Author's note: Tanpa basa-basi, mari Penulis membalas semua komentar pembaca.

.

Salsabilaaw

Terima kasih. Love you so much!

Guest

Ummm, I don't what you were talking about, but lemme say thanks.

Martinotogratia30

Penulis juga sangat merindukanmuuuu~~! Dan terima kasih atas sanjungannya. Sebenarnya Penulis tak sehebat itu kok. Tapi Penulis sebisa mungkin membuat fanfic ini menarik. Karena Penulis bukan author pro.

.

Oh, ya. Untuk para pembaca yang berkomentar langsung lewat P.M, Penulis membalas lewat itu saja, ya. Tak masalah kok tidak tertinggal jejak kalian di kolom komentar. Lewat P.M saja tak apa-apa. Dan inilah dia chapter 32! Selamat menikmati!

.

Disclaimer : Oda Eiichiro

GIRLS ARE BETTER THAN BOYS!

Chapter Thirty Two: Mission Accomplished!

By Josephine Rose99

.

.

Note :

Semua karakter yang tampil disini tak punya kekuatan layaknya di anime aslinya.

OOC (Out of Character)= artinya kalau tokoh di fanfic ini banyak memiliki sifat yang tak sama dengan anime aslinya. Jadi jangan protes kalau tak suka. Kemudian miss typo, and of course NO LEMON! Seriously, that's really YAIKS, Gross!

Ide cerita bukan plagiat. Murni hasil pemikiran sendiri.

Jika menemukan kesalahan, jangan malu-malu. Katakan langsung lewat kotak review.

Bagi silent reader, harap tinggalkan jejak. Walaupun hanya kata 'lanjut' saja, sudah sangat diterima. Tapi kalau bisa berikan kesan dan kalau bisa bahas seluruh isi chapter.

Happy reading!

.

.

.

.

.

.

GIRLS ARE BETTER THAN BOYS!

CHAPTER THIRTY TWO

MISSION ACCOMPLISHED!

By Josephine Rose99

.

.

.

Gerbang rumah kediaman Monkey terbuka, memberikan akses masuk kepada sebuah mobil limousine hitam yang membawa si tuan muda bersama kedua teman sekaligus—ehem—calon kekasih. Mobil itu pun kemudian berhenti di depan rumah keluarga Monkey, lalu buru-buru membuka pintu dan menurunkan Hancock serta Luffy. Nami mengeluarkan kursi roda Hancock sebelum menggendongnya dan mendudukkannya, sementara Kuina memapah Luffy dan menyerahkannya kepada para pelayan yang sudah menunggu mereka.

Wiper juga Smoker pun ikut keluar. Mereka berdua mengikuti para pelayan yang akan membawa kedua orang itu masuk. Namun langkah mereka terhenti berkat panggilan Kuina.

"Wiper-san, tolong antar aku kembali ke gym!" begini panggilnya dengan raut wajah panik.

Wiper menoleh, dia terkejut. Alisnya bertaut seolah tak habis pikir bocah perempuan tersebut terlalu nekat untuk kembali, "Hah? Kau masih ingin ke tempat tawuran itu, bocah?" sungguh, itu bukan ide bagus. Apa yang dipikirkan Kuina?

"Aku tak bisa membiarkan para pelayanku bertarung tanpa majikannya!" lagi-lagi cewek barbar ini bicara seenaknya. Terlepas dia dengan tak tahu diri menyebut dirinya majikan, ternyata dia masih punya kepedulian dan tanggung jawab untuk ikut bertempur, "Dan kau Nami, jaga Hancock dan Luffy disini!" lanjutnya lagi menoleh pada Nami.

Nami spontan mendelik.

Tunggu. Jadi dia ditinggal? Dia duduk diam di rumah mewah ini sementara teman-temannya saling membunuh diluar sana? Sebagai anggota Angels, Nami jelas tak menurut, "Eeeeh! Tunggu dulu, Kuina-san! Aku juga ingin ikut!"

"Bodoh! Kau disini saja merawat Luffy!"

"Kalau soal itu, Hancock dan para pelayan rumah ini juga bisa, 'kan? Sebagai anggota Angels, aku takkan lari dari masalah! Jadi, aku harus kembali!"

"Arrrrghh! Kenapa orang-orang di sekitarku semuanya keras kepala!?" Kuina mengacak-acak rambutnya dengan frustasi.

"Tak apa, Kuina-san. Biarkan Nami ikut bersamamu," tiba-tiba Hancock menyela pembicaraan. Dia pun lalu meminta pelayan Luffy untuk berhenti mendorongnya. Hancock memutar kursi rodanya supaya bisa melihat orang-orang yang telah membawanya ke rumah ini, "Aku juga khawatir dengan Robin dan yang lain. Soal Luffy, aku janji akan menjaganya baik-baik," katanya begitu yakin. Tak lama dia menunduk, mengingat semua kebaikan Luffy terhadapnya. Lalu menoleh pada Luffy yang masih dipapah pelayan, "Aku ingin membalas budiku..."

Kuina terdiam.

Ya, dia tidak sejahat itu untuk tidak peka pada perasaan Hancock. Tampaknya dia lupa seberapa kuat ikatan persahabatan orang-orang ini. Dia menghela napas berat, pasrah jika memang itu yang mereka inginkan. Selain itu, tak bijak rasanya mengulur waktu sementara pertempuran terus berlangsung.

"Hhhh... apa boleh buat. Lakukan sesukamu," Kode telah diberikan. Nami tersenyum lebar begitu menyadari dia bisa kembali membantu teman-temannya.

Sementara itu Hancock juga menunjukkan reaksi yang sama. Sepertinya dia bisa menunggu kepulangan mereka dengan tenang. Maka Hancock memilih menundukkan kepalanya pada Kuina, menunjukkan rasa terima kasih dan hormatnya. Setelah itu dia kembali didorong masuk oleh pelayan.

Sayangnya setelah Hancock meninggalkan Kuina, Nami, Smoker dan Wiper dalam diskusi kecil, tiba-tiba jadi sedikit terganggu berkat teriakan seseorang yang berlari dari dalam rumah menuju mereka. Seorang perempuan yang dahinya dibalut perban serta plester luka di sana-sini. Wajahnya begitu sumringah melihat keberadaan orang yang sudah dia tunggu.

"HOOOOOOIIII, KUINAAAAAAA!" teriaknya.

Mereka berempat seketika menoleh ke asal suara. Menerka-nerka suara sumbang milik siapakah itu, "Hm?"

Tidak butuh waktu lama bagi mereka menyadari siapa wanita itu, khususnya Kuina. Gadis ini sampai melongo karena tak menyangka wanita itu bisa disini dalam situasi krusial, "BONNEY!?"

