[Antagonist]

NCT belongs to themselves

"Antagonist" belongs to Lexa Alexander

Inspired by: Caste Heaven by Chise Ogawa

Main Pair: TaeTen

Other Pair: JaeDo, JohnIl


Itu adalah tahun pertama mereka di SMA. Sepulang sekolah, Ten langsung meninggalkan Taeyong setelah sebelumnya meminta Taeyong untuk menunggunya sebentar karena mereka selalu pulang bersama. Taeyong yang tidak terlalu peduli dengan urusan Ten hanya mengiyakan saja, menunggu Ten di kelas sendirian karena Jaehyun sudah terlebih dahulu pulang bersama Doyoung.

Taeyong kira Ten akan membutuhkan waktu setidaknya satu atau dua jam untuk menyelesaikan urusannya, tetapi tidak sampai setengah jam kemudian Ten sudah kembali ke kelas dengan wajah merah padam.

Dengan terburu, Taeyong menghampiri Ten dan menyentuh wajahnya. "Ten, kau baik-baik saja?" tanyanya, khawatir jika terjadi sesuatu yang buruk pada sahabatnya.

Yang ditanya mengangguk keras dan menjauhkan tangan Taeyong dari wajahnya dengan perlahan. "Hyung, a-akuaku baru saja ... adaada yang menyatakan perasaannya padaku."

Perlu beberapa detik bagi Taeyong untuk memproses apa yang dikatakan Ten karena anak itu mengatakannya dengan kalimat yang sedikit berantakan. "Baguslah," Taeyong tersenyum, ikut senang. "Lalu, kau menerimanya?" tanyanya kemudian, sembari mengambil tas mereka berdua dan mengajak Ten untuk bercerita sembari mereka berjalan pulang. Seperti kebiasannya, Ten akan mengalungkan lengannya pada lengan Taeyong, bergelayut dengan nyaman di sana.

"Hm-m," Ten mengangguk, "kurasa dia orang yang cukup baik. Aku memang baru mengenalnya, tapi kami bisa saling mengenal seiring berjalannya waktu, kan?"

"Ya, tentu saja." Taeyong menepuk kepala Ten lembut, "Aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu."

Ten terkekeh, "Terima kasih, hyung."

Taeyong tidak pernah bertanya bagaimana Ten bisa mengenal Yeonmin, atau tentang pertemuan pertama keduanya. Jika Ten tidak ingin bercerita, maka Taeyong tidak akan meminta atau memaksanya untuk menceritakan hal-hal yang tidak ingin dia ceritakan. Lagipula, itu urusan pribadi Ten. Meskipun Taeyong adalah orang terdekat Ten dan Ten dengan suka rela berbagi segalanya dengan dirinya, Taeyong tetap ingin memberikan Ten privasi yang memang seharusnya dimilikinya. Jadi, Taeyong benar-benar hampir tidak mengetahui Yeonmin sama sekalikecuali tentang dia yang berasal dari sekolah lain dan (mungkin) tinggal tidak jauh dari tempat tinggal Ten.

Karena, jika dia dari sekolah yang berbeda, kemungkinan mereka pernah bertemu adalah di sekitar tempat tinggal keduanya.

Taeyong akan mengingat itu di kepalanya, untuk berjaga-jaga. Meskipun dia percaya pada Ten, namun dia tidak bisa langsung percaya begitu saja pada laki-laki itu.

Pertama kali Taeyong melihat sosok Yeonmin adalah ketika laki-laki itu menjemput Ten sepulang sekolah. Orang itu menunggu Ten di depan gerbang sekolah, menarik perhatian sebagian besar siswa karena seragamnya yang berbeda dan juga penampilannya yangmeskipun Taeyong yakin bahwa dirinya berada jauh di atasnyatampan.

Itu adalah satu setengah bulan sejak Ten menjalin hubungan tengan Yeonmin, untuk pertama kalinya mereka tidak pulang sekolah bersama.

"Hyung, aku duluan!" Ten melambaikan tangannya pada Taeyong, yang dibalas dengan lambaian tangan dan seulas senyum tipis.

"Hati-hati."

"Hyung juga."

Kemudian, Ten berlari meninggalkannya.

Jaehyun yang berdiri selangkah di belakang Taeyong melirik Tuan Muda-nya dan Ten secara bergantian, kemudian bertanya, "Anda tidak kesal?"

"Kenapa harus kesal?" Taeyong bertanya balik, melangkah menuju gerbang sekolah dengan santai diikuti Jaehyun di belakangnya. Mobil yang menjemput mereka sudah menunggu sejak tadi, menarik atensi seluruh siswa di sana karena mobil dengan merk dan harga yang menyebalkan itu bukanlah pemandangan yang biasa di sekolah mereka. Jika bukan karena Ten yang pulang bersama Yeonmin, Taeyong tidak akan meminta jemputan. Dia tidak suka berada di kendaraan umum sendirian.

