Kazuki duduk di kursi pilot hitam. Kedua tangan kuning langsat bergetar memegang kemudi.
Pria berambut hitam pendek mengambil nafas dalam-dalam. Jujur, ini adalah pertama kali dalam sembilan belas tahun dia berada dalam medan perang.
Kakinya tak bisa berhenti bergetar.
Kemana pergi keberanian dia di uji coba wanzer tadi sore?
Alisa. Adik yang ingin dia lindungi. "Aku tak boleh mati disini," kata Kazuki.
Dia mendorong kemudi. Kursinya naik turun seirama dengan langkah wanzer termuktahir dari Kirishima.
Meriam hitam di depan berputar 180 derajat, menembak peluru machine gun.
Kazuki menutup muka.
Besi bertumbuk dengan besi. Pemuda itu terdorong ke belakang.
Dia kembali memegang kemudi. "Bodoh kau Kazuki, padahal kamu masih di dalam wanzer…"
Dia menarik kemudi kanan yang mengontrol meele, mendorong dengan satu hentakan. Meele menghantam angin.
"Terlalu rendah!
"Harusnya aku memakai shotgun!" kata Kazuki.
Meriam sudah selesai mengisi amunisi.
Pemuda itu menutup mata, meringis.
Terdengar desing machine gun, tapi bukan ke Kazuki melainkan ke meriam.
Dia membuka mata.
Meriam sudah hancur.
Pemuda itu menerima sinyal radio dari Ryogo. "Jangan bengong Kazuki. Tenanglah."
"Terima kasih," kata Kazuki.
Dia mengepalkan tangan. Ryogo masih lebih berani dari dia. Dia tidak mau kalah dari Ryogo.
Merekapun menghancurkan meriam lainnya.
"Ini meriam terakhir!" kata Kazuki.
Dengan tembakan shotgun terakhir, meriam rusak tak bergeming.
"Kamu! Turunkan senjatamu!"
Kazuki menoleh.
Dua tentara JDF dalam wanzer hitam masing-masing menodong machine gun.
Kazuki menurunkan melee dan shotgun. "Tunggu, kami tidak bermaksud jahat."
Mobil tank hijau melaju di antara mereka dan dua tentara JDF. Penjaga JDF yang berpakaian serba hijau membuka jendela mobil. "Mereka adalah rakyat sipil pilot uji coba. Kami meminta mereka untuk menghentikan meriam itu."
Kedua tentara JDF menurunkan senjata.
"Kami akan mengurus sisanya. Bawa rakyat sipil ke tempat aman," kata prajurit JDF dengan pelindung mata.
"Apa yang terjadi?" tanya Kazuki.
"Sebuah ledakan di pangkalan. Pasti ada sesuatu yang terjadi," kata Ryogo.
"Kalian rakyat sipil tidak perlu tahu," kata prajurit JDF lain yang berambut cepak hitam.
"Kamu pikir kamu siapa?" Nada Kazuki naik seoktaf. Dimana permintaan maaf?
"Pangkalan ini masih berbahaya. Tinggalkan wanzer itu, dan keluar dari sini," kata prajurit JDF berambut cepak hitam.
"Beraninya kamu! Kami hampir mati!" kata Kazuki.
"Tinggal di sini lebih lama lagi, dan kamu akan mati," kata prajurit JDF berambut cepak hitam.
Kazuki mengayunkan melee. "Apakah itu ancaman?"
Pintu mobil terbuka, Koike dengan baju lab hitam jelaga berlari menghadap tentara JDF. "Kami akan mematuhi. Kami akan tinggalkan tempat ini sekarang."
Saintis berbalik melambai. "Tenanglah Kazuki, perusahaan akan mengurus sisanya."
Kazuki menghentak kaki. "Bukan, aku tidak mengerti! Mereka bahkan tidak mengucapkan terima kasih kepada kita!"
"Lupakanlah, Sobat. Mereka benar-benar serius," kata Ryogo.
Kazuki memalingkan muka. "Tch!"
