[Antagonist]
NCT belongs to themselves
"Antagonist" belongs to Lexa Alexander
Inspired by: Caste Heaven by Chise Ogawa
Main Pair: TaeTen
Other Pair: JaeDo, JohnIl
Lee Taeyong yang yang sedang stress adalah sebuah bencana bagi Park Serim.
Sejak kapan penindasan pada gadis itu menjadi bertambah parah berkali lipat?
Sepertinya sejak Taeyong kembali dari izin tidak masuk karena sakit selama dua hari itu, penindasan pada Park Serim bertambah parah.
Memang sebagian besar tetap Ten yang turun tangan, namun Taeyong juga akan ikut andil setelahnya, sesekali. Dan setiap Taeyong turun tangan, rasanya seperti berhadapan dengan iblis. Terlebih, semakin hari rasanya siksaan dari Taeyong semakin bertambah berat.
Puncak dari penyiksaan itu adalah saat hari-hari ujian semester. Itu sudah lewat beberapa bulan, namun masih terbayang di kepala Serim bagaimana Taeyong menyiksanya dengan berbagai macam ide di otak iblisnya. Mulai dari mengganggunya belajar hingga merusak seragam cadangannya dan merusak buku bahan ujiannya menjadi serpihan kertas-kertas kecil, juga tidak membiarkannya tenang di jam istirahat dan membuatnya pulang ke rumah saat malam hari.
Siapa yang tahu penyebab Taeyong menjadi seperti itu? Sebagian besar anak-anak kelas tidak peduli dan menganggap perilaku Taeyong tidak ada bedanya dengan yang sebelumnya.
Yang tahu penyebabnya hanyalah Ten dan Jaehyun. Mungkin Doyoung, Taeil, dan Johnny juga, namun mereka bertiga hanya bisa menebak.
Persiapan ujian akhir dan ujian seleksi masuk universitas, ya ...?
Ten menatap buku materi ujian setebal empat sentimeter di tangannya, kemudian beralih menatap Taeyong yang sedang duduk santai di kursinya, menunggu guru mereka mengakhiri pembelajaran mereka pada hari ini dan keluar kelas. Salah satu penyebab stress Taeyong adalah ujian akhir dan ujian seleksi masuk universitas.
Tepatnya, Taeyong memikirkan nilainya.
Nilai Taeyong di ujian semester lalu sangat mengerikan. Laki-laki itu berhasil menyabet peringkat satu paralel dengan nilai sempurna—10 out of 10 di semua mata pelajaran. Ten sendiri merinding membayangkan bagaimana Taeyong belajar dengan keras tiap harinya untuk mendapat nilai sempurna seperti itu. Saat Ten bertanya ke Jaehyun, dia hanya mendapat gelengan sebagai jawabannya—dengan kata lain, Jaehyun sendiri tidak tahu.
Di sekolah, Taeyong memang tidak pernah menunjukkan bahwa dia belajar untuk ujian; entah itu ujian semester, ujian akhir, atau ujian seleksi universitas. Dia tidak pernah membawa buku materi ujian, buku kumpulan soal, dan sejenisnya. Menikmati waktu bebasnya di sekolah seperti hari-hari biasanya. Tetapi Ten tahu, di rumah, tanpa menunjukkannya pada semua orang, Taeyong belajar dengan keras melebihi siapapun.
Taeyong bukanlah orang yang ambisius. Dia hanya melakukan apa yang kedua orang tuanya ingin dia lakukan.
"Ten," Taeyong memanggil Ten dengan suara pelan, menarik atensi Ten dari penjelasan guru di depan. Setelah mendapat respon dari teman sebangkunya, Taeyong bertanya, "kau sudah memutuskan universitas tujuanmu?"
Yang ditanya menggeleng sebagai jawaban, "Aku baru memutuskan jurusan yang akan aku ambil," jawab Ten, menelan kembali pertanyaan yang nyaris keluar dari mulutnya.
Bagaimana denganmu?
Ten tidak akan bertanya pada Taeyong. Tidak sekarang. Akan menjadi sebuah hal buruk jika saat ini Taeyong kehilangan kendali atas emosinya.
"Begitu," Taeyong kembali mengalihkan fokusnya pada penjelasan guru, terlihat tidak berminat untuk melanjutkan percakapan mereka. Namun di sana, Ten menyadari mata Taeyong meredup—dan dia tahu mengapa. Seketika hatinya diliputi perasaan bersalah.