Jaehyun memperhatikan Ten yang sudah berlalu bersama Yeonmin, mengendarai sepeda motornya dengan cepat meninggalkan area sekolah. "Yah ..." Jaehyun memberi jeda, "Sekarang Ten memiliki kekasih dan sepertinya dia akan menghabiskan waktunya lebih banyak bersama kekasihnya. Anda tidak kesal? Atau mungkin cemburu?" Jaehyun tidak masalah jika setelah ini Taeyong memukulnya dengan tas atau menendangnya, karena untuk sekali saja Jaehyun ingin melihat ekspresi cemburu Taeyong.

Namun harapan hanyalah harapan. Bukan nada tinggi yang didengar Jaehyun, justru suara kekehan Taeyong. "Ten memiliki hidupnya sendiri, Jae. Hidup Ten tidak hanya untukku."

Mendengar itu, Jaehyun terdiam. "Anda sungguh tidak masalah dengan itu?" tanyanya, tidak yakin jawaban seperti itu keluar dari mulut Taeyong.

Yang menjadi jawaban Taeyong adalah gestur menyuruh Jaehyun untuk tidak banyak bicarameletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya yang membentuk sebuah seringai tipis.

Hari itu, Jaehyun seolah mendengar Taeyong berkata padanya, 'Dia tetap akan kembali padaku.'

Meskipun Taeyong berkata begitu, jujur saja, dalam hatinya dia tetap merasa kesal setiap kali dia melihat Yeonmin berbicara dengan Ten. Dari jarak yang cukup jauh, Taeyong tidak dapat mendengar apa yang orang itu katakan, namun entah bagaimana Taeyong merasa bahwa apa yang Yeonmin katakan hanyalah sederetan kalimat omong kosong yang memuakkan.

Di situ, Taeyong selalu teringat bahwa suatu saat nanti, Ten tetap akan kembali padanya. Entah kapan, Taeyong hanya perlu menunggu.

Kemudian, kesempatan Taeyong untuk bertemu Yeonmin akhirnya datang saat Ten mengajaknya untuk ikut bersama dirinya dan Yeonmin untuk menonton film bersama. Tentu saja Taeyong menolak karena dia tidak ingin merusak waktu pribadi Ten dan Yeonmin. Lagipula, Taeyong bisa menebak jika dia ikut bersama sepasang kekasih itu, dia hanya akan menjadi obat nyamuk.

Namun Ten bersikeras bahwa Taeyong harus ikut.

"Kau sahabatku, hyung. Dia harus mengenalmu. Aku sudah mengenal teman-temannya dan sekarang dia harus mengenalmu."

Dan itu adalah pertama kalinya Taeyong berhadapan dengan Yeonmin.

Keduanya memasang senyum ramah, saling menyapa dan mengenalkan diri seperti kebanyakan pertemuan pertama antara dua orang asing. Kesan pertama Taeyong pada Yeonmin saat itu adalah, Yeonmin memang ramah. Selama mereka menghabiskan waktu bersama, Taeyong tidak diabaikan. Mereka mengobrol dengan santai meskipun sedikit canggung, dan dari situ Taeyong bisa menarik beberapa informasi dari Yeonmin. Tentang pertemuan pertama keduanya dan bagaimana Yeonmin bisa berakhir dengan menyatakan perasaannya pada Ten.

Oh, Taeyong tidak bertanya macam-macam seperti pembawa acara pada acara gosip. Taeyong tanpa sengaja berkomentar tentang hubungan keduanya dan setelah itu Yeonmin menceritakan semuanya.

Beruntung bagi Taeyong. Yeonmin adalah orang yang sedikit tidak waspada.

Dan tebakan Taeyong tentang tempat tinggal Yeonmin dan Ten yang berdekatan memang benar. Keduanya bertemu tanpa sengaja pada suatu malam di salah satu taman sungai Han, dekat tempat tinggal keduanya. Adegan klise dimana Ten sedang makan camilan sendirian dan Yeonmin mengambil tempat di dekat Ten.

Seperti novel romansa remaja kebanyakan, heh.

Meskipun Taeyong masih sedikit menaruh kewaspadaan pada Yeonmin, namun Taeyong tetap berharap Ten tidak akan tersakiti olehnya.

Taeyong tidak masalah dengan dirinya yang akan ditinggalkan, meskipun pada satu sudut kecil dalam hatinya Taeyong tidak ingin Ten meninggalkannya, namun kebahagiaan Ten tetap menjadi prioritasnya.