"Akhirnya aku bisa menemuimu juga! Susah payah aku kabur dari rumah kecebong maniak pink itu, kau tahu!" ya, gadis bersuara sumbang ini memang Bonney. Setelah berhasil lari dari rumah Doflamingo, dia segera melaju cepat menuju rumah Luffy supaya bisa menyerahkan bukti. Luar biasa dia bisa melaluinya.

Namun itu masih belum diketahui oleh sang Madam, bukan? Wajar saja jika Kuina bingung pada apa yang terjadi disini. Kemudian, Kuina melangkah mendekati Bonney, mencengkeram bahunya erat, "Tu-tunggu dulu! Kenapa hanya kau sendiri!? Mana yang lain? Apa yang terjadi?!"

Firasat buruk Kuina semakin menjadi setelah melihat Bonney tertunduk sedih dan berkata pelan, "Mereka masih menahan anak buah Doflamingo selagi aku kabur membawa buktinya. Jadi, aku pun tak tahu apakah mereka baik-baik saja atau tidak..."

Suasana langsung dirasa tegang. Nami menutup mulut tercengangnya dengan jemari, sementara Kuina melepas cengkeramannya pada bahu Bonney. Wiper dan Smoker hanya diam, namun mereka paling tahu jika situasi di rumah Doflamingo sedang dalam bahaya. Benar-benar sial. Dua medan perang masih kacau.

Dalam keheningan penuh ketegangan itu, Kuina menyadari sesuatu, "Bukti?"

"Ah, benar juga!" Bonney menepuk tangannya. Nyaris saja dia lupa melapor, "Kuina, bukti yang memberatkan Hancock berhasil kubawa ke tempat ini dengan selamat. Kami tak sempat menghancurkannya disana karena tak punya waktu. Anak buah si brengsek itu terlalu merepotkan, makanya kubawa kemari."

Akhirnya ada juga berita bagus dalam berita buruk ini. Nami dan Kuina saling menatap satu sama lain. Wajah mereka begitu berseri-seri. Dengan begini, setidaknya tujuan utama mereka telah terpenuhi.

"Kerja bagus! Itu baru pelayanku!" puji Kuina sambil menepuk-nepuk bahu Bonney.

Bonney yang jelas merasa tersinggung, langsung berteriak gahar di depan wajahnya, "Siapa yang kau sebut pelayanmu, platipus betina!?"

PLETAKK!

"Ah, summimasen, Madam. Hamba tidak sopan," lagi-lagi kepalanya jadi sasaran jitakan sakti sadako gua batu tersebut. Sambil meringis menahan sakit, Bonney cuma bisa merutuk dalam hati, "Brengsek! Kepalaku!"

Hiraukan penderitaan Bonney sejenak.

"Berarti belum ada kabar dari mereka sampai sekarang? Memangnya kapan kau sampai di rumah ini?" tanya Smoker penasaran.

"Tak sampai setengah jam lalu."

Ternyata belum terlalu lama, eh?

"Cih, apa boleh buat!" baiklah, ini saatnya menggempur pertempuran menuju akhir, "Nami, kau pergi ke gym sementara aku menyusul ke rumah Doflamingo! Wiper-san, tolong antar Nami! Dan Smoker-san, tolong bawa aku menyelamatkan pelayan geng motorku!" perintah Dewi cinta kita keluar juga meski harus bawa istilah pelayan segala.

Meski begitu bukan berarti ide gilanya barusan langsung disetujui. Menuju gym masih mungkin, tapi ke rumah Doflamingo lain cerita. Sarang musuh dimana tidak ada bala bantuan seperti para anak angkat Shirohige. Menantang maut adalah jawaban tepat jika berani kesana sendirian.

"Kau sudah gila, Kuina!? Justru rumah manusia freak itu jauh lebih berbahaya dibanding di gym!" Bonney mengajukan protes. Sebagai saksi yang baru lepas dari bahaya, tentu dia lebih paham apa yang sebenarnya akan dihadapi Kuina jika dia benar-benar pergi ke rumah itu.

Nami juga mengangguk setuju. Dia ikut memperkuat alasan Bonney, "Benar, Kuina-san! Percayakan saja pada mereka! Supernova pasti baik-baik saja!"

"Baka! Kalau semua baik-baik saja, mereka pasti sudah kembali bersama Bonney! Pokoknya aku akan bergabung dengan Kid, lalu membawa mereka semua kembali kemari dengan selamat!" situasi langka dimana wibawa pahlawan dapat keluar dari seorang Kuina, si ahli pedang terbaik, bahkan daripada Zoro. Hero complexnya ini mampu membuat orang-orang di sekitarnya tercengang, terdiam dalam seribu arti.

Bonney selaku korban penindasan Kuina yang mengaku-ngaku sebagai Dewi cinta itu pun ikut kagum sekaligus terpesona. Kali ini, dia melihat Kuina seperti malaikat penolong. Ya, biasanya sih sebagai preman yang lagaknya seperti iblis barbar. Entah berapa kali Bonney menahan hasratnya untuk membunuh platipus betina itu.

"Kuina..." Bonney kehilangan kata-kata.

"Wiper-san! Smoker-san! Kumohon!" menghilangkan harga diri, Kuina menunduk memohon bantuan dari dua pengawal Luffy tersebut. Dia tak bisa membiarkan Kid dan yang lainnya terluka parah karena idenya, 'kan?

Smoker terdiam sebentar, lalu menepuk dahinya. Dia menghela napas berat, "Hhhh... aku tak percaya diperintah oleh bocah," Smoker pun menoleh pada sang rekan meminta pendapat, "Wiper, bagaimana menurutmu?"

Lagi-lagi dia dibawa-bawa. Memang ini bukan pertama kalinya, tapi sejak kemunculan Kuina dalam hubungan antara Angels dan Five Princes, maka Wiper resmi jadi pesuruh Kuina secara tak langsung. Tapi masalahnya sekarang bukan itu. Teman-teman Tuan mudanya sampai mau mengorbankan nyawa demi Hancock. Jiwa pahlawannya terpanggil.

Wiper menghela napas panjang dan membuat keputusan, "Ya, apa boleh buat... mengingat mereka teman-teman tuan muda, kita turuti saja," pria ini menarik senyum 1,5 cm tatkala melihat senyum lebar dari ketiga wanita perkasa.

Tak membuang waktu lama, si agen rambut rocker ini segera membuka pintu mobil, "Ayo, cepat masuk!" begini ucapnya bernada perintah.

"HA'I!" Nami mengangkat tangan setinggi mungkin.

