Perbincangan yang canggung. Tentu mereka tidak akan mengakuinya. Mereka selalu menyembunyikan agenda busuk, sama seperti ayahnya.

Kazuki melihat ke arah Ryogo yang sedang memainkan ponsel. "Hei, Ryogo. Ngapain kamu disini? Aku pikir kamu ada kerjaan di Yokosuka."

Ryogo memasukkan ponsel ke dalam kantong. "Apa maksudmu 'ngapain aku disini?' Aku disini mengirim wanzer untuk konstruksi."

"Memang ada projek besar disini, dan Ryogo ditugaskan untuk itu." Koike merapikan berkas dokumen.

"Orang lain bisa lakuin itu. Kenapa harus kamu?" kata Kazuki. Sebenarnya, bukan pada Ryogo dia marah. Hanya saja dia butuh saluran penyaluran amarah dan Ryogo kebetulan adalah orang di depannya. Lagipula dia selalu tidak serius dan teledor dalam bekerja.

Ryogo menyeringai. "Bos percaya padaku, Bro."

"Dengan meminta dan memohon kan?" kata Koike.

Muka Ryogo kembali datar. "Hei, bagaimana kamu bisa tahu?"

"Kenapa kamu tidak pernah serius?" kata Kazuki.

"Enggak dengar," nyanyi Ryogo seperti anak lima tahun. "Aku tak tega meninggalkan kamu bersenang-senang sendirian di Okinawa." Ryogo menempatkan lengannya ke pundak Kazuki.

"Aku disini untuk urusan bisnis!" kata Kazuki membuang lengan temannya.

"Kazuki akan menemaniku ke Pangkalan Yokosuka untuk mengantarkan wanzer. Kita akan berangkat sekitar tengah malam ketika helikopter sudah siap. Istirahatlah yang cukup."

Ryogo menyeringai. "Lembur lagi? Dasar gila kerja."

"Kamu ada pekerjaan juga Ryogo. Bawa wanzer ke tempat pesanan," kata Koike.

Muka Ryogo kembali serius. "Oke, oke."

Koike pergi meninggalkan ruangan.

Kazuki merasa lelah. Dia ingin beristirahat sebentar di asramanya.

"Hei, ikut aku," kata Ryogo.

Kazuki melenguh. "Kenapa harus aku?"

Ryogo memutar kedua bola matanya. "Karena kita sobat!

"Ayo temani aku ke tempat konstruksi perumahan.

"Lagipula kamu akan meninggalkan Okinawa hari ini. Temani aku, oke?"

Melihat wajah memohon Ryogo. Kazuki menghela nafas. Sejak sampai di Okinawa, Kazuki belum menanjakkan kakinya ke luar selain Industri Kirishima. "… baiklah. Aku ikut."

"Gitu dong Sobat," kata Ryogo menepuk pundaknya.

Mereka sampai di garasi.

Kazuki duduk di sebelah Ryogo yang mengemudikan truk perusahaan.

Sekarang langit sudah gelap. Cuaca terasa nyaman dengan suhu 22 derajat celcius terpampang di papan rambu lalu lintas. Langit boleh malam, tapi orang-orang tetap sibuk mengerjakan kontruksi bangunan.

Kota ini masih baru, jadi masih banyak bangunan yang belum selesai. Tapi mengapa banyak personel militer mengawasi projek ini? Kota laut Okinawa memang pulau buatan strategis yang digadang-gadang oleh politisi. Tapi, tetap saja melihat jumlah tentara yang mengawasi, ini terlalu berlebihan.

"Kita sudah sampai," kata Ryogo turun dari truk.

Kazuki turun mengikuti Ryogo ke bagian belakang truk untuk menurunkan wanzer.

"Wow, ini adalah projek besar." Dia melihat sekelilingnya." Tapi mengapa ada banyak tentara JDF?"

Ryogo tertawa." Mereka mengawasi projek ini, Bodoh."

"Bukan, maksudku, apa urusan militer mengawasi pembangunan kota?" nada suara Kazuki naik seoktaf.

Ryogo mengangkat bahu. "Entahlah, mungkin hanya mereka yang mampu melakukan pekerjaan ini.

"Daripada bengong, bantu aku turunkan wanzer," kata Ryogo.

Kazuki dan Ryogo menurunkan tiga wanzer kontruksi ke hadapan tentara JDF.

"Kami akan menurunkan wanzer dari Industri Kirishima," kata Ryogo.

"Hei, kami akan membawanya sendiri. Tinggalkan wanzer itu disini," kata tentara JDF.

Kazuki melirik ke dalam kontruksi bangunan di belakang tentara JDF. Ini gila. Tiap jalur dikawal oleh tentara JDF. Sepertinya yang membangun bangunan ini adalah JDF. Apa gerangan yang terjadi?

"Baiklah Pak. Mohon tanda tangannya disini," kata Ryogo menyerahkan mesin tanda tangan penerimaan barang.

Tentara JDF selesai menandatangan. " Disini berbahaya. Segera pulang ke rumah."

"Terima kasih banyak." Ryogo menerima mesinnya kembali, berbalik ke arah truk. "Ayo, Kazuki."

Tidak ada respon.

"Ada urusan lain?" tanya tentara JDF.

"Oh… tidak, Pak," kata Kazuki.

"Apalah kamu ini. Ayo," kata Ryogo.

Kazuki sekarang berada dalam truk, memasang seat belt.

"Apa sih yang kamu pikirkan?" tanya Ryogo memegang setir truk.

"Oh… tidak apa-apa," kata Kazuki. Mungkin keanehan ini hanyalah kecurigaan tak berdasar.

"Jangan-jangan kamu lagi memikirkan Alisa?" tanya Ryogo.

"Oh, hentikan!"

"Yah, meski dia tidak sedarah sama kamu, dia tetap imut.

"Ah, seandainya aku punya adik seperti dia," kata Ryogo.

"Berbicara lagi seperti itu, kugilas kepalamu," kata Kazuki.

"Oke, oke, santai Bro. Kita di Okinawa. Ayo bersenang-senang," kata Ryogo.

"Kita harus kembali ke kantor," kata Kazuki.

"Iya, Tuan Serius," kata Ryogo memutar kemudi ke arah kantor Industri Kirishima.