Selama sisa waktu pelajaran itu, pikiran Ten tidak fokus. Penjelasan gurunya tidak dia dengarkan, bahkan Ten mengabaikan teman-temannya yang ramai mengejek Serim yang tidak dapat menjawab soal dengan benar. Biasanya dia maju paling depan dalam hal menindas Serim, namun kali ini pikiran Ten sedang terfokus pada Taeyong.
Ketakutan terbesar Ten saat ini adalah Taeyong. Takut Taeyong akan melakukan hal yang di luar perkiraannya, takut Taeyong akan meninggalkannya, takut Taeyong akan berada dalam jarak dimana mata dan tangannya tidak dapat meraih sosoknya. Seolah saat ini Taeyong sedang berdiri di ujung tebing yang dapat runtuh setiap saat, Ten tidak bisa mengambil langkah yang salah untuk menyelamatkannya atau dia akan kehilangan Taeyong dari sisinya.
Berbagai pikiran buruk tentang kemungkinan-kemungkinan itu mulai merasuki kepala Ten, menakutinya, hingga seluruh tubuhnya gemetar.
Apapun itu, bagaimanapun caranya, Ten akan membuat Taeyong tetap berada di sisinya.
"Ten."
Tubuh Ten terlonjak saat Doyoung menepuk bahunya pelan. Si pelaku penepukan bahu buru-buru menarik tangannya, merasa reaksi Ten terlalu berlebihan untuk sebuah tepukan pelan. Sepertinya Ten baru saja melamun hingga tidak sadar bahwa saat ini sudah waktunya istirahat makan siang.
Ten melihat Taeil dan Doyoung sudah berdiri di dekatnya, menatapnya seolah dirinya baru saja melewatkan suatu hal yang penting. Begitu menoleh ke tempat di mana Taeyong biasa duduk—di sebelahnya, Ten baru menyadari bahwa Taeyong tidak ada di tempatnya. Kerumunan anak-anak kelas dan suasana hening membuat Ten mengerti bahwa saat ini Taeyong sedang menghampiri Serim yang belum beranjak dari tempat duduknya.
Ten menoleh ke arah Jaehyun yang masih duduk di kursinya, meminta penjelasan.
"Tidak tahu. Begitu guru keluar dari kelas, Tuan Muda langsung menghampiri meja Serim."
"Kukira kau tahu, Ten." Taeil menambahkan, "Biasanya kau yang mulai duluan. Jarang sekali, kan, Taeyong yang memulai seperti ini."
Ten mengabaikan komentar Taeil dan beranjak untuk menghampiri Taeyong, namun baru saja dia berdiri, dia menahan langkahnya. Sesuatu di dalam kepalanya berkata bahwa ini bukan saat yang tepat untuk mencampuri 'urusan' Taeyong.
Di sisi lain, Taeyong langsung menendang kaki meja Serim begitu dia sampai di dekatnya, membuat coretan panjang di buku Serim karena gadis itu sedang menulis saat Taeyong menendang kaki mejanya.
"Hei." Taeyong memanggil, membuat Serim mengalihkan fokusnya pada Taeyong. Tatapan sengit dilayangkan Serim kepada Taeyong, membuat Taeyong makin kesal dan memukul pelan kepala Serim.
Taeyong berdiri di hadapan Serim, dengan meja yang membatasi keduanya. "Aku ingin membuat sebuah kesepakatan denganmu, dan ini cukup menguntungkan untukmu jika kau menang dalam tantangan yang aku berikan."
Perlahan, Serim mengangkat kepalanya, menatap Taeyong dengan ekspresi campur aduk; heran, penasaran, juga sedikit harapan.
Melihat secercah harapan pada kilat mata gadis di depannya, Taeyong mendengus geli. "Bulan depan adalah ujian akhir. Aku akan memberimu sebuah kesempatan—jika kau bisa mengalahkan nilaiku, aku akan memberimu kebebasan dan tidak akan mengganggumu lagi. Kau bisa memiliki waktumu sendiri selama karyawisata, kau bisa melakukan apapun. Statusmu sebagai Joker ... yah, kau bisa menganggap dirimu bukanlah Joker."
Serim hampir saja setuju dan langsung berkata 'baiklah' jika saja dia tidak ingat bahwa orang di depannya ini sangat licik. "Bagaimana jika aku kalah?" tanya Serim.
Senyum asimetris terbentuk di bibir Taeyong, "Hanya satu. Aku akan terus mengganggumu sampai aku puas—bahkan setelah lulus sekalipun."
Itu berarti seperti dihantui oleh iblis sepanjang hidupnya.