Semoga Yeonmin tidak menyakiti Ten, semoga dia orang yang baik, semoga Ten bahagia dengannya. Taeyong benar-benar berdoa untuk kebahagiaan Ten.

Setelah Taeyong bertemu dengan Yeonmin untuk yang pertama kalinya (atas paksaan Ten), sesekali Ten akan mengajaknya untuk 'jalan-jalan' bertiga. Meskipun tidak sering, tetap saja Taeyong tetap merasa tidak enak karena telah mengganggu waktu keduanya yang seharusnya mereka habiskan untuk berkencan. Atau kalau tidak mengajak Taeyong, Ten akan mengajak Yeonmin di tengah acaranya dengan Taeyong.

Yang lebih sering Ten lakukan setelah itu adalah membatalkan janjinya dengan Taeyong untuk Yeonmin.

Hari itu Taeyong dan Ten sedang berada di kafe langganan keduanya, menikmati camilan setelah berkeliling area pusat perbelanjaan untuk melihat-lihat dan membeli beberapa barang.

"Ten, ponselmu."

Dengan malas Ten mengambil ponselnya yang berdering, menerima panggilan masuk dari seseorang. Wajahnya kembali cerah setelah melihat siapa yang menelponnya. "Yeonmin? Ada apa?"

Dahi Taeyong berkerut untuk sepersekian detik saat mendengar Ten menyebut satu nama yang mengganggu acara jalan-jalannya dengan Ten.

"Oh? Ya ..." raut wajah Ten berubah bingung, kemudian berpikir dan tidak lama Ten berkata, "Baiklah, tunggu, ya." Setelahnya Ten mematikan ponselnya dan mengemas barang-barangnya.

Melihat itu Taeyong bisa menebak bahwa Ten akan pergi. "Sesuatu yang penting?" tanya Taeyong basa-basi.

Ten menjawab dengan gelengan, tersenyum tipis. "Yeonmin memintaku untuk menemaninya ke perpustakaan kota. Dia bilang dia ingin mencari buku referensi untuk tugasnya." Ada jeda, dan Taeyong menunggu. Ten memasukkan ponselnya ke saku celananya dan berkata, "Aku akan pulang dengan taksi. Uh, maaf, hyung, sepertinya kita harus membatalkan rencana menonton film hari ini. Aku ... benar-benar minta maaf."

Taeyong tersenyum maklum, "Tidak apa-apa. Pergilah, Yeonmin sudah menunggumu."

"Maafkan aku, hyung. Aku janji lain kali aku bisa menonton film denganmu."

Lalu, Ten pergi. Meninggalkan Taeyong dengan segelas minuman yang bahkan belum habis seperempatnya.

Awalnya Taeyong kesal, namun tidak sampai dua detik Taeyong hanya mengangguk dan tersenyum, memaklumi Ten yang lebih memilih Yeonmin daripada dirinya. Karena hubungan Ten dan Yeonmin baru berjalan sebentar dibandingkan lama hubungan Ten dengan dirinya, Taeyong memakluminya.

Jaehyun pernah bertanya tentang itu, namun Taeyong hanya menjawab dengan seulas senyum misterius.

Lalu, keluhan pertama Ten muncul setelah sebelas bulan keduanya berkencan.

"Yeonmin menyebalkan, hyung."

Taeyong yang sedang menyantap makan siangnya dengan santai langsung mengalihkan fokusnya pada Ten, meskipun dari luar dia tetap terlihat tenang. "Kenapa?" tanyanya, bersiap menyusun sederet tanggapan untuk segala kemungkinan jawaban Ten.

Untuk sesaat Ten terlihat ragu, namun akhirnya dia berkata, "Mungkin menurutmu ini kekanakan, tapi aku kesal karena dia sering tidak menanggapi pesanku."

"Memang."

"Hyung!" Ten menatap Taeyong tajam, kesal karena tanggapan Taeyong yang tidak sesuai dengan harapannya. Lalu Ten menghela nafas, melanjutkan ceritanya, "Aku tahu dia memiliki kesibukannya sendiri, tapi, terkadang saat aku benar-benar membutuhkannya, dia tidak ada. Setidaknya aku akan merasa baikan setelah dia menanggapi pesanku. Tapi membalas pesanku saja dia tidak." Kali ini Ten menghela nafas panjang, merasa cukup dengan ceritanya.

