung dengan Park Serim hanya Ten," kata Doyoung, menambahkan. "Lalu, Taeyong juga ... sepertinya tidak terlibat—benar-benar hanya Ten. Anak itu juga berkata padaku bahwa Taeyong tidak bersamanya saat itu."

Setelah itu, keduanya bertatapan, menghela nafas. 'Apakah mereka bertiga memiliki masalah lain dengan Park Serim?' pikirnya.

"Taeil hyung." Sosok jangkung berjalan mendekati kerumunan—tepatnya, menuju Taeil.

Yang dipanggil menoleh, "Oh, Johnny."

"Aku mencarimu kemana-mana, ternyata kau di sini," kata Johnny, ikut mengamati Jaehyun dan Park Serim yang sedang berada di pinggir kolam. Melihat itu Johnny tersenyum kecil, cukup puas karena Jaehyun sudah mewakilkannya menindas Park Serim. Johnny ingin bergabung dengan Jaehyun, sayang sekali dia berbeda kelas.

Taeil menghela nafas, "Aku High Class, tentu saja aku harus menemani Royal Class kemana-mana."

Mendengar itu Johnny terkekeh, kemudian kembali memperhatikan Jaehyun yang kini berjongkok di hadapan Serim, mensejajarkan tubuhnya.

"Hei, Park Serim. Johnny Seo juga ada di sini. Kau tidak ingin melakukan pengakuan dosa?" tanyanya.

Mendengar nama 'Johnny Seo' disebut, Park Serim mengalihkan pandangannya sejenak untuk mencari si pemilik nama dan dia menemukannya; sedang berdiri di samping Taeil dengan wajah puas. Seringai kecil terbentuk di bibir Johnny dan tatapannya berubah dingin saat tahu Park Serim sedang melihat ke arahnya.

Entah kenapa tubuh Serim merinding.

"Kau tidak ingin melakukan pengakuan dosa?" tanya Jaehyun lagi, mengulang pertanyaannya yang tidak dijawab—diikuti seringai yang terbentuk di bibirnya saat tahu Serim menemukan Johnny di antara kerumunan.

"Aku benar-benar tidak pernah berurusan dengan kalian bertiga." Untuk yang kesekian kalinya Serim mengucapkan kalimat itu. Dalam hatinya dia kesal karena Jaehyun sama sekali tidak mempercayainya. Kini, Serim juga merasakan ketakutan mulai menyelimuti dirinya—kehadiran Johnny Seo di sana seolah memperkuat kalimat Jaehyun tentang dirinya yang mencari masalah dengan tiga nama yang tadi disebutnya.

Jung Jaehyun, dan sekarang Johnny Seo.

Lalu, Lee Taeyong.

Dari tiga orang yang disebut Jaehyun, Taeyong adalah satu-satunya yang pernah menjalin pertemanan dengannya dan yang memiliki kemungkinan tertinggi pernah tanpa sengaja memiliki masalah dengannya. Tetapi Serim ingat sekali, dia tidak pernah membuat Taeyong kesal.

Sebuah pertanyaan muncul di kepala Serim.

Sebenarnya, kesalahan apa yang pernah aku perbuat?

Jaehyun kembali menegakkan tubuhnya, berdiri dengan angkuh di hadapan Serim yang masih menunduk, berlutut. Kilat mata Jaehyun masih terlihat dingin, sama sekali belum puas karena Serim lagi-lagi menolak mengakui bahwa dirinya pernah melakukan kesalahan pada tiga orang yang tadi disebutkannya. "Baiklah," Jaehyun berkata, dan tubuh Park Serim terlonjak kecil—dengan was-was memikirkan apa yang akan Jaehyun lakukan padanya. Meskipun dalam hatinya Park Serim berharap Jaehyun tidak akan melakukan hal yang kejam seperti Ten atau Taeyong, namun dia tahu, Jung Jaehyun tidak sebaik itu.

Hela nafas keluar dari mulut Jaehyun, menatap kolam di depannya main-main. "Sebotol air di kelas tadi sepertinya belum bisa membuatmu ingat, ya?" tanyanya, kembali menatap Serim dan menyeringai kecil. "Bagaimana dengan air sebanyak ini?"

Dua kemungkinan besar yang dapat Serim pikirkan di kepalanya adalah antara Jaehyun akan menenggelamkan kepalanya di kolam dan yang terburuk adalah menceburkan tubuhnya.

Demi Tuhan, dia tidak bisa berenang!