Serim ingin menolak, namun Taeyong lebih dulu menambahkan, "Selain terlepas dari status Joker, kau bisa melakukan apapun padaku. Memintaku turun takhta, meminta ganti rugi atas kerugian yang kau dapatkan, kau bisa meminta dan melakukan apapun padaku semaumu."
Mendengar itu, Ten langsung berdiri dan menggebrak meja tanpa dia sadari. Tangannya berdenyut nyeri namun Ten seolah tidak merasakannya. "TAE—"
Tangan Taeyong terangkat, menyuruh Ten untuk diam dan tidak ikut campur. Seisi kelas kembali terdiam setelah mereka menahan nafas untuk sesaat.
Kesepakatan yang dikatakan Taeyong, sebuah tantangan untuk Serim, keuntungan yang didapatkan Serim jika dia menang dari Taeyong terlalu banyak dan tidak sebanding dengan keuntungkan yang didapatkan Taeyong jika Serim kalah melawannya. Dilihat dari sisi manapun, Serim begitu diuntungkan.
Namun mengingat nilai sempurna Taeyong di ujian semester kemarin, bagaimana perlakuan Taeyong kepada Serim selama ini, dan kerugian yang Serim dapatkan selama dia menjadi Joker ...
"Jika kau setuju, aku tidak akan mengganggumu mulai saat ini hingga ujian dimulai bulan depan."
Apa yang Taeyong pikirkan?!
Saat ini, seisi kelas sedang memikirkan satu pertanyaan itu di kepala mereka.
Bahkan Ten, yang selalu mengetahui segalanya, kali ini dia tidak mengerti apa yang sedang Taeyong pikirkan. Taeyong sama sekali tidak berbicara apapun tentang ini.
Ini pertama kalinya.
Untuk beberapa saat, Serim terdiam. Otaknya memproses apa yang sedang terjadi dan mencoba menebak apa yang sedang direncanakan orang yang sedang berdiri dengan angkuh di hadapannya. Sekilas dia melirik Ten, yang biasanya selalu menyusun rencana-rencana licik bersama Taeyong. Jika Ten terlibat dengan rencana Taeyong kali ini, Serim akan menolaknya. Selalu ada hal buruk yang terjadi jika Taeyong dan Ten bekerjasama.
Namun, ketika Taeyong membuat kesepakatan dengannya tadi, Ten berteriak dan membanting meja—terkejut dan tidak percaya dengan apa yang Taeyong lakukan.
Apakah Ten tidak terlibat dengan hal ini?
Jika Ten tidak terlibat, sepertinya berhadapan dengan Taeyong yang hanya seorang diri tidak seburuk jika kedua orang itu bekerjasama.
"Baiklah." Serim menatap Taeyong yakin, membuat seringai Taeyong semakin terlihat.
"Kalau begitu, mulai hari ini hingga hari ujian bulan depan, aku tidak akan mengganggumu. Semoga berhasil." Taeyong melangkah pergi, namun dia berhenti setelah beberapa langkah, menunjukkan ponselnya yang menampilkan sebuah file rekaman suara. "Aku sudah merekam semuanya. Kau bisa tenang," katanya, setelah itu dia benar-benar berlalu.
Tidak ada satu detik setelah Taeyong melangkahkan kakinya ke luar dari kelas, Ten langsung mengejar Taeyong. "Taeyong hyung!" lengan Taeyong ditarik, dan laki-laki itu berbalik menghadap Ten yang saat ini sedang memasang raut khawatir. Nafas Ten terengah, seolah sedari tadi dia tidak dapat bernafas dengan benar. "Hyung, apa yang kau—"
"Kau percaya padaku, kan, Ten?"
Pertanyaan itu Taeyong lemparkan kepada Ten dengan wajah tanpa ekspresi. Kilat mata Taeyong terlihat sangat dingin, namun Ten tidak merasa gemetar karena itu. "Aku percaya padamu, hyung. Tapi kau sama sekali tidak memberitahuku tentang apa yang kau rencanakan, aku terkejut, aku ..." ucapan Ten terhenti, namun setelahnya dia hanya menarik nafas panjang untuk menenangkan dirinya sendiri. Aku khawatir.
Taeyong menunggu Ten melanjutkan ucapannya, namun karena Ten memilih untuk berhenti, Taeyong tidak memaksa. "Apa yang kau khawatirkan?" tanya Taeyong, bertanya dengan lembut setelah menghilangkan ekspresi dinginnya. Pertanyaan itu membuat Ten terkejut karena Taeyong seolah bisa membaca pikirannya.
