[Antagonist]

NCT belongs to themselves

"Antagonist" belongs to Lexa Alexander

Inspired by: Caste Heaven by Chise Ogawa

Main Pair: TaeTen

Other Pair: JaeDo, JohnIl


Malam harinya, Taeyong memutuskan untuk menginap di apartemen Ten—lagi. Kali ini karena Ten yang memintanya—setengah memaksa—untuk menginap dan membicarakan tentang rencana mereka selanjutnya. Berhubung untuk beberapa minggu ke depan Taeyong tidak bisa turun tangan dalam menindas Serim, maka Ten harus mengambil alih dalam mengatur semuanya. Anak-anak kelas sudah mendapat kabarnya setelah Ten mengirim pesan di group chat kelas khusus tanpa Serim dan mereka semua merasa lega karena mereka tetap dapat menindas Serim. Terima kasih pada Taeyong yang berkata bahwa hanya dia seorang yang tidak akan menindas Serim.

Tapi, tetap saja, Taeyong akan menggerakkan semuanya dari balik layar.

Taeyong hanya berkata dia tidak akan menindas Serim, ingat? Dia tidak bilang dia tidak akan merencanakan apapun dari balik layar.

Keesokan paginya, Taeyong terbangun karena dering ponsel Ten. Di sampingnya, Ten masih terlelap dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya, menyisakan hanya helai rambutnya yang terlihat. Taeyong mengguncangkan tubuh Ten, menepuk-nepuknya pelan beberapa kali.

"Ten, ponselmu. Ada panggilan masuk."

Namun Ten hanya bergumam tidak jelas dan semakin merapatkan selimutnya.

Taeyong menghela nafas. Maklum saja karena mereka baru tidur pada pukul tiga pagi tadi. Semalaman membicarakan rencana—diselingi gosip, mereka baru selesai setelah beberapa jam.

Dengan setengah sadar, Taeyong meraih ponsel Ten yang diletakkan di meja nakas dan mengangkat panggilannya begitu saja; menunggu orang di seberang sana menyapanya terlebih dahulu.

[Ten—]

Baru satu kata dan kesadaran Taeyong dengan cepat kembali ke raganya. Tanpa melihat nama si pemanggil, dia tahu siapa yang ada di seberang sana. Taeyong jelas mengenali suara ini, dan saat itu juga amarahnya terkumpul, memuncak, dan Taeyong nyaris mengeluarkan serentetetan kata umpatan.

Sungguh sesuatu yang buruk untuk mengawali hari.

Lagi pula, untuk apa orang ini menelpon Ten pagi-pagi sekali?

Baiklah, pukul enam lewat dua puluh—sepuluh menit sebelum alarm di ponsel Taeyong berbunyi. Bagi Taeyong ini masih terlalu pagi.

[Ten, akhirnya kau me—]

"Kenapa kau masih menghubungi Ten?" Taeyong tidak ingin mendengar Yeonmin berbicara lebih banyak lagi. Dengan sinis dia bertanya, benar-benar muak dan kesal karena laki-laki ini masih mengejar Ten bahkan setelah Taeyong terang-terangan menyuruhnya untuk berhenti berhubungan dengan Ten.

[Siapa kau?! Kenapa ponsel Ten ada di tanganmu? Dimana Ten?]

Oh?

Taeyong melirik Ten yang sedang tidur dengan pulas di sebelahnya, kemudian terlintas di kepalanya sebuah ide yang cukup menyenangkan untuk dicoba.

"Ten? Ah, dia masih tidur—di sampingku." Sengaja Taeyong tekankan dua kata terakhir, memancing emosi sang lawan bicara.

[Apa?]

"Lihatlah, wajah manisnya ketika dia terlelap—" Taeyong membuat suara kecupan dengan bibir dan telapak tangannya, sengaja dikeraskan agar orang di seberang sana mendengar suaranya, "—baby, ireona. Sudah pagi," kemudian berkata seolah dia sedang membangunkan Ten dari tidurnya, dengan begitu intim seolah mereka adalah sepasang kekasih yang dimabuk cinta dan baru saja menghabiskan malam yang begitu panjang dan panas.

