Koike melihat ke arah pintu gelap dari laboratorium JDF. Tampak sosok Ryogo dengan pakaian jingga cerah datang mendekat. "Hei, kamu sudah kembali." Kazuki menyusul dari belakang. "Oh, kazuki bersamamu juga?"
Kazuki mengangguk.
"Kalian ternyata akur ya. Kita akan berangkat. Kamu ikut juga Ryogo."
"Apa? Serius?" kata Ryogo melirik ke bawah dengan tatapan pasrah. "Tapi, aku baru saja sampai…"
"Maaf, kita kekurangan orang. Lagipula pekerjaanmu sudah selesai," kata Koike.
"Mereka gak bilang kalau aku bakal disini hanya sehari!" kata Ryogo.
"Berhenti mengeluh. Itu pekerjaan kita," kata Kazuki.
Ryogo menghela nafas.
"Bukankah ayah Kazuki bekerja di Pangkalan Yokosuka, kalau tidak salah memegang jabatan di JDF?" tanya Koike.
Kazuki melirik ke bawah.
"Ada apa?" tanya Koike.
"Lupa ingatkan kamu. Kamu sama sekali tidak boleh menyinggung ayahnya," kata Ryogo.
Koike menggaruk kepalanya. "Maaf sudah bertanya…"
Ryogo menempatkan lengannya pada pundak Kazuki. "Jangan khawatir. Itu pekerjaan kita, bukankah begitu Kazuki?"
Kazuki melepaskan dirinya dari rangkulan Ryogo." Aku nggak ngomong apa-apa."
"Kita hampir selesai memuat wanzer, segera ketemu aku di heliport ketika sudah siap," kata Koike meninggalkan mereka berdua.
Ryogo mengambil barangnya. "Ayo, kita selesaikan ini dan pulang ke rumah."
Helikopter transport terbang ke arah utara. Penerbangan memakan waktu dua jam.
Begitu sampai di Pangkalan Yokosuka langit masih gelap sekitar jam tiga pagi. Ketika helicopter mendarat, seorang petugas JDF datang menghampiri mereka.
"ID Pak."
"Kami dari Industri Kirishima. Kami mengantarkan wanzer baru," kata Koike.
"Kirishima…" Petugas itu berpikir sejenak. "Oh, kami sudah menunggumu."
"Sepertinya pekerjaan kita sudah siap. Ayo, kita pergi dari sini," kata Ryogo meregangkan tangannya.
"Sedang apa kamu?" kata Kazuki berjalan ke arah wanzer baru.
"Kazuki, Ryogo, bongkar muatan wanzer," kata Koike.
"Kerja lagi?" kata Ryogo tak percaya.
"Diam dan kerjakan," kata Kazuki masuk ke dalam wanzer hitam dengan meele dan shotgun disertai pundak kanannya berlambangkan lingkaran merah, lambang bendera Jepang.
Kazuki mengendalikan wanzer turun dari helicopter. Layar komputer di dalam wanzer dipasang dalam mode malam. Nampak warna hijau di sekeliling dan warna merah dari Koike dan tentara JDF.
Terjadi tremor. Layar hijau berganti menjadi putih cerah disertai suara dentuman.
Kazuki terdiam memroses hal yang terjadi barusan. "Ledakan?"
Terdengar bunyi sirine dan suara pemberitahuan darurat. "Terjadi ledakan di dalam pangkalan. Semua diharap melapor. Akan ada kemungkinan terjadi ledakan kedua."
Terdengar suara Ryogo dari radio. "Apa yang terjadi?"
"Sepertinya kecelakaan," kata Kazuki.
Lantai yang tertutupi pintu logam terbuka. Dari dalam lantai, timbul meriam otomatis.
"Sistem pertahanan aktif? Apa yang terjadi?
"Kita masih ada rakyat sipil di sini. Tolong matikan," teriak penjaga JDF disamping Koike.
"Tak ada gunanya. Sama sekali tak ada respon!" kata penjaga JDF lain berjarak semeter dari mereka.
Koike melambaikan kedua tangan ke arah helicopter. "Suruh helicopter berangkat sekarang. Di sini terlalu bahaya.
"Kalian juga, cepat keluar dari sini!"
Koike sudah masuk duluan ke dalam helicopter.
Helikopter lepas landas meninggalkan dua wanzer yang ditunggangi Kazuki dan Ryogo.
"Ow, kita ditinggal," kata Ryogo.
Kedua meriam menangkap pergerakan dari helikopter, melancarkan tembakan ke helikopter transport itu. Meski awalnya helikopter itu bisa menghindar, pada akhirnya kena tembakan dari meriam dan terpaksa dalam kondisi mendarat darurat.
"Hati-hati Bro! Meriam itu sudah rusak karena ledakan tadi," kata Ryogo.
Kazuki mengepalkan kedua tangannya. Jantungnya berdegup kencang. "Kita harus hentikan sekarang juga."
"Apa? Kamu mau kita melawan 'itu'?" kata Ryogo.
Kazuki memajukan wanzer menuju ke meriam terdekat di sebelah kiri. "Itu lebih baik dibandingkan menunggu mereka membunuh kita. Cepat maju!"
"Astaga…" kata Ryogo. "Ya lah, Pak Prajurit."