"Dia mendapat keuntungan jauh lebih banyak dari keuntunganmu jika dia menang. Selain itu, kau tidak akan menindasnya hingga ujian akhir? Kau ingin dia bernafas dengan tenang?"
Dalam hatinya, Taeyong tertawa geli.
"Ten ..."
"Apa?" sedikit nada sinis terselip, terlihat sangat kesal karena Taeyong seolah seperti dirugikan dalam kesepakatan tadi.
"Aku akan menjelaskannya," Taeyong menarik tangan Ten dan membawanya menyingkir dari tengah lorong, menepi ke sisi jendela. Taeyong berbicara dengan pelan, "Serim tidak akan setuju dengan kesepakatan ini jika dia tahu kau ikut dalam rencana ini. Dia tahu aku licik, namun aku tahu dia juga sedikit meremehkanku karena aku tidak sering menindasnya—tidak seperti dirimu. Kau lebih diwaspadai."
Di situ, Ten memproses seluruh kejadian sebelumnya.
Taeyong yang lebih sering menjadi pengamat, Taeyong yang lebih sering merencanakan semuanya di balik layar dan membiarkannya menindas Serim. Meskipun penindasan Taeyong menjadi lebih parah sejak beberapa bulan lalu, namun Serim masih lebih mewaspadai Ten dibanding Taeyong.
Tunggu—apakah Taeyong sudah merencanakan hal ini jauh-jauh hari?
Mata Ten membulat, kemudian menyipit. Menatap Taeyong dengan raut wajah yang jelas menunjukkan rasa kesalnya, merasa dirinya telah tertipu, meskipun seharusnya dia menyadari bahwa sejak awal Taeyong telah merencanakan suatu hal besar.
"Lalu, setelah dia tidak terlalu mewaspadaiku, dia akan menerima tantanganku."
Ten jelas menyadari bahwa dirinya dimanfaatkan Taeyong untuk kesuksesan rencana besarnya, namun Ten sama sekali tidak merasa bahwa dirinya dirugikan. Jika itu untuk Taeyong, Ten tidak keberatan kalau Taeyong memanfaatkannya. Ten percaya Taeyong telah menyusun rencananya dengan sangat rapi, hingga nyaris mustahil bahwa rencana yang disusun Taeyong berakhir mengecewakan.
"Apakah kau cukup dengan keuntungan yang akan kau dapatkan?" Ten bertanya, masih merasa bahwa apa yang Taeyong tawarkan untuk keuntungan Serim tidak sebanding dengan keuntungannya sendiri.
"Bagiku itu lebih dari cukup," jawab Taeyong, menatap Ten dan tersenyum asimetris lagi. "Melihatnya menderita sudah lebih dari cukup untukku."
Tidak mendapat balasan dari Ten, Taeyong mendekati Ten dan memposisikan tubuhnya di hadapan Ten, mengurung yang lebih muda dengan tubuhnya. "H-hyung—" Ten merapatkan punggungnya ke dinding di belakangnya, namun Taeyong juga semakin mendekatkan tubuhnya hingga tubuh keduanya nyaris bersentuhan.
Melihat reaksi Ten, Taeyong terkekeh. "Kenapa? Bukankah kita sudah sering melakukan yang lebih dari ini?"
Tangan Ten terasa gatal, ingin menampar Taeyong keras-keras karena perkataannya yang terdengar sangat ambigu. "Jangan mengada-ada. Kita hanya berpelukan."
Taeyong tertawa, namun tidak lama karena setelahnya Taeyong mendekatkan wajahnya ke sisi wajah Ten dan berbisik dengan suara rendahnya di sana, "Kau percaya padaku, kan, Ten?"
Ten tidak menjawab, yakin jika Taeyong sudah bisa menebak jawabannya.
"Park Serim tidak akan bisa mengalahkan nilaiku—bahkan nilaimu, nilai Jaehyun, nilai Taeil, dan nilai Doyoung sekalipun. Kau sudah tahu hasilnya, untuk apa kau khawatir? Hm?"
Gumaman Taeyong di akhir membuat Ten merinding. Ten menghela nafas pelan, kemudian bertanya, "Bagaimana dengan kau yang membebaskannya dari penindasan hingga hari ujian?"
Mendengar pertanyaan Ten, Taeyong terkekeh pelan. "Aku hanya bilang, 'aku', kan?"
Sungguh, Lee Taeyong ...
"Hyung, kau sangat licik," Ten melalungkan lengannya ke leher Taeyong, kemudian tertawa, "dan aku menyukaimu." []