"YOSHAA!" sementara Kuina menggenggam kepalannya erat-erat.

Tindakan Wiper yang membukakan pintu mobil untuk mereka juga diikuti Smoker. Pria itu menyusul Kuina yang sudah masuk duluan ke mobilnya. Disisi lain, Nami telah duduk di samping Wiper. Kemudian dua pengawal keluarga Monkey tersebut menghidupkan mobil bersamaan. Siap pergi kapan saja. Namun sebelum itu, Kuina menurunkan jendela mobil. Bermaksud mengutarakan izin menolong teman-temannya.

"Kami pergi dulu, Bonney!" ucap Kuina pada Bonney yang tersenyum padanya. Eit, tapi ini bukan sekedar tersenyum tulus, melainkan senyum palsu yang melihat kesempatan dalam kesempitan.

Maksudnya? Well, sekarang Kuina ada di dalam mobil yang siap berangkat. Bonney sudah lama menunggu saat dimana dia bisa mengirim makian tanpa mendatangkan ratusan tinju sakti ke kepalanya. Makanya, bocah perempuan ini berteriak pada Kuina yang sudah berlalu bersama Nami menuju keluar gerbang rumah Luffy.

"TUNJUKKAN KEGAHARANMU YANG ALA BERUK ITU, MAMMOTH PURBA!"

Twitch twitch!

Sesuai dugaan, Kuina nyaris ingin keluar dari mobil demi menabok Bonney jika tidak dalam situasi begini. Walhasil, gadis barbar ini cuma bisa melongok keluar sambil memamerkan deretan gigi tajam, "SIAPA YANG KAU PANGGIL BERUK DAN MAMMOTH PURBA, SIALAN!? LIHAT SAJA! AKU AKAN MEMBUNUHMU BEGITU AKU KEMBALI!"

Oke, tampaknya Bonney harus menulis daftar keinginan terakhir sebelum ajal menjemput.

Jadi, singkatnya...

Misi bala bantuan dimulai.

.

.

Seperti dugaan Kuina. Situasi di bawah tanah keluarga Doflamingo memang memburuk.

Para petinggi Supernova akhirnya terpojok juga setelah cukup lama bertarung. Mereka mengatur napas yang tersengal-sengal. Memang kondisi itu juga berlaku pada para pengawal Doffy yang staminanya ikut terkuras. Meski begitu, setidaknya mereka tidak sebabak belur Kid dan yang lain. Mungkin karena itulah mereka mendongakkan kepala dengan sombong seolah di atas angin.

Huh. Mereka tidak tahu saja jika seekor monster telah 'dilepas' Bonney dan segera bergabung ke dalam pertarungan.

Namun sebelum monster itu tiba, kekhawatiran melanda bawah tanah ini. Sekujur tubuh sudah merasakan sakit luar biasa, memberi sinyal bahwa harus segera beristirahat. Walau sepertinya mereka tak ada waktu untuk itu.

Hawkins meludahkan darah. Rasa tidak nyaman dari mulutnya ini membuatnya menggeretakkan giginya yang sudah bewarna kemerahan. Apa boleh buat. Wajahnya jadi sasaran bertubi-tubi dari pukulan, "Brengsek! Kuat sekali mereka!" umpatnya kesal.

"Oi, Kid! Kepalamu berdarah!" Bege mengingatkan sang ketua akan darah segar yang mengalir dari kepalanya. Jujur saja, dia jadi semakin takut pada apa yang terjadi selanjutnya jika situasi tambah tak menguntungkan.

Bukannya memegang kepalanya, sang ketua Supernova justru memegangi bahunya. Ya, Kid bisa merasakannya. Bahunya patah berkat tendangan brutal Trebol. Ternyata meski bertubuh gendut, pria itu cukup lincah sampai membuat Kid kerepotan, "Jangan khawatirkan aku, Bege. Pikirkan saja cara kita bisa keluar dari tempat terkutuk ini."

"Kau pikir kami akan membiarkan kalian kabur semudah itu setelah membuat kekacauan disini? Aku akan membunuhmu disini sekarang juga, Kid!" sahut Vergo dengan lagak sombong.

Tak suka atas perkataan Vergo pada ketuanya, Killer membentakinya, "Banyak bicara! Kau laki-laki, tunjukkan lewat tindakanmu!"

Emosi semakin meluap begitu mendengar sindiran Killer. Para pengawal keluarga Donquixote ini segera maju, siap menghantam mereka dengan kekuatan penuh, "HEYAAAHH!"

Kid mendecih. Layaknya tikus telah terpojok, mau tak mau dia harus bangkit dan maju ke garis depan. Mana mungkin dia membiarkan harga dirinya sebagai ketua Supernova harus kalah di wilayah rumah si maniak pink yang membuat gengnya terlibat dengan polisi!

"Setidaknya buat celah supaya kita kabur dan tak mengejar kita sementara! Ayo maju!" Kid memberi komando.

"HUOOOOOO!" sorakan penuh semangat pun menggema.

Terus bertahan sampai akhir.

.

Disisi lain, di Gym distrik Koutou...

.

Entah sejak kapan Sanji bergabung menjadi satu tim dengan Zoro. Ya, awalnya si ahli pedang tersebut terus melawan anak buah Shichibukai bersama Robin. Namun gadis itu mengatakan padanya bahwa dia harus membantu Vivi dan Kaya, sehingga meninggalkannya sendirian melawan belasan orang. Zoro tak bisa menyalahkannya karena terlalu banyak musuh yang dilawan oleh kedua orang itu.

Tak sampai lima menit Robin meninggalkannya, Zoro menyadari Sanji sudah ikut membantu disampingnya. Dalam satu dari seribu kesempatan, anjing dan kucing ini bertarung bersama. Benar-benar combo maut.

Setelah Sanji mendaratkan tendangannya pada leher lawan, dia berbalik kemudian berteriak pada Zoro, "Oi, Marimo! Jangan incar kucing jika ada singa di antara mereka!"

Zoro membalas perkataanya sambil menyabet empat musuh sekaligus, "Aku tahu itu, alis pelintir! Lagipula kau sudah menjatuhkan satu, 'kan?"

"Tentu saja! Aku jauh lebih hebat dari pedang lapukmu itu!"

"Apa katamu!? Katakan sekali lagi!"

"Hah!? Aku tak keberatan menghancurkan gigimu disini, sialan!"

Ya ampun. Ini kenapa malah berubah jadi pertengkaran ala Ibu-Ibu yang saling tuduh suaminya selingkuh satu sama lain?

