Chapter 31

Setelah menata rambut, para Acolyte yang menghias dirinya memberikan sentuhan terakhir pada kepalanya dengan menyematkan bando terbuat dari perak murni. Hal itu menyimbolkan jika orang yang mengenakannya telah berhasil menjalankan quest langsung dari dewi Freya.

"Anda sangat cantik!" ucap seorang Acolyte.

"Aku merasa sedang melihat Dewi Freya!" sahut temannya.

"Sekarang aku mengerti kenapa dia terpilih menjalankan Pilgrimage Quest, itu karena dia melambangkan kecantikan dan keadilan dewi Freya!" puji yang lain.

"Semoga kau diterima sebagai [Maiden] yang kelak memegang pedang Sword of Agataha yang asli," harap mereka.

Lenneth tersenyum lembut pada Acolyte yang sabar merawat dan menghias dirinya, untuk kelangsungan upacara kelayakan dirinya sebagai Maiden. Tradisi ini dikenal dengan nama Promotion. Tidak sembarangan seseorang mendapatkan tradisi ini, hanya gereja serta kerajaanlah yang berhak memutuskan apakah orang tersebut layak mendapatkan promotion atau tidak. Dan ada sebab lainnya yang jarang sekali terjadi.

Seseorang yang mendapat Promotion, kelas mereka berubah sesuai dengan Quest apa yang mereka jalani. Dalam kasus Lenneth dia mendapatkan Promotion langsung dari dewi yang disembahnya, melalui Gereja order of Freya perintah itu dititahkan, setelah sang penerima quest menyelesaikannya. Penilaian tetap dilakukan oleh Dewi Freya, apakah calonnya tersebut lulus atau tidak.

Itulah hal terkait promosi yang ada di dunia ini. Pada masa lalu orang-orang banyak mendapat kuasa dari dewa dan dewi yang mereka sembah, sebab untuk mendapatkan kekuatan itu tidak memerlukan syarat yang ruwet. Cukup menjadi penyembahnya dan menjalankan apa yang diperintahakn oleh dewa atau dewi yang bersangkutan, maka kau akan mendapatkan anugerahnya.

Namun sejak peristiwa Doomsday, para dewa dan dewi mulai memberikan berbagai persyaratan bagi calon yang ingin mereka berikan anugerah pada orang yang menjadi penyembahnya. Karena itu mereka yang memiliki kekuatan dari dewa dan dewi mulai berkurang, sebab menyerah dengan syarat yang diberikan sang dewa atau dewi untuk mendapatkan anugerah dari mereka.

'Aku harap dia tidak terlambat!' harap Lenneth.

Lenneth berharap agar orang yang telah menemaninya selama dua bulan dalam menyelesaikan Pilgrimage Questnya, tidak terlambat sebab dia sudah memberikan pita biru pemberian Lady Guinivere sebagai jaminan. Kalau pemuda itu adalah tamu VIP yang memiliki hubungaan erat denganya.

Saat dia memikirkan pemuda pirang itu, seorang Acolyte lain dengan tubuh langsing dan rapi, muncul dengan napas yang sedikt memburu.

"Nona Lenneth! Semua sudah siap, Lady Guinivere dan sang Cardinal juga sudah ada disana. Giliran Anda masuk agar acara ini bisa dimulai!" ucapnya.

Mendengar laporan itu Lenneth menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya perlahan. Dua sampai tiga kali dia melakukan itu, untuk menghilangkan kegugupan. Setelah dia merasa tenang barulah dia menatap pada wanita yang melapor tadi, lalu mengangguk sambil mulutnya berujar dengan keyakinan.

"Aku siap!" ucapnya tegas.

Ketika dia memasuki aula penganugerahan gelar Maiden, berjubel orang berbaris dengan rapi. Mereka semua dikawal oleh para Paladin, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Yang mungkin saja, akan ada sebuah keributan yang muncul.

Acara Promotion dari sebuah gereja Dewa atau Dewi selalu menarik perhatian seluruh ras, sehingga yang datang kemari bukan hanya penyembah Dewi Freya saja. Ada juga penyembah dari dewa dan dewi lain, mereka datang bermaksud untuk menghormati orang yang telah dianugerahi oleh sang Dewi.

