[Antagonist]
NCT belongs to themselves
"Antagonist" belongs to Lexa Alexander
Inspired by: Caste Heaven by Chise Ogawa
Main Pair: TaeTen
Other Pair: JaeDo, JohnIl
Taeyong terbangun saat jam menunjukkan pukul lima sore. Langit sudah berubah menjadi jingga.
Langit-langit kamar Ten, tempat tidur Ten, kamar Ten. Taeyong teringat tadi pagi dirinya kabur ke apartemen Ten dan membolos sekolah. Sadar bahwa yang baru saja dia alami hanyalah mimpi, Taeyong menarik nafas panjang.
Sudah lama dia tidak memimpikan kejadian itu lagi.
Taeyong duduk, mengusap wajahnya. Mimpi itu seolah mengorek kembali luka lama yang dengan susah payah dia lupakan. Pikirannya kembali kacau untuk beberapa saat, berusaha mengingat hal-hal yang telah dia lalui setelah berhasil 'bertahan hidup' dari kejadian itu. Kenangan-kenangan yang menyenangkan bersama Ten, bagaimana kini dia dapat memandang orang yang berlutut di hadapannya, dan rasa puas karena dapat berjalan dengan dagunya yang terangkat.
Taeyong masih menyusun kembali pikirannya ketika pintu kamar terbuka, menampilkan sosok Ten yang datang dengan nampan berisi sepiring camilan dan secangkir teh hangat. Entah dia membawa itu untuk Taeyong atau untuk dirinya sendiri.
Melihat Taeyong yang telah terbangun menatapnya, Ten tersenyum, "Sudah kuduga kau akan bangun jam segini," katanya, meletakkan nampan di meja nakas sembari berkata, "Aku membawakan camilan ini untukmu."
Tidak membalas Ten, Taeyong hanya tersenyum tipis.
Ten mendudukkan dirinya di dekat Taeyong, menatap sahabatnya yang masih menunduk dan terdiam tanpa berniat membuka mulutnya untuk bersuara. Ten menghela nafas pelan, beringsut mendekati Taeyong dan merengkuh sosok itu ke dalam pelukan. Tanpa perlu Taeyong memberitahunya, Ten sudah dapat menebak apa yang membuat Taeyong masih terdiam bahkan setelah menghabiskan sepanjang hari untuk tidur.
Mimpi buruk itu datang lagi.
Taeyong menyamankan dirinya dalam pelukan sahabatnya, meletakkan dagunya pada pundak Ten, menghirup dalam-dalam aroma tubuhnya. Perlu beberapa saat hingga Taeyong menjadi lebih rileks dan melingkarkan tangannya pada pinggang Ten, mengeratkan pelukannya hingga tubuh Ten semakin menempel dengan tubuhnya.
"Hyung, aku di sini. Kau sudah tidak di sana, kau ada di sini bersamaku."
Tidak ada balasan dari Taeyong, namun dia mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Ten. Dalam hatinya, Taeyong mengulang kalimat Ten berkali-kali, mengingatkan dirinya bahwa sekarang dia tidak lagi berada di penjara itu—dia di sini, bersama Ten.
Keheningan menyelimuti mereka untuk beberapa saat. Ten mengusap punggung Taeyong, memberinya ketenangan. Bayangan tentang Taeyong ketika pertemuan pertama mereka setelah sekian lama kembali muncul di kepala Ten, membuatnya diselimuti rasa takut akan kehilangan sahabatnya lagi untuk yang kedua kali.
Ten tidak ingin Taeyong kembali ke masa itu.
"Hyung," Ten berbisik di telinga Taeyong, memanggil namanya, mengalihkan pikiran Taeyong agar tidak memikirkan mimpinya lagi.
Tangan Taeyong bergerak, melingkar di pinggang Ten dan memeluknya erat. Aroma Ten yang menenangkan dan pelukannya membuat Taeyong merasakan nyaman. Degup jantungnya melambat secara perlahan, dan pikirannya sedikit rileks. Taeyong tidak berkata apa-apa, hanya diam dan memeluk Ten dalam waktu yang cukup lama.
Detik berlalu berganti menit. Ten masih pada posisinya, sesekali mengelus punggung Taeyong atau memainkan jemarinya di sela helai rambutnya. Dirasakannya Taeyong tidak setegang tadi, namun Ten tidak berniat untuk melepaskan pelukannya dari Taeyong.
"... aku menyayangimu, Ten."
Bisikan Taeyong masih dapat didengar Ten. Masih dengan memainkan rambut Taeyong, Ten hanya membalasnya dengan gumaman tidak jelas sebelum membalasnya, "Aku juga menyayangimu, hyung."
Hening untuk beberapa saat. "Aku benar-benar sayang Ten." Taeyong mengulangi perkataannya. Kali ini Ten hanya membalasnya dengan gumaman tidak jelas.
Taeyong menyayangi Ten.
Sangat.