"Jung Jaehyun, maafkan aku—" Serim sedikit menegakkan tubuhnya, menatap Jaehyun ketakutan. Serim tidak mengerti di mana letak kesalahan yang dia perbuat, namun dia tahu di sini dia harus meminta maaf. Tangannya bergerak untuk meraih kaki Jaehyun namun dengan cepat laki-laki itu menyingkirkan kakinya sehingga tangan Serim kembali menyentuh tanah, lagi-lagi membungkuk kepadanya. "—maafkan aku, kumohon."

"Kumaafkan."

Mendengar itu, mata Serim membulat. Jung Jaehyun memaafkannya?

Dengan cepat, perasaan lega memenuhi dadanya. Serim benar-benar tidak tahu kesalahan apa yang telah dia lakukan hingga Jaehyun—yang selama ini dia pikir tidak pernah dia usik—menindasnya seperti ini. Tapi sepertinya kesalahan yang dia perbuat tidak separah itu hingga Jaehun dengan mudah memaafkannya.

Ternyata Jung Jaehyun jauh lebih baik daripada Lee Taeyong dan—

Dalam sepersekian detik, Serim menyadari sesuatu.

Orang yang berdiri dengan angkuh di depannya ini, yang menatapnya rendah, adalah teman baik Taeyong dan Ten.

Mengingat perbuatan Taeyong dan Ten selama ini kepadanya, sedikit mustahil Jaehyun dengan mudah memaafkan kesalahannya.

"... kau pikir aku akan mengatakannya?" Jaehyun tersenyum asimetris, membuat secercah harapan Serim menghilang begitu saja. Gadis itu mendongak menatap Jaehyun dengan wajah bodohnya, menyadari bahwa lagi-lagi dirinya dipermainkan. "Apakah kau kira semua orang dapat memaafkan kesalahanmu hanya dengan kau mengucapkan kata 'maaf'?" Jaehyun bertanya, sedikit menunduk untuk meraih kepala Serim, menarik rambutnya, membuat gadis itu menjerit kesakitan. Dalam sepersekian detik yang singkat, tubuh Serim telah basah sepenuhnya dengan air kolam. Susah payah gadis itu berpegangan pada pinggir kolam, mengotori jemarinya dengan tanah, dan dia langsung tersedak karena air yang masuk ke organ pernafasannya.

Melihat itu, Jaehyun berkata, "Wah, ternyata kau benar-benar tidak bisa berenang." Nadanya datar, tidak peduli dan tidak merasa bersalah sama sekali. Sebaliknya, dia justru merasa puas melihat gadis itu sedikit menderita.

Sedikit.

Bagi Jaehyun, penderitaan Serim ini hanya sedikit.

Belum puas dengan upaya menenggelamkan Serim di kolam, Jaehyun mengangkat kakinya dan menginjak kedua tangan Serim yang digunakan gadis itu untuk berpegangan di permukaan tanah agar tubuhnya tidak benar-benar tenggelam. Jaehyun menyingkirkan pegangan tangannya hingga terlepas, membuat Serim panik dan susah payah menendang-nendang air agar tubuhnya dapat mengapung.

Sedangkan Jaehyun hanya berdiri di sana, menatapnya dengan dingin tanpa berniat untuk menolongnya. Tidak lama, dia berbalik dan melangkahkan kakinya meninggalkan Serim di sana begitu saja.

"Kalian boleh bubar," kata Jaehyun kepada anak-anak kelasnya, "kalian bisa lakukan apapun—kecuali menolongnya." Jaehyun melirik Serim sekilas, kemudian berlalu dari sana dengan Taeil dan Doyoung yang mengikutinya. Ah, Johnny juga.

"Hei, Jae," Johnny memanggil Jaehyun setelah mereka pergi cukup jauh dari kolam. Jaehyun menolehkan kepalanya sedikit sebagai respon, kemudian Johnny berkata, "Aku pinjam Taeil hyung, ya?"

Tanpa menunggu jawaban Jaehyun, Johnny menarik tangan Taeil dan membawanya pergi meninggalkan Jaehyun dan Doyoung. Lagipula, Jaehyun pasti akan menjawabnya dengan 'iya'.

Sepeninggal dua orang itu, Doyoung bertanya, "Jae, kau akan meninggalkan Serim begitu saja?"

Raut wajah Jaehyun berubah menjadi lebih rileks setelah dia menyelesaikan satu dari sekian banyak rencananya untuk menindas Serim. Setelah menarik nafas panjang, Jaehyun menjawab, "Dia akan baik-baik saja, hyung. Tokoh protagonis sepertinya tidak akan mati dengan cepat—selalu ada pertolongan untuknya."

Setelahnya, Doyoung terdiam. Dia tidak tahu apa alasannya, namun melihat Serim yang tertindas seperti barusan, pada suatu sudut di hatinya dia merasa lega.

Rasanya, Doyoung ingin melakukannya juga.

Balas dendam. []