Namun, tampaknya pertengkaran itu tak berlangsung lama karena tak henti-hentinya pasukan Shichibukai menghampiri mereka sambil mengacungkan senjata. Terpaksa adu mulut dihentikan. Sanji juga Zoro kembali fokus pada pertempuran.

"Kita tunda pertarungan kita dulu. Masih banyak yang harus disabet dengan pedang kayuku ini," ucap Zoro berwajah super serius. Dia pun segera melesat maju, siap menjatuhkan setiap orang dari mereka.

Tanpa membuang waktu, Sanji mengikuti jejaknya. Maju dengan siaga level satu, "Setuju."

.

.

.

Kaya sudah tak kehilangan konsentrasi untuk terus menghitung berapa orang yang telah dia kalahkan. Tenaganya berkurang drastis, sementara para maniak itu membabi buta. Meski dia sudah bergabung dengan Ace, Sabo juga Marco yang sudah selesai dengan urusan masing-masing, Kaya tahu pertempuran ini mungkin berlangsung sedikit lebih lama. Diliriknya anak buah Marco yang juga masih bertarung. Timbul lah rasa terima kasih luar biasa untuk mereka karena membantu sampai sejauh ini. Apalagi sejak kedatangan Marco dan teman-temannya, anak buah Shichibukai begitu banyak dikalahkan. Sekarang mereka resmi tidak kalah jumlah lagi.

Tapi Kaya dan yang lainnya menyadari sesuatu. Mereka yang bertarung dengan tangan kosong merasakan nyeri luar biasa pada kepalan tangan serta kaki masing-masing. Tampaknya mereka semua harus pergi ke spa setelah ini selesai.

"Hm?" Kaya tak sengaja melihat keberadaan sebuah mobil limousine hitam yang tak asing baginya. Bukan hanya Kaya, seluruh anggota Angels juga memberi perhatian mereka pada mobil itu. Tak butuh lebih dari dua detik bagi mereka untuk menyadari identitas mobil itu.

"Tak mungkin! Mobil keluarga Luffy!? Bodoh, kenapa mereka kembali!?" Kaya mulai senewen. Susah payah mereka melindungi mobil itu ketika pergi meninggalkan tempat itu, tapi dengan santainya kembali?

Namun raut wajah mereka semua berubah tatkala melihat wajah Nami dan Wiper keluar dari dalam mobil sambil memegang senapan laras panjang. Apa-apaan itu? Rifle semi auto?

"HALO, SEMUANYAAAAA! SAATNYA MENGAKHIRI PESTA BARBAR INIII!" teriak Nami mengangkat tangan ke atas bak sedang konser rock'n roll.

Angels dan Five Princes melongo.

"Nami?" gumam Vivi.

"Nami?" alis Kaya berkedut-kedut mendengar temannya itu entah kenapa bersemangat sekali.

"Nami-san?" ini sih Sanji yang mendadak cengo sampai lupa diri. Bengong seperti keledai sementara Zoro setengah mati menghajar musuh-musuh di sekitarnya.

Sama seperti mereka, Robin juga tak mengerti alasan dibalik kembalinya Nami dan Wiper ke tempat itu, "Hah? Bukankah seharusnya dia bersama Hancock?"

Menghiraukan tampang cengo teman-temannya, Nami dan Wiper mengarahkan senapan mereka pada anak-anak buah Shichibukai. Lock on target and fire!

PSIU! PSIU! PSIU! PSIU!

Empat orang tumbang tanpa perlawanan! Jatuh menghantam tanah dengan keras lalu tertidur! Seketika fenomena barusan menjadi pusat perhatian semua orang disana. Nami pun tersenyum setan melihat dirinya akan menjadi pahlawan kesiangan hari ini.

Disisi lain, sang ahli pedang terbaik di Five Princes menyadari senjata apa yang sedang digunakan rekannya. Tak percaya senjata seperti itu bisa berada di tangan anak SMA, "Senjata bius!?" ujarnya entah pada siapa. Namun dia tahu pasti bahwa senjata itu pasti milik keluarga Luffy yang notabene banyak yang bertampang mafia, "Senjata macam apa yang dimiliki keluargamu, ketua bodoh!?"

Zoro pun berteriak memanggil nama wanita itu, "Oi, Namiiii!"

"Zoro! Menjauhlah! Jangan sampai kena!" pertama kali bagi Nami memberi perintah pada orang-orang yang jauh lebih kuat darinya. Tetapi dia tak sedikit pun mengendurkan serangan karena senapannya sudah mengarah pada musuh sekali lagi.

Itu pertanda! Zoro segera menarik lengan Sanji yang ada disampingnya. Mereka harus menjauh jika tak ingin tertidur juga, "Oi, Sanji! Ayo, mundur!"

"AAAAAAHH, NAMI-SWAAAAANN! SUTEKIIIIIIII!" walah. Bocah bolot ini malah menggeliat-geliat persis ular di waktu yang salah.

"DENGARKAN AKU, KOKI CINTA SIALAN! KUBILANG, MUNDUR!" terpaksa Zoro memamerkan gigi runcingnya karena demi apapun—bocah berambut pirang ini sangat sulit diseret kalau sudah melihat cewek!

Mengikuti langkah kedua temannya, Vivi juga menarik lengan Sabo untuk menjauhi anak buah Shichibukai, "Sabo-san!" Sabo pun mengangguk setuju dan lari menjauh dari sana. Langkah mereka diikuti oleh Robin juga Kaya.

Bahkan Kouza dan Usopp yang baru muncul setelah mengalahkan Crocodile juga ikut heran kenapa teman-teman mereka lari memutar menuju mobil Luffy. Ingin bertanya pada siapapun tak ada artinya. Situasi panik! Terpaksa mereka mengikuti arus alias ikut kabur juga.

"Huwaaaa! Kemana aku pergi!? Kemana aku pergi!?" ini sih Ace yang kelinglungan mau lari kemana.

Lain hal dengan mereka semua, anak-anak buah Doffy ini justru memanas karena ulah Nami dan Wiper. Salah satu dari mereka justru mencoba menaikkan tekad bertarung teman-temannya, "Hei! Hajar wanita itu dulu! Dia membuat teman-teman kita tumbang!"

"HEYAAAAAAAAAAAAA!" puluhan orang berlari menuju Nami bak sekumpulan badak yang siap menghunus culanya.

Spontan Nami melotot horor. Satu lawan puluhan orang? Yang benar saja! "GYAAAAA!"

BUAKKK! DUAGH!

BUGH! BUGH! DRUAKKK!

DAKK! BRUAGH!

"Eh?" Nami mengedipkan matanya beberapa kali. Tak percaya puluhan orang tersebut tumbang. Seketika dia mengalihkan perhatiannya pada teman-temannya yang ternyata menghalangi puluhan musuh mendekati dirinya. Sungguh, hatinya terharu!