Baginya, Ten adalah segalanya; dunia, dan mungkin—
—hidupnya.
Ada banyak hal yang ingin Taeyong katakan untuk Ten. Terlalu banyak hal, hingga kalimat yang selalu keluar dari mulutnya saat ingin mengatakan 'banyak hal' itu hanyalah satu kalimat sederhana, "Aku menyayangimu."
Dan Ten mengerti.
Ten mengerti apa yang ingin disampaikan Taeyong dari sebuah kalimat random yang dia ucapkan secara tiba-tiba.
Perlahan, Taeyong mendorong tubuh Ten, membuat yang lebih kecil berbaring dengan tubuh Taeyong yang berada di atasnya, masih memeluknya erat. Taeyong beringsut ke atas, meletakkan dagunya di perpotongan leher Ten. "Aku benar-benar menyayangimu."
Kalimat yang dibisikkan Taeyong menggelitik telinganya. Lagi-lagi Ten tidak membalas, masih dalam posisinya yang merengkuh Taeyong dalam pelukannya.
"Ten."
Mendengar Taeyong memanggil namanya, Ten memberi respon dengan gumaman.
"Aku lelah."
"Tidurlah, hyung."
Taeyong menggelengkan kepalanya, bergumam tidak jelas dengan nada sedikit seperti anak kecil yang merajuk. "Aku ingin seperti ini."
Mendengar itu Ten terkekeh pelan, mengusak kepala Taeyong. "Baiklah."
"... boleh, kan, Ten?" tanya Taeyong, pelan sekali. "Kali ini saja."
"Tentu saja." Bahkan jika itu tidak hanya untuk kali ini. Ten merasakan jantungnya berdenyut nyeri. Bahkan setelah tiga tahun, dia masih melihat sosok Taeyong yang seperti ini. Dia tidak berpikir bahwa Taeyong dapat melupakan semuanya dalam waktu dekat dan dia sudah menyiapkan diri untuk hal itu. Namun tetap saja, melihat Taeyong yang seperti ini untuk yang kesekian kalinya, Ten tidak dapat terbiasa. Rasanya menyakitkan. Kalau bisa, Ten ingin memindahkan memori menyakitkan Taeyong ke dalam kepalanya.
Hening sejenak. "... sampai pagi?" tanya Taeyong.
"Sampai pagi," Ten memindahkan posisi mereka menjadi berbaring, sehingga kali ini dia dapat menatap wajah Taeyong. Lagi, Ten merasakan nyeri saat dia melihat tatapan mata Taeyong yang terlihat kosong. "Aku akan menjadi orang pertama yang kau lihat saat kau membuka matamu esok hari." Ten dapat merasakan senyumnya sendiri terasa pahit. Kemudian dia beringsut mendekat ke arah Taeyong dan membenamkan wajahnya di dada sahabatnya. "Sekarang, istirahatlah, hyung." Aku tahu kau lelah.
Ten tahu, tidur tidak akan banyak membantu. Namun, setidaknya saat tidur, Taeyong tidak akan terlalu banyak berpikir dan Ten dapat melihat wajah damai Taeyong. Kali ini, Ten berdoa semoga Taeyong tidak memimpikan kejadian buruk itu lagi.
Ten menyejajarkan wajahnya dengan Taeyong saat dia merasakan Taeyong telah terlelap. Matanya menangkap kantung mata Taeyong yang menghitam. Ini pertama kalinya setelah sekian lama Ten tidak melihatnya di wajah Taeyong. Lagi, meskipun seharian ini Taeyong menghabiskan waktunya untuk tidur, Ten melihat raut lelah di wajahnya saat ini.
Nafas Ten tercekat. Dalam diam, Ten menangis. Perlahan Ten kembali memeluk Taeyong, membenamkan wajahnya di dada sahabatnya. Kali ini pelukan Ten lebih erat dari sebelumnya. Susah payah dia menahan isakannya, tidak ingin Taeyong terbangun karena mendengarnya menangis.
Aku menyayangimu, hyung. Benar-benar menyayangimu. Ten menggigit bibirnya, sekali lagi menahan isakannya agar tidak keluar. Aku akan melindungimu.
Ten, untuk yang kesekian kalinya dalam tiga tahun, bersumpah untuk melindungi Taeyong. Dia akan mengabaikan semuanya, segalanya, dan menjadikan Taeyong sebagai prioritasnya.
Malam itu, mengabaikan ponselnya yang bergetar tanda terdapat pesan masuk adalah bukti pertama Ten untuk sumpahnya. []
sepanjang nulis chapter ini, dalem hati Lexa: kasih aku satu temen yang kayak Ten, plis :"
btw, nggak kerasa udah sampe chapter 37. wkwkw. makasih banyak buat kalian yang udah mau baca dan nungguin sampe chapter ini, luv u all :")
.
big thanks to Saryeong for the review~!
siap! makasih banyak~
.