Otder of Freya merupakan religi yang memiliki jumlah pengikut sangat banyak. Bahkan kerajaan Rosenheim menjadikan Dewi Freya sebagai Dewi pelindung kerajaan. Yang berarti kalau Order of Freya merupakan religi resmi dari Kerajaan Rosenheim, keputusan itu adalah keinginan yang diambil oleh Raja ke 7 yaitu Alex Theodoren.

Saat itu negeri Rosenheim ditimpa kelaparan pasca Doomsday, karena itulah dia menawarkan dirinya dan seluruh kerajaan pada dewa atau dewi yang mau membantunya membangun kembali kerajaan miliknya. Dalam janji itu, dia menyebutkan bahwa religi resmi kerajaannya adalah penyembah dari dewa atau dewi yang mau menolongnya.

Saat itulah Dewi Freya menyambut tawaran tersebut dan memberikan anugerahnya, agar kerajaan Rosenheim bisa pulih kembali. Melihat rakyatnya bisa makmur, Raja Alex Theodoren pun membuat sebuah maklumat. Dia membangun sebuah tugu persembahan yang di sana tertulis dengan tinta emas.

Setelah memberikan hujan anugerah yang begitu melimpah ini, sehingga rakyatku tidak ada yang kelaparan lagi. Aku Raja ke 7 dari kerajaan Rosenheim bersumpah setia hingga ke setiap generasi keturunanku akan selalu mengagungkan dan memuliakan dewi Freya. Adapun untuk rakyatku akan kuberikan kebebasan mengikuti atau tidak, sebab aku tidak berhak memaksa mereka. Tapi aku sudah memutuskan menjadikan Dewi Freya sebagai dewi pelindung kerajaan Rosenheim, sebagai bukti atas janjiku ini aku membangun sebuah gereja yang khusus menyembah dewi Freya dan kuberi nama Order of Freya. Pada anak cucuku, ingatlah hal ini dan janganlah kalian mengabaikannya sebab kerajaan kita bisa makmur adalah berkat anugerah yang diberikan dewi Freya.

Begitu melihat apa yang tertulis di sana, Freya pun kembali memberikan anugerahnya bahwa keempat utusannya akan selalau dinobatkan di kerajaan Rosenheim, dimana letak kuilnya berada di empat sudut mata angin. Kota Air ada dibagian utara kerajaan Rosenheim, karena itulah penobatan seorang Maiden merupakan acara yang sangat dinantikan para penduduk kerajaan Rosenheim. Karena para Maiden adalah tangan kanan dari dewi pelindung kerajaan mereka.

Lenneth masih bisa menguasai keadaan ditengah ratusan ribu pasang mata yang melihat ke arahnya, baginya tatapan mereka tidaklah menakutkan. Justru dia senang melihat semua menatapnya, itu berarti dia begitu dicintai oleh mereka. Lalu matanya mulai melirik ke sana kemari, memastikan bahwa pria itu ada untuk melihat dirinya dilantik.

"Dimana kau berada, Rat slayer?" gumamnya.

Sayang dirinya tidak menemukan orang yang dimaksud, tapi dia tidak boleh menunjukannya di depan umum sebab akan membuat dirinya tampak konyol dan mencoreng nama Order of Freya. Lenneth terus melangkah menuju tempat sang Cardinal berdiri, yang membawa tongkat simbol dari kesucian dewi Freya.

"Apa itu yang disebut sebagai Staff of Wisdom?"

"Tongkat yang melambangkan kebijaksanan!"

"Kabarnya itu diberikan langsung oleh sang dewi bersamaan dengan [Four Artefak of Maiden]!"

Staff of Wisdom merupakan artefak yang berfungsi sebagai perantara dewi dengan orang kepercayaannya, tidak sembarang pula orang yang menggunakannya. Ketika seseorang menerima tongkat itu, secara resmi dia menjadi Cardinal yang menjadi penghubung dewi Freya dan pemiliknya selalu seorang wanita.