"Minna!" ujarnya kesenangan.

"Nami, Wiper-san! Terus tembak mereka selagi kami melindungimu! Dan tentunya jangan sampai kena kami!" sang sulung keluarga Monkey memberi perintah.

Hari ini Nami harus mengakui tingkat keren Ace naik satu level, "Ace-san!"

"Dimengerti, Ace-sama," Wiper pun menjawab mantap.

"Yosshhh..." angin pertarungan berhembus balik. Telah terbayang hari damai begitu siang ini berganti malam kemudian berganti pagi. Ace mengambil alih peran utama di pertarungan ini menggantikan Luffy. Takkan menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Adiknya dengan dikalahkannya Doflamingo.

"SERANG MEREKA BERSAMA-SAMAAAAA!"

"YEAAAAAAAHHHH!"

...

~Penulisloveyoukaliansemuamuach~

...

.

.

Berterima kasihlah pada perbuatan Corazon dan Law, sehingga Kuina tidak kesulitan membereskan kawanan Caesar di halaman rumah Doflamingo. Meskipun mereka masih diikat, Kuina sudah memplester mulut mereka serta melilitkan kabel yang disambungkan dengan stun gun. Itu artinya jika mereka bergerak sedikit saja, stun gun akan langsung aktif kemudian menyetrum mereka. Tegangannya tidak begitu tinggi, jadi hanya akan membuat mereka pingsan. Well, setidaknya itu cukup untuk menghentikan pergerakan mereka jika mereka terbangun dari bom bius.

"Fiuuuhhh... akhirnya tugasku di halaman selesai juga. Tapi dimana bocah-bocah wajah sangar itu, ya? Kenapa mereka tak disini?" Kuina celingukan mencari keberadaan Kid dan kawanannya, namun nihil. Para bocah itu seolah hilang ditelan bumi. Berarti tinggal satu kemungkinan lagi, bukan?

"Berarti mungkin mereka masih di bawah tanah. Ck, sial!" rutuk Kuina kesal. Gadis ini pun buru-buru berlari memasuki rumah mewah yang lebih pantas disebut istana tersebut.

Memasuki ruang depan alias ruang tamu. Tak ada orang! Kuina berhenti di persimpangan. Rumah tersebut bercabang dua. Gadis ini melirik kiri-kanan, bingung mau memilih yang mana. Lagipula kenapa bisa dia nyaris akan tersesat di rumah, bukannya jalan? Tapi kalau bukan karena cetak biru rumah ini, Kuina tak mungkin memilih kanan.

Ya, setelah dia berlari ke kanan, dia menemukan ruang tamu yang jauh lebih besar dari ruang tamu yang dia lewati sebelumnya. Namun begitu dia berdiri di tengah ruangan itu, dia menemukan sekelompok pelayan tengah tertidur. Tergeletak dalam pose pasrah karena berada di dunia mimpi.

Tentu saja Kuina kebingungan. Siapa sangka selain orang-orang Caesar, pelayan-pelayan di rumah ini juga bernasib sama, "Eh?" Kuina berlari kecil mendekati mereka. Kemudian berjongkok lalu mencolek pipi mereka satu per satu, "Kenapa semua pelayan di rumah ini tertidur?" gumamnya panik. Wanita barbar ini sudah ketakutan saja tentang apa yang terjadi pada Kid kalau situasinya begini.

"Gawat! Firasatku buruk! Dimana Law dan Corazon? Apa mereka baik-baik saja?" tak menyerah pada harapan, Kuina berlalu meninggalkan ruangan itu. Dia terus berlari menuju pintu masuk ruang bawah tanah dengan melewati dapur. Meski dia sempat melirik ke dapur dan menemukan para koki sedang tidur indah.

Sambil berlari, Kuina berteriak memanggil dua pembokat barunya, "Law! Corazon! Jawab aku! Dimana kalian!?"

Sungguh sial. Apa yang terjadi pada mereka sebenarnya?

Tak ada yang menja—

"Disini!"

Mata Kuina membulat.

Eh? Bukankah itu suara Law? Dimana dia?

"Kami disini, Kuina!" sekarang terdengar pula suara Corazon.

Mendengar suara mereka, mereka tampaknya ada di balik dapur. Tidak membuang waktu lama, Kuina segera mempercepat larinya menuju lokasi. Dan begitu sampai, sang Madam cinta mengerem larinya mendadak ketika memasuki sebuah ruangan kecil. Ya, inilah ruangan dimana pintu ruang bawah tanah berada. Kuina memasukinya dengan raut wajah panik.

"Teman-teman, kalian tak ap—eh?" ucapannya berhenti begitu melihat sebuah fenomena di depan matanya.

Law dan Corazon dalam kondisi terikat, para pembaca. Sudah begitu wajah mereka babak belur bak ditabok secara brutal. Kenapa mereka bisa begini? Kuina berdiri di hadapan mereka dengan penuh tanda tanya, "Bisakah jelaskan padaku apa yang terjadi disini?" beginilah tanyanya kebingungan.

Law mengangkat wajahnya yang bengkak disana-sini. Matanya yang tertutup satu karena lebam itu tak bisa melihat wajah memuakkan Kuina dengan jelas, "Apa maksudmu?"

Kuina kemudian berjongkok di hadapan mereka. Memegangi bahu Law dan mengguncangnya pelan, "Kenapa kalian babak belur dan dalam keadaan terikat begini, hah? Orang bodoh mana yang menghajar kalian!? Biarkan tinju sakti ala wonder womanku beraksi!" ujarnya lagi mengacungkan tinju saktinya yang sudah memakan banyak korban.

"Sudahlah, tak ada waktu! Cepat turun kebawah dan bantu Kid!" sahut Corazon.

"Apa?" gadis ini melongok ke pintu persegi bewarna coklat yang terletak di tengah lantai ruangan, "Jadi, mereka masih di bawah sana?"

"Ya, bodoh. Sudah cepat sana!" balas Law kurang ajar.

"O-oke..." terpaksa Kuina berdiri, lalu berjalan mendekati pintu itu. Namun dia berhenti setelah beberapa langkah. Gadis ini berbalik menatapi kedua laki-laki yang sedang tak berdaya tersebut, "Ikatan kalian tak dilepaskan dulu?"

Law yang gemas Kuina tidak dari tadi turun juga, kembali menggunakan mulut untuk menghina, "Jangan, bodoh. Biarkan saja kami begini."

"Hah? Maksudnya?"