Taeyong ingin tertawa keras, terbayang bagaimana wajah kesal Yeonmin di seberang sana saat membayangkan apa yang sedang Taeyong lakukan pada Ten. Ah, jika Yeonmin marah karena ulahnya, Taeyong akan semakin puas. Menyenangkan sekali membuat seseorang kesal.

Namun Taeyong harus menghela nafas kecewa karena Yeonmin segera mengakhiri panggilannya. Taeyong segera mengembalikan ponsel Ten ke meja nakas, kembali berbaring di tempatnya.

Sebuah pemikiran tentang Ten yang kembali menjalin hubungan dengan Yeonmin terlintas di kepalanya, namun pikiran itu langsung dibuangnya jauh-jauh karena Taeyong mendengar Yeonmin berkata 'akhirnya' saat tadi Taeyong menerima panggilannya.

Apakah selama ini Ten selalu mengabaikan Yeonmin yang terus-menerus mencoba menghubunginya?

Itu adalah satu hal yang paling masuk akal. Suatu hal yang bagus jika Ten tidak lagi menjadi seorang budak cinta, memperjuangkan dan memberikan segalanya pada orang yang tidak pantas menerima perjuangan dan pemberiannya.

Tangan Taeyong tergerak untuk memainkan helai rambut Ten yang terasa sangat lembut di tangannya.

Ten Lee.

Taeyong tidak akan membiarkan orang yang paling berharga dalam hidupnya terjatuh dalam kesalahan yang sama. Tidak untuk yang kedua kalinya.

Ten dan Yeonmin bagai berlian dan debu di jalanan. Tidak sebanding, terlalu jauh. Yeonmin tidak pantas mendapatkan Ten—bahkan menyentuh seujung rambutnya pun tidak.

Katakanlah Taeyong seperti orang tua yang selalu menyeleksi pantas atau tidaknya kekasih anaknya, tapi sejak dia menyadari hubungan Ten dan Yeonmin hanya akan merugikan Ten, dia menjadi sedikit lebih protektif pada sahabatnya.

Jika ditanya kriteria orang yang pantas mendapatkan Ten, Taeyong akan menjawab bahwa itu haruslah seseorang yang dapat menghargai Ten, melindunginya, dan membuatnya bahagia. Tidak cukup sampai di situ, Taeyong akan melakukan penyelidikan pada latar belakangnya sedetail mungkin—termasuk mempertimbangkan latar belakang keluarga, pendidikan, dan menghitung kekayaannya—untuk memastikan bahwa orang itu benar-benar orang yang baik, dapat dipercaya, dan dapat memenuhi kebutuhan hidup Ten. Taeyong tidak ingin hidup sahabatnya sulit dari segi apapun; karena 'cinta' saja tidak dapat membuat perut kenyang. Taeyong tidak akan termakan janji-janji manis yang kepastiannya saja tidak dapat dibuktikan.

Ah, tentu saja. Yang pantas mendapatkan Ten hanyalah orang yang terbaik.

Sampai sekarang, Taeyong masih tidak mengerti mengapa dulu Ten bisa jatuh hati pada laki-laki berengsek seperti Yeonmin.

Apa yang dilihatnya dari orang itu?

Dari segi penampilan, kekayaan, maupun akademik, Taeyong yakin sekali dirinya masih lebih unggul dari Yeonmin.

Oh—tentu saja. Karena Ten baru pertama kali menjalin hubungan romansa dengan seseorang, dia pasti termakan gombalan dan rayuan ampas yang—bagi Taeyong—membuatnya mual sampai ingin muntah.

Ya, itu kemungkinan paling masuk akal yang dapat Taeyong pikirkan.

Mungkin Ten penasaran, ingin merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang kekasih dan menjalin hubungan asmara dengannya, seperti apa yang kebanyakan orang ceritakan—tentang bagaimana debaran hati yang menyesakkan namun menyenangkan di saat yang bersamaan, berbagi momen indah bersama, dan lain sebagainya. Tidak banyak orang yang menceritakan tentang bagaimana pahitnya hubungan manis itu berakhir, sehingga Ten melupakan satu fakta itu.

Tapi, bagi Ten, cukup satu kali pelajaran untuknya dan dia tidak akan terjatuh ke dalam perangkap yang sama. []