Lenneth mendengar orang orang berceloteh tentang tongkat tersebut, tapi kini dirinya gugup karena berhadapan dengan dua orang yang memiliki posisi penting di kerajaan ini.

"Aku harus bersikap tenang!" menyemangati diri.

Perlahan namun pasti dia mendekati sang Cardinal yang telah menunggunya, kemudian dia membungkuk sebagai tanda hormat. Lalu sang Cardinal yang memiliki rambut coklat panjang, memakai jubah putih dengan beberapa ornamen berwarna emas segera memerinah.

"Angkat kepalamu calon Maiden! Aku menerima hormatmu, sebagai cardinal ke 11! Aku Katerea, mengucapkan selamat karena berhasil menjalan Pigrimage Quest dari dewi Freya. Ini juga pertama kalinya dalam sejarah bukan klan Himejima yang menjadi calon [Sword Maiden] saat ini."

Klan Himejima merupakan klan yang selalu mendapatkan pilgrimage Quest dari Order of Freya untuk mewarisi Sword of Agataha, namun entah kenapa saat ini klan tersebut tidak terpilih sebagai Maiden yang mewarisi kekuatan Sword of Agataha. Setelah mendapat ucapan seperti itu Lenneth membalas.

"Sebuah kehormatan mendapat pujian dari yang mulia Cardinal, saya juga bersyukur karena sang dewi telah memilih serta memberi kekuatan dan kelancaran dalam menjalankan Pilgrimage Quest ini. Lalu saya juga menghaturkan hormat pada Lady dari kerajaan Rosenheim, Lady Guinivere!" ucapnya dengan anggun.

Sang Lady yang mendengarnya menganggukan kepala lalu memberi tanggapan.

"Aku juga merasa terhormat untuk melihat penganugerahan gelar seorang [Maiden], terima kasih padamu yang telah memberiku kesempatan untuk melihatnya secara langsung, saat kecil aku selalu mendengar kalau pengangkatan seorang [Maiden] adalah acara sakral Order of Freya. Dimana seorang manusia akan diberikan kekuatan oleh dewi, kini kesempatan itu datang berkatmu."

Setelah tegur sapa itu selesai, Katerea mengangkat tongkatnya kemudian sebuah sinar lembut memancar dari tongkat tersebut. Orang-orang yang melihatnya mulai merangkapkan tangan dalam posisi berdoa, sebab kuasa sang dewi akan hadir.

"Sebagai tangan kanan dari Dewi Freya yang mengemban misi untuk memberikan Quest kepada orang pilihannya. Aku mengundangmu kemari wahai utusan dewi kecantikan, tolong berikanlah kami kasih sayangmu dengan kau hadir disini!" Ujar Katerea.

Tepat setelah bait itu selesai dilantunkan, cahaya yang memancar itu kian menguat, orang-orang sampai menyipitkan mata demi mengurangi intensitas cahaya yang merasuki mata mereka. Kemudian dari atas langit terlukis sebuah Rune sihir teleportasi dengan simbol dewi Freya, perlahan namun pasti muncullah sosok yang akan menentukan apakah Lenneth lulus atau tidak.

Sosok itu sangat menawan mengenakan pakaian putih bersih dan bercahaya lembut. Namun, dari auranya orang-orang bisa tahu. Kalau dia adalah sosok utusan dewi yang mereka sembah.

"Ini luar biasa!"

"Berapa kalipun aku melihatnya, ini tampak selalu mengagumkan!"

"Sang utusan dewi akan menobatkannya!"

Segera semuanya menunduk hormat kepada sang utusan dewi kecantikan dan kesuburan yang memberitahu keputusannya. Katerea segera menunduk hormat lalu berkata.

"Sebuah kehormatan besar sang utusan dewi sudah datang kemari, selamat datang di gereja sederhana kami!" ucapnya.

"Ufufu jangan berkat seperti itu, bagaimanapun juga ini sebuah kehormatan bagiku. Sekaligus untuk memenuhi harapan dari keturunan Raja Alex Theodoren yang ke 6 yaitu Lady Guinivere!" ucap sang utusan dewi.