"Banyak bacot! Cepat bantu mereka sebelum aku menabok wajahmu berkali-kali, duyung purba!"

PLETAKK!

Ouch. Kepala Law yang sudah punya anak(?) telah memiliki anak(?) lagi. Kepala bocah itu berasap layaknya panggangan barbeque, menghasilkan simpati dari Corazon yang hanya bisa sweatdrop.

"Jangan membuat kami babak belur lebih dari ini, Kuina. Tolong..." permintaan tolong dengan sepenuh hati dari saudara Doflamingo ini.

"Cih! Aku akan berurusan dengan kalian nanti. Tunggu disini."

.

.

Kid dan kawan-kawannya sudah jatuh berlutut tepat di depan pintu gudang yang bermasalah itu. Dada mereka begitu sesak saat bernapas. Nyeri di seluruh tubuh benar-benar dirasakan sehingga tak sanggup lagi meneruskan pertarungan. Meski mereka berhasil menumbangkan beberapa dari mereka, namun masih tersisa yang terkuat. Dan orang-orang yang terkuat itu juga kelelahan walau tak separah mereka tentunya. Berdiri dengan sombong mengira diri sudah menang.

Sempat melintas keinginan untuk kabur, namun itu ide konyol. Bagaimana caranya kabur kalau mengharuskan diri melewati kawanan pengawal keluarga Doffy?

Urouge mulai merasa tak nyaman dengan mulutnya. Darah benar-benar membumbui rongga mulutnya sampai bocah itu harus meludah. Dia sangat tidak menyukai situasi ini, "Sial! Tak adakah harapan?"

Disampingnya ada Killer yang juga dalam kondisi sekarat. Dia menoleh pada sang ketua yang ada di depannya, "Hei, Kid... aku belum mau mati disini. Aku masih ingin mengejar mimpiku menjadi artis..."

"Orang bodoh mana yang mau mengidolakanmu? Dibayar pun, aku juga takkan mau," balas Kid tak sopan.

Melihat harapan para petinggi Supernova mulai menghilang, Trebol tertawa setan. Mencoba menjatuhkan harga diri dari geng motor yang paling sulit mereka taklukkan.

"Hahaha! Mau menyerah sekarang? Ayo, mohon ampun! Jilat kaki kami dan kalian akan kami biarkan pergi dari sini!"

"HAH!? SIAPA JUGA YANG MAU MENJILAT KAKIMU YANG BAU KAUS KAKI ITU!?" Kid berteriak gahar.

"LEBIH BAIK AKU MENJILATI BOKONG MONYET DARIPADA MENJILAT KAKIMU, SIALAN!" disahuti oleh Hawkins yang juga ogah menjilat kaki Trebol.

Mendengar kakinya dinistakan, mau tak mau emosi Trebol terpancing, "BERANINYA KALIAN BERKATA BEGITU!"

Trebol sudah siap akan menyerang Kid lagi. Bersumpah pada dirinya sendiri bahwa akan membuat Kid menyesal telah ikut campur. Disisi lain Kid sudah tak tahu harus berbuat apa. Rasa menyerah sudah menghinggapi. Pria ini hanya menutup mata. Mendecih kesal karena terlalu lemah.

Sayang sekali.

Karena bala bantuan yang mereka harapkan sudah datang, 'kan?

BUAGH! DRUAKK!

BUGH! BUGH! DUAKK!

"Eh?" Pica terkejut mendengar suara berisik dari belakang. Dia mendadak mematung.

Namun berbeda dari Trebol yang langsung menoleh ke asal suara, "Si-siapa itu?!"

Di atas para pengawal Doflamingo telah berdiri seorang perempuan yang sedang memanggul pedang kayu. Kehadiran perempuan itu seketika membuat semua orang terbelalak. Khususnya Kid yang sampai menahan napas segala. Dia tak mengira bahwa sang majikan menyusul mereka kemari.

"Yoooo... pelayan-pelayanku yang manis..." Kuina mendongakkan kepala dengan angkuh, "Madam cinta sudah datang."

Ayo tabuhkan genderang kemenangan sebagai suara latar untuk sang pahlawan yang datang terlambat.

Kid mendadak menganga lebar, selebar mulut kuda nil, "Kuina?" gumamnya

"Kuina?" Bege juga ikut menggumamkan nama itu.

Sementara Trebol gemetar sambil menunjuk Kuina dengan tak senonoh, "Ka-kau!?" langsung saja pikirannya sudah menanyakan beragam pertanyaan dengan kemunculan gadis itu.

Kenapa dia disini? Apa hubungan dia dengan Supernova? Bagaimana caranya dia kemari? Apa yang terjadi dengan semua orang di rumah ini sampai dia juga bisa masuk? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.

"Kalian bisa beristirahat manis disana sebentar selagi aku membereskan kucing-kucing ini," ucapnya lagi sambil memanggul pedang kayunya. Kemudian dia menoleh pada Kid, "Hei, Kid. Bonney baik-baik saja di rumah Luffy. Bukti yang kita incar sudah aman. Aku sangat berterima kasih padamu dan teman-temanmu."

Bonney selamat?

Dalam hati Kid merasa lega teman sejak kecilnya ternyata baik-baik saja. Tak sia-sia mereka mempertaruhkan nyawa demi gadis itu bisa kabur.

"Heh, memang kau pikir siapa aku? Itu hanya misi mudah," balas Kid berlagak padahal dalam kondisi babak belur.

"Banyak lagak, huh?" tak masalah. Kuina juga terkadang suka dengan sikap angkuh laki-laki yang sok kuat di depan wanita. Katakan saja soal harga diri. Kemudian dia melirik musuh-musuhnya. Menatapnya sinis dan mengejek si putra mahkota, "Hei, kalian. Apa kalian tahu? Geng motor Supernova beserta Five Princes, Angels, Monkey bersaudara dan Marco sudah menghajar tuan muda kalian sampai wajahnya yang berantakan itu makin berantakan."

"Apa!?"

"Ah, tentu saja kawanan Doflamingo bernasib sama. Kalian harusnya disana melihat jerit tangis bocah-bocah pengecut itu saat minta dikasihani," Kuina makin suka ini. Makin suka pada tatapan membunuh dari Trebol dan kawan-kawan yang ditujukan padanya. Tapi untuk apa takut, bukan? Yang namanya bala bantuan itu harusnya ditakuti, bukan tertakuti.

Maka Kuina pun menurunkan pedangnya lagi. Memutar-mutarnya seolah menganggap mereka semua bukanlah lawan yang patut diwaspadai, "Jadi... apa yang harus kulakukan pada kalian?"