Mendengar keluhan Ten, Taeyong teringat bahwa Ten mulai jarang memintanya untuk menemaninyaentah itu lewat berkirim pesan atau datang langsung ke apartemen Ten. Menurut Taeyong, itu wajar karena sekarang sudah ada Yeonmin yang menggantikannya untuk menjaga Ten. Rasanya Taeyong bisa sedikit tenang karena itu.

Namun setelah cerita Ten barusan, rasa percaya Taeyong pada Yeonmin sedikit banyak berkurang.

Sedikit, banyak.

Karena bagi Taeyong, Ten adalah prioritasnya.

Dalam lima detik yang singkat, Taeyong sempat berpikir untuk menyuruh Ten meninggalkan Yeonmin. Namun pikiran itu segera dia buang karena ini adalah pertama kalinya Taeyong mendengar keluhan Ten.

"Kau bicarakan ini padanya dengan baik-baik." Taeyong menatap Ten yang kini memasang wajah keruh, "Jika kalian saling berbicara dan jujur satu sama lain, kalian bisa menemukan solusi dari masalah kalian."

Ten hanya menanggapi dengan gumaman, menusuk-nusuk daging di piringnya dengan malas. Taeyong yang melihatnya terkekeh, tangannya bergerak untuk mengusak kepala Ten dan setelah itu dia berdiri, "Kutraktir choco float, tersenyumlah."

Setelah keluhan Ten yang pertama, Taeyong dapat menyimpulkan beberapa hal dari kebiasaan Ten. Jika Ten memasang wajah muram maka dia sedang ada masalah dengan Yeonmin dan setelahnya dia akan mengeluh pada Taeyong selama paling sedikit lima menit. Jika Ten tersenyum lebar, sesekali bersenandung, diiringi jahilnya yang kumat, maka dia sedang ada rencana menyenangkan dengan Yeonminentah itu rencana jalan-jalan sebagai permintaan maaf atau Yeonmin yang menyadari kesalahannya dan meminta maaf pada Ten atas kesadarannya sendiri.

Kebiasaan itu semakin sering Ten tunjukkan dari hari ke hari, semakin jelas dan semakin cepat berubahbersamaan dengan semakin seringnya Taeyong mendengar keluhan Ten.

Dan Jaehyun juga menyadari bagaimana Taeyong semakin sering menunjukkan ekspresi dinginnya saat Ten tidak ada di sampingnya. "Tuan Muda, Anda baik-baik saja?" tanya Jaehyun saat Taeyong sedang berada di ruang baca kediaman keluarga Lee, menghabiskan malam minggunya dengan membaca sebuah buku yang dia ambil secara acak. Meskipun buku setebal tiga sentimeter itu terbuka di hadapannya, Jaehyun tahu pikiran Taeyong sedang tidak ada di sana.

"Panggil aku Taeyong." Taeyong masih sibuk dengan bukunya, tidak bersusah payah membalikkan tubuhnya untuk menghadap sang lawan bicara. "Apa maksud dari pertanyaanmu?" tanya Taeyong kemudian.

Mengabaikan kalimat pertama Taeyong, Jaehyun menjawab, "Tentang Ten."

Nama yang disebut Jaehyun membuat Taeyong melirik Jaehyun sekilas. Dalam hatinya, Jaehyun tersenyum puas karena telah berhasil menarik perhatian Taeyong dari kegiatan 'pura-pura membaca buku'-nya.

"Bagaimana menurut Anda, Tuan Muda?" tanya Jaehyun lagi, kali ini membuat Taeyong mengalihkan pandangannya dari buku yang ada di pangkuannya. "Hubungan Ten dan kekasihnya semakin lama semakin rumit, bukan begitu?"

Taeyong mendengus pelan, sudah menebak Jaehyun akan membicarakan hubungan Ten dan Yeonmin. Dia kembali kepada bukunya dan membolak-balik beberapa halaman sembari menjawab pertanyaan Jaehyun, "Itu masalah mereka, Jae. Tidak usah kau buang tenagamu untuk hal yang tidak ada hubungannya denganmu. Lagipula tidak ada untungnya bagimu mencampuri urusan mereka."

Tanpa Taeyong lihat, Jaehyun tersenyum tipis untuk sesaat. "Saya hanya bertanya pendapat Anda. Saya rasa itu tidak termasuk mencampuri urusan mereka berdua."

Ada keheningan sebelum Jaehyun mendengar suara lembar buku yang dibalik dan Taeyong yang berkata, "Kalau salah satu di antara mereka atau keduanya masih belum mengerti dan belum bisa menghargai satu sama lain, tidak perlu menunggu lama hingga hubungan itu berakhir."

Ucapan Taeyong terbukti ketika hubungan Yeonmin dan Ten berakhir beberapa bulan kemudian, ketika mereka berada di tahun ketiga. []