Begitu namanya disebut, sang lady segera menunduk hormat. Dia tidak menduga bahwa secara kebetulan acara penobatan ini sebenarnya juga terjadi karena kemurahan hati Dewi padanya. Jelas ini adalah kejadian yang melebihi kata langka. Didorong kegembiraan karena menemui sosok utusan yang telah menolong leluhurnya yaitu Alex Theodoren, sang Lady berkata.

"Saya meminta maaf yang sebesar-besanya jika tidak menyambut Anda dengan Layak, juga sebagai keturunan dari Raja Alex Theodoren saya mengucapkan terima kasih atas anugerah yang telah sang Dewi berikan pada kerajaan Rosenheim sampai hari ini!" ucapnya.

Utusan Freya tersenyum mendengar perkataan tulus dari generasi ke 6 raja yang telah di tolong, kemudian mengangguk untuk menerima ucapannya barusan. Lalu matanya tertuju pada orang-orang yang kini semuanya menunduk hormat pada dirinya. Terakhir matanya menatap sosok yang diberikan Pilgrimage Quest.

Tatapan miliknya memang bergitu lembut dan penuh kasih sayang, namun di sana terselip sebuah kecemburuan. Karena kedekatan yang dimiliki orang pilihannya itu, dengan sosok yang akan memberikan sang dewi pertunjukan kekuatan tekad.

'Sang dewi begitu iri pada orang yang akan akan dianugerahi ini, sungguh pertama kali terjadi padanya. Sebagai dewi cinta dan hasrat, dia ingin sekali memisahkanmu dengannya. Tapi dia harus menundanya karena jika dilakukan sekarang , api tekad miliknya akan lepas kendali. Lagipula sang dewi berkata kalau dia adalah bidak yang akan dikorbankan oleh pemuda itu, dadu takdir tidak pernah menunjukkan kesalahan. Jadi aku diperintahkan untuk menundanya sampai saat itu tiba. Ketika itulah kau akan sepenuhnya menjadi miliknya, Lenneth!' batin sang utusan dewi.

"Lennteh! Aku sudah melihat semua usaha yang kau lakukan untuk sampai kemari dan menyelasaikan Pilgrimage quest yang diberikan. Sang Dewi juga begitu terkesan akan bagaimana kau melakukannya, setiap orang yang kau selamatkan selalu menjadi pengikutnya. Kau menjalankan Quest dengan baik. Namun, sang Dewi tidak memutuskan kau layak atau tidak menjadi seorang [Maiden]. Dewi Freya hanya mengakui usahamu saja." ucap sang utusan dewi.

Semua yang mendengar itu terkejut dengan apa yang diucapkan sang utusam dewi, beberapa di antara mereka mulai berbisik.

"Apa dia membuat kesalahan?"

"Jika dewi mengakuinya saja tanpa memberi keputusan, bukankah itu cara halus untuk menyatakan kalau dia gagal!"

"Sepertinya memang mustahil, kalau pemegang kekuatan dari Sword of Agataha bukan dari Klan Himejima!"

Lenneth yang mendengar keputusan itu dan bisikan-bisikan dari mereka melebarkan mata, usahanya selama dua bulan ini hanya membuat sang dewi mengakuinya saja tidak menyatakan dia layak. Meski itu berarti dia menghargai usaha yang dilakukan, tapi itu tidak mengubah fakta kalau dia tidaklah layak menjadi seorang [Maiden].

Utusan Freya bermain-main dengan kata untuk membuat calon [Maiden], tidak memahami tindakan apa yang akan diambilnya. Saat itu dia melihat tubuh Lenneth gemetar, meskipun dia mencoba menahannya agar terlihat tegar.

"Sebuah kehormatan mendengar itu langsung dari utusan Dewi, kedatangan Anda yang mau meluangkan waktu dalam acara ini. Sudah merupakan hadiah terbesar yang saya peroleh dari Anda, meskipun saya tidak layak menjadi seorang [Maiden]. Saya akan berusaha lebih keras lagi, jika kesempatan itu datang kembali." ucapnya lancar, meski dalam hati terasa sakit.