Trebol mendecih kesal. Yang benar saja dia diremehkan bocah SMA! "Jangan takut! Dia hanya seorang perempuan! Selain itu, Kid dan yang lainnya sudah kehabisan tenaga!"

Hanya seorang perempuan, katanya?

Kuina nyaris saja tertawa mendengar itu jika situasinya tak begini.

"Hmmm... begitu, ya? Baiklah. Sepertinya aku harus menunjukkan kekuatanku yang bahkan bisa membuat Supernova tunduk padaku."

Kuina mengambil posisi kuda-kuda kendo yang telah dia pelajari selama bertahun-tahun di dojo Ayahnya. Pedangnya dalam posisi tertahan seolah masih memakai sarung pedang. Kaki kanan Kuina maju, tatapannya lurus pada musuh. Tak bergeming sedikit pun. Tak dipungkiri Trebol semakin panas karena dipermainkan seorang bocah.

"HABISI DIA!" perintahnya. Langsung saja semua pengawal kecuali dia menyerbu Kuina bersamaan.

"HUOOOOOOO!"

Tampaknya memang tak ada jalan untuk kembali.

"Ck! Menyusahkan..." secepat kilat Kuina menyabetkan pedangnya secara horizontal pada tiga orang yang maju lebih dulu alias Pica, Vergo dan Buffalo. Target yang dia pilih adalah leher juga kepala. Maka dalam sekali sabetan, tiga orang tersebut tumbang dengan rasa nyeri luar biasa.

DUAKKK!

BRUGH! BRUGH! BRUGH!

Masih belum selesai! Empat orang lainnya juga siap menerkam Kuina! Bukannya ketakutan, Kuina justru tersenyum angkuh. Sekali lagi hanya membutuhkan satu sabetan untuk menghabisi mereka semua. Dia pun mengarahkan mata pedangnya ke kepala mereka berempat dimulai dari kiri ke kanan. Satu sabetan cepat itu cukup membuat pipi lebam sekaligus tulang leher terkilir.

DUAKK!

BRUGH! BRUGH! BRUGH! BRUAKK!

Menyusul tiga orang sebelumnya, empat orang tersebut jatuh menghantam lantai ruang bawah tanah dengan keras!

Aksi layaknya drama action tadi sukses membuat para petinggi Supernova terpukau. Pantas saja mereka dengan mudahnya dikalahkan. Memang benar kata korban Bonney. Megalodon purba itu punya tenaga seribu kali lipat dibandingkan mereka yang hanya teri-teri kecil. Baginya, cukup dua sabetan saja. Sementara bagi Kid dan yang lain? Seluruh tenaga saja masih membuat mereka sendiri terpojok!

"Wow..." Bege bengong. Hampir saja dia terpesona. Namun buru-buru dia menggeleng kepala kuat-kuat sebelum itu terjadi. Amit-amit bisa terpesona pada dugong air tawar sepertinya!

"Di-dia itu benar-benar perempuan?" kalau Hawkins beda lagi. Dia malah meragukan gender Kuina. Karena biasanya perempuan itu 'kan punya sifat kemayu. Lha, ini? Apanya yang kemayu? Barbar ala badak bercula begitu pantas punya sifat kemayu?

"Tak heran kau takut padanya, Bos," ini sih Killer yang menyindir halus Kid.

Kid cuma bisa tertawa hambar punya bawahan-bawahan kampret, "Hahaha..."

Disisi lain, Trebol berkeringat dingin melihat teman-temannya sudah berjatuhan meninggalkan dia seorang. Takut-takut dia meneguk ludah yang sudah defisit. Sekarang dia mengerti kenapa hanya Kuina seorang yang menjadi bala bantuan untuk Kid. Kekuatan Kuina setara dengan kekuatan satu pasukan.

"Ku-kuat sekali..." gumamnya mulai ketakutan, "Apa-apaan dia!? Kekuatan Kid dan teman-temannya tak sebanding dengannya!"

Kuina melirik teman-teman Trebol yang masih tergeletak di lantai, "Ayo bangun, sayang. Itu tadi belum bisa disebut pemanasan,"

"Bajingan..." desis Pica tak terima dikalahkan perempuan. Susah payah dia mencoba bangkit, menopang tubuh dengan kedua tangannya. Pica pun melirik marah pada Kuina dan berteriak padanya, "AKU TAKKAN KALAH DARI BADUT SEPERTIMU!"

Hah? Barusan dia mengatai Kuina badut? Benar-benar cari mati!

TWITCH! TWITCH!

"Oi..." perempatan merah muncul di dahi Kuina. Pertanda buruk! "Siapa..." Kuina mengangkat kaki kirinya, mengarahkannya pada wajah Pica. Tatapan mautnya itu benar-benar dingin, "...Yang kau sebut badut?" ujar Kuina sambil menginjak kepala Pica dengan sadis!

DUAKKK!

Resmi sudah Pica teler di tempat, ck ck ck ck.

Sekarang hanya Trebol yang berdiri di antara mereka. Kakinya sudah mengeper ketakutan bak dipelototi genderuwo.

Kuina mendecak kesal pada kekuatan para pengawal Mingo. Hanya segini? Cih, tak memuaskan! Padahal kekuatan 1000 badaknya masih full 100 persen untuk disalurkan pada mereka, "Ah! Lemah sekali! Hanya sekali serang!? Tidak seru! Siapa lagi!? Ayo, maju sini!" kali ini dia melirik Trebol yang masih mematung. Senyum setan pun muncul. Spontan Trebol makin merinding.

Tamat sudah.

"Tak ada? Baiklah..." Kuina pun mengambil ancang-ancang, siap menggetok kepala Trebol dan kawan-kawannya sekali lagi, "Berarti aku saja yang maju."

"GYAAAAAAAAA!"

DUAKK! DAKK! BUAGH!

PLETAKK! BRAKK! BRUAGHH!

Meski mereka sudah terkapar di lantai, Kuina terus menghantamkan pedang kayunya pada mereka dengan brutal. Tak peduli berapa banyak darah segar yang keluar dari mulut dan hidung mereka, sang Madam cinta tetap tak mengendurkan serangan. Bahkan beberapa dari orang-orang itu juga diangkat Kuina lalu membantingnya lagi ke lantai. Tendangan bertubi-tubi layaknya sedang bermain sepak bola pun tak lupa dipertunjukkan Kuina pada para pengawal Doflamingo.

Satu kata yang mampu menggambarkan itu semua.

Sadis.

Setelah selesai membalas dendam, Kuina menyeka peluh di dahinya. Kemudian dia berjalan melangkahi para 'mayat' tersebut, mendekati Kid dan kawan-kawan. Dia hiraukan pandangan ketakutan dari anak buah Kid itu, "Huh, jadi kalian direpotkan oleh orang-orang seperti ini? Tampang kalian saja yang seperti preman, tapi kemampuan berkelahi seperti bayi."

