Di dalam kantor Kirishima serba putih, saintis mengetik hasil simulasi data di komputer.
"Wanzer yang bagus. Performa yang bagus, menurut saya," kata teknisi JDF mengetik laporan simulasi di laptop.
"Iya, ini adalah wanzer termuktahir," kata saintis.
Teknisi JDF menutup cover laptop hijau navy, berpaling kepada saintis berjas putih yang masih sibuk mengetik. "Hei, Dr. Koike. Pangkalan Yokosuka ingin wanzer ini dikirim sekarang."
Jari Koike berhenti. Dia merogoh ponsel dari kantong celana yang tertutupi jas laboratorium. "Aku akan memesan helikopter kargo." Berbalik ke arah teknisi. "Kami akan mengirim dua wanzer sekarang." Koike menelepon pihak transpotasi.
"Hai," kata Kazuki memasuki ruangan harum lavender. Beda jauh dengan bau besi tempat simulasi bawah tanah.
"Hai Kazuki. Selalu menakjubkan seperti biasa," kata teknisi JDF.
Koike menaruh ponsel ke dalam kantong celana. "Iya, kamu sangat cepat beradaptasi dengan model baru." Dia kembali menatap komputernya.
Kazuki menggaruk kepala menunduk. "Terima kasih. Kamu juga hebat, bisa merancang wanzer ini dalam deadline ketat."
"Ini adalah kesempatan kita untuk berpartisipasi dalam projek Angkatan Pertahanan Jepang.
"Akan lebih baik kalau kita bisa mendapat anggaran dari pertahanan nasional," kata Koike.
Mesin printer jadul berdesing.
"Tapi wanzer itu adalah tipe menyerang. Bukankah terlalu agresif untuk tentara kita yang murni defensif?" tanya Kazuki.
"Mungkin mereka ingin memulai perang," kata pemuda berambut coklat ikal sebahu selagi memasuki ruangan.
Mata Kazuki membelalak. "Ryogo?"
Koike berbalik melipatkan kedua tangannya. "Itu tidak akan terjadi. Jepang tidak akan pernah memulai perang."
Ryogo mendecak pinggang sebelah kiri. "Kelihatannya aja begitu..."
"Sejak Alordesh [1], kita sering mengirim pasukan untuk perang sipil di Kawasan OCU [2]," kata teknisi JDF.
Ryogo terkekeh. "Seperti beberapa tahun lalu kita mengirim pasukan?"
"Ketika dulu kita tidak punya wanzer yang memadai dan digilas total?" timpal Kazuki.
"Kita sudah belajar dari pengalaman pahit itu.
"Akan tetapi, kalian tidak perlu khawatir.
"Kebijakan militer kita tetap murni defensif." Sesudah mengucapkan perkataan itu, teknisi JDF pergi meninggalkan ruangan, menyisakan desing printer.
[1] Alordesh: Bangladesh zaman sekarang. Merujuk pada front mission sebelumnya dimana Alordesh menyatakan kemerdekaannya dari OCU.
[2] OCU: singkatan dari Oceania Cooperative Union. Sebuah negara supranasional yang mencakup Australia, Selandia Baru, Korea, Jepang, beberapa negara di Asia Tenggara, dan beberapa pulau di Samudera Pasifik.