Orang-orang begitu terharu, mendengar apa yag baru saja diucapkan Lenneth. Mereka jelas tahu kalau ada jejak kecewa dalam nadanya yang terdengar tampak tegar, karena gagal untuk menjadi seorang [Maiden].

"Sayang sekali ya!"

"Padahal dia sudah berjuang!"

"Anugerah dari dewa akhir-akhir ini sulit di dapat!"

Itulah sekian dari bisikan-bisikan, setelah mendengar ucapan Lenneth yang gagal untuk menjadi seorang [Maiden]. Mereka hanya bisa berempati, karena jika sang dewi sudah memutuskan. Sedikit sulit untuk seseorang bisa mengubah keputusannya itu. Utusan Freya tersenyum puas saat melihat kesabaran dan ketabahan yang dimiliki Lenneth.

"Jadi pada akhirnya, sang dewi hanya mengakui usahanya saja dan tidak menyatakan layak, ini pasti berat untuk gadis pendeta itu. Setelah acara ini selesai, ayo kita hibur dia Rat slay-"

Sai yang menyaksikam semuanya berkomentar, namun sebelum dia mengkonfirmasi kalau akan menghiburnya dengan pria itu. Dia yang kini mengenakan zirah samurai orange lengkap dengan kabuto serta topeng yang menutupinya melangkah dengan tenang. Di punggungnya bertengger gada yang menjadi rebutan para petualang.

"Oi apa yang akan dilakukan olehnya?"

"Bu-bukankah gada itu!"

"Dia orang yang tadi ada di Diamond Knight bar!"

Orang-orang berkomentar seperti itu saat Naruto melangkah menuju aula tempat Lenneth berada, Sai malah Sweatdrop saat ketua Partynya ke sana.

'Sepertinya, dia akan bertindak seenaknya!' batin Sai

Utusan Freya yang melihat kalau calon Maidennya berhasil menguasai kekecewan berkata.

"Aku berterima kasih karena usahamu itu, karena itu-"

"Karena itu aku akan membuangmu, apa itu yang ingin kau ucapkan?" ucap Naruto dingin.

Semua yang hadir melebarkan mata saat ucapan utusan dewi Freya dipotong dengan dinginnya, oleh seseorang yang mengenakan zirah samurai orange lengkap dengan kabuto serta sebuah gada bertengger dipunggungnya yang mengeluarkan aura misterius. Bahkan sang dewi sendiri terkejut karena hal itu.

'Ini sesuai prediksi dadu takdir, aku hanya perlu memberi sentuhan akhir agar semuanya berjalan sesuai rencananya ufufu!' batin sang utusan.

Di tengah keterkejutan orang-orang karena utusan dewi pelindung utama kerajaan Rosenheim dipotong ucapannya oleh sang samurai, utusan dewi malah tersenyum karena alur takdir Rat slayer berjalan sesuai prediksi sang dewi.

Author Note

Yoo Jinchuriki Shukaku di sini. Kelanjutan cerita ini akhirnya bisa kubuat, Naruto kali ini berulah lagi. Kali ini kubuat dia ada di situasi yang dia pikirkan saat bermonolog, setelah membela Sai dari tekanan Kuisha.

Aku berharap alur di chapter ini mengalir dan gak terasa dipaksakan, tulis pendapat kalian di kolom komentar ya. Dan untuk Arc berdarahnya akan dimulai sebentar lagi, jadi siapin aja mental kalian untuk membacanya.

Karena ketika sudah dimulai akan banyak beberapa hal yang akan terungkap, dan kuharap juga kalian bisa enjoy menikmati cerita ini oke.

Kalau kaliam punya kritik dan saran jangan lupa tulis kolom komentar dan jangan lupa Fav/Follow cerita ini kalau kalian suka dengan apa yang kubuat. Oke sekian itu aja dari saya.

Gong Xi Fa Cai untuk saudara Chinese sekalian

Marhaban Syahrur Rajab untuk umat muslim! Semoga seluruh dosa kita di ampuni Allah dan kita diberkati di bulan Rajab dan Sya'ban. Kemudian dipertemukan dengan bulan Ramadhan, Amiin!