Oke, harga diri Kid jatuh ke posisi terbawah. Meski yang dikatakan Kuina itu benar adanya, masa' kekuatan ketua Supernova disamakan dengan bayi? Apa-apaan!? Kid tak terima!

"Cerewet! Jangan samakan kami denganmu, kadal laut!" bentaknya murka sambil menyemburkan hujan lokal.

Haha.

Bis mistake, Kid.

"Bilang sekali lagi," Kuina akhirnya mengacungkan tinju saktinya tepat di wajah bocah yang barusan mengatainya.

"Tentu saja kami jauh lebih lemah darimu, Madam," walah, bocah ini nyalinya mendadak ciut. Dasar pecundang, ck ck ck ck.

Well, setidaknya mereka semua selamat, 'kan?

.

Sementara itu, di Gym distrik Koutou.

.

Di sebuah taman yang letaknya tak jauh dari gym, berbaringlah sekelompok remaja dengan santainya menikmati sinar mentari. Mengatur napas yang menggebu akibat kelelahan bertempur. Melihat sekumpulan awan yang menghiasi langit sudah cukup menjadi hadiah bagi mereka yang meninggalkan kawanan Shichibukai tergeletak pingsan di gym.

Ya, Five Princes, Angels, Monkey bersaudara, Supernova, Marco dan anak angkat Shirohige sudah melarikan diri dari tempat itu sebelum kedatangan polisi. Tentu saja Ayah mereka, Dragon yang memanggil aparat keamanan tersebut. Begitu mendapat kabar dari Wiper bahwa pertarungan telah usai, Dragon segera menghubungi kepolisian untuk menangkap seluruh kawanan Shichibukai yang notabene geng motor buron.

"Hhhhh...Leganyaaaaa..." benar sekali Usopp. Kalian pantas mendapatkan istirahat panjang setelah semua berakhir.

Gumaman Usopp barusan juga disetujui Robin yang ikut berbaring, "Kita bisa tidur tenang malam ini."

"Dan aku bisa memimpikan Nami-swan!" tentu saja ini sahutan si koki cinta yang matanya sudah berubah lope-lope pada Nami yang sekarang meliriknya malas.

"Ya, ya. Terserahmu saja."

Drrtt... Drrtt...

Marco merasakan dering ponselnya dari saku celananya dalam gurauan konyol temana-teman Luffy. Menghiraukan mereka, Marco meraih ponselnya, menerka-nerka siapa yang mengirim pesan padanya. Dan terkejutlah senior anak angkat Shirohige ini ketika melihat Kuina mengirim pesan suara. Alisnya bertaut. Berpikir kenapa si tikus betina kampret ini mengirim pesan segala. Sudah begitu ada semacam P.S di pesan suara itu.

Perdengarkan ini pada mereka semua, Marco-san.

"Hei, kalian! Ada pesan suara dari Kuina. Dia ingin kita semua mendengarkan," ujarnya sambil menoleh pada para pihak terkait.

"Oh, oke!"

"Putarkan!"

.

Kabar terkini dari Liputan Pagi Tokyo. Masih bersama saya, Kuina si presenter tercantik sejagat yang akan menemani anda sampai akhir. Kalau ingin minta nomor telepon untuk berkencan, anda bisa melihat nomor saya di bawah ini. Nah, kembali ke topik. Pagi ini, di sebuah gym daerah distrik Koutou, telah terjadi tawuran antara geng motor preman Shichibukai vs Angels dari HAS, Five Princes dari Tokyo Galaxy, beserta geng motor Supernova. Tawuran berlangsung ricuh, sehingga menimbulkan banyak korban luka. Namun pada akhirnya Shichibukai berhasil dikalahkan dengan dramatis.

Pihak kami juga baru saja mendapatkan kabar bahwa ketua Supernova, Kid beserta teman-temannya telah berhasil membawa bukti yang memberatkan posisi Hancock dari kediaman Donquixote. Dan saat ini, keluarga Monkey sedang mempublikasikan semua bukti yang menunjukkan kekejaman Donquixote Doflamingo terhadapnya maupun kepada orang-orang lain. Hanya soal waktu sampai pihak media mengendus kabar ini, sehingga posisi keluarga konglomerat tersebut menjadi goyah.

Misi selesai.

Kuina, presenter paling cantik, seksi, kawaii, dan sempurna sejagat melaporkan.

.

Hah?

Apaan sih pesan suara laknat itu?

Presenter paling cantik? Seksi? Cuih! Rasanya mereka semua ingin meludahi wajah dedemit betina itu sekarang juga. Khususnya Zoro yang mendadak ingin boker. Ya, sebenarnya ini bukan hal baru baginya mengingat sudah menghabiskan waktu penuh penderitaan bersamanya. Apalagi Kuina merasa bahwa mereka semua ingin meminta nomor teleponnya? Hell no! Tak tahukah dia betapa keramatnya nomor teleponnya itu sehingga semua orang tak mau bersusah payah menambahkan kontaknya di ponsel?

Namun tetap saja masih ada kabar bagus dari kalimat-kalimat nista di pesan suara itu. Berita kemenangan mereka diumumkan dengan suara yang begitu menggema.

Kekalahan Shichibukai.

Kekalahan keluarga Donquixote.

Bukti rasisme serta perbudakan yang berhasil diambil.

Siapa yang tak langsung bergembira mendengarnya?

"Tak mungkin? Ketua berhasil!?" gumam salah satu anak buah Supernova yang seolah menolak kenyataan bahwa sang ketua dan petinggi lainnya sukses menjalankan misi.

Walhasil mereka semua saling bertukar pandangan. Dan tanpa komando, mereka bangkit dari baringnya, dan melompat-lompat setinggi mungkin sambil mengangkat tinju ke udara.

"YOOOOSSHHAAAAAAAAAAAAA!"

Begitulah teriakan penuh kemenangan di hari yang indah sekaligus melelahkan ini. Penantiannya akhirnya terbayarkan. Hanya tinggal menunggu hari esok yang cerah menanti.

.

.

TO BE CONTINUED

.

.


Author's note: Oke, tinggal sedikit lagiiiiii! Sedikit lagi menuju tamat! Satu chapter? Dua chapter lagi? Ah, entahlah. Karena itu mari kita menunggu di chapter selanjutnya apakah tamat atau tidak, hahaha! Eit, tapi jangan lupa. Masih ada chapter spesial kok.

THANKS A LOT, MINNA-SAN!